skabies fix

47
LAPORAN HASIL SGD SISTEM INTEGUMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SKABIES OLEH : SGD 2 Pande Kadek Purniwati (0902105002) A.A. Tri Ayu Widyawathi (0902105003) Putu Anggi Maseni Kuswandari (0902105010) Ni Putu Susi Perdanayanti (0902105017) Nyoman Diah Somawardani (0902105033) Nyoman Agus Jagat Raya (0902105043) I Dewa Gede Suapriyantara (0902105062) Putu Ayu Emmy Savitri Karin (0902105065) Putu Ayu Utami Dewantari (0902105066) Putu Yunita Octaviani (0902105074) I Komang Riko Husada Putra (0902105085) Putu Ika Puspita Dewi (0902105090)

Upload: emmy-karin

Post on 25-Jul-2015

423 views

Category:

Documents


10 download

DESCRIPTION

Sistem Integumen

TRANSCRIPT

Page 1: Skabies Fix

LAPORAN HASIL SGD SISTEM INTEGUMEN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SKABIES

OLEH : SGD 2

Pande Kadek Purniwati (0902105002)

A.A. Tri Ayu Widyawathi (0902105003)

Putu Anggi Maseni Kuswandari (0902105010)

Ni Putu Susi Perdanayanti (0902105017)

Nyoman Diah Somawardani (0902105033)

Nyoman Agus Jagat Raya (0902105043)

I Dewa Gede Suapriyantara (0902105062)

Putu Ayu Emmy Savitri Karin (0902105065)

Putu Ayu Utami Dewantari (0902105066)

Putu Yunita Octaviani (0902105074)

I Komang Riko Husada Putra (0902105085)

Putu Ika Puspita Dewi (0902105090)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2011

KASUS

Page 2: Skabies Fix

An.B usia  4 tahun dibawa ke PKM tempat anda bekerja dengan keluhan gatal terutama pada

malam hari di area sela-sela jari tangan dan kaki, lipatan ketiak, dan siku bagian luar. Setelah

dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan terowongan berwarna abu berkelok-kelok, tampak

adanya vesikel, dan ekskoriasi. Dari hasil anamnesa, An.B tinggal di lingkungan yang padat

penduduknya, dan ada anggota keluarga lain yang mengalami masalah serupa. Ibu klien

mengatakan pada malam hari klien sering terbangun dan sulit untuk tidur lagi karena gatal yang

dirasakan.

Gangguan sistem integumen apakah yang dialami oleh klien dengan kasus di atas?

Jelaskan konsep dasar penyakit (etiologi, faktor predisposisi, epidemiologi,

klasifikasi, pathogenesis, cara penularan, manifestasi klinis (4 tanda kardinal),

penatalaksanaan, prognosis, pathway)

Sebutkan ruam primer dan sekunder yang terjadi pada klien di atas! Sebutkan dan

jelaskan jenis ruam primer dan ruam sekunder lainnya

Susunlah asuhan keperawatan pada kasus klien di atas (pengkajian, dx.keperawatan,

intervensi keperawatan)

Susunlah pendidikan kesehatan yang bisa diberikan pada klien dengan kasus di atas

PEMBAHASAN

Page 3: Skabies Fix

1. Gangguan sistem integumen yang dialami oleh klien dengan kasus di atas adalah Skabies.

a. Skabies (the itch, gudik, budukan, gatal agogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan

oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei ver. hominis dan produknya.

(Arif Mansjoer, 2000)

b. Scabies atau sering juga disebut penyakit kulit berupa budukan atau gudik yang dapat

ditularkan melalui kontak erat dengan orang yang terinfeksi. (Sungkar, 2007)

c. Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite) yang mudah menular

dari manusia ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Penyebab scabies

adalah Sarcoptes scabiei. (Ma'rufi, 2005)

Jadi Skabies adalah suatu penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi

(kepekaan) terhadap Sarcoptes scabiei var. huminis dan produknya dan mudah menular

melalui kontak erat dengan orang yang terinfeksi, yang mana penyakit ini sering disebut

gudig, budukan atau kudis dengan gejala utama rasa gatal yang panas pada malam hari

dan edema yang disebabkan oleh garukan.

2. KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Etiologi

Scabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman sercoptes scabei varian hominis.

Sarcoptes scabiei ini termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina,

superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Kecuali itu

terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.

Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya

cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak

bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron,

sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Tubuh

tungau terbagi bagian anterior yang disebut nototoraks dan bagian posterior yang disebut

notogaster. Nototoraks dan notogaster masing-masing mempunyai 2 pasang kaki.

Page 4: Skabies Fix

B. Faktor Predisposisi

Faktor penunjang penyakit ini antara lain sosial ekonomi rendah, higiene buruk,

sering berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis

serta ekologik.

C. Epidemiologi

Diperkirakan sekitar 300 juta orang diseluruh dunia telah terinfeksi tungau scabies

ini. Sarcoptes scabiei menyerang semua tingkat sosioekonomi, wanita dan anak- anak

lebih banyak daripada laki-laki. Pada study epidemiologi di Amerika Serikat skabies ini

lebih cenderung di daerah urban, terutama yag terlalu padat penduduk dan lebih sering

saat musim hujan dibandingkan musim panas ( sungkar, 2007 ). Beberapa faktor yang

dapat membantu penyebarannya adalah kemiskinan, hygiene yang jelek, seksual

promiskuitas, diagnosis yang salah, demografi, ekologi dan derajat sensitasi individual.

Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas seluruh

Indonesia adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit

kulit tersering. Di bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988, dijumpai 704

kasus skabies yang merupakan 5,77 % dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989 dan 1990

prevalensi skabies adalah 6 % dan 3,9 %. (Sungkar, 1995)

D. Klasifikasi

Beberapa bentuk/klasifikasi dari Skabies adalah :

1) Skabies pada Orang Bersih (scabies of cultivated)

Terdapat pada orang yang tingkat kebersihannya cukup. Biasanya sangat sukar

ditemukan terowongan. Kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur. Bentuk ini

ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga

sangat sukar ditemukan.

2) Skabies Inkognito

Obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda scabies,

sementara infestasi tetap ada. Sebaliknya pengobatan dengan steroid topical yang

Page 5: Skabies Fix

lama dapat pula menyebabkan lesi bertambah hebat. Hal ini disebabkan mungkin oleh

karena penurunan respon imum seluler.

3) Skabies Nodular

Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang agtal. Nodus biasanya

terdapat di daerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila.

Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus

yang berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat

menetap selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan

anti skabies dan kortikosteroid.

4) Skabies yang ditularkan melalui hewan

Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini berbeda dengan

skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak menyerang sela jari dan

genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering

kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa

inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 –

8 minggu) dan dapat sembuh sendiri karena Sarcoptes scabiei pada binatang tidak

dapat melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.

5) Skabies Norwegia

Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta,

skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi biasanya kulit

kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat

disertai distrofi kuku. Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies

Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang

menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi

imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat

berkembangbiak dengan mudah.

6) Skabies pada bayi dan anak

Page 6: Skabies Fix

Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,

telapak tangan, telapak kaki dan sering terjadi infeksi sekunder berupa impetigo,

ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka.

7) Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden)

Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur

dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.

8) Skabies yang disertai penyakit menular seksual yang lain

Skabies sering dijumpai bersama penyakit menular seksual yang lain seperti gonore,

sifilis, pedikulosis pubis, herpes genitalis dan lainnya.

E. Pathogenesis

Kelainan kulit skabies terjadi karena sensitisasi dan invasi kutu tuma sarcopte

scabei varian homanis. Skabies ditularkan oleh kutu betina yang telah dibuahi, melalui

kontak langsung maupun kontak tidak langsung seperti melalui pakaian dalam, tempat

tidur, handuk. Kemudian kutu betina akan menggali lubang kedalam epidermis dan

selanjutnya membentuk terowongan didalam stratum korneum. Dua hari setelah

fertilisasi, skabies betina mulai mengeluarkan telur yang kemudian berkembang melalui

stadium larva, nimpa dan kemungkinan menjadi kutu dewasa dalam waktu 10-14 hari.

Lama hidup kutu betina kira-kira 30 hari, kemudian kutu mati di ujung terowongan.

Terowongan lebih banyak terdapat didaerah yang berkulit tipis dan tidak banyak

mengandung folikel pilosebasea sehinggga dapat terjadi perubahan bagian tubuh.

Pengeluaran ekskret dan sekresi ini juga menimbulkan reaksi imunologi lambat

yaitu : sekresi IgE yang dihasilkan oleh sel plasma. Antibodi ini akan berikatan dengan

respetor Fc pada permukaan jaringan sel mast dan basofil. Sel mast dan basofil yang

dilapisi oleh IgE akan tersensitisasi (fase sensitisasi). Karena sel B memerlukan waktu

untuk menghasilkan IgE, maka pada kontak pertama, tidak terjadi apa-apa. Waktu yang

diperlukan bervariasi dari 15-30 menit hingga 10-20 jam. Adanya alergen pada kontak

pertama menstimulasi sel B untuk memproduksi antibodi, yaitu IgE. IgE kemudian

masuk ke aliran darah dan berikatan dengan reseptor di sel mastosit dan basofil sehingga

sel mastosit atau basofil menjadi tersensitisasi. Pada saat kontak ulang dengan alergen,

Page 7: Skabies Fix

maka alergen akan berikatan dengan IgE yang berikatan dengan antibody di sel mastosit

atau basofil dan menyebabkan terjadinya granulasi. Degranulasi menyebakan pelepasan

mediator inflamasi primer dan sekunder seperti histamine, bradikinin dan serotonin.

Pelepasan mediator inflamasi ini akan menimbulkan berbagai gejala terutama gatal,

edema local, adanya vesikel dan eritema.

Penyakit ini sangat mudah menular, karena itu bila salah satu anggota keluarga

terkena, maka biasanya anggota keluarga lain akan ikut tertular juga. Penyakit ini sangat

erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Apabila tingkat

kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat

keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang,

kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan terutama masalah

penyediaan air bersih, serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering

kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada.

F. Cara Penularan

Adapun cara penularannya adalah sebagai berikut :

1) Kontak langsung (kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan

hubungan seksual.

2) Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.

Penularan biasanya oleh sarcoptes betina yang telah dibuahi atau dalam bentuk larva.

Dikenal juga dengan Sarcoptes scabei varian animals yang kadang- kadang dapat

menulari manusia, terutama pada orang yang memelihara hewan seperti anjing.

G. Manifestasi Klinis (4 Tanda Kardinal)

Gatal merupakan gejala utama sebelum gejala klinisnya lainnya muncul, rasa gatal

biasanya hanya pada lesi tetapi pada skabies kronis gatal dapat dirasakan seluruh tubuh.

Ciri-ciri seseorang terkena skabies adalah kulit penderita penuh bintik-bintik kecil sampai

besar, berwarna kemerahan yang diebabkan garukan keras. Bintik-bintik itu akan menjadi

bernanah jika terinfeksi (Djuanda, 2006)

Terdapat empat tanda kardinal skabies:

Page 8: Skabies Fix

1) Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas

tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.

2) Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah

keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam

sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang

berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang

seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi

tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).

3) Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih

atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada

ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder

ruam kulitnya menjadi polimorf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat

predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu

sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak

bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria)

dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.

4) Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu

atau lebih stadium hidup tungau ini.

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.

H. Penatalaksanaan

Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau salep

yang dioleskan pada kulit yang terinfeksi. Beberapa syarat obat harus memenuhi criteria

ini : tidak berbau, efektif terhadap stadium kutu (telur, larva maupun kutu dewasa), tidak

menimbulkan iritasi kulit, mudah diperolah dan murah.

Terapi/tindakan penanganan yang diberikan adalah :

1) Secara Farmako

a. Sistemik

Antihistamin klasik sedative ringan untuk mengurangi gatal, misalnya

klorfeniramin maleat 0,34 mg/kgBB 3x sehari.

Page 9: Skabies Fix

Antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder misalnya ampisilin, amoksisilin atau

eritromisin.

b. Topical

Salep 2-4, biasanya dalam bentuk salep atau krim

Kekurangannya obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang), mengotori

pakaian, tidak efektif membunuh stadium telur dan penggunaannya harus

lebih dari 3 kali berturut-turut.

Emulsi benzyl-benzoat 20-25%, efektif terhadap semua stadium, diberikan

setiap malam selama 3 hari berturut-turut. Kekurangannya dapat

menimbulkan iritasi kulit

Krotamiton 10%, termasuk obat pilihan karena memiliki efek antiskabies,

juga bersifat anti gatal.

Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena

sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah pada

manusia

Permetrin HCL 5%, efektifitasnya sama dengan Gamexan, namun tidak

terlalu toksik. Penggunaannya cukup sekali, namun harganya relative mahal.

I. Prognosis

Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, syarat pengobatan,

dan menghilangkan factor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dan memberi

prognosis yang baik.

J. Pathway

(Terlampir)

Page 10: Skabies Fix

3. Sebutkan ruam primer dan sekunder yang terjadi pada klien di atas! Sebutkan dan jelaskan

jenis ruam primer dan ruam sekunder lainnya!

Ruam primer pada klien diatas adalah terdapat terowongan berwarna abu berkelok-

kelok dan vesikel. Ruam sekunder yang terdapat pada klien adalah tampak adanya

ekskoriasi.

Ruam primer :

Makula : kelainan kulit berbatas tegas setinggi permukaan kulit

berupa perubahan warna, bisa putih, coklat, merah dan hitam.

Papul : penonjolan padat di atas permukaan kulit, sirkumskrip ,

diameter < 0,5 cm

Plak : penonjolan padat yang mendatar di atas permukaan kulit,

diameter > 0,5 cm.

Nodul : penonjolan padat di atas permukaan kulit, sirkumskrip,

diameter > 0,5 cm tapi < 1 cm.

Page 11: Skabies Fix

Nodus/tumor: masa padat sirkumskrip, terletak di kutan atau subkutan diameter > 1 cm.

Kista : suatu kantong yang berisi cairan, bisa encer atau semi solid

Vesikel : gelembung berisi cairan jernih (serum) dengan diameter

<0,5 cm.

Bula : vesikel yang lebih besar dari 0,5 cm

Pustul : vesikel berisi nanah

Eritema : kemerahan pada kulit yang disebabkan pelebaran

pembuluh darah kapiler

Abses : kumpulan nanah dalam jaringan / dalam kutis atau

subkutis

Urtika : edema setempat yang temporer (berbentuk papul atau plak)

timbul mendadak, hilang perlahan – lahan.

Ruam sekunder :

Page 12: Skabies Fix

Erosi : kehilangan jaringan yang tidak melampaui stratum basale,

misalnya kulit digaruk.

Ekskoriasi : kehilangan jaringan lebih dalam dari erosi sampai ujung

papilla dermis.

Ulkus : hilangnya jaringan yang lebih dalam dari ekskoriasi sehingga

terbentuk pinggir, dinding, dasar dan isi ulkus

Fissura : kulit terbelah secara linier, vertikal pada

epidermis dan dermis.

Krusta : cairan eksudat yang mongering, dapat bercampur dengan

kotoran, obat dsbnya.

