paradigma al-farabi dalam epistemologi metafisika

Click here to load reader

Post on 01-Nov-2014

22 views

Category:

Education

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • 1. 1 Brought By: Mazizaacrizal a.k.aDewa ngAsmoro Mudhun BumiVisit me at : www.mazizaacrizal.blogspot.com: www.facebook.com/mazizaacrizalE-mail: [email protected]

2. 2BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang.Al-Farabi adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tapi dengankompetensi, kreativitas, kebebasan berpikir dan tingkat sofistikasi yang lebihtinggi. Jika al-Kindi dipandang sebagai seorang filosof Muslim dalam arti katayang sebenarnya, maka al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasarpiramida studi falsafah dalam Islam, yang sejak itu terus dibangun dengan tekun1.Ia terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannyaAristoteles. Ia termasyhur karena telah memperkenalkan dokrin Harmonisasipendapat Plato dan Aristoteles. Ia mempunyai kapasitas ilmu logika yangmemadai. Di kalangan pemikir Latin ia dikenal sebagai Abu Nashr atauAbunaser2.Maka pada kesempatan kali ini, penulis ingin mencoba mengupas lebihdalam pemikiran al-Farabi tentang metafisika.Yang mana pemikiran beliaudisadari atau tidak telah banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yunanikuno, yang pada akhirnya tulisan-tulisan beliau akan mendapat kritikan-kritikandan pertentangan dari semisal Imam al-Ghozali (1058 M/450 H 1111 M/505 H),1 Nurcholis Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang,1984), 30.2 Nadim al-Jisr, Qissatul Iman, alih bahasa A. Hanafi, Kisah Mencari Tuhan (Jakarta: BulanBintang, 1966), Jilid I., 56. 3. 3yang dikenal sebagai pembunuh filsafat di dunia Islam, Bahkan gelar hujjatulislam, selalu melekat dengan kebesarannya, berkat prestasi Tahafut al-Falasifahdan Ihya ulum al-Din. 4. 4 BAB II PEMBAHASANA. Riwayat Hidup.Ia adalah Abu Nasr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij, suatu desa diFarab (Transoxania) pada tahun 870 M3. Al-Farabi dalam sumber-sumber Islamlebih akrab dikenal sebagai Abu Nasr. Ia berasal dari keturunan Persia. AyahnyaMuhammad Auzlagh adalah seorang Panglima Perang Persia yang kemudianmenetap di Damaskus, sedangkan Ibunya berasal dari Turki. Oleh karena itu iabiasa disebut orang Persia atau orang Turki. Sebagai pembangun sistem filsafat, Iatelah mengabdikan diri untuk berkontemplasi, menjauhkan diri dari dunia politik,walaupun Ia juga menulis karya-karya politik yang monumental. Filsafatnyamenjadi acuan pemikiran ilmiah bagi dunia Barat dan Timur, lamasepeninggalnya4.Al-Farabi hidup ditengah kegoncangan masyarakat dan politik Islam.Pemerintah pusat Daulah Abbasiyah di Baghdad sedang berada di dalamkekacauan karena pada saat itu bermunculan negara-negara di daerah yang inginmengambil alih kekuasaan.3 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), 26.4 Ibrahim Madkour, Al-Farabi dalam History of Muslim Philosophy, ed. MM. Syarif, alih bahasaIlyas Hasan, Para Filosof Muslim (Bandung: Mizan, 1992), 55. 5. 