dampak pertambahan penduduk

100

Upload: dimashpamungkas

Post on 16-Dec-2015

49 views

Category:

Documents


2 download

DESCRIPTION

Laporan Edit

TRANSCRIPT

  • Daftar Isi | ii

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    DAFTAR ISI

    DAFTAR ISI ___________________________________________ ii

    BAB I PENDAHULUAN _________________________________ I.1

    I.1 Latar Belakang .................................................................................. I.1

    I.2 Tujuan Kajian .................................................................................. I.11

    I.3 Manfaat Kajian ................................................................................ I.12

    BAB II TINJAUAN AKADEMIK KAJIAN ___________________ II.1

    II.1 Faktor-Faktor Pertambahan Penduduk ............................................... II.2

    II.1.1 Kematian ..................................................................................... II.3

    II.1.2 Kelahiran (Natalitas) .................................................................... II.4

    II.1.3 Migrasi ........................................................................................ II.5

    II.2 Akses Pangan .................................................................................. II.5

    II.3 Kemiskinan ...................................................................................... II.9

    II.3.1 Klasifikasi Kemiskinan ................................................................. II.11

    II.3.2 Ciri Kehidupan Masyarakat di Bawah Garis Kemiskinan ................. II.14

    II.3.3 Faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan ......................... II.16

    II.4 Usaha Pengentasan Kemiskinan ...................................................... II.21

    BAB III METODE PENELITIAN __________________________ III.1

    III.1 Metode Analisis Data ....................................................................... III.1

    III.1.1 Uji Asumsi Klasik Regresi Linier Berganda ................................. III.5

    III.1.2 Uji Heteroskedasitisitas ........................................................... III.5

    III.1.3 Uji Multikolinieritas .................................................................. III.6

    III.1.4 Uji Autokorelasi ....................................................................... III.6

  • Daftar Isi | iii

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI SUMATERA UTARA ____ IV.1

    IV.1 Demografi ....................................................................................... IV.1

    IV.2 Ketersediaan Pangan di Sumatera Utara ........................................... IV.7

    IV.2.1 Ketersediaan Beras Perkapita Perhari ........................................... IV.7

    IV.3 Program Beras untuk keluarga miskin (Raskin) .................................. IV.9

    IV.4 Produk Domestik Regional Bruto Perkapita Sumatera Utara ............ IV.12

    IV.5 Persentase Penduduk yang Tidak Tamat SD .................................... IV.14

    BAB V HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN __________________ V.1

    V.1 Pertumbuhan Penduduk di Sumatera Utara ........................................ V.1

    V.2 Akses Pangan di Sumatera Utara ....................................................... V.5

    V.2.1 Akses Fisik ................................................................................... V.6

    V.2.2 Akses Ekonomi ............................................................................ V.8

    V.2.3 Akses Sosial ................................................................................ V.11

    V.3 Analisa Dampak Pertambahan Penduduk, Akses pangan dan Usaha

    Pengentasan Kemiskinan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Sumatera

    Utara. ............................................................................................. V.14

    V.3.1 Uji Kenormalan Data ................................................................... V.14

    V.3.2 Analisa Regresi ........................................................................... V.15

    V.3.3 Uji Hipotesis ............................................................................... V.21

    V.3.4 Uji Parsial (uji t) .......................................................................... V.22

    V.3.5 Uji Asumsi Klasik ......................................................................... V.25

    V.4 Implementasi Kebijakan ................................................................... V.26

    V.4.1 Kebijakan Kependudukan dan Kesejahteraan ................................ V.26

    V.4.2 Kebijakan Pangan ....................................................................... V.28

    V.4.3 Kebijakan Raskin ......................................................................... V.31

    BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN _______________________ VI.1

    VI.1 Kesimpulan ..................................................................................... VI.1

  • Daftar Isi | iv

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    VI.2 Saran ............................................................................................. VI.2

    DAFTAR PUSTAKA _____________________________________ 1

  • Pendahuluan | I.1

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1 Latar Belakang

    Jumlah penduduk Sumatera Utara dari tahun ke tahun terus

    mengalami peningkatan meskipun laju pertumbuhannya tidak terus

    meningkat dari laju pertumbuhan tahun sebelumnya. Pertambahan

    jumlah penduduk identik dengan pertambahan jumlah penduduk

    miskin,dan kesulitan memperoleh pangan.

    Variabel-variabel dalam problema kependudukan sangatlah

    kompleks, meliputi penduduk itu sendiri, kemiskinan, kesempatan

    kerja, permukiman, kesehatan, gizi pendidikan, kejahatan,

    pencemaran lingkungan, krisis ekonomi, kelaparan, sandang, air

    bersih, kebodohan, keterbelakangan, fasilitas umum, dan fasilitas

    sosial. Nyaris faktor kepadatan penduduk menjadi pangkal segala

    problematika kehidupan manusia itu sendiri.

    Berdasarkan Badan Pusat Statistik Sumatera Utara tahun

    2000-2010 diperoleh laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,22 %

    pertahun. Angka ini lebih kecil jika dibandingkan dengan laju

    pertumbuhan penduduk tahun 1990-2000 yang sebesar 1,32 %,

    Jauh dibawah dari pertumbuhan penduduk nasional yaitu 1,43

    persen. Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, adalah

  • Pendahuluan | I.2

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    termasuk tiga kabupaten/kota dengan urutan teratas yang

    memiliki jumlah penduduk terbanyak. Pertumbuhan penduduk

    tersebut bisa berdampak luas pada sektor pembangunan dan

    berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk pertumbuhan

    ekonomi (Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2010).

    Banyak ahli ekonomi yang telah mengemukakan pendapat

    mereka mengenai masalah kesejahteraan masyarakat dan

    menjadi perdebatan diantara mereka sendiri. Beberapa di antara

    mereka ada yang mendukung teori korelasi antara penduduk dan

    pembangunan, namun ada juga diantara mereka yang

    mengasumsikan ini adalah sebuah pembalikan fakta terhadap

    kegagalan ekonomi yang ada.

    Silalahi (2011) penduduk apabila tidak ada pembatasan,

    akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat

    beberapa bagian dari permukaan bumi ini. Isu kependudukan telah

    lama menjadi permasalahan global,Malthus berpendapat bahwa

    pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkendali merupakan

    ancaman besar bagi negara. Dalam karyanya Essay on the

    principle of population (esai tentang prinsip-prinsip populasi),

    Malthus mengatakan bahwa jumlah penduduk meningkat tidak

    terkendali mengikuti barisan ukur (1, 2, 4, 8, dan seterusnya)

    sedangkan produksi pangan bertambah menurut barisan hitung (1,

    2, 3, 4, dan seterusnya) sehingga diprediksi manusia akan

  • Pendahuluan | I.3

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    mengalami kekurangan pangan tidak mampu mencukupi ledakan

    penduduk.

    Prediksi akan terjadinya krisis pangan tidak hanya di

    Indonesia tetapi di seantero dunia, harus dapat disikapi

    tidak hanya oleh pemerintah pusat saja, akan tetapi lebih

    kepada pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten/kota di

    seluruh Indonesia. Dalam hal ini justru sebenarnya

    pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota

    seharusnya dari sejak dini sudah mengambil langkah-

    langkah kebijakan untuk mengantisipasi krisis pangan

    tersebut. Berdasarkan berita waspada 14 Agustus 2010,

    Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang masuk dalam

    kategori kerawanan pangan. Sebab masih banyak masyarakat

    Sumut yang mengkonsumsi beras cukup tinggi.

    Ketidakseimbangan pertambahan penduduk dengan

    pertambahan produksi pangan ini sangat mempengaruhi keadaan

    lingkungan hidup, dimana lingkungan hidup diperas dan dikuras

    untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pertumbuhan penduduk yang

    cepat dan jumlah yang makin besar akan menggerus sumber yang

    tersedia. Jumlah penduduk yang terus meningkat menuntut

    ketersediaan sumber daya secara memadai dan berkelanjutan. Bila

    sumber daya tak mencukupi untuk dikonsumsi, hal itu akan

  • Pendahuluan | I.4

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    melahirkan kelangkaan yang mengarah pada perebutan sumber

    daya di antara penduduk yang dapat memicu konflik.

    Ancaman paling nyata adalah meningkatnya kemiskinan,

    terutama bila laju pertumbuhan penduduk tidak dibarengi

    kemampuan menyediakan kebutuhan dasar: pangan, sandang,

    papan. Logika pemikiran ini sangat dipengaruhi mazhab Malthusian

    yang berhipotesis bahwa pertumbuhan penduduk bergerak secara

    eksponensial (cepat), sementara sumber daya pendukung,

    terutama pasokan kebutuhan dasar,bergerak secara aritmetikal

    (lambat).

    Hipotesis lanjutan Malthus dapat diringkas dalam rumusan

    berikut: pertumbuhan penduduk berkorelasi positif dengan

    pendapatan per kapita. Namun, pertumbuhan penduduk pada

    akhirnya akan menurunkan pendapatan sehingga tidak semua

    orang memperoleh bagian kekayaan secara merata.Selain itu,

    penduduk yang berjumlah besar niscaya mengonsumsi sumber

    daya yang besar pula,padahal daya dukung sumber daya terbatas

    sehingga penduduk akan terjebak pada perangkap kemiskinan.

    Pertumbuhan penduduk yang tak terkendali merupakan pangkal

    utama kemiskinan.

    Prediksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO)

    menyebutkan, pada tahun 2015 dunia akan semakin berkecukupan

    dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Diramalkan, pertumbuhan

  • Pendahuluan | I.5

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    penduduk mencapai 1,3 persen, sementara pertumbuhan produksi

    pangan 3,5 persen. Namun, ironisnya prediksi FAO juga

    menyatakan pada tahun 2015 kelaparan akan menimpa sekitar

    500 juta penduduk dunia karena produksi dikuasai oleh negara-

    negara maju, sementara negara-negara berkembang termasuk

    Indonesia, menjadi konsumennya. Permasalahan ketahanan

    pangan dan kemiskinan yang masih melilit adalah dua masalah

    krusial yang dihadapi bangsa ini dan jika dikaji lebih jauh, kedua

    masalah tersebut memiliki keterkaitan yang secara simultan harus

    diatasi (Lesmana, 2007)

    Kemiskinan sering dipahami sebagai keadaan kekurangan

    uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Kemiskinan

    dapat diartikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi

    berbagai kebutuhan seperti pangan, perumahan, pakaian,

    pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Kemiskinan adalah suatu

    kondisi yang dialami seseorang atau kelompok orang yang tidak

    mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang

    dianggap manusiawi (Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, 2002).

