episiotomi fix

Download Episiotomi Fix

Post on 12-Aug-2015

182 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PHANTOM EPISIOTOMI

Kelompok B Dekta Mufhizah Richard Togi Lumban Tobing Philosophia Ramadhan Sugianto Mukmin Atika Meilandari Muhammad Tomy Edwardo Lia Purnasari Aditya Fresno Dwi Wardhana 04114708060 04108705036 04091001074 04091001073 04091401044 04114705081 04114705030

Pembimbing: dr.Iskandar Zulkarnain, Sp.OG(K)

2013

BAB 1 PENDAHULUAN Episiotomi yang dikenal masyarakat pedesaan dengan istilah digunting merupakan tindakan untuk memperlebar jalan lahir untuk mencegah terjadinya ruptura perineum yang sering kali menjadi penyebab kesakitan pada ibu bersalin dan tingginya angka kesakitan pada ibu nifas. Episiotomi dikembangkan di Inggris pada tahun 1970 dan awal tahun 1980-an, dimana saat itu tindakan episiotomi dipakai sekitar 50%. Tindakan episiotomi umumnya dilakukan pada wanita yang baru pertama kali melahirkan. Namun kadang - kadang episiotomi dilakukan juga pada persalinan berikutnya, tergantung situasinya. Bila akan terjadi robekan maka dilakukan episiotomi Prinsip tindakan episiotomi adalah pencegahan kerusakan yang lebih hebat pada jaringan lunak akibat daya regang yang melebihi kapasitas adaptasi atau elastisitas jaringan tersebut. Oleh sebab itu, pertimbangan untuk melakukan episiotomi harus mengacu pada pertimbangan klinik yang tepat dan tehnik yang paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum. 1 Episiotomi dalam arti sempit adalah insisi pudenda. Insisi ini dapat dibuat di linea mediana (episiotomi mediana) atau dapat mulai di linea mediana tetapi diarahkan ke lateral dan kebawah menjauhi rektum (episiotomi mediolateralis).

B. Tujuan Tujuan episiotomi, yaitu membentuk insisi bedah yang lurus, sebagai pengganti robekan tak teratur yang mungkin terjadi. Episiotomi dapat mencegah vagina robek secara spontan, karena jika robekanya tidak teratur maka menjahitnya tidak rapi, tujuan lain dari episiotomi adalah mempersingkat waktu ibu dalam mendorong bayinya keluar. 2 Tindakan upaya episiotomi memiliki tujuan, berupa : 1. Mempercepat persalinan dengan memperlebar jalan lahir lunak 2. Mengendalikan robekan perineum untuk memudahkan menjahit 3. Menghindari robekan perineum spontan 4. Memperlebar jalan lahir pada operasi persalinan pervaginam. C. Jenis Episiotomi3 Macam-macam Episiotomi 1. Episiotomi Medialis Pada teknik ini insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas otot-otot sfingter ani. Cara anestesi yang dipakai adalah cara anestesi infiltrasi antara lain dengan larutan procain 1%-2%; atau larutan lidonest 1%-2%; atau larutan xylocain 1%2%. Setelah pemberian anestesi, dilakukan insisi dengan mempergunakan gunting yang tajam dimulai dari bagian terbawah introitus vagina menuju anus, tetapi tidak

sampai memotong pinggir atas sfingter ani, hingga kepala dapat dilahirkan. Bila kurang lebar disambung ke lateral (episiotomi mediolateralis). Untuk menjahit luka episiotomi medialis mula-mula otot perineum kiri dan kanan dirapatkan dengan beberapa jahitan. Kemudian fasia dijahit dengan beberapa jahitan. Lalu selaput lendir vagina dijahit pula dengan beberapa jahitan. Terakhir kulit perineum dijahit dengan empat atau lima jahitan. Jahitan dapat dilakukan secara terputus-putus (interrupted suture) atau secara jelujur (continuous suture). Benang yang dipakai untuk menjahit otot, fasia, dan selaput lendir adalah catgut khromik, sedang untuk kulit perineum dipakai benang sutera.

a. Perineum digunting mulai dari ujung paling bawah introitus vagina menuju anus melalui kulit, selaput lender vagina, fasia dan otot perineum. b. Otot perineum kiri dan kanan dijahit dan dirapatkan. c. Pinggir fasia kiri dan kanan dijahit dan dirapatkan. d. Selaput lendir vagina dan kulit perineum dijahit dengan benang sutera.

2. Episiotomi Mediolateralis a. Pada teknik ini insisi dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah belakang dan samping. Arah insisi dapat dilakukan ke arah kanan ataupun kiri, tergantung pada kebiasaan orang yang melakukannya. Panjang insisi kirakira 4 cm. b. Teknik menjahit luka pada episiotomi mediolateralis hampir sama dengan teknik menjahit episiotomi medialis. Penjahitan dilakukan sedemikian rupa sehingga setelah penjahitan selesai hasilnya lurus simetris.

a. b. c. d. e. f. g.

Menjahit jaringan otot-otot dengan jahitan terputus-putus Benang jahitan pada otot-otot ditarik Selaput lendir vagina dijahit Jahitan otot-otot dikaitkan Fasia dijahit Penutupan fasia selesai Kulit dijahit

3. Episiotomi Lateralis. a. Pada teknik ini insisi dilakukan ke arah lateral mulai dari kira-kira pada jam 3 atau 9 menurut arah jarum jam. b. Teknik ini sekarang tidak dilakukan lagi oleh karena banyak menimbulkan komplikasi. Luka insisi dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pudendeal interna, sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Selain itu parut yang terjadi dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita. 4. Insisi Schuchardt.

