laporan pk sperma lc 2011 finale

of 38 /38
LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK PEMERIKSAAN SPERMA BLOK LIFE CYCLE KELOMPOK C1 DAFTAR NAMA ANGGOTA KELOMPOK : META MUKHSININA G1A010066 NURVYNDA PRATIWI G1A010068 SARAH SHAFIRA G1A010072 ANISAH ASTIRANI G1A010073 KEYKO LAMPITA G1A010074 RHANI SABRINA G1A010076 TSALASA AGUSTINA G1A010078 RIZKA DANA PRASTIWI G1A009080 ASISTEN : Diana Verify H. G1A008051 UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Upload: lutfi-aulia

Post on 25-Apr-2015

231 views

Category:

Documents


6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Page 1: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK

PEMERIKSAAN SPERMA

BLOK LIFE CYCLE

KELOMPOK C1

DAFTAR NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

META MUKHSININA G1A010066

NURVYNDA PRATIWI G1A010068

SARAH SHAFIRA G1A010072

ANISAH ASTIRANI G1A010073

KEYKO LAMPITA G1A010074

RHANI SABRINA G1A010076

TSALASA AGUSTINA G1A010078

RIZKA DANA PRASTIWI G1A009080

ASISTEN :

Diana Verify H.

G1A008051

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMANFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEDOKTERANPURWOKERTO

2011

Page 2: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB I

TUJUAN

  

1.1  Tujuan

 

1.1.1        Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan analisis sperma

1.1.2        Mahasiswa mampu mengetahui makroskopis dan mikroskopis sperma

1.1.3        Mahasiswa mampu menginterpretasi hasil pemeriksaan sperma

 

1.2  Manfaat

1.2.1        Mahasiswa mampu  menganalisis sperma

1.2.2        Mahasiswa mampu menginterpretasi hasil pemeriksaan sperma

Page 3: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB II

DASAR TEORI

Analisa semen merupakan salah satu metode pemeriksaan yang dapat menilai

kesuburan dari seorang pria. Semen, atau secara sehari-hari disebut sebagai (air) mani

serta cairan sperma, adalah cairan yang membawa sel-sel sperma yang dikeluarkan

dari uretra (pipa di dalam penis) pada saat ejakulasi. Fungsi utama semen adalah

untuk mengantarkan sel-sel sperma untuk membuahi sel telur yang dihasilkan oleh

ovum.

Analisa semen dapat dilakukan untuk mengevaluasi gangguan fertilitas

(kesuburan) yang disertai dengan atau tanpa disfungsi hormon androgen. Dalam hal

ini hanya beberapa parameter ejakulat yang diperiksa (dievaluasi) berdasarkan buku

petunjuk WHO “Manual for the examination of the Human Semen and Sperm-Mucus

Interaction“ (WHO, 1999).

Cara pengeluaran semen ada beberapa macam, yaitu : dengan cara

masturbasi (onani), senggama terputus (coitus interruptus), pasca senggama,

pemijatan prostat, pengeluaran memakai kondom dan sebagai-nya. Tetapi untuk

keperluan analisis semen manusia hanya akan diuraikan mengenai masturbasi dan

senggama terputus, karena hanya masturbasi dan senggama terputus sajalah yang

memenuhi persaratan cara pengeluaran semen untuk dianalisis.

Bila semen dibagi menjadi 3 porsi menurut urutan keluarnya, maka porsi I

adalah hasil sekresi kelenjar bulbourethra dan kelenjar uretra, porsi II hasil sekresi

kelenjar prostat dan biasanya porsi ini mengandung spermatozoa paling banyak yang

berasal dari ampula dan epididimis. Porsi III yang paling banyak mengandung cairan

berasal dari vesikula seminalis (Suhadi, 1978; Purwaningsih, 1997).

Satu sendok teh cairan mani mengandung sekitar 21 kilojoules (kilo kalori)

dan 200-500 juta sperma sehingga dapat diperkirakan sperma hanya menyusun satu

persen saja dari cairan semen. Selain sperma, Sisanya sekitar 99 persen adalah cairan

Page 4: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

mani terdiri dari gula fruktosa, air, ascorbic acid (vitamin C), asam sitrat, enzim,

protein, posfat, dan zinc.