    Kemiskinan sering menjadi topik yang dibahas dan

    diperdebatkan dalam berbagai forum baik nasional maupun

    internasional, walaupun kemiskinan itu sendiri telah muncul

    ratusan tahun yang lalu. Kemiskinan merupakan suatu keadaan

    yang sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan

  • Pendahuluan | I.6

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    kekurangan dalam berbagai keadaan hidup. Perkembangan kondisi

    kemiskinan di suatu negara secara ekonomis merupakan salah satu

    indikator untuk melihat perkembangan tingkat kesejahteraan

    masyarakat. Oleh karenanya, dengan semakin menurunnya tingkat

    kemiskinan yang ada maka dapat disimpulkan meningkatnya

    kesejahteraan masyarakat di suatu negara (Hudayana, 2009).

    Permasalahan kemiskinan merupakan salah satu persoalan

    mendasar yang terus dihadapi di sejumlah daerah di Indonesia,

    tidak terkecuali Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan berita resmi

    statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara

    jumlah dan persentase penduduk miskin di Sumatera Utara pada

    periode 1999-2011 berfluktuasi dari tahun ke tahun.Untuk lebih

    jelas mengenai jumlah dan presentase penduduk di Sumatera

    Utara tahun 1999-2011, dapat dilihat dalam Tabel 1 di bawah ini

  • Pendahuluan | I.7

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Tabel 1 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Sumatera Utara

    Tahun 1999 2011

    BULAN Tahun Jumlah Persentase (Ribu jiwa) %

    Februari 1999 1972,7 16,78 Februari 2002 1883,9 15,84 Februari 2003 1889,4 15.89 Maret 2004 1800,1 14,93 Juli 2005 1840,2 14,68 Mei 2006 1979,7 15,66 Maret 2007 1768,4 13,90 Maret 2008 1613,8 12,55 Maret 2009 1499,7 11,51 Maret 2010 1490,9 11,31 Maret 2011 1481,3 11,33 September 2011 1421,4 10.38

    Sumber : Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas)

    Dari tabel di atas dapat kita lihat jumlah dan presentase

    penduduk miskin di Sumatera Utara terus mengalami penurunan

    hingga tahun 2005, akan tetapi pada bulan Mei 2006 jumlah dan

    persentase penduduk miskin kembali naik dan mencapai 1979,7

    ribu jiwa (15,66%). Jumlah ini kembali turun pada bulan Maret

    2007, dan terus menurun dari tahun ke tahun hingga pada

    September 2011 persentase penduduk miskin menjadi 10,38 %.

    Angka ini sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk Sumatera

    Utara yang juga menurun dan berbanding terbalik dengan jumlah

  • Pendahuluan | I.8

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    penduduk Sumatera Utara yang terus bertambah dan sulitnya

    masyarakat memperoleh bahan makan.

    Menurut Anderson and Roumasset (1996) dalam Lesmana

    (2007),Karena kemiskinan, sebagian besar pendapatan yang

    diperoleh oleh penduduk miskin di negara-negara berkembang

    dialokasikan untuk makanan. Konsumen di negara-negara miskin

    selalu dalam resiko akan kelaparan dan kerapuhan terhadap

    guncanan-guncangan harga yang berujung terhadap kelangkaan

    pangan. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, sejumlah negara

    miskin mengambil langkah aksi publik (public action) untuk

    meningkatkan ketahanan pangannya. Umumnya tipikal pendekatan

    yang diambil bertujuan mengurangi jumlah populasi yang

    mengalami kelaparan dengan meningkatkan pendapatan kaum

    miskin dan secara simultan mengelola ekonomi pangan dalam

    rangka meminimalkan guncangan-guncangan yang akan memicu

    kelangkaan pangan.

    Terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk

    mengukur kesejahteraan, diantaranya adalah menggunakan

    indikator kebutuhan dasar, yaitu pemenuhan pangan dan

    perumahan. Istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan

    pemenuhan kebutuhan pangan adalah ketahanan pangan

    Pada dasarnya, kemiskinan adalah masalah yang berdimensi

    ganda (multi dimensional). Hal ini berarti bahwa kemiskinan

  • Pendahuluan | I.9

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    semestinya dikonseptualisasikan untuk mengindikasikan lebih dari

    sekedar taraf hidup yang rendah seperti yang sering diukur dengan

    tingkat pendapatan atau pengeluaran yang tidak memadai secara

    normatif. Konsep kemiskinan juga harus merujuk pada rendahnya

    kualitas dari komponen-komponen sumber daya pembangunan

    manusia (human developmentresources), seperti kekurangan gizi,

    status kesehatan yang buruk dan tingkat pendidikan yang kurang

    memadai. Selain itu. dimensi penting lainnya dari kemiskinan juga

    sering dikaitkan dengan insiden kerawanan pangan

    (food insecurity). Walaupun mempunyai beberapa pengertian,

    istilah "ketahanan pangan" atau food security di sini didefinisikan

    sebagai akses dari semua penduduk di suatu negara atau wilayah

    untuk memenuhi konsumsi kebutuhan dasar makanan yang cukup,

    yang dibutuhkan untuk bisa hidup secara layak (aktif dan sehat).

    Akses pangan didefinisikan sebagai kemampuan rumah

    tangga untuk secara periodik memenuhi sejumlah pangan yang

    cukup melalui kombinasi cadangan pangan mereka sendiri dan

    hasil dari rumah/pekarangan sendiri, pembelian, barter,

    pemberian, pinjaman dan bantuan pangan

    (Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara, 2010).

    Rasio konsumsi normatif terhadap ketersediaan bersih

    pangan pokok , daya beli pangan (ukuran kemampuan masyarakat

    rata-rata penduduk dalam membeli pangan), persentase penduduk

  • Pendahuluan | I.10

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    yang tidak tamat sekolah dasar (SD) merupakan indikator yang

    dipakai dalam mengukur akses pangan (BKP Sumatera Utara,

    2010).

    Kondisi kemiskinan di Sumatera Utara terus mengalami trend

    penururnan yang cukup besar. Meskipun demikian, tantangan ke

    depan untuk mencapau target yang ditentukan juga masih cukup

    besar. Upaya penanggulangan kemiskinan merupakan agenda

    nasional. Kebijakan itu meliputi penyediaan lapangan kerja untuk

    penduduk yang menghendakinya, memberikan kesempatan

    pendidikan, meningkatkan kesehatan serta usaha-usaha

    menambah kesejahteraan penduduk lainnya. Berbagai ikhtiar

    penanggulangan kemiskinan di wilayah kabupaten/kota memiliki

    tekanan dan tingkatan masalah yang beragam.

    Upaya penanggulangan kemiskinan tidak dapat dilakukan

    hanya dengan menggunakan pendekatan sektoral semata, akan

    tetapi harus menggunakan pendekatan yang lebih terpadu,

    sistemik, dan menyentuh pada akar permasalahan kemiskinan.

    Belajar dari pengalaman penanggulangan kemiskinan yang

    dilakukan selama ini, permasalahan utama dalam penanggulangan

    kemiskinan adalah belum optimalnya koordinasi antar sektor dan

    pemangku kepentingan lainnya dalam implementasi kebijakan dan

    program penanggulangan kemiskinan.

  • Pendahuluan | I.11

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Koordinasi kebijakan dan program penanggulangan

    kemiskinan merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam

    upaya penanggulangan kemiskinan. Koordinasi kebijakan adalah

    langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah dan pemangku

    kepentingan untuk menyelaraskan setiap keputusan yang berkaitan

    dengan penanggulangan kemiskinan, sehingga dalam pelaksanaan

    program, tidak mengalami benturan atau inkonsitensi antara satu

    kebijakan dengan kebijakan lainnya. Diperlukan suatu disain

    kebijakan pangan yang koheren yang akan menggandeng strategi

    ketahanan pangan dengan strategi pertumbuhan yang pada

    gilirannya akan menjangkau kaum miskin. Pertambabahan

    penduduk, akses pangan dan kemiskinan, ketiga indikator

    tersebut berkaitan erat dengan kemiskinan hal tersebut yang

    menjadi dasar ketertarikan penulis mengadakan penelitian dengan

    objek pertmbabahan penduduk,akses pangan dan kemiskinan

    serta kebijakan dalam menangani masalah kemiskinan.

    I.2 Tujuan Kajian

    1. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan penduduk di

    Sumatera Utara

    2. Untuk mengetahui dampak pertambahan penduduk, akses

    pangan, pengentasan kemiskinan terhadap jumlah penduduk

    miskin di Sumatera Utara

  • Pendahuluan | I.12

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    I.3 Manfaat Kajian

    1. Tersedianya Data Dan Informasi Tentang tingkat

    pertumbuhan penduduk di Sumatera Utara

    2. Teranalisisnya dampak pertambahan penduduk, akses

    pangan, pengentasan kemiskinan terhadap jumlah penduduk

    miskin di Sumatera Utara

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.1

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    BAB II

    TINJAUAN AKADEMIK KAJIAN

    Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah

    geografis Indonesia selama enam bulan atau lebih dan atau

    mereka yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan

    menetap. Pertumbuhan penduduk diakibatkan oleh tiga komponen

    yaitu: fertilitas, mortalitas dan migrasi (Chairany, 2010)

    Pertambahan penduduk merupakan perubahan populasi

    sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam

    jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu

    unit" untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk

    pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan

    sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai

    pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada

    pertumbuhan penduduk dunia (Fadhli, 2010).

    Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang

    penting dalam masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah

    penduduk pada khususnya. Karena di samping berpengaruh

    terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga akan berpengaruh

    terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau negara maupun

    dunia (Sasya, 2012).

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.2

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Menurut Badan Pusat Statistik Indonesia (2012) tingkat

    pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah

    penduduk di suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang.

    Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang,

    diketahui pula kebutuhan dasar penduduk ini, tidak hanya di

    bidang sosial dan ekonomi tetapi juga di bidang politik misalnya

    mengenai jumlah pemilih untuk pemilu yang akan datang. Tetapi

    prediksi jumlah penduduk dengan cara seperti ini belum dapat

    menunjukkan karakteristik penduduk dimasa yang akan datang.

    Untuk itu diperlukan proyeksi penduduk menurut umur dan jenis

    kelamin yang membutuhkan data yang lebih rinci yakni mengenai

    tren fertilitas, mortalitas dan migrasi.

    II.1 Faktor-Faktor Pertambahan Penduduk

    Pertambahan penduduk pada dasarnya dipengaruhi oleh

    faktor faktor demografi sebagai berikut :

    1. Kematian (Mortalitas)

    2. Kelahiran (Natalitas)

    3. Migrasi (Mobilitas)

    Kelahiran dan kematian dinamakan faktor alami, sedangkan

    perpindahan penduduk dinamakan faktor non alami.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.3

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    II.1.1 Kematian

    Kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia

    secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk

    dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir

    sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian

    sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro

    mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).

    a.) Faktor pendukung kematian (pro mortalitas)

    Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang

    termasuk faktor ini adalah:

    - Sarana kesehatan yang kurang memadai.

    - Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan

    - Terjadinya berbagai bencana alam

    - Terjadinya peperangan

    - Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industri

    - Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.

    b.) Faktor penghambat kematian (anti mortalitas)

    Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang

    termasuk faktor ini adalah:

    - Lingkungan hidup sehat.

    - Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.

    - Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.4

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    - Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.

    - Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

    II.1.2 Kelahiran (Natalitas)

    Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada

    beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan

    yang mendukung kelahiran (pro natalitas). Faktor-faktor

    penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lain: Kawin pada usia

    muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan

    malu, anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk

    membantu orang tua, anggapan bahwa banyak anak banyak

    rejeki,anak menjadi kebanggaan bagi orang tua,anggapan bahwa

    penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada

    anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.

    Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah

    penduduk menjadi besar. Faktor-faktor penghambat kelahiran (anti

    natalitas), antara lain: adanya program keluarga berencana yang

    mengupayakan pembatasan jumlah anak, adanya ketentuan batas

    usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi

    laki-laki minimal berusia 19 tahun, anggapan anak menjadi beban

    keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, adanya

    pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.5

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    anak diberikan hanya sampai anak kedua, penundaaan kawin

    sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.

    II.1.3 Migrasi

    Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat

    yang satu ke tempat lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat

    migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang

    melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi

    internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat

    pada sekitar wilayah satu negara saja.

    Faktor-faktor terjadinya migrasi, yaitu :

    1. Persediaan sumber daya alam

    2. Lingkungan social budaya

    3. Potensi ekonomi

    4. Alat masa depan (Sasya,2012)

    II.2 Akses Pangan

    Akses pangan tingkat rumahtangga adalah kemampuan

    suatu rumahtangga untuk memperoleh pangan yang cukup secara

    terus-menerus melalui berbagai cara, seperti produksi pangan

    rumahtangga, persediaan pangan rumahtangga, jual-beli, tukar-

    menukar/barter, pinjam-meminjam, dan pemberian atau bantuan

    pangan. Keluarga dapat mengakses pangan melalui beberapa cara

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.6

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    seperti produksi rumahtangga (hasil panen, hasil beternak atau

    hasil budidaya perikanan); berburu, mencari ikan atau

    mengumpulkan pangan yang hidup liar; mendapatkan

    bantuan/pemberian pangan melalui jaringan sosial; bantuan dari

    pemerintah, distribusi-distribusi NGO atau food for work projects

    (pangan hasil/imbalan pekerjaan); serta barter/tukar-menukar

    atau membeli dari pasar (World Food

    Programme 2005).

    Akses pangan merupakan salah satu aspek dari empat aspek

    ketahanan pangan,selain Kecukupan (sufficiency), keterjaminan

    (security), dan waktu (time) (Baliwati, 2004).

    Berdasarkan World Food Programme (2005), Akses pangan

    rumah tangga dibagi menjadi tiga dimensi,yaitu dimensi akses

    fisik, akses ekonomi, dan akses sosial.

    Akses fisik dapat diamati berdasarkan jarak pasar terdekat

    dalam suatu wilayah dan ketersediaan pangan di warung

    sekitar pemukiman penduduk wilayah tersebut. Pasar

    merupakan salah satu sarana dan prasarana yang tersedia di

    suatu wilayah untuk menunjang kebutuhan akan pangan

    setiap individu dalam wilayah tersebut. Salah satu tujuan

    pasar adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat

    dengan memungkinkan akses masyarakat terhadap pangan

    untuk pemenuhan kebutuhan pangannya meningkat.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.7

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Akses ekonomi dapat dilihat dari tingkat kemiskinan

    berdasarkan data pengeluaran total (pengaluaran pangan

    dan non pangan) keluarga per kapita perbulan dengan

    menggunakan acuan dari data garis kemiskinan Badan Pusat

    Statistik ( BPS ).

    Akses sosial dapat diamati dari tingkat pendidikan,

    perhatian,dorongan/dukungan maupun bantuan sosial baik

    berupa pinjaman ataupun pemberian pangan/uang dari

    sanak keluarga, tetangga, maupun teman.

    Salah satu parameter atau indikator untuk mengukur/melihat

    daya beli masyarakat adalah pendapatan penduduk. Karena data

    pendapatan tidak tersedia maka sebagai alternatif, maka

    digunakan data Product Domestic Regional Bruto (PDRB) per tahun

    atas dasar harga berlaku. Dalam penentuan batasan ranges untuk

    PDRB diasumsikan pendapatan minimum penduduk adalah 1 $ per

    hari. Penetapan nilai minimum tersebut didasarkan pada standar

    pendapatan minimum yang ditetapkan FAO sebesar 2 $ per hari,

    namun karena nilai tersebut relatif tinggi jika diterapkan untuk

    tingkat pendapatan rata-rata penduduk Indonesia maka diturunkan

    menjadi 1 $ per hari. Karena mengacu pada standar FAO maka

    nilai rupiah PDRB dikonversi ke dalam bentuk dollar ($), dalam hal

    ini diasumsikan nilai 1 dollar saat ini adalah Rp 9500,-. Semakin

    tinggi tingkat pendapatan penduduknya, maka semakin baik

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.8

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    kondisi akses pangannya. Jika tingkat pendapatan penduduk lebih

    kecil dari 1095 $ per tahun, maka akses pangannya termasuk

    dalam kategori rendah (Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara,

    2011).

    Indikator aksesibilitas (keterjangkauan) dalam pengukuran

    kecukupan pangan di tingkat rumah tangga dilihat dari kemudahan

    rumahtangga memperoleh pangan, yang diukur dari indikator

    pemilikan lahan pertanian, dan cara rumah tangga untuk

    memperoleh pangan. Akses yang diukur berdasarkan pemilikan

    lahan dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori:

    Akses langsung (direct access), jika rumah tangga memiliki

    lahan usaha pertanian

    Akses tidak langsung (indirect access) jika rumah tangga

    tidak memiliki lahan usaha pertanian.

    Hasil pengukuran indikator aksesibilitas ini digabungkan

    dengan indikator stabilitas ketersedian pangan, untuk menduga

    indikator kontinuitas ketersediaan pangan. Indikator kontinuitas

    ketersediaan pangan ini menunjukkan suatu rumah tangga

    apakah:

    Mempunyai persediaan pangan kontinu

    Mempunyai persediaan pangan kurang kontinu

    Mempunyai persediaan pangan tidak kontinu.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.9

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Tabel 2.1 Indikator Kontinuitas Ketersediaan Pangan Di Tingkat

    Rumah Tangga

    Akses Terhadap

    Pangan Stabilitas Ketersediaan Pangan Rumah Tangga

    Stabil Kurang Stabil Tidak Stabil

    Akses Langsung Kontinu Kurang Kontinu Tidakkontinu

    Akses Tidak

    Langsung Kurang Kontinu Tidak Kontinu Tidak Kontinu

    Sumber: Puslit Kependudukan LIPI, 2012.

    II.3 Kemiskinan

    Menurut Suparlan (1984) kemiskinan merupakan sebagai

    suatu standar tingkat hidup yang rendah yaitu adanya tingkat

    kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang

    dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku

    dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang

    rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat

    keadaan kesehatan kehidupan moral, dan rasa harga diri dari

    mereka yang terolong sebagai orang miskin.

    Menurut Saldanha (1998) persoalan kemiskinan mengandung

    enam masalah pokok, yaitu :

    1. Masalah kemiskinan adalah kerentanan. Pembangunan

    infrastruktur ekonomi dan pertanian dapat saja meningkatkan

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.10

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    pendapatan petani dalam jumlah besar yang memadai, akan

    tetapi kekeringan musim dua tahun berturut- turut akan dapat

    menurunkan tingkat hidupnya sampai titik yang terendah.

    2. Kemiskinan berarti tertutupnya akses kepada berbagai peluang

    kerja karena hubungan produksi di dalam masyarakat tidak

    memberi peluang bagi mereka untuk berpartisipasi dalam

    proses produksi, atau mereka terperangkap dalam hubungan

    produksi yang eksploitatif yang menuntut kerja keras dalam jam

    kerja panjang dengan imbalan rendah. Hal ini disebabkan oleh

    posisi tawar menawar mereka dalam struktur hubungan

    produksi amat lemah. Kemiskinan dengan demikian juga berarti

    hubungan dependensi kepada pemilik tanah, pimpinan proyek,

    elit desa dan sebagainya.

