laporan pengolahan kelapa sawit off-grade by arief dkk

Download Laporan Pengolahan Kelapa Sawit Off-Grade By Arief dkk

Post on 18-Jan-2016

39 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Laporan Pengolahan Kelapa Sawit Off-Grade by Arief dkk

TRANSCRIPT

Laporan Praktikum DosenPembimbingTeknik Reaksi Kimia Zuchra Helwani,MT

TEKNOLOGI PENGOLAHAN KELAPA SAWIT

KELOMPOK V

1. Arief Budiman(1207036509)2. Bayu Saputra (1207036491)3. Martina Olivia (1207036342)

LABORATORIUM INSTRUKSIONAL DASAR PROSES DAN OPERASI PABRIKPROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIAFAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS RIAU2014

Abstrak

Sawit off-grade yaitu sawit yang berada diluar grade kematangan buah sehingga tidak layak untuk diolah di pabrik minyak sawit CPO. Proses ekstraksi buah sawit off-grade yang digunakan dengan metode artisanal. Metode ekstraksi artisanal merupakan pengembangan dari metode tradisional untuk mengolah buah sawit. Pada ekstraksi artisanal proses dilakukan dengan menambahkan beberapa peralatan dan alur proses sebagai cara untuk meningkatkan yield. Tujuan percobaan ini adalah mengolah dan menentukan yield serta menentukan karakteristik dari sawit off-grade menggunakan metode artisanal. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah unit sterilizer dan spindle hydraulic press. Pada percobaan ini dilakukan dengan menvariasikan penambahan air panas sebanyak 10%,15% dan 20% dengan berat sawit off-grade 1,5 kg. Hasil yang diperoleh dari pengolahan sawit dengan metode artisanal yaitu untuk yield maksimum sebesar 8,1% pada penambahan air panas 10%, sedangkan yield minimum sebesar 5,23% pada penambahan air panas 20%. Untuk kadar ALB maksimum sebesar 13,82% pada penambahan air panas 15%, sedangkan kadar ALB minimum sebesar 10,13% pada penambahan air panas 20%. Untuk kadar air maksimum 0,67% pada penambahan air panas 10%, sedangkan kadar air minimum sebesar 0,02% pada penambahan air panas 20% . Untuk kadar kotoran maksimum yang diperoleh sebesar 7,1% pada penambahan air panas 10% sedangkan kadar kotoran minimum sebesar 2,4% pada penambahan air panas 15%.

Kata Kunci : Artisanal, Sawit Off-grade, Sterilizer, Pengepresan, Yield, Kadar air, ALB, Kotoran

BAB IPENDAHULUAN

1.1 PendahuluanKebutuhan energi dalam berbagai sektor di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan laju pertumbuhan populasi dan ekonomi nasional. Selama ini sumber energi yang digunakan di Indonesia masih banyak menggunakan sumber energi yang tidak terbarukan, seperti bahan bakar minyak. Hal ini dapat memicu tingginya subsidi yang harus dikeluarkan oleh pemerintah apabila harga minyak dunia mengalami lonjakan harga seperti pada saat ini yang hampir mencapai 100 US$/barrel. Pemerintah Indonesia mengandalkan beberapa sektor dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Salah satu sektor yang menjadi andalan adalah sektor perkebunan. Salah satu usaha perkebunan terbesar dan sangat berkembang di Provinsi Riau adalah industri kelapa sawit. Semua bagian dari kelapa sawit dapat digunakan baik itu, kernel, cangkang sawit, tandan kosong sawit, serabut sawit, dan pelepah sawit. Berdasarkan data dari PTPN V (2008) menyatakan bahwa pada tahun 2007 cangkang sawit yang dihasilkan sekitar 8.209.559 kg dan dari jumlah tersebut yang digunakan sebagai bahan umpan boiler sekitar 242.287 kg dan sisanya belum termanfaatkan. Mengingat jumlah sisa cangkang sawit yang belum termanfaatkan secara optimal cukup besar, maka perlu dilakukan penanganan untuk memanfaatkan cangkang sawit tersebut sehingga diperoleh suatu produk yang bernilai ekonomis.1.2 Tujuan1. Mengolah kelapa sawit off-grade menggunakan artisanal2. Menentukan yield dan karakteristik minyak sawait dari sawit off-grade menggunakan metode artisanal

1.3 Teori1.3.1 Sawit Off-GradeSawit off-grade yaitu buah sawit yang berada diluar grade kematangan buah sehingga tidak layak untuk diolah dipabrik minyak sawit CPO. Pengklasifikasian sawit off-grade berdasarkan tingkat kematangan buah yaitu mentah, kurang matang, lewat matang dan terlalu matang. Sawit off-grade dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain terlalu cepat dan terlambatnya waktu pemanenan, lamanya waktu tinggal ditempat pengumpulan hasil maupun dipabrik serta keterlambatan sistem pengangkutan menuju pabrik. Jika tandan buah segar (TBS) yang dipanen tidak langsung diproses maka akan menyebabkan peningkatan kadarasam lemak bebas (ALB) ketika buah diekstraksi menjadi minyak [Orji, 2006]. Poku [2002] menyatakan sebaiknya TBS diolah tidak lebih dari 48 jam setelah pemanenan untuk menghambat perkembangan enzim yang mengakibatkan kadar ALB meningkat.

1.3.2Metode Pengolahan SawitProses ekstraksi buah sawit yang telah digunakan hingga saat ini yaitu dengan menggunakan metode tradisional, metode artisanal dan metode modern (conventional). Perbedaan dari ketiga proses tersebut terletak pada teknologi yang digunakan serta sumber bahan baku. a. MetodeTradisionalMetode pengolahan tradisional merupakan proses ekstraksi buah sawit yang paling praktis dan sederhana namun membosankan dan tidak tepat guna [Elkine dan Onu, 2008]. Prinsip pengolahan tidak begitu sulit namun kurang efisien [Altes dan Wiener, 1989]. Secara umum metode ini hanya menggunakan tenaga manusia untuk mengolah buah sawit dengan menggunakan media air panas untuk proses ekstraksi buah. Oleh karena itu diperlukan pekerja yang tidak sedikit dalam proses pengolahannya. Sumber bahan baku yang digunakan berasal dari pekarangan rumah masyarakat. Metode pengolahan secara tradisional merupakan metode pengolahan yang dilakukan ditempat pemanenan maupun disekitar masyarakat namun proses pengolahannya berjalan lambat.Metode pengolahan tradisional hanya menghasilkan persentase minyak yang sedikit serta kualitas minyak yang rendah. Faktor utama penyebabnya adalah tahapan proses dan peralatan yang digunakan. Secara umum tahapan proses yang digunakan terdiri dari pelumatan buah, pemisahan fiber dan nut, dan mengekstrak minyak dengan cara merendam buah hasil pelumatan menggunakan air panas. Minyak yang diperoleh memiliki kualitas yang buruk karena menggunakan teknologi yang sederhana [Zu.dkk, 2012].Minyak yang dihasilkan memiliki dua tipe yaitu soft oil dan hard oil. Soft oil memiliki kadar ALB 7-12% dan hard oil pada umumnya 20% namun dapat mencapai 30-50% [Hyman, 1990].Adzimah dan Seckley [2009] menyatakan untuk melumat buah pada bagian digester pengolahan dilakukan menggunakan tenaga manusia. Pelumatan buah dapat dilakukan dengan cara soaked/pounding dan foot trampting. Metode pounding dilakukan dengan cara menumbuk buah di dalam lumpan (lesung) menggunakan alat penumbuk (mortar) dan foot trampting merupakan metode pelumatan dengan cara menginjak-injak buah.b. Metode ArtisanalMetode ekstraksi artisanal merupakan pengembangan dari metode tradisional. Pada metode ini proses produksi dilakukan dengan menambahkan beberapa peralatan dan alur proses sebagai cara untuk meningkatkan yield. Penambahan peralatan berupa alat pengepres merupakan langkah untuk meningkatkan yield. Pengepres yang digunakan ada yang dioperasikan secara manual dan menggunakan motor sebagai penggerak alat. Keuntungan metode artisanal yaitu mudah digunakan, biaya produksi murah, bisa dioperasikan oleh pekerja yang tidak memiliki keterampilan dan pekerja yang digunakan tidak banyak [Hyman, 1990]. Pada umumnya pengepres yang digunakan pada metode ini yaitu hydraulic press.c. Metode ModernMetode modern merupakan proses pengolahan sawit yang mementingkan yield dan kualitas minyak. Peralatan yang digunakan dan proses pengolahan menjadi prioritas untuk menghasilkan yield yang diinginkan dan kualitas sesuai dengan standar. Yield dan mutu minyak sangat mempengaruhi nilai jual sehingga memiliki factor penting agar tidak terjadi kerugian bagi pihak manajemen pabrik [Hyman, 1990]. Teknologi proses yang digunakan pada metode ini full mechanized dan system pengolahannya dilakukan secermat mungkin agar sasaran produksi yang diinginkan dapat tercapai.

1.3.3Proses Pengolahan Kelapa Sawit. PKS pada umumnya mengolah bahan baku berupa Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit CPO (Crude Palm Oil) dan inti sawit (Kernel). Proses pengolahan kelapa kelapa sawit sampai menjadi minyak sawit (CPO) terdiri dari beberapa tahapan yaitu : a. Jembatan Timbang Hal ini sangat sederhana, sebagian besar sekarang menggunakan sel-sel beban, dimana tekanan dikarenakan beban menyebabkan variasi pada sistem listrik yang diukur. Pada Pabrik Kelapa Sawit jembatan timbang yang dipakai menggunakan sistem komputer untuk meliputi berat. Prinsip kerja dari jembatan timbang yaitu truk yang melewati jembatan timbang berhenti 5 menit, kemudian dicatat berat truk awal sebelum TBS dibongkar dan sortir, kemudian setelah dibongkar truk kembali ditimbang, selisih berat awal dan akhir adalah berat TBS yang diterima dipabrik.b. Penyortiran Kualitas buah yang diterima pabrik harus diperiksa tingkat kematangannya. Jenis buah yang masuk ke PKS pada umumnya jenis Tenera dan jenis Dura. Kriteria matang panen merupakan faktor penting dalam pemeriksaan kualitas buah distasiun penerimaan TBS (Tandan Buah Segar). Pematangan buah mempengaruhi terhadap rendamen minyak dan ALB (Asam Lemak Buah) yang dapat dilihat pada tabel berikut :Tabel 1. Tingkat Kematangan buah mempengaruhi randemen minyak dan kadar ALBSetelah disortir TBS tersebut dimasukkan ketempat penimbunan sementara (Loding ramp ) dan selanjutnya diteruskan ke stasiun perebusan ( Sterilizer ).c. Proses Perebusan (Sterilizer) Lori yang telah diisi TBS dimasukan kedalam sterilizer dengan menggunakan capstand. Tujuan perebusan : 1. Mengurangi peningkatan asam lemak bebas. 2. Mempermudah proses pembrodolan pada threser. 3. Menurunkan kadar air. 4. Melunakan daging buah, sehingga daging buah mudah lepas dari biji. Bila poin dua tercapai secara efektif maka semua poin yang lain akan tercapai juga. Sterilizer memiliki bentuk panjang 26 m dan diameter pintu 2,1 m. Dalam sterilizer dilapisi Wearing Plat setebal 10 mm yang berfungsi untuk menahan steam, dibawah sterilizer terdapat lubang yang gunanya untuk pembuangan air kondesat agar pemanasan didalam sterilizer tetap seimbang.