dasar dasar jurnalistik

Download Dasar Dasar Jurnalistik

Post on 03-Mar-2016

9 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dasar jurnalistik

TRANSCRIPT

Pelatihan Dasar-dasar JurnalistikINTRODUKSIBelajar meliput berita seperti belajar berenang; Anda baru bisa jika punya keberanian masuk keair dan mulai berenang. Menjadi wartawan pun begitu. Kemahiran Anda meliput dan seberapacemerlang reportase Anda tergantung pada pengalaman dan kesungguhan Anda belajar. SelamaAnda menghargai proses itu, selama itu pula pintu kesuksesan Anda terbuka.Prinsip-prinsip berikut bisa membantu Anda mengawali karir di dunia jurnalistik.

MENJADI WARTAWANTak ada yang menodongkan pestol ke kepala dan memaksa Anda menjadi wartawan. Anda datangatas kemauan sendiri, karena Anda mencintai dunia tulis-menulis, mampu mengendus berita danpunya ikatan pada orang kebanyakan. Asah lah kerajinan menulis Anda, ketajaman akan beritadan kepekaan terhadap orang-orang di jalanan. Asah lah selalu dan terus-menerus. Menggerutuboleh, asal jangan terlampau banyak.Pikirkan selalu pembaca, pirsawan dan pendengar Anda. Katakan pada mereka sesuatu yangbaru, setiap hari. Itulah yang membuat mereka rela mengeluarkan Rp 1.000 atau Rp 2.000 darikocek untuk selembar koran. Cari tahu siapa mereka dan menulislah untuk bisa mereka baca.Jika Anda bisa bilang go to hell ke mereka, Anda sendiri lah yang pertama-tama akan masuk keneraka. Lalu, koran atau majalah, televisi atau radio Anda.Membacalah setiap hari tiga atau empat buku setiap kali dan semua jenis majalah. Bacalahsebanyak mungkin untuk menjadi penulis terbaik. Bacalah Shakespeare dan karya-karya sastralain seperti Anda membaca Al-Quran atau Bible sepanjang hayat. Bacalah karya sastra klasik untuk mengetahui bagaimana pikiran-pikiran besar masa silam mengekspresikan dirinya sendiri.Suapi otak setiap hari, seperti Anda menyuapi perut. Petinju hebat tak bisa mengandalkan dagingyang dimakannya 10 tahun lewat. Wartawan tak bisa menulis baik dengan pikiran 10 tahun silam.Jagalah agar otak tetap terbuka terhadap gagasan dan pikiran baru.Jangan arogan dan bersikap menghakimi orang lain. Mereka yang tak setuju dengan Anda tidakselalu berarti tolol atau gila.Jauhkan diri dari memuja stereotipe. Sebab: hidup di desa belum tentu damai; birokrat belumtentu korup; haji dan pendeta belum tentu alim; dan anak yang membunuh ibunya belum tentudurhaka. Gali lah fakta hingga ke dasar-dasarnya.Jangan terpukau pada omongan pejabat, para pakar, tentara, dan polisi. Kutip mereka sedikitmungkin. Gali cerita dari lapangan. Berbicaralah dengan orang-orang di jalanan, di tempatperistiwa.