    3. Kemiskinan adalah masalah ketidakpercayaan, perasaan

    impotensi emosional dan sosial menghadapi elit desa dan para

    birokrat yang menentukan keputusan menyangkut dirinya tanpa

    memberi ksempatan untuk mengaktualisasikan diri,

    ketidakberdayaan menghadapi penyakit dan kematian,

    kekumuhan dan kekotoran.

    4. Kemiskinan juga berarti menghabiskan semua atau sebagian

    terbesar penghasilannya untuk konsumsi, gizi mereka amat

    rendah yang mengakibatkan produktivitas mereka rendah.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.11

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    5. Kemiskinan juga ditandai oleh tingginya rasio ketergantungan,

    karena besarnya keluarga dan beberapa diantaranya masih

    balita. Hal ini akan berpengaruh peda rendahnya konsumsi yang

    akan mengganggu tingkat kecerdasan mereka sehingga di

    dalam kompetisi merebut peluang dan sumber dalam

    masyarakat, anak-anak kaum miskin akan berada pada pihak

    yang lemah.

    6. Kemiskinan juga terefleksikan dalam budaya kemiskinan yang

    diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.

    II.3.1 Klasifikasi Kemiskinan

    Menurut Sumodiningrat (1999) klasifikasi kemiskinan ada

    lima kelas, yaitu :

    1. Kemiskinan Absolut

    Kemiskinan absolut selain dilihat dari pemenuhan kebutuhan

    dasar minimum yang memungkinkan seseorang dapat hidup layak,

    juga ditentukan oleh tingkat pendapatan untuk memenuhi

    kebutuhan. Dengan demikian, tingkat pendapatan minimum

    merupakan pembatas antara keadaan yang disebut miskin atau

    sering disebut dengan istilah garis kemiskinan. Seseorang

    termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya

    berada dibawah garis kemiskinan,tidak cukup untuk memenuhi

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.12

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    kebutuhan hidup minimum, seperti pangan,sandang, kesehatan,

    papan dan pendidikan.

    Kemiskinan absolut merupakan kemiskinan yang tidak

    mengacu atau tidak didasarkan pada garis kemiskinan. Kemiskinan

    absolut adalah derajat dari kemiskinan dibawah, dimana

    kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat

    terpenuhi (Tambunan, 2006).

    2. Kemiskinan Relatif

    Sekelompok orang dalam masyarakat dikatakan mengalami

    kemiskinan relatif apabila pendapatannya lebih rendah

    dibandingkan kelompok lain tanpa memperhatikan apakah mereka

    masuk dalam kategori miskin absolut atau tidak.

    Penekanan dalam kemiskinan relatif adalah adanya

    ketimpangan pendapatan dalam masyarakat antara yang kaya dan

    yang miskin atau dikenal dengan istilah ketimpangan distribusi

    pendapatan. Kemiskinan relatif untuk menunjukkan ketimpangan

    pendapatan berguna untuk mengukur ketimpangan pada suatu

    wilayah. Kemiskinan relatif juga dapat digunakan untuk mengukur

    ketimpangan antar wilayah yang dilakukan pada suatu wilayah

    tertentu. Pengukuran relatif diukur berdasarkan tingkat

    pendapatan, ketimpangan sumberdaya alam serta sumberdaya

    manusia berupa kualitas pendidikan, kesehatan, dan perumahan.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.13

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    3. Kemiskinan Struktural

    Kemiskinan struktural mengacu pada sikap seseorang atau

    masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya yang tidak mau

    berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupan meskipun ada

    usaha dari pihak luar untuk membantunya.Alfian (1980)

    mendefinisikan kemiskinan struktural sebagai kemiskinan yang

    diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial

    masyarakat tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber

    pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Kemiskinan

    struktural meliputi kekurangan fasilitas pemukiman sehat,

    kekurangan pendidikan, kekurangan komunikasi dengan dunia

    sekitarnya. Kemiskinan struktural juga dapat diukur dari kurangnya

    perlindungan dari hokum dan pemerintah sebagai birokrasi atau

    peraturan resmi yang mencegah seseorang memanfaatkan

    kesempatan yang ada.

    4. Kemiskinan Kronis

    a.Kemiskinan kronis disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kondisi

    sosial budaya yang mendorong sikap dan kebiasaan hidup

    masyarakat yang tidak produktif.

    b.Keterbatasan sumberdaya dan keterisolasian (daerah-daerah

    yang kritis akan sumberdaya alam dan daerah terpencil).

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.14

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    c.Rendahnya derajat pendidikan dan perawatan kesehatan,

    terbatasnya lapangan kerja dan ketidakberdayaan masyarakat

    dalam mengikuti ekonomi pasar.

    5. Kemiskinan Sementara

    Kemiskinan sementara terjadi akibat adanya: 1) perubahan

    siklus ekonomi dari kondisi normal menjadi krisis ekonomi, 2)

    perubahan yang bersifat musiman, dan 3) bencana alam atau

    dampak dari suatu yang menyebabkan menurunnya tingkat

    kesejahteraan suatu masyarakat.

    II.3.2 Ciri Kehidupan Masyarakat di Bawah Garis Kemiskinan

    Menurut Hartomo dan Aziz (1997) mereka yang hidup

    dibawah garis kemiskinan memiliki beberapa ciri, yaitu :

    1. Mereka umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti

    tanah yang cukup, modal maupun keterampilan. Faktor

    produksi yang dimiliki sendiri sedikit sekali sehingga

    kemampuan memperoleh pendapatan menjadi sangat terbatas.

    2. Mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset

    produksi dengan kekuatan sendiri. Pendapatan tidak cukup

    untuk memperoleh tanah garapan maupun modal usaha,

    sedangkan syarat tidak terpenuhi untuk memperoleh kredit

    perbankan seperti adanya jaminan kredit dan lain-lain,

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.15

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    sehingga mereka yang perlu kredit terpaksa berpaling kepada

    lintah darat yang biasanya meminta syarat yang berat dan

    memungut biaya yang tinggi.

    3. Tingkat pendidikan mereka yang rendah, tidak sampai tamat

    sekolah dasar. Waktu mereka habis tersisa untuk mencari

    nafkah sehingga tidak tersisa lagi untuk belajar. Anak-anak

    mereka tidak dapat menyelesaikan sekolah, karena harus

    membantu orang tua mencari tambahan penghasilan atau

    menjaga adik-adik di rumah, sehingga secara turun-temurun

    mereka terjerat dalam keterbelakangan garis kemiskinan.

    4. Kebanyakan mereka tinggal di perdesaan. Banyak diantara

    mereka tidak memiliki tanah, walaupun ada kecil sekali.

    Umumnya mereka menjadi buruh tani atau pekerja kasar di

    luar petani, karena pertanian bekerja dengan musiman maka

    kesinambungan kerja kurang terjamin. Banyak diantara mereka

    kemudian bekerja sebagai pekerja bebas, berusaha apa saja.

    Dalam keadaan penawaran tenaga kerja yang besar maka

    tingkat upah menjadi rendah sehingga mengurung mereka

    dibawah garis kemiskinan, di dorong dengan kesulitan hidup di

    desa maka banyak diantara mereka mencoba berusaha di kota.

    5. Kebanyakan diantara mereka yang hidup di kota masih berusia

    muda dan tidak mempunyai keterampilan atau pendidikan,

    sedangkan kota dibanyak negara sedang berkembang tidak

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.16

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    siap menampung gerak urbanisasi penduduk desa. Apabila di

    negara-negara maju pertumbuhan industri menyertai

    urbanisasi dan pertumbuhan kota sebagai penarik bagi

    masyarakat desa untuk bekerja di kota, maka urbanisasi di

    negara berkembang tidak disertai proses penyerapan tenaga

    dalam perkembangan industri. Bahkan, sebaliknya

    perkembangan teknologi di kota justru menarik pekerjaan lebih

    banyak tenaga kerja, sehingga penduduk miskin yang pindah

    ke kota dalam kantong-kantong kemelaratan.

    Menurut Sumedi dan Supadi (2004) masyarakat miskin

    mempunyai beberapa ciri sebagai berikut 1) tidak memiliki akses

    ke proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup

    mereka, 2) tersingkir dari institusi utama masyarakat yang ada, 3)

    rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia termasuk kesehatan,

    pendidikan, keterampilan yang berdampak pada rendahnya

    penghasilan, 4) terperangkap dalam rendahnya budaya kualitas

    Sumber Daya Manusia seperti rendahnya etos kerja, berpikir

    pendek dan fatalisme, 5) rendahnya pemilikan aset fisik termasuk

    aset lingkungan hidup seperti air bersih dan penerangan.

    II.3.3 Faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan

    Beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan

    menurut Hartomo dan Aziz (1997) yaitu :

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.17

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    1). Pendidikan yang Terlampau Rendah

    Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang

    kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam

    kehidupannya. Keterbatasan pendidikan atau keterampilan yang

    dimiliki seseorang menyebabkan keterbatasan kemampuan

    seseorang untuk masuk dalam dunia kerja.

    2). Malas Bekerja

    Adanya sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada

    nasib) menyebabkan seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak

    bergairah untuk bekerja.

    3). Keterbatasan Sumber Alam

    Suatu masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber

    alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan

    mereka. Hal ini sering dikatakan masyarakat itu miskin karena

    sumberdaya alamnya miskin.

    4). Terbatasnya Lapangan Kerja

    Keterbatasan lapangan kerja akan membawa konsekuensi

    kemiskinan bagi masyarakat. Secara ideal seseorang harus mampu

    menciptakan lapangan kerja baru sedangkan secara faktual hal

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.18

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi masyarakat miskin

    karena keterbatasan modal dan keterampilan.

    5). Keterbatasan Modal

    Seseorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal

    untuk melengkapi alat maupun bahan dalam rangka menerapkan

    keterampilan yang mereka miliki dengan suatu tujuan untuk

    memperoleh penghasilan.

    6). Beban Keluarga

    Seseorang yang mempunyai anggota keluarga banyak

    apabila tidak diimbangi dengan usaha peningakatan pendapatan

    akan menimbulkan kemiskinan karena semakin banyak anggota

    keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau beban untuk

    hidup yang harus dipenuhi.

