25 fatwa ulama ahlus sunnah

Click here to load reader

Post on 21-Jan-2018

29 views

Category:

Education

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  1. 1. BOLEHKAH TEMPAT USAHA YANG PADANYA TERJADI CAMPUR BAUR ANTARA PRIA DAN WANITA (Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry hafizhahullah) Pertanyaan: Semoga Allah memberkahi Anda wahai syaikh kami, Di tempat kami di negeri timur Asia terdapat rumah-rumah makan yang kebiasaannya para pengunjungnya dari kalangan pria dan wanita sehingga seringnya terjadi ikhtilath dan sebagian kemungkaran. Maka apakah pemilik rumah-rumah makan tersebut berdosa atasnya dan apakah hal itu teranggap saling membantu dalam dosa dan permusuhan? Jawaban: Jika dia benar-benar seorang muslim maka tidak halal hal seperti ini baginya. Hendaknya dia berusaha memisah antara pria dengan wanita, dan tidak halal baginya untuk membiarkan mereka duduk di samping pria. Adapun berkaitan dengan melarang maka saya kira hal itu tidak mudah baginya, karena negara- negara kafir mengharuskan, dan barangsiapa dari kaum Muslimin yang meniru mereka maka mereka akan mengharuskannya. Tetapi hendaknya dia membuat tirai pembatas sebisa mungkin, dan jangan sampai misalnya dia membiarkan orang minum khamer, menari, dan hal yang sia- sia. Jangan sampai dia membiarkan hal ini, walaupun hal itu membuatnya terpaksa harus menutup rumah makan tersebut. Dan hendaklah dia percaya dengan janji Allah: Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah maka pasti Dia akan memberikan jalan keluar bagi kesulitannya dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupinya. (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Sumber audio dan transkripnya : http://ar.miraath.net/fatwah/10512 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=8918
  2. 2. SAHKAH MENIKAH YANG KEDUA TANPA SURAT NIKAH (Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly rahimahullah) Pertanyaan: Semoga Allah senantiasa melimpahkan kebaikan-Nya kepada Anda, penanya dari Perancis mengatakan: Bolehkah bagi saya untuk menikah dengan istri yang kedua dengan akad yang diakui oleh adat-istiadat saja, karena poligami dilarang di negara saya? Jawaban: Apa yang dimaksud dengan akad yang diakui oleh adat-istiadat tersebut?! Jika hal tersebut maksudnya adalah dengan hanya mencukupkan dengan akad yang dilakukan oleh wali si wanita dan hadirnya dua orang saksi yang adil, jika maksudnya tersebut adalah seperti ini maka pernikahan tersebut sah dan akadnya sah. Namun jika maksudnya lain maka kami tidak tahu dan kami tidak bisa menetapkan fatwa hukumnya. Hanya saja seperti ini dugaan kuatnya yaitu bahwa yang dimaksud dengan pernikahan yang diakui oleh adat adalah yang tidak dicatatkan di kantor pemerintah, tetapi hanya dilakukan di tengah-tengah kabilah (suku atau masyarakat pent) dengan kehadiran pihak yang mengurusi akad, wali, pihak yang menikah atau perwakilannya, atau wali juga bisa diwakilkan, dan dua orang saksi, kemudian dilaksanakan akad. Yang semacam ini boleh dan teranggap pernikahan yang sah menurut syariat, walaupun tidak dicatatkan pada kantor pemerintah yang melarang apa yang diperbolehkan dan disyariatkan oleh Allah Azza wa Jalla. Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=8689 BOLEHKAH SHALAT DI MASJID AHLI BIDAH (Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary hafizhahullah) Pertanyaan: Semoga Allah melimpahkan kebaikannya kepada Anda, wahai syaikh kami, di negeri kami terdapat dua masjid, salah satu dari keduanya milik Ahlus Sunnah sedangkan yang lainnya milik ahli bidah, maka bolehkah bagi saya untuk mengerjakan shalat di masjid ahli bidah kadang-kadang saja, tujuannya untuk menasehati orang-orang awam? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
  3. 3. Jawaban: Orang-orang awam yang ingin engkau nasehati itu baarakallahu fiikum jika mereka tidak mengetahui keadaan ahli bidah tersebut berupa kesesatan yang ada pada mereka dan engkau orang yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan nasehat dan menjelaskan kebenaran kepada mereka serta mengingatkan mereka dengan ajaran As-Sunnah, maka tidak mengapa engkau menasehati mereka jika engkau benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukannya, jika orang-orang awam tersebut tidak mampu untuk membedakan dan tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil. Tetapi jika ahli bidah akan memanfaatkan keberadaanmu di masjid tersebut sehingga jumlah mereka menjadi bertambah banyak atau mereka semakin meramaikannya, maka keselamatan itu sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Jangan engkau masukkan dirimu ke dalam tempat yang membahayakan dan jangan membingungkan dirimu dan saudara-saudaramu (sesama Ahlus Sunnah pent). Siapa yang engkau kenal dari orang-orang awam tersebut maka datanglah ke rumahnya dan nasehatilah dia! Namun jika keberadaanmu tidak akan dimanfaatkan, mereka tidak mempedulikan dirimu, dan mereka tidak mengenal sama sekali siapa engkau, maka demi tujuan yang mulia ini jika engkau benar-benar memiliki kemampuan untuk menyampaikan nasehat dan engkau memiliki sebab yang menuntut untuk menyampaikannya, maka tidak masalah in syaa Allah Taala. Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=8448 APAKAH SESEORANG MENDAPATKAN PAHALA JIKA MELAKUKAN KEBAIKAN TANPA DISERTAI NIAT KARENA ALLAH (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Seseorang terkadang melakukan kebaikan, hanya saja mungkin di dalam lubuk hatinya tidak meniatkan kebaikan dan tidak pula keburukan, apakah dia mendapatkan pahala atasnya? Jawaban: Tidak, karena Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:
  4. 4. Hanyalah amal-amal itu diberi balasan sesuai dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah dia niatkan. Maka jika seseorang melakukan sesuatu tanpa meniatkan untuk mendapatkan pahala dan tidak meniatkan untuk mendapatkan ganjaran, maka dia tidak akan mendapatkan pahala. Sumber artike : http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=54411 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7892 BOLEHKAH MENJUAL BARANG LANGSUNG DARI TEMPAT MEMBELINYA (Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah) Pertanyaan: Sebagian pedagang membeli barang, kemudian dia tidak segera mengambil barang tersebut dan tidak melihatnya langsung, tetapi dia akan mengambilnya sewaktu-waktu dengan kwitansi dan tetap meletakkan barangnya tersebut di gudang penjual yang dia membeli darinya. Kemudian dia menjualnya ke orang lain (baik serah terima barangnya di tempat maupun dengan cara mengirimkannya ke pembeli lain pent) ketika barang itu masih berada di gudang penjual pertama tadi. Bagaimana hukum hal tersebut? Jawaban: Tidak boleh bagi pembeli untuk menjual barang tersebut selama masih berada pada penjual sampai pembeli tersebut menerimanya dan memindahkannya ke rumahnya atau ke pasar. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu alaihi was sallam dalam hadits-hadits yang shahih tentang hal tersebut, diantaranya adalah sabda beliau shallallahu alaihi was sallam: Tidak boleh hutang dan jual beli sekaligus dalam satu transaksi, dan tidak halal menjual apa yang tidak engkau miliki. Diriwayatkan oleh Ahmad dan para penyusun kitab As-Sunan dengan sanad shahih. (Al-Albany rahimahullah berkata dalam Shahih Sunan Abu Dawud II/374 no. 3504: Hasan shahih. pent) Juga berdasarkan sabda beliau shallallahu alaihi was sallam kepada Hakim bin Hizam:
  5. 5. Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak engkau miliki. Dikeluarkan oleh para imam hadits yang lima kecuali Abu Dawud dengan sanad jayyid. (Al-Albany rahimahullah berkata dalam Irwaul Ghalil no. 1292: Shahih. pent) Juga berdasarkan riwayat dari Zaid bin Tsabit dari Nabi shallallahu alaihi was sallam: Beliau melarang menjual barang di tempat barang tersebut dibeli, sampai para pedagang memindahkannya ke tempat mereka sendiri. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. (Al-Albany rahimahullah berkata dalam Shahih Sunan Abu Dawud II/373 no. 3499: Hasan berdasarkan riwayat sebelumnya. pent) Jadi siapa yang membeli barang maka tidak boleh baginya untuk menjualnya sampai dia memindahkan barang yang telah dibelinya tersebut ke rumahnya atau ke tempat yang lain seperti pasar misalnya, hal ini berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan tadi. Sumber artikel: Majmuuul Fataawaa, XIX/121-122 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7842 BOLEHKAH MEMBERIKAN KARTU DISKON BELANJA (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Sebagian supermarket memiliki kartu yang diberikan kepada pelanggan, ketika berbelanja Anda akan diberi poin sesuai nilai barang yang Anda beli, dari sana poin-poin tersebut akan diganti dengan barang yang mereka tentukan, dan dengan kartu ini Anda bisa mendapatkan harga diskon? Jawaban: Ini semua termasuk perjudian sehingga tidak boleh, jika seorang pelanggan membutuhkan barang hendaklah dia pergi ke pasar, tinggalkan cara-cara buruk semacam ini, yaitu membeli barang dengan iming-iming siapa yang cepat atau beruntung maka dia akan mendapat hadiah, tinggalkan karena itu merupakan perjudian. Konsumen akan membeli ke mereka dan tidak mau membeli ke selain mereka, jadi mereka memalingkan manusia dari tempat belanja yang lain, sehingga mereka merugikan orang lain.
  6. 6. Nabi shallallahu alaihi was sallam melarang mencegat orang-orang yang ingin menjual barangnya sebelum sampai ke pasar. Beliau juga melarang orang kota menjualkan barang orang desa. Hal itu bertujuan agar keuntungan bisa didapatkan oleh semua orang yang ada di pasar dan tidak ada seorang pun memiliki kelebihan atas orang lain. Misalnya dengan engkau memberikan berbagai hadiah agar manusia hanya membeli kepadamu dan engkau menyebabkan pembeli tidak mau belanja ke orang lain. Kemudian barang yang diterima oleh pembeli semacam ini tidak boleh hukumnya, karena itu didapatkan tanpa mengeluarkan apapun. Dia mendapatkannya hanya sebagai imbalan dari kartu tadi yang tujuannya untuk mengarahkan manusia agar berbelanja ke toko mereka atau tempat jualan mereka serta merugikan penjual yang lain. Tidak boleh merugikan orang lain sebagaimana tidak boleh merugikan diri sendiri. Yang semacam ini tidak boleh. Sumber audio: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=54279 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7791 BOLEHKAH MENJUAL BARANG ORANG LAIN Pertanyaan: Seorang pelanggan datang kepada saya dan meminta barang tertentu, namun barang yang dia inginkan itu tidak ada pada saya, tetapi barang tersebut ada di toko lain, dan harganya di toko lain tersebut misalnya 100 Riyal. Maka orang yang ingin membeli tersebut berkata kepada saya setelah memintanya: Berapa harganya? Saya jawab: Harganya 150 Riyal. Lalu dia berkata kepada saya: Tidak masalah, bawakan barang itu kepada saya! Jika saya membeli barang barang tersebut seharga 100 Riyal dan saya jual kepadanya seharga 150 Riyal, apakah semacam ini boleh? Atau bolehkah saya meminta kepadanya agar memberi saya senilai harga jual barang tersebut yaitu 150 Riyal, lalu saya belikan barang tersebut seharga 100 Riyal dan saya mengambil sisanya yang 50 Riyal tadi yang saya anggap keuntungan sebagai imbalan atas keletihan dan usaha saya? Jika tidak boleh maka bagaimana yang wajib kami lakukan, dan apakah jual beli semacam ini teranggap jual beli barang yang tidak dimiliki oleh seseorang?