Spermatogenesis

Proses gametogenesis pada laki-laki dimulai saat puber. Spermatogenesis

yang dimulai saat pubertas, mencakup semua proses perubahan spermatogonia

menjadi spermatozoa. Berikut adalah tahapan-tahapannya.

1. Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai 14

tahun, sel induk sperma (spermatogonium) menjadi diaktifkan oleh sekresi hormon

testosteron.

2. Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis beberapa kali

untuk menghasilkan lebih banyak spermatogonium yang masing-masing berisi 46

kromosom (diploid (2n)) lengkap.

3. Masing-masing spermatongonium terus melakukan pembelahan mitosis

untuk menghasilkan sel anak, sedangkan sebagian lagi membesar menjadi

spermatosit primer dan bergerak ke dalam lumen tubulus seminiferus. Oleh karena

pembelahan terjadi secara mitosis maka spermatogonium dan spermatosit primer

mempunyai 2n kromosom (diploid).

4. Spermatosit primer melakukan meiosis (tahap I) untuk menghasilkan dua

spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit primer, oleh karena

membelah secara meiosis maka spermatosit sekunder mempunyai 23 kromosom

(haploid (n)). Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23 kromosom yang

terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom kelamin (Y atau X).

5. Kedua spermatosit sekunder tersebut melakukan miosis (tahap II) untuk

menghasilkan dua sel lagi yang juga haploid, hasil pembelahan ini disebut spermatid

yang tetap memiliki 23 kromosom, dan diperoleh empat spermatid.

6. Spermatid kemudian akan mengalami perubahan bentuk (deferensiasi)

menjadi spermatozoa matang tanpa mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n)

Page 5: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

23 kromosom. Perubahan bentuk ini dinamakan spermiogenesis. Keseluruhan proses

spermatogenesis ini berlangsung sekitar 64 hari.

Sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melalui sebuah

proses rumit yang disebut dengan spermatogenesis. Dibentuk di dalam tubulus

seminiferus. Dipengaruhi oleh beberapa hormon yaitu :

a) Hormon GnRH

Hormon ini berfungsi untuk merangsang lobus hipofisa anterior untuk produksi

hormon gonadotropin, FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing

Hormone).

b) Hormon Testosterone

Hormon ini berfungsi untuk membentuk sperma, terutama pembentukan

spermatosit sekunder.

c) Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone)

Hormon ini berfungsi untuk merangsang pembentukan sperma secara langsung.

Serta merangsang sel sertoli untuk meghasilkan ABP (Androgen Binding Protein)

untuk memacu spermatogonium untuk melakukan spermatogenesis.

d) Hormon LH (Luteinizing Hormone)

Hormon ini berfungsi merangsang sel Leydig untuk memperoleh sekresi

testosteron (yaitu suatu hormon kelamin yang penting untuk perkembangan sperma).

Gambar 2.1 Spermatogenesis

Page 6: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Sumber : http://mustofaabihamid.blogspot.com/2010/06/sperma-vs-ovum.html

Spermiogenesis

Serangkaian perubahan yang menyebabkan transformasi spermatid menjadi

spermatozoa disebut spermiogenesis. Perubahan-perubahan ini mencakup :

a.Pembentukan akromosom yang menutupi separuh permukaan nukleus dan

mengandung enzim untuk membantu penetrasi telur dan lapisan disekitarnya sewaktu

fertilisasi.

b.Pemadatan nukleus

c.Pembentukan leher, bagian tengah, dan ekor

d.Pengelupasan sebagian besar sitoplasma

Pada manusia, waktu yang dibutuhkan spermatogonia untuk berkembang

menjadi spermatozoa matur adalah sekitar 74 hari, dan sekitar 300 juta sel sperma

dihasilkan setiap harinya.

