bab ii- daftar pustaka

32
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI TELINGA Anatomi telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah, telinga dalam: 1.Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan meatus akustikus eksterna sampai membran timpani. Telinga luar atau pinna merupakan gabungan dari tulang rawan yang diliputi kulit. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Meatus akustikus eksternus ( MAE) berbentuk huruf S, dengan tulang rawan pada sepertiga bagian luar, di sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat = Kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit Meatus akustikus eksternus. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar 2

Upload: maharani-ariez-girlz

Post on 10-Nov-2015

55 views

Category:

Documents


5 download

DESCRIPTION

DAFTAR PUSTAKA

TRANSCRIPT

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI TELINGA Anatomi telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah, telinga dalam: 1. Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan meatus akustikus eksterna sampai membran timpani. Telinga luar atau pinna merupakan gabungan dari tulang rawan yang diliputi kulit. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Meatus akustikus eksternus ( MAE) berbentuk huruf S, dengan tulang rawan pada sepertiga bagian luar, di sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat = Kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit Meatus akustikus eksternus. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen, dua pertiga bagian dalam MAE terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 - 3 cm.Meatus dibatasi oleh kulit dengan sejumlah rambut, kelenjar sebasea, dan sejenis kelenjar keringat yang telah mengalami modifikasi menjadi kelenjar seruminosa, yaitu kelenjar apokrin tubuler yang berkelok-kelok yang menghasilkan zat lemak setengah padat berwarna kecoklat-coklatan yang dinamakan serumen (minyak telinga). Serumen berfungsi menangkap debu dan mencegah infeksi.2,3

Gambar 1 : Telinga luar, telinga tengah, telinga dalam. ( Atlas Netter ) (Potongan Frontal Telinga) 4

2. Telinga TengahTelinga tengah berbentuk kubus dengan :2 Batas luar : Membran timpani Batas depan : Tuba eustachius Batas Bawah : Vena jugularis (bulbus jugularis) Batas belakang : Aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis. Batas atas : Tegmen timpani (meningen / otak ) Batas dalam: Berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis horizontal, kanalis fasialis, oval window, round window dan promontorium. Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut Pars flaksida (Membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah Pars Tensa (membrane propia). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler pada bagian dalam.2,3 Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar kedalam, yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang pendengaran didalam telinga tengah saling berhubungan . Prosesus longus maleus melekat pada membrane timpani, maleus melekat pada inkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada oval window yang berhubungan dengan koklea.2

Gambar 2. Anatomi Membran Timpani 5 Telinga tengah berhubungan dengan rongga faring melalui saluran eustachius, yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan antara kedua sisi membrane tympani. Tuba auditiva akan membuka ketika mulut membuka atau ketika menelan makanan. Ketika terjadi suara yang sangat keras, membuka mulut merupakan usaha yang baik untuk mencegah pecahnya membran tympani. Karena ketika mulut terbuka, tuba auditiva membuka dan udara akan masuk melalui tuba auditiva ke telinga tengah, sehingga menghasilkan tekanan yang sama antara permukaan dalam dan permukaan luar membran tympani.2

3. Telinga DalamTelinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut holikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli.2Kanalis semi sirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap.2Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membrane vestibuli (Reissners membrane) sedangkan dasar skala media adalah membrane basalis. Pada membran ini terletak organ corti.2Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti.1,2

B. FISIOLOGI PENDENGARAN Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan window ovale. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan oval window sehingga perilimfa pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relative antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.1,2,3