    Menurut Kartasasmita dalam Rahmawati (2006), kondisi

    kemiskinan dapat disebabkan oleh sekurang-kurangnya empat

    penyebab, yaitu :

    1. Rendahnya Taraf Pendidikan

    Taraf pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan

    pengembangan diri terbatas dan meyebabkan sempitnya lapangan

    kerja yang dapat dimasuki. Taraf pendidikan yang rendah juga

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.19

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    membatasi kemampuan seseorang untuk mencari dan

    memanfaatkan peluang.

    2. Rendahnya Derajat Kesehatan

    Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan

    rendahnya daya tahan fisik, daya pikir dan prakarsa.

    3. Terbatasnya Lapangan Kerja

    Selain kondisi kemiskinan dan kesehatan yang rendah,

    kemiskinan juga diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan.

    Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula

    ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan.

    4. Kondisi Keterisolasian

    Banyak penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya

    karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga

    sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan,

    kesehatan dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya.

    Nasikun dalam Suryawati (2005) menyoroti beberapa sumber

    dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu :

    1) Pelestarian Proses Kemiskinan

    Proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui

    pelaksanaan suatu kebijakan diantaranya adalah kebijakan anti

    kemiskinan, tetapi realitanya justru melestarikan.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.20

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    2) Pola Produksi Kolonial

    Negara ekskoloni mengalami kemiskinan karena pola

    produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang

    paling subur dikuasai petani skala besar dan berorientasi ekspor.

    3) Manajemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan

    Adanya unsur manajemen sumber daya alam dan

    lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan

    menurunkan produktivitas.

    4) Kemiskinan Terjadi Karena Siklus Alam.

    Misalnya tinggal di lahan kritis, dimana lahan ini jika turun

    hujan akan terjadi banjir tetapi jika musim kemarau akan

    kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang

    maksimal dan terus-menerus.

    5) Peminggiran Kaum Perempuan

    Dalam hal ini perempuan masih dianggap sebagai golongan

    kelas kedua,sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang

    diberikan lebih rendah dari laki-laki.

    6) Faktor Budaya dan Etnik

    Bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara

    kemiskinan seperti, pola hidup konsumtif pada petani dan nelayan

    ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara

    adat atau keagamaan.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.21

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Menurut Lincolin Arsyad (2004), indikator kemiskinan ada

    bermacam-macam yaitu konsumsi beras perkapita per tahun,

    meingkat pendapatan dan tingkat kesejahteraan yang terdiri dari 9

    komponen yaitu kesehatan, konsumsi makanan dan gizi,

    pendidikan, kesempatan kerja, perumahan, jaminan sosial,

    sandang, rekreasi dan kebebasan.

    II.4 Usaha Pengentasan Kemiskinan

    Untuk mengatasi masalah kemiskinan, pemerintah memiliki

    peran yang besar. Namun dalam kenyataannya, program yang

    dijalankan oleh pemerintah belum mampu menyentuh pokok yang

    menimbulkan masalah kemiskinan ini. Beberapa program yang

    tengah digalakkan oleh pemerintah dalam menanggulangi

    kemiskinan salah satunya adalah Program Beras untuk keluarga

    miskin (Raskin).

    Indonesia masih menghadapi masalah kemiskinan dan

    kerawanan pangan yang harus ditanggulangi bersama oleh

    pemerintah dan masyarakat. Masalah ini menjadi perhatian

    nasional dan penanganannya perlu dilakukan secara terpadu

    melibatkan berbagai sektor baik di tingkat pusat maupun daerah.

    Program Raskin (Program Penyaluran Beras Untuk Keluarga Miskin)

    adalah sebuah program dari pemerintah. Program ini dilaksanakan

    di bawah tanggung jawab Departemen Dalam Negeri dan Perum

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.22

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Bulog sesuai dengan SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri

    Dalam Negeri dengan Direktur Utama Perum Bulog Nomor : 25

    Tahun 2003 dan Nomor : PKK-12/07/2003, yang melibatkan

    instansi terkait, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Sasaran dari

    Program Raskin ini adalah meningkatkan akses pangan kepada

    keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam rangka

    menguatkan ketahanan pangan rumah tangga dan mencegah

    penurunan konsumsi energi dan protein. Dalam memenuhi

    kebutuhan pangan tersebut, Program Raskin perlu dilaksanakan

    agar masyarakat miskin benar-benar bisa merasakan manfaatnya,

    yakni dapat membeli beras berkualitas baik dengan harga

    terjangkau ( Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2008 ).

    Tujuan Program RASKIN adalah mengurangi beban

    pengeluaran Rumah Tangga Sasaran melalui pemenuhan sebagian

    kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras. Peraturan

    perundangan yang menjadi landasan pelaksanaan program RASKIN

    adalah:

    1. Undang-Undang No. 7 Tahun 1996, tentang Pangan.

    2. Undang-Undang No. 19 Tahun 2003, tentang Badan Usaha Milik

    Negara (BUMN).

    3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan

    Daerah.

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.23

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    4. Undang-Undang No. 41 Tahun 2008, tentang Anggaran

    Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009.

    5. Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2002, tentang Ketahanan

    Pangan.

    6. Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2003, tentang Pendirian

    Perusahaan Umum BULOG.

    7. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005, tentang Pengelolaan

    Keuangan Daerah.

    8. Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005, tentang Rencana

    Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004 - 2009.

    9. Peraturan Presiden RI No. 54 Tahun 2005, tentang Tim

    Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan.

    10. Peraturan Presiden RI No. 38 Tahun 2008, tentang Rencana

    Kerja Pemerintah Tahun 2009.

    11. Inpres Nomor 1 tahun 2008 tentang Kebijakan Perberasan

    Nasional.

    12. Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas

    Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang

    Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

    13. Kepmenko Kesra No. 35 Tahun 2008 tentang Tim Koordinasi

    RASKIN Pusat.

    Hingga pelaksanaan tahun 2007, Rumah Tangga Rasasaran

    Penerima Manfaat (RTS-PM) Raskin hanya mencakup 47% - 83%

  • Tinjauan Akademik Kajian | II.24

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    dari RTM terdata, dan baru sejak 2008 mencakup seluruh RTM

    terdata. Melalui program Raskin, setiap RTS-PM dapat membeli

    sejumlah beras di titik distribusi dengan harga yang lebih murah

    dari harga di pasaran (bersubsidi). Selama pelaksanaan program,

    jumlah beras yang dialokasikan untuk setiap RTS-PM mengalami

    beberapa kali perubahan, namun tetap pada kisaran 10 20 kg

    per distribusi. Harga beras bersubsidi yang harus dibayar RTS-PM

    pada awal pelaksanaan program adalah Rp.1.000 per Kg di titik

    distribusi. Sejak 2008 harganya dinaikkan menjadi Rp.1.600 per

    Kg. Frekuensi distribusi juga mengalami perubahan antara 10 - 13

    kali per tahun atau rata- rata satu kali per bulan (Hastuti dkk,

    2012)

  • Metode Penelitian | III.1

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini dilakukan di propinsi Sumatera Utara. Data

    yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang

    di peroleh dari instansi yang terkait dengan penelitian,antara lain :

    Kantor BPS Sumatera Utara,Kantor Badan Ketahanan Pangan

    Sumatera Utara,Dinas Sosial Sumatera Utara.

    III.1 Metode Analisis Data

    1. Untuk melihat tingkatan dari setiap indikator (secara individu)

    maka dibuat ranges. Nilai ranges berkisar antara 0 100%.

    Kecuali untuk ketersediaan pangan nilainya 1.5.

    (Ranges dan tingkatan kondisi akses pangan secara individu

    dapat dilihat pada Tabel 2.)

    2. Berdasarkan ranges yang telah ditetapkan dilakukan

    pengkategorian mulai dari sangat rendah sampai dengan sangat

    tinggi (kategori menggunakan istilah kondisi akses pangan).

    3. Untuk mengetahui kondisi akses pangan maka semua indikator

    individu dikompositkan/digabung. Nilai indeks berkisar antara 0

    1 dimana semakin mendekati 0 berarti akses pangan semakin

  • Metode Penelitian | III.2

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    tinggi/baik, sebaliknya jika semakin mendekati 1 maka akses

    pangan semakin rendah/buruk

    Indeks Komposit Akses Pangan dihitung dengan cara sebagai berikut:

    IKomposit = 1/3 (Ik + ITTSD + IPDRB) Dimana : IK = Indeks ketersediaan pangan ITTSD = Indeks penduduk yang tidak tamat SD I PDRB = Indeks pendapatan perkapita

    4. Cara mengindeks indikator PDRB dan penduduk tidak tamat

    SD ke dalam bentuk indeks untuk menstandarisasi ke dalam

    skala 0 sampai 1 adalah sebagai berikut :

    Indeks Xij = (P-Q)/R * S + T

    dimana :

    Xij = Nilai ke j dari faktor/indikator ke i

    P = nilai faktor/indikator yang bersangkutan

    Q = nilai minimum faktor indikator yang bersangkutan

    R = selisih nilai rentangan faktor indikator yang

    bersangkutan

    S = selisih nilai rentangan indeks komposit ketahanan

    pangan

    T = nilai minimal rentangan indeks komposit yang

    bersangkutan

    Untuk indeks ketersediaan pangan cara mengindeksnya

    adalah sebagai berikut:

    =

  • Metode Penelitian | III.3

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Dimana:

    IK : Rasio ketersediaan pangan

    F : Ketersediaan Pangan biji-bijian perhari (gr)

    Cnorm : Konsumsi normatif (300gr)

