rahasia terbesar terletak dharmatalk

Click here to load reader

Post on 10-Apr-2022

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Cover April.aiHujan Seattle dharma
Memohon kepada Mahaguru Maha Arya Acarya Lian-Sheng
& Memohon kepada Sepuluh penjuru Buddha dan Bodhisattva.
Berkenan memberkati usaha murid dalam
meneruskan arus Dharma.
Semoga terjalin jodoh dengan Buddha Dharma
Semoga arus Dharma mengalir dalam diri umat manusia
Semoga semua makhluk berbahagia
April’10
Living Buddha Lian-Sheng yang bernama awam Sheng-Yen Lu, lahir pada tanggal 18 bulan 5 penanggalan lunar tahun 1945 di peternakan ayam di tepi Sungai Niuchou, Chiayi, Taiwan. Beliau alumni Fakultas Geodesi Akademi Sains Zhong-zheng (angkatan ke-28), meraih gelar Sarjana Teknik, serta mengabdi di kemiliteran selama 10 tahun. Di kemiliteran pernah mem- peroleh piagam emas, piagam perak, piala emas sastra dan seni kemiliteran negara, serta berb- agai penghargaan lainnya.
Pada suatu hari di tahun 1969, Living Buddha Lian-Sheng diajak ibunda sembahyang di kuil Yuhuang Gong di Taichung. Berkat Maha Dewi Yao Chi, mata dewa dan telinga dewa beliau terbuka. Beliau melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tiga sosok Bodhisattva menam- pakkan diri dan berseru, “Setulus hati belajar Buddhisme. Setulus hati belajar Dharma. Setu- lus hati berbuat kebajikan.” Di angkasa juga muncul dua kata: ‘Kesetian’ dan ‘Kebajikan’ yang berpesan pada beliau agar membabarkan Dharma dan memberikan kebajikan serta me- nyelamatkan para makhluk.
Malam hari itu, roh Living Buddha Lian-Sheng dibawa oleh Buddha-Bodhisattva ke Sukhavati- loka untuk melihat langsung sekaligus untuk mengenali sendiri wujud kelahiran sebelumnya (Dharmakaya), yakni “Maha-Padmakumara Putih yang berjubah putih dari delapan be- las Maha-Padmakumara Mahapadminiloka,
Mengenal Mahaguru Maha Arya Acarya Lian-Sheng
2
April’10
Sukhavatiloka.” Oleh sebab itu, beliau menitis di alam fana demi menyeberangkan para makhluk kembali ke Mahapadminiloka.
Sejak itu, Living Buddha Lian-Sheng setiap malam mengikuti Guru Spiritual yang tak berwujud--Guru Sanshan Jiuhou (Sebutan kehormatan yang diberikan Living Buddha Lian-Sheng untuk Dharmakaya Buddha-Bodhisattva) berlatih Sadhana Tantra selama tiga tahun. Berkat petunjuk Guru Sanshan Jiuhou pula, pada tahun 1972 beliau bertolak ke gunung Jiji, Nantou, untuk berguru pada pewaris XIV Tao- isme Qingcheng, Qingzhen Daozhang (Bhiksu Liao-Ming) untuk belajar ilmu Tao, Danting Fulu, Jiuxing Dili Dafa, Mahasadhana Sekte Nyingmapa versi Tantra Cina dan Tantra Tibet, lima macam pengetahuan, dan lain-lain.
Karena kondisi tersebut di atas, pada tahun 1972 Living Buddha Lian-Sheng telah memiliki tataritual Sadhana Tantra yang lengkap. Kunci utama mencapai pencera- han kebuddhaan serta Mahasadhana rahasia dari sekte-sekte utama Tibet yang tidak diwariskan selama ribuan tahun pun beliau telah menguasai semuanya, sehingga mencapai Siddhipala Penguasa Rahasia dan Buddha Padma Prabha Svara yang set- ingkat dengan Dasabhumi Bodhisattva.
