yusdeka lailatul qadar

Click here to load reader

Post on 12-Jun-2015

315 views

Category:

Self Improvement

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tulisan ini merupakan kumpulan dari beberapa artikel bertopik Lailatul Qadar, yang bersumber dari internet. Tujuannya adalah untukm memudahkan pemahaman kami tentang topik tersebut, khususnya pada Ramadhan 2014. Tulisan-tulisan tersebut ditulis oleh berbagai penulis, di antaranya Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis “Dzikrullah” (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog “Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat” (yusdeka.wordpress.com).

TRANSCRIPT

  • 1. Aneka Artikel Keislaman Lailatul Qadar Dikompilasi oleh FIW

2. 2 Kata Pengantar Tulisan inim merupakanm kumpulan dari beberapa artikel bertopik Lailatul Qadar, yang bersumber dari internet. Tujuannya adalah untukm memudahkan pemahaman kami tentang topik tersebut, khususnya pada Ramadhan 2014. Tulisan-tulisan tersebut ditulis oleh berbagai penulis, di antaranya Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis Dzikrullah (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat (yusdeka.wordpress.com). Setelah pengkompilasian ini tercapai kami berpendapat alangkah sayangnya jika tulisan yang sudah dikompilasi tersebut hanya untuk kami konsumsi sendiri. Untuk itu, dalam format PDF, kami menaruhnya di internet. Semoga dengan demikian semakin banyak pihak yang dapat turut menikmati, dan harapan kami, dapat menjadi bekal dan pahala yang terus mengalir, bagi keselamatan di Akhirat kelak. (FIW) 3. 3 Daftar Isi Artikel 1 : Lailatul Qadar dan Cara Mendapatkannya.............................................................. 4 Artikel 2 : Lailatul Qadar Malam Pencerahan Agung............................................................. 10 Artikel 3 : Senin Pagi, 5 Aguatus 2013, Yang Mengherankan ................................................ 15 Artikel 4 : Rahasia Menjemput Malam Penuh Kemuliaan dan Rahmat ................................. 17 Artikel 5 : Lailatul Qadar ? Urusanmu Apa?.......................................................................... 19 Artikel 6 : Kajian Ilmiah Lailatul Qadar Menjadi Malam 1000 Bulan...................................... 23 Artikel 7 : Bumi tanpa Radiasi Partikel.................................................................................. 28 4. 4 Artikel 1 : Lailatul Qadar dan Cara Mendapatkannya1 A. Pembahasan Mendengarkan ceramah buka puasa bersama dari salah seorang pakar Al Quran ternama di Indonesia dan adanya pertanyaan seorang teman mengenai hakikat sebenarnya dari Lailatul Qadar membuat saya ingin untuk membahas topik ini kembali. Pakar Al Quran yang mengarang buku tafsir terkenal ini berkata bahwa Lailatul Qadar adalah malam di dalam bulan Ramadhan dimana Allah memberikan keistimewaan kepada seluruh manusia yang antara lain terlihat dari tanda-tanda fisik dan kedamaian pada alam semesta seperti yang disebutkan dalam lirik lagu Bimbo yang berjudul Lailatul Qadar. Menurutnya malam ini dapat dilihat dari teori relativitas dimana meskipun waktunya sangat singkat namun memiliki nilai yang luar biasa, bahkan lebih baik dari 1000 bulan atau 83 tahun. Ciri-ciri manusia yang mendapatkan Lailatul Qadar adalah kedamaian di dalam hatinya. Lailatul Qadar dijelaskannya dengan sangat rumit sehingga jika saya orang awam, maka boro-boro hendak mendapatkan Lailatul Qadar, memahami maknanya saja sudah teramat sulit. Padahal tujuan Allah menurunkan Al Quran adalah tidak membuat manusia menjadi susah, sebagaimana disebutkan dalam : Thaahaa (20 : 2) Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Marilah kita membahas mengenai apa makna dan hakikat dari Lailatul Qadar ini dengan membuka : Al Qadr ( 97 : 1-2) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Al Quran diturunkan pada waktu malam bukan berarti Al Quran diturunkan ketika malam hari. Malam di sini adalah perumpamaan kegelapan manusia yang belum mendapatkan cahaya Allah melalui wahyu-Nya, . . . sebagaimana disebutkan dalam : 1 https://groups.yahoo.com/neo/groups/dzikrullah/conversations/messages/3522 5. 5 Ibrahim (14 : 1) Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Al Quran yang diturunkan kepada manusia yang dalam kondisi gelap. Pada titik Lailatul Qadar itulah kita mulai mendapatkan cahaya Allah dengan mulai memahami al Quran, sebagaimana disebutkan dalam : Asy Syuura (42 : 52) Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. 1. Jadi, kesimpulan pertama, . . . malam Lailatul Qadar bukan berarti terjadi pada malam hari, namun dapat terjadi kapan saja ketika seseorang yang sedang dalam kondisi gelap gulita (perumpamaannya sebagai malam) mulai diberikan hidayah dari Allah melalui al Quran. Lailatul Qadar dapat terjadi kapan saja selama seseorang manusia tersebut memenuhi persyaratan sebagai manusia yang paling bertakwa. Disebutkan sebagai malam kemuliaan, karena terdapat tiga macam kemuliaan pada titik gelap tersebut. a. Kemuliaan Pertama Kemuliaan pertama adalah pada malam tersebut, seseorang yang memenuhi persyaratan mendapatkan hidayah dari Allah adalah seseorang yang mulia yaitu yang paling bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam : Al Hujuraat (49 : 13) Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 6. 