    5. Kondisi akses pangan dibagi dalam 6 tingkatan mulai dari

    sangat rendah rendah cukup rendah cukup tinggi tinggi

    sangat tinggi berdasarkan nilai indeks komposit

    Tabel 2. Range Indikator Analisis Akses Pangan

    Katagori Indikator Range Kondisi Akses

    pangan Akses Fisik

    Rasio Konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan bersih beras

    1. > = 1.5 2. 1.25 - < 1.5 3. 1 - < 1.25 4. 0.75 - < 1 5. 0.5 - < 0.75 6. < 0.5

    Sangat Rendah Rendah

    Cukup Rendah Cukup Tinggi

    Tinggi Sangat Tinggi

    Akses Sosial

    Persentase penduduk yang tidak tamat pendidikan dasar (SD)

    1. > = 50 % 2. 40 % - < 50 % 3. 30 % - < 40 % 4. 20 % - < 30 % 5. 10 % - < 20 % 6. < 10 %

    Sangat Rendah Rendah

    Cukup Rendah Cukup Tinggi

    Tinggi Sangat Tinggi

    Akses Ekonomi

    Product Domestic Regional Bruto (PDRB) per kapita

    1. < 365 $ 2. 365 $ - < 730 $ 3. 730 $ - < 1095 $ 4. 1095 $ - < 1460 $ 5. 1460 $ - < 2190 $ 6. > = 2190 $

    Sangat Rendah Rendah

    Cukup Rendah Cukup Tinggi

    Tinggi Sangat Tinggi

    Sumber: Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara 2011

    Adapun range indeks akses pangan komposit adalah sebagai

    berikut :

  • Metode Penelitian | III.4

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    >= 0,80 akses pangan sangat rendah = prioritas 10,64 - < 0,8

    akses pangan renda= prioritas 2

    0,48 - < 0,64 akses pangan cukup rendah = prioritas 3

    0,32 - < 0,48 akses pangan cukup tinggi = prioritas 4

    0,16 - < 0,32 akses pangan tinggi = prioritas 5

  • Metode Penelitian | III.5

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    III.1.1 Uji Asumsi Klasik Regresi Linier Berganda

    Pengujian asumsi klasik diperlukan untuk mengetahui apakah

    hasil estimasi regresi yang dilakukan benar-benar bebas dari

    adanya gejala heteroskedastisitas, gejala multikolinearitas, dan

    gejala autokorelasi. Model regresi akan dapat dijadikan alat

    estimasi yang tidak bias jika telah memenuhi persyaratan BLUE

    (best linear unbiased estimator) yakni tidak terdapat

    heteroskedastistas, tidak terdapat multikolinearitas, dan tidak

    terdapat autokorelasi ( Sudrajat, 1988).

    III.1.2 Uji Heteroskedasitisitas

    Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah

    dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual

    satu pengamatan ke pengamatan yang lain. jika varians dari

    residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka

    disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut

    heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang

    homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Dasar

    analisisnya adalah sebagai berikut:

    a. Jika grafik scatterplot ada pola tertentu, seperti titik-titik yang

    ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang,

    melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah

    terjadi heteroskedastisitas.

  • Metode Penelitian | III.6

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    b. Jika grafik scatterplot ada pola yang jelas, serta titik-titik

    menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka

    tidak terjadi heteroskedastisitas.(Sumodiningrat, 2001).

    III.1.3 Uji Multikolinieritas

    Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam

    model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas

    (independen). Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak

    terjadi korelasi di antara variabel bebas. Uji Multikolinearitas

    dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation

    factor (VIF) dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS. Apabila

    nilai tolerance value lebih tinggi daripada 0,10 atau VIF lebih kecil

    daripada 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas

    (Santoso, 2003).

    III.1.4 Uji Autokorelasi

    Uji autokorelasi merupakan pengujian asumsi dalam regresi

    dimana variabel dependen tidak berkorelasi dengan dirinya sendiri.

    Maksud korelasi dengan diri sendiri adalah bahwa nilai dari variabel

    dependen tidak berhubungan dengan nilai variabel itu sendiri, baik

    nilai variabel sebelumnya atau nilai periode sesudahnya

    (Santosa&Ashari, 2005).

  • Metode Penelitian | III.7

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Dasar pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut:

    - Angka D-W di bawah -2 berarti ada autokorelasi positif

    - Angka D-W diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi

    - Angka D-W di atas +2 berarti ada autokorelasi negatif

  • Gambaran Umum | IV.1

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    BAB IV

    GAMBARAN UMUM

    PROVINSI SUMATERA UTARA

    IV.1 Demografi

    Jumlah penduduk Sumatera Utara pada tahun 2010 sebanyak

    12.982.402 jiwa. Jumlah ini menurun sebesar 226.182 jiwa dari

    tahun 2009 yang jumlah penduduk pada tahun ini adalah sebesar

    13.248.386 jiwa. Di tahun 2009 ini juga menjadi tahun dengan

    jumlah penduduk tertinggi dalam kurun waktu 2005 2010

    Dari hasil SP 2010 tersebut terlihat bahwa penyebaran penduduk

    Sumatera Utara menurut kabupaten/kota rata-rata dibawah 5 persen,

    dan hanya lima kabupaten/kota yang persebarannya diatas 5 persen.

    Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat adalah

    tiga kabupaten/kota dengan urutan teratas yang memiliki jumlah

    penduduk terbanyak yang masing-masing berjumlah 2.097.610 jiwa ,

    1.790.431 jiwa, dan 966.133 orang 967.535 jiwa. Sedangkan

    Kabupaten Pakpak Bharat merupakan kabupaten dengan jumlah pen-

    duduk paling sedikit yang berjumlah 40.505 jiwa

    Dengan luas wilayah Provinsi Sumatera Utara sekitar 71.680,68

    kilo meter persegi yang didiami oleh 12.982.402 Jiwa maka rata-rata

    tingkat kepadatan penduduk Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak

    181 orang per kilo meter persegi. Kabupaten/kota yang paling tinggi

    tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota Medan yakni sebanyak

  • Gambaran Umum | IV.2

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    7.913 jiwa per kilo meter persegi sedangkan yang paling rendah adalah

    Kabupaten Pakpak Bharat yakni sebanyak 33 orang per kilo meter

    persegi.

    Selama enam tahun terakhir,yakni tahun 2005 2010,

    Medan, sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara adalah kota

    dengan jumlah penduduk tertinggi. Disusul Kabupaten Deli

    Serdang dan Langkat. Jumlah Penduduk miskin Sumatera Utara

    selama enam tahun terakhir cukup berfluktuasi

    Jumlah penduduk miskin dari tahun 2005 - 2010 mengalami

    fluktuasi dari tahun ketahun meskipun terlihat ad kecenderungan

    menurun. Persentase penduduk miskin tahun 2005 sebesar 14,68

    persen. Sedangkan pada tahun 2006 terjadi kenaikan persentase

    penduduk miskin sebesar 0,98 persen dari tahun 2005, dimana

    persentase penduduk miskin pada tahun 2006 menjadi sebesar

    15,66 persen. Kenaikan persentase penduduk miskin tahun 2006

    ini dikarenakan karena adanya dampak kenaikan harga BBM pada

    tahun 2005. Kenaikan harga BBM tersebut ternyata berpengaruh

    signifikan terhadap golongan masyarakat menengah kebawah

    sehingga golongan masyarakat yang tadinya tidak masuk dalam

    kategori masyarakat miskin (masih berada diatas garis

    kemiskinan) menjadi masuk kedalam kategori kelompok miskin

    (berada dibawah garis kemiskinan).

  • Gambaran Umum | IV.3

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Tabel 3. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Sumatera Utara Tahun 2010 Menurut Kabupaten/Kota

    No Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk (Jiwa) (Jiwa/KM2)

    1 Nias 131.377 134 2 Mandailing natal 404.945 61 3 Tapanuli selatan 263.815 16 4 Tapanuli tengah 311.232 144 5 Tapanuli utara 279.257 74 6 Toba samosir 173.129 74 7 Labuhan batu 415.110 162 8 Asahan 668.272 182 9 Simalungun 817.720 187 10 Dairi 270.053 140 11 Karo 350.960 165 12 Deli serdang 1.790.431 720 13 Langkat 967.535 154 14 Nias selatan 289.708 178

    15 Humbang hasundutan 171.650 75

    16 Pakpak bharat 40.505 33 17 Samosir 119.653 49 18 Serdang bedagai 594.383 311 19 Batu bara 375.885 415 20 Padang lawas utara 223.531 57 21 Padang lawas 225.259 58 22 Labuhan batu selatan 277.673 89 23 Labuhan batu utara 330.701 93 24 Nias utara 127.244 85 25 Nias barat 81.807 150 26 Sibolga 84.481 7.844 27 Tanjung balai 154.445 2.510 28 Pemantang siantar 234.698 2.935 29 Tebing tinggi 145.248 3.779 30 Medan 2.097.610 7.913 31 Binjai 246.154 2.728 32 Padang sidempuan 191.531 1.671 33 Gunung sitoli 126.202 269 Sumatera Utara 12.982.204 181

    Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara , 2010

  • Gambaran Umum | IV.4

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Tabel 4. Jumlah Dan Presentase Penduduk Miskin Sumatera Utara Tahun 2005-2010

    Tahun Penduduk Miskin Persentase (Jiwa) (%)

    2005 1.840.200 14,68 2006 1.979.600 15,66 2007 1.768.300 13,90 2008 1.611.520 12,47 2009 1.474.260 11,27 2010 1.477.100 11,38

    Sumber :Badan Pusat Statisti Sumatera Utara, 2005-2010

    Jumlah penduduk miskin tesar besar terjadi pada tahun 2006

    yaitu sebesar 1.979,7 ribu jiwa Jumlah penduduk miskin di

    Sumatera Utara pada tahun 2010 sebanyak 1.477.100 jiwa (11,38

    %), angka ini bertambah sebanyak 2.840 jiwa bila dibandingkan

    dengan jumlah penduduk miskin tahun 2009 yang berjumlah

    1.474.260 jiwa (11,13%), tahun ini juga menjadi tahun dengan

    jumlah penduduk miskin terkecil selama periode 2005-2010.

