referat tb

Click here to load reader

Post on 05-Mar-2016

5 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tb paru anak

TRANSCRIPT

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...iDAFTAR ISI..1BAB I PENDAHULUAN.....2BAB II : PEMBAHASAN2.1 Definisi.................32.2 Etiologi.32.3 Epidemiologi.........................32.4 Klasifikasi TB..42.5 Patogenesis.......................................52.6 Manifestasi Klinik92.7 Diagnosis.....102.8 Penatalaksanaan...132.9 Pencegahan..192.10 Komplikasi202.11 Prognosis21DAFTAR PUSTAKA22

BAB IPENDAHULUAN

Tuberkulosis ( TB ) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Di indonesia, TB juga masih merupakan masalah yang menonjol. Bahkan secara global, Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai penyumbang kasus terbanyak di dunia setelah india dan cina.1,3Tuberkulosis anak mempunyai permasalahan khusus yang berbeda dengan orang dewasa. Pada TB anak, permasalahan yang dihadapi adalah masalah diagnosis, pengobatan, pencegahan serta TB pada infeksi HIV.11Berbeda dengan TB dewasa, gejala TB anak seringkali tidak khas, diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan kuman TB. Pada anak, sulit didapatkan spesimen diagnostik yang dapat dipercaya. Sekalipun spesimen dapat diperoleh, pada pemeriksaan mikrobiologik, mikroorganisme penyebab jarang ditemukan pada sediaan langsung dan kultur. Di negara berkembang, dengan fasilitas tes Mantoux dan foto rontgen paru yang masih kurang, diagnosis TB anak menjadi lebih sulit. 9,11Diagnosis tuberkulosis (TB) pada anak sangat sulit. Kesulitan ini berpangkal dari proses kejadian penyakit (patogenesis) TB primer yang sangat kompleks, istimewa dan berliku. Hasilnya adalah TB dapat mengenai berbagai organ tubuh, dapat memberi berbagai macam gejala dan tanda klinis, serta dapat memberikan gambaran Rontgen yang sangat bervariasi sehingga TB mendapat gelar the great imitator. Gejala dan tanda klinis yang mengarah ke TB pada anak tidak khas karena mirip atau serupa dengan gejala dan tanda klinis berbagai penyakit atau keadaan lain. 10

BAB IIPEMBAHASAN

2.1 Definisi Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.6Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) yang bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer.5,62.2 EtiologiPenyebab tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis(MTB) yaitu suatu jenis kuman yang berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Kuman dapat hidup dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin ( dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es ) dimana kuman dalam keadaan dormant. 1,2Kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam sitoplasma makrofag di dalam jaringan. Makrofag yang semula memfagositosis kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob sehingga kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru lebih tinggi dari bagian lain, sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis. Bakteri TB akan cepat mati bila terkena sinar ultraviolet (sinar matahari) langsung dan mudah mati pada air mendidih (5 menit pada suhu 80C dan 20 menit pada suhu 60C). 1,22.3 EpidemiologiDinegara berkembang, TB pada anak < 15 tahun adalah 15 % dari seluruh kasus TB, sedangkan dinegara maju, angkanya lebih rendah, yaitu 5-7%. Tuberkulosis anak merupakan faktor penting di negara-negara berkembang karena jumlah anak berusia 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.

Kemoprofilaksis Terdapat dua macam kemoprofilaksis, yaitu kemoprofilaksis primer dan kemoprofilaksis sekunder. Kemoprofilaksis primer bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB, sedangkan kemoprofilaksis sekunder mencegah berkembangnya infeksi menjadi sakit TB. Pada kemoprofilaksis primer diberikan isoniazid dengan dosis 5-10 mg/kgBB/hari dengan dosis tunggal. Kemoprofilaksis ini diberikan pada anak yang kontak dengan TB menular, terutama dengan BTA sputum positif, tetapi belum terinfeksi (uji tuberkulin negatif). Obat diberikan selama 6 bulan. Pada akhir bulan ketiga pemberian profilaksis dilakukan uji tuberkulin ulang. Jika tetap negatif, profilaksis dilanjutkan hingga 6 bulan. Jika terjadi konversi tuberkulin menjadi positif, evaluasi status TB pasien. Pada akhir bulan keenam pemberian profilaksis, dilakukan lagi uji tuberkulin, jika tetap negatif profilaksis dihentikan, jika terjadi konversi tuberkulin menjadi positif, evaluasi status TB pasien. Kemoprofilaksis sekunder diberikan pada anak yang telah terinfeksi, tetapi belum sakit, ditandai dengan uji tuberkulin positif, sedangkan klinis dan radiologis normal. Tidak semua anak diberi kemoprofilaksis sekunder, tetapi hanya anak yang termasuk dalam kelompok risiko tinggi untuk berkembang menjadi sakit TB, yaitu anak-anak pada keadaan imunokompromais. Contoh anak-anak dengan imunokompromais adalah usia balita, menderita morbili, varisela, atau pertusis, mendapat obat imunosupresif yang lama (sitostatik dan kortikosteroid), usia remaja, dan infeksi TB baru (konversi uji tuberkulin dalam waktu kurang dari 12 bulan). Lama pemberian untuk kemoprofilaksis sekunder adalah 6-12 bulan.