Jika telah terbentuk sempurna, spermatozoa masuk ke lumen tubulus

seminiferus. Dari sini, sel ini didorong ke arah epididimis oleh elemen-elemen

kontraktil di dinding tubulus seminiferus. Meskipun pada awalnya hanya bergerak

sedikit, spermatozoa memperoleh motilitas penuhnya di epididimis.

Page 7: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB III

ALAT & BAHAN

3.1. Alat :

- mikroskop

- pipet tetes

- gelas/tabung ukur kaca

- objek glass

- cover glass

- pipet leukosit

- bilik hitung Neubauer Improved (NI)

3.2. Bahan :

- semen

- NaCl fisiologis

- aquadest

- Larutan fikasasi etanol 95% : eter ( 1: 1)

- Cat Giemsa

Page 8: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB IV

CARA KERJA

4.1. Syarat pengumpulan bahan:

4.1.1 Sediaan semen diambil setelah abstinensia minimal 48 jam sampai

maksimal 7 hari dengan cara masturbasi

4.1.2 Sediaan semen idealnya dikeluarkan dalam kamar yang tenang

dalam laboratorium. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka

sediaan harus dikirim ke laboratorium dalam waktu maksimal 1

jam sejak dikeluarkan

4.1.3 Sediaan semen dimasukkan ke dalam botol/gelas kaca bermulut

lebar, yang ditulisi identitas penderita, tanggal pengumpulan dan

lamanya abstinensia

4.1.4 Sediaan semen dikirim ke laboratorium pada suhu 20-400C

4.2. Pemeriksaan makroskopis

Pemeriksaan ini meliputi 6 buah pemeriksaan yang dapat dilihat secara

kasat mata, yaitu:

4.2.1. Warna

Diamati warna semen yang ada, apabila normal akan berwarna putih

kelabu homogen. Kadang didapatkan butiran seperti jeli yang tidak mencair.

Pada beberapa contoh warna abnormal misalnya apabila jernih menandakan

jumlah sperma sangat sedikit, merah kecoklatan terdapat adanya sel darah

merah, dan kuning terdapat pada penderita ikterus atau minum vitamin.

4.2.2. Bau

Semen normal apabila dibaui akan menghasilkan bau seperti bunga akasia.

4.2.3. Likuefaksi (mencairnya semen)

Page 9: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Sediaan diamati pada suhu kamar dan dicatat waktu pencairan. Normal

: mencair dalam 60 menit, rata-rata ± 15 menit.

4.2.4. Volume

Diukur dengan tabung/gelas ukur dari kaca. Normal : > 2 ml.

4.2.5. Konsistensi

Cara :

- Sampel diambil dengan pipet atau ujung jarum, kemudian biarkan

menetes

- Amati benang yang terbentuk dan sisa ampel di ujung pipet/jarum

Normal : benang yang terbentuk < 2 cm atau sisa sampel di ujung

pipet/jarum hanya sedikit.

4.2.6. pH

Cara :

- Teteskan sampel pada kertas pH meter

- Bacalah hasilnya setelah 30 detik dengan membandingkan dengan

kertas standar

Normal : pH 7,2 – 7,8

Abnormal : pH > 7,8 infeksi

pH < 7 pada semen azoospermia, perlu dipikirkan

kemungkinan disgenesis vas deferens, vesika seminal, atau

epididimis

4.3. Pemeriksaan mikroskopis

4.3.1. Pemeriksaan estimasi jumlah sperma

Cara :

- Teteskan 1 tetes sampel ke objek glass, kemudian tutup dengan cover

glass

Page 10: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

- Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa

objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya

minimal. Pemeriksaan dilakukan pada beberapa lapang pandang, pada

suhu kamar

- Jumlah rata-rata sperma yang didapat dikalikan dengan 106

- Jumlah rata-rata sperma yang didapat, juga digunakan sebagai dasar

pengenceran saat penghitungan dengan bilik hitung Neubauer

Improved

- Tabel 1. Pengenceran berdasarkan estimasi jumlah sperma

Jumlah sperma / lapang pandang (400x) Pengenceran

< 15 1 : 5

15 – 40 1 : 10

40 – 200 1 : 20

> 200 1 : 50

4.3.2. Motilitas sperma

Cara :

