laporan pk sperma lc 2011 finale

Download Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Post on 25-Apr-2015

212 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK PEMERIKSAAN SPERMA BLOK LIFE CYCLE

KELOMPOK C1 DAFTAR NAMA ANGGOTA KELOMPOK : META MUKHSININA NURVYNDA PRATIWI SARAH SHAFIRA ANISAH ASTIRANI KEYKO LAMPITA RHANI SABRINA TSALASA AGUSTINA RIZKA DANA PRASTIWI G1A010066 G1A010068 G1A010072 G1A010073 G1A010074 G1A010076 G1A010078 G1A009080

ASISTEN : Diana Verify H. G1A008051

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2011

BAB I TUJUAN

1.1 Tujuan

1.1.1 1.1.2 1.1.3

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan analisis sperma Mahasiswa mampu mengetahui makroskopis dan mikroskopis sperma Mahasiswa mampu menginterpretasi hasil pemeriksaan sperma

1.2 Manfaat

1.2.1 1.2.2

Mahasiswa mampu menganalisis sperma Mahasiswa mampu menginterpretasi hasil pemeriksaan sperma

BAB II DASAR TEORI

Analisa semen merupakan salah satu metode pemeriksaan yang dapat menilai kesuburan dari seorang pria. Semen, atau secara sehari-hari disebut sebagai (air) mani serta cairan sperma, adalah cairan yang membawa sel-sel sperma yang dikeluarkan dari uretra (pipa di dalam penis) pada saat ejakulasi. Fungsi utama semen adalah

untuk mengantarkan sel-sel sperma untuk membuahi sel telur yang dihasilkan oleh ovum. Analisa semen dapat dilakukan untuk mengevaluasi gangguan fertilitas (kesuburan) yang disertai dengan atau tanpa disfungsi hormon androgen. Dalam hal ini hanya beberapa parameter ejakulat yang diperiksa (dievaluasi) berdasarkan buku petunjuk WHO Manual for the examination of the Human Semen and Sperm-Mucus Interaction (WHO, 1999). Cara pengeluaran semen ada beberapa macam, yaitu : dengan cara masturbasi (onani), senggama terputus (coitus interruptus), pasca senggama, pemijatan prostat, pengeluaran memakai kondom dan sebagai-nya. Tetapi untuk keperluan analisis semen manusia hanya akan diuraikan mengenai masturbasi dan senggama terputus, karena hanya masturbasi dan senggama terputus sajalah yang memenuhi persaratan cara pengeluaran semen untuk dianalisis. Bila semen dibagi menjadi 3 porsi menurut urutan keluarnya, maka porsi I adalah hasil sekresi kelenjar bulbourethra dan kelenjar uretra, porsi II hasil sekresi kelenjar prostat dan biasanya porsi ini mengandung spermatozoa paling banyak yang berasal dari ampula dan epididimis. Porsi III yang paling banyak mengandung cairan berasal dari vesikula seminalis (Suhadi, 1978; Purwaningsih, 1997). Satu sendok teh cairan mani mengandung sekitar 21 kilojoules (kilo kalori) dan 200-500 juta sperma sehingga dapat diperkirakan sperma hanya menyusun satu persen saja dari cairan semen. Selain sperma, Sisanya sekitar 99 persen adalah cairan mani terdiri dari gula fruktosa, air, ascorbic acid (vitamin C), asam sitrat, enzim, protein, posfat, dan zinc.

Spermatogenesis

Proses gametogenesis pada laki-laki dimulai saat puber. Spermatogenesis yang dimulai saat pubertas, mencakup semua proses perubahan spermatogonia menjadi spermatozoa. Berikut adalah tahapan-tahapannya.

1.

Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai 14

tahun, sel induk sperma (spermatogonium) menjadi diaktifkan oleh sekresi hormon testosteron. 2. Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis beberapa kali

untuk menghasilkan lebih banyak spermatogonium yang masing-masing berisi 46 kromosom (diploid (2n)) lengkap. 3. Masing-masing spermatongonium terus melakukan pembelahan mitosis

untuk menghasilkan sel anak, sedangkan sebagian lagi membesar menjadi spermatosit primer dan bergerak ke dalam lumen tubulus seminiferus. Oleh karena pembelahan terjadi secara mitosis maka spermatogonium dan spermatosit primer mempunyai 2n kromosom (diploid). 4. Spermatosit primer melakukan meiosis (tahap I) untuk menghasilkan dua

spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit primer, oleh karena membelah secara meiosis maka spermatosit sekunder mempunyai 23 kromosom (haploid (n)). Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23 kromosom yang terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom kelamin (Y atau X). 5. Kedua spermatosit sekunder tersebut melakukan miosis (tahap II) untuk

menghasilkan dua sel lagi yang juga haploid, hasil pembelahan ini disebut spermatid yang tetap memiliki 23 kromosom, dan diperoleh empat spermatid. 6. Spermatid kemudian akan mengalami perubahan bentuk (deferensiasi)

menjadi spermatozoa matang tanpa mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n)

23 kromosom. Perubahan bentuk ini dinamakan spermiogenesis. Keseluruhan proses spermatogenesis ini berlangsung sekitar 64 hari. Sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melalui sebuah proses rumit yang disebut dengan spermatogenesis. Dibentuk di dalam tubulus seminiferus. Dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu : a) Hormon GnRH Hormon ini berfungsi untuk merangsang lobus hipofisa anterior untuk produksi hormon gonadotropin, FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone). b) Hormon Testosterone Hormon ini berfungsi untuk membentuk sperma, terutama pembentukan spermatosit sekunder. c) Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) Hormon ini berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung. Serta merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis. d) Hormon LH (Luteinizing Hormone) Hormon ini berfungsi merangsang sel Leydig untuk memperoleh sekresi testosteron (yaitu suatu hormon kelamin yang penting untuk perkembangan sperma).