5Al-Farabi dengan cemas hati melihat perpecahan khalifah dankemunduran masyarakat Islam. Sebagaimana sudah disinggung di atas, Ia tidakaktif dalam bidang politik, tetapi memberikan kontribusi pemikiran denganmenulis buku politik untuk memperbarui tata negara. Pembaruan itu menurutnyahanya dapat berhasil bila berakar kokoh dalam pondasi filsafat. Walaupun al-Farabi merupakan ahli metafiska Islam yang pertama terkemuka, namun Ia lebihterkenal dikalangan kaum Muslimin sebagai penulis karya-karya filsafat politik5.Para ahli sepakat memberikan pujian yang tinggi kepadanya, terutama sebagaiahli logika yang masyhur dan juru bicara Plato dan Aristoteles pada masanya. Iabelajar logika kepada Yuhanna ibn Hailan di Baghdad. Ia memperbaiki studilogika, meluaskan dan melengkapi aspek-aspek rumit yang telah ditinggalkan al-Kindi.Kehidupan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua, yaitu pertama bermuladari sejak lahir sampai usia lima tahun. Pendidikan dasarnya ialah keagamaan danbahasa, Ia mempelajari Fiqh, Hadis, dan Tafsir al-Quran. Ia juga mempelajariBahasa Arab, Turki dan Persia. Periode kedua adalah periode usia tua dankematangan intelektual. Baghdad merupakan tempat belajar yang terkemuka padaabad ke-10M. Disana Ia bertemu dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranyapara filosof dan penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika, dan diantaraahli logika paling terkemuka adalah Abu Bisyr Matta ibn Yunus6.5 Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), 30.6 Majid Fakhry, SA., History of Islamic Philosophy, alih bahasa R. Mulyadi Kartanegara, SejarahFilsafat Islam (Jakarta: Pustaka Jaya, 1986), 162 6. 6Baghdad merupakan kota yang pertama kali dikunjunginya. Di sini iaberada selama dua puluh tahun, kemudian pindah ke Damaskus. Di sini iaberkenalan dengan Gubernur Aleppo, Saifuddaulah al-Hamdani. Gubernur inisangat terkesan dengan al-Farabi, lalu diajaknya pindah ke Aleppo dan kemudianmengangkat al-Farabi sebagai ulama istana.Kota kesayangannya adalah Damaskus. Ia menghabiskan umurnya bukandi tengah-tengah kota, akan tetapi di sebuah kebun yan terletak di pinggir kota.Di tempat inilah ia kebanyakan mendapat ilham menulis buku-buku filsafat 7 .Begitu mendalam penyelidikanya tentang filsafat Yunani terutama mengenaifilsafat Plato dan Aristoteles, sehingga ia digelari julukan al-Mu alim ats-Tsani(Guru Kedua), karena Guru Pertama diberikan kepada Aristoteles, disebabkanusaha Aristoteles meletakkan dasar ilmu logika yang pertama dalam sejarahdunia8.B. Karya-karyanya.Al-Farabi menunjukkan kehidupan spiritual dalam usianya yang masihsangat muda dan mempraktekkan kehidupan sufi. Ia juga ahli musik terbesardalam sejarah Islam dan komponis beberapa irama musik, yang masih dapat7 Oemar Amin Hoesin, Filsafat Islam: Sedjarah dan Perkembangannya di Dunia Internasional(Jakarta: Bulan Bintang, 1964), 89.8 Abdullah Siddik, Islam dan Filsafat (Jakarta: Triputra Masa, 1984), 90. 7. 7didengarkan dalam perbendaharaan lagu sufi musik India 9 . Al-Farabi telahmengarang ilmu musik dalam lima bagian. Buku-buku ini masih berupa naskahdalam bahasa Arab, akan tetapi sebagiannya sudah diterbitkan dalam bahasaPerancis oleh D Erlenger. Teorinya tentang harmoni belum dipelajari secaramendalam. Pengetahuan estetika al-Farabi bergandengan dengan kemampuanlogikanya. Ia meninggal pada tahun 950 M dalam usia 80 tahun. Ia meninggalkan sejumlah besar tulisan penting. Karya al-Farabi dapatdibagi menjadi dua, satu diantaranya mengenai logika dan mengenai subyek lain.Tentang logika, al-Farabi mengatakan bahwa filsafat dalam arti penggunaan akalpikiran secara umum dan luas adalah lebih dahulu daripada keberadaan agama,baik ditinjau dari sudut waktu (temporal) maupun dari sudut logika. Dikatakanlebih dahulu dari sudut pandang waktu, karena al-Farabi