askep anak dg pneumonia,kjb,anemia,thalasemia&leukomia

Upload: ricco-arika-sandy

Post on 17-Jul-2015

621 views

Category:

Documents


2 download

TRANSCRIPT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTIM PERNAFASAN DAN PEREDARAN DARAH I. PNEUMONIA A. Pengertian Pneumonia adalah radang parenkhim paru (Nursalam,) Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, dan jamur dan benda asing (FK UI, 1985) Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun jamur (http://www.sehatgroup.web.id) B. Penyebab Penyebab pneumonia adalah: 1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa): Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus Legionella Hemophilus influenzae 2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air) 3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anakanak dan dewasa muda) 4. Jamur tertentu. C. Cara penularan Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:

Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru. Perjalanan infeksinya adalah bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah sampai ke paru-paru dan selaput otak. Akibatnya, timbul peradangan pada paru dan daerah selaput otak. D. Gejala Gejala khususnya adalah: demam sesak napas napas dan nadi cepat dahak berwarna kehijauan atau seperti karet,

serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru.Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi

akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen. Namun, gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat orangtua kurang waspada terhadap penyakit ini. Orang tua sering datang terlambat membawa anaknya ke dokter. Karena gejala awal panas dan batuk, orang tua sering mengobati sendiri dirumah dengan obat biasa, bila sudah sesak baru dibawa ke dokter. Karenanya sebaiknya bila anak sakit panas tinggi dan batuk, segeralah ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: kulit lembab batuk darah pernafasan yang cepat nyeri perut. E. Pencegahan Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan memudahkan Penyakit kegiatan Infeksi Saluran dan Pernafasan penyebaran Akut). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga penyuluhan informasi tentang penanggulangannya. Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Klasifikasi Bukan-pnemonia Mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain: batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. Ungkapan klasik bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati benarbenar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Mengingat pengobatannya yang semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan. Pencegahan penyakit pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD, peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. Waktu ideal pemberian vaksin IPD, adalah sebanyak 4 kali, yakni:

pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. Vaksinasi bisa membantu mencegah beberapa jenis pneumonia pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi: Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena Streptococcus pneumoniae) Vaksin flu Vaksin Hib (untuk mencegah pneumonia karena Haemophilus influenzae type b). Selain imunisasi, pencegahan pneumonia dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak. Selain itu, upayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain dengan cara cukup istirahat juga olahraga.

F. Diagnosa dan PengobatanDiagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan fisik secara umum. Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki. Pemeriksaan penunjang: Rontgen dada Pembiakan dahak Hitung jenis darah Gas darah arteri. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan beberapa cara: Antibiotik Umumnya pengobatan dengan pemberian antibiotik. Penderita pneumonia dapat sembuh bila diberikan antibiotik yg sesuai dengan jenis kumannya, tapi perlu dosis tinggi dan waktu yg lama. Opname Opname dilakukan jika pneumonia yang di derita cukup parah. Hal ini dikarenakan ada jenis bakteri tertentu seperti, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap beberapa jenis antibiotik. Oleh sebab itu apabila pneumonia yang dialami cukup parah,

penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa diperoleh dengan cara banyak minum air putih maupun melalui infus. Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati dirumah. Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Soalnya, serangan berikutnya bisa lebih berat dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah. Pada beberapa kasus, pneumonia yang sudah mengalami komplikasi tersebut bisa meninggalkan berbagai efek samping. Anak dapat mengalami berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik, gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara. Walaupun demikian, anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan normal. G. . Klasifikasi a. Berdasarkan letak anatomi Pneumonia lobaris Peumonia lobaris adalah pneumonia dengan konsolidasi infiltrat pada satu atau beberapa lobus. Biasanya gejala penyakit datang mendadak, tetapi kadang-kadang di dahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas. Pada anak yang sudah besar, disertai badan menggigil, dan pada bayi disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39-40 0C dan suhu ini biasanya menunjukan tipe febris kontinua. Nafas menjadi sesak, disertai nafas cupung hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dan nyeri dada. Anak lebih suka tiduran pada sebelah dada yang terkena. Batukbatuk mula-mula kering kemudian produktif. Pada pemeriksaan fisis, gejala khas tampak setelah 1-2 hari. Pada permulaan suara pernafasan melemah, sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, ronki basah dan nyaring akan terdengar yang segera menghilang setelah terjadi konsolidasi. Kemudian pada perkusi jelas terdengar keredupan dengan suara pernafasan sub bronkial sampai bronkial. Pada stadium resolusironki terdengar lebih jelas. Pada inspeksi dan palpasi tampak pergeseran toraks yang terkena berkurang. Tanpa pengobatan bisa terjadi penyembuhan dengan krisis sesudah 5-9 hari.

Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)

Bronkopneumonia adalah pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus. Bronkopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40 0C dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu. Pernapasan cepat dan dangkal dan pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai mumntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk setelah beberapa hari, mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik, tetapi dengan adanya napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut dan hidung, harus dipikirkan kemungkinan pneumonia. Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisis tergantung dari luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah nyaring halus atau sedang. Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernafasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada atadium resolusi, ronki terdengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi sesudah 2-3 minggu. Pneumonia interstitialis ( Bronkiolitis )

b. Berdasarkan etiologis

Bakteria (diplococcus pneumonia, pneumococcus, streptococcus hemolyticus,streptococcus aureus) Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengahengah, dan denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang eksterm, pasien akan mengigil, gigi bergemelutuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk pencegahan vaksinnya pun sudah tersedia.

Virus (respiratory syncytial virus, virus influenza, adenovirus, virus sitomegalitik)Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini

kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anakanak- gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun, bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian, Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan. Gejala Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa, yaitu demam, batuk kering sakit kepala, ngilu diseluruh tubuh. Dan letih lesu, selama 12 - 136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru. Mocoplasma pneumoniae Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal ( Atypical Penumonia ). Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati. Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir. Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.

Jamur

(histiplasma

capsulatum,

Cryptococcus

neoformans,

blastomices

dermatitides, coccidiodes immitis, aspergillus species, candida albicans) Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia ( PCP ) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS. PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan mencegah atau menundah kekambuhan.

Aspirasi (makanan, kerosene (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing)Pneumonia lain yang lebih jarang disebabkan oleh masuknya makanan, cairan, gas, debu maupun jamur. Rickettsia- juga masuk golongan antara virus dan bakteri-menyebabkan demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis. Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi paru Pneumonia hipostatik Terjadi karena kongesti paru yang lama, misalnya pada penderita penyakit menahun yang berbaring lama. Kongesti paru bagian belakang bawah mengakibatkan mudahnya kuman yang biasanya terdapat secara komensal

berkembang biak dan kemudian menyebabkan radang. Pencegahannya ialah dengan mengubah-ubah posisi berbaring. Sindrom Loeffler Foto toraks simdrom ini biasanya menunjukan gambaran infiltart besar dan kecil yang tersebar, ada yang menyerupai tuberkulosis miliaris. Batasnya kadangkadang tidak tegas. Infiltrat ini dapat berpindah-pindah dari lobus yang satu ke lobus yang lain atau dari paru yang satu ke paru yang lain. Infiltrat ini merupakan infiltrat eosinifil karena terdapat banyak sel eosinofil. Pada umumnya infiltrat ini di anggap sebagai reaksi alergi terhadap protein asing yang di daerah tropis dihubungkan dengan migrasi cacing Ascaris Lumbricoides atau lainnya, dari usus masuk ke peredaran darah dan paru. Darah menunjukan eosinofilia sampai 40-70 %. Penyakit ini biasanya tidak berat dan sembuh setelah beberapa hari sampai beberapa bulan. Pengobatannya terdiri dari antibiotoka untuk mencegah infeksi sekunder c. Berdasarkan pedoman MTBS (2000) Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat gejala: memuntahkan semuanya, kejang atau nafas letargis/ tidak sadar 2. Terdapat tarikan dinding dada ke dalam 3. Terdapat stridor (suara nafas bunyi grok-grok saat inspirasi) Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat. Batasan napas cepat adalah: 1. Anak usia 2-12 bulan apabila frekwensi nafas 50 x/ menit atau lebih 2. Anak usia 12 bulan- 5 tahun apabila frekwensi nafas 40 x/ menit atau lebih Batuk bukan pneumonia, apabila tidak ada tanda-tanda pneumonia atau penyakit sangat berat 3. Asuhan keperawatan A. Pengkajian 1. Usia. Pneumonia sering terjadi pada bayi dan anak. Kasus terbanyak terjadi pada anak berusia dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 2 bulan 2. Keluhan utama: sesak nafas 3. Riwayat penyakit: 1) Pneumonia virus Didahului oleh gejala-gejala infeksi saluran nafas, termasuk rinitis dan batuk, seta suhu badan lebih rendah dari pada pneumonia bakteri. Pneumonia virus tidak dapat dibedakan dengan pneumonia bakteri dan mukoplasma. 2) Pneumonia stafilokokus ( bakteri ) 1. Ada tanda bahaya umum. Seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu

Didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas atau bawah dalam beberapa hari hingga 1 minggu, kondisi suhu tunggi, batuk dan mengalami kesulitan pernafasan. 4. Riwayat penyakit dahulu 1) Anak sering menderita penykit saluran pernafasan bagian atas 2) Riwayat penyakit campak / fertusis ( pada bronkopneumonia) 5. Pemeriksaan fisik:

1) Inspeksi: Perlu diperhatikan adanya tahipne, dispne, sianosis sirkumoral,pernapasan cuping hidung, distensis abdomen, batuk semula nonproduktif menjadi produktif, serta nyeri dada saat menarik napas. Batasan takipnea pada anak usia 2 bulan -12 bulan adalah 50 kali / menit atau lebih, sementara untuk anak berusia 12 bulan 5 tahun adalah 40 kali / menit atau lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding dada kedalam pada fase inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada akan tampak jelas. 2) Palpasi: Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membeasar, fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin mengalami peningkatan (tachichardia) 3) Perkusi: Suara redup pada sisi yang sakit 4) Auskultasi: Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan telinga ke hidung / mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengar stridor. Sementara dengan stetoskop, akan terdengar suara nafas berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit, dan ronkhi basah pada masa resolusi. Pernapasan bronkial, egotomi, bronkofoni, kadang-kadang terdengar bising gesek pleura. 6. Penegak diagnosis: 1) Pemeriksaan laboratorium a. Leukosit 18.000-40.000 / mm3 b. Hitung jenis didapatkan gesekan ke kiri c. LED meningkat 2) X-foto dada Terdapat bercak-bercak infiltrat yang tersebar (bronkopneumonia) atau yang meliputi satu / sebagian besar lobus / lobulus B. Diagnosis / Masalah 1) Diagnosis medis: pneumonia Berdasarkan pedoman MTBS (2000), pneumonia dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu: Pneumonia berat / penyakit sangat berat, bila ada tanda bahaya (seperti anak tidak biasa menetek atau minum, selalu memuntahkan semuanya, mengalami kejang atau letargis/ tidak

sadar), terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau terdapat stridor. Pneumonia dengan gejala napas cepat (perhatikan batasan napas cepat) Batuk bukan pneumonia, bila tidak ada tandea-tanda pneumonia atau penyakit sangat berat 2) Masalah yang sering timbul: Inefektivitas pola napas Devisit volume cairan

C.

Rencana Tindakan Keperawatan Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat atau penyakit sangat berat di puskesmas/ balai pengobatan, maka anak perlu dirujuk segera setelah diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai. Dosis pertama antibiotika yang dimaksud adalah kloramfenikol yang diberikan ssecara intramuskular dengan dosis 40 mg/kg BB. Jika anak diklasifikasikan menderita pneumonia, maka tindaka berikut ini diperlukan: 1) Pemberian antibiotik yang sesuia selama 5 hari (untuk jenis antibiotika yang sesuai lihat tabel di bawah) 2) Beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman 3) Berikan nasihat mengenai kapan harus segera kembali 4) Melakukan kunjungan ulang setelah 2 hari

