86974112 askep anak dg pneumonia kjb anemia thalasemia leukomia

of 48 /48
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTIM PERNAFASAN DAN PEREDARAN DARAH I. PNEUMONIA A. Pengertian Pneumonia adalah radang parenkhim paru (Nursalam,) Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, dan jamur dan benda asing (FK UI, 1985) Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun jamur (http://www.sehatgroup.web.id ) B. Penyebab Penyebab pneumonia adalah: 1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa): Streptococcus pneumoniae Staphylococcus aureus Legionella Hemophilus influenzae 2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air) 3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak- anak dan dewasa muda) 4. Jamur tertentu. C. Cara penularan Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui: Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru. Perjalanan infeksinya adalah bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh darah, mengikuti aliran darah sampai ke paru-paru dan selaput otak. Akibatnya, timbul peradangan pada paru dan daerah selaput otak. D. Gejala Gejala khususnya adalah: demam sesak napas napas dan nadi cepat dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi

Upload: pujiantoslamet

Post on 10-Aug-2015

153 views

Category:

Documents


4 download

TRANSCRIPT

Page 1: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN SISTIM PERNAFASAN DAN

PEREDARAN DARAH

I. PNEUMONIA

A. Pengertian

Pneumonia adalah radang parenkhim paru (Nursalam,)

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam

etiologi seperti bakteri, virus, dan jamur dan benda asing (FK UI, 1985)

Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus

maupun jamur (http://www.sehatgroup.web.id)

B. Penyebab

Penyebab pneumonia adalah:

1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa):

Streptococcus pneumoniae

Staphylococcus aureus

Legionella

Hemophilus influenzae

2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air)

3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak-

anak dan dewasa muda)

4. Jamur tertentu.

C. Cara penularan

Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:

Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar

Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain

Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.

Perjalanan infeksinya adalah bakteri pneumokok ini dapat masuk melalui infeksi pada

daerah mulut dan tenggorokan, menembus jaringan mukosa lalu masuk ke pembuluh

darah, mengikuti aliran darah sampai ke paru-paru dan selaput otak. Akibatnya,

timbul peradangan pada paru dan daerah selaput otak.

D. Gejala

Gejala khususnya adalah:

demam

sesak napas

napas dan nadi cepat

dahak berwarna kehijauan atau seperti karet,

serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru.

Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang

sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi

Page 2: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas,

karena tak tersisa ruang untuk oksigen.

Namun, gejala awalnya yang tergolong sederhana seringkali membuat

orangtua kurang waspada terhadap penyakit ini. Orang tua sering datang

terlambat membawa anaknya ke dokter. Karena gejala awal panas dan

batuk, orang tua sering mengobati sendiri dirumah dengan obat biasa, bila

sudah sesak baru dibawa ke dokter. Karenanya sebaiknya bila anak sakit

panas tinggi dan batuk, segeralah ke dokter untuk dicari tahu penyebabnya.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

kulit lembab

batuk darah

pernafasan yang cepat

nyeri perut.

E. Pencegahan

Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA

(Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Program ini

mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga

memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang

penanggulangannya. Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2

kelompok usia. Yaitu, usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia)

dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.

Klasifikasi Bukan-pnemonia

Mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala

peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada

bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pneumonia ini antara lain:

batuk-pilek biasa,

pharyngitis,

tonsilitis dan

otitis.

Ungkapan klasik bahwa “mencegah lebih baik daripada mengobati” benar-

benar relevan dengan penyakit pneumonia ini. Mengingat pengobatannya yang

semakin sulit, terutama terkait dengan meningkatkan resistensi bakteri

pneumokokus, maka tindakan pencegahan sangatlah dianjurkan.

Pencegahan penyakit pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi

pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD, peluang mencegah

Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%.

Waktu ideal pemberian vaksin IPD, adalah sebanyak 4 kali, yakni:

Page 3: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

pada saat bayi berusia 2 bulan,

4 bulan,

6 bulan dan

diulang lagi pada usia 12 bulan.

Vaksinasi bisa membantu mencegah beberapa jenis pneumonia pada anak-anak dan orang

dewasa yang beresiko tinggi:

Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena Streptococcus

pneumoniae)

Vaksin flu

Vaksin Hib (untuk mencegah pneumonia karena Haemophilus influenzae

type b).

Selain imunisasi, pencegahan pneumonia dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak. Selain itu,

upayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain dengan cara cukup istirahat

juga olahraga.

F. Diagnosa dan Pengobatan

Diagnosis pneumonia dilakukan dengan berbagai cara.

Pertama dengan pemeriksaan fisik secara umum.

Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara

ronki.

Pemeriksaan penunjang:

Rontgen dada

Pembiakan dahak

Hitung jenis darah

Gas darah arteri.

Penanganan pneumonia pun dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Antibiotik

Umumnya pengobatan dengan pemberian antibiotik. Penderita pneumonia

dapat sembuh bila diberikan antibiotik yg sesuai dengan jenis kumannya,

tapi perlu dosis tinggi dan waktu yg lama.

Opname

Opname dilakukan jika pneumonia yang di derita cukup parah. Hal ini

dikarenakan ada jenis bakteri tertentu seperti, bakteri Streptococcus

pneumoniae mulai resisten atau kebal terhadap beberapa jenis antibiotik.

Oleh sebab itu apabila pneumonia yang dialami cukup parah,

Page 4: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

penanganannya juga dilakukan dengan cara opname. Dengan perawatan

khusus di rumah sakit, pasien bisa mendapatkan istirahat dan pengobatan

yang lebih intensif, atau bahkan terapi oksigen sebagai penunjang. Selain itu

penderita pneumonia juga membutuhkan banyak cairan untuk mencegahnya

dari dehidrasi. Cairan ini bisa diperoleh dengan cara banyak minum air putih

maupun melalui infus.

Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus,

meski beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga

bisa diobati dirumah. Biasanya dokter yang menangani pneumonia akan

memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien

kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk

mencegah kekambuhan. Soalnya, serangan berikutnya bisa lebih berat

dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat

pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk

meningkatkan jumlah oksigen dalam darah.

Pada beberapa kasus, pneumonia yang sudah mengalami komplikasi

tersebut bisa meninggalkan berbagai efek samping. Anak dapat mengalami

berbagai efek samping seperti gangguan kecerdasan, gangguan

perkembangan motorik, gangguan pendengaran dan keterlambatan bicara.

Walaupun demikian, anak dengan pneumonia juga bisa sembuh total dan

hidup dengan normal.

G. . Klasifikasi

a. Berdasarkan letak anatomi

Pneumonia lobaris

Peumonia lobaris adalah pneumonia dengan konsolidasi infiltrat pada satu atau

beberapa lobus. Biasanya gejala penyakit datang mendadak, tetapi kadang-kadang

di dahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas. Pada anak yang sudah

besar, disertai badan menggigil, dan pada bayi disertai kejang. Suhu naik cepat

sampai 39-40 0C dan suhu ini biasanya menunjukan tipe febris kontinua. Nafas

menjadi sesak, disertai nafas cupung hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut

dan nyeri dada. Anak lebih suka tiduran pada sebelah dada yang terkena. Batuk-

batuk mula-mula kering kemudian produktif. Pada pemeriksaan fisis, gejala khas

tampak setelah 1-2 hari. Pada permulaan suara pernafasan melemah, sedangkan

pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, ronki basah dan

nyaring akan terdengar yang segera menghilang setelah terjadi konsolidasi.

Kemudian pada perkusi jelas terdengar keredupan dengan suara pernafasan sub

bronkial sampai bronkial. Pada stadium resolusironki terdengar lebih jelas. Pada

inspeksi dan palpasi tampak pergeseran toraks yang terkena berkurang. Tanpa

pengobatan bisa terjadi penyembuhan dengan krisis sesudah 5-9 hari.

Page 5: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Pneumonia lobularis (bronkopneumonia)

Bronkopneumonia adalah pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus.

Bronkopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas

selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39-40 0C dan

mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu.

Pernapasan cepat dan dangkal dan pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar

hidung dan mulut. Kadang-kadang disertai mumntah dan diare. Batuk biasanya

tidak ditemukan pada permulaan penyakit, mungkin terdapat batuk setelah

beberapa hari, mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Pada stadium

permulaan sukar dibuat diagnosis dengan pemeriksaan fisik, tetapi dengan adanya

napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar mulut

dan hidung, harus dipikirkan kemungkinan pneumonia. Pada bronkopneumonia,

hasil pemeriksaan fisis tergantung dari luas daerah yang terkena. Pada perkusi

toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin hanya terdengar

ronki basah nyaring halus atau sedang. Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu

(konfluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara pernafasan pada

auskultasi terdengar mengeras. Pada atadium resolusi, ronki terdengar lagi. Tanpa

pengobatan biasanya penyembuhan dapat terjadi sesudah 2-3 minggu.

Pneumonia interstitialis ( Bronkiolitis )

b. Berdasarkan etiologis

Bakteria (diplococcus pneumonia, pneumococcus, streptococcus hemolyticus,

streptococcus aureus)

Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia

lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah

Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu

pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera

memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh jaringan paru dipenuhi

cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-

engah, dan denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru

karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang eksterm, pasien akan

mengigil, gigi bergemelutuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir

berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk

pencegahan vaksinnya pun sudah tersedia.

Virus (respiratory syncytial virus, virus influenza, adenovirus, virus sitomegalitik)

Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini

makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini

Page 6: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-

anak- gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar

pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.

Namun, bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa

berat dan kadang menyebabkan kematian, Virus yang menginfeksi paru akan

berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan. Gejala

Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa, yaitu demam, batuk kering

sakit kepala, ngilu diseluruh tubuh. Dan letih lesu, selama 12 - 136 jam, napas

menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam

tinggi kadang membuat bibir menjadi biru.

Mocoplasma pneumoniae

Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan

dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga

disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia

yang tidak tipikal ( Atypical Penumonia ). Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan

sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia

yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma

menyerang segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia

muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.

Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir.

Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa

mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.

Jamur (histiplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, blastomices

dermatitides, coccidiodes immitis, aspergillus species, candida albicans)

Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia ( PCP ) yang

diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan

penyakit pada pengidap HIV/AIDS. PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja

penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik

akan mencegah atau menundah kekambuhan.

Aspirasi (makanan, kerosene (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing)

Pneumonia lain yang lebih jarang disebabkan oleh masuknya makanan, cairan,

gas, debu maupun jamur. Rickettsia- juga masuk golongan antara virus dan

bakteri-menyebabkan demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis.

Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi paru

Pneumonia hipostatik

Terjadi karena kongesti paru yang lama, misalnya pada penderita penyakit

menahun yang berbaring lama. Kongesti paru bagian belakang bawah

mengakibatkan mudahnya kuman yang biasanya terdapat secara komensal

Page 7: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

berkembang biak dan kemudian menyebabkan radang. Pencegahannya ialah

dengan mengubah-ubah posisi berbaring.

