uji kesesuaian chi kuadrat.pdf

Download Uji Kesesuaian chi kuadrat.pdf

Post on 03-Sep-2015

42 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Rekayasa Sipil Volume VII, Nomor 2, Oktober 2011 ISSN : 1858-3695

    99

    UJI KESESUAIAN CHI-KUADRAT DATA HUJAN DAS BATANG

    KURANJI KOTA PADANG

    Oleh

    Indra Agus, Hartati

    Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Padang

    Kampus Limau Manis Padang

    ABSTRAK

    Hujan merupakan komponen masukan pada proses hidrologi. Umumnya karakteristik hujan terdiri dari intensitas hujan, durasi dan ketebalan hujan. Data hujan yang tersedia akan digunakan untuk menghitung curah hujan rencana yang pada akhirnya digunakan untuk menghitung debit banjir. Dari debit banjir bisa menghitung dimensi dari suatu konstruksi bangunan air. Sebelum data hujan digunakan untuk perhitungan debit terlebih dahulu harus dilakukan pengolahan data hujan. Pengolahan data hujan di antanya adalah melakukan penentuan jenis distribusi berdasarkan data parameter statistic seperti perhitungan nilai rata-rata, nilai standar deviasi, nilai koefisien variasi,koefisien kurtosis dan koefisien kemencengan.Untuk mengetahui apakah perlu penambahan data dalam perhitungan curah hujan rencana maka diperlukan uji kecocokan. Uji Kecocokan bertujuan untuk menentukan apakah jumlah data hujan yang digunakan telah mencukupi. Jika dari hasil uji kesesuaian tersebut didapatkan hasil tidak diterima maka sangat diperlukan sekali penambahan data hujan. Uji kesesuaian ini dapat dilakukan dengan beberapa metode di antaranya metode Smirnov Kolmogorov dan metode Chi-Kuadrat. Dalam penelitian ini uji kesesuaian dilakaukan dengan Metode Chi-Kuadrat

    Kata kunci : Chi-Kuadrat

    PENDAHULUAN

    Dalam melakukan analisi hidrologi sering

    dihadapkan pada kejadian-kejadian ekstrim

    seperti kejadian banjir dan kekeringan. Akibat

    dari banjir akan berpengaruh terhadap

    bangunan-bangunan air seperti bendung,

    bendungan, tanggul, jembatan, gorong-gorong

    dan bangunan air lainnya. Bangunan-bangunan

    tersebut harus direncanakan untuk dapat

    melewatkan debit banjir maksimum yang

    mungkin terjadi. Bangunan air yang dibangun

    tidak hanya memperhitungkan bangunan itu

    sendiri, tapi juga memperhatikan kehidupan

    dan fasilitas-fasilitas lain yang mengancam

    keselamatannya apabila bangunan tersebut

    runtuh.

    Masalah kekeringan banyak berkaitan

    dengan ketersediaan air untuk berbagai

    kebutuhan, seperti kebutuhan air irigasi, air

    baku, pemeliharaan sungai, dan sebagainya.

    Pada musim kemarau debit sungai kecil,

    sehingga untuk bisa memenuhi berbagai

    kebutuhan perlu dilakukan analisis

    ketersediaan air.

    Penentuan jenis distribusi ini sangat

    diperlukan sekali dalam menghitung hujan

    rencana, hujan rencana dapat menghitung debit

    rencana, yang pada akhirnya dapat

    menentukan dimensi bangunan-bangunan air

    yang akan dirancang. Sebelum data hujan

    digunakan lebih lanjut ke perhitungan debit

    maka sangat diperlukan sekali uji kesesuaian

    data hujan. Jika dari hasil perhitungan uji

    kesesuaian data hujan didapatkan hasil tidak

    diterima atau ditolak maka data hujan tersebut

    belum bisa digunakan dalam merancang

    dimensi bangunan air. Salah satu cara untuk

    menghitung uji kesesuaian adalah dengan

    metode Chi Kuadrat

  • Rekayasa Sipil Volume VII, Nomor 2, Oktober 2011 ISSN : 1858-3695

    100

    Maksud dari uji kesesuaian Chi Kuadrat adalah

    untuk menentukan apakah persamaan

    distribusi peluang yang telah dipilih dapat

    mewakili dari distribusi statistik sampel data

    yang di analisis pada DAS Batang Kuranji

    Tujuan dari Penelitian :

    - Menghitung parameter statistik data hujan

    DAS Batang Kuranji.

    - Penentuan jenis distribusi berdasarkan

    perhitungan parameter satistik.

    - Melakukan uji kesesuaian dengan metode

    Chi Kuadrat

    Curah Hujan

    Seperti yang telah diketahui dari siklus

    hidrologi, udara yang membawa uap air dari

    laut atau ke lautan akan bergerak ke atas

    menjadi awan. Bila suhu awan mencapai titik

    embun kemudian terjadilah proses

    pengembunan uap air (condensation), yang

    selanjutnya hasil pengembunan itu jatuh dari

    awan atau diendapkan dari udara menuju

    permukaan bumi sebagai presipitasi

    (precipitation). Presipitasi arah vertikal dapat

    bermacam-macam bentuknya seperti hujan;

    hujan batu es, salju atau sebagai presipitasi

    horizontal, seperti: kabut, embun dan

    sebagainya.

    Beberapa pengertian yang berhubungan

    dengan curah hujan antara lain:

    - Hujan (Rain), adalah bentuk tetesan air

    yang mempunyai garis tengah lebih dari 0.5

    mm atau lebih kecil dan terhambur luas

    pada suatu kawasan.