Skuama : adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit.

Likenifikasi : perubahan kulit sehingga relief kulit makin jelas

Sikatriks : relief kulit tidak normal akibat jaringan tidak utuh

lagi dan timbul kumpulan jaringan ikat baru, bisa mencekung

(atrofik) atau meninggi (hipertrofik)

Page 13: Skabies Fix

4. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

a. Identitas

Merupakan identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa,

alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa

medis. Identitas ini digunakan untuk membedakan klien satu dengan yang lain. Jenis

kelamin, umur dan alamat dan kotor dapat mempercepat atau memperberat keadaan

penyakit infeksi.

b. Keluhan utama

Merupakan kebutuhan yang mendorong penderita untuk masuk RS.

DS:

Keluarga klien mengeluh bahwa, klien mengalami gatal-gatal pada malam hari, di area

sela-sela jari tangan dan kaki, lipatan ketiak, dan siku bagian luar.

Ibu klien mengatakan pada malam hari klien sering terbangun dan sulit untuk tidur lagi

karena gatal yang dirasakan.

DO:

Klien tampak menggruk-garuk bagian tubuh yang gatal, seperti di area sela-sela jari

tangan dan kaki, lipatan ketiak, dan siku bagian luar.

Klien terlihat lemas dan lesu

Klien tampak sering menguap

Ada eritema, papula dan vesikula pada bagian kulit pasien yang di garuk-garuk tadi .

c. Keadaan Umum

Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran kualitatif atau GCS

dan respon verbal klien.

Page 14: Skabies Fix

d. Tanda-tanda Vital

Meliputi pemeriksaan:

Tekanan darah: tekanan darah biasanya akan meningkat akibat nyeri (di atas (bayi 85/54

mmHg, toddler 95/65 mmHg, sekolah 105-165 mmHg, remaja 110/65 mmHg)).

Pulse rate: biasanya meningkat (di atas( bayi 60x/mnt, toddler 140x/mnt, prasekolah 110

x/mnt, sekolah 100x/mnt, remaja 90x/mnt).

Respiratory rate: biasanya meningkat (di atas (bayi 40 x/mnt, toddler 32x/mnt, anak-anak 30

x/mnt, remaja 19 x/mnt))

Suhu: biasanya normal (36-37±0,5)°C.

e. Riwayat penyakit sekarang

Merupakan riwayat klien saat ini yang meliputi keluhan, sifat dan hebatnya keluhan, mulai timbul

atau kekambuhan dari penyakit yang pernah dialami sebelumnya. Biasanya keluarga klien

mengatakan anaknya sering gatal – gatal yang hebat pada malam hari, sering terbangun pada

malam hari akibat gatal yang dirasakan, terdapat bintil – binyil kemerahan ( eritema,

papul,vasikula ) dan pada saat pengkajian klien terlihat sering menguap.

f. Riwayat penyakit dahulu

Pada catatan keperawatan sebelumnya klien sempat mengalami gatal – gatal karena biang

keringat.

g. Riwayat Kesehatan Keluarga

Merupakan gambaran kesehatan keluarga, apakah ada kaitannya dengan penyakit yang

dideritanya. Pada keadaan ini status kesehatan keluarga perlu diketahui. Perlu pula

diketahui apakah salah satu anggota keluarga klien ada yang pernah menderita scabies

sebelumnya. Pada kasus dikatakan ada anggota keluarga lain yang mengalami masalah

serupa yaitu menderita scabies.

h. Pola-Pola Fungsi Kesehatan

1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Kebiasaan

DS:

- Keluarga klien mengatakan bahwa anak saat sebelum sakit klien sering bermain-

main hingga berkeringat.

Page 15: Skabies Fix

- Handuk klien juga digunakan secara bersama-sama dengan kakaknya yang

pernah mengalami gatal-gatal.

DO:

- Klien tampak menangis sambil menggaruk-garuk bagian kulit yang gatal dan

kulinya terlihat kemearahan.

Status Ekonomi

DS:

- Klien berasal dari keluarga yang tidak terlalu mapan.

DO:

- Klien membayar biaya rumah sakit dengan asuransi yang ditanggung daerah

provinsi tempatnya tinggal.

2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

DS:

- Ibu klien mengatakan, klien makan 3 x sehari dengan ½ porsi orang dewasa.

Minun kira-kira 6 - 8 gelas sehari. Itu terjadi saat sakit maupun sebelum sakit.

3) Pola Eliminasi

Kebiasaan Defekasi sehari-hari

DS:

- Ibu klien mengatakan klien BAB teratur 1 x sehari pada pagi hari baik saat sakit

maupun sebelum sakit .

Kebiasaan BAK sehari-hari

DS :

- Ibu klien mengatakan bahwa klien BAK kurang lebih sebanyak 6-7 kali/hari

4) Pola tidur dan istirahat

DS :

- Keluarga klien mengatakan bahwa setelah sakit istirahat anaknya terganggu.

- Klien sering terbangun dimalam hari karena gatal yang klien rasakan.

Page 16: Skabies Fix

DO :

- Klien nampak lesu, lelah, lemah dan lemas dan mengaruk-garuk lokasi kulit yang

gatal serta klien terlihat menguap tberkali-kali.