Sindrom Loeffler

Foto toraks simdrom ini biasanya menunjukan gambaran infiltart besar dan kecil

yang tersebar, ada yang menyerupai tuberkulosis miliaris. Batasnya kadang-

kadang tidak tegas. Infiltrat ini dapat berpindah-pindah dari lobus yang satu ke

lobus yang lain atau dari paru yang satu ke paru yang lain. Infiltrat ini merupakan

infiltrat eosinifil karena terdapat banyak sel eosinofil. Pada umumnya infiltrat ini di

anggap sebagai reaksi alergi terhadap protein asing yang di daerah tropis

dihubungkan dengan migrasi cacing Ascaris Lumbricoides atau lainnya, dari

usus masuk ke peredaran darah dan paru. Darah menunjukan eosinofilia sampai

40-70 %. Penyakit ini biasanya tidak berat dan sembuh setelah beberapa hari

sampai beberapa bulan. Pengobatannya terdiri dari antibiotoka untuk mencegah

infeksi sekunder

c. Berdasarkan pedoman MTBS (2000)

Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat gejala:

1. Ada tanda bahaya umum. Seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu

memuntahkan semuanya, kejang atau nafas letargis/ tidak sadar

2. Terdapat tarikan dinding dada ke dalam

3. Terdapat stridor (suara nafas bunyi ’grok-grok’ saat inspirasi)

Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat. Batasan napas cepat adalah:

1. Anak usia 2-12 bulan apabila frekwensi nafas 50 x/ menit atau lebih

2. Anak usia 12 bulan- 5 tahun apabila frekwensi nafas 40 x/ menit atau lebih

Batuk bukan pneumonia, apabila tidak ada tanda-tanda pneumonia atau penyakit

sangat berat

3. Asuhan keperawatan

A. Pengkajian

1. Usia. Pneumonia sering terjadi pada bayi dan anak. Kasus terbanyak terjadi

pada anak berusia dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak terjadi pada bayi

yang berusia kurang dari 2 bulan

2. Keluhan utama: sesak nafas

3. Riwayat penyakit:

1) Pneumonia virus

Didahului oleh gejala-gejala infeksi saluran nafas, termasuk rinitis dan batuk,

seta suhu badan lebih rendah dari pada pneumonia bakteri. Pneumonia virus

tidak dapat dibedakan dengan pneumonia bakteri dan mukoplasma.

2) Pneumonia stafilokokus ( bakteri )

Page 8: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas atau bawah dalam

beberapa hari hingga 1 minggu, kondisi suhu tunggi, batuk dan mengalami

kesulitan pernafasan.

4. Riwayat penyakit dahulu

1) Anak sering menderita penykit saluran pernafasan bagian atas

2) Riwayat penyakit campak / fertusis ( pada bronkopneumonia)

5. Pemeriksaan fisik:

1) Inspeksi: Perlu diperhatikan adanya tahipne, dispne, sianosis sirkumoral,

pernapasan cuping hidung, distensis abdomen, batuk semula nonproduktif

menjadi produktif, serta nyeri dada saat menarik napas. Batasan takipnea

pada anak usia 2 bulan -12 bulan adalah 50 kali / menit atau lebih,

sementara untuk anak berusia 12 bulan – 5 tahun adalah 40 kali / menit atau

lebih. Perlu diperhatikan adanya tarikan dinding dada kedalam pada fase

inspirasi. Pada pneumonia berat, tarikan dinding dada akan tampak jelas.

2) Palpasi: Suara redup pada sisi yang sakit, hati mungkin membeasar,

fremitus raba mungkin meningkat pada sisi yang sakit, dan nadi mungkin

mengalami peningkatan (tachichardia)

3) Perkusi: Suara redup pada sisi yang sakit

4) Auskultasi: Auskultasi sederhana dapat dilakukan dengan cara mendekatkan

telinga ke hidung / mulut bayi. Pada anak yang pneumonia akan terdengar

stridor. Sementara dengan stetoskop, akan terdengar suara nafas

berkurang, ronkhi halus pada sisi yang sakit, dan ronkhi basah pada masa

resolusi. Pernapasan bronkial, egotomi, bronkofoni, kadang-kadang

terdengar bising gesek pleura.

6. Penegak diagnosis:

1) Pemeriksaan laboratorium

a. Leukosit 18.000-40.000 / mm3

b. Hitung jenis didapatkan gesekan ke kiri

c. LED meningkat

2) X-foto dada

Terdapat bercak-bercak infiltrat yang tersebar (bronkopneumonia) atau yang

meliputi satu / sebagian besar lobus / lobulus

B. Diagnosis / Masalah

1) Diagnosis medis: pneumonia

Berdasarkan pedoman MTBS (2000), pneumonia dapat diklasifikasikan

menjadi 3, yaitu:

Pneumonia berat / penyakit sangat berat, bila ada tanda bahaya

(seperti anak tidak biasa menetek atau minum, selalu

memuntahkan semuanya, mengalami kejang atau letargis/ tidak

Page 9: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

sadar), terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau terdapat

stridor.

Pneumonia dengan gejala napas cepat (perhatikan batasan

napas cepat)

Batuk bukan pneumonia, bila tidak ada tandea-tanda pneumonia

atau penyakit sangat berat

2) Masalah yang sering timbul:

Inefektivitas pola napas

Devisit volume cairan

C. Rencana Tindakan Keperawatan

Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat atau penyakit sangat

berat di puskesmas/ balai pengobatan, maka anak perlu dirujuk segera setelah

diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai. Dosis pertama antibiotika yang

dimaksud adalah kloramfenikol yang diberikan ssecara intramuskular dengan

dosis 40 mg/kg BB. Jika anak diklasifikasikan menderita pneumonia, maka

tindaka berikut ini diperlukan:

1) Pemberian antibiotik yang sesuia selama 5 hari (untuk jenis antibiotika

yang sesuai lihat tabel di bawah)

2) Beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman

3) Berikan nasihat mengenai kapan harus segera kembali

4) Melakukan kunjungan ulang setelah 2 hari

Adapaun pilihan antibiotika yang dapat diberikan adalah:

Pilihan pertama kotrimoksazol, 2x sehari

selama 5 hari

Pilihan kedua

amoksilin, 3x

sehari selama 5

hari

Usia atau BB

Tablet dewasa Tablet anak sirup Sirup

2-4 bln (4-<6 kg ) ¼ 1 2.5 ml 2.5 ml4-12 bln (6-<10 kg) ½ 2 5.0 ml 5 ml12 bln-5 thn (10-<19 kg) 1 3 7.5 ml 10 mlKeterangan:

1) Tablet kotrimoksazol untuk dewasa terdiri dari 80 mg trimetoprin +400

mg sulfametoksazol

2) Tablet kotrimoksazol untuk anak terdiri dari 20 mg trimetoprim + 200 mg

sulfametoksazol

3) Sirup per 5 ml mengandung 40 mg trimetoprim +200 mg sulfametoksazol

Sedangkan untuk anak dengna pneumonia yang dirawat di RS, diperlukan

rencana perawatan yang sesuai dengna masalahnya, yaitu:

1) Inefektifitas pola nafas, rencana perawatan yang diperlikan adalah:

Page 10: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

1. Berikan oksigen yang dilembabkan sesuai takikardi

2. Lakukan fisioterapi dada: kerjakan sesuai jadwal

3. Observasi tanda-tanda vital

4. Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advis

5. Periksa dan cata hasil X-ray dada dan jumlah sel darah putih

sesuai indikasi

6. Lakukan suction bila perlu

7. Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam

perawatan, misalnya, pemberian obat serta pengenalan tanda

dan gejala inefektifitas pola nafas

8. Ciptakan lingkungan yang nyaman

2) Devisit volume cairan, intervensi yang diperlukan adalah:

1. Berikan cairan sesuai kebutuhan

2. Catat secara akurat intake dan output

3. Kaji dan catat tanda-tanda vital serta gejala kekurangan cairan

4. Periksa dan catat berat jenis urine tiap 4 jam atau sesuai advis

5. Lakukan perawatan mulut sesuai dengan kebutuhan

6. Kaji dan catat pengetahuan serta partisipasi keluarga dalam

monitoring intake dan output serta dalam mengenali tanda dan

gejala kekurangan volume cairan

7. Ciptakan situasi yang nyaman

II. KELAINAN JANTUNG BAWAAN

1. Pengertian

Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan anatomi jantung yang sudah ada sejak

dalam kandungan ( Nursalam, )

Penyakit jantung bawaan adalah kelainan susunan jantung, mungkin sudah terdapat sejak

lahir (FK UI, 1985)

2. Klasifikasi

A. Berdasarkan anatomi

1) Kelainan aorta (koarktasio aorta, kalainan arcus aorta, cincin aorta, PDA,

aortic pulmonary window, kalainan basis aorta dan pembuluh darah

koroner)

2) Kelainan arteria pulmonalis (dari distal ke proksimal ): kelainan pada

vaskular bed. Stenosis arteria pulmonalis, aplasia salah satu cabang a.

Pulmonalis, PS valvular, ketiadaan bawaan katup pulmonal

3) Kelainan katup atrio-ventrikular (septum, atrium, ventrikel, system vena)

B. Berdasarkan fisiologi

1) Kelainan jantung bawaan yang dipengaruhi beban tekanan jantung

Page 11: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

2) Kelainan jantung bawaan yang dipengaruhi beban volume jantung

3) Kelainan jantung bawaan yang dipengaruhi oleh kombinasi beban tekanan

dan beban volume jantung

C. Berdasarkan ada tidaknya sianosis

1) Kelainan jantung bawaan asianotik

KJB asianotik adalah penyakit jantung bawaan yang tidak disertai dengan

warna kebiruan pada mukosa tubuh. Yang termasuk dalam KJB asianotik

adalah:

1. Ventrike Setal Defect (VSD) yaitu adanya defect atau celah antara

ventrikel kiri dan ventrikel kanan

2. Atrial Septal Defect (ASD) yaitu adanya defect atau celah antara

atrium kiri dan kanan

3. Patent Ductus Arteriosus (PDA) yaitu adanya defect atau celah pada

ductus arteriosus yang seharusnya telah menutup pada usia 3 hari

setelah lahir

4. Stenosis Aorta (SA) yaitu adanya penyempitan pada katup aorta yang

dapat diakibatkan oleh penebalan katup

5. Stenosis Pulmonal (SP) yaitu adanya penyempitan pada katup

pulmonal

Manifestasi klinis KJB nonsianotik adalah:

Sesak nafas/nafas yang cepat

Berat badan yang tidak naik

Susah dalam minum susu/makan (tidak dapat mengiap

susu dengan cepat, perlu waktu yang lama untuk menyusu

dan seringkali harus berhenti beberapa kali)

Sering batuk dan infeksi paru berulang.

