daftar pustaka tahunan

Download Daftar Pustaka Tahunan

Post on 20-Feb-2016

4 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

XXX

TRANSCRIPT

Karakteristik tanah sulfat masam antara lain, yaitu:

Ciri Utama Karakteristik

LokasiKurang dari 5 (lima) meter di atas permukaan laut, umumnya pada sedimen marin, sering dijumpai di kawasan pasang surut.

Tanah- Warna tanah asal abu-abu tetapi dengan cepat jika tersingkap berubah menjadi kehitaman.

- Ada bercak warna kuning pada tanah.

- Ada bau belerang jika tanah diangkat ke permukaan.

Vegetasi- Ada vegetasi alami seperti purun dan mangrove, sedangkan tanaman lain pertumbuhannya tidak baik.

Air- Ada warna karat pada air di saluran pembuangan

- Air sungai berwarna biru kehijauan

Wahyono, T., L. Buana, Djafar dan D. Siahaan. 2004. Ekonomi investasi pabrik kelapa sawit. Dalam Tinjauan Ekonomi Industri Kelapa sawit.

Wiratmoko, D., Winarno, S., Rahutomo, dan H.Santoso. 2008. Karakteristik gambut topogen dan ombrogen di Kabupaten Labuhan batu Sumatera Utara untuk Budidaya tanaman kelapa sawit. Jurnal Penelitian Kelapa sawit 16 (3):119-126.

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 2007. Road Map Kelapa sawit. Ditjenbun. Jakarta.BPS (Badan Pusat Statistik). 2010. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Sabiham, S. 1988. Studies on peat in the coastal plains of Sumatra and Borneo. PhD Dissertation. Kyoto University, Kyoto, Japan.

Permentan.2009. Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa SawitHardjowigeno, S. 1987. Suitability of Peat Soil of Sumatra for Agricuture Development. International Peat Society Sysposium on Tropical Peat and Peatland for Develop-ment. Yogyakarta 9-14 Febreuari 1987.

Hardjowigeno S. 1989. Sifat-sifat dan Potensi Tanah Gambut Sumatra untuk Pengem-bangan Pertanian. Prosiding Seminar Tanah Gambut untuk perluasan Pertani-an. Medan 27 Nopember 1989, halaman 43-79. Fakultas pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, MedanSabiham, S. 2000. Kadar air kritis gambut Kalimnantan Tengah dalam kaitannya dengan kejadian kering tidak balik (Critical water content of the Central Kalimantan peats in relation to the process of irreversible drying). J. Tanah Trop. 11:21-30

Andriesse, J.P. 1974. Tropical Lowland peats in South East Asia. Comm. No. 63. Royal Tropical Istitute. Amsterdam.

Andriesse, J.P. 1994. Constraints and oppor-tunities for alternatives uses options of tropical peatland. In B.Y Aminiddin (Ed.). Tropical Peat: Proceedings of Intern Symp. On Trop. Peatland, 6-10 may 1991, Kucing Sarawak, Malaysia.Silvola, J., Valijoki, J. And Aaltonen, H. 1985. Effect of draining and fertilization on soil respiration at three ameliorated peatland site. Acta For. Fem. 191:1-32.

Ambak, K. and Melling, L. 2000. Management practices for sustainable cultivation of crop plantation on tropical peatlands. Proc. of The Internatonal Symposium on Tropical Peatlands, 22-23 Nopember 1999. Bogor, Indonesia, p. 119.

Agus, F., Gunarso, P., Sahardjo, B.H., Joseph, K.T., Rashid, A., Hamzah, K., Harris, N., and van Noordwijk, M. 2011. Strategies for CO2 emission reduction from land use changes to oil palm plantations in Indonesia, Malaysia and Papua New Guinea. RSPO, Kuala Lumpur. Presented at the Rountable 9 of the Roundtable on Sustainabe Palm Oil, Kota Kinabalu, Malaysia

Djaenudin, D., H. Marwan, H. Subagjo, dan A. Hidayat. 2000. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian. Balai Penelitian Tanah. Bogor.

Noor M. 2010. Lahan Gambut: Pengembangan, konservasi dan perubahan iklim. Gadjah-mada University Press. Yogyakarta.