- Teteskan 1 tetes (10 – 15 mikroliter) sampel ke objek glass, kemudian

tutup dengan cover glass

- Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa

objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal

- Pemeriksaan dilakukan dalam 4 -6 lapang pandang pada 200 sperma,

pada suhu kamar (180 – 240 C)

- Kecepatan gerak sperma normal adalah : 5 kali panjang kepala

sperma atau setengah kali panjang ekor sperma atau ± 25 μm/detik.

Page 11: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

- Dilihat gerakan sperma dan diklasifikasikan sebagai berikut :

(a) jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka

(b) jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus

(c) jika tidak bergerak maju

(d) jika sperma tidak bergerak

- Lakukan pemeriksaan ulangan dengan tetesan sperma kedua

4.3.3. Pemeriksaan vitalitas sperma

Cara :

– Jika sperma motil < 50 % px vitalitas/sperma yang hidup dgn

pengecatan supravital

– 1 tetes sampel segar + 1 tetes eosin 0,5% pd objek glass ditutup dgn

cover glass 1-2 mnt diamati dgn mikroskop (pembesaran 400x)

– Hitung persentase jumlah sperma yang mati (terwarnai oleh cat)

dengan yang hidup (tidak terwarnai oleh cat)

– Pemeriksaan ini untuk mengecek pemeriksaan motilitas persentese

sel mati tidak boleh melebihi persentase sperma tidak motil

4.3.4. Morfologi sperma

Cara :

- Teteskan 1 tetes (10 – 15 mikroliter) sampel ke salah satu ujung objek

glass

- Dengan objek glass kedua, dibuat apusan sampel seperti terlihat pada

gambar

Page 12: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

- Sediaan dikeringkan di udara, selanjutnya difiksasi dengan etanol 95%

: eter (1 : 1), biarkan sediaan kering

- Kemudian cat dengan Giemsa selama 30 menit, bilas dengan air

bersih, keringkan dan preparat siap diperiksa

- Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 x ( 40 x lensa

objektif, 10 x lensa okuler), kondensor diturunkan dan cahaya minimal

- Pemeriksaan morfologi dilakukan pada 200 sperma meliputi kepala,

leher dan ekor, kemudian hasil yang didapat dibuat persentase

Sperma Normalabnormal

Kepala leher ekor

1

2 ...dst

200

4.3.5. Pemeriksaan elemen bukan sperma

Cara :

- Dilakukan penghitungan sel selain sperma seperti leukosit, sel epitel

gepeng dan sel lain yang ditemukan. Pengitungan dilakukan dalam

100 sperma ditemukan berapa sel lain selain sperma

- Penghitungan :

C = N x S C : jumlah sel dalam juta / ml

Page 13: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

100 N : jumlah sel yang dihitung dalam 100 sperma

S : jumlah sperma dalam juta / ml

4.3.6 Pemeriksaan hitung jumlah sperma

Cara :

- Siapkan hemositometer (pipet leukosit dan Bilik hitung NI)

- Pasang bilik hitung NI dibawah miroskop dengan pembesaran 100x

atau 400x, cari kotak hitung seperti terlihat dalam gambar.

Gambar 3. Kotak dalam bilik hitung NI

- Penghitungan dilakukan di kotak tengah yang terdiri dari 25 kotak

sedang yang masing-masing didalamnya terbagi lagi menjadi 16 kotak

kecil

- Hisap semen sampai angka 0,5, kemudian hisap pengencer

aquadest/NaCl fisiologis sampai angka 11 digunakan pengenceran

1 : 20. (Pengenceran lain dapat digunakan sesuai Tabel 1. Pengenceran

berdasarkan estimasi jumlah sperma)

- Jumlah kotak sedang yang harus dihitung berdasar jumlah sperma

yang ditemukan :

