sfg puisi

Download sfg  puisi

Post on 09-Jul-2015

63 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

NALISIS PIJAK KAKI W.S RENDRA DALAM PUISI BERJUDUL SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA (Dengan Menggunakan Pendekatan Tatabahasa Fungsional)Oleh pusatbahasaalazhar

0Dimuat di Jurnal Ilmiah Medan Bahasa Volume 5, Nomor 1 2010, Hal 101-113. Penerbit: Kementrian Pendidikan Nasional Sekretariat Jendral Pusat Bahasa ISSN 1907-1787

Iqbal Nurul Azhar[1] Abstrak: Sajak atau puisi seringkali menggambarkan realita sosial yang ada dalam masyarakat. Ketika masyarakat sedang bermasalah seperti bertikai, merasa tertindas atau teraniaya oleh pemerintah, sajak sering digunakan untuk menyampaikan dan memaparkan pandangan masyarakat terhadap realita penindasan tersebut. W.S Rendra, sebagai penyair yang terkenal kritis dalam merespon masalah-masalah sosial di Indonesia seringkali menyelipkan idealismenya, atau dengan kata lain keberpihakannya pada salah satu dari pihak-pihak yang bertikai dalam masyarakat. Keberpihakan ini dapat dilihat melalui makna-makna di balik salah satu puisinya yang berjudul Sajak Pertemuan Mahaiswa. Dengan menggunakan pendekatan leksikogrammatikal kita dapat melihat keberpihakan W.S. Rendra pada salah satu dari pihak yang bertikai. Paper ini juga mendiskusikan tentang status, efek, maupun kontak antara W.S. Rendra dengan pembaca sajaknya yang berhubungan dengan realita sosial yang diangkatnya dalam puisinya tersebut.

Kata-kata kunci: makna interpersonal, positioning (pijak kaki), tatabahasa fungsional, sajak pertemuan mahasiswa, W.S. Rendra, Abstract: A poem sometimes reflects social realities in a society. When people in a society are having problems such as; having clashes between them, being threatened or mistreated by government or other problems, a poem is often used to show their feelings toward the problems. W.S Rendra, a popular poet who is well-known for his concern to peoples problem, often includes his idealism, or in other words, his position, towards the sides involving in the clashes. His positioning can be seen from the meanings found behind one of his poems Sajak Pertemuan Mahasiswa (a students gathering poem). Using lexicogrammatical approach, we are able to perceive his idealism/position towards the clash stated by the poem. This paper discusses status, affect and contact between W.S. Rendra and his readers related to the reality pictured by the poem.

Keywords: interpersonal meaning, positioning, functional grammar, Sajak Pertemuan Mahasiswa (a students gathering poem), W.S. Rendra, A. Pendahuluan

Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra merupakan hasil kreatifitas pengarang dalam mendayagunakan kemampuan cipta, rasa dan karsa yang dimilikinya. Berbekal imajinasi, ekspresi dan penguasaannya terhadap lika-liku mengolah kata, seorang pengarang mampu mencipta banyak puisi. Ketika imajinasi, ekspresi maupun kemampuannya mengolah kata ia ujudkan sebagai sebuah entitas yang konkret, maka bentuk pertama yang terlihat sebagai sebuah karya adalah bahasa (atau tepatnya kata-kata) yang tersusun indah. Susunan kata-kata inilah yang kemudian kita kenal sebagai puisi. Uniknya, meskipun pengarang puisi (penyair) mampu mencipta beraneka ragam bentuk puisi, belum pernah ditemui mereka mampu meninggalkan media utama pembuat puisi yaitu bahasa. Dengan demikian, dalam konteks penciptaan puisi ini, bahasa dipandang sebagai alat utama penyair untuk menciptakan karya seni yang imajinatif dengan segala unsur estetisnya yang dominan.

Bahasa dalam karya sastra utamanya karya puisi, memiliki kedudukan dan peranan yang amat penting. Teew (1988 :1), mengemukakan bahwa pada hakikatnya penyair dalam mengekspresikan pengalaman jiwanya harus dapat menguasai bahasa utamanya kosakata. Dengan penguasaan yang baik yang berhubungan dengan kosakata inilah seorang penyair akan mampu menjelmakan pengalaman jiwanya setepat-tepatnya. Dengan menguasai bahasa, seorang penyair tidak saja mampu mengungkapkan suatu gagasan dengan gaya bahasa yang elegan, tapi ia juga akan mampu menunjukkan idealismenya dengan ungkapan-ungkapan yang indah.

Cipta sastra berupa puisi bukanlah sekedar masalah bentuk jasmaniah yang ditunjukkan lewat bagaimana sebuah kata-kata atau rima-rima diharmonikan oleh seorang pengarang, tetapi lebih jauh dari itu, cipta sastra bertalian sangat erat dengan kecenderungan masing-masing penyair dalam berekspresi. Setiap penyair dalam membuat puisi pastilah akan memperlihatkan ciri-ciri tersendiri yang membedakan penyair tersebut dengan penyair lainnya. Setiap penyair, akan berusaha memperlihatkan ciri-ciri individualisme, originalitas, kepekaan terhadap sekitar, dan gaya bahasa khasnya masing-masing. Sayangnya, hanya penyair besarlah yang memiliki keempat ciri di atas. Salah satunya adalah almarhum W.S. Rendra.

