11 bab ii. tinjauan pustaka 2.1. air tanah air tanah adalah air

Download 11 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Air Tanah Air tanah adalah air

Post on 19-Jan-2017

227 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 11

    BABBABBABBAB II.II.II.II. TINJAUANTINJAUANTINJAUANTINJAUAN PUSTAKAPUSTAKAPUSTAKAPUSTAKA

    2.1.2.1.2.1.2.1. AirAirAirAir TanahTanahTanahTanah

    Air tanah adalah air yang bergerak di dalam ruang - ruang antar butir-butir

    tanah yang membentuk itu atau dikenal dengan air lapisan dan di dalam retakan-

    retakan dari batuan yang dikenal dengan air celah. Keadaan air tanah ada yang

    terkekang dan air tanah bebas. Jika air tanah itu bebas maka permukaannya akan

    membentuk gradient yang dikenal dengan gradien hidrolik sehingga pergerakan

    air tanahnya akan membentuk sebuah kontur (Wahyudi, 2009).

    Kumalasari dan Satoto (2011) mengemukakan bahwa air tanah adalah air

    yang berada di dalam tanah, air tanah dangkal merupakan air yang berasal dari air

    hujan yang diikat oleh akar pohon. Air tanah ini terletak tidak jauh dari

    permukaan tanah serta berada di atas lapisan kedap air. Sedangkan air tanah

    dalam adalah air hujan yang meresap ke dalam tanah lebih dalam lagi melalui

    proses adsorpsi serta filtrasi oleh batuan dan mineral di dalam tanah. Sehingga

    berdasarkan prosesnya air tanah dalam lebih jernih dari air tanah dangkal. Air

    tanah ini bisa didapatkan dengan cara membuat sumur.

    Air di dunia 97,2 % berupa lautan dan 2,8 % terdiri dari lembaran es dan

    gletser (2,15%), air artesis (0,62 %) dan air lainnya (0,03%). Air lainnya ini

    meliputi danau air tawar 0,009%, danau air asin 0,008%, air tanah 0,005%, air

    atmosfer (hujan dan kabut) 0,001% dan air sungai 0,0001% (Strahler dan Strahler

    cit. Foth, 1984 dalam Hanafiah 2005).

    Air tanah merupakan sumber air tawar terbesar di planet bumi, mencakup

    kira-kira 30 % dari total air tawar atau 10,5 juta km3. Air tanah biasanya diambil,

  • 12

    baik untuk sumber air bersih maupun untuk irigasi, melalui sumur terbuka, sumur

    tabung, spring, atau sumur horisontal. Cara pengambilan air tanah yang paling tua

    dan sederhana adalah dengan membuat sumur gali (dug wells) dengan kedalaman

    lebih rendah dari posisi permukaan air tanah. Jumlah air yang dapat diambil dari

    sumur gali biasanya terbatas, dan yang diambil adalah air tanah dangkal.

    Untuk pengambilan yang lebih besar diperlukan luas dan kedalaman galian yang

    lebih besar. Sumur gali biasanya dibuat dengan kedalaman tidak lebih dari 5 - 8

    meter di bawah permukaan tanah. Cara ini cocok untuk daerah pantai dimana air

    tawar berada di atas air asin (Suripin, 2001).

    Air hujan yang jatuh di lahan pertanian segera memasuki profil tanah

    melalui proses infiltrasi, kemudian mengalir di dalam tanah sebagai air perkolasi

    dan sebagian dari air hujan mengalir di permukaan tanah sebagai air limpasan

    permukaan (Kusuma, 2009). Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal

    dari curah hujan) masuk ke dalam tanah. Perkolasi merupakan proses kelanjutan

    aliran air tersebut ke tanah yang lebih dalam. Dengan kata lain, infiltrasi adalah

    aliran air masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air kearah

    lateral) dan gravitasi (gerakan air kearah vertikal). Setelah lapisan tanah bagian

    atas jenuh, kelebihan air tersebut mengalir ke tanah yang lebih dalam sebagai

    akibat gaya gravitasi bumi dan di kenal sebagai proses perkolasi (Asdak, 2001).

    Menurut hukum Darcy kecepatan aliran air tanah dapat dirumuskan sebagai

    berikut (Wahyudi, 2009) :

    VVVV ==== kkkk .... iiii .(2.1.)

  • 13

    Dimana :

    V = kecepatan aliran (cm/dt)

    k = koefisien permeabilitas

    i = gradien hidrolik

    Kodoatie (2010) mengemukakan bahwa di daerah tangkapan/imbuhan

    (recharge area) air tanah, air dari permukaan tanah meresap ke dalam tanah

    mengisi akuifer baik akuifer bebas (unconfined aquifer) maupun akuifer tertekan

    (confined aquifer). Di daerah pelepasan/luahan (discharge area) air tanah keluar

    dengan berbagai cara, misalnya menjadi mata air, air di dalam sumur dangkal

    maupun air di dalam sumur bor (sumur dalam) atau menjadi aliran dasar (base

    flow).

    2.2.2.2.2.2.2.2. PestisidaPestisidaPestisidaPestisida

    2.2.1.2.2.1.2.2.1.2.2.1. SejarahSejarahSejarahSejarah pestisidapestisidapestisidapestisida

    Pestisida diperkenalkan untuk pertamakalinya oleh bangsa Cina pada tahun

    900 M, dengan memakai senyawa arsenat. Sudah dipakainya pestisida ultra

    tradisional ini menunjukkan bahwa bangsa Cina sudah maju dibidang pertanian,

    terbukti dengan kenyataan pengenalan pestisida yang pertama sekali oleh manusia di

    negara ini. Karena belum ada penemuan-penemuan baru, bahan arsenat ini bertahan

    cukup lama. Meskipun hama-hama juga sudah menunjukkan segala kekebalan. Pada

    akhirnya secara tidak disengaja seperti lazimnya penemuan yang lain, racun

    tembakau mulai diperkenalkan pada masyarakat mulai tahun 1960 di Eropah.