    Pada tabel 5 dapat kita lihat perkembangan persentase

    penduduk miskin Sumatera Utara pada periode tahun 2005 2010

    menurut kabupaten/kota. Daerah di Sumatera Utara yang tingkat

    kemiskinannya paling rendah adalah Kabupaten Deli Serdang. Pada

    tahun 20 05 persentase penduduk miskin di daerah ini sebesar 6,3

    persen kemudian mengalami penurunan sebesar 0,01 persen pada

    tahun 2006 sehingga menjadi 6,29 persen dan pada tahun 2007

    juga kembali mengalami penurunan sebesar 0,63 persen dari

    tahun 2005 dan 2006 dimana pada tahun 2007 penduduk miskin

    didaerah ini hanya 5,67 persen. Penurunan persentase terus terjadi

  • Gambaran Umum | IV.5

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    hingga tahun 2009. Pada tahun 2010 persentase penduduk miskin

    di Deli Serdang kembali naik menjadi 5,34 persen, akan tetapi

    persentase ini masih dibawah persentase penduduk miskin Deli

    Serdang pada tahun 2007 dan daerah lain pada tahun 2010.

    Penurunan persentase penduduk miskin di Kabupaten Deli Serdang

    diduga karena banyak pendapatan rata-rata per kapita penduduk

    sudah berada diatas garis kemiskinan yang telah ditetapkan.

    Sedangkan daerah di Sumatera Utara yang tingkat

    kemiskinannya paling Tinggi adalah Kabupaten Nias Selatan . Pada

    tahun 2005 persentase penduduk miskin di daerah ini sebesar

    38,84 persen kemudian mengalami penurunan sebesar 1,18 persen

    pada tahun 2006 sehingga menjadi 37,66 persen persentase

    penduduk miskin terus mengalami penurunan hingga tahun 2010

    dan masuk urutan empat besar daerah dengan persesentase

    penduduk miskin terbesar.

  • Gambaran Umum | IV.6

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Tabel 5. Persentase penduduk miskin Sumatera Utara menurut kabupaten/kota tahun 2005 2007

    Kabupaten/kota Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010

    Nias 30,8 36,19 31,75 25,19 22,57 19,98 Mandailing natal 21,5 20,40 18,74 14,46 13,02 12,6 Tapanuli selatan 20,41 24,17 20,33 13,77 12,67 11,96 Tapanuli tengah 30,16 31,26 27,47 19,35 17,83 16,74 Tapanuli utara 21,8 21,73 20,06 14,15 13,10 12,5 Toba samosir 18,99 17,85 15,28 11,62 10,07 10,15 Labuhan batu 12,98 14,20 12,33 10,76 9,85 10,67 Asahan 13,29 13,38 13,17 12,89 12,09 11,42 Simalungun 17,09 19,39 14,84 14,75 12,67 10,73 Dairi 19,54 22,16 15,82 11,07 10,03 9,97 Karo 17,68 20,96 14,47 12,86 11,42 11,02 Deli serdang 6,3 6,29 5,67 5,16 5,17 5,34 Langkat 20,98 19,65 18,23 14,81 12,75 10,85 Nias selatan 38,84 37,66 33,84 24,36 22,19 20,73 Humbang hasundutan 20,42 22,14 18,84 12,99 11,31 10,61 Pakpak bharat 25,18 23,67 22,42 15,02 13,99 13,81 Samosir 23,13 30,59 22,76 18,76 17,55 16,51 Serdang bedagai 10,53 12,34 11,84 10,61 9,51 10,59 Batu bara x x 17,89 13,64 12,87 12,29 Padang lawas utara x x x x 11,83 11,19 Padang lawas x x x x 11,90 11,13 Labuhan batu selatan x x x x x 15,58 Labuhan batu utara x x x x x 12,32 Nias utara x x x x x 31,94 Nias barat x x x x x 30,89

    Sibolga 11 10,09 9,73 17,67 15,82 13,91 Tanjung balai 13,92 12,51 11,52 18,35 17,10 16,32 Pemantang siantar 10,96 12,07 9,46 13,36 12,25 11,72 Tebing tinggi 10,85 10,42 9,67 16,5 14,58 13,06 Medan 7,06 7,77 7,17 10,43 9,58 10,05 Binjai 6,93 6,38 5,72 8,12 7,04 7,33 Padang sidempuan 11,35 12,22 10,92 11,61 9,77 10,53 Gunung sitoli x x x x x 33,87 Sumatera utara 14,68 15,66 13,90 12,47 11,27 11,38

    Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara , 2005-2010 Ket : x) masih bergabung dengan kabupaten induk

  • Gambaran Umum | IV.7

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    IV.2 Ketersediaan Pangan di Sumatera Utara

    Pemantauan ketersediaan bahan pangan yang rutin dilakukan

    adalah terhadap bahan pangan strategis meliputi beras, jagung,

    kedelai, gula putih, daging, kacang tanah, ubi kayu, minyak

    goreng, dan telur. Untuk Beras,perkembangan ketersediaan selama

    tahun 2005 2010 dapat dilihat pada uraian berikut:

    IV.2.1 Ketersediaan Beras Perkapita Perhari

    Persoalan persaingan antara pertumbuhan penduduk dan

    produksi pangan telah menjadi perhatian sejak dulu. Pertambahan

    penduduk menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan pangan.

    Ketersediaan bahan pangan pokok di Sumatera Utara dari tahun

    2005- 2010 secara umum cukup tersedia. Untuk beras sebagian

    besar ketersediaan yang ada di peroleh dari produksi local,

    sedangkan impor atau dari provinsi lain hanya untuk memperkuat

    ketersediaan yang ada.

    Gambaran produksi dan ketersediaan beras perkapita

    perhari pada tahun 2005-2010 di Sumatera Utara dapat dilihat

    pada tabel di bawah ini .

    Tabel 5. Ketersediaan Beras Beras Perkapita Perhari

    Tahun Pnetto F Beras(gram) (gram)

    2005 1.952.447.327.582,02 433,95 2006 1.703.388.871.109,12 369,11 2007 1.844.522.770.461,89 393,75 2008 1.892.075.612.556,12 397,46 2009 1.998.042.281.378,79 413,19

  • Gambaran Umum | IV.8

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Tahun Pnetto F Beras(gram) (gram)

    2010 2.028.853.677.689,70 428,16 Sumber: Badan Ketahanan Pangan Sumatera Utara, 2010

    Dari tabel 5 dapat dilihat produksi beras berish (P netto)

    Sumatera Utara tahun 2005 adalah sebesar 1.952.447,3 ton,

    dengan ketersediaan beras perkapita perhari adalah sebesar

    433,95 gram perhari. Pada tahun 2006 produksi beras berish (P

    netto) Sumatera Utara turun menjadi 1.703.388,8 ton hal ini

    mengakibatkan ketersediaan beras perkapita perhari juga turun

    menjadi 369,11 gram perhari. Pada tahun 2007 produksi beras

    berish (P netto) Sumatera Utara mulai kembali mengalami

    kenaikan, akan tetapi jumlah produksi bersih tersebut belum

    melebihi produksi tahun 2005. Baru pada tahun 2009 produksi

    bersih beras Sumatera Utara dapat melebihi produksi tahun 2005,

    dan pada tahun 2010 produksi bersi beras Sumatera Utara menjadi

    2.028.853,6 ton. Hal tersebut juga diikuti dengan bertambahnya

    ketersediaan beras perkapita menjadi 393,75 (tahun

    2007) ; 397,46 (tahun 2008) ; 413,19 dan 428,16 untuk tahun

    2009 dan 2010. Akan tetapi kenaikan produksi yang dimulai pada

    tahun 2007 belum dapat menaikan ketersediaan beras perkapita

    perhari, begitu juga pada tahun 2010, meskipun produksi bersi

    beras sudah melebihi produksi tahun 2005, ketersediaan beras

    perkapita perhari tidak lebih dari ketersediaan beras perkapita

  • Gambaran Umum | IV.9

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    perhari pada tahun 2005. Hal ini disebabkan karena jumlah

    penduduk tahun 2010 yang jauh lebih besar dari jika dibandingkan

    tahun 2005.

    Jiika kita bandingkan dengan persentase jumlah penduduk

    miskin pada tabel 4 pada tahun 2006 ketika persentase penduduk

    miskin Sumatera Utara naik, ketersediaan beras perkapita perhari

    Sumatera Utara justru mengalami penurunan, dan ketika

    persentasenya menurun, ketersediaan beras perkapita perharinya

    naik. Hal ini menggambarkan Ketersediaan beras perkapita perhari

    Sumatera Utara berbanding terbalik dengan persentase penduduk

    miskin.

    IV.3 Program Beras untuk keluarga miskin (Raskin)

    Program raskin merupakan program bantuan pangan yang

    sudah dilaksanakan pemerintah sejak Juli 1998 dengan tujuan awal

    menanggulangi kerawanan pangan akibat krisis moneter tahun

    1997-1998. Program ini berlanjut hingga saat ini dengan tujuan

    utama mengurangi beban rumah tangga sasaran melalui

    pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalm bentuk

    beras.Program yang sbelum tahun 2002 bernama Operasi Pasar

    Khusus (OPK) ini awalnya merupakan program darurat bagian dari

    jarring pengaman sosial (sosial safety net), namun kemudian

    fungsinya diperluas menjadi bagian dari program perlindungan

  • Gambaran Umum | IV.10

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    sosial, khususnya program penanggulangan kemiskinan klaster

    pertama.