C. INFEKSI TELINGA TENGAH

Penyakit yang paling umum pada telinga tengah adalah infeksi. Infeksi pada telinga tengah dikenal juga dengan Otitis Media. 11. Klasifikasi Otits Media Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa atau otitis media sifilitika. 2a. Otitis Media Akut Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena faktor pertahanan tubuh terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga bakteri masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Selain itu, pencetus lain adalah infeksi saluran napas atas. Pada anak, semakin sering anak terkena infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal.2,3 Patologi Bakteri utama penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa. Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak dibawah 5 tahun. 2 Stadium OMA Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium : 2 1. Oklusi tuba Eustachius.2. Hiperemis ( pre supurasi ).3. Supurasi.4. Perforasi.5. Resolusi.b. Otitis Media Supuratif Kronik ( OMSK ) Otitis media supuratif kronik adalah radang kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah. Otitis media akut dengan perforasi membran timpani menjadi otitis media supuratif akut apabila prosesnya lebih 2 bulan. Diberikan batasan 2 bulan karena kemungkinan sudah terjadi kelainan patologik yang ireversibel setelahnya.2 Klasifikasi OMSK 2 OMSK tipe aman (tipe mukosa/benigna) Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang dan perforasinya terletak di sentral. Umumnya OMSK tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman tidak terdapat kolesteatoma. 2 OMSK tipe bahaya (tipe tulang/maligna) Yang dimaksud dengan OMSK tipe maligna yaitu OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. Perforasi pada OMSK tipe ini terletak di marginal atau di atik, kadang-kadang juga terdapat kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi timbul pada OMSK tipe ini.

Gambar Otitis media Supuratif Akut

c. Kolesteatoma Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar.2 Kolesteatoma diawali dengan penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga, sehingga membentuk gumpalan dan menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar. Bila tidak ditanggulangi dengan baik akan terjadi erosi kulit dan bagian tulang liang telinga. Hal yang terakhir ini disebut sebagai kolesteatoma eksterna.Kolesteatoma dapat diklasifikasikan menjadi kongenital dan akuistal. Kolesteatoma kongenital terjadi pada masa embrionik dan ditemukan pada telinga dengan membran timpani utuh tanpa tanda infeksi.Kolesteatoma akuistal dibagi menjadi primer dan sekunder. Kolesteatoma akuistal primer timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba. kolesteatoma akuistal sekunder mengacu pada kolesteatoma yang muncul akibat perforasi membran timpani.2

d. Komplikasi Otogenik OtitisKomplikasi otogenik umumnya berasal dari proses infeksi pada telinga tengah (otittis media supuratif, akut dan kronik). 11. Patogenesis Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur sekitarnya. Pertahanan pertama ini adalah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa saluran napas, mampu mencegah infeksi. Bila sawar pertama terlewati, masih ada sawar ke dua, yaitu dinding kavum timpani dan sel mastoid. Jika sawar kedua tidak mampu mencegah infeksi, maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena. Rusaknya periosteum akan menyebabkan terjadinya abses periosteal. Apabila infeksi mengarah ke dalam, ke tulang temporal maka akan menyebabkan paresis n.fasialis atau labirinitis. Bila ke arah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural, tromboflebitis sinus lateralis, meningitis dan abses otak.1,2 Bila sawar tulang terlewati, maka akan terbentuk pertahanan ketiga yaitu jaringan granulasi. Pada otitis media supuratif akut atau eksaserbasi akut, penyebaran biasanya melalui osteotromboflebitis (hematogen). Sedangkan pada kasus yang kronik, penyebaran melalui erosi tulang. Cara penyebaran lainnya ialah toksin masuk melalui jalan yang sudah ada, misalnya masuk melalui fenestra rotundum, meatus akustikus eksternus, duktus perilimfatik dan duktus endolimfatik.1,3 Komplikasi otogenik otitis diklasifikasikan menjadi :2 Komplikasi ke telinga tengah Komplikasi ke telingah dalam Komplikasi ke intrakranial2. Komplikasi Ke Telinga Tengah Mastoiditis Mastoiditis biasanya didahului dengan adanya infeksi otitis media. Kasus ini paling sering terjadi pada anak-anak. Mastoiditis koalesens adalah suatu infeksi akut yang mendestruksi tulang mastoid yang berkembang dalam 2 sampai 4 minggu setelah serangan akut otitis media. Biasanya, pada penderita mastoiditis dengan riwayat otitis, gejala otitis tetap ada setelah infeksi, dapat memburuk, atau kambuh pada anak yang memiliki riwayat otitis sebelumnya.4,5Diagnosa mastoiditis dapat terlewatkan karena pasien telah mendapatkan pengobatan antibiotik yang menyebabkan gejala klinis hilang namun ternyata infeksi masih tetap ada.3Gejala klinis yang timbul yaitu adanya demam, otorea, otalgia hebat, tenderness pada mastoid, pembengkakan postaurikula mengakibatkan pinna menonjol, gangguan pendengaran, membran timpani menonjol keluar.1,3Pemeriksaan otoskopi memperlihatkan pada otitis media akut maupun subakut membran timpani dapat ruptur maupun tidk. Dinding posterior dari kanalisaurikula posterior dapat eritema ataupun edema.1Pemeriksaan radiologi dapat memperlihatkan adanya opasifikasi sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnnya trabekulasi normal dari sel-sel tersebut.3Mastoiditis AkutBiasanya, mastoiditis akut muncul sebagai komplikasi dari AOM pada anak. Nyeri dan nyeri tekan di atas proses mastoid adalah gejala awal mastoiditis. Selama infeksi berlangsung, edema dan eritema jaringan lunak postaurikular dengan hilangnya lipatan postaurikular berkembang. Perubahan ini mengakibatkan penonjolan anteroinferior dari pinna. Setelah diagnosis mastoiditis akut diduga, penyelidikan radiologis pilihan adalah CT scan, yang memberikan informasi tentang sejauh mana kekeruhan dari sel udara mastoid, pembentukan abses subperiosteal, dan adanya komplikasi intrakranial.6Dalam beberapa kasus, mastoiditis akut dapat berhasil ditangani dengan terapi antibiotik saja, tetapi beberapa pasien memerlukan intervensi bedah. Jika, setelah 24 jam pengobatan, tidak ada perbaikan, mastoidektomil harus dilakukan, bersama dengan miringotomi jika perforasi membran timpani belum terjadi. Jika ada abses subperiosteal atau komplikasi intrakranial, operasi dan kombinasi dengan antibiotik intravena dosis tinggi harus menjadi terapi line pertama.6