6 b. Kemuliaan yang Kedua Kemudian manusia yang mulia ini dipertemukan oleh kemuliaan yang kedua yaitu Al Quran yang mulia, sebagaimana disebutkan dalam : Al Waaqiah (56 : 77) Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. c. Kemuliaan yang Ketiga Di dalam memberikan hidayah dalam bentuk kepahaman Al Quran ini, Allah mengutus kemuliaan yang ketiga yaitu utusan-Nya yang mulia yang bernama Malaikat Jibril, sebagaimana disebutkan dalam : At Takwir (81 : 19) . . . sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). 2. Jadi, kesimpulan kedua, . . . malam Lailatul Qadar tidak berlaku untuk semua manusia, tetapi berlaku hanya kepada manusia yang paling bertakwa, di mana pada malam tersebut Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Quran kepadanya. 3. Adapun kesimpulan ketiga, malaikat Jibril mendatangi manusia yang bertakwa sehingga konsep bahwa malaikat Jibril hanya mendatangi para Nabi dan sudah menjadi pensiunan setelah Nabi Muhammad wafat perlu dipertanyakan. Al Qadr (97 : 3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Makna dari bulan bukanlah berarti bulan kalender. Bulan dimaksudkan sebagai bercahaya sebagai lawan dari matahari yang bersinar, sebagaimana disebutkan dalam : Yunus (10 : 5) Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan- Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. 7. 7 Bulan adalah perumpamaan dari Al Quran sebagai wujud dari cahaya Allah, sebagaimana disebutkan dalam : Asy Syuura (42 : 52) Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Seribu bulan adalah perumpamaan dan bukan berarti seribu dibagi dengan dua belas atau delapan puluh tiga tahun. Kesalahan pemaknaan ini mengakibatkan adanya konsep bahwa kalau pada hari itu kita shalat, hitungannya seperti shalat selama 83 tahun. Jika satu bulan purnama sudah menerangi malam yang gelap, maka : . . . seribu bulan adalah perumpamaan Al Quran yang merupakan cahaya Allah yang terang benderang, . . . sebagaimana disebutkan dalam : An Nisaa (4 : 174) Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran). 4. Jadi, kesimpulan keempat, seribu bulan bukanlah bermakna seribu bulan kalender atau 83 tahun, tetapi bermakna : Al Quran yang memberikan cahaya hidayah yang terang benderang kepada manusia yang dalam keadaan gelap gulita. AL Qadr (97 : 4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Ketika dikatakan malaikat dan ruhu fiha (Jibril) turun, jangan dibayangkan bahwa malaikat dan Jibril seperti bidadara atau bidadari yang turun dari kahyangan. 8. 8 Makna dari turunnya malaikat dan ruhu fiha adalah turun untuk menjelaskan mengenai cahaya hidayah Allah melalui al Quran. Malaikat dan ruhu fiha (Jibril) bukanlah turun ke bumi dari kahyangan, tetapi turun ke qalbu atau jiwa manusia untuk menguraikan (Jabarul) segala sesuatu yang belum dipahaminya untuk menjadi paham, . . . sebagaimana disebutkan dalam : Asy Syuaraa (26 : 192-194) Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. 5. Jadi, kesimpulan kelima : . . . malaikat dan Jibril tidak turun ke bumi tetapi ke dalam jiwa atau qalbu manusia untuk menjadi utusan dalam memberikan hidayah dari Allah dalam bentuk kepahaman yang mendalam akan petunjuk Allah dalam al Quran. Melalui kesimpulan ini, maka konsep bahwa terdapat ciri-ciri alam semesta sebagaimana yang digambarkan oleh pakar Al Quran tersebut dan lagu Bimbo adalah suatu konsepsi yang kurang tepat. Al Qadr (97 : 5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. Ketika dikatakan bahwa malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar, pakar Al Quran tersebut mengatakan bahwa fajar adalah bagian dari siklus hidup manusia yang dimulai sejak fajar hingga maghrib. Hakikat yang sesungguhnya dari fajar adalah batas antara gelap dan terang. Ketika manusia yang mulia dipertemukan Allah dengan Al Quran yang mulia melalui utusan Allah yang mulia (Jibril), maka manusia tersebut mulai menghadapi masa dari gelap menuju terang di mana berangsur-angsur hidupnya akan menjadi terang benderang karena dibimbing dan dilindungi oleh Allah melalui para malaikat dan Jibril, . . . sebagaimana disebutkan dalam : Al Baqarah (2 : 257) Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, 9. 9 pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. B. Kesimpulan 1. Malam Lailatul Qadar adalah perumpamaan kegelapan manusia yang belum mendapatkan cahaya Allah melalui wahyu-Nya. 2. Malam Lailatul Qadar bukan berarti terjadi pada malam hari, namun dapat terjadi kapan saja ketika seseorang yang sedang dalam kondisi gelap gulita (perumpamaannya sebagai malam) mulai diberikan hidayah dari Allah melalui al Quran. 3. Malam Lailatul Qadar tidak berlaku untuk semua manusia, tetapi berlaku hanya kepada manusia yang paling bertakwa, di mana pada malam tersebut Allah mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Quran kepadanya. 