Sejak tahun 1970, Living Buddha Lian-Sheng secara berturut-turut telah bersarana pada bhiksu sekte eksoterik, antaralain Bhiksu Yinshun, Bhiksu Leguo, Bhiksu Dao- an. Tahun 1972 beliau menerima Sila Bodhisattva dari Bhiksu Xian-Dun, Bhiksu Hui-San, dan Bhiksu Jue-Guang sebagai Guru sila, serta Bhiksu Shang-Lin dan Bhiksu Shanci sebagai Guru Ritual di Vihara Yan, Nantou. Berkat karma baik beliau kembali memohon abhiseka silsilah dari para Guru di alam manusia, antara lain dari Bhiksu Liao-Ming dari Sekte Nyingmapa (Sekte Merah), Guru Sakya Zheng-Kong dari Sekte Sakyapa (Sekte Kembang), Gyalwa Karmapa XVI dari Sekte Kargyupa (Sekte Putih) dan Guru Th ubten Dhargay dari Sekte Gelugpa (Sekte Kuning).
Pada tanggal 16 Juni 1982, Living Buddha Lian-Sheng sekeluarga berhijrah ke Se- attle, Amerika Serikat. Beliau di Paviliun Ling Xian menekuni segala sadhana Tan- tra. Pada Tanggal 27 Agustus 1982 (tanggal 10 bulan 7 Lunar) Buddha Sakyamuni memberikan Vyakarana pada beliau lewat penjamahan kepala dengan pembentukan tangan Buddha di atas kepala.
Pada tanggal 5 Juli 1985 (tanggal 18 bulan 5 penanggalan lunar, bertepatan den- gan hari ulang tahun Living Buddha Lian-Sheng), beliau mencapai Siddhi ‘Cahaya Pelangi Abadi’. Saar itu ada jutaan Dakini berseru memuji Siddhi ‘Cahaya Pelangi
3
Abadi’ tak lain adalah ‘Anuttara Samyaksambodhi’ (disebut pula “mencapai kebud- dhaan pada tubuh sekarang.
Tahun 1975, Living Buddha Lian-Sheng mendirikan ‘Ling Xian Zhen-Fo Zong’ di Taiwan. Tahun 1983 di Amerika Serikat secara resmi merintis ‘Zhen-Fo Zong’, dan pada tahun 1985 mendirikan vihara cikal bakal Zhen-Fo Zong (Vihara Vajragarbha Seattle). Beliau mengabdikan diri sepenuhnya dalam pembabaran Sadhana Tantra Satya Buddha.
Pada tanggal 19 Maret 1986 (tanggal 10 bulan 2 Lunar) di Mandalasala Satya Bud- dha, kota Redmond, Amerika Serikat, Living Buddha Lian-Sheng secara resmi di- Upasampada oleh Bhiksu Guo-Xian. Beliau mulai menjalani misi penyeberangan dalam wujud Bhiksu.
Perjalanan kehidupan sadhana Living Buddha Lian-Sheng berawal dari Agama Kris- ten, lalu Taoisme, Buddhisme Mahayana, terakhir berlatih Sadhana Tantra sampai mencapai Siddhi. Itulah sebabnya, keseluruhan sistem silsilah Zhen-Fo Zong ter- kandung dan terbaur ilmu Taoisme, ilmu Fu, ilmu ramalan, Ilmu Feng Shui serta metode-metode duniawi lainya. Semua ini untuk kemudahan makhluk luas men- gatasi kesulitannya, mencapai tujuan menyeberangkan para insan yakni “Terlebih dulu menariknya dengan keinginan duniawi lalu menuntunnya menyelami kebijak- sanaan Buddha.”
Dalam upaya merintis pendirian Zhen-Fo Zong, Living Buddha Lian-Sheng telah memberikan sebuah metode pelatihan yang menekankan praktek dan bukti nyata kepada umat manusia. Living Buddha Lian-Sheng berjanji pada para siswa “Asalkan Anda tidak melupakan Mula Acarya dan setiap hari bersadhana satu kali, maka ke- tika ajal menjelang, Padmakumara pasti menampakkan diri untuk menjemput Anda kealam suci Mahapadminiloka.”
Living Buddha Lian-Sheng seumur hidup membabarkan Dharma dan menye- berangkan para makhluk. Beliau sungguh mematuhi nasihat Guru sesepuh Taois Qing-Zhen yang mengatakan bahwa tidak menetapkan tarif agar semuanya diberi- kan secara sukarela saja. Prinsip ini ditaatinya seumur hidup, dan hal ini menjadikan beliau seorang yang berkepribadian luhur.
