bab 1 daftar pustaka

Download Bab 1 Daftar Pustaka

Post on 14-Jul-2016

13 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

lapkas anestesi rsu cut meutia

TRANSCRIPT

28

BAB 1PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Indeks masa tubuh (IMT) dapat ddipakai sebagai indeks sederhana untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas. Hal ini didefinisikan sebagai berat badan seseorang dalam kilogram dibagi kuadrat tinggi badan meter, jika IMT lebih besar atau sama dengan 30 dapat dikategorikan sebagai obesitas (WHO, 2015). Obesitas merupakan masalah kesehatan utama dengan konsekuensi yang jelas seperti peningkatan risiko penyakit arteri koroner, hipertensi, displidemia, diabetes melitus, penyakit kandung empedu, penyakit sendi degeneratif, obstructive sleep apnea (OSA), tromboemboli, mengurangi penyembuhan luka, dan gangguan sosial ekonomi dan psikososial (Dise, 2010). Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pada tahun 2014 lebih dari 1,9 miliar orang dewasa pada usia 18 tahun dan usia lebih tua mengalami kelebihan berat badan, dari jumlah tersebut lebih dari 600 juta mengalami obesitas. Sebagian besar populasi dunia tinggal di negara di mana kelebihan berat badan dan obesitas mengalami kematian lebih banyak dibandingkan dengan orang memiliki berat badan normal ataupun kurus (WHO, 2015). Depkes RI melaporkan bahwa prevalensi gemuk dan obesitas penduduk usia di atas 18 tahun pada tahun 2010 menunjukkan angka yang cukup tinggi, terdapat 21,7% penduduk usia di atas 18 tahun yang masuk golongan gemuk dan obesitas. Prevalensi gemuk dan obesitas lebih banyak diderita oleh perempuan, laki-laki memiliki prevalensi 16,3% sedangkan perempuan memiliki prevalensi 26,9%. Sementara untuk prevalensi kurus sebesar 12,6% dan prevalensi normal sebesar 65,8% (Depkes RI, 2011).Pasien obesitas menyajikan banyak tantangan untuk ahli anestesi dan ahli bedah. Setiap kali seorang pasien obesitas mengalami operasi bariatric (operasi penurunan berat badan) atau operasi non-bariatric, perubahan fisiologis dan mekanik pada pasien harus dipertimbangkan (Dise, 2010). Pada obesitas terjadi perubahan anatomi yang membuat manajemen jalan napas akan berbeda dengan mereka tanpa keadaan obesitas. Tindakan intubasi akan lebih sulit dan dibutuhkan peralatan dan teknik khusus. Obstructive sleep apnea (OSA) merupakan komordibitas yang serius dari obesitas yang sering diremehkan. Hal ini terkait dengan kesulitan ventilasi masker efektif, peristiwa hipoksemia, iskemia arteri koroner, aritmia dan kematian mendadak, yang semuanya dapat semakin berisiko pada obat bius. Periode pasca operasi, post ekstubasi merupakan waktu yang paling berbahaya karena sisa anestesi dan obat nyeri mengganggu pernapasan yang dapat menyebabkan hipoksia dan hiperkarbia, memperburuk obstruksi, dan mengarah pada hipoventilasi (Dority, Hassan & Chau, 2011).Ahli anastesi juga harus mempertimbangkan penanganan pada farmakokinetik dan famarkodinamik pada penderita obesitas. Berdasarkan berat badan total, terkadang dapat menyebabkan over dosis obat terhadap pasien. Sebaliknya, pemberian obat harus didasarkan pada berat badan ideal seseorang sehingga dosisnya mencapai dosis subterapetik. Selain itu, perubahan output jantung dan perubahan komposisi tubuh mempengaruhi distribusi sejumlah obat anestesi. Pengecualian pada antagonis neuromuskular, pengurangan skala dosis obat kebanyakan pada obat-obat anastesi opioid dan agen anestesi induksi. Meningkatnya kejadian obstruktif sleep apneu dan pengendapan lemak di dinding faring dan dada menyebabkan terjadinya risiko pernapasan yang buruk untuk agen anestesi, sehingga mengubah kerja dari farmakodinamik beberapa obat. Hal ini memberi tantangan pada anestesi umum untuk menggunakan induksi agen, opioid, inhalasi dan blocker neuromuscular secara efektif dan aman bagi pasien obesitas yang disertai gangguan lainnya (Ingrend and Lemmens, 2010).BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA2.1Obesitas

2.1.1Definisi dan klasifikasi obesitasObesitas didefinisikan sebagai suatu kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Obesitas dinilai dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan metode sederhana dan sangat baik untuk pengukuran langsung lemak tubuh(CDC, 2010).