4. Seribu bulan adalah perumpamaan Al Quran yang merupakan cahaya Allah yang terang benderang. Seribu bulan bukanlah bermakna seribu bulan kalender atau 83 tahun, tetapi bermakna Al Quran yang memberikan cahaya hidayah yang terang benderang kepada manusia yang dalam keadaan gelap gulita. 5. Makna dari turunnya malaikat dan ruhu fiha adalah turun untuk menjelaskan mengenai cahaya hidayah Allah melalui al Quran. Malaikat dan ruhu fiha (Jibril) bukanlah turun ke bumi dari kahyangan, tetapi turun ke qalbu atau jiwa manusia untuk menguraikan (Jabarul) segala sesuatu yang belum dipahaminya untuk menjadi paham. 6. Hakikat yang sesungguhnya dari fajar adalah batas antara gelap dan terang. Ketika manusia yang mulia dipertemukan Allah dengan Al Quran yang mulia melalui utusan Allah yang mulia (Jibril), maka manusia tersebut mulai menghadapi masa dari gelap menuju terang di mana berangsur-angsur hidupnya akan menjadi terang benderang karena dibimbing dan dilindungi oleh Allah melalui para malaikat dan Jibril. 10. 10 Artikel 2 : Lailatul Qadar Malam Pencerahan Agung2 A. Pembahasan Saat itu, kami di Cibubur sedang mengadakan acara rutin "enam bulanan", yaitu lanjutan "pelatihan ihsan" yang telah diadakan enam bulan yang lalu yang juga diadakan di Cibubur. Kali ini pelatihan diadakan pada tanggal 14-16 November 2003 yang baru lalu. Kisah ini langsung saya bawa kepada acara malam terakhir (malam minggu) 15 November Mid Night. Artinya sudah masuk ke tanggal 16 November jam 00:00, bertepatan dengan malam ke 21 Ramadhan saat mana kami mengadakan acara "tafakur dan tadabur alam" di lapangan terbuka bumi perkemahan Cibubur. Ketika itulah muncul "pengertian-pengertian baru" kepada kami, sekitar 20 orang, termasuk pembimbing kami H. Slamet Utomo dan Ust. Abu Sangkan. Pengertian yang boleh dikatakan sangat gamblang dan jelas. Sedangkan 80 orang sahabat saya yang lain sudah duluan kembali ke penginapan yang berlokasi masih di sana juga. Ya..., tinggal kami sekitar 20 orang yang melanjutkan ketahap "pendakian rohani" berikutnya di lapangan terbuka. Mudah-mudahan secuil pengalaman ini bisa memberikan tambahan pengetahuan buat kita semua. Seperti biasa kami hanya melakukan usaha "positioning" sebagai seorang "hamba menghadap dan memandang Tuhan". Saat itu dengan "kesadarannya", . . . sang hamba mencoba berusaha : mengembalikan penglihatannya, pendengarannya, tahunya, hidupnya kembali kepada Yang Punya Sesungguhnya, mengembalikan melihat kepada Sang Maha Melihat, mengembalikan mendengar kepada Sang Maha Mendengar, mengembalikan hidup kepada Sang Maha Hidup, mengembalikan tahu kepada Sang Maha Tahu, Maha . . . Segalanya. Artinya kami, sang hamba ini, berusaha menuju ke titik keNOLan. Walaupun sebenarnya tanpa dikembalikanpun tetap saja Dia yang punya. Hanya kita saja yang begitu sombong, berani-beraninya mengaku bahwa melihat itu, mendengar itu, tahu itu, hidup itu milik kita. Betapa sombongnya kita ini memang. Biasanya usaha positioning ini sangat sulit kami lakukan, terutama bagi saya sendiri. Sungguh sulit. Akan tetapi di tengah malam itu suasana berubah begitu drastis. 2 http://groups.yahoo.com/neo/groups/dzikrullah/conversations/messages/403 11. 11 Malam itu saya dan semua rekan-rekan saya di atas, masuk ke SUASANA KESENYAPAN ABADI. Kesenyapan yang "tak ada awal dan tak ada akhirnya". Di sana tidak ada apa-apa. Suasana yang ada adalah DIAM dan KESENDIRIAN ABADI. Kekosongan ABADI. Dari dulu, sekarang, dan yang akan datang, ya suasananya begitu itu, tidak berubah. Suatu "pengertian (yang bukan-kata-kata, bukan huruf, bukan gambar)" datang menyusup ke kalbu kami : "JANGAN KAU USIK KETENANGAN INI". Lalu untuk beberapa saat kami tidak sanggup "ke luar" dari KESENYAPAN itu, sampai kira-kira jam 01:15. Setelah itu kami baru bisa bergerak kembali. Saya "rasanya" seperti baru saja keluar dari sebuah kepompong Maha Luas dengan nuansa PENCERAHAN YANG SANGAT AGUNG. Setelah itu, kami berjalan kembali ke penginapan di tepi Danau Cibubur. Sambil lewat, saya memperhatikan alam sekeliling saya. Pepohonan dan dedaunan tidak bergerak sedikitpun. Di langit terlihat tidak ada awan akan tetapi juga tidak hitam kelam. Langit seperti dilapisi oleh selaput putih yang tipis merata. Kerlipan bintang sangat sayup- sayup nyaris tak kelihatan. Tidak ada suara jangkrik atau burung malam yang terdengar bertingkah, padahal pada hari-hari biasa kami latihan di Cibubur, suara-suara itu ada. Saya perhatikan bulan hanya separo, tetapi anehnya terlihat seperti double. Sepintas saya mengarahkan pandangan saya ke permukaan air danau Cibubur. Saya terpesona. Dalam temaram lampu-lampu hias di pinggirnya, permukaan danau itu kelihatan bening dan diam seperti kaca. Permukaan danau terlihat tidak ada riak sedikitpun. Dan saya sempat memberitahu suasana "danau kaca" ini kepada sahabat saya Ust. Abu Sangkan, beliau mengangguk mengiyakan. Sesampai di penginapan, untuk beberapa saat saya duduk di teras depan berduaan dengan Pak Haji Slamet Utomo. Mata saya kembali memandang pepohonan dan tanaman perdu di sekitar saya, tidak ada gerakan pepohonan maupun udara di sekitar itu. Suasananya SENYAP, DIAM, tapi anehnya TIDAK mencekam sedikitpun. Malah yang datang adalah sebuah keharuan yang menggumpal. Saya ingin berkata-kata dengan Pak Haji Slamet Utomo, tetapi yang muncul justru setetes dua tetes cairan bening di sudut mata saya. Kemudian saya mencoba memperhatikan "fikiran dan dada" saya. Lho..., kok rasanya kedua-duanya juga ikut-ikutan meluas. Di situ ada rasa damai dan tenteram yang belum pernah saya rasakan sebelum-sebelumnya. Setengah berbisik saya bertanya kepada Pak Haji Slamet Utomo: "Pak Haji, mungkinkah ini malam Lailatul Qadar...?". Beliau membuka mata dan berguman: "Mmm..., ooo iyaaaa..., sekarang khan malam ke 21 12. 