Jenis ini merupakan variasi dari episiotomi mediolateralis, tetapi sayatannya melengkung ke arah bawah lateral, melingkari rektum, serta sayatannya lebih lebar. D. Indikasi dan Kontraindikasi4 Indikasi Indikasi episiotomi dapat berasal dari faktor ibu maupun faktor janin. Indikasi ibu antara lain adalah: a. b. c. Primigravida umumnya Perineum kaku dan riwayat robekan perineum pada persalinan yang lalu Apabila terjadi peregangan perineum yang berlebihan misalnya padapersalinan sungsang, persalinan dengan cunam, ekstraksi vakum dan anak besar d. Arkus pubis yang sempit Indikasi janin antara lain adalah: a. Sewaktu melahirkan janin prematur. Tujuannya untuk mencegah terjadinya trauma yang berlebihan pada kepala janin. b. Sewaktu melahirkan janin letak sungsang, letak defleksi, janin besar. c. Pada keadaan dimana ada indikasi untuk mempersingkat kala II seperti pada gawat janin, tali pusat menumbung. Kontraindikasia. b.

Bila persalinan tidak berlangsung pervaginam Bila terdapat kondisi untuk terjadinya perdarahan yang banyak seperti penyakit kelainan darah maupun terdapatnya varises yang luas pada vulva dan vagina.

E. Saat Melakukan Episiotomi 1. Episiotomi sebaiknya dilakukan ketika kepala bayi meregang perineum pada janin matur, sebelum kepala sampai pada otot-otot perineum pada janin matur. Bila episiotomi dilakukan terlalu cepat, maka perdarahan yang timbul dari luka episiotomi bisa terlalu banyak, sedangkan bila episiotomi dilakukan terlalu lambat maka laserasi tidak dapat dicegah. sehingga salah satu tujuan episiotomi itu sendiri tidak akan tercapai.

2.

Episiotomi biasanya dilakukan pada saat perineum menipis dan pucat serta kepala janin sudah terlihat dengan diameter 3 - 4 cm pada saat kontraksi . Jika dilakukan bersama dengan penggunaan ekstraksi forsep, sebagian besar dokter melakukan episiotomi setelah pemasangan sendok atau bilah forsep.

3.

Pertama pegang gunting tajam disinfeksi tingkat tinggi atau steril dengan satu tangan, kemudian letakkan jari telunjuk dan jari tengah di antara kepala bayi dan perineum searah dengan rencana sayatan. Hal ini akan melindungi kepala bayi dari gunting dan meratakan perineum sehingga membuatnya lebih mudah di episiotomi.

4.

Setelah itu, tunggu fase acme (puncak his). Kemudian selipkan gunting dalam keadaan terbuka di antara jari telunjuk dan tengah. Gunting perineum mengarah ke sudut yang diinginkan untuk melakukan episiotomi, misalnya episiotomi mediolateral dimulai dari fourchet (komissura posterior) 45 derajat ke lateral kiri atau kanan. Pastikan untuk melakukan palpasi/ mengidentifikasi sfingter ani eksternal dan mengarahkan gunting cukup jauh kearah samping untuk rnenghindari sfingter.

5.

Gunting perineum sekitar 3-4 cm dengan arah mediolateral menggunakan satu atau dua guntingan yang mantap. Hindari menggunting jaringan sedikit demi sedikit karena akan menimbulkan tepi yang tidak rata sehingga akan menyulitkan penjahitan dan waktu penyembuhannya lebih lama.

6.

Jika kepala bayi belum juga lahir, lakukan tekanan pada luka episiotomi dengan di lapisi kain atau kasa disinfeksi tingkat tinggi atau steril di antara kontraksi untuk membantu mengurangi perdarahan. Karena dengan melakukan tekanan pada luka episiotomi akan menurunkan perdarahan.

7.

Kendalikan kelahiran kepala, bahu dan badan bayi untuk mencegah perluasan episiotomi.

8.

Setelah bayi dan plasenta lahir, periksa dengan hati-hati apakah episiotomi, perineum dan vagina mengalami perluasan atau laserasi, lakukan penjahitan jika terjadi perluasan episiotomi atau laserasi tambahan.

F. Penjahitan Luka Episiotomi Tujuan menjahit laserasi atau episiotomi adalah untuk menyatukan kembali jaringan tubuh (mendekatkan) dan mencegah kehilangan darah yang tidak perlu (memastikan hemostasis). Ingat bahwa setiap kali jarum masuk ke dalam jaringan

tubuh, jaringan akan terluka dan menjadi tempat yang potensial untuk timbulnya infeksi. Oleh sebab itu pada saat menjahit laserasi atau episiotomi gunakan benang yang cukup panjang dan gunakan sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai tujuan pendekatan dan hemostasis. Keuntungan-keuntungan teknik penjahitan jelujur: 1. Mudah dipelajari (hanya perlu belajar satu jenis penjahitan dan satu atau dua jenis simpul) 2. 3. Tidak terlalu nyeri karena lebih sedikit benang yang digunakan Menggunakan lebih sedikit jahitan

Mempersiapkan penjahitan : 1. Bantu ibu mengambil posisi litotomi sehingga bokongnya berada di tepi tempat tidur atau meja. Topang kakinya dengan alat penopang atau minta anggota keluarga untuk memegang kaki ibu sehingga ibu tetap berada dalam posisi litotomi. 2. 3. Tempatk