Parese Nervus FasialisParese N.fasialis dapat terjadi pada otitis media akut dan kronik. Terdapat dua mekanisme yang dapat menyebabkan parese nervus fasialis yaitu :2,3 Hasil toksin bakteri di daerah tersebut Dari tekanan langsung terhadap saraf oleh kolesteatoma atau jaringan granulasi.Pada otitis media akut, penyebaran infeksi langsung ke kanalis fasialis khususnya pada anak terjadi ketika kanalis nervus fasialis pada telinga tengah mengalami congenital dehiscent atau saraf terkena akibat kontak langsung dengan materi purulen sehingga dapat menimbulkan inflamasi dan edema pada saraf dan menyebabkan paresis.1,2Pada otitis media kronik bisa mengikis kanalis nervus fasialis atau sarafnya dapat dilibatkan dengan osteitis, kolesteatom dan jaringan granulasi, disusul oleh infeksi ke dalam kanalis fasialis. Manifestasi klinik yang tampak yaitu paralisis nervus fasialis, ipsilateral terhadap telinga yang sakit.7Pada otitis media akut operasi dekompresi kanalis fasialis tidak diperlukan. Perlu diberikan antibiotik dosis tinggi dan terapi penunjang lainny, serta menghilangkan tekanan di dalam kavum timpani dengan drainase. Jika terjadi congenital dehiscent maka perlu dilakukan miringotomi dengan aspirasi pus dari telinga tengah diikuti dengan pemberian antibiotik yang kebanyakn menyebabkan resolusi parese yang sinakat. Bila dalam jangka waktu tertentu tidak ada perbaikan setelah diukur dengan elektrodiagnostik, barulah dipikirkan untuk melakukan dekompresi. Pada otitis media kronik diindikasikan operasi eksplorasi mastoid. Tindakan dekompresi kanalis n. fasialis harus segera dilakukan tanpa harus menunggu pemeriksaan elektrodiagnostik.1,2,3