12 Ramadhan...?". Jawaban singkat beliau ini sudah cukuplah bagi saya. Saya tidak butuh penjelasan lain lagi. Dan saya lalu beranjak menelpon istri saya di Cilegon agar dia segera shalat barang dua rakaat lalu berdoa untuk kami semuanya. Sementara itu suasana SENYAP ini terus menjadi pegamatan saya, suasana damai, tenang dan tenteram ini terus "menemani" saya dari jam ke jam. Saat shalat subuhpun, suasana itu ada. Pagi harinya suasana aman, damai, diam, senyap itu juga masih terasa pekat. Cahaya matahari juga begitu TEDUH. Matahari seperti malu-malu untuk mengusik kesenyapan itu dengan cahayanya yang biasanya membakar langit pagi hari dengan garang. Selesai acara penutupan, sekitar jam 10.00 pagi, kami kembali ke rumah masing-masing. Ada yang kembali ke Jogya, Semarang, Banyuwangi, Bandung, Tuban, dsb. Walaupun begitu sepanjang hari itu saya terus mengamati perilaku alam di sekitar saya. Suasana yang sama dengan semalam itu tetap saja belum berubah. Tetap diam dan adem. KESENYAPAN itu masih nyata. Sekitar jam 17:00 sore saya coba hubungi beberapa sahabat saya, dan menceritakan suasana yang tetap senyap tak berubah ini. Jawaban mereka cuma singkat "Ya... nggak mau di usik, mari kita ikut diam...". Tanpa saya sadari ada perubahan yang sangat berarti dalam "rasa ingat saya". Saya kok merasa : . . . bisa lebih cepat berada dalam suasana SENYAP dan DIAM itu dalam shalat maupun dalam dzikir saya. Bahkan ketika melihat alampun suasana itu muncul dalam waktu tidak terlalu lama, malah dengan kepekatan yang semakin meningkat. Walaupun saat itu alamnya masih berputar, tumbuhannya masih bergoyang, anginnya masih berhembus perlahan, dan manusia-manusia masih bergerak secara dinamis, akan tetapi semua "dinamika gerak" itu nyata-nyata BERSANDAR kepada "suasana senyap dan diam" itu. Suasana yang tidak bisa dibahasakan. Saya belum tahu bagaimana akhir dari suasana ini. Ya Allah..., semoga suasana ini tidak pernah berakhir.... Ya Allah..., semoga suasana itu semakin pekat dan pekat..., semoga. Lalu ungkapan-ungkapan dan pengertian-pengertian berikut muncul dengan benderang kepada saya : Andaikan malam itu adalah malam Lailatul Qadar, maka suasana malam kebahagian itu dari DULU-DULU juga sudah ada. Dan akan TETAP ADA sampai kapanpun. Suasana itu tetap ada SETIAP SAAT, yang akhirnya bermuara pada satu kata waktu saja, yaitu SEKARANG. SAAT INI. Artinya adalah, jika segala sesuatu sudah tiada (FANA), maka tiada lagi waktu. Tiada lagi waktu yang lalu. Tiada lagi waktu yang akan datang. Semua waktu berkumpul menjadi SEKARANG. Yang ada adalah SAAT INI. Wal 'ashri..., demi waktu (universal) ini, demi saat (univesal) ini... 13. 13 Sungguh Allah sangat penyayang kepada kita. Dia menyediakan waktu-waktu istimewa bagi kita, manusia ini, untuk mendapatkan suasana itu. Suasana Agung saat turunnya Al Qur'an untuk alam semesta ini. Waktu-waktu "yang dimudahkan" bagi manusia dalam upaya mencapai suasana agung itu disediakan Allah pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Walau sebenarnya waktu itu hanyalah waktu dalam dimensi manusia saja. Sedangkan pada hakekatnya waktu itu adalah SAAT INI. Sekarang terserah kepada sang manusianya saja. Apakah sang manusia itu : Mau mendapatkan REALITAS Lailatul Qadar yang sangat dahsyat itu, atau Hanya sekedar berpuas diri untuk mendapatkan PAHALA keagungannya saja. Tanda-tanda real yang mungkin dapat dipakai sebagai patokan apakah kita mendapatkan malam itu atau tidak adalah : "Adakah perubahan yang nyata yang muncul dalam hati kita, dalam tindakan kita, dalam fikiran kita setelah pencerahan agung itu, sebuah perubahan yang boleh jadi sangat drastis yang jauh lebih baik dan bermakna dibandingkan dengan kondisi atau suasana sebelum pencerahan agung itu datang ?" Kalau ada perubahan itu, maka marilah kita sama-sama bersyukur kepada-Nya. Akan tetapi kalau perubahan itu belum ada, maka marilah kita TETAP sama-sama menggantungkan kembali harapan kita kepada Allah agar di hari-hari mendatang kita bisa mendapatkannya, mendapatkan MALAM PENCERAHAN AGUNG. Semoga saja banyak manusia lain yang berhasil mendapatkan realitas Pencerahan Agung itu dimana-mana. Kalaupun realitas itu belum muncul, maka mudah-mudahan "pahala 1000 bulan" saja juga sudah sangat berarti banyak bagi kita. Tinggal nanti kita berusaha lagi untuk mencari sang Lailatul Qadar ini di bulan Ramadhan di lain waktu. Atau barangkali, siapa tahu realitas itu masih bisa kita dapatkan lagi di malam-malam terakhir Ramadhan ini. Khan uraian di atas hanya sebuah EXPERIENCE saja dari seorang DEKA, tak lebih dan tak kurang. Pengalaman rohani ini bisa saja benar, akan tetapi juga sekaligus bisa salah. Yang pasti : MISTERI KEAGUNGAN Lailatul Qadar ini hanya dan hanya Allah saja yang tahu. Kita manusia ini hanya mereka-reka dan mengira-ngira saja, tak lebih, tak kurang. Tapi paling tidak saya masih punya sedikit harapan dalam memaknainya. Bahwa: "Insyaallah, setidaknya saya ingin bersyukur ketika saya diberi-Nya kesempatan untuk menikmati pencapaian saya yang masih sangat sederhana ini dalam merayakan hari kemenangan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, di tahun 2003 ini". Harapan sayapun masih belum pupus untuk bisa mencapai realitas "kembali ke kefitrahan". Sebuah posisi hakiki 14. 