  7. 7. Jawaban: Jual beli yang sifatnya disebutkan tadi adalah jual beli apa yang tidak engkau miliki dan yang tidak ada padamu. Maka tidak boleh memperjualbelikan barang tadi sampai engkau mengambilnya dan memindahkannya ke tempatmu (tidak harus ke rumah atau ke tokonya terlebih dahulu, tetapi bisa di kendaraan terus diserahkan ke pembeli pent). Jika engkau telah memiliki barang tersebut maka boleh bagimu untuk menjualnya ke pembeli dengan harga yang kalian sepakati berdua dan dengan keridhaan kalian berdua dengan keuntungan yang bisa memberi manfaat bagi dirimu namun tidak merugikan pembeli. Tetapi jika pembeli mewakilkan kepadamu untuk membeli barang tertentu, maka tidak boleh bagimu untuk mengambil lebih dari harga barang tersebut, karena orang yang diminta mewakili adalah orang yang dipercaya. Jika pembeli tersebut memberimu sejumlah uang secara suka rela sebagai imbalan bagi keletihanmu, maka halal bagimu untuk mengambilnya dalam keadaan seperti ini.. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta Tertanda: Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Anggota: - Abdul Aziz Alus Syaikh Shalih Al-Fauzan Bakr Abu Zaid Sumber artikel: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta, XIII/260-261, fatwa no. 19912 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7739 BOLEHKAH DALAM JUAL BELI MENENTUKAN SYARAT: BARANG BISA DITUKAR, TETAPI UANG TIDAK BISA DIKEMBALIKAN Pertanyaan: Bagaimana menurut Anda baarakallahu fiikum tentang apa yang dilakukan oleh sebagian pedagang berupa kesepakatan dengan pembeli bahwa pembeli boleh mengembalikan barang yang dia beli jika dia menginginkan, namun dia tidak boleh meminta kembali uang yang dibayarkan, tetapi dia boleh memilih barang lain yang
  8. 8. ada pada penjual yang dia inginkan yang seharga dengan barang yang dikembalikan. Kalau dia tidak mendapatkan barang yang sesuai pada penjual, maka penjual menulis uang pembayaran si pembeli, tujuannya jika kapan saja dia ingin membeli sesuatu dari toko tersebut dia bisa menggunakan uang tersebut sebagai deposit? Jawaban: Boleh mensyaratkan untuk menentukan pilihan atau keputusan dalam jual beli untuk jangka waktu tertentu, dan pembeli boleh mengembalikan barang yang telah dia beli dalam waktu yang telah disepakati tersebut, dan dia boleh mengambil kembali uang yang telah dia bayarkan kepada penjual, karena itu adalah hartanya. Adapun pensyaratan tidak boleh meminta kembali uang yang telah dibayarkan oleh si pembeli dan hanya boleh digunakan untuk membeli barang yang lain kepada si penjual, maka ini merupakan syarat yang bathil dan tidak boleh diterapkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam: Semua syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah adalah bathil, walaupun ada 100 syarat. (HR. Al-Bukhary no. 2155 dan Muslim no. 1504 pent) Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta Tertanda : Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Anggota: - Abdullah bin Ghudayyan Shalih Al-Fauzan Abdul Aziz Alus Syaikh Bakr Abu Zaid Sumber artikel: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta, XIII/199, fatwa no. 19804 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7613
  9. 9. MUNGKINKAH MELIHAT ALLAH DALAM MIMPI (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda wahai Shahibul Fadhilah, penanya ini mengatakan apakah mungkin Allah Jalla wa Ala dilihat dalam mimpi? Jawaban: Ya termasuk hal yang mungkin, termasuk hal yang mungkin Dia dilihat dalam mimpi. Mimpi bukan dalam keadaan berjaga. Kita menafikan hal ini hanyalah dalam keadaan berjaga di dunia. Adapun dalam mimpi maka hal itu mungkin terjadi bagi siapa yang pantas untuk mendapatkannya, bagi yang memang pantas mendapatkannya. Kalau misalnya ada seseorang dari ahli khurafat mengatakan: Saya telah bermimpi melihat Allah. Maka tidak diterima ucapannya tersebut. Kalau dia termasuk ahli iman, akidah, dan ilmu, maka mungkin saja dia bisa bermimpi melihat Allah. Adapun jika dia termasuk ahli khurafat dan para pendusta maka ucapannya tidak dibenarkan. Sumber artikel: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=54030 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7419 BOLEHKAH SYARAT BARANG TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN DAN TIDAK BISA DITUKAR DALAM JUAL BELI Pertanyaan: Apa hukum syariat menulis ungkapan Barang yang dibeli tidak boleh dikembalikan atau ditukar yang ditulis oleh sebagian toko di faktur yang mereka keluarkan, dan apakah syarat semacam ini boleh menurut syariat, dan apa nasehat Anda tentang perkara ini? Jawaban: Menjual barang dengan syarat tidak boleh dikembalikan dan tidak boleh ditukar adalah tidak boleh, karena itu merupakan syarat yang tidak sah karena mengandung tindakan merugikan pihak lain dan tindakan menyembunyikan cacat barang yang dijual, juga karena tujuan dari penjual dengan membuat syarat
  10. 10. semacam ini adalah mengharuskan pembeli untuk menerima barang walaupun barang tersebut memiliki cacat, sementara penentuan syarat semacam ini tidak bisa membersihkan cacat yang ada pada barang tersebut. Jadi seandainya barang tersebut memiliki cacat, maka pembeli boleh untuk meminta ganti dengan barang yang tidak memiliki cacat, atau dia boleh meminta kompensasi dari cacat yang ada tersebut. Juga karena harga yang sempurna merupakan imbalan bagi barang yang bagus kwalitasnya, dan tindakan penjual mengambil pembayaran dalam keadaan barang yang dia jual memiliki cacat merupakan perbuatan mengambil tanpa hak. Dan karena syariat menegakkan syarat yang telah dikenal di tengah-tengah manusia (seperti tidak boleh menjual barang yang cacat pent) sama seperti syarat yang terucap, dan hal itu tujuannya adalah agar barang yang diperjualbelikan bebas dari cacat, sehingga boleh baginya untuk mengembalikannya jika ternyata didapati ada cacatnya. Hal ini merupakan penerapan bagi pensyaratan bebasnya barang yang diperjualbelikan dari cacat yang telah dikenal di tengah-tengah manusia, walaupun syarat tersebut tidak diucapkan. Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta Tertanda: Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz Anggota: - Abdullah bin Ghudayyan Shalih Al-Fauzan Abdul Aziz Alus Syaikh Bakr Abu Zaid Sumber artikel: Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta, XIII/187-198, fatwa no. 13788 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=7415 BOLEHKAH MENGERASKAN BACAAN SHALAT SIRRIYAH ATAU SEBALIKNYA DAN BIMBINGAN MENGGUNAKAN PENGERAS SUARA DI MASJID (Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah) Pertanyaan:
  11. 11. Pendengar yang bernama Muhammad Khair dari Suriyah mengatakan dalam suratnya: Apakah disyaratkan untuk mengeraskan suara pada shalat-shalat jahriyah semuanya, dan apa hukumnya jika seseorang mengeraskan suara pada rakaat pertama dan melirihkan pada rakaat kedua? Jawaban: Melirihkan bacaan pada tempatnya dan mengeraskan bacaan pada tempatnya ketika shalat hukumnya sunnah dan tidak wajib, karena yang wajib adalah membaca, hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam: Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Ummul Quran (Al-Fatihah). [1] Jika seseorang mengeraskan suara pada shalat yang sunnahnya melirihkan atau dia melirihkan pada shalat yang sunnahnya mengeraskan, jika tujuannya tersebut adalah menyelisihi As-Sunnah, maka tidak diragukan lagi bahwa ini adalah perkara yang haram dan sangat berbahaya. Namun jika dia melakukannya karena tujuan yang lain, apakah semata-mata karena meremehkan As-Sunnah atau karena sebuah sebab yang menuntut untuk melirihkan atau mengeraskan dan situasi kondisi yang menuntut demikian, kita tidak mampu untuk membatasinya di sini maka tidak mengapa. Bahkan seandainya seseorang sengaja tidak melirihkan pada shalat yang sunnahnya melirihkan atau tidak mengeraskan pada shalat yang sunnahnya mengeraskan dengan syarat hal itu bukan karena membenci As-Sunnah dan meninggalkannya, maka dia tidak berdosa. Hanya saja dia terluput dari pahala (yang sempurna pent). Terdapat riwayat di dalam Ash-Shaihain yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam pada shalat sirriyah beliau terkadang mengeraskan ayat yang beliau baca hingga para Shahabat yang menjadi mamum di belakang beliau bisa mendengarnya. Jadi jika seorang imam terkadang melakukan hal itu maka tidak masalah bagi imam. Adapun bagi para mamum maka mereka tidak boleh mengeraskan bacaan, karena hal itu akan mengganggu jamaah yang lain. Pernah Nabi shallallahu alaihi was sallam keluar menuju para Shahabat ketika mereka sedang membaca Al-Quran dan mengeraskan bacaannya. Maka beliau shallallahu alaihi was sallam bersabda: Janganlah sebagian kalian mengeraskan Al-Quran terhadap sebagian yang lain. [3]
  12. 12. Atau dalam riwayat lain jangan mengeraskan bacaannya. Jadi kapan saja tindakan mengeraskan suara akan mengganggu yang lain maka hal itu dilarang. Pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan bahwa sebagian orang ada yang melakukan perbuatan yang mengganggu orang lain, padahal maksud mereka adalah baik insya Allah. Yaitu ketika mereka melaksanakan shalat jamaah maka sebagian mereka ada yang menghidupkan pengeras suara yang ada di menara, sehingga engkau jumpai mereka mengganggu masjid-masjid lain yang ada di dekatnya dan juga orang-orang yang mengerjakan shalat di rumah (para wanita dan orang-orang yang mendapatkan udzur pent). Terkadang mereka juga mengganggu orang lain yang ingin istirahat karena mereka telah menunaikan kewajiban mereka. Jadi kita anggap misalnya di rumah- rumah penduduk sebagian mereka ada yang sakit yang telah mengerjakan shalat dan ingin bersitirahat, maka suara-suara dari masjid ini bisa mengganggu mereka. Jika suara-suara ini hanya mengganggu masjid-masjid yang lain maka sesungguhnya hadits yang telah kami isyaratkan tadi yang diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa dan dinilai shahih oleh Ibnu Abdil Barr, tepat untuk diterapkan pada keadaan semacam ini. Yaitu sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam: Janganlah sebagian kalian mengeraskan Al-Quran terhadap sebagian yang lain. Atau dalam riwayat lain jangan mengeraskan bacaannya. Kemudian sesungguhnya mengeraskan suara di atas menara bisa menyebabkan kemalasan dan sikap menunda-nunda, karena orang-orang yang di rumah yang mendengarnya terkadang salah seorang dari mereka ada yang mengatakan dalam hati: Shalat masih berlangsung, saya masih bisa mendapatkan rakaat terakhir. Jika perkaranya seperti itu maka terkadang dia bisa saja tidak mendapatkan shalat berjamaah. Karena ketika dia mendengar suara imam, engkau jumpai dia meremehkan dan jiwanya mengajak kepada kemalasan. Adapun jika dia tidak mendengar suara imam, maka semuanya masih bisa mendengar adzan, sehingga seseorang akan segera bersiap-siap menuju shalat. Jadi menurut saya dalam masalah ini shalat jangan dikeraskan dengan pengeras suara di atas menara, hal ini berdasarkan hadits yang telah saya sebutkan dan juga karena sebab-sebab lain yang menuntut untuk tidak mengeraskan shalat di atas menara. Adapun iqamah shalat dengan pengeras suara di atas menara maka saya berharap hal ini tidak mengapa, walaupun sebagian orang ada yang membantah dengan dalih bahwa mengeraskan iqamah di atas menara juga akan menyebabkan kemalasan, karena jika seseorang mendengar adzan maka dia akan menunggu dan mengatakan: Saya tunggu sampai iqamah.