Disadur dari buku Panduan dasar Zhen-Fo Zong BAB II (I-VI)
4
Info dan edisi digital DharmaTalk dapat diperoleh di alamat website
www.shenlun.org
Dharmaraja Lian-Sheng pada Tahun Baru Hari Pertama Memberi Restu
Pada Umat Zhenfo Semoga Sehat Selalu, Berkah Berlimpah, dan
Mencapai Kebuddhaan dalam Melatih Diri 9
Dharmaraja Zhen-Fo Zong Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng
Memimpin Homa Tathagata Bhaisajyaguru di Rainbow Temple 12
Rahasia Terbesar Terletak pada “Hati Tathagata” 14
Dharmaraja Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng
Lanjut Menerangkan Sutra Altar Patriak VI 17
Hujan Seattle 20
Avalokitesvara Sahasrabhujanetra di Rainbow Temple 22
Pemberitahuan Penting True Buddha Foundation Mengenai
Acarya dan Dharmacarya Upasaka/sika Dalam Memimpin Upacara Apapun 24
Pengesahan dari Mahaguru Lu 32
Zhen-Fo Zong Aliran yang Mengajarkan Pencerahan 34
Segala 84.000 Dharma 36
Melampaui Ruang dan Waktu Benar-benar Diperlihatkan 38
Dharmaraja Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng Memimpin
Upacara Homa Bodhisattva Ksitigarbha di Rainbow Temple 40
Keberatan dengan Homa (Puja Api) 42
46
48
April’10
Atas petunjuk Yang Mulia San San Chiu Hou, aku pergi kegunung Lien-tou untuk meminta Master Ching-Chen menjadi guruku. Didalam tradisi Taoisme ada sebuah upacara pengangkatan murid yang disebut Kuo-Kung-fe (sebuah upacara berjalan diatas api). Master Ching-chen menyelenggarakan upacara itu untukku sehingga aku secara resmi menjadi murid Taoisme. Ada banyak gunung di Taiwan. Orang pada umumnya tidak tahu gunung yang bernama Lien-tou; itu sebetulnya adalah sebuah puncak kecil disebuah gunung yang lain.
Master Ching-chen datang dari Tiongkok daratan. Beliau berusia kira-kira 80 ta- hun sewaktu aku berjumpa dengannya. Sewaktu masih muda, ia belajar Taoisme disebuah kuil digunung Ching-cheng. Nama marganya adalah Chang, sama seperti Chang Tao Ling yang dikenal sebagai orang yang menyebar luaskan Taoisme ribuan tahun yang lalu. Sejak Master Ching-chen pindah ke Taiwan ia hidup menyepi di gunung, tinggal dirumah gubuk, dan berladang. Ia memuja Trimurti Taoisme: Kes- ucian Besar, Kesucian Kumala, dan Kesucian Agung. Yang Mulia San San Chiu Hou memberitahuku bahwa Master Ching-chen telah membina batin dalam kehidupan kali ini selama 50 tahun dan telah mempelajari banyak rahasia-rahasia kebatinan. Rohnya dapat meninggalkan badan kasar kapan saja ia inginkan. Guru Roh juga memberitahuku bahwa meskipun Master Ching-chen tidak menerima murid, jika aku menemuinya beliau akan menerimaku. Guru Roh mengatakan aku akan belajar banyak dari Master Ching-chen.
Ketika aku tiba dirumah gubuknya, Master Ching-chen sedang bermeditasi. Ia membuka matanya sedikit dan bertanya. “Mengapa anda datang kesini?”
“Atas petunjuk Yang Mulia San San Chiu Hou, aku datang untuk belajar dari Bapak,” jawabku. Aku berlutut dan menundukkan kepalaku.
“Kapan kamu lahir?”
“Bulan 5 imlek tanggal 18 di tahun 1945 pada siang hari,” jawabku.
Master Ching-chen terlihat agak terkejut. “Engkau lahir ditanggal dan jam yang sama
Kisah Pertemuan dengan Guruku di Gunung Lien-Tou ~Maha Arya Acarya Lian-Sheng~
6
Chang Th ian-she (Chang Tao Ling)! Berdirilah, berdirilah, jangan bersujud kepadaku! Aku mengenalmu!”