14 manusia yang berharap kedamaian dan kebahagiaan dalam suasana kepatuhan seorang hamba. B. Kesimpulan 1. Cobalah mengisi malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dengan melakukan positioning yaitu : a. mengembalikan penglihatannya, pendengarannya, tahunya, hidupnya kembali kepada Yang Punya Sesungguhnya, b. mengembalikan melihat kepada Sang Maha Melihat, c. mengembalikan mendengar kepada Sang Maha Mendengar, d. mengembalikan hidup kepada Sang Maha Hidup, e. mengembalikan tahu kepada Sang Maha Tahu, Maha . . . Segalanya. 2. Mendapatkan Lailatul Qadar ditandai dengan masuknya kita ke SUASANA KESENYAPAN ABADI. Kesenyapan yang "tak ada awal dan tak ada akhirnya". Di sana tidak ada apa-apa. Suasana yang ada adalah DIAM dan KESENDIRIAN ABADI. Kekosongan ABADI. Suasananya SENYAP, DIAM, tapi anehnya TIDAK mencekam sedikitpun. 3. Setelah melalui malam tersebut, maka evaluasi diri kita : Adakah perubahan yang nyata yang muncul dalam hati kita, dalam tindakan kita, dalam fikiran kita setelah pencerahan agung itu, sebuah perubahan yang boleh jadi sangat drastis yang jauh lebih baik dan bermakna dibandingkan dengan kondisi atau suasana sebelum pencerahan agung itu datang ? 15. 15 Artikel 3 : Senin Pagi, 5 Aguatus 2013, Yang Mengherankan3 A. Pembahasan 1. Yusdeka Momentum jiwa pagi ini begitu indah dan kuat. Setelah tadi malam mengambil alih tanggung jawab, lalu diganti Allah dengan : Sebuah gelombang kejut seperti gelombang kejut supersonik yang membawa kepada rasa menerima kemarahan Allah atas segala perbuatan manusia yang saat ini memang sudah sangat keterlaluan. Fabiayyiala irabbikuma tukadzdzibaan. Lalu kemudian dengan gelombang kejut yang sangat lembut, diberi pula kesempatan untuk mencicipi Kasih dan Sayang Allah yang meliputi seluruh ciptaan-Nya. Sungguh Dia menjaga Alam semesta ini dengan Daya Kasih- Sayangnya, Ar Rahman Ar Rahim. Daya yang sangat delicate, seperti sedang menjaga balon gelembung sabun kehidupan yang sangat tipis dan terus membesar. Daya itu sangat tipis, begitu halusnya, lembut, tidak menyolok mata, mudah sekali tersinggung dan pecah. Lalu dalam lautan kasih sayang-Nya hanya bisa berurai airmata. Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim Alhamdulilllaaah, diberitahu-Nya bahwa Dengan Daya Ar Rahman Ar Rahim, Kasih dan Sayang, yang sangat delicate itulah Dia menjaga hati hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. 2. Mas S Subhanallah, entah mengapa. Mulai ada yang memberitakan dan menyaksikan Lailatul Qadar semalam. Sebagaimana persaksian saya. Semakin menguatkan persaksian. Semoga berkah dan rahmat Allah yang turun mampu ditangkap receiver hati, sehingga ada seribu buah hati yang bersinar indah layaknya purnama akan muncul. Setidaknya saya telah melihat beberapa purnama sekarang. Maha suci Allah. 3. Deka Dari adik saya Y yang iktikaf di Pondok Uzlah Bandung: Ketundukan Alam semakin terasa. Allah sedang mengajarkan pada semua yang dapat menangkap turunnya para malaikat ke bumi, akan sangat mudah di 3 https://yusdeka.wordpress.com/2013/08/06/senin-pagi-5-aguatus-2013-yang-mengherankan/ 16. 16 tangkap oleh yang berhasil tarekat puasanya, bahkan tak bisa menghindar. Perobahan dayanya terasa jam 23.30 malam. Sangat kentara : Alam mendadak menebarkan ketundukan. Semua terasa melambat. Suara aliran air melunak. Tak terhindari lagi, saat shalat badan bergetar hebat tak terhindari. Saat melihat ke luar ada bintang sebesar bohlam di ufuk timur. Langit terang bertabur bintang tanpa awan. Pohon menebarkan daya ketundukan. Tenang damai temaram sangat tunduk sekali serasa alam seperti bersujud. Saat berdoa bersama di plaza Pondok Uzlah, awan bergerak perlahan membentuk kipas raksasa di langit, dan sirna lagi setelah doa selama 1,5 jam. Dan meteorpun tampak bersinar melewati atmosfir saat doa selesai. Allahuakbar, Allahuakbar. Acara shalat malam bersama selama 1,5 jam pun terasa sangat berbeda, begitu cepat waktu terasa, hingga tidak bisa tidur lagi sampai saat ini. Ya Allaah, Subhanallaah, Allahu Akbar, Ya Allah. 4. Mas S Sebuah persaksian. Dan sungguh, saya mampu mengenali ruh yang menuliskan ini, begitu saya kenal, meskipun belum pernah bertemu, belum sempat komunikasi, namun saya mampu membaca lambang simbol, dibalik tulisan, mampu mengenal kelembutan ketulusan, dan banyak rasa yang pernah sy bicarakan, menggunakan bahasa yang sangat dikenal. Salam saya untuknya. Saya menjadi saksi sebagaimana yang diungkapkan. 