  13. 13. Hanya saja menurut saya hal itu tidak mengapa, karena dalam sebuah hadits shahih dari shallallahu alaihi was sallam beliau bersabda: Jika kalian mendengar iqamah maka berjalanlah menuju shalat dalam keadaan tenang dan jangan terburu-buru. [4] Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa iqamah pada masa Nabi shallallahu alaihi was sallam terdengar dari luar masjid. Jika ada yang mengatakan: Terkadang jamaah banyak, sementara masjidnya luas dan suara imam lemah, sehingga tidak terdengar oleh sebagian mamum. Maka kita katakan bahwa bisa dengan menggunakan pengeras suara di dalam masjid saja, jadi tidak perlu dengan yang ada di menara, karena tujuannya bisa tercapai. Catatan kaki: [1] Hadits Ubadah bin Ash-Shamit yang diriwayatkan oleh Al-Bukhary no. 756 dan Muslim no. 394, dan ini adalah lafazh Muslim. (pent) [2] Abu Qatadah Al-Harits bin Ribiy radhiyallahu anhu menceritakan: Nabi shallallahu alaihi was sallam pernah membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada shalat Zhuhur di dua rakaat pertama, dan pada dua rakaat yang terakhir beliau membaca Ummul Kitab dan mengeraskan bacaannya hingga kami mendengarnya. Beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan tidak memanjangkannya pada rakaat kedua. Demikian juga pada shalat Ashar dan juga pada shalat Shubuh. (HR. Al-Bukhary no. 776 pent) [3] Lihat: Silsilah Ash-Shahihah no. 1603. (pent) [4] HR. Al-Bukhary no. 636 dan Muslim no. 602 dan ini adalah lafazh Al-Bukhary. (pent) Sumber artikel: Fataawa Nuurun Alad Darb, Program Maktabah Asy-Syaamilah, VIII/2 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=6941 BOLEHKAH PUASA ARAFAH JIKA BERTEPATAN DENGAN HARI JUMAT (Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah) Pertanyaan:
  14. 14. Hari Arafah pernah bertepatan dengan hari Jumat, dan saya berpuasa pada hari Jumat yang bertepatan dengan hari Arafah tersebut dan saya tidak berpuasa pada hari Kamis sebelumnya. Apakah saya berdosa? Jawaban: Kami berharap engkau tidak berdosa, karena engkau tidak meniatkan untuk puasa pada hari Jumat saja. HANYA SAJA JIKA ENGKAU JUGA BERPUASA PADA HARI KAMIS MAKA HAL ITU LEBIH HATI-HATI. Karena Rasulullah shallallahu alaihi was sallam melarang untuk mengkhususkan hari Jumat dengan berpuasa [1] bagi orang yang melakukan puasa nafilah (jadi tidak berlaku bagi yang membayar hutang puasa pent). Engkau melakukan puasa nafilah, maka jika engkau juga berpuasa pada hari Kamis maka akan lebih hati-hati, walaupun niatmu adalah puasa Arafah. Hanya saja jika seorang mumin berusaha mencocoki Nabi shallallahu alaihi was sallam dan melaksanakan perintah beliau maka akan lebih hati-hati. Adapun jika berpuasa pada hari Jumat karena ingin mendapatkan keutamaan hari tersebut maka tidak boleh, karena Rasulullah shallallahu alaihi was sallam melarangnya. Tetapi jika dia berpuasa pada hari Jumat karena bertepatan dengan hari Arafah maka kami berharap tidak ada dosa atasnya. Hanya saja kalau lebih berhati-hati dengan berpuasa juga pada hari Kamis maka akan lebih selamat. Catatan Kaki: [1] Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda: Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat diantara malam-malam yang lain dengan melakukan shalat, dan janganlah mengkhususkan hari Jumat diantara hari- hari yang lain dengan melakukan puasa. (Al-Bukhary no. 1985 dan Muslim no. 1144 dan ini adalah lafazh Muslim pent) Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=147447 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=6918 BOLEHKAH WANITA MENYETIR (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan:
  15. 15. Syaikh kami yang mulia, ada banyak pertanyaan seputar tema-tema dan kejadian terkini, diantaranya pertanyaan yang sering terlontar, yaitu: Fadhilatus Syaikhina wa Waalidina, di hari-hari beredar seruan untuk memperbolehkan wanita menyetir, dan di sana ada sebagian dai dan orang-orang yang dianggap baik berpendapat bahwa hal tersebut tidak mengapa, dengan dalih bahwa hal itu jauh lebih ringan dibandingkan mempekerjakan sopir yang bukan mahram. Maka apa bimbingan Anda, apa hukumnya secara syariat, dan apa dalil yang menjadi sandaran mereka? Jawaban:. Masalah ini para ulama telah berbicara tentangnya dan mereka telah menjawabnya dengan jawaban yang mantap walhamdulillah. Intinya bahwasanya menyetirnya wanita mengandung berbagai bahaya, jika melihat maslahat yang sifatnya hanya sebagian maka perlu diketahui bahwa padanya terdapat bahaya yang banyak. Jadi tidak tepat dengan memandang sebagian namun mengabaikan bahaya-bahaya yang lainnya. Karena mencegah kerusakan harus didahulukan atas meraih maslahat, ini merupakan kaedah syariat. Menyetirnya wanita mengandung berbagai kerusakan. Diantaranya, akan memaksa wanita untuk menanggalkan hijab, tidak mungkin dia akan menyetir mobil dalam keadaan berhijab. Walaupun dia berhijab maka hijabnya akan rawan untuk terlepas, mau nggak mau. Yang kedua diantara kerusakannya adalah wanita tersebut akan bercampur baur dengan pria, seperti polisi lalu lintas, terlebih lagi ketika terjadi kecelakaan, dan betapa banyaknya kecelakaan terjadi. Dia akan campur baur dengan pria seperti pergi ke kantor polisi dan yang lainnya. Demikian juga jika terjadi kerusakan mobil sehingga mogok di tengah jalan, hal itu akan memaksanya untuk meminta bantuan kepada pria, sebagaimana hal ini pun terjadi di antara para sopir pria. Jadi wanita akan rawan mengalami campur baur dengan pria yang hal itu merupakan penyebab fitnah. Diantara bahaya lain jika seorang wanita dipegangi mobil maka dia akan keluar kapan saja dia mau siang dan malam. Karena kuncinya dia pegang dan mobilnya dia bawa sehingga dia akan bisa pergi sesukanya. Berbeda jika dia mengikuti walinya yang menyetir yang akan bersamanya di mobil dan menemaninya. Adapun jika urusannya ada di tangannya maka dia akan pergi sesukanya dan kapan saja dia diminta untuk keluar oleh orang lain. Karena dia bisa saja menjalin komunikasi dan memiliki hubungan dengan orang-orang yang rusak. Sebagaimana kalian mengetahui komunikasi di masa sekarang demikian mudahnya terhubung di
  16. 16. mana seorang wanita bisa dihubungi ketika dia sedang di atas tempat tidurnya, di kamarnya atau di rumahnya.Dia akan mudah dibujuk karena wanita itu tabiatnya lemah lalu dia pun akan pergi. Jadi menyetirnya wanita mengandung berbagai bahaya yang banyak. Kalian juga mengetahui bahwa sekarang lalu lintas sudah sangat padat di jalan raya. Maka akan bagaimana lagi jika wanita diperbolehkan untuk menyetir mobil?! Tentu jumlah mobil akan berlipat, akan semakin besar bahaya dan kepadatan lalu lintas akan semakin parah. Jadi menyetirnya wanita mengandung berbagai bahaya yang banyak. Yang terbesar adalah bahaya yang mengintai kewanitaannya, kehormatannya, dan sifat malunya. Jadi, inilah yang enjadi sebab dilarangnya wanita menyetir mobil. Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=1851 BOLEHKAH MENDENGARKAN BERITA YANG DIIRINGI OLEH MUSIK (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Fadhilatus Syaikh semoga Allah memberi taufik kepada Anda ada banyak pertanyaan yang intinya satu tema, yaitu telah beredar pada hari-hari ini fatwa tentang bolehnya musik yang sedikit yang mengiringi berita dan program/software tertentu karena hal itu tidak akan mempengaruhi syahwat, bagaimana pendapat Anda tentang fatwa semacam ini? Jawaban: Nabi shallallahu alaihi was sallam telah mengharamkan alat-alat musik dan seruling dan para ulama juga telah berijmak atas perkara tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Jadi tidak boleh seorang pun untuk mengecualikan sedikit pun darinya dan tidak boleh juga untuk mengkhususkan sesuatu pun dengan menganggapnya boleh. Rasul shallallahu alaihi was sallam melarangnya dan mengharamkannya, sehingga tidak boleh hal semacam ini. Tidak ada sedikit pun yang halal pada musik, demikian juga tidak ada sedikit pun yang halal pada alat-alat musik dan alat-alat yang sia-sia. Sumber audio dan transkripnya: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=142654 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=4865
  17. 17. BOLEHKAH NADA DERING DENGAN SUARA ADZAN DAN BOLEHKAH PROGRAM AL-QURAN DI HANDPHONE (Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhary hafizhahullah) Pertanyaan: Apa hukum menginstall suara adzan di handphone untuk mengingatkan suara adzan atau untuk membangunkan dari tidur dan yang semisalnya? Jawaban: Jangan engkau lakukan! Saya katakan: jangan lakukan hal ini! Adzan adalah ibadah. Terkadang suara adzan muncul dan meninggi, yaitu suara di HP, padahal engkau sedang berada di WC atau kamar kecil atau selainnya. Jika engkau ingin bangun maka jadikanlah sesuatu untuk mengingatkanmu! Kenapa harus dengan suara adzan?! Jelas? Ini merupakan kesalahan, baarakallahu fiikum. Tidak semua yang berijtihad Saya katakan: di sana ada banyak pihak yang kalian ketahui, yaitu para pemilik HP, sampai yang menggunakannya ada yang muslim dan yang selain muslim. Mereka menggunakan program semacam ini dan memasukannya. Diantaranya adalah adzan, dan diantaranya juga adalah Al-Quran. Benar kan?! Ada yang mengatakan: HP ini di dalamnya terdapat mushaf, padanya terdapat mushaf lengkap. Ini juga tidak sepantasnya untuk dilakukan. Bahkan yang utama dan wajib adalah dengan menghapusnya dari HP. Karena hal itu adalah mushaf, sama saja berada di dalam HP, di sakumu, di wadahmu, di kantongmu, ataupun pada selainnya. Namanya apa?! Namanya mushaf. Engkau bawa keluar masuk ke dalam WC, engkau bawa tidur, engkau letakkan di bawahmu, dan hingga terkadang engkau lupa. Jadi pada tindakan semacam ini terdapat penghinaan terhadap Al-Quran. Beberapa ulama di masa ini diantaranya Asy-Syaikh Al-Allamah Rabi dan selain beliau berpendapat tidak bolehnya melakukan hal ini, bahkan mereka berpendapat agar menghapusnya dari HP. Dan inilah pendapat yang benar. Jadi wajib untuk memuliakannya. Jika engkau ingin murajaah Al-Quran, engkau bisa menggunakan mushaf dan bacalah padanya! Kenapa harus di HP?! Termasuk yang tidak boleh adalah adzan juga. Sepantasnya untuk menjaga kemuliaan ibadah yang dituntunkan oleh syariah ini sehingga tidak boleh dihinakan. Jika engkau ingin diingatkan waktu shalat maka jadikanlah nada dering yang lain sebelum adzan beberapa menit. Di HP-mu ada
  18. 18. beberapa nada dering yang bisa digunakan (selain musik dan suara yang haram lainnya pent). Benar kan?! Penanya juga mengatakan bagaimana jika digunakan untuk membangunkan dari tidur? Demikian juga hukumnya. Memangnya bagaimana dahulu manusia bangun sebelum adanya HP yang berisi adzan dan muadzinnya?! Bagaimana mereka dahulu bisa bangun?! Laa haula wa laa quwwata illa billah. Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda: Ada 7 golongan yang Allah akan menaungi mereka di bawah naungan-Nya pada hari ketika nanti tidak ada naungan selain naungan-Nya diantaranya adalah seseorang yang hatinya selalu terikat dengan masjid. (Lihat: Shahih Al-Bukhary no. 660 pent) Siapa yang mengetahui tingginya nilai hadits yang agung ini dan meresapinya dengan mendalam, maka dia akan mengetahui makna naungan ini. Sumber audio: www.youtube.com/watch?v=T-7zsmi4MNs Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=4508 BOLEHKAH BERPUASA KETIKA SAFAR (Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah) Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda: Tidakkah cukup bagimu dengan engkau berada di jalan Allah bersama Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, sampai-sampai engkau harus berpuasa. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (III/327): Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, telah menceritakan kepadaku Husain bin Waqid dari Abuz Zubair dia berkata: Saya mendengar Jabir menceritakan: Nabi shallallahu alaihi was sallam melewati seseorang yang membolak balik punggungnya karena perutnya sakit. Maka beliau bertanya tentang keadaan orang tersebut, lalu mereka menjawab: Dia sedang berpuasa, wahai nabi Allah. Maka beliau memanggilnya dan menyuruhnya agar berbuka. Lalu Jabir menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam di atas.