Page 14: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

jumlah sperma dalam 1 kotak sedang < 10 hitung 25 kotak

jumlah sperma dalam 1 kotak sedang 10-40 hitung 10

kotak

jumlah sperma dalam 1 kotak sedang > 40 hitung 5 kotak

- Buatlah rata-rata jumlah sperma

- Selanjutnya hitunglah jumlah sperma dan faktor koreksinya dengan

aturan seperti tertera dalam tabel 2

Tabel 2. Jumlah penghitungan kotak dan faktor koreksi jumlah sperma

Pengenceran

Jumlah kotak sedang yang dihitung

25 10 5

Faktor koreksi

1 : 10 10 4 2

1 : 20 5 2 1

1 : 50 2 0,8 0,4

Page 15: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB V

HASIL

5.1. Hari tanggal praktikum : Kamis, 28 April 2011

5.2 Identitas probandus

Nama : Dirahasiakan

Umur : 30 tahun

5.3 Pemeriksaan Makroskopis

5.3.1 Warna : putih kekuningan

5.3.2 Bau : khas seperti bunga akasia

5.3.3 Likuefaksi : sudah mencair dalam satu jam

5.3.4 Volume : 2 cc

5.3.5 Konsistensi : normal

5.3.6 pH : 8

5.4. Pemeriksaan Mikroskopis

5.4.1 Pemeriksaan Estimasi Jumlah Sperma

Lapang Pandang I : 30

Lapang Pandang II : 35

Lapang Pandang III : 29

Jumlah rata-rata adalah 30 + 35 +29 x 106 = 31.3 x 106

Page 16: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

3

Jadi, menggunakan pengenceran 1 : 10

5.4.2 Pemeriksaan Motilitas Sperma

Ditemukan 4 sperma berkriteria A pada satu lapang pandang dari total

keseluruhan jumlah 20 sperma.

Keterangan :

A = jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka

B = jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus

C = jika tidak bergerak maju

D = jika sperma tidak bergerak

Hasil :

Jadi, motilitas sperma adalah 20 %

5.4.3 Pemeriksaan Vitalitas Sperma

Dari keseluruhan 20 sampel sperma tidak ada yang terwarnai merah.

Hal ini menandakan bahwa tidak ada sperma yang mati.

5.4.4 Pemeriksaan Morfologi Sperma

Sperma NormalAbnormal

Kepala Leher Ekor

1

2

3

4

Page 17: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

5.4.5 Pemeriksaan Elemen Bukan Sperma

Ditemukan 6 leukosit dari 20 sperma

N = 30

S = 3.5 juta/ml

C = N x S = 30 x 3.5 = 1.05 juta/ml

100 100

Keterangan :

N = Jumlah sel yang dihitung dalam 100 sperma

S = Jumlah sperma dalam juta/ml

Page 18: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

C = jumlah sel dalam juta/ml

5.4.6 Pemeriksaan Hitung Jumlah Sperma

Pengenceran 1 : 10

Jumlah sperma dalam 1 kotak sedang adalah 31. Maka,

penghitungan dilakukan di 10 kotak sedang

Jumlah Sperma

Kotak Sedang I : 12

Kotak Sedang II : 10

Kotak Sedang III : 15

Kotak Sedang IV : 14

Kotak Sedang V : 15

Kotak Sedang VI : 13

Kotak Sedang VII : 16

Kotak Sedang VIII: 18

Kotak Sedang IX : 16

Kotak Sedang X : 11

Faktor Koreksi 4

Jumlah sperma 14 x 106 = 3,5juta/ml

4

Page 19: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB VI

PEMBAHASAN

Pada pemeriksaan makroskopis terdapat enam macam indikator penilaian

meliputi, pemeriksaan warna, bau, volume, konsistensi, likuefaksi dan pH.

