setara - files. ?· puisi-puisi dalam buku ini adalah kumpulan puisi yang pernah diterbitkan oleh...

Download SETARA - files. ?· Puisi-puisi dalam buku ini adalah kumpulan puisi yang pernah diterbitkan oleh Jurnal…

Post on 28-Aug-2018

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • www.jurnalperempuan.org

    PRESS

    2017

    PengantarGadis Arivia

    Kum

    pulan Puisi Jurnal Perempuan: Perem

    puan dan Pertarungannya

    SETARA

    Satu-satunya kata sifat yang layak kita suarakan untuk perempuan adalah SETARA. Setara layak ditulis dengan huruf besar karena begitu besarnya kepentingan kita untuk mewujudkannya.

    Jurnal Perempuan menjadi langka dan perlu karena tujuannya adalah bertanya, menulis, mengabarkan dan mencari SETARA. Buku puisi ini adalah sebuah niat mulia Jurnal Perempuan untuk mengingatkan kembali bahwa puisi-puisi yang terangkum di sini adalah tentang SETARA yang masih jauh untuk direngkuh.

    Puisi-puisi dalam buku ini adalah kumpulan puisi yang pernah diterbitkan oleh Jurnal Perempuan dari tahun 1996-2016. Semoga Jurnal Perempuan akan terus memberi ruang untuk kata-kata yang direka menjadi suara yang memanggil SETARA.

    Sangatlah penting untuk menerima bahwa perempuan yang disuarakan dalam puisi-puisi dalam buku ini tidak pernah menjadi perempuan yang terlepas dan terpisah dari apa-apa yang ada disekitarnya. Ada fajar, hukum, politik, tubuh, kopi dan teknologi. Ada doa, presiden, walikota, Ibu Bumi dan tanah yang dijarah. Ada buruh, dapur dan pemilu yang lebih sering menjadi pilu. Ada bra, anjing, kelelawar dan bajang-bajang. Ada kematian kejam menikam anak perempuan yang disebut pernikahan. Ada buruh Omih, Sri, Ki narsih, Sayekti yang melawan dan menjadi pahlawan.

    Puisi-puisi yang ada dalam buku ini berbicara secara sederhana dan apa adanya tentang perempuan dan segala yang menimpanya yang tak pernah sederhana.

    Semua penulis dalam buku ini ingin berbisik, memekik, mengingat, menggugat dan menghujat kelupaan kita akan SETARA.

    Selamat membaca dan mengingat tugas kita untuk meraih SETARA

    Selamat memahami, merenungi buku puisi ini dan menolak lupa bahwa kita masih jauh dari SETARA

    Yacinta KurniasihDosen Kajian Indonesia Monash University

    Kumpulan Puisi Jurnal Perempuan:

    Perempuan dan Pertarungannya

    ISBN 978-979-3520-26-1

  • Kumpulan Puisi

    Jurnal Perempuan:

    Perempuan dan Pertarungannya

    PengantarGadis Arivia

    YJP Press

    2017

  • Kumpulan Puisi Jurnal Perempuan: Perempuan dan Pertarungannya

    Pengantar: Gadis AriviaDesain sampul: Zsa Zsa Syahlia (The Displayed Frames)Ilustrasi isi : Zsa Zsa SyahliaEditor: Naufaludin IsmailDesain layout isi: Dina Yulianti

    Cetakan Pertama: Agustus 2017

    Yayasan Jurnal Perempuan

    Yayasan Jurnal PerempuanJl. Karang Pola Dalam II No. 9A, Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12540Tlp/Fax: 021-22701689Email:yip@jurnalperempuan.comwebsite: www.jurnalperempuan.org

    Diterbitkan olehYayasan Jurnal Perempuan Press (YJP Press)

    ISBN 978-979-3520-26-1

    Undang-Undang RI No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Pasal 72 Ketentuan Pidana sanksi pelanggaran

    1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan dan memberikan ijin untuk itu, dipidana dengan penjara paling singkat 1(satu) bulan atau denda paling sedikit Rp 1.000.000 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000-, (lima miliar rupiah)

    2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, mengedarkan, menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat(1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak Rp 5.00.000.000-,(lima ratus juta rupiah).

  • 3

    Kumpulan Puisi Jurnal Perempuan

    Daftar Isi

    Pengantar Penerbit .............................................................. 5Sekapur Sirih ....................................................................... 7

    Manifesto ............................................................................ 18Toeti Heraty

    Oh Women Oh Why ............................................................. 21Debra H. Yatim

    Maafkan Ibu, Anakku ......................................................... 27Laora

    Apa kabar, tanah kelahiran? ................................................. 30Embun Kenyowati

    Kerja adalah Darma ............................................................. 31Oka Rusmini

    Lautan Cinta ....................................................................... 33Eka Budianta

    Pamrih ................................................................................ 35Soe Tjen Marching

    Jouissance ............................................................................ 38Fierenziana G. Junus

    Lidah Anjing, Kelelawar Kisut dan Manekin ....................... 39Yenti Nurhidayat

    Tutur Inong Aceh ................................................................ 41Dewi Nova

    Di Negri Tujuh Ribu Rok, Aku Terhenti ............................. 46Zubaidah Djohar

  • 4

    Perempuan dan Pertarungannya

    Aborsi.................................................................................. 50Gadis Arivia