  19. 19. Ini merupakan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Muslim, dan hadits ini memiliki jalan-jalan yang lain dari Jabir dengan yang semakna di dalam Ash- Shahihain dan selainnya, dan sudah ditakhrij dalam Irwaul Ghalil no. 925. Di dalam hadits di atas terdapat dalil yang jelas menunjukkan bahwa tidak boleh berpuasa ketika safar jika hal itu akan membahayakan orang yang berpuasa. Hal ini juga berdasarkan makna yang dipahami dari sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam: Bukan termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar. (Al-Albany berkata di dalam Irwaul Ghalil no. 925: Muttafaqun alaih. pent) Juga sabdanya: Mereka (yang berpuasa ketika safar pent) adalah orang-orang yang bermaksiat. (Shahih Muslim no. 1114 pent) Adapun jika keadaannya tidak demikian (tidak membahayakan bagi yang berpuasa pent) maka dia diberi pilihan, jika dia menghendaki dia boleh berpuasa dan jika dia menghendaki dia juga boleh tidak berpuasa. Ini adalah kesimpulan dari hadits-hadits yang ada dalam bab (masalah) ini, jadi tidak ada pertentangan diantara hadits-hadits tersebut. Walhamdulillah. Sumber artikel: Silsilah Ash-Shahihah no. 2595 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3950 HUKUM JABAT TANGAN KETIKA MENINGGALKAN MAJELIS (Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah) Penanya: Apa hukum jabat tangan ketika meninggalkan majelis? Asy-Syaikh: Saya tidak mengetahui dalil tentang hal ini. Jabat tangan dilakukan ketika bertemu. Memang Nabi shallallahu alaihi was sallam ketika melepas komandan pasukan, beliau memegang tangannya. Namun apakah itu merupakan jabat tangan
  20. 20. atau hanya sekedar memegangi tangannya untuk berjalan sebentar bersamanya. Karena beliau terkadang melepas orang yang akan bepergian dan berjalan sebentar bersamanya. Adapun melakukan hal ini secara khusus, maka saya tidak mengetahui adanya dalil yang menunjukkannya ketika berpisah. Riwayat yang ada tentang jabat tangan ketika bertemu adalah: Jika dua orang muslim bertemu lalu keduanya berjabat tangan, maka gugurlah dosa-dosa atau kesalahan keduanya dari jari-jari mereka. [1] Atau yang semakna dengannya. Penanya: Apakah ini sampai ke batasan bidah? Asy-Syaikh: Jika hal itu dilakukan terus-menerus. Sumber artikel: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id= Keterangan: [1] Disebutkan dalam riwayat At-Tirmidzy no. 2727 dan Abu Dawud no. 5212 dan dinilai hasan oleh Al-Albany dalm Ash-Shahihah no. 525: Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu keduanya berjabat tangan, kecuali keduanya mendapatkan ampunan sebelum mereka berpisah. (pent) Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3752 BOLEHKAH MEMBACA KORAN (Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah) Pertanyaan: Apakah hukum membaca surat kabar, koran, dan majalah dengan tujuan untuk menyaring berita-berita yang beredar di masyarakat? Berita-berita tersebut ada yang tentang Islam, tentang politik, dan tentang wawasan. Agar kita mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita.
  21. 21. Jawaban: Yang kami nasehatkan adalah agar menjauhinya. Karena mayoritas koran dan majalah digunakan untuk kepentingan poitik, sehingga biasa berdusta demi politik dan menyebarkan berita dajjal untuk kepentingan politik. Sedikit sekali engkau menjumpai koran atau majalah yang memberitakan sesuai dengan fakta. Kemudian setelah ini, umur sangat pendek sehingga seseorang seharusnya tidak memiliki waktu lagi untuk menyia-nyiakannya dengan membaca koran dan majalah. Isinya hanyalah hal-hal yang akan mengeruhkan hatinya dan menyebabkan kegelisahan. Terkadang seseorang akan menjumpai celaan terhadap Islam dan penghinaan terhadap kaum Muslimin, dan yang lainnya. Yang jelas kami tidak mengharamkan membacanya, hanya saja kami menasehati penuntut ilmu agar memfokuskan diri mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah. Adapun berita-berita yang penting sekali, maka dia tidak akan menyembunyikan dirinya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair: Orang yang tidak engkau suruh akan datang membawa berita kepadamu Jadi berita-berita yang sangat penting itu tidak akan menyembunyikan dirinya. Dia akan muncul di lapangan dalam waktu yang sangat cepat. Jika membaca semisal majalah Al-Bayan dan majalah As-Sunnah**, maka tidak masalah membaca semacam majalah Islam ini. Adapun majalah-majalah kafir maka seringnya melemparkan syubhat dan hanya akan menghabiskan waktumu dengan sia-sia. Kemudian sesungguhnya orang-orang yang bekerja di media-media dan surat kabar tersebut mayoritasnya suka berdusta dan berbuat kemunafikan. Wallahul mustaan. Sumber artikel: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3542 Tanbih ** Majalah As Sunnah & Al Bayan adalah Majalah Hizbiyyah, mungkin ketika Asy Syaikh berbicara tentang Kedua majalah ini, majalah tersebut belum di Tahdzir Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3744 BOLEHKAH MEMBERIKAN KARANGAN BUNGA KEPADA ORANG SAKIT (Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah) Pertanyaan:
  22. 22. Bagaimana pendapat Anda tentang memberikan karangan bunga kepada orang yang sakit ketika menjenguknya? Apakah hal tersebut termasuk bentuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir pent)? Jawaban: Jika hal tersebut merupakan kekhususan atau perbuatan yang hanya dilakukan oleh musuh-musuh Islam, maka hal tersebut merupakan sikap tasyabbuh dengan mereka. Adapun jika tujuannya adalah untuk menghibur orang yang sakit dan bukan menjadi kebiasaan (maka tidak masalah pent), namun jika hal itu dijadikan kebiasaan (atau dianggap syarat atau keharusan pent) walaupun yang diberikan adalah berupa buah-buahan, misalnya seperti; apel, delima, atau jeruk, maka bisa jadi hal tersebut akan menyebabkan orang tidak mau menjenguk orang sakit. Sumber artikel: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3916 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3706 BOLEHKAH PAKAIAN ANAK-ANAK YANG BERGAMBAR MAKHLUK HIDUP (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Apakah hukum gambar dan lukisan makhluk hidup yang terdapat pada pakaian anak-anak, di mana jarang ada pakaian anak-anak yang selamat dari gambar semacam itu? Jawaban: Tidak boleh membeli pakaian yang padanya terdapat gambar dan lukisan makhluk yang bernyawa seperti manusia atau hewan atau burung. Hal itu karena gambar makhluk bernyawa hukumnya haram dan tidak boleh menggunakannya, berdasarkan hadits-hadits shahih yang melarang hal tersebut dan mengancamnya dengan ancaman yang paling keras. Rasulullah shallallahu alaihi was sallam telah melaknat orang-orang yang menggambar [1] dan beliau mengabarkan bahwa mereka adalah manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat nanti. [2] Jadi tidak boleh memakai pakaian yang padanya tidak gambar, dan tidak boleh memakaikannya kepada anak kecil.
  23. 23. Dan wajib untuk membeli pakaian yang bersih dari gambar, dan alhamdulillah pakaian yang seperti itu banyak jumlahnya. [1] Lihat: Shahih Al-Bukhary, 7/67. [2] Lihat: Shahih Al-Bukhary, 7/64-65. Sumber artikel: Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 3/339, pertanyaan no. 505 BOLEHKAH WANITA MENAMPAKKAN TELAPAK TANGANNYA Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3628 Pertanyaan: Apakah hukum nampaknya telapak tangan wanita di pasar secara khusus? Dan apakah boleh memakai kaos tangan hitam atau putih? Perlu diketahui bahwa sebagian pihak ada yang mengatakan bahwa tidak masalah menampakkan telapak tangan dan menggunakan kaos tangan merupakan sikap sok agamis. Bagaimana pendapat Anda tentang hal tersebut? Jawaban: Wajib atas wanita untuk menutupi wajahnya dan kedua telapak tangannya serta seluruh anggota badannya dari pandangan pria yang bukan mahramnya. Jadi jika seorang wanita keluar ke pasar maka hal itu lebih ditekankan lagi atasnya. Demikian juga dia diperintahkan untuk melonggarkan pakaiannya dan memanjangkannya agar menutupi kedua tumitnya. Maka menutup kedua telapak tangan lebih wajib lagi, karena nampaknya telapak tangan menimbulkan fitnah. Dan wajib atas wanita untuk menutupi telapak tangannya dari pandangan pria yang bukan mahramnya, sama saja apakah menutupinya dengan memasukkan ke dalam pakaiannya atau abayanya atau dengan memakai kaos tangan. Sumber artikel: Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 3/315, pertanyaan no. 466 BOLEHKAH MENJUAL KOTORAN KAMBING UNTUK PUPUK (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Kami memiliki beberapa ekor kambing, kotorannya kami kumpulkan dan kami timbun, karena kami tidak memiliki ladang untuk memanfaatkannya, maka apakah
  24. 24. boleh menjual kotoran kambing tersebut dan apakah halal memakan hasilnya ataukah tidak boleh? Jawaban: Tidak mengapa memperjualbelikan pupuk yang tidak najis, seperti pupuk dari kotoran kambing, unta, dan sapi. Jadi kotoran hewan yang dagingnya boleh dimakan sifatnya tidak najis, memperjualbelikannya tidak masalah, hasilnya mubah dan tidak ada dosa padanya. Yang tidak jelas dan menjadi masalah adalah pupuk dari kotoran yang najis atau yang dianggap najis. Inilah yang dipermasalahkan dan ada perbedaan pendapat tentangnya. Adapun pupuk dari kotoran yang tidak najis, maka tidak masalah menggunakannya, dan tidak mengapa memperjualbelikan dan memakan hasilnya. Sumber artikel: Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 3/197, pertanyaan no. 302 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3616 BOLEHKAH JUAL BELI UANG KERTAS (Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah) Pertanyaan: Apa hukum membeli uang kertas dan menjualnya kembali jika nilainya naik? Jawaban: Muamalah dengan menjual dan membeli mata uang disebut penukaran mata uang. Penukaran mata uang harus dilakukan dengan serah terima secara langsung di tempat transaksi. Jika terjadi serah terima langsung di tempat transaksi maka hal itu tidak masalah. Maksudnya jika seseorang misalnya menukar Riyal Saudi dengan dollar Amerika maka hal ini tidak masalah, walaupun dia mengharapkan keuntungan di masa mendatang. Hanya saja dengan syarat dia mengambil dollar yang dia beli dan menyerahkan uang Saudi yang dia jual. Adapun tanpa serah terima secara langsung di tempat maka hal tersebut tidak sah, dan hal itu termasuk riba nasiah. Sumber artikel: Fataawaa Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 701 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3572
  25. 25. BOLEHKAH MENGGUNAKAN PENANGGALAN MASEHI (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan: Apakah penanggalan menggunakan kalender Masehi teranggap sikap loyal kepada orang-orang Nashara? Jawaban: Tidak teranggap sikap loyalitas, tetapi teranggap sikap tasayabbuh (menyerupai) mereka. Pada masa Shahabat radhiyallahuanhum ada penanggalan Masehi, namun mereka tidak menggunakannya, bahkan mereka berpaling kepada penanggalan Hijriyah dan menggunakan penanggalan Hijriyah. Mereka tidak menggunakan penanggalan Masehi, padahal ada di masa mereka. Ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin wajib untuk membebaskan diri dari budaya orang-orang kafir dan tidak membebek mereka. Terlebih lagi penanggalan dengan kalender Masehi merupakan symbol agama mereka, karena menunjukkan pengagungan kelahiran Al-Masih dan memperingatinya di awal tahun. Ini merupakan bidah yang diada-adakan dalam agama Nashara, sehingga kita tidak ikut-ikutan dengan mereka dan tidak pula menganjurkan perkara ini. Jika kita menggunakan penanggalan kalender mereka, artinya kita melakukan tasayabbuh dengan mereka, padahal kita memiliki penanggalan Hijriyah yang telah dicanangkan bagi kita oleh Amirul Muminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahuanhu di hadapan orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan ini telah mencukupi kita. Sumber artikel: Al-Muntaqa min Fataawa Al-Fauzan, bab Aqidah, pertanyaan no. 269 Sumber Artikel : http://forumsalafy.net/?p=3564 BOLEHKAH BONEKA UNTUK MAINAN ANAK-ANAK (Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah) Pertanyaan:
  26. 26. Penanya yang bernama Sulaiman mengatakan: Saya memohon penjelasan tentang hukum mainan anak-anak yang berupa boneka baik yang untuk anak kecil maupun yang sudah besar, yang berbentuk pengantin atau hewan, semoga Anda mendapatkan pahala? Asy-Syaikh: Yang benar tidak boleh untuk memberi mainan kepada anak-anak berupa gambar atau semacam patung makhluk yang bernyawa, terlebih lagi gambar-gambar modern yang ada di zaman ini yang persis menyerupai manusia yang bisa bergerak dengan tenaga listrik, dan terkadang bisa bicara atau tertawa dengan tenaga listrik dan teknologi tertentu yang menjadikannya seakan-akan hewan atau manusia sungguhan. Jadi fitnah yang ditimbulkannya jelas lebih besar, sehingga anak-anak dan selain mereka harus dijauhkan darinya. Sumber artikel: http://forumsalafy.net/?p=3098 Alih bahasa: Abu Almass | | |
  27. 27. BOLEHKAH BERPUASA KETIKA SAFAR Asy-Syaikh Al-Albany rahimahullah | | | Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda: Tidakkah cukup bagimu dengan engkau berada di jalan Allah bersama Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, sampai-sampai engkau harus berpuasa. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (III/327): Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubab, telah menceritakan kepadaku Husain bin Waqid dari Abuz Zubair dia berkata: Saya mendengar Jabir menceritakan: Nabi shallallahu alaihi was sallam melewati seseorang yang membolak balik punggungnya karena perutnya sakit. Maka beliau bertanya tentang keadaan orang tersebut, lalu mereka menjawab: Dia sedang berpuasa, wahai nabi Allah. Maka beliau memanggilnya dan menyuruhnya agar berbuka. Lalu Jabir menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam di atas. Ini merupakan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Muslim, dan hadits ini memiliki jalan-jalan yang lain dari Jabir dengan yang semakna di dalam Ash-Shahihain dan selainnya, dan sudah ditakhrij dalam Irwaul Ghalil no. 925. Di dalam hadits di atas terdapat dalil yang jelas menunjukkan bahwa tidak boleh berpuasa ketika safar jika hal itu akan membahayakan orang yang berpuasa. Hal ini juga berdasarkan makna yang dipahami dari sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam: Bukan termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar. (Al-Albany berkata di dalam Irwaul Ghalil no. 925: Muttafaqun alaih. pent) Juga sabdanya: Mereka (yang berpuasa ketika safar pent) adalah orang-orang yang bermaksiat. (Shahih Muslim no. 1114 pent) Adapun jika keadaannya tidak demikian (tidak membahayakan bagi yang berpuasa pent) maka dia diberi pilihan, jika dia menghendaki dia boleh berpuasa dan jika dia menghendaki dia juga boleh tidak berpuasa. Ini adalah kesimpulan dari hadits-hadits yang ada dalam bab (masalah) ini, jadi tidak ada pertentangan diantara hadits-hadits tersebut. Walhamdulillah.
