proposal ensiklpedi ulama betawi

Click here to load reader

Post on 05-Jul-2015

455 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Proposal Penulisan:

ENSIKLOPEDI ULAMA BETAWI(Sebuah Eksplorasi Biografi)

Diajukan Kepada Kepala Puslitbang Lektur dan Khazanah Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Oleh Tim Penyusun Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

PUSLITBANG LEKTUR DAN KHAZANAH BADAN LITBANG DAN DIKLAT (BALITBANG) KEMENTERIAN AGAMA RI JAKARTA 2011 1

Proposal Penulisan:

ENSIKLOPEDI ULAMA BETAWI(Sebuah Eksplorasi Biografi)

A. Latar Belakang Penulisan Posisi dan keberadaan ulama sebagai elite1 atau tokoh agama dalam masyarakat Muslim sangat penting dan strategis bagi kontinuitas dan keteraturan struktur sosial masyarakat tersebut. Beragam peran yang telah dimainkan mereka dalam pengembangan masyarakat dan penyebaran agama serta ilmu pengetahuan sehingga telah melahirkan peradaban Islam yang maju pesat. Dalam setiap periode sejarah dan perkembangan masyarakat Muslim ulama selalu muncul dengan memainkan peran tidak hanya dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan tetapi juga dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik. Singkatnya, kemajuan suatu bangsa, masyarakat dan komunitas Muslim tidak pernah lepas dari kontribusi yang telah diberikan oleh ulama. Dalam konteks inilah kita melihat, bahwa pembangunan dalam berbagai bidang kehidupan yang dilaksanakan oleh pemerintah, lebih-lebih lagi yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat, juga selalu mengandalkan peranan dan kontribusi ulama. Oleh karena itu tidak sedikit proyek pembangunan gagal karena

1

Tim penulis Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Studi tentang elite masyarakat sebagai golongan sosial penggerak perubahan masyarakat diperkenalkan Robert van Niel dan Sartono Kartodirdjo. Neil fokus studinya tentang lahirnya elite moderen Indonesia pra-kemerdekaan, sedangkan Sartono sebagai editor fokus kajiannya tentang beragam peranan elite di masyarakat dalam konteks sejarah. Mereka membagi elite kepada dua, tradisional yang cendung status qua, dan moderen yang cendrung menerima perubahan, sedangkan elit moderen dibagi lagi kepada elit fungsional dan politik. Lihat Robert van Neil, Munculnya Elit Moderen Indonesia, terj. Zahara DN, editing Bur Rasuanto, Jakarta: Pustaka Jaya, 1984, cet.-1; Sartono Kartodirdjo, (ed.), Elit dalam Perspektif Sejarah, Jakarta: LP3ES, 1981, cet.1

2

tidak melibatkan peran serta ulama.2 Sebagai contoh, Program Keluarga Berencana (KB), yang dicanangkan pemerintah masa Orde Baru, misalnya, baru dapat mencapai hasil yang maksimal setelah ulama dilibatkan dalam mensosialisasikan dan menyebarluaskan ide-ide serta program-program tersebut kepada masyarakat luas. Hal ini dapat dipahami karena anggota masyarakat dan komunitas Muslim seringkali bertumpu pada pandangan dan pemikiran ulama apakah suatu program boleh diikuti atau ditolak. Legitimasi atas tindakan apa yang perlu diikuti atau tidak mutlak diperlukan oleh sebagian besar anggota masyarakat Muslim. Inilah salah satu bukti mengapa posisi dan peranan ulama itu penting dan strategis. Namun perlu disadari pula, bahwa posisi dan peranan ulama tidak hanya dituntut untuk memberikan legitimasi atas perikelakuan anggota masyarakat. Lebih dari itu, ulama diharapkan dapat menjadi pelopor bagi pembangunan dan kemajuan masyarakat. Ulama diharapkan menjadi garda terdepan bagi pencapaian kemajuan, keadilan dan kemakmuran masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, harapan akan peranan dan kontribusi ulama bagi masyarakat sangat besar. Penting dan strategisnya posisi serta peranan ulama tidak hanya bersifat sosial-historis sebagaimana telah banyak dikaji dan ditelaah kalangan akademisi, baik akademisi luar Indonesia maupun para ilmuwan Indonesaia sendiri, tetapi juga memiliki landasan teologis dan doktrinal dalam sumber utama ajaran Islam. Al-Quran memang memuji ulama atau orang-orang yang berilmu dan kedudukan ilmu itu sendiri sangat mendapat perhatian dalam sumber utama tersebut.3 Selain itu, NabiBarangkali dalam hal ini peran ulama dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat dalam arti luas dengan pendekatan sosiologis dapat dibaca antara lain hasil penelitian dilakukan oleh Ismuha dan Baihaqi di Aceh serta Mattulada dan Abu Hamid di Sulawesi Selatan. Laporan hasil penelitian ini diberi pengantar oleh sejarawan senior Indonesia Taufik Abdullah, yang menyebutkan bahwa peran ulama begitu penting secara sosiologis di masyarakat karena kedudukan mereka sebagai jembatan antara tradisi besar dan tradisi kecil di tengah-tengah masyarakat. Lihat Taufik Abdullah, (ed.), Agama dan Perubahan Sosial, Jakarta: CV. Rajawali kerja sama dengan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS), 1983, cet.-1. Bandingkan dengan hasil penelitian PPIM UIN Jakarta tentang topik yang sama Jajat Burhanuddin dan Ahmad Baedowi, (eds.), Transformasi Otoritas Keagamaan, Pengalaman Islam Indonesia, Jakarta: Gramedia kerja sama dengan PPIM-UIN Jakarta dan Basic Education Project (Depag), 2003, cet.-1. 3 Dalam al-Quran kata ulama disebutkan dua kali dengan konteks yang berbeda-beda. Pertama, dikaitkan dengan kesejahteraan di bumi yang disimbolkan turunnya hujan untuk2