5) Pola Aktivitas

DS :

- Ibu klien mengatakan aktivitas klien di siang hari seperti bermain dengan teman

sebayanya menjadi berkurang akibat tidur di siang hari yang lebih lama.

DO :

- Klien tampak lemah

- Klien tampak lebih sering berbaring di tempat tidur.

6) Pola Hubungan Dengan Peran

DS :

- Setelah klien sakit klien jarang berinteraksi dengan teman-temannnya, hanya

berinteraksi dengan keluarganya.

7) Pola Persepsi dan pola diri

DS :

- Klien mengatakan malu dengan penyakitnya.

- Klien mengatakan tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa

DO :

- Klien tampak menutup-nutupi bagian tubihnya yang mengalami luka.

- Klien tampak selalu menghindar.

8) Pola persepsi sensori

Sensori: daya penciuman, daya rasa, daya raba, daya penglihatan, daya

pendengaran tidak terganggu jika tidak ada penyakit penyerta tertentu.

Gangguan rasa nyaman :

DS :

Page 17: Skabies Fix

- Klien mengatakan merasa gatal pada bagian kulitnya terutama pada malam

hari

- Ibu klien mengatakan klien susah tidur karena gatal pada malam hari.

DO :

- Kien tampak sering menggaruk kulitnya yang gatal.

- Klien tampak sering menguap

Klien mengatakan merasa nyeri:

P : Nyeri terjadi akibat erosi, kurosi, dan krusta pada kulit yang disebabkan

oleh garukan.

Q : Klien mengatakan nyeri terasa perih.

R : Nyeri terasa pada kulitnya seperti sela jari.

S : Klien mengatakan skala nyeri 1-5 (skala wajah outcher).

T : Nyeri hilang timbul, nyeri terutama setelah klien menggaruk lesinya.

- Klien tampak gelisah.

- Tampak meringis kesakitan

- Klien tampak tidak nyaman (posisi melindungi bagian yang nyeri).

Klien mengeluh gatal

P : Terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau

Sarcoptes scabei

Q : Klien mengatakan merasa gatal seperti digigit

R : Gatal terasa pada bagian kulit yang tipis dan lembab seperti pada sela

jari, siku

T : Gatal terasa terutama pada malam hari

i. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi:

- Tampak adanya lesi, papula, pustula , eritema

- Tampak adanya erosi, korosi, dan krusta.

- Dengan kaca pembesar tampak terlihat adanya kutikulus.

Page 18: Skabies Fix

- Terdapatkan terowongan berwarna abu berkelok-kelok, tampak adanya vesikel, dan ekskoriasi

Palpasi:

- Adanya edema

- Akral teraba hangat

- Teraba kasar pada kulit ( umum terjadi pada bagian kulit yang tipis dan lembab seperti : sela-

sela jari).

j. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan menurut (prices & willson, 2006) adalah :

Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau

vesiel. Congkel dengan jarum dan letakkan diatas kaca obyek, lalu tutup dengan aca

penutup dan lihat dengan mikroskop cahaya. Dengan cara menyikat dengan siat dan

ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar. Dengan

membuat bipsi irisan, caranya ; jepit lesidengan 2 jari kemudian buat irisa tipis

dengan pisau dan periksa dengan miroskop cahaya.

Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan

dilihat dengan kaca pembesar.

Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat

irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop cahaya.

Dengan biopsy eksisional dan diperiska dengan pewarnaan HE.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk menemukan tungau, telur atau terowongan adalah :

Kerokan kulit

Papul atau terowongan yang baru dibentuk dan utuh ditetesi minyak mineral,

kemudian dikerok dengan skapel steril untuk mengangkat atap papul atau

terowongan. Hasil kerokan diletakkan diatas gelas objek dan ditutup dengan kaca

lalu diperiksa dibawah mikroskop

Page 19: Skabies Fix

Mengambil tungau dengan jarum

Jarum ditusukkan pada bagian yang gelapdan digerakkan tangensial. Tungau akan

memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar

Kuretasi terowongan

Kuratesi dilakukan secara superfisial mengikuti sumbu panjang, terowongan

puncak papul. Hasil kuret diletakkan pada gelas objek dan ditetesi minyak mineral

lalu diperiksa dengan mikroskop.

Sweb kulit

Kulit dibersihkan dengan eter lalu diletakka selotip dan diangkat dengan cepat.

Selotip diletakkan pada objek gelas kaca kemudian diperiksa dengan mikroskop.

Burrow ink test

Papul skabies dilapisi tinta cina dengan menggunakan pena lalu dibiarkan selama

20 – 30 menit kemudian dihapus dengan alkohol. Tes dinyatakan positif bila tinta

masuk ke dalam terowongan dan membentuk gambaran klinis.

Uji tetrasiklik

Tetrasiklin dioleskan pada daerah yang dicurigai ada terowongan, kemudian

dibersihkan dan dipeeriksa dengan lampu wood. Tetrasiklin dalam terowongan

akan menunjukkan fluoresensi.