5. Mas B, Jogja Ya Allah, meski tidak ikut diberi kesempatan membaca alam. Namun hari ini tetap saja Allah turunkan berlimpah kebaikan yang terus mengalir. 17. 17 Artikel 4 : Rahasia Menjemput Malam Penuh Kemuliaan dan Rahmat4 A. Pembahasan Malam Penuh Kemulian dan Rahmat ini, . . . hanya diperkenankan bagi yang mempunyai tugas dari Tuhan akibat ia telah bersepakat dalam hidupnya untuk Allah. Yaitu menjadi wali-Nya, menjadi perantara Kalam-Nya. Ya, menjadi. Apa saja yang sudah kalian sepakati bersama Allah. Malaikat turun membawa pesan bagi yang berhak dalam tugasnya. Ia tidak mungkin melepaskan amanah yang dibawa- nya dari Tuhannya. Ia akan mencari hamba-hamba Allah yang terpilih, yang ingin meneruskan perjuangan Nabi-Nya. Malaikat sebagai utusan yang amanah, TIDAK akan memberikan pesan-pesan dari Tuhannya kepada orang-orang yang HANYA punya tujuan MENCARI URUSAN PRIBADI atau DUNIAWI. Maka puasamu akan menjadi sarana memudahkan ruhanimu untuk menangkap Malam Penuh Kemuliaan dan Ramat tersebut. Jangan kalian sia-siakan dudukmu yang TIDAK mempunyai Tujuan. Kalau kalian paham, maka segeralah berjalan, temui sang utusan untuk menanyakan, Pesan Apa yang telah dibawanya dari Tuhanku. Kalian harus berusaha mampu menemuinya, yaitu redamlah PENGIKAT HAWA NAFSU ini, agar kalian secepat kilat pergi meninggalkan alam ini. Laula syayathina yahumuna ala qulubi bani adam, lanadharuu ala malakutissama, Kalaulah syaitan-syaitan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam ghaib, alam malakut, (HR Ahmad dari Abu Hurairah R.a) B. Kesimpulan 1. Untuk dapat menjemput Malam Penuh Kemuliaan dan Rahmat, maka kita harus menjadi menjadi wali-Nya, menjadi perantara Kalam-Nya dalamk meneruskan 4 https://yusdeka.wordpress.com/2011/08/29/rahasia-menjemput-malam-penuh-kemuliaan-dan- rahmat%e2%80%a6/ 18. 18 perjuangan Nabi-Nya. 2. Kalau kita hanya punya tujuan mencari urusan pribadi atau duniawi saja, jangan harap kita akan mendapatkan malam istimewa tersebut. 19. 19 Artikel 5 : Lailatul Qadar ? Urusanmu Apa?5 A. Pembahasan Bahkan beberapa kali saya berkunjung ke beberapa masjid, begitu lewat jam 00:00 tengah malam, ada jamaah yang kemudian menggelar pengajian kitab kuning tertentu sampai jam 02:00 dinihari. Ada pula yang : asyik shalat, membaca Al Quran, berdzikir dengan semangat 45, atau hanya sekedar duduk diam tafakur. Kelihatan sekali kita umat islam ini punya sebuah impian yang pekat agar, terutama pada waktu-waktu 10 malam terakhir Ramadhan, bisa mendapatkan malam Lailatul Qadar selagi kita sibuk beribadah seperti itu. Allah mengatakan di dalam Al Quran bahwa pada malam Lailatul Qadar itu, Malaikat dan Ar RUH (yang biasa diterjemahkan sebagai JIBRIL), dengan izin Allah, turun ke bumi membawa AMR atau perintah-perintah dari Allah. Amr yang dibawa oleh para Malaikat itu akan memberikan manfaat (pahala) kepada orang-orang yang mendapatkan AMR Allah itu selama 1000 bulan ke depan atau sekitar 83 tahunan. Sekarang muncul beberapa pertanyaan yang sangat menggelitik, bahwa : ADA URUSAN APA Malaikat dan Ar RUH itu turun dan sempat-sempatnya membawa AMR Allah itu kepada kita ? Apakah kita punya URUSAN dengan Allah, sehingga Allahpun punya URUSAN dengan kita, yang menyebabkan Allah mengutus Malaikat dan AR RUH untuk menjawab urusan kita itu ? Selama ini mungkin : . . . banyak diantara kita yang ujug-ujug melakukan Itikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan tanpa membawa urusan apa-apa dengan Allah : Kita datang dengan tangan hampa. 5 https://yusdeka.wordpress.com/2013/07/22/lailatul-qadar-urusanmu-apa/ 20. 20 Kita hanya ingin mendapatkan pahala 1000 bulan dari amalan yang kita lakukan pada malam itu. Dan semuanya itu adalah untuk diri kita dan keluarga kita sendiri. Sampai akhir Ramadhan pun kita tidak tahu apakah kita berhasil mendapatkan malam 1000 bulan itu atau tidak. Walaupun pada suatu pagi di 10 malam terakhir itu kita mendengar cerita-cerita bahwa pagi itu sangat tenang, lembut dan cahaya matahari temaram, yang katanya itu adalah tanda-tanda telah terjadi malam 1000 bulan pada malamnya, namun : . . . kita tetap tidak pasti, apakah kita telah berhasil mendapatkan malam itu ketika kita beribadah saat itu. Begitu pula, kalau kita lihat apakah bekas-bekas kita telah mendapatkan malam 1000 bulan itu sudah mulai terjadi pada diri kita, juga kita tidak bisa membedakannya dengan apa-apa yang kita lakukan dan dapatkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Nyaris sama saja. Jadi sebagai alternatif cara bertindak saja, . . . marilah kita mulai mencoba untuk mendatangi Allah di 10 malam terakhir Ramadhan ini dengan membawa URUSAN untuk membantu Allah memperjuangkan agama-Nya. Islam. Kita hanya datang dengan menyatakan kesiapan kita secara tulus dan teguh. Bawalah urusan itu kepada Allah, sehingga Allahpun kemudian mempunyai urusan dengan kita. Ketika Allah sudah punya urusan pula dengan kita, maka urusan Allah kepada kita itu pastilah dalam bentuk pemberian segala fasilitas yang dengannya kita bisa menjalankan urusan kita dengan sempurna untuk memperjuangkan agama Allah. Kita panggil Allah, kita seru Allah dengan suara lembut, tidak dengan suara keras, dan tidak pula dengan suara lemah. Panggillah Dia dengan suara pertengahan. Tidak usah emosi. Ya Allah, Ya Rahman, atau panggillah Dia dengan Nama-Nama-Nya Yang Indah yang lainnya. Lalu sampaikan pula urusan kita untuk bersedia membantu agama- Nya kepada-Nya. Sampai kemudian turun RIQQAH sebagai jawaban Allah terhadap seruan-seruan kita itu. 21. 