Potensi dan Pengelolaan Lahan Gambut untuk Kelapa SawitPosted byFlora SawitaPotensi lahan gambutWalaupun biaya investasi untuk perkebunan Kelapa Sawitdi lahan Gambut lebih mahal, namun Kelapa Sawit terus ditanam di lahan Gambut di Indonesia. Disamping itu pengembangan kebun Kelapa Sawit di lahan Gambut juga telah menjadi issue lingkungan yang menarik perhatian masyarakat dunia dan juga menyebabkan berbagai dampak sosial. Sebagai penyebab utama terjadinya Deforestrasi dan degradasi, dianggap oleh kalangan environmentalis adalah karena luasnya pembangunan perkebunan di lahan Gambut.Best Management Practice untuk perkebunan kelapa sawit di lahan Gambut diawali dengan pemilihan lokasi yang tepat dan pelaksanaan analisa mengenai dampak lingkungan dengan seksama. Selain daripada itu :Para pekebun harus telah memahami dengan baik pengetahuan tentang Jenis dan karakteristik Gambut yang sesuai atau tidak sesuai untuk ditanami dengan kelapa sawit.Para pekebun harus memahami tentang Pengelolaan Tata Air yang efektif dan Pengelolaan Pemupukan di lahan Gambut sertaIntegrated Pest Management.Masih sangat besar peluang dan tantangan untuk membangun perkebunan kelapa sawit di lahan Gambut, dan sepanjang semua itu dilaksanakan melalui proses pengkajian dan ke hati hatian serta proses pelatihan tentang gambut maka seyogyanya pembangunan tersebut tidak akan menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial secara luas.GambutPembentukan gambutBerdasarkan proses pembentukannya, terdapat dua jenisgambut diwilayah tropis, yakni Obrogen dan Topogen.Pembentukan tanah gambut merupakan prosesGeogenikyaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum mati, sedangkan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan prosesPedogenik.Tanaman yang mati dan melapuk secara bertahap membentuk lapisan yang kemudian menjadi lapisan transisi antara lapisan gambut dengan substratum (lapisan di bawahnya) berupa tanah mineral. Tanaman berikutnya tumbuh pada bagian yang lebih tengah dari danau dangkal ini dan secara membentuk lapisan-lapisan gambut sehingga danau tersebut menjadi penuh (Gambar 1 dan 2).Bagian gambut yang tumbuh mengisi danau dangkal tersebut disebut dengan gambut topogen karena proses pembentukannya disebabkan oleh topografi daerah cekungan. Gambut topogen biasanya relatif subur (eutrofik) karena adanya pengaruh tanah mineral. Bahkan pada waktu tertentu, misalnya jika ada banjir besar, terjadi pengkayaan mineral yang menambah kesuburan gambut tersebut. Tanaman tertentu masih dapat tumbuh subur di atas gambut topogen. Hasil pelapukannya membentuk lapisan gambut baru yang lama kelamaan memberntuk kubah (dome) gambut yang permukaannya cembung (Gambar 3). Gambut yang tumbuh di atas gambut topogen dikenal dengan gambut ombrogen, yang pembentukannya ditentukan oleh air hujan. Gambut ombrogen lebih rendah kesuburannya dibandingkan dengan gambut topogen karena hampir tidak ada pengkayaan mineral.Gambar berikut adalah ilustrasi dari Proses pembentukan gambut di daerah cekungan lahan basah: 1.Pengisian danau dangkal oleh vegetasi lahan basah, 2. Pembentukan gambut topogen, dan 3. pembentukan gambut ombrogen di atas gambut topogen (Noor, 2001 mengutip van de Meene, 1982).Gambar 1. Pengisian danau dangkal oleh vegetasi lahan basah

Gambar 2. Pembentukan gambut topogen

Gambar 3. Pembentukan gambut ombrogen di atas gambut topogen

Klasifikasi gambutSecara umum dalam klasifikasi tanah, tanah gambut dikenal sebagai Organosol atau Histosols yaitu tanah yang memiliki lapisan bahan organik dengan berat jenis (BD) dalam keadaan lembab < 0,1 g cm-3dengan tebal > 60 cm atau lapisan organik dengan BD > 0,1 g cm-3dengan tebal > 40 cm (Soil Survey Staff, 2003).Gambut diklasifikasikan lagi berdasarkan berbagai sudut pandang yang berbeda; dari Tingkat Kematangan, Kedalaman, Kesuburan dan Posisi Pembentukannya.Tingkat Kematangan GambutBerdasarkan tingkat kematangannya, gambut dibedakan menjadi :Gambut Saprik(matang) adalah gambut yang sudah melapuk lanjut dan bahan asalnya tidak dikenali,Berwarna coklat tua sampai hitam, dan bila diremas kandungan seratnya < 15%.Gambut Hemik(setengah matang) (Gambar 2, bawah) adalah gambut setengah lapuk, sebagian bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarma coklat, dan bila diremas bahan seratnya 15 75%.Gambut Fibrik(mentah) (Gambar 2, atas) adalah gambut yang belum melapuk, bahan asalnya masih bisa dikenali, berwarna coklat, dan bila diremas >75% seratnya masih tersisa.Tingkat Kesuburan GambutBerdasarkan tingkat kesuburannya, gambut dibedakan menjadi:Eutrofikadalah gambut yang subur yang kaya akan bahan mineral dan basa-basa serta unsur hara lainnya. Gambut yang relatif subur biasanya adalah gambut yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut.Mesotrofikadalah gambut yang agak subur karena memiliki kandungan mineral dan basa-basa sedangOligotrofikadalah gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan basa-basa. Bagian kubah gambut dan gambut tebal yang jauh dari pengaruh lumpur sungai biasanya tergolong gambut oligotrofikGambut di Indonesia sebagian besar tergolong gambut mesotrofik dan oligotrofik (Radjagukguk, 1997). Gambut eutrofik di Indonesia hanya sedikit dan umumnya tersebar di daerah pantai dan di sepanjang jalur aliran sungai.Tingkat kesuburan gambut ditentukan oleh kandungan bahan mineral dan basa-basa, bahan substratum/dasar gambut dan ketebalan lapisan gambut. Gambut di Sumatra relatif lebih subur dibandingkan dengan gambut di Kalimantan.Lingkungan Pembentukan GambutBerdasarkan lingkungan pembentukannya, gambut dibedakan atas:Gambut ombrogen yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya dipengaruhi oleh air hujanGambut topogen yaitu gambut yang terbentuk di lingkungan yang mendapat pengayaan air pasang.Dengan demikian gambut topogen akan lebih kaya mineral dan lebih subur dibandingkan dengan gambut ombrogen.Kedalamam GambutBerdasarkan kedalamannya gambut dibedakan menjadi:Gambut Dangkal (50 100 Cm),Gambut Sedang (100 200 Cm),Gambut Dalam (200 300 Cm), DanGambut Sangat dalam (> 300 cm)Lokasi PembentukanBerdasarkan proses dan lokasi pembentukannya, gambut dibagi menjadi:Gambut pantai adalah gambut yang terbentuk dekat pantai laut dan mendapat pengayaan mineral dari air lautGambut pedalaman adalah gambut yan