Pada semua PJB tanpa kebiruan, terjadi pembebanan tekanan pada jantung

kanan dan paru paru yang akan menimbulkan 2 (dua) efek samping apabila

keadaan dibiarkan, yaitu :

Kegagalan jantung

Hipertensi paru paru

2) Kelainan jantung bawaan sianotik

KJB sioanotik adalah penyakit jantung bawaan yang disertai dengan warna

kebiru-biruan pada mukosa tubuh. Menurut Walter (1994), sianosis adalah

warna kebiru-biruan yang timbul pada kulit karena Hb tak jenuh dalam darah

rendah dan sering sukar untuk ditentukan kuantitasnya secara klinis. Warna

sianotik pada mukosa tubuh tersebut hendaknya dibedakan dengan warna

kepucatan pada tubuh anak yang mungkin terjadi karena beberapa faktor,

Page 12: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

seperti pigmentasi dan sumber cahaya. Beberapa macam PJB sianotik

diantaranya adalah:

1) Tetraloggi of Fallot (TF), yaitu kelainan jantung yang timbul sejak bayi

dengna gejala sianosis karena terdapat kelainan yaitu VSD, stenosis

pulmonal, hipertropi ventrikel kanan, dan overiding aorta.

2) Transposisi artero besar (TAB) atau Transposition of The Great

Atteries (TGA), yaitu kelainan yang terjadi karena pemindahan letak

aorta dan arteri pulmonalis, sehingga aorta keluar dari ventrikel kanan

dan arteri pulmonalis dari ventrikel kiri.

KJB pada anak, terutama yang sianotik, dapat mengakibatkan kegawatan

apabila tidak ditangani secara benar, seperti gagal jantung dan serangan

sianosis (sianotic spell).

3. Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian

1. Usia

Perlu diketahui pada usia berapa gejala timbul. Pada anak dengan KJB, gejala

tersebut tidak selalu disertai dengan tanda-tanda yang spesifik, karena anak dapat

melakukan aktivitas secara normal. Kadang-kadang gejala muncul setelah anak

remaja atau menginjak dewasa.

2. Pertumbuhan dan perkembangan

Sebagian anak yang menderita KJB dapat tumbuh dan berkembang secara normal.

Pada beberapa kasus yang spesifik seperti VSD, ASD, dan TF, pertumbuhan fisik

anak terganggu, terutama berat badannya. Anak kelihatan kurus dan mudah sakit,

terutama karena infeksi saluran napas. Sedangkan untuk perkembangannya, yag

sering mengalami gangguan adalah aspek motoriknya.

3. Pola aktivitas

Anak-anak yang menderita TF sering tidak dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari

secara normal. Apabila melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak energi,

seperti berlari, bergerak, berjalan-jalan cukup jauh, makan/ minum tergesa-gesa,

menangis atau tiba-tiba duduk jongkok (squating), anak dapat mengalami serangan

sianosis. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar aliran darah ke otak.

Kadang-kadang anak tampak pasif dan lemah, sehingga kurang mampu untuk

melaksanakan aktivitas sehari-hari dan perlu di bantu.

4. Tanda vital (suhu, nadi, respirasi, dan kesadaran)

Seorang anak yang menderita KJB adalah rekatif/normal selama tidak didapatkan

tanda-tanda infeksi. Nadi pada masa bayi secara normal lebih cepat dibandingkan

dengan masa anak-anak. Pada anak yang mengalami kesulitan napas/ sesak naas

sering didapatkan tanda-tanda adanya retraksi otot bantu napas, pernapasan

cuping hidung, dan napas cepat; sementara pada bayi sering ditandai dengan

Page 13: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

minum/ menetek yang sering berhenti. Sesak napas ini sering timbul bila melakukan

latihan yang lama dan intensif.

Menurut penilaian Glasgow Coma Scale (GCS), kesadaran termasuk dalam

kategori compos mentis. Dalam keadaan yang memburuk, seperti ketika anak

mengalami gagal jantung, kesadaran bisa mengalami penurunan bahkan sampai

mrngalami koma.

5. Sianosis

Terutama terjadi pada kasus TF. Harus dibedakan antara sianosis perifer dan

sianosis sentral. Sianosis perifer terjadi karena vasokonstriksi pembuluh darah,

terutama pada bagian perifer yang dapat dilihat pada ujung-ujung ekstremitas.

Sedangkan pada sianosis sentral, warna kebiruan dapat dilihat pada membran

mukosa, seperti lidah, bibir, dan konjungtiva. Sianosis sentral dapat timbul selama

melakukan aktivitas, seperti menangis atau makan tergesa-gesa. Pada sianosis

yang berat, tanpa melakukan aktivitas apapun warna pucat kebiruan sudah tampak.

Sianosis ini tidak selalu ada pada penyakit jantung bawaan. Hal ini bergantung pada

letak kelainannya. Misalnya saja, pada VSD atau ASD tanda sianosis ini tidak

tampak.

6. Pemeriksaan penunjang

1) Ultra Sono Grafi (USG) dada yang digunakan untuk menentukan besar

jantung, bentuk vaskularisasi paru, serta untuk mengetahui keadaan thymu,

trachea, dan esophagus.

2) Electro Cardiografi (ECG) berguna untuk mengetahui adanya aritmia atau

hipertrofi.

3) Echo Cardiografi berguna untuk mengetahui hemodinamik atau anatomi

jantung.

4) Kateterisasi dan Angiografi untuk mengetahui gangguan anatomi jantung

yang dilakukan dengan tindakan pembedahan.

5) Pemeriksaan laboratorium. Biasanya pemeriksaan darah dilakukan untuk

serum elektrolit, Hb, Packet Cell Volume (PVC), dan kadar gula.

7. Program terapi

Pengobatan ditujukan untuk dua hal, yaitu:

1) Jenis dan berat penyakitnya

Apabila terdapat sianosis maka diperlukan optimalisasi fisik dan mental

untuk persiapan operasi. Observasi tanda-tanda vital dan terapi suportif

tetap diperlukan meskipun anak tidak mengalami sianosis.

2) Mengatasi penyakit/ komplikasi, yang biasanya dilakukan dengan tindakan

operatif

b. Masalah

1. Diagnosis medis: dugaan (suspect) KJB

Page 14: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

2. Masalah yang mungkin timbul adalah:

1) Penurunan Cardiac Output (curah jantung)

2) Intoleransi aktivitas

3) Gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan

4) Risiko injeksi

5) Risiko trauma

6) Koping keluarga

c. Perencanaan

Apabila terdapat tanda-tanda yang mendukung terjadinya KJB, segera lakukan rujukan

ke tenaga medis atau ke klinik yang mempunyai fasilitas yang lebih rangkap. Sementara

itu, apabila dijumpai masalah-masalah tersebut di atas dan anak belum mendapatkan

pertolongan dari dokter atau tenaga yang berwenang, maka perlu dilakukan hal-hal

sebagai berikut:

1. Optimalkan Cardiac Output

Untuk maksud tersebut perlu diberikan istirahat yang cukup bagi anak.

Usahakanlah agar suasana lingkungan tenang dan nyaman. Segera

berkolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian digoxin (digitalisasi). Selama

pemberian digoxin, lakukan observasi terhadap tanda-tanda vital dan intoksikasi

digitalis. Tanda-tanda intoksikasi digitalis adalah nadi tidak teratur, mual, dan

muntah. Apabila terjadi intoksikasi, segera hentikan pemberian digoxin. Apabila

keadaan membaik, segera mulai dengan dosis awal.

2. Bantu pemenuhan kebutuhan aktivitas

Meskipun ada keterbatasan aktivitas, anak perlu dibantu untuk memilih aktivitas

yang disukainya, termasuk dalam hal bermain. Perlu diperhatikan adalah

menghindari aktivitas yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena aktivitas yang

berlebihan membutuhkan oksigen yang cukup, sementara persediaan oksigen

dalam tubuh terbatas. Anak sedapat mungkin beristirahat beristirahat dengan

cukup sesuai dengan usianya. Hindari juga perubahan suhu lingkungan yang

mendadak, karena hal tersebut memicu jantung untuk bekerja lebih keras guna

memenuhi O2. Apabila anak bangun tidur dan akan diajak jalan-jalan pagi,

gunakan pakaian yang tebal agar anak tidak kedinginan. Gunakan air hangat

untuk mandi bila cuaca dingin.

3. Berikan stimulus pertumbuhan dan perkembangan

Untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, maka makanan yang

mencukupi sangat diperlukan, yaitu cukup protein, vitamin, mineral, karbohidrat,

dan lemak yang sangat dibutuhkan pada masa anak. Perlu ditambahkan sumber

Fe yang mencukupi, seperti bayam dan hati. Fe yang cukup dalam tubuh akan

membantu meningkatkan kadar oksigen. Untuk merangsang perkembangan

anak, aktivitas bermain tetap diperlukan. Tetapi, dalam melaksanakan aktivitas

Page 15: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

harus sesuai dengan keadaan dan kemampuan anak. Orang tua perlu selektif

dalam memilih permainan anak. Yang perlu diperhatikan bahwa anak tetap bisa

bermain tanpa memperburuk keadaan penyakitnya.

4. Hindari terjadinya infeksi/ trauma

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi berulang, pada

anak dengan penyakit jantung bawaan diantaranya adalah segera di obati dan

sedapat mungkin dijauhkan dari orang tua atau saudaranya yang menderita

penyakit menular. Orang tua yang harus merawat anaknya hendaknya

melindungai dirinya sendiri selama sakit, misalnya dengan menggunakan masker

selama menyusui.

Sealin itu, perlu juga divberikan nutrisi, dan istirahat yang mencukupi untuk

memulihkan kondisi tubuh. Penjelasan mengenai risiko infeksi dan tanda-tanda

akibat penyakit yang diderita anak perlu di informasikan kapada orang tua.

5. Berikan pendidikan kesehatan pada orang tua dan keluarganya

Untuk mengurangi kecemasan orang tua maka diperlukan penjelasan mengenai

keadaan penyakit anaknya, pengobatan, kemungkinan dilakukan pembedahan/

operasi, dan upaya untuk menghindari keadaan yang lebih buruk, misalnya

memberikan cukup istirahat dan kasih sayang.

III. ANEMIA

a. Defenisi

Anemia adalah kondisi dimana jumlah sel darah merah dan/atau konsentrasi hemoglobin

turun dibawah normal.

Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi

tubuh akibatnya jumlah O2 yang diangkut ke jaringan tubuh berkurang.

b. Etiologi

Produksi sel darah tidak mencukupi:

Rendahnya produksi sel darah merah karena defisiensi factor yang berperan dalam

eritropoesis (as. Folat, vit B12, zat besi)

Kehilangan sel darah merah:

Terjadi karena perdarahan yang disebabkan oleh penyebab-penyebab utama (sal. Cerna,

uterus hidung, luka).

Peningkatan penghancuran sel darah merah:

Overaktif system reticular endoplasmic (termasuk hipersplenisme) atau karena produksi

sel darah merah abnormal yang dihancurkan oleh RES (spt. Anemia sickle sel)

c. Patofisiologi

1. Manifestasi klinis

Factor yang mempengaruhi berat dan sedangnya gejala:

• Kecepatan terjadinya anemia

Page 16: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

• Durasi

• Kebutuhan metabolisme pasien yang bersangkutan

• Adanya kelainan lain atau kecacatan

• Komplikasi tertentu atau keadaan penterta kondisi yang menyebabkan

anemia

Gejala yang ditimbulkan:

• Tekikardi

• Palpitasi

• Kardiomegali

• hepatomegali

• Dyspepsia

• Konstipasi

• Diare

• Parastesia

• Mati rasa

• Ataksia

• Gangguan koordinasi

• Bingung

• Gangguan integritas kulit

• Kuku cekung dan bergerigi

• Udem perifer

2. Komplikasi

Komplikasi umum, meliputi gagal jantung, parestesia, angina, gagal jantung kongestif,

dan kejang.

d. Klasifikasi

1. Anemia mikrositik hipokrom

a. anemia defisiensi Fe

b. thalasemia

2. Anemia makrositik

a. defisiensi vit B 12

b. defisiensi asam folat

c. anemia hemolitik

d. mielodisplasia

3. Anemia normokrom

a. penyakit kronik

b. perdarahan akut

e. Penatalaksanaan Medis

Page 17: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Mencari penyebab dan mengatasi komplikasi,serta penggantian darah yang hilang.

1) Terapi oksigen

Kompensasi berkurangnya pengangkutan oksigen dan membantu mengurangi kerja

jantung.

2) Transfusi darah

Terutama pada lkehilangan darah akut (Hb < 6 gr/dl) atau yang tidak respon terhadap

pengobatan lain.

Pemberian jangka pahjang beresiko tinggi kelebihan zat besi (kardiomegali, perikarditis,

aritmia, GJK, insufisiensi tiroid, malfungsi penkreas dan endokrin, fibrosis hepar,

perubahan warna kulit)

3) Agen penghancuran zat besi

Defroksamin dapat mencegah kelebihan zat besi

4) Eritropoetin

Injeksi subkutan untuk mengobat penyakit kronik anemia. Sumsum tulang harus

memproduksi SDM dan harus tersedia nutrien

5) Zat besi dan vit B12

6) Diet tinggi zat besi

Pada penyakit defisiensi nutrisi atau kehilangan darah, nutrisi dapat mengakibatkan

produksi SDM

f. WOC

Penghancuran SDM

Kehilangan SDM

Perdarahan saluran cerna

Overaktif RES, produksi SDM abnormal

Depresi sum2 tulang

Def. Besi, B12, as. Folat

Produksi SDM

Page 18: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas klien

2. Riwayat kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien pernah mendapatkan atau menggunakan obat-obatan yang mempengaruhi

sumsum tulang dan metabolisme asam folat.

Riwayat kehilangan darah kronis mis: perdarahan GI kronis, menstruasi

berat(DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan)

Riwayat endokarditis infektif kronis.

Riwayat pielonefritis, gagal ginjal.

Pe kadar Hb

Hipoksia serat saraf

Efek GIKompensasi paruKompensasi jantung

Gangguan penyebaran nutrisi

Pe frekuensi nafas

Penebalan dinding ventrikel

Pe kontraktilitasPe frekuensi

Parastesia, mati rasa, ataksia, gangguan koordinasi, bingung

Konstipasidiare

dispepsiakardiomegalipalpitasitakikardi

Pe jumlah eritrosit

Page 19: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Riwayat TB, abses paru.

Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, mis: benzene, insektisida,

fenil butazon, naftalen.

Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan.

Riwayat kanker, terapi kanker.

Riwayat penyakit hati, ginjal, masalah hematologi, penyakit malabsorbsi, lan spt:

enteritis regional, manifestasi caciong pita, poliendokrinopati, masalah autoimun.

Penggunaan anti konvulsan masa lalu / sekarang, antibiotic, agen kemoterapi,

aspirin, obat antiinflamasi, atau anti koagulan.

Adanya / berulangnya episode perdarahan aktif (DB)

Pembedahan sebelumnya: splenektomi, eksisi tumor, penggantian katup

prostetik, eksisi bedah duodenum, reseksi gaster, gastrektomi parsial / total.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Keletihan, kelemahan, malaise umum

Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak.

klien mengatakan bahwa Ia Depresi

Sakit kepala

Nyeri mulut & lidah

Kesulitan menelan

Dyspepsia, anoreksia

Klien mengatakan BB menurun

Nyeri kepala,berdenyut, sulit berkonsentrasi

Penurunan penglihatan

Kemampuan untuk beraktifitas menurun

c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Kecendrungan keluarga untuk anemia.

Adanya anggota keluarga yang mendapat penyakit anemia congenital.

Keluarga adalah vegetarian berat.

Social ekonomi keluarga yang rendah.

3. Pemeriksaan fisik

a. Kardiologi

• Kardiomegali , Hepatomegali

• Edema perifer

• Takikardi, palpitasi,

b. Pernafasan

• Takipnea, orthopnea, dispnea.

c. Sirkulasi

Page 20: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

• TD: peningkatan sistolik dengan diastolic stabil & tekanan nadi melebar,

hipotensi postural.

• Bunyi jantung murmur sistolik (DB)

• Ekstremitas: pucat pada kulit, dasar kuku, dan membrane mukosa,

• Sclera biru atau putih seperti mutiara.

• Pengisisan darah kapiler melambat

• Kuku mudah patah dan berbentuk seperti sendok (koilonika) (DB)

• Rambut kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara premature

d. Gastrointestinal

• Diare, muntah,

• glositis (peradanagan lidah)

• melena/ hematemesis

e. Neurologi

• Parastesia

• Ataksia

• Koordinasi buruk

• Bingung

• Sakit kepala

• Pusing

• Kunang-kunang

• Peka ransang

• Proses pikir lambat

• Penurunan lapang pandang

• Apatis

• Depresi

f. Integuman

• Mukosa pucat,kering

• Kulit kering

4. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan Diagnostik

• Jumlah darah lengkap JDL) : HB & HT menurun

o Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik), MCV & MCH

menurun, & mikrositik dg eritosit hipokromik (DB), peningkatan (AP),

pansiitopenia (aplastik)

o Jumlah retikulosit bervariasi :menurun(AP), meningkat (hemolisis)

o Pewarnaan SDM: mendeteksi perubahan warna & bentuk (dapat

mengindikasikan tipe khusus anemia)

Page 21: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

o LED : peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi

o Massa hidup SDM : untuk membedakan diagnosa anemia

o Tes kerapuhan eritrosit : Menurun (DB)

o SDP : jumlah sel total sama dengan SDM (diferensial) mungkin

meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik)

• Jumlah trombosit : menurun (aplastik), meningkat (DB), normal/tinggi (hemolitik)

• Hb elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur Hb

• Bilirubin Serum (tidak terkonjugasi) : meningkat (AP, hemolitik)

• Folat serum dan vit. B12 : membantu mendiagnosa anemia

• Besi serum : tak ada(DB), tinggi (hemolitik)

• TIBC serum : menurun (DB)

• Masa perdarahan : memenjang (aplastik)

• LDH serum : mungkin meningkat (AP)

• Tes Schilling : penurunan eksresi vit. B12 urin (AP)

• Guaiiac : mungkin positif untuk darah pada urin, feses, dan isi gaster,

menunjukkan perdarahan akut/kronis (DB)

• Analisa gaster : penurunan sekresi dengan peningkatann pH dan tak adanya

asam hidrokolorik bebas (AP)

• Aspirasi sum-sum tulang/pemeriksaan biopsy : sel mungkin tampak berubah

dalam jumlah, ukuran, bentuk, membedakan tipe anemia

• Pemeriksaan endoskopoi dan radiografik : memeriksa sisi perdarahan,

perdarahan GI

Page 22: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

No Diagnosa Sasaran Pasien Intervensi keperawatan/Rasional Hasil Yang Diharapkan1 Ansietas/takut b.d

prosedur

diagnostic/transfuse

Pasien (keluarga)

mendapatkan pengetahuan

tentang gangguan, tes

diagnostic dan pengobatan.

• Siapkan anak untuk menghilangkan ansietas/rasa

takut

• Tetapkan bersama anak selama masa tes dan

memulai transfuse untuk memberikan dukungan dan

observasi pada kemungkinan komplikasi.

• Jelaskan tujuan pemberian komponen darah untuk

meningkatkan pemahaman terhadap gangguan, tes

diagnostic dan pengobatan

• Anak dan keluarga

menunjukkan ansietas

yang minimal

• Anak dan keluarga

menunjukkan

pemahaman tentang

gangguan, tes diagnostic

dan pengobatan

2 Intoleransi aktivitas b.d

kelemahan umum,

penurunan pengiriman

oksigen ke jaringan.

• Pasien

mendapat istirahat yang

adekuat

• Observasi adanya tanda kerja fisik dan

keletihan untuk merencanakan istirahat yang tepat.

• Antisipasi dan bantu dalam ADL yang

mungkin di luar batas toleransi anak untuk

mencegah kelelahan

• Beri aktivitas bermain pengalihan, yang

meningkatkan istirahat dan tenang tetapi mencegah

kebosanan dan menarik diri

• Pilih teman sekamar yang sesuai dengan

usia dan minat yang sama untuk mendorong

kepatuhan pada kebutuhan istirahat.

• Rencanakan aktivitas keperawatan untuk

memberikan istirahat yang cukup

• Bantu pada aktivitas yang memerlukan kerja

fisik

• Anak bermain

dan istirahat dengan

tenang dan melakukan

aktivitas yang sesuai

dengan kemampuan.

• Anak tidak

menunjukkan tanda-

tanda aktivitas fisik atau

keletihan.