Aku merasa sepertinya aku telah bertemu Master Ching-chen sebelumnya. Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba aku teringat bahwa beliau adalah pendeta didalam mimpiku, yang mengatakan bahwa ia mempunyai janji pertemuan dengan diriku serta yang memukul kepalaku dengan kebutannya. Master Ching-chen ternyata me- mang mempunyai sebuah kebutan. Aku menceritakan kepadanya mimpiku itu dan ia tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Master Ching-chen mengajariku cara menulis hu dan bagaimana memberikan kekuatan kepada hu tersebut untuk penyembuhan penyakit. Beliau mengajariku doa-doa untuk memanggil yang positif yang ada dialam semesta. Aku belajar ilmu kimia Taoisme suatu teknik suci untuk meningkatkan kesehatan dan kesegaran dan mengembalikan kekuatan asal kita.
Master Ching-chen mengatakan kepadaku: “Bila engkau dapat kembali kepada SI- FAT ASLI mu, engkau akan menjadi seorang makhluk agung. Cara kembali kepada SIFAT ASLI adalah dengan mengembalikan Ching, Chi dan Shen (daya vital, daya hidup, dan daya roh). Engkau harus mengembalikan daya itu kembali ke asalnya. Me- misahkan rohmu dari tubuhmu setiap saat sesuai kemauanmu merupakan suatu hal yang mungkin. Kedengarannya seperti sebuah dongeng, tetapi sebenarnya itu betul betul dapat dilakukan. Kemampuan itu datang dari pembinaan batin.”
Aku berguru kepada Master Ching-chen dengan cara mengunjunginya setiap min- ggu dan setiap hari libur. Di hari-hari biasa aku mempunyai pekerjaan tetap. Aku belajar dengan sangat serius. Master Ching-chen memberiku semangat untuk be- lajar dengan rajin dengan mengatakan bahwa aku dapat menolong orang banyak dikemudian hari. Beliau mengajariku Mantra Pelindung untuk melindungi diri dari kekuatan jahat, dan lain sebagainya.
Beliau berkata: “Menyelamatkan dan menyadarkan makhluk hidup memerlukan rasa welas asih yang besar. Ajarilah orang-orang hukum tentang alam semesta. Semua makh- luk hidup disemua dunia perlu mendengar pelajaran-pelajaran ini sehingga dapat terbe- bas.” Beliau juga menambahkan, “Selama ada yang namanya kekuatan positif, maka kekuatan negatif juga ada. Acuhkan kekuatan negatif; berkosentrasilah pada kekuatan positif. Bila kekuatan positif menjadi dominan, maka kekuatan negatif akan sirna.
7
April’108
Selama engkau tetap bertahan didalam kekuatan positif dan terus membina diri untuk mencapai tingkat tertinggi, engkau akhirnya akan mencapai Tao.”
Pada suatu saat beliau bertanya: “Lian-sheng, apakah engkau ingin belajar bagaimana melihat masa lalu dan masa yang akan datang?”
“Ya, tentu,” jawabku.
“Pelajarilah sutra Juang-chi secara mendalam. Setelah itu aku akan mengajarimu ilmu ramalan istimewa sehingga engkau dapat mengetahui banyak hal.”
Master Ching-chen membangunkan rohku. Bila roh seseorang terbangun, ia dapat berkomunikasi dengan dunia roh. Ada yang dapat melihat roh (bermata dewa/clair- voyance); ada yang dapat mendengar suara roh (mempunyai telinga dewa). Seba- gian orang dapat menggunakan bantuan roh-roh untuk meramal masa depan dan mengetahui masa lampau. Teknik wajah, melihat tangan, dan meraba tulang. Tidak banyak orang yang dapat meramal dengan ramalan Dewata karena untuk melaku- kannya roh nya harus sudah terbangun dan terlatih.
April’10 9
Mulacarya Zhen-Fo Zong Living Buddha Lian-Sheng kembali ke Taiwan untuk membabarkan Dharma, Xianghua Leizang Si segera menyebarkan kabar gembira, izin penggunaan vihara keluar pada hari itu juga. Pada malam itu, ketua pengurus True Buddha Vajrayana Association of R.O.C. Acarya Lianjie, segera melaporkan pada Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng kabar baik ini. Pukul 3 sore, walaupun masih jetlag, Mahaguru khusus menuju Xianghua Leizang Si untuk memberkati, memberi petunjuk altar mandala dan lain-lain, membuat para umat merasakan su- kacita yang luar biasa.