Sebagai salah seorang penyair besar abad ini, W.S. Rendra memiliki seluruh bekal yang mampu mengantarkannya menjadi penyair besar. Ia tidak hanya pandai mencipta puisi maupun naskah drama, ia juga memiliki semangat yang luar biasa besar

untuk mengembangkan dunia sastra nusantara. Tidak hanya itu, ia juga memiliki idealisme yang kuat dan sangat peka pada realita sosial yang ada di sekitarnya. Bahkan terkadang, karena idealismenya inilah menyebabkan ia seringkali berselisih dengan pemerintah. Perselisihannya dengan pemerintah tidak serta merta menyebabkan namanya tenggelam, bahkan karena perselisihan inilah yang kemudian mengantarkannya mendapat beberapa penghargaan baik itu nasional maupun sebagai seorang sastrawan berdedikasi tinggi dan konsisten menyuarakan keinginan rakyat.

Ketokohan Rendra di dunia sastra menyebabkan karya-karyanya kemudian diapresiasi, dikaji, maupun dikritik banyak orang. Dengan menggunakan banyak pendekatan diantaranya; kritik maupun teori sastra, teori linguistik serta sosiologi, karya-karyanya diulas dalam banyak paper maupun tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Meskipun karya-karya Rendra telah banyak dikaji, namun kajian-kajian tersebut masih jauh dari memadai untuk dapat memberikan generalisasi tentang siapa dan bagaimana sesungguhnya Rendra, serta apa dan bagaimana idealisme Rendra dalam memandang dunia utamanya dalam menangkap permasalahan yang ada di sekitarnya. Adanya pintu peluang yang terbuka lebar untuk memahami Rendra melalui karya-karyanya inilah menyebabkan penulis tertarik untuk ikut pula mengkaji karya-karya Rendra tersebut.

Dengan menggunakan bekal pengetahuan yang berhubungan dengan Tatabahasa Fungsional, penulis mengkaji satu di antara sekian banyak karya Rendra. Karya yang dikaji dalam paper ini adalah sebuah puisi berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM). Ada dua alasan mengapa puisi ini dipilih sebagai bahan kajian. Yang pertama adalah karena puisi ini dianggap memiliki pengaruh kuat dalam menginspirasi mahasiswa Nusantara untuk melakukan pergerakan. Yang kedua adalah puisi ini tidak seterkenal puisi-puisi Rendra yang lain sehingga tidak terlalu banyak yang mengakaji.

Untuk menjaga agar kajian puisi Rendra ini fokus, maka penulisan paper ini dibimbing oleh satu pertanyaan pokok antara lain: bagaimana pihak-pihak yang terlibat langsung dalam puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM) diposisikan? Pisau analisis yang digunakan unuk menganalisis karya Rendra ini adalah Tatabahasa Fungsional (Sistemik Fungsional Linguistik (SFL)). Oleh sebab pisau analisis yang digunakan adalah linguistik, maka arah kajian paper ini terhadap karya Rendra inipun bersifat sistematik yang mengarah pada pola-pola deskriptif, dan bukan pada pola-pola apresiatif ataupun kritik.

Secara umum, paper ini dimaksudkan untuk menemukan bagaimana W.S. Rendra mengekspresikan ide-idenya dalam merespon masalah yang diangkatnya dalam puisinya yang berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM). Dalam teori Fungsional Linguistik, bagaimana seorang pelibat wacana (dalam hal ini penyair W.S. Rendra) mengekspresikan idenya, atau memposisikan

dirinya dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan makna interpersonal. Dengan demikian, frasa Jejak Kaki pada judul paper ini mengacu pada pemposisian (Positioning) W.S. Rendra dalam merespon permasalahan yang diangkatnya dalam puisinya melalui makna-makna interpesonal (tenor) yang terkandung dalam puisi SPM tersebut.

B. Sekilas Tentang Puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa

Sebelum masuk pada bagian pembahasan, alangkah baiknya andaikata pada bagian ini diulas (meskipun tidak detail) tentang Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM). Dengan memiliki bekal umum tentang SPM, diharapkan dapat sedikit memberikan sumbangan informasi untuk dapat lebih memahami artikel ini.

Mengenai setting puisi SPM, banyak interpretasi yang muncul berkaitan dengan hal ini. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa setting dari puisi ini adalah demonstrasi mahasiswa yang menuntut perbaikan. Ada juga yang menyebut bahwa setting puisi SPM tersebut adalah saat Rendra bertemu dan berdiskusi dengan teman-temannya sekelompok mahasiswa tentang orientasi pendidikan kampus mereka maupun kampus-kampus di Indonesia yang tidak benar. Di antara beberapa interpretasi mengenai setting puisi SPM, interpretasi yang terakhirlah yang digunakan sebagai sandaran paper ini.

Dengan bersandar pada pemilihan setting terakhir sebagai sandaran diskusi paper ini, maka secara umum SPM digambarkan sebagai puisi yang menceritakan tentang sekelompok mahasiswa (dengan Rendra di dalamnya) yang berkumpul dan mendiskusikan arah pendidikan kampus tempat mereka belajar sekarang. Mereka mempertanyakan maksud baik para pejabat rektorat, dekanat maupun dosen (dalam paper ini kita akan menggunakan istilah pelaksana pendidikan tinggi (PPT) untuk merujuk pada tiga komponen penggerak dunia kampus tersebut) yang mengajar mereka di bangku kuliah. Pelaksana pendidikan tinggi (PPT) memang menjalankan roda perkuliahan dengan baik, dan apa yang mereka beri/ajarkan adalah hal yang baik pula. Namun, karena kurang adanya visi dan misi yang jelas dari PPT di kampus mereka, maksud baik PPT menjadi tidak nampak, dikalahkan oleh bahaya yang bersem