a. Pemeriksaan Warna

Pada pemeriksaan warna didapat hasil warna putih kekuningan pada sperma

yang menandakan bahwa sperma tersebut normal. Indikator warna sperma abnormal

ditandai pada tiga kriteria meliputi, warna jernih yang berarti sperma yang

terkandung didalam semen sedikit, warna kuning menunjukan sperma mengalami

ikterik atau karena terlalu banyak mengkonsumsi vitamin yang mengandung banyak

pewarnaan, warna merah kecoklatan pada sperma menunjukan adanya eritrosit atau

pendarahan. (Davey, 2003)

b. Pemeriksaan Bau

Pemeriksaan bau didapat hasil bau yang khas seperti bunga akasia bau

semen yang khas tersebut disebabkan oleh oksidasi spermin (suatu poliamin alifatik)

yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat, sedangkan pada sperma abnormal tercium bau

busuk yang menunjukan adanya infeksi di sperma tersebut. (Davey, 2003)

c. Pemeriksaan Volume

Pemerikasaan volume sperma setelah diukur pada tabung reaksi didapat

sperma dengan volume 2 cc yang menunjukan jumlah produksi semen tersebut

normal, apabila sperma dinyatakan dalam jumlah normal dinamakan

normozoospermia adapaun aplikasi klinis pada pemeriksaan volume yaitu,

hipospermia yang berarti cairan semen atau cairan pembawa semen sedikit.

Page 20: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Hipospermia disebabkan oleh sumbatan saluran sperma, ejakulasi retrogad, infeksi

tertentu , dan kelainan hormon.( www.klikdokter.com)

d. Pemeriksaan Konsistensi

Pemeriksaan konsistensi pada sperma menunjukan hasil yang normal yang

ditandai dengan cairan semen atau benang sperma yang tertinggal diujung pipet

kurang dari 2 cm. Viskositas (kekentalan) semen dapat diukur setelah likuifaksi

semen sempurna.

e. Pemeriksaan Likuefaksi

Pemeriksaan likuefaksi pada sperma menunjukan hasil yang normal dengan

waktu pencairan kurang lebih 60 menit. Hal ini dikarenakan rentang waktu

pengambilan sampel dengan waktu pemeriksaan lebih dari 60 menit. Liquefaksi

terjadi karena daya kerja dari enzim – enzim yang diproduksi oleh kelenjar prostat,

enzim ini disebut enzim seminim.

f. Pemeriksaan pH

Pemeriksaan pH pada sperma menunjukan kisaran angka 8 yang

menadakan suatu kenormalan pada sperma tersebut. Sperma yang normal pH

menunjukan sifat yang agak basa yaitu 7,2 – 7,8. pengukuran sperma harus segera

dilakukan segera setelah sperma mencair karena akan mempengaruhi pH sperma.

Juga bisa karena sperma terlalu lama disimpan dan tidak segera diperiksa sehingga

tidak dihasilkan amoniak (terinfeksi oleh kuman gram (-)), mungkin juga karena

kelenjar prostat kecil, buntu, dan sebagainya. pH yang rendah terjadi karena

peradangan yang kronis dari kelenjar prostat, Epididimis, vesika seminalis atau

kelenjar vesika seminalis kecil, buntu dan rusak. (Sudoyo, dkk, 2009)

Analisis sperma selain dengan pemeriksaan makroskopis juga dilakukan

pemeriksaan makroskopis. Pemeriksaan ini terdiri dari pemeriksaan estimasi jumlah

sperma, motilitas sperma, morfologi sperma, pemeriksaan elemen bukan sperma,

Page 21: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

pemeriksaan hitung jumlah sperma, dan pemeriksaan vitalitas. Pemeriksaan ini

dilakukan untuk mengetahui apakah sperma probandus normal atau abnormal.

A. Pemeriksaan Elemen bukan Sperma

Pemeriksaan elemen bukan sperma dilakukan untuk menghitung sel selain

sperma seperti sel leukosit, sel epitel gepeng dan sel lain yang ditemukan.

Penghitungan ini dilakukan dalam 100 sperma. Dari pemeriksaan yang dilakukan

terhadap sperma probandus ditemukan 6 leukosit dari 20 sperma. Sehingga dapat

dihitung jumlah sel dalam juta/ml yaitu mengkalikan jumlah leukosit yang dihitung

dalam 20 sperma dengan jumlah sperma dalam juta/ml (penghitungan dengan bilik

ukur NI) hasil yang diperoleh yaitu 1,05 x 106 / ml.