Kali ini Acarya Lianjie mewakili para umat Taiwan dengan tulus memohon Mu- lacarya Living Buddha Lian-Sheng kembali ke Taiwan untuk memimpin upacara akbar pemberkatan musim semi di Taiwan Lei Tsang Temple, serta mendapatkan persetujuan yang welas asih dari Mahaguru. Ini adalah upacara akbar pemberkatan musim semi yang Mahaguru pimpin di Taiwan sejak Mahaguru imigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1982.
Hari pertama tahun Kengyin pukul 2:30 sore, sedari awal telah ada 10 ribu orang umat berkumpul di Lei Tsang Temple, menyambut kedatangan Mahaguru. Hari ini Vajra Mahaberkah Living Buddha Lian-Sheng pertama kalinya membagikan angpao pemberkatan kepada para umat di Taiwan Lei Tsang Temple, 4 kelompok umat Buddha dibalut sukacita, tawa bahagia terpampang di wajah setiap orang. Tamu kehormatan Kakek Guru Er-shun Lu dan semua Bibi Guru pun hadir. Lantas di tengah suara mantra hati Padmakumara “OM. GURU. LIANSHENG. SIDDHI HUM.” dari para umat Buddha, Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng hadir di Taiwan Lei Tsang Temple, lonceng dan tambur dibunyikan serentak.
Usai mempersembahkan dupa, Mahaguru Lian-Sheng bernamaskara pada Buddha dengan melakukan push-up di altar mandala, selanjutnya Mahaguru pertama-tama memberkati pratima dan peralatan sadhana serta seluruh barang di koperasi; Mah- aguru juga memberkati upacara pembukaan layar Pameran Buku dan Lukisan Liv- ing Buddha Lian-Sheng.
Sekitar pukul 2:40 sore, mengundang dengan hormat Mahaguru naik ke Dharma- sana untuk memberikan ceramah Dharma memberikan restu tahun baru.
Dharmaraja Lian-Sheng pada Tahun Baru Hari Pertama Memberi Restu Pada Umat Zhenfo Semoga Sehat Selalu, Berkah Berlimpah dan
Mencapai Kebuddhaan dalam Melatih Diri
April’1010
Mahaguru Lian-Sheng pertama-tama mengucapkan selamat tahun baru pada kita semua! Serta merestui Taiwan Lei Tsang Temple, semoga jaya selamanya, asap dupa tidak pernah putus! Mahaguru berhumor, tahun ini adalah tahun macan, tolong pasang Taisui untuk Kakek Guru dan Putri Mahaguru Fo-ching. Taiwan Lei Tsang Temple berada di atas Hu Shan (Gunung Macan), di depan vihara dinamakan Jalan Hu Shan, Mahaguru adalah orang berkepala macan, tahun ini pasti adalah tahun ke- jayaan Taiwan Lei Tsang Temple! Mahaguru pada tahun macan memberi restu pada kita semua: seperti macan yang diberi sayap, segagah macan, karir ibarat penerban- gan garuda raksasa sejauh 10.000 li; juga semoga setiap orang sehat selalu, sedahsyat macan, tidak ada yang ditakutkan; semoga peruntungan setiap orang, seperti macan, laksana membelah buluh.
Mahaguru berkata, yidam di atas altar mandala adalah Yaochi Jinmu, menguasai se- belah barat, unsur logam, sebelah barat juga macan putih, Jinmu dapat menentram- kan segala wabah, karena Jinmu sendiri adalah berwujud macan, semulia macan. Asalkan japa mantra hati Jinmu, semua orang tidak perlu takut H1N1! Dokter ke- luarga pernah membantu Mahaguru memeriksa darah, ditemukan bahwa di dalam darah Mahaguru terdapat kekebalan tubuh yang sangat kuat, semua virus di dalam tubuh pun dimakan oleh kekebalan tubuh tersebut. Mahaguru memotivasi para umat, melatih diri tentu harus mencapai kontak yoga dengan Jinmu, sama halnya dengan seekor macan pembawaan lahir, tidak takut apapun! Dan, asalkan melatih diri hingga mencapai kontak yoga dengan Mahaguru, tubuh dengan sendirinya ada kekebalan tubuh.