21 Sebab kalau Allah ada di dekat kita dan menjawab seruan-seruan kita, maka akan terasa sekali dekat-Nya dan jawaban-Nya. Ada tanda-tanda yang dikirim atau diturunkan-Nya ke dalam dada kita sebagai pertanda bahwa Dia sedang dekat dengan kita dan menjawab seruan-seruan kita. Tanda-tanda itu adalah berupa Rahmat yang diturunkan- Nya kedalam dada kita. Ada RIQQAH yang terasa bergetar lembut mengalir masuk ke dalam dada kita. Getaran RIQQAH itu seperti membasuh segala rasa yang ada selama ini di dalam dada kita. Kadar rasanya jauh lebih dahsyat daripada rasa tetang yang dihasilkan oleh proses sekresi hormonal sebagai hasil dari olah pikiran yang kita lakukan. Ketika Riqqah ini turun, dada kita seperti dicelup. Ke dalam dada kita turun getaran yang sangat halus sehingga dada kita itu diisi dengan cita rasa kelezatan, kelembutan, kepekaan, kehalusan, keindahan. Adakalanya dada kita itu dipenuhi dengan citra ketipisan dan kerapuhan, sehingga mudah pecah dan berderai ketika bersentuhan dengan pepujian kita kepada Allah. Adakalanya muncul citra rasa keanggunan, kehalusan, kerapian, keramahan yang membalut hati kita. Saat itu kita sulit untuk tidur karena seluruh tubuh kita dialiri rasa segar yang amat sangat. Rasa yang sulit untuk dibayangkan dan diterangkan, karena itu hanya bisa dirasakan sendiri. Adakalanya juga muncul rasa seperti kita sedang dipenuhi atau tenggelam (ISTIGRAQ) dalam cahaya keagungan Allah. Pada malam-malam itu, tunggulah, diamlah, dengan penuh harap (Roja) para Malaikat yang akan menyampaikan urusan Allah itu kepada kita. Tentang jawaban atas urusan kita dengan Allah yang telah kita sampaikan kepada Allah sebelumnya. Ketika malam itu, malam 1000 bulan, insyaallah akan ada serah terima antara kita dengan para malaikat tentang segala urusan yang Allah titipkan kepada mereka untuk disampaikan kepada kita. Sebagai bekal kita untuk menjalankan urusan kita yang manfaatnya akan terus ada untuk 1000 bulan ke depan. Itu semua terjadi karena Allah telah punya urusan dengan kita. Mari kita berlomba-lomba membuat urusan dengan Allah. Sekecil apapun urusan yang kita bersedia untuk memikulnya, asal urusan itu adalah untuk membela agama Allah, Islam, insyaallah malaikat akan turun menyampaikan urusan Allah untuk mengujudkan tugas kita itu di salah satu malam pada 10 malam terakhir Ramadhan bulan ini. Insyaallah masih ada waktu Wahai Allah nya Muhammad SAW. Wahai Allah nya Ibrahim AS Wahai Allah nya Musa dan Harun. AS. Wahai Allah nya Isa AS 22. 22 Wahai Allah nya para Nabi dan Rasul. Wahai Allah nya para hamba-hamba Allah yang Shalih. Hamba bersedia untuk menjadi Wali-Mu, Ya Allah Ya Allah, Ya Rahman Ya Allah, ya Rahman Ya Allah, ya Rahman B. Kesimpulan 1. Untuk bisa mendapatkan Lailatul Qadar, seyogyanya kita mendatangi Allah di 10 malam terakhir Ramadhan ini dengan membawa URUSAN untuk membantu Allah memperjuangkan agama-Nya. Islam. 2. Sebagai jawaban-Nya, maka Allah akan menurunkan RIQQAH sebagai jawaban Allah terhadap seruan-seruan kita itu. 23. 23 Artikel 6 : Kajian Ilmiah Lailatul Qadar Menjadi Malam 1000 Bulan6 Catatan : Artikel ini bukan merupakan buah karya Yusdeka, tapi diikutkan di sini karena cukup menarik. A. Pembahasan 1. Mengapa Ramadhan? Dalam Islam kita mengenal adanya 4 bulan suci, yaitu : Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ramadhan yang berarti panas pun tidak termasuk sebagai bulan suci. Mengapa Ramadhan dipilih untuk puasa sebulan penuh? Dalam ilmu astronomi, radiasi matahari memiliki siklus 11 tahunan. Tahun 2007 sendiri merupakan akhir dari siklus ke 23 sejak pengamatan pertama pada abad 18. 6 http://miftah19.wordpress.com/2010/08/26/kajian-ilmiah-lailatul-qadar-menjadi-malam-1000-bulan/ 24. 24 Bumi dilindungi magnestosphere, sehingga dampak badai radiasi bukan terjadi pada sisi bumi yang menghadap matahari (siang hari). Saat badai radiasi matahari datang, dampaknya terasa pada bagian bumi yang membelakangi matahari (malam hari). Radiasi di malam hari mempengaruhi tingkat getaran otak. Radiasi dan gravitasi bulan purnama meningkatkan permukaan air laut dan kehidupan makhluk laut di malam hari. Juga menarik air dalam membran otak dan lebih menggetarkan sel-sel otak. Getaran sel otak menggambarkan tingkat kesadaran dan aktivitas otak. Umat muslim dianjurkan puasa sunnah 3 hari 25. 25 Shaumul biidh pada saat terang bulan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan-bulan Hijriyah dan menghidupkan malam-malamnya. Tingkat radiasi bervariasi 0-100,000 dan di skala S1-S5 oleh NOAA. Berdasarkan pengamatan, radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 terjadi 10 kali dalam satu siklus 11 tahunan, atau terjadi setiap 13 bulan sekali. Radiasi sebesar 1000 MeV particles s-1 ster-1 cm-2 ini digolongkan dalam skala S3, dan mulai berbahaya bagi manusia sebesar 1 chest x-ray. Radiasi dengan siklus 11,7 bulan (1 tahun hijriyah) adalah sebesar 800 MeV particles s-1 ster-1 cm-2. Mengarah pada hipotesa malam Lailatul Qadar Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (QS Al Qadr 97:3) 26. 