2.10 Komplikasi TuberkulosisLimfadenitis, meningitis, osteomielitis, arthtritis, enteritis, peritonitis, penyebaran ke ginjal, mata, telinga tengah dan kulit dapat terjadi.Bayi yang dilahirkan dari orang tua yang menderita tuberkulosis mempunyai risiko yang besar untuk menderita tuberkulosis. Kemungkinan terjadinya gangguan jalan nafas yang mengancam jiwa harus dipikirkan pada pasien dengan pelebaran mediastinum atau adanya lesi pada daerah hilus.11

2.11 Prognosis TuberkulosisPrognosis dipengaruhi oleh banyak faktor seperti umur anak, berapa lama setelah mendapat infeksi, luasnya lesi, keadaan gizi, keadaan sosial ekonomi keluarga, diagnosa dini, pengobatan adekuat, kepatuhan minum obat, dan adanya infeksi lain seperti morbilli, pertusis, diare yang berulang dan lain lain. Pada pasien dengan sistem imun yang prima, terapi menggunakan obat anti-tuberkulosis memberikan hasil yang potensial untuk mencapai kesembuhan.Jika bakteri sensitif dan pengobatan lengkap, kebanyakan anak sembuh dengan gejala sisa yang minimal.Terapi ulangan lebih sulit dan kurang memuaskan hasilnya.Perhatian lebih harus diberikan pada pasien dengan imunodefisiensi, yang resisten terhadap berbagai regimen terapi, yang berespon buruk terhadap terapi atau dengan komplikasi lanjut.Ketika terjadi resistensi atau intoleransi terhadap Isoniazid dan Rifampicin, angka kesembuhan menjadi hanya 50%, bahkan lebih rendah lagi.11DAFTAR PUSTAKA

1. Alatas, Dr. Husein et al : Ilmu Kesehatan Anak, edisi ke 7, buku 2, Jakarta; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1997, hal 573 761.2. Amin, Zulkifli dan Asril Bahar. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisikelima Jilid III. Jakarta :Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia, 2009; h. 2230-22472.3. WHO. TB/HIV a clinical manual. Edisi ke-2. Geneva: World Health Organization;20044. Corry, S., Wahidiyat, I., Sastroasmoro, S. Diagnosis Fisis pada Anak. CV Sagung Seto, Jakarta.20035. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta : Depkes RI, 20056. Behrman, Kliegman, Arvin, editor Prof. Dr. dr. A. Samik Wahab, SpA(K) et al: Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, edisi 15, buku 2, EGC 2000, hal 1028 1042.7. Kartasasmita CB, Basir D. Epidemiologi Tuberkulosis. Dalam : Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta ; IDAI. 2013. h.162-1668. Rahajoe NN, Setyanto DB. Patogenesis dan Perjalanan Alamiah Tuberkulosis. Dalam : Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta ; IDAI. 2013. h.169-1779. Rahajoe NN, Setyanto DB. Diagnosis Tuberkulosis pada Anak. Dalam : Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta ; IDAI. 2013. h.194-21110. Rahajoe NN, Setyanto DB. Tatalaksana Tuberkulosis. Dalam : Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta ; IDAI. 2013. h.214-27711. Price, Sylvia A; Wilson, Lorraine M. : Patofisiologi Klinik, edisi ke 5, Tuberkulosis, 2005 hal 753 761

2