  28. 28. Sumber artikel: Silsilah Ash-Shahihah no. 2595 Melepas Sandal Ketika Masuk Kuburan | | | Pertanyaan: Apakah melepas sandal waktu di kuburan itu sunnah atau bidah? Jawab: Disyariatkan bagi yang masuk kuburan untuk melepas kedua sandalnya, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Basyir bin Al-Khashashiyyah radhiyallahu anhu, ia mengatakan: Ketika aku berjalan mengiringi Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, ternyata ada seseorang berjalan di kuburan dengan mengenakan kedua sandalnya. Maka Nabi shallallahu alaihi was sallam mengatakan: Hai pemakai dua sandal tanggalkan kedua sandal kamu! Orang itu pun menoleh. Ketika dia tahu bahwa itu ternyata Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, ia melepaskannya serta melemparkan keduanya. (HR. Abu Dawud) Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata: Sanad hadits Basyir bin Al-Khashashiyyah bagus. Aku berpendapat dengan apa yang terkandung padanya kecuali bila ada penghalang. Penghalang yang dimaksudkan Al-Imam Ahmad adalah semacam duri, kerikil yang panas, atau semacam keduanya. Ketika itu, tidak mengapa berjalan dengan kedua sandal di antara kuburan untuk menghindari gangguan itu. Allah subhanahu wa taala-lah yang memberi taufiq, semoga shalawat dan salam-Nya tercurah atas Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam, keluarganya, dan para sahabatnya. Ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan Asy- Syaikh Abdullah Ghudayyan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 9/123-124) MENGHITUNG TASBIH DENGAN JARI ATAUKAH DENGAN RUAS JARI Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah | | | Pertanyaan: Apa hukum menghitung tasbih dengan menggunakan jari dan bukan dengan ruas jari? Jawaban: Yang saya ketahui bahwasanya Nabi shallallahu alaihi was sallam menghitung tasbih dengan tangan kanan beliau. [1]
  29. 29. Adapun hadits yang berbunyi: Bertasbihlah kalian wahai para wanita dengan hitunglah dengan ruas-ruas jari, karena ruas-ruas jari tersebut akan diperintahkan untuk berbicara. Yang saya ketahui pada hadits ini terdapat kelemahan. Yang saya ingat padanya ada seorang perawi yang tidak dikenal, wallahu alam. [2] Tinggal perkaranya engkau diberi pilihan untuk menghitung tasbih menggunakan jari, engkau perhatikan mana yang mudah bagimu untuk menghitung. Jika engkau merasa lebih mudah menghitungnya dengan cara menekuk atau melipat jari maka engkau boleh melakukannya. Namun jika engkau merasa lebih mudah menghitungnya dengan ruas-ruas jari maka engkau juga boleh melakukannya. Selama hadits menyebutkan secara umum, maka engkau tidak perlu menentukan atau mempersulit dirimu. Penanya: Bagaimana dengan menggunakan alat penghitung tasbih? Asy-Syaikh: Pertanyaan yang bagus baarakallahu fiik Akh Ali, menggunakan alat penghitung tasbih adalah bidah. sedangkan hadits yang berbunyi: Sebaik-baik pengingat adalah alat tasbih. Maka ini adalah hadits palsu. Juga hadits yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi was sallam melewati seorang wanita yang sedang bertasbih dan menghitungnya menggunakan kerikil, lalu beliau menyetujui hal itu, ini juga tidak shahih. Hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Asy- Syaikh Nashir Al-Albany di jilid pertama dari kitab As-Silsilah Adh-Dhaifah. [3] Jadi ini adalah mengingatkan yang baik, jazakallahu khairan. Sumber artikel: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3109 Keterangan: [1] Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma menceritakan:
  30. 30. Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam menghitung tasbih menggunakan tangan kanan beliau. Lihat: Shahih Sunan Abi Dawud no. 1346. [2] Lihat: As-Silsilah Adh-Dhaifah, III/48 penjelasan hadits no. 1002. [3] Lihat: As-Silsilah Adh-Dhaifah no. 83. (pent) KAPANKAH WANITA HAIDH DIWAJIBKAN MENGQADHA SHALAT Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Penanya: Fadhilatus Syaikh yang semoga diberi taufik oleh Allah, jika seorang wanita mengalami haidh pada awal waktu Zhuhur, apakah dia harus menqadha shalat? Asy-Syaikh: Tidak, dia hanya wajib mengqadha jika mengalami haidh di akhir waktu shalat. Jika dia mengalami haidh di akhir waktu shalat sementara dia belum mengerjakan shalat, maka dia wajib mengqadha. Adapun jika dia mengalami haidh di awal waktu, sementara waktunya panjang, dia boleh mengakhirkan shalat, namun ketika itu haidh datang di waktu yang dia diberi keluasan untuk mengakhirkan, maka dia tidak berdosa dan tidak wajib mengqadha. Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7936 BOLEHKAH ORANG YANG JUNUB, BERWUDHU SAJA JIKA AIR SANGAT DINGIN Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Penanya: Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, penanya mengatakan: Saya mengalami junub, sementara saya tidak memiliki air panas, maka saya membasuh kemaluan dengan air dingin, lalu saya berwudhu dengan air dingin tersebut dan tidak bertayamum, kemudian saya mengerjakan shalat. Apakah perbuatan saya tersebut benar? Asy-Syaikh: Yang wajib adalah dengan engkau mandi dengan air, kecuali jika engkau mengkhawatirkan bahaya karena air yang sangat dingin dan engkau tidak mampu
  31. 31. memanaskannya, airnya sangat dingin yang engkau tidak mampu menahan rasa dinginnya, sementara engkau tidak mampu memanaskannya, maka cukup bagimu untuk tayammum dengan debu dan mengerjakan shalat. Adapun jika engkau mampu memanaskan air seperti dengan kayu bakar atau gas, maka wajib untuk menggunakan air (mandi pent). Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7917 BOLEHKAH MENJAMA SHALAT JUMAT DAN ASHAR Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Penanya: Ada beberapa orang melakukan safar, lalu mereka menjama shalat Jumat dengan shalat Ashar, kemudian mereka bertanya kepada salah seorang penuntut ilmu tentang hal tersebut, maka dia menjawab: Saya tidak mengetahui ada yang melarang hal tersebut? Maka hukum hal tersebut berkaitan dengannya dan dengan mereka? Apakah di sana ada pendapat sebagian ulama yang menyatakan bolehnya hal tersebut? Asy-Syaikh: Ini merupakan pendapat yang lemah. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak boleh menjama shalat Ashar dengan shalat Jumat. Dan tidak ada riwayat dari Salaf satu huruf pun yang menyebutkan bahwa mereka menjama shalat Jumat dengan Ashar, tidak ada riwayat semacam ini. Yang ada hanya pendapat yang lemah dari sebagian pengikut madzhab Asy-Syafiiy. Adapun jumhur berpendapat sebaliknya. Bahkan siapa yang menjama shalat Ashar dengan shalat Zhuhur (mungkin maksudnya Jumat pent) maka dia wajib mengulang, wajib atasnya untuk mengulang shalat Ashar. Penanya: Kalau telah lewat? Asy-Syaikh: Walaupun telah berlalu 100 tahun dia harus mengulangi shalat Ashar. Penanya: Kalau dia mengerjakan shalat Zhuhur dan tidak menghadiri shalat Jumat?
