!sajak-sajak tanah air

Download !Sajak-sajak Tanah Air

Post on 09-Jul-2015

257 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

http://www.geocities.com/paris/parc/2713/ DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG Oleh : W.S. Rendra Tuhanku, WajahMu membayang di kota terbakar dan firmanMu terguris di atas ribuan kuburan yang dangkal Anak menangis kehilangan bapa Tanah sepi kehilangan lelakinya Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia Apabila malam turun nanti sempurnalah sudah warna dosa dan mesiu kembali lagi bicara Waktu itu, Tuhanku, perkenankan aku membunuh perkenankan aku menusukkan sangkurku Malam dan wajahku adalah satu warna Dosa dan nafasku adalah satu udara. Tak ada lagi pilihan kecuali menyadari -biarpun bersama penyesalanApa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ? Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai mendekap bumi yang mengkhianatiMu Tuhanku Erat-erat kugenggam senapanku Perkenankan aku membunuh Perkenankan aku menusukkan sangkurku ***

AKU TULIS PAMPLET INI Oleh : W.S. Rendra Aku tulis pamplet ini karena lembaga pendapat umum ditutupi jaring labah-labah Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk, dan ungkapan diri ditekan menjadi peng - iya - an Apa yang terpegang hari ini bisa luput besok pagi Ketidakpastian merajalela. Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki menjadi marabahaya menjadi isi kebon binatang Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi, maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan. Tidak mengandung perdebatan Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan Aku tulis pamplet ini karena pamplet bukan tabu bagi penyair Aku inginkan merpati pos. Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian. Aku tidak melihat alasan kenapa harus diam tertekan dan termangu. Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju. Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ? Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan. Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka. Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api. Rembulan memberi mimpi pada dendam. Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah yang teronggok bagai sampah Kegamangan. Kecurigaan. Ketakutan. Kelesuan. Aku tulis pamplet ini karena kawan dan lawan adalah saudara Di dalam alam masih ada cahaya. Matahari yang tenggelam diganti rembulan. Lalu besok pagi pasti terbit kembali.

Dan di dalam air lumpur kehidupan, aku melihat bagai terkaca : ternyata kita, toh, manusia ! Pejambon Jakarta 27 April 1978 Potret Pembangunan dalam Puisi ***

GERILYA Oleh : W.S. Rendra Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling di jalan Angin tergantung terkecap pahitnya tembakau bendungan keluh dan bencana Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan Dengan tujuh lubang pelor diketuk gerbang langit dan menyala mentari muda melepas kesumatnya Gadis berjalan di subuh merah dengan sayur-mayur di punggung melihatnya pertama Ia beri jeritan manis dan duka daun wortel Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan Orang-orang kampung mengenalnya anak janda berambut ombak ditimba air bergantang-gantang disiram atas tubuhnya Tubuh biru tatapan mata biru lelaki berguling dijalan Lewat gardu Belanda dengan berani berlindung warna malam sendiri masuk kota ingin ikut ngubur ibunya

GUGUR Oleh : W.S. Rendra Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya Tiada kuasa lagi menegak Telah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya Ke dada musuh yang merebut kotanya Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya Ia sudah tua luka-luka di badannya Bagai harimau tua susah payah maut menjeratnya Matanya bagai saga menatap musuh pergi dari kotanya Sesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya di antaranya anaknya Ia menolak dan tetap merangkak menuju kota kesayangannya Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya Belumlagi selusin tindak mautpun menghadangnya. Ketika anaknya memegang tangannya ia berkata : " Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah. Dan aku pun berasal dari tanah tanah Ambarawa yang kucinta Kita bukanlah anak jadah Kerna kita punya bumi kecintaan. Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya. Bumi kita adalah tempat pautan yang sah. Bumi kita adalah kehormatan. Bumi kita adalah juwa dari jiwa. Ia adalah bumi nenek moyang. Ia adalah bumi waris yang sekarang. Ia adalah bumi waris yang akan datang." Hari pun berangkat malam

Bumi berpeluh dan terbakar Kerna api menyala di kota Ambarawa Orang tua itu kembali berkata : "Lihatlah, hari telah fajar ! Wahai bumi yang indah, kita akan berpelukan buat selama-lamanya ! Nanti sekali waktu seorang cucuku akan menacapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan subur Maka ia pun berkata : -Alangkah gemburnya tanah di sini!" Hari pun lengkap malam ketika menutup matanya

LAGU SEORANG GERILYA (Untuk puteraku Isaias Sadewa) Oleh : W.S. Rendra Engkau melayang jauh, kekasihku. Engkau mandi cahaya matahari. Aku di sini memandangmu, menyandang senapan, berbendera pusaka. Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu, engkau berkudung selendang katun di kepalamu. Engkau menjadi suatu keindahan, sementara dari jauh resimen tank penindas terdengar menderu. Malam bermandi cahaya matahari, kehijauan menyelimuti medan perang yang membara. Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku, engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu Peluruku habis dan darah muncrat dari dadaku. Maka di saat seperti itu kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan bersama kakek-kakekku yang telah gugur di dalam berjuang membela rakyat jelata Jakarta, 2 september 1977 Potret Pembangunan dalam Puisi

