laporan akhir praktikum farmakologi

Download Laporan Akhir Praktikum Farmakologi

Post on 09-Jan-2016

67 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan faarmakologi

TRANSCRIPT

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

PERCOBAAN KE 3

ANALGETIK

Disusun oleh:

Golongan II Kelompok 3

Nama Anggota Kelompok:

1. Ratna Mutiara(G1F013017)

2. Triana Dewi(G1F013019)

3. Desi Purnamasari(G1F013021)

4. Ira Yuliana(G1F013025)

5. Nurul Kamilah S(G1F013027)

Tanggal Praktikum

: 14 Mei 2014

Nama Dosen Pembimbing: Bu Hanif Nasiatul B, M.Sc., AptNama Asisten Praktikum: Galih dan Aria

LABORATORIUM FARMASI KLINIK

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS NEGERI JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2014

ANALGESIK

PERCOBAAN KE 3

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nyeri adalah suatu gejala yang berfungsi untuk melindungi dan memberikan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan pada tubuh; seperti peradangan, infeksi-infeksi kuman, dan kejang otot. Sehingga sesungguhnya rasa nyeri berguna sebgai alarm bahwa ada yang salah pada tubuh. Mediator nyeri antara lain: histamin, serotonin, plasmakinin-plasmakinin, prostaglandin-prostaglandin, ion-ion kalium. Zat-zat ini merangsang reseptor- reseptor nyeri pada ujung saraf bebas di kulit, selaput lendir,dan jaringan, lalu dialirkan melalui saraf sensoris ke susunan syaraf pusat ( SSP ) melalui sumsum tulang belakang ke talamus dan ke pusat nyeri di otak besar ( rangsangan sebagai nyeri ).

Analgesik merupakan senyawa yang pada dosis terapetik meringankan atau menekan rasa nyeri tanpa memiliki kerja anastesi umum. Kerja masing-masing macam analgesic berbeda-beda, sesuai dengan golongan masing-masing analgesic. Dalam laporan ini akan dibahas berapa macam obat analgesic, bagaimana mekanisme obat analgesic bekerja, dan bagaimana cara menguji daya analgesic.B. Tujuan Percobaan

Mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan daya analgetika asetosal dan parasetamol menggunakan metode rangsang kimia

C. Dasar Teori

Analgetika merupakan suatu senyawa atau obat yang dipergunakan untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri (diakibatkan oleh berbagai rangsangan pada tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi dan fisis sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti brodikinin dan prostaglandin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak). Analgesic, baik nonnarkotik maupun narkotik, diresepkan untuk meredakan nyeri, pilihan obat tergantung dari beratnya nyeri. Nyeri yang ringan sampai sedang dari otot rangkat dan sendi seringkali diredakan dengan pemakaian analgesic nonnarkotik. Nyeri yang sedang sampai berat pada otot polos, organ, dan tulang biasanya membutuhkan analgesic narkotik ( Kee dan Hayes, 1996).Ada lima klasifikasi dan jenis nyeri : (Kee dan Hayes

1. Nyeri akut, yang dapat ringan, sedang, atau berat.

2. Nyeri kronik

3. Nyeri superfisial

4. Nyeri somatic (tulang, otot rangka, dan sendi)

5. Nyeri visceral, atau nyeri dalam

(Kee dan Hayes,Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok yaitu:

1. Analgetik Sentral (narkotik) Analgesic narkotik, disebut juga agonis narkotik, diresepkan untuk mengatasi nyeri yang sedang sampai berat. Analgetik narkotik dapat menghilangkan nyeri dari derajat sedang sampai hebat (berat), seperti karena infark jantung, operasi (terpotong),viseral ( organ) dan nyeri karena kanker.Analgetik narkotik merupakan turunan opium yang berasal dari tumbuhan Papaver somniferum atau dari senyawa sintetik. Analgetik inidigunakan untuk meredakan nyeri sedang sampai nyeri hebat dan nyeriyang bersumber dari organ viseral. Penggunaan berulang dan tidak sesuaiaturan dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Toleransi ialah adanya penurunan efek, sehingga untuk mendapatkan efek seperti semula perlu peningkatan dosis. Karena dapat menimbulkan ketergantungan, obat golongan ini penggunaannya diawasi secara ketat dan hanya untuk nyeri yang tidak dapat diredakan oleh AINS. Nyeri minimal disebabkan oleh dua hal, yaitu iritasi lokal( menstimuli saraf perifer) dan adanya persepsi (pengenalan) nyeri oleh SSP. Pengenalan nyeri bersifat psikologis terhadap adanya nyeri lokal yang disampaikan ke SSP. Analgetik narkotik mengurangi nyeri dengan menurunkan persepsi nyeri atau menaikan nilai ambang rasa sakit.

Analgesic narkotik bekerja terutama pada system saraf pusat. Narkotik tidak hanya menekan rangsang nyeri tetapi juga menekan pernapasan dan batuk dengan bekerja pada pusat pernapasan dan batuk pada medulla di batang otak. Banyak narkotik mempunyai efek antitusif dan antidiare, selain dari kemampuannya meredakan nyeri. Analgetik narkotik tidak memperngaruhi saraf perifer, nyeri tetap ada tetapi dapat diabaikan atau pasien dapat mentorerirnya. Untuk mendapatkan efek yang maksimal analgetik narkotik harus diberikan sebelum tindakan bedah. Semua analgetik narkotik dapat mengurangi nyeri yang hebat, tetapi potensionzet dan efek sampingnya berbeda-beda secara kualitatif maupun kuantitatif. Efek samping yang paling sering adalah mual, muntah, konstipasi, dan ngantuk. Dosis yang besar dapat menyebabkan hipotensi serta depresi pernapasan. Morfin dan petidin merupakan analgetik narkotik yang paling banyak dipakai untuk nyeri hebat walaupun menimbulkan mual dan muntah. Obat ini di indonesia tersedia dalam bentuk injeksi dan masih merupakan standar yang digunakan sebagai pembanding bagi analgetik narkotik lainnya. Selain menghilangkan nyeri morfin dapat menimbulkan euforia dan gangguan mental. Berikut adalah contoh analgetik narkotik yang sampai sekarang masih digunakan di Indonesia :