Page 23: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

• Pasien

menunjukkan

pernafasan normal

• Pasien

mengalami stress

emosional minimal

• Pertahankan posisi Fowler-tinggi untuk

pertukaran udara yang optimal

• Beri oksigen untuk meningkatkan oksigen ke

jaringan

• Ukur tanda vital selama periode istirahat

untuk menentukan nilai dasar perbandingan selama

periode aktivitas

• Antisipasi peka rangsang anak dan kerewelan

dengan membantu anak dalam aktivitas bukan

menunggu dimintai bantuan

• Dorong orang tua untuk tetap bersama anak untuk

meminimalkan stress karena perpisahan

• Berikan tindakan kenyamanan untuk meminimalkan

stress

• Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan untuk

meminimalkan ansietas

• Berikan darah, sel darah, trombosit sesuai ketentuan

• Berikan faktor pertumbuhan hematopoietik, sesuai

ketentuan untuk meransang pembentukan sel darah

• Pasien

bernafas dengan

mudah; frekuensi dan

kedalaman pernafasan

normal

• Anak tetap

tenang

• Anak

menerima elemen

Page 24: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

• Pasien

menerima elemen

darah yang tepat

merah darah yang tepat tanpa

masalah

3 Perubahan nutrisi:

kurang dari kebutuhan

tubuh b.d

ketidakadekuatan

pemasukan besi yang

dilaporkan (kurang dari

RDA); kurang

pengetahuan mengenai

makanan yang diperkaya

dengan besi.

• Pasien

mendapat suplai besi

adekuat

• Pasien

mengkonsumsi

suplemen besi

• Berikan konseling diet pada pemberi perawatan

khususnya mengenai hal-hal berikut: sumber besi

dari makanan (mis, daging, kacang, gandum, sereal

bayi yang dipercaya dengan besi) untuk memastikan

bahwa anak mendapat suplay besi yang adekuat

• Beri susu pada bayi sebagai makanan suplemen

setelah makanan padat diberikan karena terlalu

banyak minum susu akan menurunkan masukan

makanan padat yang mengandung besi

• Ajari anak yang lebih besar tentang pentingnya zat

besi yang adekuat dalam diet untuk mendorong

kepatuhan

• Berikan preparat besi sesuai ketentuan

• Intruksikan keluarga mengenai pemberian

preparat besi oral yang tepat:

• Berikan dalam dosis terbagi untuk absorpsi

maksimum

• Berikan diantara waktu makan untuk

• Anak

sedikitnya

mendapatkan

kebutuhan besi minimal

harian

• Keluarga

menghubungkan riwayat

diet yang memperjelas

kepatuhan anak

terhadap anjuran ini.

Page 25: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

meningkatkan absorpsi pada traktus gastrointestinal

bagian atas

• Berikan dengan jus buah atau preparat

multivitamin karena vit C memudahkan absorpsi besi

• Jangan memberikannya bersama susu atau

antasida karena bahan ini akan menurunkan

absorpsi besi.

• Berikan preparat cair dengan pipet, spuit,

atau sedotan untuk menghindari kontak dengan gigi

dan kemungkinan pewarnaan

• Kaji karakteristik feses karena dosis adekuat

besi oral akan mengubah feses menjadi hijau gelap

• Anak diberikan

suplemen besi yang

dibuktikan dengan feses

yang bewarna hijau.

• Anak meminum

obat dengan tepat.

Page 26: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

IV. THALASEMIA

a. Pengertian

Merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif, dimana

hemoglobin orang dewasa normal (hemoglobin A [HbA]) sebagian atau seluruhnya digantikan

oleh hemoglobin sabit abnormal (HbS), yang menyebabkan penyimpangan dan kekakuan sel

darah merah dalam kondisi penurunan tekanan oksigen Secara molekuler talasemia

dibedakan atas talasemia alfa dan beta, sedangkan secara klinis dibedakan atas talasemia

mayor dan minor.

b. Patofisiologi

Penyebab anemia pada talasemia bersifat primer dan skunder. Talasemia primer adalah

berkurangnya sintesis HbA dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel –sel

eritrosit intramedular. sedangkan talasemia skunder ialah karena defesiensi asam folat,

bertambahnya volume plasma intravascular yang mengakibatkan hemodilusi, dan destruksi

eritrosit oleh system retikuloendotelial dalam limpa dan hati.

Terjadinya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin

berkurang.

Terjadinya hemosiderosis merupakan hasil kombinasi antara tranfusi berulang,

peningkatan absorsi besi dalam usus karena eritropoesis yang tidak efektif, anemia kronis,

serta proses hemolisis.

c. Manifestasi Klinis

Bayi baru lahir dengan talasemia beta mayor tidak anemia. gejala awal pucat mulanya tidak

jelas, biasanya menjadi lebih berat dalam tahun pertama kehidupan dan pada kasus yang

berat terjadi dalam bebebrapa minggu setelah lahir. Bila penyakit ini tidak ditangani dengan

baik, tumbang masa kehidupan anak akan terhambat.Anak tidak nafsu makan, diare,

kehilangan lemak tubuh dan disertai dengan demam berulang akibat infeksi. Anemia

beratdan lama biasanya menyebabkan pembesaran jantung.

Terdapat hepatosplenomegali.Ikterus jaringan ada terjdi perubahan pada tulang yang

menetap, yaitu terjadinya bentuk muka mongoloid akibat system eritropoesis yang hiperaktif.

Adanya penipisan korteks tulang panjang, tangan, dan kaki dapat menimbulkan fraktur

patologis. Penyimpangan pertumbuhan akibat anemia dan kekurangan zat gizi menyebabkan

perawakan pendek. Kadang – kadang ditemukan epistaksis, pigmentasi kulit, koreng pada

tungkai dan batu empedu. Pasien menjadi peka terhadap infeksi terutama bila limpanya telah

diangkat sebelum usia 5 tahun dan mudah mengalami septisemia yang dapat menyebabkan

kematian. Dapat timbul pansitopenia akibat hipersplenisme.

Hemosiderosis terjadi pada kelenjar endokrin ( keterlambatan menars dan gangguan

perkembangan sifat sek skunder ), pancreas ( diabetes ), hati ( sirosis ), otot jantung

( aritmia, ganggunan hantaran, gagal jantung ), dan perikardium ( perikarditis ).

d. Pemeriksaan penunjang

Anemia biasanya berat, dengan kadar Hb berkisar antara 3 – 9 g/dl.

Page 27: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Eritrosit memperlihatkan anisositosis, poikilositosis dan hipokromia berat. Sering ditemukan

sel target.Normoblas ( eritrosit berinti ) banyak dijumpai terutama pasca splenoktomi.

Gambaran sumsum tulang memperlihatkan eritropoesis yang hiperaktif sebanding dengan

anemianya. Petunjuk adanya talasemia alfa adalah ditemukannya Hb Bart’s dan HbH. Pada

talasemia beta kadar HbF bervariasi antara 10 – 90 %, sedangkan dalam keadaan normal

kadarnya tidak melebihi 1 %.

e. Penatalaksanaan

1. Tranfusi PRC (packed red cell) bila Hb < 8 gr%

2. Untuk menurunkan besi dari jaringan tubuh diberikan kalori besi : disferal IM/IV

3. Splenektomi : hipersplenisme

4. Transplantasi sum sum tulang pada talasemia maya

5. Berikan asam folat 2 – 5 mg/hari, pada yang jarang mendapatkan tranfusi

6. Pantau fungsi organ: jantung, paru, hati, endokrin, gigi, telinga, mata, tulang.

f. Komplikasi

1. Akibat anemia yang berat dan lama sering terjadi gagal jantung

2. Tranfusi darah yang berulang-ulang dan proses hemolisis mengalibatkan kadar besi

dalam darah sangat tinggi, sehingga ditimbun dalam jaringan seperti hepar, limfa, kulit

dan jantung.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

2. Riwayat kesehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang

anoreksia, lemah, diare, demam, anemia, ikterus ringan, BB menurun, perut

membuncit, hepatomegali dan splenomegali

b. Riwayat kesehatan dahulu

apakah klien pernah mengalami anemia

c. Riwayat kesehatan keluarga

Biasaya salah satu angota keluarga pernah mengalami penyakit yang sama.

3. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum ;

tingkat kesadaran: compos mentis, apatis atau koma

TTV : peningkatan pada sistolik, suhu stabil dan nafas pendek

b. Kepala dan rambut : biasanya normal

c. Muka/wajah :

- Wajah seperti mongoloid

- Pada mata : konjungtiva anemis, sclera ikterik, abnormalitas intra ocular dengan

gangguan visual, kadang pelepasan retina progresif dan kebutaan

- Pada bibir sianosis

Page 28: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

d. Torak/dada

- Paru : nafas pendek, takipnea, ortopnea, dispnea, perubahan fungsi paru,

rentan terhadap infeksi, dan insufisiensi paru

- jantung : bunyi jantung mur mur sistolik

e. Leher

Tidak ada pembesaran KGB

f. Abdomen

Nyeri abdomen berat menyerupai kondisi bedah akut

Hati: hepatomegali, sirosis, kolestasis intra hepatic

Limpa: splenomegali, rentan terhadap inmfeksi, penurunan fungsi pada aktifitas

splenik yang berkembang menjadi auto spleniktomi

g. Ekstremitas

perubahan pada tulang; penipisan korteks tulang punggung deformitas skelet,

khususnya lordosisi dan kiposis, ulkus kakai kronis, rentan terhadap osteomielitis

salmonella

h. Kulit

warna pucat,terdapat koreng pada tungkai

i. Genitalia

perubahan pada seks skunder, priapisme (nyeri, ereksi penis konstan)

4. Pertumbuhan dan perkembangan

Biasanya terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang lambat

Page 29: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

No Diagnosa Sasaran Pasien Intervensi keperawatan/Rasional Hasil Yang Diharapkan1 Resiko tinggi cidera b.d

hemoglobin abnormal,

penurunan oksigen

ambient, dehidrasi

• Pasien

mempertahankan

oksigenasi jaringan

yang adekuat

• Pasien

mempertahankan

hidrasi yang adekuat

• Jelaskan tindakan untuk meminimalkan komplikasi

yang berhubungan dengan aktifitas fisik dan stress

emosional untuk menghindari tambahan kebutuhan

oksigen jaringan

• Cegah infeksi

• Hindari lingkungan yang rendah oksigen

• Hitung masukan cairan harian yang direkomendasikan

(150 ml/kg) dan kebutuhan dasar cairan anak pada

jumlah minimum, untuk menjamin hidrasi adekuat

• Tingkatkan masukan cairan diatas kebutuhan

minimum selama aktifitas fisik atau stress emosional

untuk mengkompensasi tambahan kebutuhan cairan

• Berikan pada orang tua intruksi tertulis mengenai

jumlah spesifik cairan yang dibutuhkan untuk

mendorong kepatuhan

• Dorong anak untuk minum, untuk mendorong

kepatuhan

• Ajarkan pada keluarga tanda-tanda dehidrasi

• Tekankan pentingnya menghindari panas yang

berlebihan sebagai penyebab kehilangan cairan

• Tekankan pentingnya nutrisi adekuat; imunisasi rutin

• Anak

menghindari situasi

yang menurunkan

oksigenasi jaringan .