Epidermal shape byopsi

Papul atau terowongan yang dicurigai diangkat dengan ibu jari dan telunjuk lalu

diiris dengan skapel. Biopsi dilakukan sangat superfisial sehingga perdarahan tidak

terjadi dan tidak perlu anestesi. Spesimen diletakkan pada gelas objek, ditetesi

dengan minyak mineral dan diperiksa dengan mikroskop.

Pemeriksaan histopatologi

Gambaran histopatologi menunjukkan bahwa terowongan terletak pada stratum

korneum, dan hanya ujung terowongan tempat tungau betina berada terletak di

irisan dermis. Pemeriksaan histopatologik tidak mempunyai nilai diagnostik kecuali

bila pada pemeriksaan tersebut ditemukan tungau atau telurnya. Dareah yang berisi

Page 20: Skabies Fix

tangau menunjukkan sejumlah eosinofil dan sulit dibedakan dengan reaksi gigitan

artropoda lainnya misalnya gigitan nyamuk atau kutu busuk.

B. Diagnosa Keperawatan

ANALISA DATA

Data Etiologi / Penyebab Masalah

DO :

Tampak

adanya vesikel

dan ekskoriasi

Dari

pemeriksaan

fisik

didapatkan

terowongan

berwarna abu

berkelok-

kelok

DS : -

Memelihara & sering kontak dengan hewan

peliharaan,lingkungan padat & kumuh, hygiene

rendah

Penularan kontak langsung dan tidak langsung

Sarcoptes scabiei var. hominis

Siklus S.scabies di kulit

Akumulasi sekret dan ekskret S. scabies di kulit

Peningkatan pembentukan histamin

Merangsang ujung saraf bebas

Gatal-gatal

Scabies

Klien menggaruk kulit

Kerusakan Integritas

Kulit

Page 21: Skabies Fix

DS: -

DO:

Klien tampak

menggaruk

kulit yang

gatal

Terdapat luka

pada daerah

yang digaruk

DS :

Klien mengeluh nyeri pada daerah yang digaruk

DO:

Klien terlihat

gelisah, Klien

Kerusakan lapisan kulit (dermis atau epidermis)

Kerusakan Integritas Kulit

Skabies

Klien menggaruk kulit

Kerusakan lapisan kulit (dermis atau epidermis)

Rusaknya barier pertahanan primer

Resiko masuknya patogen

Skabies

Klien menggaruk kulit

Kerusakan lapisan kulit (dermis atau epidermis)

Rusaknya barier pertahanan primer

Merangsang hostseptor

Merangsang pusat nyeri di hipotalamus

Resiko Infeksi

Nyeri Akut

Resiko Infeksi

Page 22: Skabies Fix

Nampak

meringis

DS :

Ibu klien

mengatakan

klien sering

terbangun

pada malam

hari

Ibu klien

mengatakan

klien sulit

untuk tidur

lagi karena

gatal yang

dirasakan

DO : -

DS:

Ibu klien

mengatakan

tidak mengerti

mengenai

sakit yang

dialami oleh

Nyeri < 6 bulan

Aktivitas S. scabiei pada malam hari

Pruritus nocturnal

Kx mengeluh sulit tidur

Skabies

Prognosis penyakit

Kurang pajanan informasi tentang penyakit

Insomnia

Defisiensi Pengetahuan

Nyeri Akut

Page 23: Skabies Fix

anaknya dan

tindakan terapi

apa saja yang

harus

dilakukan.

DO: -

DS :

Klien

mengatakan

gatal pada

terutama pada

malam hari di

area sela-sela

jari tangan dan

kaki, lipatan

ketiak, dan

siku bagian

luar

DO :

Tampak

kemerahan

pada daerah

yang digaruk

oleh klien dan

klien tampak

tidak nyaman

karena gatal

yang

dideritanya

Pengungkapan masalah yang terjadi

Skabies

Gatal-gatal

PK. Pruritus

PK. Pruritus

Defisiensi Pengetahuan

Page 24: Skabies Fix

Diagnosa Keperawatan berdasarkan prioritas :

1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanik ditandai dengan kulit

klien mengalami lecet, kulit klien mengalami kerusakan pada epidermis, kulit klien

mengalami kerusakan pada dermis.

2. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat.

3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan klien mengeluh nyeri,

klien tampak meringis, klien tampak rewel.

4. Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik ditandai dengan ibu klien

mengatakan pada malam hari klien sering terbangun dan sulit untuk tidur lagi karena

gatal yang dirasakan.

5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan ditandai dengan keluarga

klien tampak bingung dengan penyakit yang dialami klien, keluarga klien mengatakan

tidak mengetahui tentang penyakit yang dialami klien.

6. PK : pruritus.

C. Intervensi

Dx 1

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanik ditandai dengan kulit

klien mengalami lecet, kulit klien mengalami kerusakan pada epidermis, kulit klien

mengalami kerusakan pada dermis.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ...X24 jam kerusakan integritas kulit pasien

teratasi dengan kriteria hasil:

Label NOC :

Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes

Wound Healing : primer dan sekunder

Page 25: Skabies Fix

Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi,

pigmentasi) pada skala 4

Tidak ada luka/lesi pada kulit pada skala 4

Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera

berulang pada skala 4

Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka pada skala 4

Label NIC : Pressure Management

1. Hindari kerutan pada tempat tidur

2. Monitor kulit akan adanya kemerahan

3. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

4. Monitor status nutrisi pasien

5. Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan

6. Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka, karakteristik,warna cairan, granulasi,

jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus

7. Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan luka

8. Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril

9. Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka

Evaluasi :

Integritas kulit pada klien bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi,

pigmentasi) pada skala 4

Tidak ada luka/lesi pada kulit (skala 4)

Klien tampak memahami proses perbaikan kulit dan dapat mencegah terjadinya cedera

berulang (skala 4)

Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka (skala 4)

Dx 2

Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat.