Adapaun pilihan antibiotika yang dapat diberikan adalah:Pilihan pertama kotrimoksazol, 2x sehari selama 5 hari Pilihan kedua amoksilin, 3x sehari selama 5 Tablet dewasa Usia atau BB 2-4 bln (4- 50.000/mm Trombositopenia Sitogenik kelainan kromosom 12, 13, 14 kadang kromosom 6, 11 Penurunan jumlah eritrosi

No 1

Diagnosa Resiko tinggi terhadap infeksi b.d tak adekuat pertahanan gangguan kematangan jumlah sekunder: dalam SDP limfosit

Sasaran Pasien Mencegah infeksi selama akut/pengobatan fase

Intervensi keperawatan/Rasional Mandiri Tempatkan pengunjung menggunakan pada ruangan khusus. Batasi potong. sesuai tanaman indikasi, hindarkan

Hasil Yang Diharapkan Mengidentifikasi tindakan untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi Menunjukkan perubahan untuk antara dengan keamanan meningkatkan penyembuhan pola teknik, hidup

hidup/bunga

Batasi buah segar dan sayuran Berikan protokol untuk mencuci tangan yang baik untuk semua petugas dan pengunjung Awasi suhu. Perhatikan hubungan peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi. Observasi demam sehubungan takikardia, hipotensi, perubahan mental samar Cegah menggigil: tingkatkan cairan. Berikan mandi kompres Dorong sering mengubah posisi, napas dalam, batuk Auskultasi bunyi napas, perhatikan gemericik, ronki; inspeksi sekresi terhadap peningkatan perubahan produksi karakteristik, contoh

(granulosit rendah dan abnormal), peningkatan jumlah lomfosit imatur

meningkatkan lingkungan,

sputum atau sputum kental, urine bau busuk dengan berkemih tiba tiba atau rasa terbakar Rawat klien dengan lembut. Pertahankan linen kering/tidak kusut Dorong peningkatan masukan makanan tinggi protein dan cairan

Kolaborasi Awasi pemeriksaan laboratorium, mis; Hitung darah lengkap, perhatikan apakah SDP turun atau tiba tiba terjadi perubahan pada neutrofil; Kaji ulang seri foto dada Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik Hindari antipiretik yang mengandung aspirin Berikan diet rendah bakteri, mis makanan 2. Nyeri (akut) b.d agen fisikal organ, dengan leukemik), kimia anti manifestasi psikologis (ansietas, takut) (pembesaran sumsum sel agen leukemik), (pengobatan Menghilangkan nyeri dimasak, diproses Mandiri Selidiki keluhan nyeri. Perhatikan perubahan pada derajat dan sisi Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non verbal, mis tegangan otot, gelisah Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stres Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi, ekstremitas dengan bantal/bantalan Kolaborasi Berikan obat sesuai indikasi; Analgesik, contoh asetaminofen; Narkotik, mis kodein, meperidin; 3. Intolerans Aktivitas b.d kelemahan umum Meningkatkan fisik optimal fungsi Agen antiansietas, mis diazepam, lorazepam Mandiri Evaluasi laporan kelemahan, peningkatan Laporan aktifitas Melaporkan hilang/terkontrol Menunjukkan penenangan nyeri Tampak mampu dengan tepat rileks dan tidur/istirahat perilaku nyeri

tulang yang dikemas

(penurunan cadangan peningkatan metabolik, leukosit antara energi, laju produksi masif), suplai dan

perhatikan sehari Berikan

ketidakmampuan

utnuk

yang dapat diukur hari Berpartisipa sesuai tingkat si dalam aktifitas sehari

berpartisipasi dalam aktivitas atau aktivitas lingkungan tenang dan

periode istirahat tanpa gangguan. Dorong istirahat sebelum makan hari Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan berikan antiemetik sesuai indikasi Kolaborasi Berikan oksigen tambahan

kemampuan n fisiologis Menunjukka penurunan tidak tanda toleran,

ketidakseimbangan kebutuhan pembatasan terapeutik, terapi obat efek oksigen

(anemia/hipoksia),

mis., nadi, pernafasan, dan TD masih dalam batas normal