ANAKKU MENULIS MERDEKA ATAU MATI Oleh : Wahyu Prasetya Dengan cat semprot anakku menulis di dinding-dinding rumah kalimat yang ia pilih dari buku tulis sejarah sekolah dasarnya warna merah yang melukiskan masa lampau pekikan ada luka parah, ada khianat, ada timbunan tentara, petani... peperangan akan selalu direncanakan dari pikiran sebuah rumah maka ia mengecatnya, "merdeka atau mati" lalu teman-temannya pun menambahkan beberapa kata-kata, "viva iwan fals!" dari sebuah dinding rumah, sejuta senjata dan calon korban dicatat bahkan ada pula yang berani menyemprotnya dengan cat merah, jari-jari anak-anakku apakah beda kemerdekaan ini dengan ketulusan tentang mati apalah arti letusan di benua dengan 350 tahun yang menggilas kita Indonesia adalah sebuah peta yang pernah diperdaya oleh ranjau intrik, bom dan kasak kusuk, "merdeka atau mati" Lalu aku pun menyisipkan kata-kata juga "hidup ibu hidup bapak hidup dada hidup dedy" malampun menyisakan bauan tinner dan huruf melotot biarlah Kemerdekaan yang kami syukuri dalam rumah sederhana ini hanya huruf, kalimat dan bahasa cat semprot dan jari jari anak anakku yang mengutip ingatan buku tulis sejarahnya esok ia akan membacanya keras-keras, hallo indonesia? hallo Kemerdekaan siapa? malang, 1.5.1995

MENATAP BENDERA DALAM GERIMIS Oleh : Wahyu Prasetya kelembutan waktu yang melahirkan seribu musim dan sejarah dalam masa lalu yang dicucuri airmata dari segala orang. saat teror, darah yang mudah dilupakan, bahkan kematian, lalu tiba kami memndang pembangunan gedung, hotel, golf... sejarah ternyata tak cengeng, walau dikelilingi nasib sial dan pegkhianatan kami menatap langit luas dengan lambaian bendera, bersama gerimis yang dijelmakan oleh celoteh 180 juta anak anak tempatku ngomong kadang di tengah malam yuang ngantuk tanpa kalimat panjang apalagi bahasa yang benar. orang orang merdeka, menelponku lewat telpon genggam dan faximile: surat kabar dicetak dengan huruf huruf: laba maka seratus gedung sekolah dasar di pelosok IDT roboh diruntuhkan oleh kenyataan dan tipudaya kebenaran siapa menatap bendera dalam gerimis kedua mata anak istri dan orang orang yang hidup sebagai diriku. sebagai korek api yang seakan akan diyakini segera menjelma kebakaran di kampung halaman Jakarta merdeka! aku ternakar dalam ketakpahaman pikiran sendiri ada yang sia sia harus dituliskan oleh sebatang besi! 1995

OPERA MALAM MUSIM KEMARAU Oleh : Yono Wardito 1 ilalang sunyi, merahasiakan cinta sepasang burung layang-layang begitu lembut, senja yang dicipta untuk nya angin diam, bisu, atau kagum kah dia ? pada panorama, kasih Illahi, begitu abadi, begitu abadi ..... 2 kau koyak mimpi yang hadir menutupi mata angin, begitu pekat nya memeluki dingin, kesunyian hingga berdarah, kau koyak lagi mimpi, jua kah kau ? begitu tanya, biar ? mengawang ...... 3 kawan, lekang bedeng yang kupijak begitu juga hutan ku seperti air, tak berpihak padaku bila malam, bintang gemintang tertutup kabut tangisan, dan serpihan kulit, sedikit daging,abu dedaunan bertaburan,keangkasa,bersujud pada Nya pada Illahi.

KAKI Oleh : Yono Wardito kaki, dikepala menginjak kutu kaki, dikaki langit kaki, didalam air menakuti ikan kaki, dikaki tebing kaki, didada menendang-tendang kaki, dikaki sembunyi kaki, dimata membenam nurani kaki, dikaki mencari kaki, dikaki dihimpit kaki, dikaki berlari kaki, mu dan aku kaki, kita dan mereka kaki siapa lagi ? Dia ? -- dimana Tuhan ! kaki, dikaki lelaki kaki, dihati lelaki menjelma hati melukis kaki : -- mencari Tuhan

TEMBANG SEMUSIM DI PADANG LALANG (Bagi Mas Karyo, petani tangguh di Dukuh Semplak) Oleh : Widjati Ketika senja turun ingin berkisah Tanah ini serasa temaram digenggam sepi Ketika kulihat hanya sejengkal tanah basah Dan nisan-nisan tua dimakan rayap. Dulu kisah riwayatmu pernah kusadap Tanah yang gembur tersembul lewat rawa-rawa Yang penuh jelatang gigitan lintah darat Di sepetak sawahmu yang kering kerontang. Seorang petani tua di tengah-tengah ladang Kuat dan tangkas mengayunkan cangkulnya Demikian tangkas dilipatnya tanah berbungkal-bungkal Adalah kisahnya yang paling menawan. Secupak tanah bersandar, mimpinya padang basah Sekepal hanya sekepal, kau dendangkan. Nikmatnya bermandikan cahaya langit Dingin angin kemarau kering membersit Kepadamu sawah-ladang kau pertaruhkan Dan di atas mentari menatap sorotnya tajam. Duhai