REPORTERReporter datang dan pergi tapi hanya sedikit yang goresan penanya selalu dikenang dan dinantiorang. Wartawan seperti (almarhum) Muchtar Lubis di Indonesia, Lilian Ross di Amerika atauRobert Fisk di Inggris dirindukan banyak pembaca antara lain karena kejujurannya,pembawaannya yang menyenangkan, tanggungjawabnya serta pikiran dan rasa keingintahuanmereka yang tinggi. Jika Anda ingin mengikuti jejak mereka, ingat-ingat prinsip ini:Reporter yang baik hatinya jujur. Dia tak pernah mencuri-curi omongan dan bukan tipe orangyang gemar publisitas. Perkataan dan perbuatannya sama dan sejalan. Dia suka akurasi danselalu mengecek fakta lebih dari sekali. Dia selalu berusaha melihat dua sisi dari sebuah kejadian.Reporter yang handal punya ketajaman akan berita. Dia tahu kapan dan dimana mencari berita,siapa yang akan diwawancarai, pertanyaan seperti apa yang mesti ditanyakan, bagaimanamengajukannya, dan bagaimana memverifikasi hasilnya. Dia tahu bagaimana mengerahkan indrapengamatannya; bisa melihat dan mendengar apa-apa yang didengar orang-orang di jalanan. Diabisa menebak apakah orang di hadapannya bercerita apa adanya atau, sebaliknya,menyembunyikan sesuatu. Dia tahu cara menelusuri dokumen, membongkar file dan melacaksetiap berkas. Dia tahu apa dan bagaimana melakukan investigasi, di bidang apapun. Dia telahmenyerap keterampilan jurnalistik tertinggi: kemampuan belajar bagaimana untuk belajar. Diaseorang generalis dengan satu spesialisi: rasa ingin tahu.Reporter yang baik bekerja lebih dari sekadar melaporkan berita. Dia bisa menggambarkan,menjelaskan dan mengintrepertasikan kejadian-kejadian kompleks dan persoalan pelikmenyangkut orang per orang dan masyarakat secara keseluruhan. Dia, misalnya, bisa memahamipersoalan hukum superpelik, mengerti detil teknis di bidang sains dan pertahanan militer, danbisa menggunakan pandangan para ahli dan pakar untuk menjawab persoalan ekonomi danpolitik dan melakukan semua itu dengan cepat.Reporter yang baik tahu bahwa nyawa sebuah berita tak peduli apapun mediumnya ada padakejelasan tulisan: ringkas dengan kata-kata yang akrab, kalimat-kalimat sederhana dan bahasayang elok. Dia juga selalu berjuang memasukkan konteks dan latar belakang setiap peristiwa.Reporter yang baik orangnya aktif. Dia separuh diplomat separuh detektif. Dia gemar bepergiandan masuk ke lingkungan baru.Reporter yang baik orangnya teguh dan menjunjung tinggi fakta. Ideologinya bisa dibaca daritulisan-tulisannya: pembelaan terhadap kepentingan publik dan perlawanan atas segala bentukketidakadilan. Dia tak mudah patah semangat dan mundur karena gangguan atau kesulitanselama bekerja. Dia selalu berhasil melawan godaan mencampurkan fakta dan opini sedemikianhingga dia bisa melaporkan sebuah kejadian secara berimbang sekalipun terhadap musuhbebuyutannya.Reporter yang baik tahu etika dan hukum. Dia tahu cara mendapatkan berita yang akurat danhalal. Dia bukan tipe orang yang suka mencuri-curi omongan lalu memberitakannya. Diamewakili kepentingan publik dengan melaporkan hal-hal yang hanya ada kaitannya dengankepentingan masyarakat kebanyakan. Dia tahu soal pencemaran nama baik, penghinaanpersidangan, hak-hak parlementer dan ketentraman publik. Dia akrab dengan ruang persidangandan senang memotret drama dan ketegangan yang terjadi di situ.Reporter yang baik cinta bahasa dan gemar membuka kamus. Dia hemat dalam kata meyakinibahwa ketika akal meningkat, kata-kata menyingkat dan suka hal-hal detail. Dia beraniberperang melawan jargon dan kata sifat. Baginya, kata kerja ibarat jendela; supaya pembaca bisaikut "menyaksikan" sebuah kejadian.

