askep anak dg pneumonia,kjb,anemia,thalasemia&leukomia

Download Askep Anak Dg Pneumonia,Kjb,Anemia,Thalasemia&Leukomia

Post on 17-Jul-2015

585 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTIM PERNAFASAN DAN PEREDARAN DARAH I. PNEUMONIA A. Pengertian Pneumonia adalah radang parenkhim paru (Nursalam,) Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, dan jamur dan benda asing (FK UI, 1985) Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun jamur (http://www.sehatgroup.web.id) B. Penyebab Penyebab pneumonia adalah: 1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa): Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus Legionella Hemophilus influenzae 2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air) 3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anakanak dan dewasa muda) 4. Jamur tertentu. C. Cara penularan Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:

Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru. Perjalanan infeksinya adalah bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah sampai ke paru-paru dan selaput otak. Akibatnya, timbul peradangan pada paru dan daerah selaput otak. D. Gejala Gejala khususnya adalah: demam sesak napas napas dan nadi cepat dahak berwarna kehijauan atau seperti karet,

serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru.Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi

akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen. Namun, gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat orangtua kurang waspada terhadap penyakit ini. Orang tua sering datang terlambat membawa anaknya ke dokter. Karena gejala awal panas dan batuk, orang tua sering mengobati sendiri dirumah dengan obat biasa, bila sudah sesak baru dibawa ke dokter. Karenanya sebaiknya bila anak sakit panas tinggi dan batuk, segeralah ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya. Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: kulit lembab batuk darah pernafasan yang cepat nyeri perut. E. Pencegahan Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan memudahkan Penyakit kegiatan Infeksi Saluran dan Pernafasan penyebaran Akut). Program ini mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga penyuluhan informasi tentang penanggulangannya. Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Klasifikasi Bukan-pnemonia Mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain: batuk-pilek biasa, pharyngitis, tonsilitis dan otitis. Ungkapan klasik bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati benarbenar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Mengingat pengobatannya yang semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri pneumokokus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan. Pencegahan penyakit pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD, peluang mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. Waktu ideal pemberian vaksin IPD, adalah sebanyak 4 kali, yakni:

pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usia 12 bulan. Vaksinasi bisa membantu mencegah beberapa jenis pneumonia pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi: Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena Streptococcus pneumoniae) Vaksin flu Vaksin Hib (untuk mencegah pneumonia karena Haemophilus influenzae type b). Selain imunisasi, pencegahan pneumonia dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak. Selain itu, upayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain dengan cara cukup istirahat juga olahraga.

F. Diagnosa dan PengobatanDiagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan pemeriksaan fisik secara umum. Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki. Pemeriksaan penunjang: Rontgen dada Pembiakan dahak Hitung jenis darah Gas darah arteri. Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan beberapa cara: Antibiotik Umumnya pengobatan dengan pemberian antibiotik. Penderita pneumonia dapat sembuh bila diberikan antibiotik yg sesuai dengan jenis kumannya, tapi perlu dosis tinggi dan waktu yg lama. Opname Opname dilakukan jika pneumonia yang di derita cukup parah. Hal ini dikarenakan ada jenis bakteri tertentu seperti, bakteri Streptococcus pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap beberapa jenis antibiotik. Oleh sebab itu apabila pneumonia yang dialami cukup parah,

penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan perawatan khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan yang lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu penderita pneumonia juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya dari dehidrasi. Cairan ini bisa diperoleh dengan cara banyak minum air putih maupun melalui infus. Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati dirumah. Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Soalnya, serangan berikutnya bisa lebih berat dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah. Pada beberapa kasus, pneumonia yang sudah mengalami komplikasi tersebut bisa meninggalkan berbagai efek samping. Anak dapat mengalami berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan perkembangan motorik, gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara. Walaupun demikian, anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan hidup dengan normal. G. . Klasifikasi a. Berdasarkan letak anatomi Pneumonia lobaris Peumonia lobaris adalah pneumonia dengan konsolidasi infiltrat pada satu atau beberapa lobus. Biasanya gejala penyakit datang mendadak, tetapi kadang-kadang di dahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas. Pada anak yang sudah besar, disertai badan menggigil, dan pada bayi disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39-40 0C dan suhu ini biasanya menunjukan tipe febris kontinua. Nafas menjadi sesak, disertai nafas cupung hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut dan nyeri dada. Anak lebih suka tiduran pada sebelah dada yang terkena. Batukbatuk mula-mula kering kemudian produktif. Pada pemeriksaan fisis, gejala khas tampak setelah 1-2 hari. Pada permulaan suara pernafasan melemah, sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, ronki basah dan nyaring akan terdengar yang segera menghilang setelah terjadi konsolidasi. Kemudian pada perkusi jelas terdengar keredupan dengan suara pernafasan sub bronkial sampai bronkial. Pada stadium resolusironki terdengar lebih jelas. Pada inspeksi dan palpasi tampak pergeseran toraks yang terkena berkurang. Tanpa pengobatan bisa terjadi penyembuhan dengan krisis sesudah 5-9 hari.

Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)

Bronkopneumonia adalah pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus. Bronkopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40 0C dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu. Pernapasan cepat dan dangkal dan pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai mumntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk setelah beberapa hari, mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik, tetapi dengan adanya napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut dan hidung, harus dipikirkan kemungkinan pneumonia. Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisis tergantung dari luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar ronki basah nyaring halus atau sedang. Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernafasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada atadium resolusi, ronki terdengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi sesudah 2-3 minggu. Pneumonia interstitialis ( Bronkiolitis )

b. Berdasarkan etiologis

Bakteria (diplococcus pneumonia, pneumococcus, streptococcus hemolyticus,streptococcus aureus) Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengahengah, dan denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang eksterm, pasien akan mengigil, gigi bergemelutuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati.