bab iv analisa puisi-puisi emha ainun nadjib dalam ... ?· analisa puisi-puisi emha ainun nadjib...

Download BAB IV ANALISA PUISI-PUISI EMHA AINUN NADJIB DALAM ... ?· ANALISA PUISI-PUISI EMHA AINUN NADJIB DALAM…

Post on 07-Mar-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IV

ANALISA PUISI-PUISI EMHA AINUN NADJIB DALAM

PERSPEKTIF DAKWAH

4.1. Interpretasi Terhadap Puisi Emha Ainun Najib

Dalam memahami isi atau pesan dakwah dari puisi-puisi Emha

Ainun Nadjib dalam buku Sebuah Trilogi Doa Mencabut Kutukan, Tarian

Rembulan dan Kenduri Cinta ini perlu dilakukan langkah-langkah

penafsirannya. Dalam hal ini penulis menggunakan dua langkah metode

yaitu metode heuristik dan metode hermeneutic untuk mendapatkan arti

yang lebih mendalam. Akan tetapi tidak semua puisi yang ada dalam buku

ini akan penulis ulas disini, melainkan hanya beberapa puisi saja. Berikut

langkah-langkahnya:

I. Maut

Akhirnya kita tiba disini Di amanat illahi robbi Orang-orang tak bisa lagi menanti Gelap zaman harus segera pergi berganti pagi Aku tangiskan teririsnya hati Para kekasih di dusun-dusun sunyi Terlalu lam mereka didustai Sampai hanya tuhan yang menemani Tak bisa. Sudah tak bisa diperpanjang lagi Kesabaran mereka, ketabahan mereka Sesudah diremehkan dan dicampakkan Bukakanlah rahasia, ya Allah, bukakan Sesudah maut yang tak terduga itu Datanglah kelahiran yang baru

68

Disini. Sekarang kita tiba disini Di arus gelombang yang sejati Kalau perahu kami adalah tanganMu sendiri Tak satu kekuatan bisa menghalangi

Langkah Heuristik

Bait ke-1

(Pada) akhirnya kita (manusia) tiba disini di amanat Illahi Robbi

(Allah SWT) Orang-orang (manusia) tak bisa lagi menanti

(menunggu) Gelap (kegelapan) zaman (di dunia) harus segera pergi

berganti pagi (zaman yang cerah, akherat)

Bait ke-2

Aku (penyair) tangiskan (karena) teririsnya (pilu) (di) hati Para

kekasih (hamba Allah) di dusun-dusun (pelosok negeri) (yang) sunyi

Terlalu (sekian) lama mereka didustai (oleh keduniaan) Sampai

hanya Tuhan yang menemani.

Bait ke-3

Tak bisa. Sudah tak bisa diperpanjang lagi Kesabaran mereka

manusia),(dan) ketabahan mereka, sesudah diremehkan (dihina) dan

dicampakkan.

Bait ke-4

Bukakanlah (tunjukkan) rahasia (jalan yang lurus), ya Allah,

bukakan (tunjukkan) Sesudah (datangnya) maut (kematian) yang tak

terduga itu datanglah kelahiran yang baru (masa yang cerah,

kehidupan akherat)

69

Bait ke-5

Disini (diamanat Illahi) . Sekarang kita (manusia) tiba disini. Di

arus gelombang yang sejati (abadi) Kalau perahu (jalan) kami adalah

tanganMu (Allah) sendiri, tak (tidak ada) satu kekuatan (yang) bisa

menghalangi.

Langkah Hermeneutic

Bait ke-1

Pada akhirnya orang akan sampai pada suatu masa dimana orang-

orang tak lagi bisa melakukan penantian dan dimana zaman atau

masa yang gelap akan berganti dengan kecerahan yaitu kehidupan

yang kekal abadi. Masa tersebut merupakan suatu amanat Illahi atau

takdir dari Allah yang harus dihadapi oleh semua manusia di muka

bumi ini.

Bait ke-2

Disini sang penyair menangis karena hatinya merasa teriris melihat

orang-orang yang ada di dusun-dusun atau di desa-desa didustai oleh

para petinggi kekuasaan dan mereka tidak dapat melawannya

sampai-sampai hanya Tuhan yang menemani mereka.

Bait ke-3

Kondisi seperti tersebut dalam alinea dua tersebut sudah tidak bisa

memperpanjang kesabaran dan ketabahan mereka. Hal ini terjadi

karena mereka telah diremehkan, dihina dan dicampakkan.

70

Bait ke-4

Sang penyair pun berdoa kepada Allah supaya dibukakan pintu

perubahan bagi para manusia-manusia yang teraniaya tersebut

sebelum datang kematian.

Bait ke-5

Sekarang semua orang telah sampai di sebuah tempat yang sejati,

tempat yang sudah disiapkan untuk semua manusia, dimana nasib

semua manusia ada di tangan Tuhan sendiri hingga tidak ada

satupun manusia dengan segala kekuatannya bisa menghalangi

takdir dan kodrat dari Allah.

II. 2001

Gelap begini mana mungkin berkaca Coreng moreng wajah tak tampak oleh mata Kau, aku, dan ia, berdiri di sebelah mana Kudengar kawan-kawan bertabrakan kakinya Ruang riuh rendah. Mengeluh dan mengumpat Orang-orang saling tuduh dan mendamprat Di manakah Utara di manakah selatan ? Semua tak tahu ke mana badan digerakkan Sesungguhnya masih bisa kita saling meraba Berendah hati dan sediakan maaf Sebanyak-banyaknya Namun ternyata bukan sekedar tak ada matahari Yang paling gelap adalah hati kita sendiri

Langkah Heuristik Bait ke-1

Gelap begini (zaman yang sudah diliputi kegelapan) mana mungkin

berkaca (melihat atau mengintropeksi diri sendiri). Coreng moreng

71

wajah tak tampak (tak terlihat) oleh mata (mata kita sendiri) kau,

aku dan ia, berdiri disebelah mana kudengar kawan-kawan

bertabrakan kakinya (bermusuhan untuk berlomba mencapai

kekuasaan)

Bait ke-2

Ruang (di suatu ruangan) riuh rendah (terdapat riuh atau gaduh atau

ribut) mengeluh dan mengumpat. Orang-orang saling tuduh dan

mendamprat (menyalahkan satu sama lain) dimanakah utara

dimanakah selatan ? semua (orang-orang itu) tidak tahu kemana

badan digerakkan.