• Anak meminum

jumlah cairan yang

adekuat dan tidak

menunjukkan adanya

tanda-tanda dehidrasi

• Anak tetap

Page 30: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

• Pasien

terbebas dari infeksi

• Pasien

mengalami penurunan

resiko berkaitan dengan

prosedur bedah

termasuk vaksin pneumokokal dan meningokokal;

perlindungan dari sumber infeksi yang tidak diketahui

dan seringnya pengawasan kesehatan

• Laporkan dengan segera adanya tanda-tanda infeksi

pada praktisi untuk menghindari keterlambatan

pengobatan

• Tingkatkan kepatuhan terhadap terapi antibiotik untuk

pencegahan dan pengobatan infeksi

• Jelaskan alasan pemberian transfuse darah

praoperasi (diberikan untuk meningkatkan konsentrasi

HbA)

• Jaga agar anak tetap terhidrasi dengan baik untuk

mencegah sickling

• Kurangi rasa takut melalui persiapan yang tepat

karena ansietas meningkatkan kebutuhan oksigen

• Berikan obat nyeri untuk mempertahankan rasa

nyaman anak dan mengurangi respon stress

• Hindari aktivitas yang tidak perlu untuk menghindari

tambahan keputusan oksigen

• Tingkatkan higiene paru pasca operasi untuk

mencegah infeksi

• Gunakan latihan rentang gerak pasif untuk

meningkatkan sirkulasi

bebas dari infeksi

• Anak menjalani

prosedur tanpa krisis

Page 31: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

• Berikan oksigen, bila ditentukan untuk menjenuhkan

hemoglobin

• Pantau adanya tanda-tanda infeksi untuk menghindari

keterlambatan pengobatan2. Nyeri b.d anoreksia

jaringan (krisis vaso-

oklusif)

• Pasien tidak mengalami

nyeri atau nyeri menurun

sampai tingkat yang

dapat diterima anak

• Rencanakan jadwal obat pencegahan, bukan sesuai

kebutuhan untuk mencegah nyeri

• Kenali bermacam-macam analgesic, termasuk opioid,

serta penjadwalan obat mungkin perlu dicobva untuk

mencapai penghilangan nyeri yang memuaskan

• Hindari pemberian meperidin (Demerol) karena

peningkatan resiko kejang akibat nor meperidin

• Yakinkan pasien dan keluarga bahwa analgesic

diindikasikan secara medis dan dosis tinggi mungkin

diperlukan untuk mengurangi nyeri yang disebabkan

oleh rasa takut

• Berikan kompres panas pada area yang sakit karena

bisa menghilangkan nyeri

• Hindari penggunaan kompres dingin karena hal ini

akan meningkatkan sickling an vasokonstriksi

• Anak tidak mengalami

nyeri atau nyeri minimal

3. Perubahan proses

keluarga b.d anak yang

menderita penyakit yang

berpotensi mengancam

• Pasien (keluarga)

mendapatkan

pendidikan mengenai

penyakit

• Ajari keluarga dan anak yang lebih besar

tanda-tanda defek dasar serta tindakan untuk

meminimalkan komplikasi sickling

• Tekankan pentingnya menginformasikan

• Anak dan keluarga

menunjukkan

pemahaman tentang

penyakit, etiologi, dan

Page 32: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

kehidupan

• Pasien (keluarga)

menerima dukungan

yang adekuat

tentang penyakit anak untuk memastikan pengobatan

yang segera dan tepat

• Jelaskan tanda-tanda terjadinya krisis untuk

menghindari keterlambatan pengobatan

• Beritahu keluarga mengenai sifat dasar

penularan dan rujuk pada pelayanan konseling

genetik

• Ajari orang tua untuk menjadi advokat bagi

anak mereka untuk memastikan perawatan yang

terbaik

• Rujuk pada organisasi dan lembaga khusus

agar mendapatkan dukungan secara terus-menerus

• Rujuk anak pada klinik sel sabit

komprehensif untuk perawatan yang berkelanjutan

• Sadar akan kebutuhan keluarga bila

penyakit ini menyerang dua atau lebih dari anggota

keluarga

terapinya

• Keluarga mendapatkan

manfaat dari

pelayanan komunitas

• Anak mendapatkan

perawatan yang terus-

menerus dari fasilitas

yang tepat

Page 33: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

V. LEUKEMIA

a. Definisi

Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel sel

hematopietik atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang sehingga menggantikan

elemen sumsum tulang normal. Pada orang-orang dengan leukemia, sumsum tulang

memproduksi sel darah putih yang abnormal, sel yang abnormal itu adalah sel leukemia. Pada

awalnya sel-sel leukemia ini berfungsi secara normal, sampai pada saat sel-sel ini memenuhi

leukosit, eritrosit, dan trombosit yang normal. Sehingga terjadi penurunan trombosit, yang penting

untuk proses pembekuan darah.

Klasifikasi Leukemia

Dilakukan berdasarkan stem sel yang terlibat , waktu munculnya gejala dan fase perkembangan

yang terganggu, antara lain:

a. Leukemia Myeloid Akut

Terutama terjadi pada dewasa. Terjadi kerusakan/gangguan pada stem sel hematopoetik

yang berdiferensiasi menjadi semua sel myeloid: monosit, granulosit(basofil, neutrofil,

eosinofil), eritrosit, trombosit. Perkembangbiakan myeloblast yang belum matang

mengganggu kenormalan produksi sel darah, sehingga mengurangi jumlah eritrosit dan

platelet. Leukemia jenis ini merupakan bentuk paling sering dari leukemia non limfositik.

Prognosis pada pasien yang mendapatkan penanganan dapat bertahan hanya sampai 1

tahun, dengan penyebab kematian biasanya karena infeksi dan perdarahan. Leukemia jenis

ini dapat diklasifikan lagi menjadi:

M1: leukemia mieloblastik tanpa pematangan

M2: leukemia mieloblastik dengan berbagai derajat pematangan

M3: leukemia promielositik hipergranular

M4: leukemia mielomonoblastik

M5: leukemia monoblastik

M6: eritroleukemia

b. Leukemia Myeloid Kronik

Terutama terjadi pada dewasa muda dan orang tua. CML adalah keganasan dari sel induk

myeloid yang menyebabkan tidak terkontrolnya proliferasi granulosit. Ditandai dengan

produksi berlebihan seri granulositik yang relatif matang. Serangannya tersembunyi, dan

kerusakannya berlangsung dalam jangka panjang. Pada penyakit ini terdapat sel normal

lebih banyak disbanding pada bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. Secara

keseluruhan pasien dapat bertahan selama 3 sampai 4 tahun.

Page 34: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

c. Leukemia Limfositik Akut

Terutama terjadi pada anak – anak dengan laki – laki lebih banyak dibanding perempuan.

ALL merupakan suatu proliferasi ganas limfoblast yang diakibatkan oleh kerusakan sel inti

limfoid tunggal. Sekitar 60% anak mencapai ketahanan hidup sampai 5 tahun.

d. Leukemia Limfositik Kronik

Terjadi pada semua umur. CLL disebabkan oleh perkembangbiakan B limfosit kecil dan

abnormal. Penyakit ini cenderung merupakan kelainan ringan. Negara - Negara barat

melaporkan penyakit ini sebagai leukemia yang umum terjadi. Ketahanan hidup rata – rata

pasien dengan CLL adalah 7 tahun. CLL dapat dibagi menjadi 4 tingkatan penyakit secara

klnis, yang ternyata mempunyai hubungan dengan prognosis.

e. Leukemia Sel Berambut

Adalah tipe yang relative harang terjadi, leukemia limfositik sel B indolen. Leukemia sel

berambut secara umum terjadi pada laki – laki usia pertengahan dengan dominasi laki –

laki terhadap perempuan 5:1.

b. Etiologi

Etiologi pasti dari leukemia ini belum diketahui. Leukemia, sama halnya dengan kanker lainnya,

terjadi karena mutasi somatic pada DNA yang mengaktifkan onkogenesis atau menonaktifkan

gen suppressor tumor, dan menganggu regulasi dari kematian sel, diferensiasi atau divisi.

Tapi penelitian telah dapat mengemukakan factor resiko dari Leukemia ini, antara lain:

1. Tingkat radiasi yang tinggi

Orang – orang yang terpapar radiasi tingkat tinggi lebih mudah terkena leukemia

dibandingkan dengan mereka yang tidak terpapar radiasi. Radiasi tingkat tinggi bisa terjadi

karena ledakan bom atom seperti yang terjadi di Jepang. Pengobatan yang menggunakan

radiasi bisa menjadi sumber dari paparan radiasi tinggi.

2. Orang – orang yang bekerja dengan bahan – bahan kimia tertentu

Terpapar oleh benzene dengan kadar benzene yang tinggi si empat kerja dapat

menyebabkan leukemia. Benzene digunakan secara luas di industri kimia. Formaldehid

juga digunakan luas pada industri kimia, pekerja yang terpapar formaldehid memiliki resiko

lebih besar terkena leuikemia.

3. Kemoterapi

Pasien kanker yang di terapi dengan obat anti kanker kadang – kadang berkembang

menjadi leukemia. Contohnya, obat yang dikenal sebagai agen alkilating dihubungkan

dengan berkembangnya leukemia akhir – akhir ini.

4. Down Syndrome dan beberapa penyakit genetic lainnya

Page 35: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Beberapa penyakit disebabkan oleh kromosom yang abnormal mungkin meningkatkan

resiko leukemia.

5. Human T-cell Leukemia virus-I (HTVL-I)

Virus ini menyebabkan tipe yang jarang dari leukemia limfositik kronik yang dikenal sebagi

T-cell leukemia.

6. Myelodysplastic syndrome

Orang – orang dengan penyakit darah ini memiliki resiko terhadap berkembangnya

leukemia myeloid akut.