    - Curah Hujan (H,rain fall), adalah banyak air

    yang jatuh kepermukaan bumi, dalam hal

    ini permukaan bumi dianggap datar dan

    kedap, tidak mengalami penguapan dan

    tersebar merata serta dinyatakan sebagai

    ketebalan air (rain fall depth,cm, mm).

    - Durasi Hujan (t,Duration), lamanya waktu

    hujan tercurah dari atmosfer ke permukaan

    bumi, dinyatakan sebagai satuan waktu

    (menit,jam,hari).

    - Intensitas Hujan (I,Rain Fall Intensity),

    adalah ukuran yang menyatakan tebal

    hujan dalam satuan durasi

    tertentu(mm/jam, cm/hari).

    - Frekuensi Intensitas Hujan (T,Rain Fall

    Intensity Frequency), adalah interval waktu

    rata-rata antara kejadian curah hujan yang

    mempunyai intensitas tertentu dengan

    kejadian curah hujan dengan intensitas

    yang sama atau lebih lebat.

    - Luas daerah Hujan (A,rain Fall Area

    Extent), adalah luas areal dengan suatu

    curah hujan yang tebalnya dianggap sama,

    dan dinyatakan dalam satuan luas

    (ha,km2).

    - Hitograf (Hytograph), adalah diagaram

    batang yang menggambarkan hubungan

    tebal hujan terhadap waktu.

    - Curah Hujan Efektif (He, Efectif Rain Fall),

    adalah curah hujan yang menjadi aliran

    permukaan (surface run off). Dalam

    pengertian irigasi, curah hujan efektif

    adalah curah hujan yang meresap dalam

    tanah untuk memenuhi kebutuhan air

    tanaman.

    Curah Hujan Wilayah

    Dalam analisa hidrologi sering diperlukan

    untuk menentukan hujan wilayah rata-rata pada

    daerah tersebut. Metode yang digunakan dalam

    menghitung curah hujan wilayah adalah metode

    rata-rata Aljabar, metode poligon Thiessen dan

    metode Isohyet.

  • Rekayasa Sipil Volume VII, Nomor 2, Oktober 2011 ISSN : 1858-3695

    101

    Metode Rata-Rata Aljabar

    Metode ini adalah metode yang paling

    sederhana untuk menghitung hujan rerata pada

    suatu daerah. Pngukuran yang dilakukan di

    beberapa stasiun dalam waktu yang

    bersamaan dijumlahkan dan kemudian dibagi

    dengan jumlah stasiun. Stasiun hujan yang

    digunakan dalam hitungan biasanya adalah

    berada di dalam DAS, tetapi stasiun di luar

    DAS yang masih berdekatan juga bisa

    diperhitungkan. Metode rerata aljabar

    memberikan hasil yang baik apabila

    - Stasiun hujan tersebut tersebar secara

    merata di DAS

    - Distribusi hujan relatif merata pada seluruh

    DAS.

    Persamaan rerata aljabar :

    n

    P

    n

    P ................ P P P P

    n

    1 i in32 1_

    Dimana :

    P : curah hujan wilayah

    P1,P2,...Pn : hujan di stasiun 1,2,3...n

    n : jumlah stasiun

    Metode Thiessen

    Metode ini memperhitungkan bobot dari

    masing-masing stasiun yang mewakili luasan

    disekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS

    dianggap bahwa hujan adalah sama dengan

    yang terjadi pada stasiun yang terdekat,

    sehingga hujan yang tercatat pada suatu

    stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini

    digunakan apabila penybaran stasiun hujan di

    daerah yang ditinjau tidak merata. Hitungan

    curah hujan rerata dilakukan dengan

    memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap

    stasiun.

    Pembentukan poligon Thiessen adalah sebagai

    berikut :

    a. Stasiun pencatat hujan digambarkan pada

    peta DAS yang ditinjau termasuk stasiun

    hujan diluar DAS yang berdekatan.

    b. Stasiun-stasiun tersebut dihubungkan

    dengan garis lurus (garis terputus)

    sehingga membentuk segitiga-segitiga,

    yang sebaiknya mempunyai sisi dengan

    panjang yang kira-kira sama.

    c. Dibuat garis berat pada sisi-sisi segitiga.

    d. Garis-garis berat tersebut membentuk

    poligon yang mengelilingi tiap stasiun. Tiap

    stasiun mewakili luasan yang dibentuk oleh

    poligon. Untuk stasiun yang berada didekat

    batas DAS, garis batas DAS membentuk

    batas tertutup dari poligon.

    e. Luas tiap poligon di ukur dan kemudian

    dikalikan dengan kedalaman hujan di

    stasiun yang berada didalam poligon.

    f. Jumlah dari hitungan pada butir e untuk

    semua stasiun dibagi dengan luas daerah

    yang ditinjau menghasilkan hujan rerata

    daerah tersebut yang dalam bentuk

    matematik mempunyai bentuk berikut ini :

    An.....AAA

    P ................ AP AP P P

    321

    n3322 1_

    n

    AA1

    Dengan :

    P : curah hujan wilayah

    P1,P2,...Pn : hujan di stasiun 1,2,3...n

    A1,A2,...An : luas daerah yang mewakili

    stasiun 1,2,3....n

    Metode Isohyet

    Isohyet adalah garis yang menghubungkan

    titik-titik dengan kedalaman hujan yang sama.

    Pada metode isohyet, dianggap

Recommended

View more >