PetrosisHampir sepertiga tulang temporal memiliki sel-sel udara dalam apeks petrosa. Sel-sel ini menjadi terinfeksi melalui perluasan langsung dari infeksi telinga tengah dan mastoid. Terdapat beberapa cara penyebaran infeksi dari telingah tengah ke os.petrosa. yang sering adalah penyebaran langsung ke sel-sel udara tersebut. Infeksi dapat menyebar ke apeks petrosa dan melibatkan nervus cranial VI. Petrosis merupakan salah satu komplikasi persisten setelah dilakukan mastoidektomi kortikal atau radikal yang tidak adekuat sebelumnya. 2,3Manifestasi klinis :Petrosis terdiri dari trias gejala yang disebut Gradenigos sindrom yang terdiri dari :51. Diplopia dari kelemahan rektus lateralis2. Nyeri retro-orbital (karena melibatkan divisi oftalmika nervus trigeminus)3. Otore yang persistenPemeriksaan penunjang: CT scanTerapi:- Pemberian antibiotik untuk mencegah komplikasi intracranial.- Eksplorasi mastoid dengan drainase di sel apika

4. Komplikasi Ke Telinga Dalam Fistula LabirinitisOMSK terutama dengan kolesteatoma dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin sehingga terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk sehingga akan berlanjut menjadi tuli total ataupun meningitis. 2Fistula pada labirin dapat diketahui dengan tes fistula yaitu dengan memberikan tekanan udara positif ataupun negatif ke liang telinga melalui otoskop siegel dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips pada ujungnya yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Balon karet dipencet dan udaranya akan menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirinmembran. Tes fistula positif akan menimbulkan nistagmus atau vertigo. Pada fistula labirin atau labirinitis,operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula sehingga fungsi telinga dalam dapat pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat untuk mengontrol penyakit primer. Matriks kolesteatoma dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula dan daerah tersebut ditutup dengan jaringan ikat atau tulang rawan.2,3

LabirinitisLabirinitis paling sering terjadi akibat infeksi akut maupun kronik dari telinga tengah. Pada stadium awal, terjadi labirinits serosa, namun kemungkinan akan berubah menjadi inflamasi yang bersifat purulen.4Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis general, dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat. Sedangkan labirinitis yang terbatas (labirinitis sirkumskripta) yang menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.2 Labirinitis dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Labirinitis bakteri (supuratif) mungkin terjadi sebagai perluasan infeksi dari rongga telinga tengah melalui fistula tulang labirin oleh kolesteatom atau melalui foramen rotundum dan foramen ovale. Infeksi dapat mencapai labirin dengan erosi dari kanalis semisirkular lateral dengan kolesteatoma atau dengan invasi bakteri melewati round window ke ruang perilimfe. Terdapat dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif akut difus dan kronik difus.2,9 Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosis dan osifikasi. Erosi tulang pada telinga dalam oleh kolesteatoma (paling sering kanalis semisirkular lateral) memperlihatkan rute alternatif untuk infeksi telinga dalam. 2,3Gejala klnik dari labirinitis supuratif yaitu adanya kehilangan pendengaran sensorineural yang perlahan-perlahan, vertigo berat, nistagmus,serta mual & muntah. Terdapat tes fistula positif yaitu tekanan pada tragus menyebabkan vertigo atau deviasi mata karena pergerakan dari perilimfe dan tes fistula negatif bila fistulanya sudah tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati/paresis kanal.2,9Tujuan utama terapi labirinitis yaitu mengeradikasi infeksi, Mencegah terjadinya progresifitas penyakit dan kerusakan vestibulokoklea yang lebih lanjut, dan mencegah meningitis dengan penggunaan antibiotik. Pemberian antibiotik yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik dengan atau tanpa kolesteatom. Dapat diberikan obat vestibule-sedatif dan nutrisi yang adekuat. Pada fistula di labirin dilakukan eksplorasi mastoid pada otitis media kronik untuk menutup fistula yang didapatkan pada kanalis semisirkuler lateral, sehingga fungsi telinga dalam dapat pulih kembali. 9,105. Penatalaksanaan OMSK dengan Komplikasi Berikut adalah algoritma penatalaksanaan OMSK dengan komplikasi.11

OMSK + KOMPLIKASIINTRAKRANIAL :Abses ektraduraAbses otakTromboflebitis sinus lateralMeningitis Abses OtakINTRATEMPORAL :MastoiditisParesis N.FasialLabirinitisFistula LabirinPetrosisAlgoritma 1Algoritma 2