26 2. Building Block a. Siklus satu tahunan (hijriyah) bernilai 1000 x bulan purnama b. Malam yang nilainya 1000 bulan purnama adalah Lailatul Qadr c. Lailatul Qadr terjadi di bulan Ramadhan d. Jadi siklus badai matahari yang berulang setiap satu tahunan (hijriyah) terjadi setiap bulan Ramadhan 3. Itulah Sebabnya a. Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka senang merenungkan hakekat kehidupan, bertapa, pada setiap bulan Ramadhan. b. Secara umum wahyu-wahyu tentang ajaran agama yang membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi, banyak yang diturunkan di malam-malam bulan Ramadhan. c. Penataan ayat-ayat Al Quran ke dalam surat-surat seperti yang tersaji saat ini, dilakukan Nabi Muhammad pada malam-malam bulan Ramadhan. d. Umat muslim diajak untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan e. Lebih utama adalah itiqaf di masjid pada 10 malam terakhir, pada malam- malam sebelum dan setelah Lailatul Qadr 4. Energi Ekstra untuk Pembelajaran di Bulan Ramadhan a. Untuk bisa mengaji malam Ramadhan dibutuhkan energi ekstra. b. Kenyataannya puasa siang hari bukanlah menyebabkan tubuh kekurangan / kehabisan energi. c. Justru puasa menghemat energi tubuh 10% karena tidak digunakan untuk mencerna makanan. d. Energi yang dihemat ini sangat membantu pemahaman pelajaran di malam hari. 27. 27 5. Three in One di bulan Ramadhan a. Efektif memahami Al Quran di malam hari. b. Detoksifikasi dan manajemen energi di siang hari. c. Kembali fitrah setelah berpuasa 28 hari berturut-turut. 6. Manfaatkan Malam-Malam Ramadhan a. Untuk dapat dengan mudah memahami makna kehidupan secara komprehensif dan benar, manfaatkan keenceran otak di kesunyian malam Lailatul Qadr. b. Untuk mendapat pemahaman lebih luas, malam-malam di sekitar Lailatul Qadr juga oke (10 malam terakhir Ramadhan) c. Lebih oke lagi kalau dimulai malam pertama Ramadhan, mumpung siangnya berpuasa. d. Hasil renungan malam ini harus dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. e. Nikmat hidup akan diperoleh jika kita berkontribusi positif kepada kehidupan dunia dengan berserah diri kepadaNya. f. Nikmat kehidupan akhirat akan diperoleh bila kita mampu selalu menikmati dan mensyukuri kehidupan dunia. B. Kesimpulan Manfaatkan keenceran otak di kesunyian malam-malam di sekitar Lailatul Qadr juga oke (10 malam terakhir Ramadhan), yang sebaiknya dimulai malam pertama Ramadhan. 28. 28 Artikel 7 : Bumi tanpa Radiasi Partikel7 Catatan : Artikel ini bukan merupakan buah karya Yusdeka, tapi diikutkan di sini karena cukup menarik. A. Pembahasan Ada salah satu cabang Fisika yang khusus membidangi masalah radiasi partikel kecepatan tinggi, yaitu Fisika Kuantum. Dalam bidang ini, Rasulullah juga menyumbangkan teorinya, yaitu dalam pernyataannya Malam Lailatur Qadar adalah malam dengan tingkat suhu yang rendah, tidak ada jatuhan meteor yang memasuki atmosfer bumi, dan matahari keluar tanpa radiasi cahaya (partikel). Dalam pernyataan ini, Rasulullah sebenarnya menyinggung tentang ciri-ciri datangnya malam Lailatul Qadar yang memang bagi umat muslim merupakan malam yang sangat istimewa. Satu malam lebih baik dari 1000 bulan, seperti itu kira-kira yang tercantum dalam kitab suci Al-Quran. Namun selain itu. Rasulullah juga memberi isyarat tentang keadaan bumi pada waktu itu yang bebas dari radiasi. Dan memang benar dan telah terbukti secara ilmiah berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilansir oleh lembaga luar angkasa Amerika Serikat, NASA, bahwa pada hari-hari biasa, bumi dihujani sekitar 20 ribu meteor masuk menembus ke atmosfer dan milyaran partikel kecepatan tinggi 7 http://pustakafisika.wordpress.com/2012/09/05/ternyata-rasulullah-muhammad-saw-seorang-fisikawan/ 29. 29 yang menumbuk bumi. Tetapi, ada suatu waktu (malam Lailatul Qadar), dimana bumi mengalami masa tenang dari hujan meteor dan radiasi partikel. Sungguh dahsyat, Rasulullah Muhammad SAW. selain sebagai seorang Nabi/Rasul penyebar ajaran Allah SWT, beliau juga adalah seorang ilmuwan yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang, beliau sudah terlebih dahulu berteori tentang hal-hal yang saat ini melalui serangkaian penelitian ilmiah telah dibuktikan kebenarannya. Di saat para ilmuwan masih sibuk memikirkan dan mewujudkan usaha perjalanan menembus batas luar angkasa dan lintas dimensi, Rasulullah Muhammad SAW telah lebih dulu melakukannya (Isra Miraj). Sudah saatnya nama beliau diberi tempat dalam deretan ilmuwan penemu teori-teori Fisika. Dengan bersandar pada beberapa bukti ilmiah yang sudah ada, penulis dengan sangat yakin memberikan pengakuan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang Fisikawan. B. Kesimpulan Ada suatu waktu (malam Lailatul Qadar), dimana bumi mengalami masa tenang dari hujan meteor dan radiasi partikel.