Gambar 2.1 Spermatogenesis Sumber : http://mustofaabihamid.blogspot.com/2010/06/sperma-vs-ovum.html

Spermiogenesis Serangkaian perubahan yang menyebabkan transformasi spermatid menjadi

spermatozoa disebut spermiogenesis. Perubahan-perubahan ini mencakup : a.Pembentukan akromosom yang menutupi separuh permukaan nukleus dan mengandung enzim untuk membantu penetrasi telur dan lapisan disekitarnya sewaktu fertilisasi. b.Pemadatan nukleus c.Pembentukan leher, bagian tengah, dan ekor d.Pengelupasan sebagian besar sitoplasma

Pada manusia, waktu yang dibutuhkan spermatogonia untuk berkembang menjadi spermatozoa matur adalah sekitar 74 hari, dan sekitar 300 juta sel sperma dihasilkan setiap harinya. Jika telah terbentuk sempurna, spermatozoa masuk ke lumen tubulus seminiferus. Dari sini, sel ini didorong ke arah epididimis oleh elemen-elemen kontraktil di dinding tubulus seminiferus. Meskipun pada awalnya hanya bergerak sedikit, spermatozoa memperoleh motilitas penuhnya di epididimis.

BAB III ALAT & BAHAN

3.1. Alat : mikroskop pipet tetes gelas/tabung ukur kaca objek glass cover glass pipet leukosit bilik hitung Neubauer Improved (NI)

3.2. Bahan : semen NaCl fisiologis aquadest Larutan fikasasi etanol 95% : eter ( 1: 1) Cat Giemsa

BAB IV CARA KERJA

4.1. Syarat pengumpulan bahan:

4.1.1 4.1.2

Sediaan semen diambil setelah abstinensia minimal 48 jam sampai maksimal 7 hari dengan cara masturbasi Sediaan semen idealnya dikeluarkan dalam kamar yang tenang dalam laboratorium. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka sediaan harus dikirim ke laboratorium dalam waktu maksimal 1 jam sejak dikeluarkan

4.1.3

Sediaan semen dimasukkan ke dalam botol/gelas kaca bermulut lebar, yang ditulisi identitas penderita, tanggal pengumpulan dan lamanya abstinensia

4.1.4

Sediaan semen dikirim ke laboratorium pada suhu 20-400C

4.2. Pemeriksaan makroskopis Pemeriksaan ini meliputi 6 buah pemeriksaan yang dapat dilihat secara kasat mata, yaitu: 4.2.1. Warna

Diamati warna semen yang ada, apabila normal akan berwarna putih kelabu homogen. Kadang didapatkan butiran seperti jeli yang tidak mencair. Pada beberapa contoh warna abnormal misalnya apabila jernih menandakan jumlah sperma sangat sedikit, merah kecoklatan terdapat adanya sel darah merah, dan kuning terdapat pada penderita ikterus atau minum vitamin. 4.2.2. Bau Semen normal apabila dibaui akan menghasilkan bau seperti bunga akasia. 4.2.3. Likuefaksi (mencairnya semen) Sediaan diamati pada suhu kamar dan dicatat waktu pencairan. Normal : mencair dalam 60 menit, rata-rata 15 menit. 4.2.4. Volume Diukur dengan tabung/gelas ukur dari kaca. Normal : > 2 ml. 4.2.5. Konsistensi Cara : Sampel diambil dengan pipet atau ujung jarum, kemudian biarkan menetes Amati benang yang terbentuk dan sisa ampel di ujung pipet/jarum Normal : benang yang terbentuk < 2 cm atau sisa sampel di ujung pipet/jarum hanya sedikit. 4.2.6. pH Cara : Teteskan sampel pada kertas pH meter Bacalah hasilnya setelah 30 detik dengan membandingkan dengan kertas standar Normal Abnormal : pH 7,2 7,8 : pH > 7,8 infeksi pH < 7 pada semen azoospermia, perlu dipikirkan kemungkinan disgenesis vas deferens, vesika seminal, atau epididimis

4.3. Pemeriksaan mikroskopis 4.3.1. Pemeriksaan estimasi jumlah sperma Cara : Teteskan 1 tetes sampel ke objek glass, kemudian tutup dengan cover glass Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal. Pemeriksaan dilakukan pada beberapa lapang pandang, pada suhu kamar Jumlah rata-rata sperma yang didapat dikalikan dengan 106 Jumlah rata-rata sperma yang didapat, juga digunakan sebagai dasar pengenceran saat penghitungan dengan bilik hitung Neubauer Improved Tabel 1. Pengenceran berdasarkan estimasi jumlah sperma

Jumlah sperma / lapang pandang (400x) < 15 15 40 40 200 > 200

Pengenceran 1:5 1 : 10 1 : 20 1 : 50

4.3.2. Motilitas sperma Cara :

-

Teteskan 1 tetes (10 15 mikroliter) sampel ke objek glass, kemudian tutup dengan cover glass Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal Pemeriksaan dilakukan