- MorfinHCl

- Kodein

- Fentanil HCl

- Petidin dan

- Tramadol

NARKOTIKDOSISPEMAKAIAN DAN PERTIMBANGAN PEMAKAIAN

MorfinIM, IV:5-15 mg, setiap 4 jam, PRNNarkotik kuat untuk nyeri yang berat. Morfin IV diberikan untuk meredakan nyeri jantung akibat infark miokardium. Dapat menimbulkan depresi pernapasan, ketergantungan fisik, hipotensi ortostatik, dan konstipasi. Dapat menyebabkan mual dan muntah akibat bertambahnya kepekatan vestibuler.

Kodein15-60 mg, setiap 4-6 jam, PRNEfektif untuk nyeri yang ringan sampai sedang. Dapat dipakai bersama nonnarkotik (asetaminofen) untuk meredakan nyeri. Mempunyai efek antitusif. Dapat memperlambat pernapasan, dan ketergantungan fisik serta konstipasi.

HodromorfonPO, SK, IM, IV, dan per rektal:2-4 mg, setiap 4-6 jam, PRN Untuk nyeri yang berat . narkotik kuat, 5-10 kali lebih kuat daripada morfin. Dapat memperlambat pernapasan, mungkin menimbulkan konstipasi. Efektif dalam mengendalikan nyeri pada kanker terminal.

Oksikodon (Percotet, Percoden)PO: 5MG, SETIAP 4-6 JAM, PRNUntuk nyeri sedang sampai berat. Percotet mengandung asetaminofen: Percodan mengandung aspirin dan dapat menimbulkan iritasi lambung, sehingga harus dipakai bersama dengan makanan atau dengan banyak cairan.

Levorfanol tartrat (Levo-Dromoran)PO, SK: 2 mg, setiap 6-8 jam, PRNUntuk nyeri yang sedang sampai berat. Mempunyai efek samping yang serupa dengan morfin

Meperidin (Demerol)PO, IM: 50-100 mg, setiap 3-4 jam, PRNUntuk nyeri yang sedang. Dapat menurunkan tekanan darah dan menimbulkan pusing. Pada cedera kepala, dapat meningkatkan tekanan intracranial.

Propoksifen (Darvon)65 mg (berbeda-beda)Untuk nyeri yang ringan. Analgesic lemah. Senyawa Darvon mengandung aspirin, dan Darvocet-N mengandung asetaminofen. Tidak menimbulkan konstipasi; sedikit efeknya dalam menimbulkan ketergantungan fisik.

(Kee dan Hyes, 1996)2. Analgetik Perifer (non narkotik) Analgesic nonnarkotik tidak bersifat adiktif dan kurang dibandingkan dengan analgesic narkotik. Obat-obat ini dipakai untuk mengobati nyeri yang ringan sampai sedang dan dapat dibeli bebas. Obat-obat ini efektif untuk nyeri tumpul pada sakit kepala, dismenore (nyeri menstruasi), nyeri pada inflamasi, abrasi minor, nyeri otot, dan arthritis ringan sampai sedang. Kebanyakan dari analgesic menurunkan suhu tubuh yang meningkat, sehingga mempunyai efek antipiretik. Beberapa analgesic seperti aspirin, mempunyai efek antiinflamasi dan juga efek antikoagulan (Kee dan Hayes,

Analgetik non narkotik berasal dari golongan antiinflamasi nonsteroid (AINS) yang menghilangkan nyeri ringan sampai sedang. Disebut AINS karena selain sebagai analgetik, sebagai anggotanya mempunyai efek antiinflamasi dan penurun panas (antipiretik) dansecara kimiawi bukan steroid. Oleh karena itu, AINS sering disebut(Analgetik, antipiretik dan antiinflamasi ) atau 3A.Beberapa AINS hanya berefek analgetik dan antipiretik sedangkan yang lain ada yang mempunyai efek analgetik, anti inflamasidan anti piretik. Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang berperan dalam mengatur nyeri dan temperatur. AINS secara selektif dapat mempengaruhi hipotalamus menyebabkan penurunan suhu tubuhketika demam.Mekanismenya kemungkinan menghambat sintesis prostaglandin (PG) yang menstimulasi SSP. PG dapat meningkatkanaliran darah ke perifer (vasodilatasi) dan berkeringat sehingga panas banyak keluar dari tubuh. Efek analgetik timbul karena mempengaruhi baik di hipotalamus atau ditempat cedera. Respon terhadap cederaumumnya berupa inflamasi, udem, serta pelepasan zat aktif seperti brandikinin, PG dan histamin. PG dan Brandikinin menstimulasi ujung saraf perifer dengan membawa implus nyeri ke SSP. AINS dapat menghambat sintesis PG dan brandikinin sehingga menghambat terjadinya perangsangan reseptor nyeri. Obat-obat yang banyak digunakan sebagai analgetik dan antipiretik adalah golongan salisilat dan asetaminofen (parasetamol). Aspirin adalah penghambat sintesis PG paling efektif dari golongan salisilat. Antipiretik yang banyak digunakan dan dianjurkan adalah parasetamol, ibuprofen, dan aspirin (asetosal).

Obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAIDs) merupakan sua