3

SAW sendiri menegaskan bahwa ulama itu adalah waratsah al-anbiya (pewaris para Nabi).4 Landasan teologis inilah sekurang-kurangnya, yang menginspirasikan dan memengaruhi sikap serta pandangan hidup masyarakat Muslim, khsususnya berkenaan dengan ulama sebagai elite atau tokoh agama. Terkait dengan landasan teologis dan doktrinal tersebut, peranan ulama yang terpenting adalah dalam rangka transmisi tradisi keilmuan Islam dalam masyarakat sehingga tradisi keilmuan Islam tersebut tetap langgeng dan bertahan sepanjang zaman serta sejarah ummat manusia. Artinya, walaupun ulama diharapkan berperan dan berkontribusi dalam program-program pembangunan sosial, ekonomi, politik dan budaya, tetapi tugas utama ulama yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali adalah bidang keagamaan, yakni bagaimana tradisi keilmuan Islam tersebar luas dan terpelihara serta bagaimana tradisi keilmuan Islam terinternalisasikan dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat Muslim. Yang tidak kalah penting juga adalah bagaimana tradisi keilmuan Islam itu berpengaruh positif terhadap berbagai aspek kehidupan lainnya (sosial, ekonomi, politik dan budaya). Dengan kata lain, sesuatu yang ironis kalau ada ulama yang lebih banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik, ekonomi, sosial dan budaya daripada bidang agama yang menjadi tugas pokoknya.

menyuburkan bumi Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-bambaNya hanyalah ulama (35: 28). Kedua, berkaitan dengan kebenaran kandungan yang telah diakui oleh ulama Bani Israil Dan apakah tak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa ulama Bani Israil mengetahuinya (26: 197). Jadi ulama adalah seseorang yang mengetahui ayat-ayat Allah, yang bersifat kawniyyah maupun quraniyyah. Lihat Muhammad Fuad Abd al-Baqi, al-Mujam al-Mufahras li al-Fazh alQuran al-Karim, Beirut: Dar al-Fikr, 1981, cet.-2, hal. 475; Muhammad Quraish Shihab, Ulama Sebagai Pewaris Nabi, Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1992, cet.-1, hal. 382-385. Bandingkan dengan Ali Mustafa Yaqub, Kreteria Ulama Ahli Waris Nabi Islam Masa Kini, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001, cet.-1, hal. 117130; Umar Hasyim, Mencari Ulama Pewaris Nabi, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1980, cet.-1; Badrudin Shubky, Dilema Ulama dalam Perubahan Zaman, Jakarta: Gema Insani Pres, 1995, cet.-1; Fuad Kauma, Noda-Noda Ulama, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002, cet.-1. 4 Hadits ini dikatagorikan hadits dhaif (lemah). Jadi, tidak bisa dijadikan sebagai sandaran hukum, kecuali hanya sebatas untuk keutamaan amal (fadhail al-amal). Lihat komentar Jamal al-Din Abd al-Rahman ibn Abi Bakr al-Suyuti, Al-Jami as-Sagir, Jilid I, Beirut: Dar al-Fikr, t.th., hal. 69. Bandingkan dengan pendapat Muhammad Hasbi ash-Shiddiqiuy, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits, Jilid I, Jakarta: Bulan Bintang, cet.-7, hal. 168-169, dan 230-232.

4

Memang betul dalam perkembangan masyarakat sekarang yang cenderung bergerak ke arah materialis dan hedonis, maka ulama menghadapi tantangan yang semakin berat dalam menjalankan tugas dan perannya. Godaan politik dan kekuasaan yang lebih berorientasi kepada keuntungan material semata senantiasa ikut mewarnai kehidupan ulama dalam proses pembinaan berbangsa dan bernegara. Keterlibatn ulama dalam dunia politik ini bukan tanpa alasan keagamaan yang dapat dan bisa dipertanggungjawabkan5, tetapi persoalannya di lapangan ditemukan bahwa tidak sedikit yang terpengaruh atau tergoda dan bahkan kemudian terjun ke dalam dunia politik praktis yang menyebabkan mereka kehilangan pengikut dan kewibawaan sebagai ulama.6 Dalam konteks masyarakat Jakarta sebagai kota megapolitan yang sangat kompleks, di mana struktur masyarakatnya bersifat urban yang ditandai perubahan sosial yang begitu cepat padahal ulama dituntut untuk menjadi garda terdepan dalam menggerakkan perubahan dan pembangunan, maka dirasakan begitu berat tantangan yang harus dihadapi. Sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa kemoderenan mendorong perubahan yang berimplikasi luas terhadap struktur sosial dan nilai-nilai serta pengikisan tradisi yang ada di masyarakat, termasuk di dalamnya tradisi keilmuan Islam. Jadi, semakin terasa arti penting ulama dalam menjalankan tugas utamanya memelihara dan menjaga kontinuitas serta mempertahankan agama diLihat argumen fiqh dalam hal ini dapat dibaca J. Sayuthi Pulungan, Fiqh Siyasah, Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1997, cet.-3; M. Ali Haidar, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia, Pendekatan Fikih dalam Politik, Jakarta: Gramedia, 1998, cet.1; Endang Turmudi, Peselingkuhan Kiai dan Kekuasaan, Yogyakarta: LKiS, 2004, cet.1. 6 Barangkali contoh yang menarik dalam konteks keterlibatan ulama dengan dunia politik praktis misalnya menurunnya popularitas Pondok Pesantren Sribandung di Sumatera Selatan. Keterlibatan