  32. 32. Asy-Syaikh: Yang tidak ada adalah menjama dengan shalat Jumat. Gambarannya seseorang mengerjakan shalat Jumat bersama manusia, dan tatkala mereka selesai dari shalat Jumat dia bangkit mengerjakan shalat Ashar. Penanya: (Suara kurang jelas). Asy-Syaikh: Tidak tepat, tidak boleh menjama dan waktunya belum datang. Shalat Ashar dikerjakan pada waktunya yaitu waktu Ashar. Penanya: Bagaimana dengan orang yang tidak menghadiri shalat Jumat apakah boleh mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan menjama? Asy-Syaikh: Jika dia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar di (suara kurang jelas pent) hal ini mungkin, seperti seorang musafir yang tidak menghadiri shalat Jumat bersama orang- orang yang mukim lalu dia mengerjakan shalat Zhuhur dan menjamanya dengan shalat Ashar maka tidak mengapa. Karena pembicaraan kita berkaitan dengan menjama shalat Ashar dengan shalat Jumat. Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/11646 BOLEHKAH MUSAFIR UNTUK TIDAK MENGERJAKAN SHALAT DI MASJID Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Penanya: Jika seorang musafir singgah di hotel atau di sebuah rumah dan di sekitarnya terdapat masjid yang ditegakkan shalat jamaah padanya, bolehkah baginya untuk menjama shalat di rumah, terlebih lagi jika dia membutuhkan istirahat? Asy-Syaikh:
  33. 33. Jika dia membutuhkan istirahat maka boleh baginya untuk menjama, atau jika dia ingin tidur, misalnya karena dia lelah sehingga ingin tidur dan dia seorang musafir, maka tidak masalah baginya untuk menjama di hotel atau di rumah. Adapun jika dia dalam kondisi semangat atau dia hanya duduk hingga muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat berikutnya, maka yang afdhal dan lebih hati-hati baginya adalah dengan pergi ke masjid untuk shalat jamaah. HUKUM MENGERASKAN BASMALAH DALAM SHALAT Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimy hafizhahullah | | | Penanya: Di sebagian masjid bacaan basmalah dibaca dengan keras dan di sebagian yang lain dibaca dengan lirih, bagaimana menyikapi perbedaan ini? Jawaban: Ini adalah perkara yang diperselisihkan bahkan oleh sebagian shahabat radhiyallahu anhum. Adapun pendapat yang dikuatkan oleh dalil-dalil yang ada adalah dengan tidak mengeraskan bacaan basmalah. Dan siapa yang mengeraskan bacaan maka tidak boleh diingkari lebih dari sekedar menjelaskan dalil bagi pendapat yang rajih (lebih kuat pent). HUKUM ADZAN BAGI WANITA Fatwa Kewanitaan Bersama Syaikh Muqbil Bin Hadi al-Wadiiy rohimahulloh. | | | Pertanyaan: Apakah disyariatkan adzan bagi wanita? Jawaban: Tidak disyariatkan, dan baginya (cukup dengan) iqomah saja karena suara wanita adalah fitnah, dan Alloh azza wa jalla berfirman: Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. [Qs. Al-Ahzab: 32]
  34. 34. Dan yang berpendapat hal itu disyariatkan ialah imam Syaukani dan Muhammad Shiddiq Hasan Khan dan keduanya berkata: Hukum asalnya ialah keumuman pensyariatan. Akan tetapi (pendapat) yang benar ialah tidak disyariatkan bagi wanita. [Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2147] APAKAH OBAT UNTUK MEMBERSIHKAN RIYA ? Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah | | | Pertanyaan: Saya bertanya tentang obat yang bisa membersihkan riya? Jawaban: Demi Allah wahai saudaraku, engkau telah menanyakan perkara yang besar. Pertama hendaklah engkau memperbanyak doa, hendaknya engkau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Taala agar mengkaruniakan keikhlasan kepadamu dan membersihkan dirimu dari bala ini. Dan setiap muslim hendaknya berdoa kepada Rabbnya Subhanahu wa Taala agar membersihkan dirinya dari kesyirikan walaupun yang sedikit kadarnya, apalagi yang banyak. Karena sebagaimana yang telah kita katakan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, bisa jadi riya tersebut akan menggugurkan amal secara keseluruhan, atau mengurangi pahalanya. Maka wajib atas seorang hamba untuk semangat berdoa, karena Allah Jalla wa Ala berfirman: Maka barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia beramal shalih dan jangan menyekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan seorang pun. (QS. Al-Kahfi: 110) Dan Nabi shallallahu alaihi was sallam telah menjelaskan bahaya syirik asghar (syirik kecil) yaitu riya, dan ini merupakan perkara yang paling beliau khawatirkan akan menimpa kita, dan dia lebih samar dibandingkan rayapan semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap gulita. Jadi dia sangat tersembunyi, oleh karena itulah banyak manusia yang tidak mewaspadainya sehingga menjalar kepada mereka. Perkara terbesar yang bisa engkau gunakan untuk mengobatinya adalah dengan engkau menghisab dirimu: Apa yang bisa dilakukan untukmu oleh orang yang engkau berbuat riya kepadanya dengan amalmu itu?
  35. 35. Balasan apa yang akan dia berikan kepadamu?Ingatlah hal ini selalu dan renungkanlah! Balasan apa yang akan diberikan kepadamu oleh orang yang engkau berbuat riya kepadanya dengan amal shalihmu tersebut? Apakah dia bisa membela dirimu dari adzab Allah sedikit saja? Ingatlah selalu firman Allah Tabaraka wa Taala kepadamu pada hari kiamat nanti: Amalnya yang disertai riya tersebut untuk yang dia jadikan sekutu selain Allah. (Asal hadits ini adalah riwayat Muslim no. 2985, namun dengan lafazh ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Al-Albany rahimahullah berkata dalam Shahih Sunan Ibnu Majah III/371 no. 3406: Shahih. pent) Kita memohon keselamatan kepada Allah. Jika engkau merenunginya maka insya Allah hal itu akan mewariskan kepadamu untuk berusaha mengobati hatimu, muhasabah (instropeksi), dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membebaskan diri dari bencana besar ini. Jadi dengan selalu mengingat dan merenungkan keagungan Allah Jalla wa Ala Yang kita ibadahi yang hanya kepada-Nya saja ibadah boleh ditujukan, merenungkan bahwa perbuatan yang engkau lakukan karena riya untuk orang tersebut akan menghancurkan dirimu, dan engkau tidak akan menjumpai selain kecelakaan dan kebinasaan pada hari kiamat nanti, ini semua insya Allah Taala yang akan membantumu untuk ikhlash dalam beribadah. Sumber artikel: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=54349 BAHAYA KETENARAN Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz hafizhahullah [Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi] | | | Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata: Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku, tidak akan ada orang yang mau berjalan di belakangku (mengikutiku) walaupun cuma dua orang. (Lihat: Siyar Alamin Nubala, I/495 pent) Ada orang-orang yang terkenal, sebagian mereka ada yang terkenal karena dia seorang qari Al-Quran, dia terkenal karena bagusnya bacaannya dan karena kemerduan suaranya, sehingga manusia banyak yang mendatanginya. Diantara mereka ada yang merupakan seorang ulama yang dia terkenal karena ilmu, fatwa, wara dan kesalehannya, sehingga banyak manusia yang mendatanginya.
  36. 36. Diantara mereka ada yang sebagai seorang dai yang dia terkenal karena apa yang dia kerahkan dan dia upayakan untuk manusia, sehingga banyak dari mereka yang mendatanginya disebabkan karena Allah memberi mereka hidayah kepada kebenaran melalui perantaraan dia. Ada juga seseorang yang terkenal karena dia seorang yang menunaikan amanah, ada yang terkenal karena suka melakukan amar maruf nahi mungkar, dan seterusnya. Ketenaran merupakan kedudukan yang sangat rawan untuk menggelincirkan seseorang. Oleh karena inilah Ibnu Masud radhiyallahu anhu mewasiatkan untuk dirinya sendiri yang menjelaskan keadaan beliau dan menjelaskan apa yang wajib untuk dilakukan katakanlah oleh siapa saja yang memiliki pengikut, beliau mengatakan: Seandainya kalian mengetahui dosa-dosaku, tidak akan ada orang yang mau berjalan di belakangku (mengikutiku) walaupun cuma dua orang, dan niscaya kalian akan menaburkan debu di kepalaku. Wajib atas siapa saja yang memiliki ketenaran atau dia termasuk orang yang menjadi idola manusia, untuk senantiasa menganggap rendah dirinya di tengah-tengah mereka, dan hendaknya dia menampakkan hal itu namun bukan agar dimuliakan oleh mereka. Tetapi dia melakukannya semata-mata agar mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Jalla wa Ala. Dan poros dari hal itu adalah keikhlasan, karena sungguh diantara manusia ada yang terkadang merendahkan dirinya di hadapan manusia agar dia nampak atau menonjol (agar dianggap sebagai orang yang tawadhu pent) diantara mereka. Yang semacam ini termasuk perbuatan syaithan. Diantara mereka ada yang merendahkan dirinya di tengah-tengah manusia dalam keadaan Allah Jalla wa Ala mengetahui hatinya bahwa dia jujur dalam hal tersebut. Dia melakukannya karena takut perjumpaan dengan Allah Jalla wa Ala, dan dia takut terhadap hari ketika apa yang tersembunyi dalam dada diberi balasan setimpal, dan hari ketika semua yang ada di dalam hati dibongkar. Dan ketika itu tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari ilmu Allah. APAKAH SESEORANG AKAN DIADZAB KARENA BERDEKATAN DENGAN ORANG YANG SESAT Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan hafizhahullah | | | Saya (Asy-Syaikh Badr bin Muhammad Al-Badr hafizhahullah pent) bertanya kepada guru kami Shalih Al-Luhaidan pada pagi hari Rabu 5 Muharram 1436 H tentang firman Allah Taala:
  37. 37. Dan ingatlah pada hari ketika orang yang zhalim menggigit kedua tangannya seraya berkata: Duhai sekiranya aku dahulu menempuh jalan Rasul. Duhai celaka diriku, seandainya saja aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai teman dekat. Sungguh dia telah menyesatkan diriku dari Al-Quran ketika telah datang kepadaku. Dan syaithan tidak pernah mau menolong manusia. (QS. Al-Furqaan: 27-29) Juga firman-Nya: Ingatlah ketika orang-orang yang diikuti (kesesatannya) berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti mereka dan mereka telah melihat adzab serta segala hubungan telah terputus. Dan orang-orang yang mengikuti mengatakan: Seandainya kami dikembalikan ke dunia agar kami bisa berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka telah berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah akan menampakkan amal perbuatan mereka sebagai penyelasan yang mendalam atas mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari neraka. (QS. Al- Baqarah: 166-167) Apakah ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seseorang akan dihisab dan diadzab karena dia berteman dengan orang menyimpang dan sesat? Beliau menjawab: Apakah ada seseorang yang ragu tentang hal ini, wahai anakku?! Tidak diragukan lagi dia akan dihisab. Bukankah Nabi shallallahu alaihi was sallam telah mentahdzir dari teman yang buruk, sebagaimana dalam hadits: Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api atau pandai besi. (HR. Al-Bukhary no. 5534 dan Muslim no. 2628 pent) Peniup api bisa membakar bajumu, dan sabda beliau ini merupakan tahdzir agar jangan berteman dengannya. Saya bertanya lagi: Apakah artinya dia akan diadzab dan dihisab karena berteman dengan orang yang menyimpang tadi, wahai syaikh kami? Beliau menjawab: Ya, dia juga akan diadzab. Sumber artikel: www.bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=22503