Bait ke-3

Sesungguhnya masih bisa (dapat) kita (untuk) saling meraba

(menyapa) berendah hati dan (sanggup) sediakan maaf sebanyak-

banyaknya. Namun ternyata bukan sekedar tidak ada matahari

(kecerahan) (namun ternyata) yang paling gelap adalah hati kita

(manusia) sendiri.

Langkah Hermeneutic Bait ke-1

Zaman sekarang ini yang sudah diliputi oleh kegelapan (karena

perbuatan atau akhlak manusia yang sudah banyak melakukan hal-

hal yang dilarang agama) orang-orang tidak dapat berkaca untuk

melihat dan mengintropeksi diri mereka sendiri orang-orang yang di

ibaratkan kata-kata kau, aku dan ia, tidak tahu disebelah mana

72

berdiri sehingga banyak yang saling bertabrakan atau bermusuhan

dan berlomba untuk mencapai kekuasaan.

Bait ke-2

Di suatu ruangan terdapat perdebatan dan keributan yang dilakukan

oleh orang-orang tersebut. Mereka mengeluh dan mengumpat,

sehingga saling tuduh dan mendamprat dan saling menyalahkan,

satu sama lain dimanakah utara dan dimanakah selatan. Orang-orang

tersebut tidak tahu kemana badan digerakkan, kaki dilangkahkan

untuk mencapai tujuan mereka.

Bait ke 3

Sesungguhnya kita semua masih bisa untuk berbaikan dan menjaga

kerukunan dengan cara saling menyapa, berendah hati dan sanggup

untuk menyediakan pintu maaf sebanyak-banyaknya. Namun jika

dilihat dan dipikir tidak hanya tidak ada matahari (kecerahan) dalam

memecahkan masalah tersebut karena semua yang terjadi tersebut

berasal dari manusia sendiri yang hatinya sudah diliputi oleh

kegelapan.

III. Alangkah Memprihatinkan

Alangkah memprihatinkan Bangsa yang sangat terdidik untuk berprasangka Kemudian esok hari mereka kecele dibuatnya Bangsa yang hanya diajari untuk memfitnah Dan fitnah itu di esok hari Akan mengubur nasib mereka sendiri Alangkah perih, alangkah perih Nasib bangsa yang dibohongi

73

Kemudian diberi harapan, harapan, harapan Yang kemudian membohonginya lagi Membohonginya lagi dan membohonginya lagi Konyol, sungguh alangkah konyol Nasib bangsa yang beramai-ramai membenci harimau, sambil menyerahkan nasibnya Kepada buaya Bangsa yang bahkan menutupi hudungnya Dari wewangian dan membuka lebar-lebar Hidungnya untuk kebusukan

Langkah heuristik

Alangkah memprihatinkan (nasib) bangsa yang sangat terdidik

untuk berprasangka, kemudian esok hari mereka kecele dibuatnya.

Bangsa yang hanya diajari untuk memfitnah, dan (padahal) fitnah itu

di esok hari akan mengubur nasib mereka sendiri. Alangkah perih,

alangkah perih nasib bangsa yang dibohongi, kemudian diberi

harapan, harapan, harapan, yang kemudian membohonginya lagi,

membohonginya lagi dan membohonginya lagi. Konyol, sungguh

alangkah konyol nasib bangsa yang beramai-ramai (bersama-sama)

membenci harimau (penguasa yang rakus), sambil menyerahkan

nasibnya kepada buaya (penguasa yang lain). Bangsa yang bahkan

menutupi hudungnya dari wewangian (kebenaran) dan membuka

lebar-lebar hidungnya untuk kebusukan (kejahatan).

Langkah hermeneutik

Bangsa yang memprihatinkan menurut penyair adalah (a) bangsa

yang biasa untuk berprasangka, (b) bangsa yang hanya tahu fitnah

padahal fitnah itu hanya akan mengubur nasibnya sendiri, (c) bangsa

74

yang selalu dibohongi dan diberi janji-janji yang ternyata juga hanya

kebohongan, (d) membenci penguasa (harimau) tetapi memberikan

nasibnya kepada penguasa yang lain (buaya), (e) bangsa yang

menutup diri dari kebaikan dan membuka diri untuk kejahatan.

IV. Doa Mencabut Kutukan

Alangkah bodohnya hamba Yang telah dengan sombong berdoa Pada tujuh tahun yang lalu- Dengan sangat kumohon kutukan, wahai paduka Demi membayar rasa malu atas kegagalan Menghentikan tumbangnya pohon-pohon nilai Paduka di Perkebunan dunia, serta atas ketidaksanggupan atas Kepengecutan dan kekerdilan untuk menumbuhkan Pohon-pohon Paduka yang baru. Hamba kafir yang takabur , yang merasa Seolah-olah hamba pengurus alam semesta Seakan-akan wajib menyangga Seluruh berat beban dunia dan sejarah Hamba menyangka sanggup membela Dan mempertahankan tegaknya pepohonan itu Hamba berlagak mampu menyelamatkan