Mahaguru sempat menyinggung tentang reuni teman kuliah yang akan diadakan tanggal 28 Februari, teman kuliah yang dulu telah 41 tahun tidak bertemu. Mahag- uru tahun ini berusia 66 tahun, namun masih sangat sehat, bisa melakukan olahraga palang sejajar. Mahaguru sekali lagi memberi restu pada setiap umat Zhen-Fo Zong, tubuh harus sehat, karir maju, rumah tangga harmonis, tidak ada musibah, berkah berlimpah, melatih diri mencapai kebuddhaan. Serta memberi restu pada semua orang, harapan yang baru saja disebutkan, dapat terwujud semua, berhasil semua, semua mencapai kontak yoga dengan yidam dalam melatih diri, semua orang men- capai kebuddhaan!
Mulai pukul 3:05 sore, Mahaguru Lian-Sheng memberikan berkah lewat menan- datangani paket buku katalog lukisan baru Shen Zhan Tai dan koleksi kaligrafi Sekeping Hati yang Bersih karya Living Buddha Lian-Sheng Sheng-yen Lu.
April’10 11
Shen Zhan Tai memuat penerbitan karya lukis Mahaguru Living Buddha Lian- Sheng Sheng-yen Lu tahun 2009, Mahaguru di halaman pertama menuliskan,
“Lukisan saya, mengikuti perasaan, berubah kapan saja....... Ketika saya menghadap sebuah gunung, saya melihat gerakan gunung yang megah dan berliku. Ketika saya menghadap air, saya melihat gaya air yang beriak. Ketika saya memandang bunga dan burung, saya merasakan bermacam-macam perasaan pemandangan alam. Saya merasakan dalam-dalam dan memahami tuntas prinsip alam dari kehidupan, per- asaan ini bersumber dari keindahan hati, saya adalah “Seorang Bhiksu Pengelana”, mahasukha dan terang berada di sepuluh penjuru, mana yang tidak dapat dikun- jungi?”
Pukul 3:55 sore, Dharmaraja Lian-Sheng mulai membagikan angpao pemberkatan tahun baru, sambil terus menjapa mantra memberkati, Kakek Guru Er-shun Lu pertama menerima angpao, setiap umat Buddha pun sangat berharap mendapatkan angpao yang dibagikan oleh Mahaguru Lian-Sheng dengan tangan sendiri, antrian panjang dari dalam vihara bersambung sampai lapangan, seluruh antrian terselip suara mantra dari mantra hati Mahaguru dan suara tawa kebahagiaan umat se- Dharma, di mana-mana memperlihatkan betapa berbedanya tahun baru kali ini! Mahaguru mengabulkan harapan banyak umat, berdiri 2 jam, total dibagikan lebih dari 10 ribu buah angpao pemberkatan. Setelah Mahaguru patroli tempat reuni di lantai 6, segera menuju dan mengunjungi Vihara Cihui, Chaotun yang berada di kaki gunung. Mahaguru memenuhi undan- gan dari Ketua Vihara, memberi petunjuk bagaimana memperbaiki kondisi vihara, serta di tempat memohon petunjuk Jinmu, diberitahukan bahwa Vihara Cihui, Chaotun 3 tahun kemudian bisa berkembang. Ketua Vihara memberikan persem- bahan, Mahaguru tidak menerimanya dengan berkata, “Semua adalah tetangga!” Sekitar pukul 7 sore menjelang malam, Mahaguru keluar dari pintu utama Vihara Cihui, True Buddha News cabang Taiwan berhasil memotret foto bercahaya Ma- haguru, sangat luar biasa! Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng akan memimpin upacara akbar Pemberkatan Musim Semi Bhagawati Mahamayuri di Taiwan Lei Tsang Temple, mahasadhana yang luar biasa ini, langit dan bumi pun membuktikan dengan pancaran cahaya!
April’1012
Sehari sebelumnya, setelah berita cepat Living Buddha Lian-Sheng akan memimpin homa Bhaisajyaguru di Rainbow Temple diumumkan di media publikasi, empat kelompok umat Buddha susul-menyusul datang mendukung, arus manusia ramai sekali, berbagai warna dan jenis bahan persembahan memenuhi seluruh altar man- dala yang agung.