Jumlah leukosit dalam sperma probandus sudah melebihi batas normal karena

kandungan leukosit normal yaitu 100 ul. Leukosit yang banyak dalam sperma

menunjukkan adanya infeksi. ( Benson, 2009 )

Jika hasil analisis semen abnormal atau borderline, harus ditinjau kembali

riwayat medis pria selama 2-3 bulan sebelumnya, mengingat spermiogenesis

memerlukan waktu 74 hari. Analisis spera ulangan harus dilakukan 1-2 minggu

kemudian untuk perbandingan. Jika terdapat kelainan bermakna yang menetap,

pertimbangkan untuk merujuk ke ahli urologi yang mengkhususkan diri dalam bidang

infertilitas. ( Benson, 2009 )

Pemeriksaan Estimasi Jumlah Sperma

Lapang Pandang I : 30

Lapang Pandang II : 35

Lapang Pandang III : 29

Jumlah rata-rata adalah 30 + 35 +29 x juta = 31.3 juta

3

Jadi, menggunakan pengenceran 1 : 10

Page 22: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Dalam percobaan ini, jumlah sperma masih dikatakan normal, karena untuk

hasil jumlah sperma pengencerannya digunakan untuk pemeriksaan hitung jumlah

sperma.

B. Pemeriksaan Motilitas Sperma

Ditemukan 4 sperma berkriteria A pada satu lapang pandang dari total

keseluruhan jumlah 20 sperma.

Keterangan :

A = jika sperma bergerak cepat dan lurus ke muka

B = jika geraknya lambat atau sulit maju lurus atau bergerak tidak lurus

C = jika tidak bergerak maju

D = jika sperma tidak bergerak

Hasil : Motilitas sperma adalah 20 %

Dengan klasifikasi gerakan sperma bergerak cepat dan lurus ke muka

dikatakan sperma tersebut kurang berkwalitas, karena dari 20 sperma hanya 4 yang

baik. Ini disebabkan beberapa faktor, yaitu karena usia sperma dalam pengambilan

dan pemeriksaan terdapat renggang waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan

sperma mati atau memiliki kualitas buruk.

C. Morfologi Sperma

Morfologi berarti merujuk pada bentuk sperma yang telah dilakukan

pengecatan. Pewarnaan dan pengecatan dengan kualitas tinggi sangat penting ketika

melakukan morfologi sperma.Morfologi sperma perlu diperiksa dan diketahui untuk

mengetahui apakah bentuk dari sperma normal atau abnormal. Batasan normal adalah

> 30 % (WHO) bila kurang dari itu disebut teratozoospermia. Bentuk atau morfologi

sperma yang abnormal dapat menandakan infertilitas pada laki-laki. Evaluasi yang

Page 23: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

dilakukan meliputi yaitu kepala, leher, dan ekor pada 20 sperma. Hasil dari

pemeriksaan yang dilakukan morfologi sperma probandus normal.

Kriteria untuk morfologi sperma yang normal yaitu :

Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3-nya, panjang 3-5 mikron, lebar ½

s/d 2/3 panjangnya

Leher (midpiece) : langsing (<1/2 lebar kepala), panjang 2 kali panjang kepala,

dan berada dalam satu garis lengan sumbu panjang kepala

Ekor : batas tegas, berupa garis panjang 9 kali panjang kepala.