7. Fanconi Anemia

Menyebabkan akut myeloid leukemia

c. Patofisiologi

1. MANIFESTASI KLINIS

1. Leukemia Mieloblastik Akut

Rasa lemah

Pucat

Nafsu makan hilang

Anemia

Ptekie

Perdarahan

Nyeri tulang

Infeksi

Pembesaran kelenjar getah bening, limpa, hati dan kelenjar mediatinum

Kadang – kadang ditemukan hipertrofi gusi khususnya pada M4 dan M5

Sakit kepala

2. Leukemia Mieloblastik Kronik

Rasa lelah

Penurunan berat badan

Rasa penuh di perut

Kadang – kadang rasa sakit di perut

Mudah mengalami perdarahan

Diaforesis meningkat

3. Leukemia Limfositik Akut

Rasa lelah

Panas tanpa infeksi

Page 36: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Purpura

Nyeri tulang dan sendi

Anemia

Macam – macam infeksi

Penurunan berat badan

Ada massa abnormal

Muntah

Gangguan penglihatan

Nyeri kepala

4. Leukemia Limfositik Kronik

Mudah terserang infeksi

Anemia

Lemah

Pegal – pegal

Trombositopenia

Respons antibodi tertekan

Sintesis immonuglobin tidak cukup

2. KOMPLIKASI

1. Leukemia Myeloid Akut

Perdarahan gastrointestinal, paru, dan intracranial

Nyeri akibat pembesaran limpa atau hati

Sakit tulang akibat penyebaran ke sumsum tulang

Selulitis

Pnemonia

Abses perirektal dan septikemia

Peningkatan kadar asam urat dan laktat dehidrogenase

2. Leukemia Myeloid Kronik

Perdarahan

Pembesaran lien

Takikardi

Napas pendek

Anemia

Memar

3. Leukemia Limfositik Akut

Page 37: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Infeksi

Limfadenopati

Hepatosplenomegali

Gangguan penglihatan

Artralgia

4. Leukemia Limfositik Kronik

Limfadenopati

Splenomegali dan hepatomegali

Anemia

Trombositopenia

Pneumonia

Infeksi

d. Penatalaksanaan

1. Leukemia Myeloid Akut (AML)

a. Pengobatan inisial

Pengobatan inisial untuk AML biasanya dimulai dengan kemoterapi induksi

menggunakan kombinasi obat seperti daunorubicin (DNR), cytarabine (ara-C), idarubicin,

thioguanine, etoposide, atau mitoxantrone.

b. Follow-up

Terapi follow-up untuk beberapa pasien mencakup:

Supportive care, seperti pemberian nutrisi intravena dan

pengobatan dengan antibiotic oral (ofloxacin, rifampisin), khususnya pada pasien

yang memiliki perpanjangan granulositopenia; yaitu terlalu sedikit granulosit yang

matang (netrofil), bakteri menghancurkan leukosit yang mengandung partikel kecil,

atau bergranul ( kurang dari 100 granulosit/mm³ dalam 2 minggu)

Injeksi dengan factor stimulasi koloni seperti granulosit colony-

stimulating factor (G-CSF), yang dapat memperpendek periode granulositopenia

yang diakibatkan oleh terapi induksi.

Transfusi eritrosit dan trombosit.

Pasien yang baru didiagnosa mungkin perlu dipertimbangkan untuk transplantasi

stem sel, baik dari sumsum tulang ataupun dari sumber lain. Trasplantasi sumsum tulang

allogenic (alloBMT) merupakan pengganti utama bagi pasien yang berumur dibawah 55

tahun yang memiliki donor keluarga yang cocok. Kira – kira setengah dari AML yang

baru didiagnosa berada pada kelompok umur ini, dengan 75% mendapatkan remisi

komplit setelah terapi induksi dan konsolidasi. Transplantasi sumsum tulang allogeneic

Page 38: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

terdapat pada 15% dari semua pasien AML. Sayangnya, diperkirakan hanya 7% dari

semua pasien AML yang akan diobati dengan prosedur ini.

Orang – orang yang menerima transplantasi stem sel (SCT, alloBMT) membutuhkan

isolasi protektif di rumah sakit, meliputi air yang difiltrasi, makanan steril, dan sterilisasi

dari mikroorganisme di usus, sampai jumlah total leukosit diatas 500.

Pengobatan leukemia system saraf pusat jika tersedia, mencakup injeksi obat

kemoterapi (cytarabine atau ara-C, methotrexate) ke area sekitar otak atau spinal cord.

c. Terapi konsolidasi atau maintenance

Sekali pasien dlaam remisi, ia akan menerima terapi konsolidasi atau maintenance,

seperti, terapi konsolidasi dengan dosis tinggi ara-C (HDAC) dengan atau tanpa obat

anthracycline).

Apabila, pasien AML memiliki penyakit resisten (sekitar 15%) atau relapse (sekitar 70%),

remisi kedua kadang – kadang diperlukan melalui:

Induksi kemoterapi konvensional

Dosis tinggi ara-C, dengan atau tanpa obat lain.

Etoposide atau agen kemoterapi single.

Pasien AML yang lebih tua memiliki pengobatan special. Mereka mungkin kurang

toleransi terhadap septisemia yang berhubungan dengan granulositopenia, dan mereka

sering memiliki tingkat myelodysplastik (‘preleukemia’) sindrom (MDS) yang lebih tinggi.

Individu yang berusia diatas 75 tahun atau yang memiliki kondisi medical dapat diobati

efektif dengan dosis rendah ara-C.

Sampai saat ini rencana pengobatan pada anak tidak jauh berbeda dengan dewasa.

Banyak percobaan induksi memiliki hasil yang bagus dengan menggunakan kombinasi

cytarabine (ara-C) dan anthracycline (daunorubicin, doxorubicin). Pada anak berusia

dibawah 3 tahun, abthracycline yang digunakan untuk induksi harus dipilih dengan hati –

hati, karena doxorubicin lebih toxis dan berhubungan dengan kematian dibandingkan

dengan daunorubicin.

Terapi konsolidasi ini komplek, tapi terapi ini sebaiknya mencakup sedikitnya dua

siklus dosis tinggi ara-C. anak – anak dengan hiperleukositosis, khususnya monicytic M5

leukemia, memiliki prognosis yang buruk.

2. Leukemia Myeloid Kronik

Strategi umum untuk manajemen penyakit ini mencakup berbagai macam pilihan:

a. Leukapheresis

Dikenal juga dengan transplantasi stem sel darah perifer, dengan cryopreservation

stem sel (yang dibekukan) sebelum pengobatan lainnya. Darah pasien dilewatkan

melalui sebuah mesin yang memindahkan stem sel kemudian mengembalikan darah

Page 39: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

ke pasien. Leukapheresis ini membutuhkan waktu 3-4 jam. Stem sel tersebut bisa

diobati dengan obat pembunuh sel- sel kanker atau bisa juga tidak. Kemudian stem sel

tersebut disimpan sampai ditransplantasikan lagi ke pasien.

b. HLA (human leukocyte antigen) typing

Untuk semua pasien usia dibawah usia 60. Prosedur ini ditentukan apakah donor yang

cocok tersedia utnuk transplantasi stem sel.

c. Kemoterapi

Dengan obat seperti hydroxyurea, busulfan atau imatinib mesylate.

Secara umum, pengobatan CML dapat terbagi atas 2, yaitu yang tidak meningkatkan

daya tahan dan yang meningkatkan daya tahan. Obat kemoterapi seperti hydroxyurea

dan busulfan dapat menormalkan jumlah darah dalam jangka waktu tertentu, tapi tidak

meningkatkan daya tahan. Obat-obat ini digunakan untuk menkontrol jumlah darah

pasien yang tidak bisa melakukan SCT atau yang tidak berespon terhadap terapi

interferon karena usia atau pertimbangan medis.

Gleevec, adalah satu dari obat – obat kanker terbaru yang menonaktifkan enzim

abnormal dalam sel kanker, membunuhnya, tanpa mangganggu sel – sel yang sehat.

Terapi kanker lain seperti kemoterapi, menyerang sel – sel yang sehat sama halnya sel

kanker, membuat pasien merasa tidak senang dan sering menderita efek samping.

Obat baru yang sedang dipelajari pada percobaan klinik CML mencakup

homoherringtonine dengan interferon-alpha (INF-a), paclitaxel, QS21, dan amifostin.

Percobaan klinik mengevaluasi potensi keuntungan dari bahan – bahan seperti vaksin,

monoklonal antibodi, dan hormon (growth factor, interleukin)

3. Leukemia Limfositik Akut

Secara umum, pengobatan ALL dibagi atas beberapa fase:

a. Kemoterapi Induksi

Dengan remisi, sel – sel leukemik tidak lagi ditemukan pada sampel sumsum tulang.

Pada dewasa ALL, rencana standar induksi mencakup obat prednisone, vincristine, dan

anthracyclin; rencana obat lain mungkin mencakup L-asparaginase atau

cyclophosphamide. Untuk anak – anak dengan ALL resiko rendah, terapi standar

biasanya terdiri dari 3 obat (prednisone, L-asparaginase, dan vincristine) untuk bulan

pertama pengobatan. Anak – anak dengan resiko tinggi mungkin mendapatkan obat –

obat tersebuta ditambah anthracycline seperti daunorubicin.

b. Terapi Konsolidasi (1-3 bulan pada dewasa, 4-8 bulan pada anak – anak)

Untuk mengeliminasi sel – sel leukemia yang masih bersembunyi di dalam tubuh.

Kombinasi obat kemoterapeutik digunakan untuk menjaga sel – sel leukemia dari

perkembangan. Pasien dengan resiko ALL rendah-sedang menerima terapi dengan obat

Page 40: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

antimetabolik seperti methotrexate dan 6-mercaptopurine. Pasien resiko tinggi

menerima dosis obat yang lebih besar ditambah pengobatan dengan agen

kemoterapeutik ekstra.

c. Profilaksis CNS (Terapi Preventif)

Untuk menghentikan penyebaran kanker ke otak dan sistem saraf. Profilaksis standar

mencakup:

1. Irradiasi kranial plus menarik tulang belakang atau intratekal untuk memasukkan

obat methotrexate

2. Methotrexate dosis tinggi melalui sistemik atau IT, tanpa irradiasi kranial

3. Kemoterapi IT.

Hanya anak – anak dengan leukemia T-cell, jumlah leukosit yang tinggi, atau

terdapat sel leukemia pada LCS yang memerlukan irradiasi kranial dan terapi IT.

d. Pengobatan maintanance

Dengan obat kemoterapeutik (prednison + vancristine + cyclophosphamide +

doxorubicin; methotrexate + 6-MP) untuk mencegah penyakit kembali lagi setelah remisi

didapatkan. Terapi maintanance biasanya dilakukan dengan dosis yang lebih rendah

dibandingkan dengan yang digunakan untuk fase induksi. Pada anak – anak, program

intensif 6 bulan diperlukan setelah induksi, diikuti dengan 2 tahun kemoterapi

maintanance.

e. Terapi Follow-up

Untuk pasien ALL biasanya terdiri dari:

o Perawatan supportif, seperti pemberian nutrisi intravena dan pengobatan dengan

antibiotik oral (ofloxacin, rifampisin) khususnya pada pasien dengan

perpanjangan granulositopenia yaitu terlalu sedikit granulosit yang matang

(netrofil), bakteri menghancurkan leukosit yang mengandung partikel kecil, atau

bergranul ( kurang dari 100 granulosit/mm³ dalam 2 minggu)

o Transfusi eritrosit dan trombosit

Tes laboratorium yang dikenal sebagai polymerase chain reaction (PCR)

disarankan untuk pasien ALL, yang dapat membantu untuk mengidentifikasi

spesifik abnormalitas genetik. Tes PCR penting untuk pasien dengan penyakit

tipe B-cell. ALL B-cell biasanya tidak diobati dengan terapi standar ALL.