    Metodenya masih sederhana, pembuatan pun cukup sederhana, karena pada masa itu

    belum dikenal alat-alat industri dan pengetahuan yang cukup. Tembakau direndam

    didalam air selama satu hari satu malam, baru kemudian dipakai untuk menyemprot

  • 14

    atau disiramkan. Ternyata racun nikotin ini cukup efektif pula sebagai obat sekaligus

    racun pembasmi hama. Berbeda di daratan Eropah, di Malaysia dan sekitarnya lebih

    mengenal bubuk pohon deris, yang mengandung bahan aktif Rotenon sebagai zat

    pembunuh. Disamping itu juga dipakai bahan aktif Pirenthin I dan II, dan Anerin I

    dan II, yang diperoleh dari bunga Pyrentrum Aneraria Forium (Ekha, 1988).

    Tahun 1942 merupakan awal dari gerakan revolusi kimia dalam bidang

    pertanian, dimana pada tahun itu telah berhasil diciptakan suatu pestisida buatan

    (sentetis) yang merupakan suatu bentuk persenyawaan yang memiliki gugus aktif.

    Pestisida pertama yang dibuat adalah dengan menggunakan senyawa kimia aktif DDT

    (Dikhloro Difenil Trikhloroetana), dan kemudian diikuti oleh bermacam-macam jenis

    lainnya. Ternyata kemudian, senyawa aktif yang merupakan senyawa kimia

    majemuk dan memiliki daya racun sangat tinggi yang dimiliki oleh Pestisida DDT

    dan DDE (yang merupakan produksi pecahan pertama dari DDT) tidak dapat terurai

    dalam beberapa tahun. Secara relatif, dari pestisida tersebut tidak larut dalam air,

    akan tetapi larut pada lemak dan senyawa lipid lainnya serta menempel kuat pada

    partikel-partikel, sehingga perlakuan-perlakuan pertanian dengan menggunakan DDT

    dan DDE sebagai pestisida di kemudian hari mengakibatkan keracunan terhadap

    manusia yang mengkonsumsi hasilnya (Palar, 1994). DDT bersifat toksik terhadap

    mamalia, dan mungkin bersifat karisinogen. Insektisida ini sangat bersifat presisten

    dan terakumulasi dalam rantai makanan, sehingga tidak boleh digunakan lagi

    (Achmad, 2004).

    Penggunaan pestisida di Indonesia telah dilakukan sejak sebelum PD II untuk

    mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penggunaan di sub sektor

    tanaman pangan dan hortikultura meningkat sangat pesat sejak dilakukan program

    bimbingan masal (Bimas) tanaman padi pada akhir dasawarsa 1960-an. Program

  • 15

    Bimas sebagai upaya untuk meningkatkan produksi pertanian merupakan teknologi

    berprpduksi yang dikenal sebagai Pancausaha, yaitu (1) penanaman varietas unggul,

    (2) pengolahan tanah yang baik, (3) pemupukan berimbang, (4) pengairan dan (5)

    pengendalian hama. Pada awal dilaksanakannya program Bimas, usaha pengendalian

    hama terutama dilakukan dengan menggunakan pestisida. Hal ini antara lain

    disebabkan terbatasnya teknologi pengendalian OPT pada waktu itu. Teknologi

    pengendalian OPT yang dianggap peling menjanjikan harapan adalah penggunaan

    pestisida (Rahayuningsih, 2009).

    2.2.2.2.2.2.2.2.2.2.2.2. PengertianPengertianPengertianPengertian pestisidapestisidapestisidapestisida

    Pestisida berasal dari kata pest yang berari hama dan sida berasal dari kata

    caido yang berarti pembunuh. Dengan demikian pestisida merupakan substansi

    kimia yang digunakan membunuh ataupun mengendalikan berbagai hama.

    Menurut pengertian secara umum pestisida dapat didefenisikan sebagai

    suatu bahan yang digunakan untuk pengendalian populasi jasad hidup yang

    dianggap sebagai hama dalam arti yang merugikan kepentingan manusia

    (Hanindipto,1989, dalam Rahayuningsih 2009 ).

    Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :

    258/MENKES/PER/III/1992, tentang Persyaratan Kesehatan Pengelolaan

    Pestisida, yang dimaksud dengan pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain

    serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :

    1. Membrantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang

    merusak tanaman, bagaian-bagian tanaman, atau hasil-hasil pertanian;

    2. Memberantas rerumputan;

  • 16

    3. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tenaman atau bagian-bagian

    tanaman tidak termasuk golongan pupuk;

    4. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.

    5. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan

    dan ternak.

    6. Memberantas hama-hama air.

    7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik

    dalam rumah tangga, bangunan, dan dalam alat-alat pengangkutan.

    8. Memberantas atau mencegah binatang-binatang termasuk serangga yang

    dapat menyebabkan penyakit manusia atau binatang yang perlu dilindungi

    dengan penggunaan pada tanaman, tanah atau air.

    Djojosumarto (2008) mengemukaan bahwa sebagai produk perlindungan

    tanaman, pestisida pertanian meliputi semua zat kimia, atau bahan-bahan lain

    (ekstrak tumbuhan, mikroorganisme, dan hasil fermentasi) yang diguna