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama…x24 jam diharapkan klien tidak mengalami tanda-

tanda infeksi dengan kriteria hasil :

Page 26: Skabies Fix

Label NOC : Risk control

Mampu mengenali tanda-tanda infeksi dan melaporkannya (skala 5)

Mampu mengenali perubahan status kesehatan secara umum (skala 5)

Mampu mengeidentifikasi strategi perlidungan diri dari infeksi lain (skala 5)

Mampu mempertahankan kebersihan lingkungan (skala 5)

Mampu menghindari tingkah laku yang dapat menyebabkan infeksi (skala 5)

Menerapakan universal precaution saat merawat klien (skala 5)

Label NIC : Infektion Control

Monitor tanda-tanda infeksi pada klien secara rutin

Ajarkan pada klien dan keluarga untuk mencuci tangan dengan air sabun dan air mengalir

sebelum dan sesudah merawat klien

Ajarkan pada klien dan keluarga untuk menjaga kebersihan lingkungan

Ajarkan pada klien dan keluarga untuk mengenali tanda-tanda infeksi dan kapan seharusnya

melaporkan pada tenaga medis bila klien mengalami hal tersebut

Ajarkan pada klien dan keluarga tingakah laku yang dapat memicu infeksi seperti: menggaruk

kulit

Ajarkan pda keluarga untuk menggunakan sarung tangan jika melakukan tindakan yang

kontak dengan kulit klien

Evaluasi :

Mampu mengenali tanda-tanda infeksi dan melaporkannya (skala 5)

Mampu mengenali perubahan status kesehatan secara umum (skala 5)

Mampu mengeidentifikasi strategi perlidungan diri dari infeksi lain (skala 5)

Mampu mempertahankan kebersihan lingkungan (skala 5)

Mampu menghindari tingkah laku yang dapat menyebabkan infeksi (skala 5)

Menerapakan universal precaution saat merawat klien (skala 5)

Dx 3

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan klien mengeluh

nyeri, klien tampak meringis, klien tampak rewel.

Page 27: Skabies Fix

Setelah diberikan askep selama …x 24 jam, diharapkan skala nyeri klien berkurang

dengan kriteria hasil:

Label NOC >> Comfort Status : Physical

Gejala terkontrol dengan skala 3 ( rentang skala 1-5 )

Label NOC >> Pain Control

Klien melaporkan nyeri terkontrol dengan skala 3 (rentang skala 1-5)

Label NOC >> Pain Level

Durasi dari episode nyeri klien berkurang dengan skala 3 (rentang skala 1-5)

Label NIC >> Pain Management

Mandiri

1. Lakukan pemeriksaan nyeri secara komprehensif, meliputi lokasi nyeri, karakteristik,

onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/penyebaran nyeri, dan faktor presipitasi.

2. Lakukan kontrol terhadap faktor lingkungan yang dapat meningkatkan respons

ketidaknyamanan klien (misalnya suhu, pencahayaan, dan kebisingan).

3. Ajarkan klien prinsip management nyeri.

4. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologis (misalnya: hipnosis, relaksasi, guided

imagery, terapi musik, distraksi, acupressure, dan massage) jika memungkinkan.

5. Tingkatkan pemenuhan kebutuhan istirahat/tidur klien untuk meringankan nyeri yang

dialami.

Kolaborasi

1. Pastikan klien menerima analgesik.

Evaluasi :

Label NOC >> Comfort Status : Physical

Gejala terkontrol dengan skala 3

Label NOC >> Pain Control

Page 28: Skabies Fix

Klien melaporkan nyeri terkontrol dengan skala

Label NOC >> Pain Level

Durasi dari episode nyeri klien berkurang dengan skala 3

Dx 4Insomnia berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik ditandai dengan ibu klien

mengatakan pada malam hari klien sering terbangun dan sulit untuk tidur lagi

karena gatal yang dirasakan.

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama … x24jam diharapkan kx tidak mengalami

kesulitan untuk tidur dengan kriteria hasil :

NOC Label >>Sleep

1. Jam tidur klien sesuai dengan kebutuhan

2. Pola tidur klien baik

3. Kualitas tidur klien baik

4. Kesulitan untuk tidur berkurang

Label NIC :Sleep enhancement

Menentukan pola tidur klien

Monitor pola tidur klien dan catat gejala fisik seperti pain/discomfort yang bisa mengganggu

tidur

Kaji lingkunagn tempat tidur klien yang menyebabkan ketidaknyamanan misalnya : pakaian

yang lembab atau basah, linen yang kusut dan tidak terlipat rapi, bahan iritan dari lingkungan.

