3. bab i,ii,iii, lampiran dan daftar pustaka

Download 3. BAB I,II,III, Lampiran Dan Daftar Pustaka

If you can't read please download the document

Post on 27-Oct-2015

149 views

Category:

Documents

19 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

3. BAB I,II,III, Lampiran Dan Daftar Pustaka

TRANSCRIPT

BAB I

BAB I

PENDAHULUANA. Latar Belakang

Trauma pada tulang belakang adalah cedera mengenai servikalis, vertebralis, dan lumbalis akibat dari suatu trauma (meliputi: kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga, kecelakaan industri, atau kecelakaan lain seperti jatuh dari pohon atau bangunan, luka tusuk, luka tembak, dan kejatuhan benda keras) yang mengenai tulang belakang. Trauma pada tulang belakang dapat mengenai jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligamen dan diskus, tulang belakang sendiri, dan sumsum tulang belakang/medula spinalis (Muttaqin, 2008).

Medula spinalis merupakan bagian lanjutan dari medulla oblongata yang menjulur ke arah kaudal melalui foramen magnum, selanjutnya berakhir diantara vertebra lumbal pertama dan kedua. Fungsi medulla spinalis yaitu mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh serta bergerak refleks. Cedera medulla spinalis dapat diartikan sebagai suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis. Berdasarkan ada atau tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi, cedera medulla spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan inkomlplet. Pembagian ini penting untuk menentukan prognosis dan penanganan selanjutnya (Brunner dan Suddarth, 2002).Cedera medula spinalis paling umum terjadi pada usia usia 16 sampai 30 tahun, sehingga termasuk salah satu penyebab gangguan fungsi saraf yang sering menimbulkan kecacatan permanent pada usia produktif.Quadriplegiasedikit lebihumum daripada paraplegia. Di antara kelompok usia ini, kejadian lebih sering pada laki-laki (82%) dari pada wanita (18%). Penyebab paling umum adalah kecelakaan kendaraan bermotor(39%), jatuh (22%), tindakan kekerasan (25%), dan olahraga 7% (Morton, 2005).PusatDataNasionalCederaMedulaSpinalis(TheNationalSpinalCord Injury Data Research Centre) memperkirakanterdapat10.000kasusbaru CMS setiaptahunnya diAmerikaSerikat. Insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan diperkirakan 20 per 100.000 penduduk(Pinzon, 2007). Oleh karena cedera tulang belakang (cedera medula spinalis) merupakan salah satu penyebab gangguan fungsi saraf yang sering terjadi, maka sebagai seorang perawat hendaknya mengetahui dan mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan pada klien dengan cedera tulang belakang (cedera medula spinalis).

B. Rumusan Masalah

a. Apa definisi cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?b. Bagaimana etiologi cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?c. Apa manifestasi klinis cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?d. Apa evaluasi diagnostik cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?e. Bagaimana patofisiologi atau WOC cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?f. Bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan pada cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?g. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?h. Bagaimana penatalaksanaan farmakologi dan non farmakologi cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?i. Apa pendidikan kesehatan (penkes) yang perlu diberikan pada klien dengan cedera tulang belakang (cedera medula spinalis)?

C. Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas individu mata kuliah KK IX. Meningkatkatkan pengetahuan penulis serta pembaca dalam asuhan keperawatan terutama pada klien dengan cedera medula spinalis sehingga mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam praktik profesional keperawatan secara holistik.BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan Fisiologi

Tulang belakang bekerja sebagai penunjang utama bagi sumsum tulang belakang dan jalur saraf yang membawa informasi dari lengan, kaki, dan seluruh tubuh, dan membawa sinyal dari otak ke tubuh.

Punggung tersusun dari 33 tulang yang disebut vertebra, 31 pasang saraf, 40 otot dan banyak tendon dan ligament yang menghubungkan mulai dari dasar tengkorak hingga sepanjang tulang ekor.Diantara tulang belakang terdapat serat, tulang rawan elastis yang disebut cakram, yang berfungsi untuk mempertahankan agar tulang punggung fleksibel dan sebagai bantalan tulang belakang keras saat bergerak.

(Sumber: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/images/ency/fullsize/9561.jpg)

Columna Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut :

a. Cervical spine (Vertebra servikal)

Ada tujuh tulang servikal. Tulang servikal dirancang untuk memungkinkan fleksi, ekstensi, membungkuk, dan memutar kepala.Tulang ini lebih kecil dari tulang belakang lainnya, yang memungkinkan sejumlah besar gerakan. Setiap vertebra servikalis terdiri dari dua bagian, tubuh dan lengkungan pelindung bagi sumsum tulang belakang disebut lengkungan saraf.

b. Thoracic Spine (Vertebra torakal)

Di daerah dada, tulang belakang torakal menempel pada tulang rusuk.Ada 12 tulang torakal. Kanal tulang belakang di daerah torakal relatif lebih kecil dari daerah servikal atau lumbal.Hal ini membuat tulang belakang torakal memiliki risiko lebih besar jika ada patah tulang.