berkeyakinan bahwamasa permulaan filsafat, dalam arti penggunaan akal secara luas bermula sejakzaman Mesir Kuno dan Babilonia, jauh sebelum Nabi Ibrahim dan Musa.Dikatakan lebih dahulu secara logika karena semua kebenaran dari agama harusdipahami dan dinyatakan, pada mulanya lewat cara-cara yang rasional, sebelum 10kebenaran itu diambil oleh para Nabi. Karya al-Farabi tentang logikamenyangkut bagian-bagian berbeda dari karya Aristoteles Organon, baik dalambentuk komentar maupun ulasan panjang. Kebanyakan tulisan ini masih berupanaskah dan sebagain besar naskah-naskah ini belum ditemukan. Sedang karya9 Seyyed Hossen Nasr, Theology, Philosopy, and Spirituality Word Spirituality, alih bahasaSuharsono dan Djamaluddin MZ, Intelektual Islam, Teolog, Filsafat dan Gnosis (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1996), 35.10 M. Amin Abdullah, Falsafah Kalam Di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1995), 151. 8. 8dalam kelompok kedua menyangkut berbagai cabang pengetahuan filsafat, fisika,matematika dan politik 11 . Kebanyakan pemikiran yang dikembangkan oleh al-Farabi sangat berafiliasi dengan system pemikiran Hellenik berdasarkan Plato dan12Aristoteles. Diantara judul karya al-Farabi yang terkenal adalah : Maqalah fiAghradhi ma Ba da al-Thabi ah, Ihsha al-Ulum, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kitab Tahshil al-Sa adah, U yun al-Masa il, Risalah fi al-Aql, danmasih banyak lagi.C.Pemikiran Beliau Tentang Metafisika. Menyibukkan diri di bidang filsafat bukanlah suatu kegiatan yang hanyadilakukan oleh segelintir orang saja, melainkan merupakan salah satu cirikemanusiaan kita. Berfilsafat merupakan salah satu kemungkinan yang terbukabagi setiap orang., seketika ia mampu menerobos lingkaran kebiasaan sehari-hari.Salah satu cabang filsafat adalah metafisika. Kebutuhan manusia akan metafisika merupakan dorongan yang munculdari hidup manusia yang mempertanyakan hakikat kenyataan13. Manusia adalahproduk masyarakat tertentu. Ia adalah anak zamannya. Manusia tidak membentukdiri sendiri. Opini-opini pribadi dibentuk oleh masyarakat tempat tinggalnya.Setiap pemikiran selalu mewakili zamannya dan hasil dialektika dengan11Ibrahim Madkour, Al-Farabi dalam History of Muslim Philosophy, ed. MM. Syarif, alih bahasaIlyas Hasan, Para Filosof Muslim (Bandung: Mizan, 1992), 59.12 Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islami (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). 2813 Lorens Bagus, Metafisika (Jakarta: Gramedia, 1991), 2-3. 9. 9sejarahnya. Hasilnya terkadang spekulatif dan terkadang pula hasil pengembanganpemikiran yang sudah ada. Metafisika, menurut al-Farabi dapat dibagi menjadi tiga bagian utama14 : 1. Bagian yang berkenaan dengan eksistensi wujud-wujud, yaituontologi. 2. Bagian yang berkenaan dengan substansi-substansi material, sifat danbilangannya, serta derajat keunggulannya, yang pada akhirnyamemuncak dalam studi tentang suatu wujud sempurna yang tidaklebih besar daripada yang dapat dibayangkan, yang merupakanprinsip terakhir dari segala sesuatu yang lainnya mengambil sebagaisumber wujudnya, yaiu teologi. 3. Bagian yang berkenaan dengan prinsip-prinsip utama demonstrasiyang mendasari ilmu-ilmu khusus. Ilmu filosofis tertinggi adalah metafisika (al-ilm al-ilahi) karena materisubyeknya berupa wujud non fisik mutlak yang menduduki peringkat tertinggidalam hierarki wujud. Dalam terminology religius, wujud non fisik men