Berdasarkan indeks masa tubuh, obesitas didefinisikan sebagai IMT >30 kg/m2. Obesitas morbid didefinisikan sebagai body mass index (BMI) >40 kg/m2 atau >35 kg/m2 dengan adanya penyakit penyerta (komorbid) yang terkait dengan obesitasnya (Reed, 2005). Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan refleksi dari presentase body fat mayoritas orang dewasa pada populasi besar dan universal. Walaupun begitu, tingkat akurasi IMT menurun jika digunakan pada pengukuran ibu hamil. Berikut ini adalah tabel klasifikasi IMT:Tabel 2.1 Klasifikasi berat badan berdasarkan IMT

KlasifikasiIMT

Berat badan kurang< 18,5

Berat badan normal18,5-24,9

Berat badan lebih>25

Pra obesitas25-29,9

Obesitas30

Obesitas tingkat I30-34,9

Obesitas tingkat II35-39,9

Obesitas tingkat III40

Sumber: WHO, 2015Beberapa modifikasi WHO yakni IMT 35,0 lebih dengan adanya satu atau lebih komorbiditas dimasukkan ke dalam obesitas kelas III. Untuk orang Asia, ukuran overweight adalah antara 23-29,9, obesitas adalah IMT >30. Literatur ilmu bedah membagi obesitas kelas III menjadi beberapa kategori (CDC, 2010):1. IMT > 40,0 dimasukkan ke dalam kategori obesitas berat (severe)

2. IMT 40,0-49,9 dimasukkan ke dalam kategori obesitas morbid3. IMT >50,0 dimasukkan ke dalam kategori obesitas super

Distribusi anatomi juga penting dalam menentukan risiko penyakit selain dari jumlah lemak. Pada tipe sentral atau distibusi android yang lebih sering terjadi pada laki-laki, lemak didistribusikan terutama di bagian tubuh atas dan mungkin berhubungan dengan penyimpanan lemak intraabdominal atau viseral. Tipe perifer atau ginekoid, lemak biasanya didistribusikan disekitar panggul, bokong, dan paha serta pola ini umumnya terjadi pada perempuan. Jaringan adiposa yang terletak disentral secara metabolik lebih aktif dibandingkan dengan lemak yang terdistribusi di perifer dan berhubungan dengan komplikasi metabolik seperti dislipidemia, intoleransi glukosa dan diabetes melitus, dan insiden kematian yang lebih tinggi karena penyakit jantung koroner. Pasien obesitas dengan tingginya proporsi lemak viseral lebih berisiko mengalami penyakit kardiovaskular, disfungsi ventrikel kiri, dan stroke. Hal ini disebabkan oleh jaringan adiposit dari intraabdomen secara metabolit lebih aktif yang membebaskan asam lemak bebas ke dalam sirkulasi sirkulasi portal. Asam lemak bebas dan radikal bebas mungkin secara langsung atau tidak langsung berperan dalam terjadinya aterosklerosis prematur dan penyakit serebrovaskular (Patidar, 2013).2.1.2Etiologi

Penyebab obesitas dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut (Depkes RI, 2012):

1. Faktor genetik

Faktor genetik diduga berperan tetapi tidak dapat menjelaskan terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas

2. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan terutama terjadi melalui ketidakseimbangan antara pola makan, perilaku makan, dan aktivitas fisik. Pola makan yang mencetus terjadinya kegemukan dan obesitas adalah mengkonsumsi makanan porsi besae (melebihi dari kebutuhan), makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat. Perilaku makan yang salah adalah tindakan memilih makanan berupa junk food, makanan dalam kemasan, dan minuman ringan. Kurangnya aktivitas fisik juga merupakan faktor penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas. Kemajuan teknologi berupa alat elektronik seperti video game, televisi, dan komputer menjadi penyebab seseorang malas melakukan aktivitas fisik. 2.1.3 Perubahan fisiologi pada pasien obesitas1. Sistem pernapasan

Berat badan dan meningkatnya BMI berhubungan dengan penurunan volume paru-paru. Peningkatan BMI menurunakan volume ekspirasi paksa 1 detik (FEV 1/ force expiratory volume 1 second), kapasitas fungsional residual (FRC/ fuctional residual capacity), dan volume cadangan ekspirasi (ERV/functional residual capacity). Obesitas tipe sentral dikaitkan dengan memburuknya fungsi paru-paru dan gejala pernapasan. Kelebihan berat badan pada dinding dada anterior akibat dari obesitas dapat menurunkan compliance dinding dada dan daya tahan otot pernapasan. Penumpukan jaringan adiposa di dinding perut anterior dan jaringan viseral perut akan menghalangi gerakan diafragma, mengurangi ekspansi paru selama inspirasi, hal ini akan menyebabkan kelainan ventilasi-perfusi dan hipoksemia arteri. Perubahan ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan prevalensi masalah pernapasan pada pasien obesitas, terutama dalam posisi terlentang saat tidur dan perioperatif selama anestesi. Obesitas memegang peran dalam terjadinya obstructive sleep apnoe dan sindrom hipoventilasi obesitas (Zammit, Liddicoat, Moonsie, & Makker, 2010).Obstructive sleep apnoe (OSA) ditandai dengan apnea obstruktif berulang karena saluran napas atas kolaps saat tidur. Hal ini menyebabkan desaturasi oksigen nokturnal dan mengantuk berlebihan pada siang hari. Kondisi ini dapat diobati dengan penerapan continious positive airways pressure (CPAP) melalui masker wajah atau hidung saat pasien tidur. Obesity hypoventilation syndrome (OHS) merupakan kondisi kegagalan pernapasan yang berhubungan dengan obesitas. Pasien OHS sering memiliki BMI yang lebih tinggi dan hiperkapnea lebih parah pada siang hari dibandingkan dengan OSA. Desaturasi oksigen nokturnal lebih besar dan sering terjadi. Hal ini menyebabkan kecenderungan aktivasi simpatik, peningkatan stres oksidatif, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini diperparah oleh adanya sindrom metabolit. Hipoksemia kronis pada siang hari dan hiperkapnea pada OHS dikaitkan dengan risiko tinggi hipertensi pulmonal, gagal