  38. 38. BAGAIMANA MENJAGA DIRI DARI SYIRIK TERSEMBUNYI Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiry hafizhahullah | | | Pertanyaan: Bagaimana saya melindungi dan menjaga diri saya dari syirik tersembunyi? Apakah orang yang terjatuh padanya tempat tinggalnya di neraka? Dan bagaimana saya bisa mengetahui bahwa saya terjatuh padanya? Jawaban: Syirik tersembunyi adalah riya, seperti engkau mengerjakan shalat dan membaguskan shalatmu karena ada orang lain yang melihatmu, atau engkau bersedekah agar manusia menyebutmu. Semacam ini merupakan syirik tersembunyi. Untuk membebaskan diri darinya dengan cara: Pertama: Berusaha semaksimal mungkin menundukkan jiwamu, selama engkau terus berusaha menundukkannya dan melawannya namun engkau masih menjumpai hal itu maka insya Allah Taala hal itu tidak akan merugikanmu. Kedua: Jika hal ini mempengaruhi dirimu, maksudnya jika pandangan manusia mempengaruhi dirimu ketika engkau mengerjakan amal shalih, maka bersembunyilah semaksimal mungkin. Dan jika engkau tidak mampu maka kuatkan tekat dan jauhkanlah was-was dari dirimu, dan saya khawatir yang menimpamu termasuk was-was. Terakhir: Hendaklah engkau memperbanyak mengucapkan doa ini: Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedikit saja dalam keadaan aku mengetahui, dan aku meminta ampunan kepada-Mu dari dosa yang tidak aku ketahui. (Lihat: Shahih Al-Adabul Mufrad no. 551 pent) Adapun apakah pelakunya akan masuk neraka, orang yang berbuat riya terancam dengan neraka. Hanya saja dengan banyak bertaubat, istighfar, dan terus menerus berdoa dengan doa ini sebagaima yang telah saya sebutkan kepadamu tadi, dan itu adalah riwayat yang shahih, dinilai shahih oleh Al-Albany dan ulama yang lain semoga Allah merahmati mereka semua insya Allah Taala engkau akan aman dan mendapatkan taufik untuk membersihkan dirimu dari syirik tersembunyi berupa riya. Sumber artikel: http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=54187
  39. 39. ORANG YANG IKHLASH DAN JUJUR SELALU BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH APAPUN YANG MENIMPANYA SELAMA DIA DI ATAS KEBENARAN Al-Allamah Abdurrahman bin Yahya Al-Muallimy Al-Yamany rahimahullah | | | Sebagian orang pernah bercerita kepadaku bahwa ada seseorang yang kebiasaannya mencium kuku kedua ibu jarinya ketika dia mendengar muadzin mengucapkan: Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Kemudian dia meninggalkannya ketika ada salah seorang ulama mengatakan kepadanya bahwa hal itu adalah perbuatan bidah dan hadits yang diriwayatkan tentang perkara tersebut dihukumi oleh para ahli hadits sebagai riwayat dusta. Ketika dia meninggalkan kebiasaannya tersebut maka dia ditimpa rasa sakit di kedua matanya. Maka dia pun berusaha untuk mengobatinya dengan berbagai macam obat. Namun berbagai macam obat tersebut tidak mempan, sampai ada sebagian orang-orang shufi mengatakan kepadanya: Makanya hendaknya engkau meneruskan mencium kedua ibu jarimu ketika adzan! Lalu terbetiklah di dalam hatinya anggapan bahwa rasa sakit tersebut menimpanya sebagai hukuman terhadapnya karena dia meninggalkan kebiasaan tersebut. Akhirnya dia pun kembali melakukan bidah tersebut dan ternyata rasa sakitnya pun hilang. Maka katakanlah kepadanya di dalam menilai apa yang dia alami tersebut: sesungguhnya Allah senantiasa menguji hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki dan menggiring orang-orang yang sengaja memilih kesesatan semakin jauh dari jalan yang benar tanpa mereka sadari. Kami telah mendengar dari beberapa orang yang menceritakan bahwa ada seseorang yang tidak mengerjakan shalat, maka sebagian orang-orang yang suka menasehati berusaha memotivasinya untuk mengerjakan shalat dan menakut-nakutinya dengan hukuman yang akan menimpanya akibat meninggalkannya. Maka dia pun mulai menjaga shalat. Setelah itu ternyata dia ditimpa berbagai musibah pada keluarga dan hartanya. Maka dia menganggap bahwa hal itu adalah akibat shalat yang dia kerjakan sehingga dia pun meninggalkannya. Kami katakan: bisa saja musibah yang menimpanya adalah akibat dari shalat yang dia kerjakan. Penjelasannya adalah hadits yang menyatakan: Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali seuatu yang baik pula. (HR. Muslim no. 1015 pent)
  40. 40. Jadi termasuk sunnatullah adalah jika seorang hamba meninggalkan sebuah kemaksiatan, maka Allah akan mengujinya agar nampak hakekatnya dan apa sebenarnya yang mendorongnya untuk meninggalkan maksiat tersebut. Apakah karena iman atau karena sesuatu yang lain. Yang semisal dengannya adalah yang diceritakan oleh sebagian orang kepada saya bahwa ada seseorang yang jika dia mengerjakan shalat wajib sendirian maka dia merasakan hatinya lembut dan khusyuk, namun jika dia shalat berjamaah justru dia tidak bisa khusyuk. Sebab dari apa yang menimpanya ini karena sesungguhnya syaithan berusaha menyeretnya agar meninggalkan shalat berjamaah. Jadi syaithan membiarkannya khusyuk jika dia mengerjakan shalat sendirian dan mengganggunya jika dia shalat berjamaah, dengan tujuan agar orang tersebut meninggalkan shalat berjamaah dan agar meyakini bahwa shalat sendirian lebih afdhal (karena menurutnya bisa lebih khusyuk pent). Sehingga keyakinan dia yang seperti ini merupakan sikap menyelisihi syariat yang bahayanya lebih besar atasnya dari sekedar meninggalkan shalat berjamaah. Yang semisal dengannya juga adalah apa yang saya jumpai sendiri. Dahulu saya pernah dalam keadaan yang baik pada keluarga (sehat pent) dan harta saya (berkecukupan pent). Maka saya menginfakkan sebagian harta saya pada salah satu jalan kebaikan. Kemudian saya ingin melakukannya lagi, namun tiba-tiba muncul musibah yang menimpa keluarga dan harta saya. Namun dengan memuji Allah semata saya tidak terpengaruh dengan musibah tersebut dan saya tetap melaksanakan untuk menginfakkan harta yang telah saya niatkan sebelumnya. Bahkan kemudian saya mengulanginya untuk ketiga kalinya. Sampai sekarang sebagian musibah tersebut belum hilang sepenuhnya. Namun nampaklah kepada saya rahasia kenapa musibah-musibah tersebut menimpa saya. Barangkali apa yang saya infakkan tersebut diterima di sisi Allah Azza wa Jala, lalu Allah ingin membalasnya dengan membersihkan diri saya dari sebagian dosa-dosa yang telah saya lakukan. Dan musibah- musibah tersebut adalah sebagian dari bentuk pembersihan dosa itu. [Risaalah Fii Tahqqiihil Bidah, hal. 28-32] Sumber artikel: Al-Imam Abdurrahman Al-Yamany Hayaatuhu wa Aatsaaruh, hal. 57-58 HIKMAH TERJATUHNYA SEBAGIAN ORANG YANG IKHLASH DALAM KESALAHAN Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Muallimy rahimahullah | | | Ketahuilah bahwasanya Allah Taala terkadang menjatuhkan sebagian orang-orang yang ikhlash pada sebuah kesalahan sebagai ujian bagi yang lain; yaitu apakah mereka
  41. 41. akan mengikuti kebenaran dan meninggalkan pendapat orang yang salah tersebut, ataukah justru mereka tertipu dengan keutamaan dan kemuliaannya? Adapun ulama yang salah tersebut mendapatkan udzur, bahkan dia mendapatkan pahala karena ijtihadnya dan tujuannya yang baik serta tidak meremehkan usaha. Tetapi orang yang mengikuti semata-mata karena tertipu dengan nama besarnya tanpa mau memperhatikan hujjah-hujjah yang sesungguhnya yang berasal dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi was sallam, maka dia tidak mendapatkan udzur, bahkan dia berada dalam bahaya yang besar. Ketika Ummul Muminin Aisyah radhiyallahu anha pergi ke Bashrah sebelum pecahnya Perang Jamal, Amirul Muminin Ali radhiyallahu anhu menyusulkan putra beliau Al-Hasan dan Ammar bin Yasir radhiyallahu anhuma untuk menasehati manusia. Diantara perkataan Ammar kepada penduduk Bashrah adalah: Demi Allah, sesungguhnya dia adalah istri dari Nabi kalian shallallahu alaihi was sallam di dunia dan akhirat, tetapi Allah Tabaaraka wa Taaala menguji kalian untuk mengetahui apakah kalian lebih mentaati beliau ataukah mentaatinya. [1] Termasuk contoh terbesar yang juga semakna dengan ini adalah tuntutan Fathimah radhiyallahu anha agar mendapat warisan dari ayahnya shallallahu alaihi was sallam. Dan ini merupakan ujian besar bagi Ash-Shiddiq (Abu Bakr) radhiyallahu anhu. Namun Allah mengokohkannya menghadapi ujian ini. [Raful Isytibaah An Manal Ibaadah wal Ilah, hal 152-153] Catatan Kaki: [1] HR. Al-Bukhary no. 7110. (pent) [2] Hal ini karena Abu Bakr radhiyallahu anhu mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam: Kami tidak diwarisi, apa saja yang kami tinggalkan maka itu semuanya menjadi shadaqah. Lihat: Shahih Al-Bukhary no. 4240. (pent) Sumber artikel: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=39521 TAUHID SEPERTI NAFAS YANG JIKA BERHENTI MAKA KITA AKAN MATI Asy-Syaikh Muhammad bin Hady Al-Madkhaly hafizhahullah | | |
  42. 42. Wahai segenap orang-orang yang saya cintai, bab ini yaitu bab tauhid dan membicarakannya, bagi kita kedudukannya seperti nafas, kita hidup dengannya dan jika berhenti maka kita akan mati. Sebagian orang didatangi oleh Iblis untuk merusaknya dengan ucapan: Aku sudah menjadi orang besar dan ulama, dan perkara-perkara ini diketahui oleh para pelajar di sekolah dasar! Tidak demikian wahai saudaraku, seandainya pandangan yang benar adalah semacam ini, tentu Allah tidak akan memulai dari awal, menambah, dan mengulang- ulangnya di dalam Kitab-Nya. Demikian juga tentu Rasulullah shallallahu alaihi was sallam tidak akan menjelaskannya dan mengingatkannya dari waktu ke waktu kepada para Shahabat beliau yang mereka adalah orang-orang mulia dan berakal serta orang-orang yang terpilih dari bangsa Arab. Wahai saudaraku tercinta, jika hal ini sedikit saja datang kepadamu atau muncul dari dirimu sendiri, maka ketahuilah bahwa hal itu berasal dari Iblis yang ingin memalingkanmu darinya agar engkau meremehkannya. Maka setelah itu ketika engkau melihat seseorang yang terjatuh kepada kesyirikan, kulitmu tidak akan merinding. Ketika engkau melihat seseorang yang terjatuh kepada kesyirikan, engkau tidak merasa melihat pemandangan yang mengerikan. Orang yang seperti ini bukan mustahil setelah itu dia akan semakin parah dengan menjadi teman duduk mereka dan bersikap basi-basi terhadap mereka. Maka manakah sikap permusuhan terhadap orang yang menentang Allah dan Rasulnya?! Jadi kita membutuhkan tauhid setiap detik dan bahkan pada setiap bagian yang merupakan pecahan detik. Kita mengingatnya, kita mengingat-ingatnya, kita saling mengingatkan urusannya dan saling mengingatkan dengannya. Jadi perkara tauhid adalah perkara yang besar. Bagaimana tidak, sedangkan keselamatan di hadapan Allah Jalla wa Ala nanti pondasinya adalah tauhid!! Maka harus benar-benar mengerti tiga prinsip pokok ini dengan baik. Yaitu dengan seorang hamba mengenal Rabbnya, mengenal agamanya, dan mengenal Nabinya shallallahu alaihi was sallam. Sumber artikel: www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=143322 BOLEHKAH TOLERANSI DALAM MASALAH PRINSIP AGAMA DEMI MASLAHAT UMUM Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Pertanyaan:
  43. 43. Semoga Allah berbuat baik kepada Anda, kami sering mendengar di berbagai media di masa ini yang menyatakan bahwasanya boleh untuk toleransi pada sebagian prinsip- prinsip pokok agama jika hal itu dilakukan untuk kepentingan umum. Maka sejauh mana benarnya ucapan semacam ini? Jawaban: Ucapan ini tanggung jawabnya dikembalikan kepada yang mengatakannya. Prinsip- prinsip pokok agama tidak ada toleransi padanya. Ini merupakan sikap mudaahanah (basa- basi, melunak dan mengalah pent). Tidak boleh sedikit pun mengalah dalam prinsip-prinsip pokok agama sama sekali. Prinsip-prinsip pokok agama tidak ada toleransi padanya, karena hal ini maknanya adalah mudaahanah. Allah berfirman: Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan dirimu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau membuat kedustaan atas nama Kami dengan selainnya, dan kalau sampai demikian maka sungguh mereka akan menjadikan dirimu sebagai sahabat yang sangat dicintai. Kalau sampai terjadi demikian, maka sungguh Kami akan merasakan kepadamu siksaan yang berlipat ganda di dunia ini dan yang berlipat ganda pula sesudah mati, lalu engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong pun terhadap Kami. (QS. Al- Isra ayat 73 dan 75) Jadi tidak boleh mengalah sedikit pun dari agama ini yang merupakan prinsip-prinsip pokoknya yang tetap hanya karena ingin membuat ridha orang-orang kafir, karena ini merupakan sikap mudaahanah. Allah berfirman: Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak lalu mereka pun bersikap lunak pula kepadamu. (QS. Al-Qalam: 9) Juga firman-Nya: Maka apakah kalian akan menyembunyikan isi Al-Quran ini karena takut kepada manusia. (QS. Al-Waqiah: 81) Maksudnya kalian akan mengalah pada sebagiannya. Yang semacam ini tidak boleh sama sekali, karena ini adalah sikap mudaahanah. TIDAK BOLEH MENGALAH SEDIKIT PUN DARI AGAMA KITA HANYA KARENA INGIN MEMBUAT RIDHA ORANG-ORANG KAFIR BAGAIMANA PUN KEADAANNYA.