Gambar : Morfologi sperma

Gambar : Kelainan Morfologi Sperma

D. Pemeriksaan Vitalitas Sperma

Page 24: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Pada pemeriksaan vitalitas sperma didapatkan hasil sampel sperma yang

digunakan 100% hidup, tidak ada yang mati. Hal ini dibuktikan dengan keseluruhan

20 sperma tidak ada yang terwarnai oleh eosin. Spermatozoa yang tidak bergerak,

belum tentu mati. Adakalanya lingkungannya tidak cocok, spermatozoa tidak

bergerak. Tetapi kalau keadaan lingkungannya suatu ketika baik, ada kemungkinan

spermatozoa bergerak lagi. Maka dari itu perlu dibedakan lagi antara spermatozoa

yang hidup dengan spermatozoa yang mati. Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan

vitalitas spermatozoa. Untuk memeriksa vitalitas spermatozoa, dilakukan pengecatan

eosin. Tujuannya untuk membedakan dan mengetahui sperma yang hidup dan yang

mati.

Prinsip pemeriksaan ini yaitu sampel sperma dibuat hapusan, diwarnai,

dikeringkan dan diperiksa sperma yang mati dan yang hidup dibawah mikroskop.

Spermatozoa yang mati akan berwarna merah. Spermatozoa yang hidup akan terlihat

tidak berwarna. Nilai Normalnya 75 % atau lebih spermatozoa yang hidup.

Spermatozoa yang mati berwarna kemerahan karena dinding spermatozoa rusak, zat

warna masuk ke dalam sel. Spermatozoa yang hidup tetap tidak berwarna karena

dinding sel masih utuh, tak dapat ditembus zat warna.

E. Pemeriksaan hitung jumlah sperma

Tujuannya yaitu untuk mengetahui jumlah sperma yang terdapat dalam

sampel sperma yang diperiksa. Pada pemeriksaan hitung jumlah sperma rata-rata

ditemukan 14 sperma yang dihitung dalam 10 kotak sedang dengan pengenceran 1 :

10, jumlah sperma dihasilkan 3,5 juta / ml semen. Penghitungan menggunakan bilik

hitung Improved Neubauer atau Burker.

Masukkan dalam kamar hitung improved Neubauer dengan menempelkan ujung

pipet ditepi kaca penutup. Nilai Normal : 20 – 70 juta / ml

Untuk mempermudah penghitungan didalam bilik hitung dapat digunakan pipet

eryhtrosit sebagai pipet pengencer. Menurut R. Gandasoebrata bila tidak memiliki

larutan pengencer Natrium bikarbonat maka dapat digunakan aquadest sebagai

larutan pengencer.

Page 25: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Didapatkan kesimpulannya termasuk Oligozoospermia yaitu jumlah sperma <

20, % motil ≥ 50 dan % morfologi ≥ 50. Hal ini bisa dikarenakan sampel telah rusak

karena lama dari pengeluaranke laboratorium lebih dari 1 jam sehingga banyak yang

mati. Bisa juga karena faktor dari probandus.

Jumlah sperma yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:

faktor genetik (kromosom), suhu tinggi, kelainan organ reproduksi, saluran kemih

dan hormon, kurang nutrisi dan vitamin (vitamin C, selenium, zinc, folat).

kemoterapi, obesitas, merokok, alkohol, logam berat, dsb. faktor psikologis: stres,

panik, depresi. faktor lingkungan: air yang tercemar.

BAB VII

KESIMPULAN

Page 26: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

BAB VIII

DAFTAR PUSTAKA

Page 27: Laporan Pk Sperma Lc 2011 Finale

Benson, Ralph C. 2009. Infertilitas dan Hal-Hal yang Berkaitan. Dalam : BS Obstetri dan

Ginekologi. Jakarta : EGC. Halaman 283.

Davey, Patrick. 2003. At A Glance Medicine. Jakarta : EGC. Halaman 282.

Sadler, Thomas W. 2010. Langman Embriologi Kedokteran Edisi 10. Jakarta : EGC.

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta : EGC.

Sono, Onny Pieters., 1978. Diktat Kuliah Analisa Sperma. Biomedik FK Unair. Suarabaya.

(unpublished). Halaman 13-14.

Sudoyo, dkk. 2009. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Edisi 5. Jakarta : Interna Publishing.

Halaman 2171.

WHO. 1999. WHO Laboratory Manual for the Examination of Human Semen and Sperm-

Cervical Mucus Interaction. Fourth Edition. Cambridge University Press. Hlm 19-22.