Gerak yang terjadi pada tulang belakang torakal sebagian besar rotasi.Adanya tulang rusuk mencegah menekuk ke samping.Sejumlah kecil gerakan tulang belakang torakal yang terjadi yaitu membungkuk ke depan dan ke belakang.

c. Lumbar Spine (Vertebra lumbar)

Tulang belakang lumbar berukuran besar, lebar, dan tebal.Ada lima tulang belakang lumbar.Vertebra lumbar terendah (L5) berartikulasi dengan sakrum. Sakrum menempel pada panggul.Gerakan utama dari daerah lumbal yaitu membungkuk ke depan dan membentang kebelakang, serta menekuk ke samping juga terjadi.

d. Os. Sacrum

Sacrum terdiri dari 5 vertebra yang menyatu. Tulang sacrum disebut pula dengan tulang kelangkang.

e. Os. Coccygis

Tulang kecil berbentuk segitiga, disebut juga tulang ekor. Terdiri dari 4 tulang yang bergabung menjadi satu. Tulang ini berartikulasi dengan sacrum dan membentuk sebagian dinding posterior pelvis.

(Sumber: http://www.spinalinjury.net/assets/images/anatomy2.jpg)

Sama halnya seperti tulang belakang yang dibagi menjadi daerah servikal, thoraks, dan lumbar, begitu pula sumsum tulang belakang (Medula spinalis).Setiap bagian dari sumsum tulang belakang dibagi menjadi segmen neurologis spesifik.

Sumsum tulang belakang servikal dibagi menjadi delapan pasang saraf.Setiap tingkat memberikan kontribusi untuk fungsi yang berbeda di leher dan lengan. Sensasi dari tubuh sama-sama diangkut dari kulit dan area lain dari tubuh dari leher, bahu, dan lengan hingga ke otak.

Pada daerah torakal, terdiri dari 12 pasang saraf. Saraf dari sumsum tulang belakang menyuplai otot-otot dada yang membantu dalam bernafas dan batuk.Wilayah ini juga berisi saraf dalam sistem saraf simpatik.Sumsum tulang belakang lumbosakral dan saraf menyuplai kaki, panggul, usus dan kandung kemih.Sensasi dari kaki, tungkai, panggul, dan perut bagian bawah ditransmisi melalui saraf lumbosakral dan sumsum tulang belakang untuk segmen yang lebih tinggi dan akhirnya otak.

Isyarat-isyarat sensoris dihantarkan melalui syaraf spinalis ke dalam tiap segmen medula spinalis, dan saraf ini dapat menyebabkan reaksi motorik setempat di dalam segmen tubuh dari mana informasi sensoris diterima atau didalam segmen-segmen yang berdekatan.

Pada dasarnya semua reaksi motorik medula spinalis bersifat otomatis dan terjadi hampir segera sebagai reaksi terhadap isyarat sensoris. Di samping itu, mereka terjadi dalam pola reaksi khusus yang disebut refleks (Guyton, 2000).Untuk terjadinya gerakan refleks, dibutuhkan struktur sebagai berikut :

1. Organ sensorik : menerima impuls, misalnya kulit

2. Serabut saraf sensorik ; mengantarkan impuls-impuls tersebut menuju sel-sel dalam ganglion radix pasterior dan selanjutnya menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis.

3. Sumsum tulang belakang, dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls-impuls menuju karnu anterior medula spinalis.

4. Sel saraf motorik ; dalam karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan impuls tersebut melalui serabut saraf motorik.

5. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena dirangsang oleh impuls saraf motorik.

6. Kerusakan pada sumsum tulang belakang khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal, paralisis pada otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta paralisis sfinker pada uretra dan rektum.

Saraf-saraf spinal

a. Motorik Otot (asal inervasi)Fungsi

M. deltoideus dan biceps brachii (C5)Abduksi bahu dan fleksi siku

M. extensor carpi radialis longus dan brevis

(C6) Ekstensi pergelangan tangan

M. flexor carpi radialis (C7) Fleksi pergelangan tangan

M. flexor digitorum superfisialis dan

profunda (C8) Fleksi jari-jari tangan

M. interosseus palmaris (T1) Abduksi jari-jari tangan

M. illiopsoas (L2) Fleksi panggul

M. quadricep femoris (L3) Ekstensi lutut

M. tibialis anterior (L4)Dorsofleksi kaki

M. extensor hallucis longus (L5)Ekstensi ibu jari kaki

M. gastrocnemius-soleus (S1) Plantarfleksi kaki

b. Sensoris protopatik Asal inervasiDermatom

C2-C4 Dermatom occiput sampai bagian belakang leher

C5-T1 Lengan sampai jari-jari

T2-T12 Bagian dada dan axilla, beberapa titik penting : T4 papila

mamae, T10 umbilicus, T12 groin

L1-L5 Tungkai

S1-S5 Tumit, bagian belakang tungkai, regio perinea

c. Saraf otonom

Saraf-saraf yang bekerjanya tidk dapat disadari dan bekerja secara otomatis.

OrganRangsangan simpatisRangsangan parasimpatis

Jantung Denyut dipercepatDenyut diperlambat

Arteri koronariDilatasi Kontriksi

Pembuluh darah periferVasokontriksi Vasodilatasi

Tekanan darahNa

Recommended

View more >