BERITAApa sih berita itu?Banyak wartawan sekalipun yang telah belasan tahun memproduksi berita sering salahtingkah setiap kali mendengar pertanyaan itu. Mereka sebenarnya tahu apa itu berita tapi selalugagal mendefinisikannya.Anda mungkin sudah pernah mendengar definisi klasik yang satu ini:Saat anjing menggigit manusia, itu bukan berita. Tapi saat seorang manusia menggigit anjing,itu baru berita.Atau defenisi berita dari Turner Catledge dari New York Times:Berita adalah apa yang tidak Anda ketahui kemarin.Atau defenisi sinis macam ini:Segalanya berita jika Anda tahu cara menuliskannya.Berita adalah apa yang diinginkan editor Anda.Berita adalah apa yang ingin disembunyikan seseorang selebihnya adalah iklan.Ada reporter yang terlahir memang dengan ketajaman akan berita. Ada juga yang mesti bantingtulang sampai bisa memilikinya. Dan banyak juga yang tidak pernah bisa memilikinya.Tidak ada jalan pintas untuk membangun rasa berita ini masalah pengalaman.Tapi Anda setidaknya dapat memulai dengan mencoba membayangkan siapa audiens Anda danmempertimbangkan seberapa penting yang hendak Anda sampaikan. Selain itu, Anda bisaberpedoman pada standar penyeleksian berita yang jamak di ruang-ruang pemberitaan:. Dampak Berapa banyak orang yang terpengaruh oleh kejadian yang akan diberitakan?Seberapa serius dampaknya ke mereka?. Kedekatan Sebuah kejadian akan menjadi lebih penting jika lokasinya dengan pembaca.Gempa bumi di seberang samudera tak bakal semenarik tabrakan beruntun di lingkunganpembaca.. Aktual - Apakah kejadiannya baru saja? Berita mesti segar supaya berguna bagi pembaca.. Konflik: Ini asam dunia penceritaan. Tanpa konflik, banyak literatur, drama dan film yang bakalhambar. Dari Shakespeare sampai Disney, konflik selalu memegang peran penting. Koran,majalah dan radio juga begitu.. Nama: nama membuat berita dan nama besar menjadikan berita semakin besar. Orangkebanyakan selalu ingin tahu segala hal tentang jutawan dan atau selebriti, misalnya.. Keunikan Yang "pertama", yang "terakhir", "satu-satunya" punya kekuatan tersendiri untukmembetot perhatian pembaca atau pirsawan.. Audiens Siapa mereka? Jawaban pertanyaan itu akan membantu menentukan apakah sebuahkejadian layak diberitakan, dan jika benar, dibagian mana ia akan ditempatkan?Jika Anda memahami klasifikasi itu, Anda akan segera mengerti kenapa sebuah tabrakan mobildi Papua tak pernah muncul di halaman depan The New York Times. Kenapa tabrakan maut diruas tol Jagorawi tak pernah menjadi headline di The Star, Malaysia. Lalu bagaimana seseorang bisa mengembangkan rasa berita?Saran praktis adalah merengkuh setiap peluang untuk mempelajarinya. Baca koran dan majalahsebanyak yang Anda bisa, setiap hari. Bandingkan mereka satu per satu. Bandingkan koran-koranlokal di daerah Anda. Bandingkan koran berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris. BandingkanTempo dan Gatra. Bandingkan Kompas dan Koran Tempo. Bandingkan Time, Newsweek, danThe Economist.

REPORTASEMenulis berita pada dasarnya fase kedua dalam pekerjaan seorang reporter. Yang pertamaadalah mencari berita. Bagaimana reporter mengumpulkan berita?Mereka biasanya menggunakan tiga metode ini: (1) Observasi: mendatangi tempat peristiwa (2)Berbicara dengan orang-orang di jalan (3) Melakukan investigasi.Tiga metode ini menjadi dasar semua liputan dan tulisan yang cemerlang. Malah, informasi yangmenyeluruh, sekalipun ditulis amburdul, masih lebih baik ketimbang tulisan yang tanpasubstansi.Reporter pemula seperti Anda sebaiknya mengikuti jejak mereka yang telah berpuluh tahunbergelut di ruang pemberitaan: merengkuh keterampilan reportase dari pengamatan dan diskusi.Ada banyak kiat reportase yang bisa Anda ambil dari sana sini. Tentu saja, Anda juga akan belajarbanyak dari kesalahan dan kekurangan sepanjang karir.Reporter pemula biasanya mengawali kerja mereka di ruang redaksi dengan penugasansederhana. Editor, misalnya, akan meminta An