    Sebagai program bantuan beras, raskin merupakan bagian

    yang tidak terpisahkan dari program ketahanan pangan, utamanya

    bagi rumah tangga sasaran. Rumah tangga sasaran penerima

    manfaat (RTS-PM) raskin adalah rumah tangga miskin (RTM) pada

    kurun waktu 1998-2005 didefinisikan sebagai rumah tangga pra

    sejahtera dan rumah tangga sejahtera 1 alasan ekonomi

    berdasarkan hasil pendataan Badan Koordinasi Keluarga Berencana

    Nasional (BKKBN), sejak tahun 2006, RTS-PM raskin didefinisikan

    sebagai rumah tangga sangat miskin, miskin dan hampir miskin

    berdasarkan pendataan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui

    Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) 2005 danhasil verifikasinya

    kemudian dipebaharui melalui Pendataan Program Perlindungan

    Sosial 2008. Pelaksanaan program raskin di Sumatera Utara pada

    tahun 2005-2010 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

    Tabel 6. Rumah Tangga Sasaran, Pagu dan Realisasi Program Raskin Sumatera Utara tahun 2005-2010

    No Tahun Rumah Tangga

    Sasaran Pagu Realisasi

    (KK) (Ton) (Ton) 1 2005 469.571 65.739.940 65.740.390 2 2006 978.925 65.740.000 65.734.670 3 2007 944.972 66.546.000 66.546.000 4 2008 944.972 165.362.225 155.380.381 5 2009 937.722 168.789.960 166.931.048 6 2010 835.785 155.097.155 146.889.285

    Sumber :Perum BULOG subdivre Sumatera Utara

  • Gambaran Umum | IV.11

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Dari tabel 6 dapat dilihat pada tahun 2005 Sumatera Utara

    menyalurkan Raskin sebanyak 65.740 ton untuk 469.571 Rumah

    Tangga Miskin (RTM) dan terealiisasi sebanyak 65.740.390 ton .

    Pada tahun 2006 terjadi kenaikan jumlah penerima Raskin, dan

    melonjak jauh jika dibandingkan dengan tahun 2005. Jumlah

    Rumah Rumah Tangga Miskin (RTM) tahun 2006 adalah sebesar

    978.925 RTM, akan tetapi meskipun jumlah RTM bertambah,

    jumlah raskin yang disalurkan tidak berbeda dengan tahun 2005

    yaitu sebesar 65.740.000 ton dan yang terealisasi adalah sebesar

    65.734.670 ton. Tidak berubahnya jumlah Raskin yang disalurkan

    dikarenakan adanya kebijakan mengurangi bagian per KK dari 20

    kg tahun 2005 menjadi hanya 10 kg dan penyaluran Raskin

    tersebut juga dikurangi dari tujuh kali (tujuh bulan) menjadi hanya

    untuk enam bulan alokasi. Ditahun 2007 jumlah pagu raskin

    Sumatera Utara naik, jumlah raskin yang disalurkan sebesar

    66.546 Ton ke 944.972 RTM. Untuk tahun 2008 dengan pagu

    165.362.225 ton, direalisasikan 155.380.381 ton (93,96 persen)

    ke 944.972 Rumah Tangga Miskin (selanjutnya di 2009 diubah

    menjadi Rumah Tangga Sasaran) di 28 kabupaten /kota (belum

    termasuk daerah pemekaran baru). Alokasi Raskin terbesar di

    Sumut diterima oleh Langkat menyusul Deli Serdang dan Kota

    Medan. Di tahun 2009 pagu ini bertambah menjadi 168.789.960

    ton dengan sasaran RTS 937.722. Pada tahun 2010 jumlah

  • Gambaran Umum | IV.12

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    penerima raskin tinggal 838.363 rumah tangga sasaran (RTS) dari

    944.972 RTS pada tahun lalu. Dengan berkurangnya jumlah RTS,

    maka alokasi beras raskin tahun ini juga menurun menjadi hanya

    1505.097,1 ton dari sebelumnya 168.789.960 ton. Meski jumlah

    penerima raskin berkurang, besaran yang diterima masing-masing

    RTS masih tetap 15 kilogram per bulan selama 12 bulan dengan

    harga beli Rp1.600 per kg sama seperti harga pada tahu 2009.

    IV.4 Produk Domestik Regional Bruto Perkapita Sumatera

    Utara

    Meskipun persentase kemiskinan SumateraUtara terus

    menurun dari tahun 2007, hal ini tidak berarti Sumatera Utara

    sudah sejahtera . Untuk melihat kesejahteraan suatu daerah dapat

    dilihat dari produk domestik regional bruto dan produk domestik

    regional bruto perkapita. Jumlah Produk Domestik Regional Bruto

    Sumatera Utara yang dihasilkan seluruh unit usaha pada tahun

    2005-2010 dapat dilihat pada tabel 7.

    Tabel 7. Produk Domestik Regional Bruto Sektoral Sumatera Utara

    Atas Dasar Harga Berlaku tahun 2005-2010 Tahun PDRB (Juta Rp) 2005 139.618,31 2006 160.376,80 2007 181.819,74 2008 213.931,70

    2009* 236.353,62 2010** 275.700,21

    Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara 2005-2010

  • Gambaran Umum | IV.13

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

    Pada tabel dapat kita lihat perkembangan produk domestik

    regional bruto Sumatera Utara yang terus meningkat dari tahun

    ketahun. Secara sektoral seluruh unit kegiatan ekonomi tersebut

    adalah : pertanian, Pertambangan dan Penggalian, Industri, listrik,

    gas & air minum, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran,

    pengangkutan & komunikasi, keuangan, persewaan, jasa perusa-

    haan, jasa-jasa.

    Pendapatan perkapita juga digunakan sebagai indikator

    kemiskinan oleh bank dunia. Berikut ini adalah perkembangan

    pendapatan perkapita Sumatera Utara dari taun 2005-2010.

    Tabel 8. Produk Domestik Regional Bruto Perkapita Sumatera

    Utara

    No Tahun PDRB/Kapita (Rp) 1 2005 11.326.516 2 2006 12.684.532 3 2007 14.166.626 4 2008 16.813.290 5 2009 18.381.010 6 2010 21.236.780

    Sumber:BPS Sumatera Utara 2005-2010

    Produk Domestik Regional Bruto Perkapita Sumatera Utara

    atas dasar Harga berlaku tahun 2005 adalah sebesar

    Rp.11.326.516 pertahun. Nilai ini terus meningkat dari tahun

    ketahun. Data BPS menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto

    Perkapita Sumatera Utara atas dasar Harga berlaku untuk tahun

  • Gambaran Umum | IV.14

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    2006 adalah sebesar Rp.12.684.532 pertahun, tahun 2007 sebesar

    Rp. 14,166,626 pertahun dan Rp.16.813.290 pertahun untuk tahun

    2008. Untuk kurun waktu 2005 2010, Tahun 2010 adalah tahun

    dengan jumlah Produk Domestik Regional Bruto Perkapita tertinggi,

    yakni sebesar Rp.21.236.780 pertahun. Jumlah ini meningkat

    sebesar Rp. 2.855.770 dari tahun 2009 yang Produk Domestik

    Regional Bruto Perkapita hanya sebesar Rp.18.381.010 per

    tahun.

    IV.5 Persentase Penduduk yang Tidak Tamat SD

    Indikator pendidikan dapat digunakan sebagai ukuran untuk

    menggambarkan standar hidup penduduk dalam suatu daerah.

    Pendidikan diharapkan akan dapat menambah produktivitas

    penduduk. Salah satu indikator pendidikan yang dapat dijadikan

    ukuran kesejahteraan masyarakat yang merata adalah dengan

    melihat tinggi rendahnya persentase penduduk yang tidak tamat

    sekolah dasar, ketidak mampuan menamatkan pendidikan dasar

    adalah cerminan kemampuan ekomomi masyarakat yang masih

    rendah. Rendahnya taraf pendidikan. juga mengakibatkan

    kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan

    sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki dan menjadi faktor

    penyebab kemiskinan, Kemiskinan dan pendidikan memiliki

    hubungan timbal balik yang saling terkait satu sama lain.

  • Gambaran Umum | IV.15

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    Perkembangan persentase penduduk yang tidak tamat Sekolah

    dasar (SD) dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

    Tabel 9. Persentase Penduduk Sumatera Utara yang Tidak Tamat SD

    No. Tahun Persentase Penduduk Yang Tidak Tamat SD (%)

    1 2005 10.44 2 2006 11.86 3 2007 9.04 4 2008 10.81 5 2009 14.52 6 2010 13.50

    Sumber:BPS Sumatera Utara 2005-2010

    Berdasarkan data persentase penduduk Sumatera Utara

    tahun 2005 yang tidak tamat SD adalah sebesar 10,44 %,

    persentase ini terus mengalami naik turun. Persentase tertinggi

    terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 14,52 % Persentase ini naik

    3,71 % dari tahun 2008 dan menurun pada tahun 2010 menjadi

    13,5 %. Persentase terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu

    sebesar 9,04 %, jumlah ini menurun dari tahun 2006 yang

    persentasenya sebesar 11,86 %. Dan pada tahun 2008

    persentasenya kembali meningkat menjadi 10,81 %.

  • Hasil Kajian Dan Pembahasan | V.1

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Kemiskinan/Akses dan Ketersediaan Pangan Di Sumatera Utara

    BAB V

    HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN

    V.1 Pertumbuhan Penduduk di Sumatera Utara

    Saat ini dunia dilanda ketakutan berlebihan terkait

    pertumbuhan jumlah penduduk. Memang sejak lama secara global

    telah dibangun mitos seputar masalah ledakan jumlah penduduk.

    Dimitoskan bahwa angka pertumbuhan penduduk yang tinggi dan

    besarnya jumlah penduduk telah menjadi bencana yang

    mengancam peradaban umat manusia, memicu masalah ekonomi,

    menyebabkan kemiskinan global, kelaparan, kehancuran

    lingkungan, ketimpangan sosial, dan ketidakstabilan politik.

    Kemiskinan global dipandang sebagai ancaman serius yang amat

    mencemaskan.

    Pertumbuhan penduduk yang pesat dapat berimplikasi

    negatif pada pertumbuhan ekonomi dan upah serta kemiskinan jika

    tidak dibarengi oleh program pelayanan kesehatan dan pendidikan

    dasar bagi publik. dan dari telaahan terhadap beberapa penelitian

    menjelang tahun 2000, diperoleh kesimpulan bahwa (1)

    pertumbuhan penduduk mempunyai hubungan kuat-negatif dan

    signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi, (2) penurunan

    pesat dari fertilitas memberikan kontribusi relevan terhadap

  • Hasil Kajian Dan Pembahasan | V.2

    LAPORAN AKHIR Kajian Dampak Pertambahan Penduduk Terhadap Pengentasan Ke