Digantikan dengan cyclophosphamide-based regimen yang digunakan untuk

limfoma non-Hodgkin.

Pasien dengan ALL yang kembali lagi digunakan alloBMT, agen sistem imun, dan

agen kemoterapeutik, atau dosis rendah radioterapi, apabila kanker terjadi melalui

tubuh atau SSP.

Page 41: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

4. Leukemia Limfositik Kronik

CLL mungkin tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan yang ada saat ini. Tapi,

untungnya, sebagian besar CLL tidak membutuhkan terapi. Studi menyarankan bahwa orang

– orang dengan CLL Stage A (yaitu individu yang pembesaran kelenjar limfoidnya kurang

dari tiga area) tidak memerlukan pengobatan awal. Oleh karena itu onkologist mengobati

CLL berdasarkan stage dan simptom.

Secara umum, indikasi pengobatan adalah:

o Penurunan jumlah hemoglobin atau trombosit

o Peningkatan ke stadium selanjutnya

o Nyeri, penyakit yang berhubungan dengan pertumbuhan yang

berlebihan pada nodus limfe dan lien

o Lymphocyte doubling time (indikasi reproduksi limfosit) kurang

dari 12 bulan

Kemoterapi Untuk CLL

Rencana kemoterapeutik yang biasa digunakan untuk CLL adalah:

o Kombinasi kemoterapi dengan chlorambucil atau

cyclophosphamide plus obat kortikosteroid seperti prednison, atau

o Pengobatan agent-single dengan obat nukleosid sperti

fludarabine, pentostatin, atau cladribine. Bagaimanapun juga obat – obat tersebut

biasanya digunakan untuk kasus dimana CLL resisten (tidak berespon terhadap

pengobatan) atau kembali lagi setelah kemoterapi dengan chlorambucil atau

cyclophosphamide.

Orang – orang dengan penyakit stadium intermediate (Rai Stage I dan II) atau advance

(Rai Stage III atau IV) dapat dibantu dengan pertisipasi dari percobaan klinik. Pada saat ini,

percobaan klinik menggunakan senyawa imunologik (interferon, antibodi monoklonal)

bersamaan dengan agen kemoterapeutik baru (bryostatin, dolastatin 10 dan PSC 83-obat

cyclosporine yang diberikan dengan kemoterapi untuk menghambat resistensi obat)

Page 42: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas klien

2. Riwayat kesehatan

a. Riwayat kesehatan dahulu

• Myelodisplastic syndrome

• Kemoterapi

• Down Syndrome

• Terpapar oleh elektromagnetik field

• Bekerja dengan bahan – bahan kimia tertentu (formaldehid, benzene)

• Anemia fanconi

b. Riwayat kesehatan sekarang

• Demam atau berkeringat pada malam hari

• Fatigue

• Sakit kepala

• Nyeri pada tulang ataupun sendi

• Pembengkakan pada abdomen

• Pembengkakan pada nodus limfe terutama pada leher dan ketiak

• Penurunan berat badan

• Anemia

• Ptekie

• Hipertrofi gusi

• Panas tanpa infeksi

• Purpura

• Pegal – pegal

c. Riwayat kesehatan keluarga

• Saudara kandung (kembar monozigot/identik) menderita leukemia

3. Pemeriksaan fisik

A. Aktivitas

Kelelahan

Malaise

Lemah

Peningkatan kebutuhan tidur

B. Sirkulasi

Page 43: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Palpitasi

Takikardia

Membran mukosa pucat

C. Makanan/Cairan

Anoreksi

Mual

Muntah

Penurunan berat badan

Disfagia

Hipertrofi gusi

Distensi abdomen

Bunyi usus menurun

Stomatitis

D. Neurosensori

Pusing

Kesemutan

Disorientasi

Kejang

E. Nyeri/Kenyamanan

Nyeri abdomen

Nyeri tekan sternal

Sakit kepala

Nyeri tulang/sendi

F. Pernapasan

Dyspnea

Napas pendek

Takipnea

Ronki

Penurunan bunyi napas

G. Keamanan

Gangguan penglihatan

Infeksi

Perdarahan

Pembesaran hati, limpa, nodus limfe

Page 44: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

H. Integritas Ego

Depresi, Menarik diri

Ansietas

Perasaan tak berdaya

4. Pemeriksaan penunjang

a. DIAGNOSTIK

1. Leukemia Myelogenik Akut

Dengan aspirasi sumsum tulang yang menunjukkan peningkatan secara signifikan

myeloblast belum matang.

Kehadiran batang – batang Auer dalam darah juga merupakan indikasi dari AML.

Sitokimia: perokside +, Sudan Black +, PAS –

Leukeosit meningkat, normal, menurun (subleukemik, aleukemik)

2. Leukemia Mielogenik Kronik

Basofil meningkat

Resisten terapi

Trombositopenia progresif

Pemeriksaan sumsum tulang didapatkan keadaan hiperseluler dengan

peningkatan jumlah megakarosit dan aktivitas granulosit

3. Leukemia Limfositik Akut

Diperkuat dengan aspirasi atau biopsi sumsum tulang

Sama dengan AML tetapi yang ditemukan limfoblast, Auer’s Rod (-),

peroksidase (-), sudan black (-), PAS (+)

Pemeriksaan sumsum tulang menunjukkan sel blast dominan

4. Leukemia Limfositik Kronik

Biopsi sumsum tulang menunjukkan infiltrasi merata oleh limfosit kecil, yaitu

> 40% dari total sel yang berinti

Anemia

b. LABORATORIUM

1. Leukemia Myeloid Akut

Anemia: normositer normokrom, bisa berat dan timbul cepat

Leukosit meningkat, normal, menurun

Hapusan darah tepi menunjukkan blast 5%

2. Leukemia Myeloid Kronik

Lekositosis > 50.000/mm³

Page 45: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Pergeseran ke kiri pada hitung jenis

Trombositopenia

Kromosom Philadlphia

Kadar fosfatase alkali lekosit rendah atau sama sekali tidak ada

Kenaikan kadar vitamin B12 dalam darah

3. Leukemia Limfositik Akut

Pemeriksaan darah tepi ada leukositosis

Jumlah leukeosit nuetrofil seringkali rendah

Kadar hemoglobin dan trombosit rendah

4. Leukemia Limfositik Kronik

Limfositosis > 50.000/mm³

Trombositopenia

Sitogenik kelainan kromosom 12, 13, 14 kadang kromosom 6, 11

Penurunan jumlah eritrosi

Page 46: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

No Diagnosa Sasaran Pasien Intervensi keperawatan/Rasional Hasil Yang Diharapkan1 Resiko tinggi terhadap

infeksi b.d tak adekuat

pertahanan sekunder:

gangguan dalam

kematangan SDP

(granulosit rendah dan

jumlah limfosit

abnormal), peningkatan

jumlah lomfosit imatur

Mencegah infeksi

selama fase

akut/pengobatan

Mandiri

Tempatkan pada ruangan khusus. Batasi

pengunjung sesuai indikasi, hindarkan

menggunakan tanaman hidup/bunga potong.

Batasi buah segar dan sayuran

Berikan protokol untuk mencuci tangan yang baik

untuk semua petugas dan pengunjung

Awasi suhu. Perhatikan hubungan antara

peningkatan suhu dan pengobatan kemoterapi.

Observasi demam sehubungan dengan

takikardia, hipotensi, perubahan mental samar

Cegah menggigil: tingkatkan cairan. Berikan

mandi kompres

Dorong sering mengubah posisi, napas dalam,

batuk

Auskultasi bunyi napas, perhatikan gemericik,

ronki; inspeksi sekresi terhadap perubahan

karakteristik, contoh peningkatan produksi

sputum atau sputum kental, urine bau busuk

dengan berkemih tiba – tiba atau rasa terbakar

Rawat klien dengan lembut.

Pertahankan linen kering/tidak kusut

Dorong peningkatan masukan makanan tinggi

protein dan cairan

Mengidentifikasi tindakan

untuk

mencegah/menurunkan

resiko infeksi

Menunjukkan teknik,

perubahan pola hidup

untuk meningkatkan

keamanan lingkungan,

meningkatkan

penyembuhan

Page 47: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

Kolaborasi

Awasi pemeriksaan laboratorium, mis;

Hitung darah lengkap, perhatikan apakah SDP

turun atau tiba – tiba terjadi perubahan pada

neutrofil;

Kaji ulang seri foto dada

Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik

Hindari antipiretik yang mengandung aspirin

Berikan diet rendah bakteri, mis makanan

dimasak, diproses2. Nyeri (akut) b.d agen

fisikal (pembesaran

organ, sumsum

tulang yang dikemas

dengan sel

leukemik), agen

kimia (pengobatan

anti leukemik),

manifestasi

psikologis (ansietas,

takut)

Menghilangkan nyeri Mandiri

Selidiki keluhan nyeri. Perhatikan perubahan

pada derajat dan sisi

Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non

verbal, mis tegangan otot, gelisah

Berikan lingkungan tenang dan kurangi

rangsangan penuh stres

Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong

sendi, ekstremitas dengan bantal/bantalan

Kolaborasi

Berikan obat sesuai indikasi; Analgesik, contoh

asetaminofen; Narkotik, mis kodein, meperidin;

Agen antiansietas, mis diazepam, lorazepam

Melaporkan nyeri

hilang/terkontrol

Menunjukkan perilaku

penenangan nyeri

Tampak rileks dan

mampu tidur/istirahat

dengan tepat

3. Intolerans Aktivitas b.d

kelemahan umum

Meningkatkan fungsi

fisik optimal

Mandiri

Evaluasi laporan kelemahan,

Laporan

peningkatan aktifitas

Page 48: 86974112 Askep Anak Dg Pneumonia Kjb Anemia Thalasemia Leukomia

(penurunan

cadangan energi,

peningkatan laju

metabolik, produksi

leukosit masif),

ketidakseimbangan

antara suplai dan

kebutuhan oksigen

(anemia/hipoksia),

pembatasan

terapeutik, efek

terapi obat

perhatikan ketidakmampuan utnuk

berpartisipasi dalam aktivitas atau aktivitas

sehari

Berikan lingkungan tenang dan

periode istirahat tanpa gangguan. Dorong

istirahat sebelum makan hari

Jadwalkan makan sekitar kemoterapi.

Berikan kebersihan mulut sebelum makan dan

berikan antiemetik sesuai indikasi

Kolaborasi

Berikan oksigen tambahan

yang dapat diukur

Berpartisipa

si dalam aktifitas sehari –

hari sesuai tingkat

kemampuan

Menunjukka

n penurunan tanda

fisiologis tidak toleran,

mis., nadi, pernafasan,

dan TD masih dalam

batas normal