  44. 44. Demikian juga ketika mereka (orang-orang kafir) mengatakan kepada Rasul shallallahu alaihi was sallam: Kami mau menyembah sesembahanmu selama setahun dengan syarat engkau juga mau menyembah sesembahan kami selama setahun juga. MEREKA MENGATAKAN HAL ITU DENGAN TUJUAN INGIN BERDAMAI. Namun Allah Jalla wa Alaa memperingatkan dengan firman-Nya: Katakanlah: Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukan penyembah Rabb yang aku sembah, dan aku bukan penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukan penyembah Rabb yang aku sembah, bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku. (QS. Al-Kafirun: 1-6) Maksudnya: aku berlepas diri dari agama kalian, dan kalian juga berlepas diri dari agamaku. Jadi aku tidak akan mengalah sedikit pun dari agamaku hanya karena agar kalian ridha kepada kami. Tidak ada sikap mencari ridha manusia, yang ada hanya mencari ridha sang Khaliq. Sumber audio: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2894 Sumber transkrip: http://www.vb.noor-alyaqeen.com/t21775/ Ditranskrip oleh: Fathimah bintu Al-Badr SIKAP TERHADAP ORANG TUA YANG JAHIL YANG MENINGGAL DI ATAS KESYIRIKAN Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Pertanyaan: Fadhilatus Syaikh, semoga Allah memberi taufik kepada Anda, kami dahulu dalam keadaan jahil dan ngawur dalam ibadah, dan sebagian ayah-ayah dan ibu-ibu kami ada yang meyakini ibadah kepada kuburan, bertawassul dengannya, menujukan sembelihan untuknya, dan perkara-perkara syirik yang lainnya. Ayah-ayah kami tersebut telah meninggal, maka apakah boleh memintakan ampunan untuk mereka dan mendoakan rahmat bagi mereka? Jawaban: Tidak boleh, jika mereka meninggal di atas akidah dan perbuatan semacam ini, seperti menyembelih untuk selain Allah dan bernadzar untuk selain Allah dan mereka meninggal di atas perkara-perkara tersebut, maka mereka adalah orang-orang musyrik yang tidak boleh bagi kalian untuk memintakan ampunan untuk mereka dan mendoakan rahmat bagi mereka.
  45. 45. Tidaklah sepantasnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat mereka. (QS. At-Taubah: 113) Mereka itu meninggal di atas syirik, karena mereka menyembelih untuk selain Allah dan bernadzar untuk selain Allah. Sumber artikel: http://youtu.be/WLNlmv4KMjA TIDAKKAH KALIAN MENGKHAWATIRKAN DIRI KALIAN SENDIRI Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah | | | Ambilah pelajaran dari kisah Abdullah Al-Qashimy,[1] berapa banyak kitab yang telah dia tulis dalam rangka membela dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu dakwah tauhid. Kitabnya yang berjudul Ash-Shiraa Bainal Islam wal Watsaniyyah bisa kalian lihat. Demikian juga kitab Al-Buruuq An-Najdiyah Fii Iktisaahizh Zhulumaatid Dajawiyah bisa kalian baca. Bacalah kitabnya yang lain yang dia tulis untuk membela dakwah tauhid dan dakwah Salafiyah, dakwah yang diserukan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kemudian setelah itu dia murtad dan para ulama dakwah telah berfatwa tentang kemurtadannya. Fatwa-fatwa ini terarsipkan dan tertulis dalam kitab- kitab. [2] Jadi dia memiliki sekian banyak tulisan-tulisan dalam membela dakwah Salafiyah, namun setelah itu dia murtad. Wahai hamba-hamba Allah, kenapa kalian tidak mengkhawatirkan diri kalian sendiri?! Wajib atas kita semua untuk mengkhawatirkan diri kita sendiri. Jadi seseorang jika dia berada pada keadaan yang diridhai, maka hendaklah dia terus memohon kekokohan kepada Allah. Ini merupakan prinsip. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami. (QS. Ali Imran: 8) Jadi seorang hamba terkadang hatinya menyimpang walaupun setelah mendapatkan hidayah, karena sesungguhnya hati hamba-hamba ini sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi was sallam berada diantara dua jari jemari Ar-Rahman yang Dia bolak-balik sesuai yang Dia kehendaki. (lihat: Shahih Muslim no. 2654 pent) Demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi was sallam telah mengabarkan fitnah- fitnah yang akan terjadi di akhir zaman bahwasanya ketika itu seseorang yang pagi harinya masih dalam keadaan beriman, sore harinya dia menjadi kafir. Yang lain pada sore harinya
  46. 46. masih beriman, namun keesokan harinya telah menjadi kafir. Hal itu terjadi karena dia menjual agamanya hanya karena secuil dari kesenangan dunia. (lihat: Shahih Muslim no. 118 pent) Kita memohon keselamatan kepada Allah. Maka kenapa mereka ini pertama kali gemetar ketakutan ketika mendengar bahwa si fulan dahulu seorang pembela As-Sunnah, kemudian dia menyimpang. Kita memohon kekokohan kepada Allah dan kita juga memohon kepada Allah hidayah bagi orang seperti yang disebutkan oleh penanya ini, hanya saja perlu diketahui bahwa hal ini terjadi dan telah terjadi. Akan terus terjadi lagi selama masih ada manusia dan masih ada kehidupan. Maka jangan merasa ngeri dan ketakutan, dan mohonlah kepada Allah kekokohan dan keselamatan Sumber audio: www.youtube.com/watch?v=4mD3ioqffo8 BOLEHKAH MENINGGALKAN UMROH KARENA WABAH MERS Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | . Pertanyaan: Saya ingin pergi ke Mekkah untuk melaksanakan umroh, hanya saya takut terhadap penyakit MERS yang sedang mewabah. Apakah ini merupakan kelemahan iman ataukah termasuk usaha menempuh sebab? Jawaban: Ini merupakan kelemahan tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Taala. Bertawakallah kepada Allah, pergilah untuk melaksanakan umroh, kerjakanlah shalat di Al- Masjid Al-Haram, dan jangan takut kecuali kepada Allah Subhanahu wa Taala! Tetapi kalau memang keluar larangan untuk datang ke sebuah negeri berdasarkan ketetapan secara medis, maka tidak masalah (untuk membatalkan kepergian ke negeri tersebut pent). Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda tentang penyakit thaun: Jika kalian mendengarnya sedang mewabah di sebuah negeri maka kalian jangan pergi ke sana, dan yang sedang berada di negeri tersebut jangan keluar meninggalkannya. [1] Jadi jika keluar larangan yang berdasarkan ilmu yang benar, maka engkau jangan pergi! Adapun selama izin masih terbuka, orang-orang yang ingin umroh dipersilahkan untuk umroh dan mengunjungi Al-Masjid An-Nabawy, maka jangan sampai pada dirimu ada ketakutan yang berlebihan seperti ini! Sumber artikel: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=144403
  47. 47. [1] Lihat: Shahih Al-Bukhary no. 5728 dan Shahih Muslim no. 2219. (pent) BOLEHKAH MENDATANGKAN ARWAH Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Pertanyaan: Apakah hukum mendatangkan arwah dan apakah hal itu termasuk jenis sihir? Jawaban: Tidak diragukan lagi bahwa mendatangkan arwah termasuk salah satu jenis sihir atau termasuk perdukunan. Arwah yang didatangkan tersebut hakekatnya bukan arwah orang-orang yang telah meninggal seperti yang mereka katakan, tetapi syetan-syetan yang menjelma seperti orang-orang yang sudah meninggal itu dan mereka mengatakan: Aku adalah ruh si fulan atau aku adalah si fulan. Padahal hakekatnya syetan. Maka perbuatan semacam ini tidak boleh. Arwah orang-orang yang sudah meninggal tidak mungkin dihadirkan, karena sudah berada di genggaman Allah Subhanahu wa Taala sebagaimana firman-Nya: Allah memegang jiwa ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. (QS. Az-Zumar: 42) Jadi arwah itu tidak seperti yang diklaim sebagian orang, yaitu bisa datang dan pergi, tetapi Allah saja yang mengaturnya. Jadi perbuatan mendatangkan arwah adalah bathil dan termasuk jenis sihir dan perdukunan. Sumber artikel: Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 2/134-135, pertanyaan no. 109 BOLEHKAH MELAKUKAN PENYEMBELIHAN UNTUK MEMINTA TURUN HUJAN DAN MEMAKAN DAGINGNYA Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Pertanyaan: Ketika hujan lama tidak turun, sebagian orang ada yang melakukan penyembelihan untuk meminta agar hujan turun. Apakah hukum perbuatan ini dan bolehkah memakan sembelihan tersebut ataukah tidak?
  48. 48. Jawaban: Perbuatan semacam ini tidak boleh, terlebih lagi jika sembelihan ini ditujukan untuk orang yang telah meninggal atau untuk jin atau yang semisalnya. Karena itu merupakan sembelihan syirik karena ditujukan untuk selain Allah Azza wa Jalla. Allah Taala berfirman: Diharamkan atas kalian untuk memakan bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan yang disembelih untuk selain Allah (QS. Al-Maidah: 3) Menyembelih untuk selain Allah merupakan perbuatan syirik karena hal tersebut adalah ibadah, sedangkan ibadah wajib hanya ditujukan bagi Allah saja. Allah Taala berfirman: Maka dirikanlah shalat untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan kurban. (QS. Al-Kautsar: 2) Dia juga berfirman: Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabbul Alamin. (QS. Al-Anam: 162) Kata nusuk dalam ayat ini maknanya adalah sembelihan. Adapun meminta hujan yang sesuai dengan ajaran yang datang dari Nabi shallallahu alaihi was sallam adalah dengan melakukan shalat istisqa, khutbah dan berdoa setelahnya di atas mimbar. Demikian juga dengan cara berdoa di khutbah Jumat, yaitu dengan sang imam berdoa pada khutbah Jumat agar Allah menurunkan hujan bagi kaum Muslimin. Demikian juga terkadang dengan berdoa tanpa melakukan shalat dan khutbah terlebih dahulu. Jadi doa meminta hujan datang dari Nabi shallallahu alaihi was sallam dengan beberapa cara. Adapun melakukan penyembelihan untuk mengharapkan hujan maka hal tersebut tidak ada asalnya dalam syariat. Sumber artikel: Al-Muntaqa min Fataawa Al-Fauzan, bab Aqidah, pertanyaan no. 186 BOLEHKAH MELAKUKAN PENYEMBELIHAN KETIKA MERESMIKAN BANGUNAN BARU Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Pertanyaan: Di sebuah tempat ketika sebuah bangunan dibuka pertama kali, dilakukan penyembelihan kambing sebagai bentuk peresmian, dan juga dilakukan pengambilan
  49. 49. gambar oleh salah satu surat kabar, dan penyembelihan tersebut dilakukan di luar gedung tersebut. Pertanyaannya adalah apakah hukum perbuatan semacam ini? Jawaban: Ini merupakan kesyirikan kita berlindung kepada Allah darinya ini merupakan kesyirikan terhadap Allah dan penyembelihan untuk selain Allah, karena mereka meyakini bahwa penyembelihan ini untuk jin dan mereka melakukannya untuk menghindari kejahatan jin. Mereka menyembelih untuk jin dengan tujuan agar jin tidak mengganggu mereka. Ini termasuk perbuatan orang-orang di zaman Jahiliyah dan merupakan kesyirikan kepada Allah. Kalau hal ini sampai terjadi di negeri tauhid, maka wajib melaporkannya kepada pemerintah dan wajib untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Sumber artikel: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/5395 BENARKAH TIDAK BOLEH MENGELOMPOKKAN MANUSIA SESUAI GOLONGANNYA Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah | | | Pertanyaan: Ada penanya yang mengatakan: Di akhir-akhir ini telah muncul orang yang melarang untuk menyebutkan manusia sesuai dengan kelompok yang diikutinya, dengan dalih karena mereka semua muslim. Maka apa pen