Pukul 3 sore, di bawah prosesi rombongan acarya yang khidmat dan sambutan yang meriah dari para hadirin peserta upacara, Dharmaraja Living Buddha Lian-Sheng memasuki tempat upacara. Setelah Dharmaraja berwelas asih memberkati selu- ruh persembahan, selanjutnya menaiki Dharmasana Homa. Selama upacara ber- langsung, Mahaguru memperagakan mudra yang indah, sadhaka, yidam, dan api melebur menjadi satu, sehingga seluruh hadirin pun menyucikan segala rintangan karma jiwa dan raga di tengah api homa yang membara-bara.
Usai homa, Dharmaraja lewat kebijaksanaan Buddha yang sangat luar biasa ber- ceramah bahwa sensasi homa kali ini terasa teduh, kontak batin sangat bagus, di alam suci Tathagata Bhaisajyaguru dalam Eksoterik disebut Dunia Vaidurya, sedan- gkan alam suci Tathagata Aksobya adalah Dunia Prasada, Mahaguru menunjukkan bahwa keduanya adalah sama, hanya namanya saja yang beda.
Selanjutnya, Dharmaraja lanjut menerangkan Diktat Hevajra Bab IX (membentuk Mudra Hevajra): Dharmaraja memperagakan bermacam-macam mudra yang berbeda langsung di tempat, dengan humoris berceramah tentang esensi mudra, membuat semuanya seketika mengerti bahwa mudra juga merupakan bahasa tubuh. Dharmaraja menunturkan, membentuk mudra dalam Tantra mewakili kebersihan perbuatan yidam, mantra mewakili kebersihan ucapan, visualisasi mewakili kebersihan piki- ran, ketiganya menyatu dengan yidam sadhana, yidam pun memasuki hati sadhaka, kemudian manunggal dalam seketika, inilah mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang.
Dharmaraja memperingatkan keempat kelompok umat Buddha: camkan bahwa yidam harus benar-benar memasuki tubuh, atau sadhaka memasuki yidam, dengan
Dharmaraja Zhen-Fo Zong Mahaguru Living Buddha Lian-Sheng Memimpin Homa Tathagata Bhaisajyaguru di Rainbow Temple
~Berita Ling Shen Ching Tze Temple~
April’10 13
demikian baru dianggap menyatu, baru perlahan-lahan hati fi sik diubah menjadi hati terang, maka keberhasilan yidam pun akan tercapai.
Dharmaraja juga membimbing 4 kelompok umat Buddha tentang kunci penting dari meditasi, yakni “tiada masalah, tiada penyertaan hati, segala masalah harus di- anggap tiada masalah”. Teratai di hati mekar, dengan sendirinya menyatu dengan Buddha dan Bodhisattva.
Selesai ceramah, para hadirin di bawah iringan mantra DIE YA TA. OM. BIEKA- ZIYE. BIEKAZIYE. MAHABIEKAZIYE. LAZHA SUO MO QIE DEHEI. SUOHA., menerima abhiseka Sadhana Tathagata Bhaisajyaguru yang langka, upa- cara berlangsung selama 2 jam lebih, segalanya sukses dan sempurna, pahala tak terhingga!
April’1014
Rahasia Terbesar Terletak Pada “Hati Tathagata” Seseorang pernah bertanya pada saya, “Anda melihat Buddha dan Bodhisattva, na- mun, saya bingung, sebenarnya apa wujud dari Buddha dan Bodhisattva, seperti ben- tuk pratima di vihara, seperti wujud manusia, atau hanya seberkas cahaya saja?”
Saya terbahak-bahak, tidak menjawab.
Seseorang pernah bertanya pada saya, “Anda mendengar Buddha dan Bodhisattva bi- cara pada Anda, namun, saya bingung, sebenarnya bagaimana Buddha dan Bodhisat- tva bicara pada Anda, apakah memakai Bahasa Hindustan, Bahasa India, Bahasa Pali, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, atau Bahasa Taiwan? Saya sungguh tidak mengerti.”
Saya terbahak-bahak, tidak menjawab.
Seseorang pernah bertanya pada saya, “Anda mengatakan bahwa Anda tahu Bud- dha dan Bodhisattva telah datang; Anda tahu Vajra Dharmapala telah datang; Anda tahu Dakini dan para dewa telah datang; Anda tahu makhluk halus telah datang. Bagaimana Anda membedakan yang datang adalah Buddha, Bodhisattva, Vajra, Dhar- mapala, Dakini, para dewa, atau makhluk halus?”
Saya terbahak-bahak, tidak menjawab.
Di sini,…