    Jangan Bohongi Kami, Tuan,,, ............................................. 53Indah Darmastuti

    Dewi Teknologi Bersabda ................................................... 54Yacinta Kurniasih

    Pemilu ................................................................................. 56Sulis Bambang

    Efek Mesin Patriarki ............................................................ 57Fitri Nganthi Wani

    Doa Seorang Presiden .......................................................... 59Joko Pinurbo

    Adil Rasa, Rasa Adil ............................................................ 60Neny Isharyanti

    Pada Buruh Perempuan yang Melawan ................................ 63Luviana

    Perempuankah? ................................................................... 65Dizz Traksi

    Malam Pengantin ................................................................ 67Nissa Rengganis

    Buku Harian ....................................................................... 70Fanny Chotimah

    Kluwung (Pelangi) ............................................................... 75Gunretno

    Dapur ................................................................................. 77Olen Saddha

  • 7

    Kumpulan Puisi Jurnal Perempuan

    Sekapur Sirih

    Suara Feminisme Dalam PuisiGadis Arivia

    (Pendiri Jurnal Perempuan)

    Tentu ada kesengajaan mengapa saya menggunakan kata suara feminisme dan bukan suara perempuan di judul pengantar antologi puisi ini. Sebab sebagian besar puisi-puisi ini lahir dari Jurnal Perempuan, jurnal feminis pertama di Indonesia yang diterbitkan pertama kalinya pada 1996. Sebagai jurnal feminis, suara feminis menjadi lebih penting daripada Sekadar suara perempuan sebab perjuangan feminisme yang utama yaitu perjuangan keadilan gender. Jadi, puisi yang bersifat feminis boleh dikatakan muncul setelah Reformasi. Bagi saya di saat itulah lahir sejarah puisi feminis di Indonesia

    Sejarah puisi di Indonesia sendiri bisa dikatakan masih muda dimulai pada awal abad 20 ketika bahasa Indonesia (bahasa Melayu) mulai digunakan.1 Misalnya, puisi-puisi awal yang dikenal adalah puisi Muhammad Yamin (1903-1962), Sanoesi Pane (1905-1968), Roestam Effendi (1902-1979), mereka berbicara tentang nasionalisme, sintesa budaya Timur dan Barat serta penyair yang terakhir disebut menggunakan perpaduan kosa kata dari berbagai daerah misalnya Jawa, Sunda dan Minangkabau. Setelah itu, dikenal penyair-penyair yang dipengaruhi majalah Poedjangga Baroe seperti 1 Sebelumnya telah ada puisi-puisi yang menggunakan bahasa daerah seperti Centhini (abad 18) dalam bahasa Jawa dan I la Galigo dalam bahasa Bugis (diyakini abad 15) . Tetapi puisi yang menggunakan bahasa Indonesia (bahasa Melayu) baru mulai awal abad 20.

  • 8

    Perempuan dan Pertarungannya

    Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994) yang mengeritik pemikiran tradisional, Amir Hamzah (1911-1946) yang dikenal dengan pendekatan tradisi mistik atau sufisme. Penyair-penyair yang dapat dianggap masuk dalam karya-karya modern adalah Chairil Anwar (1922-1949), Asrul Sani (1926-2004) dan Rivai Apin (1927-1995), mereka mengangkat persoalan eksistensi manusia, jiwa pemberontakan, dan makna menjadi manusia yang mendunia. Setelah puisi-puisi Chairil Anwar lahir, muncul suara-suara baru yang unik seperti Sitor Situmorang (1924), Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) dan Rendra (1935-2009). Pada tahun 1970-an muncul sastra avant garde seperti Sutardji Calzoum Bachri (1941) dan era 1980-an seperti Afrizal Malna (1957). Dua penyair yang sangat berpengaruh di abad kontemporer adalah Sapardi Djoko Damono (1940) dan Gunawan Muhammad (1941).2

    Sudah saya nyatakan di awal paragraf tulisan ini, bahwa sejarah puisi di Indonesia tergolong masih muda. Akan tetapi yang menjengkelkan selama kurang lebih delapan dasawarsa itu tak ada penyebutan penyair perempuan yang berpengaruh.3 Padahal kita mengetahui paling tidak ada dua penyair perempuan, Toeti Heraty dan Dorothea Rosa Herliany, yang telah mengeluarkan puisi-puisi fenomenal di era tahun 1980-an. Toeti Heraty menelurkan karya berjudul Manifesto tetapi luput dari pengamat puisi.4 Peminggiran perempuan dalam sejarah puisi tidak eksklusif terjadi di Indonesia tetapi juga di dunia. Ada semacam pemikiran seksis

    2 Amini, Hasif, A Brief Introduction to Indonesian Poetry, 2010, poetryinternationalweb.net, diakses pada 13 Juli 2017.3 Juga tidak saya temukan penyair perempuan dalam karya Burton Raffel, Anthology of Modern Indonesian Poetry, 1964, University of California Press. 4 Tulisan Drs. Puji Santosa, Puisi-Puisi 1980an dan Kecendrungannya, Berita Buana, 28 November, 5 dan 12 Desember 1989, menyinggung nama Toeti Heraty dan Dorothea Rosa Herliany tetapi tidak mengulas k