Mengatur lingkungan (seperti: cahaya, suara, temperature,tempat tidur) untuk meningkatkan

tidur klien

Ajarkan tehnik meningkatkan kenyamanan ( ex : masase, positioning, music terapi dll )

Berikan posisi yang nyaman untuk klien tidur ( ex: penempatan beberapa bantal pada bagian-

bagian tertentu tubuh klien )

Page 29: Skabies Fix

Mengatur medikasi untuk mengurangi rasa gatal sesuai dengan indikasi.untuk meningkatkan

tidur klien

Diskusikan dengan pasien dan keluarga teknik meningkatkan tidur

Evaluasi :

Jam tidur klien sesuai dengan kebutuhan

Pola tidur klien baik

Kualitas tidur klien baik

Kesulitan untuk tidur berkurang

Dx 5

Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan ditandai dengan

keluarga klien tampak bingung dengan penyakit yang dialami klien, keluarga klien

mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit yang dialami klien.

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ….x 15 menit diharapkan keluarga pasien

menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dan terapi dengan kriteria hasil :

Label NOC : Knowledge : Disease Process

Mampu mengetahui proses penyakit secara spesifik dengan nilai menengah (skala 3)

Mengetahui efek dari penyakit anak klien (skala 5)

Pengobatan - pengobatan untuk mencegah komplikasi dari penyakit ( skala 5)

Label NOC : Knowledge : Health Promotion

Pengetahuan tentang pencegahan dan mengontrol infeksi

Label NIC : Health Education

Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga

Page 30: Skabies Fix

Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan

anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.

Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat

Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat

Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat

Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat

Evaluasi :

Label NOC : Knowledge : Disease Process

Mampu mengetahui proses penyakit secara spesifik dengan nilai menengah (skala 3)

Mengetahui efek dari penyakit anak klien (skala 5)

Pengobatan - pengobatan untuk mencegah komplikasi dari penyakit ( skala 5)

Label NOC : Knowledge : Health Promotion

Pengetahuan tentang pencegahan dan mengontrol infeksi

Dx 6

PK : Pruritus

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ….x 24 jam diharapkan keluarga pasien

menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dan terapi dengan kriteria hasil :

Gatal pasien berkurang

Kemerahan pada kulit yang gatal berkurang

Pasien tampak nyaman

Intervensi :

Page 31: Skabies Fix

Observasi kondisi kulit pasien pasca pemberian terapi

Kolaborasi pemberian obat Krotamiton 10% sebagai anti gatal

Kolaborasi pemberian Emulsi benzyl-benzoat 20-25% diberikan setiap malam selama 3 hari

berturut-turut

Pantau reaksi alergi pasien setelah pemberian terapi

Evaluasi :

Pasien mengatakan gatal berkurang

Kemerahan tampak berkurang

Pasien tampak nyaman

5. Susunlah pendidikan kesehatan yang bisa diberikan pada klien dengan kasus di atas!

Klien diberi tahu mengenai apa itu penyakit scabies dan konsep penyakit scabies lainnya

sehingga klien dan keluarganya mengerti mengenai penyakit yang diderita.

Klien dianjurkan mengenakan pakaian yang bersih dan tidur diatas seprai yang baru saja

dicuci. Semua perangkat tempat tidur (seprai,sarung bantal dll) serta pakaian harus dicuci

dengan air yang sangat panas dan dikeringkan dengan alat pengering panas karena kutu

scabies ternyata dapat hidup sampai 36 jam pada linen. Sesudah terapi scabies selesai

dilakukan, klien harus mengoleskan salep seperti kortikosteroid topical pada lesi kulit

karena skabisida dapat mengiritasi kulit. Hipersensitivitas klien tidak berhenti setelah

kutu dihancurkan. Rasa gatal dapat terus berlangsung selama beberapa hari atau minggu

sebagai manifestasi hipersensitivitas, khususnya pada orang-orang yang atopic (alergik).

Kepada klien dianjurkan agar tidak mengoleskan lebih banyak skabisida ( karena

tindakan ini dapat menambah iritasi serta meningkatkan rasa gatal) dan tidak semakin

sering mandi dengan air hangat (karena tindakan ini membuat kulit menjadi kering serta

menimbulkan gatal). Semua anggota keluarga dan orang yang berhubungan erat harus

diobati secara bersamaan untuk menghilangkan penyebab scabies dan mencegah infeksi

ulang.

Page 32: Skabies Fix

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer,Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius

Smeltzer,Suzzane dkk. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC

Dochterman, Joanne McCloskey & Bulecheck, Gloria N. 2004. Nursing Intervention

Classification. USA : Mosby

Moorhead, Sue et al. 2008.Nursing Outcome Classification (NOC).Missouri : Mosby

NANDA Internasional 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011.

Jakarta: EGC

Anonim. 2011. Penyakit Skabies pada Manusia. http://www.smallcrab.com/kulit/703-penyakit-

skabies-pada-manusia

(Akses : 7 Desember 2011)

Matinee. 2008. Pembahasan tentang penyakit scabies.

http//indeks.files.wordpress.com/2008/06/scabies

( Akses : 7 Desember 2011)

Page 33: Skabies Fix