KOMPLIKASI INTRA TEMPORALMASTOIDITISAntibiotik dosis tinggi + mastoidektomiCT ScanAntibiotik dosis tinggi + mastoidektomi + Antibiotik dosis tinggi + mastoidektomi + dekompreksi sarafPetrosisLabirinitis + Fistel LabirinParesis N. VIIPEMILIHAN ANTIBIOTIK HENDAKNYA BERDASARKAN PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGIK DAN SENSIFITAS BAKTERIAntibiotik dosis tinggi + mastoidektomi + petrosektomiALGORITME 2

BAB IIIKESIMPULAN

Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar pertahanan telinga tengah yang normal dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur sekitarnya. Mastoiditis merupakan inflamasi yang terjadi pada rongga yang terdapat dalam prosessus mastoid dan menjadi komplikasi tersering otitis media supuratif. Mastoiditis akut memberikan gejela : Nyeri telinga yang meningkat, Demam tinggi atau rekuren, Otore , pembengkakan postaurikuler, Tenderness di sekitar antrum mastoid, Membran timpani perforasi Parese N.fasialis dapat terjadi pada otitis media akut dan kronik. Terdapat dua mekanisme yang dapat menyebabkan parese nervus fasialis yaitu Hasil toksin bakteri di daerah tersebut dan adanya tekanan langsung terhadap saraf oleh kolesteatoma atau jaringan granulasi. Petrosis merupakan salah satu komplikasi persisten setelah dilakukan mastoidektomi kortikal atau radikal yang tidak adekuat sebelumnya. Petrosis terdiri dari trias gejala yang disebut Gradenigos sindrom Fistula Labirinitis terutama terjadi pada OMSK dengan kolesteatoma yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin sehingga terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk sehingga akan berlanjut menjadi tuli total ataupun meningitis. Labirinitis paling sering terjadi akibat infeksi akut maupun kronik dari telinga tengah. Pada stadium awal, terjadi labirinits serosa, namun kemungkinan akan berubah menjadi inflamasi yang bersifat purulen

DAFTAR PUSTAKA

1. Probs, Rudolf., Gerhard Grevers., Heinrich Iro ; Basic Otorhinology A step-By-Step Learning Guide. New York.Thieme.2002: p. 228-263.

2. Soepardi, Arsyad Efiaty., Nurbaiti Iskandar, Jenny Bashiruddin : Infeksi Telinga Tengah Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan leher. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2007 ; Hal.10-87.

3. Boies, Lawrence R., George L.Adams., Peter A.Higler. Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid Dalam : BOIES Buku Ajar Penyakit THT ( BOIES Fundamental of Otolaryngology).Jakarta. EGC. 2000 Hal: 28-48 ; 90-118.

4. Dhingra,PL.Otitis Media, In : Ear, Nose and Throat Disease. Fourth Edition. India. Elsevier.2000 ; Pg 1-16.

5. James B.Snow. Ballenger Manual of Otolaringology Head & Neck Surgery. BC Decker. Halminton London ; 2002. Hal: 59-73.

6. B. Viswantha, Khaja N. Conservative Management Otogenic Brain Abscess With Surgical Manegement OfAttico Antral Ear Disease ;A riview. Indian Journal Otolaringology Head & Neck surgery. Februay 2012; 64(2) :113-19.

7. Tina Kissawlidal, Jacob Korhsholvin,Theresa Ovesen.Diagnostic Challenges In Organis Brain Abscess. Danism Medical Journal/. June 2014 ; 61(6).

8. Tieat, French., Nathal Schaeter.et.al. Intracranial Otogenic Complication of OtitisMedia. Academic Division of a Clinical fondation. Ochsen Journal. 2014 ; 188-194.

9. Dhillon, R.S., An Illustrated Colour Text. Ear, Nose And Throat And Head And Neck Surgery. Second Edition.Middlesex, London. 2000. Pg 21-24

10. Dhillon, R.S., An Illustrated Colour Text. Ear, Nose And Throat And Head And Neck Surgery. Second Edition.Middlesex, London. 2000. Pg 21-24.

11. Edward, Yan., Sri, Mulyani., Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Bahaya., Bagian Telinga Hidung tenggorokan-Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.Padang. 2011; Hal.1-6.

15