infantiside

4
Bahan UAS Forensik – dr Pardjaman, Sp.F. Juni 2011 INFANTISID Tanda-tanda paru-paru bayi belum bernapas : Paru-paru lebih kecil daripada yang sudah bernapas Pada yang belum bernapas beratnya sekitar 1/70 berat badan bayi. Pada yang sudah bernapas beratnya sekitar 1/35 berat badan bayi. Letak paru-paru terdapat pada bagian posterior. Pinggir paru-paru tajam. Letak diafragma antara ICS IV-V. Gambaran makroskopis lebih padat. Bila diiris akan tampak seperti jaringan hepar. Krepitasi negatif. Bila dimasukkan ke air akan tenggelam. Tanda lain untuk bayi yang belum bernapas adalah dari gasternya : Pada bayi yang belum bernapas, gaster berisi cairan mukosa. Pada bayi yang sudah bernapas, sebagian udara tertelan masuk ke dalam gaster. Kadang-kadang juga ditemukan gula/madu/susu dalam gaster. Tes untuk menetapkan bayi telah atau belum bernapas : 1. Tes Apung paru-paru Caranya : Pertama-tama seluruh organ thorax termasuk lidah, trachea, jantung dan paru- paru direndam dalam air , bila sudah bernapas maka paru-paru akan mengapung. Kedua paru-paru kiri dan kanan dipotong dan dipisahkan kemudian rendam dalam air, bila keduanya terapung berarti bayi tersebut sudah bernapas komplit. Arti Tes Apung paru-paru yang positif : Mungkin bayi sudah bernapas. Terjadi pembusukan. Telah dilakukan respirasi buatan. Bayi bernapas inkomplit. Bayi mengalami vagitus vaginus/vagitus uterinus. Arti Tes Apung paru-paru yang negatif : Mungkin bayi belum bernapas. Bayi bernapas tidak sempurna. Bayi mengalami atelektasis kongenital. Bayi mengalami penyakit paru-paru intrauterine, seperti pneumonitis. Hyalin Membrane Disease pada paru-paru. Untuk membedakannya dengan peristiwa pembusukan : Pemeriksaan mikroskopis o Pada paru-paru yang sudah bernapas akan terdapat lebih banyak eritrosit daripada yang belum bernapas. o Pelebaran alveolus dapat dilihat dengan pewarnaan reticulin. o Pada yang sudah bernapas darah banyak masuk ke paru-paru sehingga bila mengalami hemolisis akan terdapat timbunan hemosiderin. o Bentuk alveolus yang sudah bernapas lebih gepeng, sedangkan yang belum bernapas berbentuk kuboid. Tes Injak paru-paru Untuk mengeluarkan udara pembusukan dari jaringan paru-paru. Caranya : paru-paru ditempel diantara dua kertas di tempat datar, diharapkan gas-gas pembusukan keluar. Kemudian dimasukkan lagi ke dalam air akan tenggelam, sedangkan paru-paru yang sudah bernapas bila dimasukkan lagi ke dalam air akan mengapung. 2. Tes Apung Gaster (Stomach Bowel Test/Bres Lau Test) 1 Printed by Cahyo Wisnugroho

Upload: cahyo-wisnugroho

Post on 08-Aug-2015

53 views

Category:

Documents


3 download

DESCRIPTION

Kedoktearn Forensik

TRANSCRIPT

Page 1: Infantiside

Bahan UAS Forensik – dr Pardjaman, Sp.F. Juni 2011

INFANTISID

Tanda-tanda paru-paru bayi belum bernapas :

Paru-paru lebih kecil daripada yang sudah bernapas Pada yang belum bernapas beratnya sekitar 1/70 berat badan bayi. Pada yang sudah bernapas beratnya sekitar 1/35 berat badan bayi.

Letak paru-paru terdapat pada bagian posterior. Pinggir paru-paru tajam. Letak diafragma antara ICS IV-V. Gambaran makroskopis lebih padat. Bila diiris akan tampak seperti jaringan hepar. Krepitasi negatif. Bila dimasukkan ke air akan tenggelam.

Tanda lain untuk bayi yang belum bernapas adalah dari gasternya :

Pada bayi yang belum bernapas, gaster berisi cairan mukosa. Pada bayi yang sudah bernapas, sebagian udara tertelan masuk ke dalam gaster. Kadang-kadang

juga ditemukan gula/madu/susu dalam gaster.

Tes untuk menetapkan bayi telah atau belum bernapas :

1. Tes Apung paru-paru Caranya : Pertama-tama seluruh organ thorax termasuk lidah, trachea, jantung dan paru-paru direndam

dalam air , bila sudah bernapas maka paru-paru akan mengapung. Kedua paru-paru kiri dan kanan dipotong dan dipisahkan kemudian rendam dalam air, bila

keduanya terapung berarti bayi tersebut sudah bernapas komplit.

Arti Tes Apung paru-paru yang positif :

Mungkin bayi sudah bernapas. Terjadi pembusukan. Telah dilakukan respirasi buatan. Bayi bernapas inkomplit. Bayi mengalami vagitus vaginus/vagitus uterinus.

Arti Tes Apung paru-paru yang negatif :

Mungkin bayi belum bernapas. Bayi bernapas tidak sempurna. Bayi mengalami atelektasis kongenital. Bayi mengalami penyakit paru-paru intrauterine, seperti pneumonitis. Hyalin Membrane Disease pada paru-paru.

Untuk membedakannya dengan peristiwa pembusukan :

Pemeriksaan mikroskopiso Pada paru-paru yang sudah bernapas akan terdapat lebih banyak eritrosit daripada yang

belum bernapas.o Pelebaran alveolus dapat dilihat dengan pewarnaan reticulin.o Pada yang sudah bernapas darah banyak masuk ke paru-paru sehingga bila mengalami

hemolisis akan terdapat timbunan hemosiderin.o Bentuk alveolus yang sudah bernapas lebih gepeng, sedangkan yang belum bernapas

berbentuk kuboid. Tes Injak paru-paru

Untuk mengeluarkan udara pembusukan dari jaringan paru-paru. Caranya : paru-paru ditempel diantara dua kertas di tempat datar, diharapkan gas-gas

pembusukan keluar. Kemudian dimasukkan lagi ke dalam air akan tenggelam, sedangkan paru-paru yang sudah bernapas bila dimasukkan lagi ke dalam air akan mengapung.

2. Tes Apung Gaster (Stomach Bowel Test/Bres Lau Test)Caranya : Cardia dan pylorus diikat, kemudian masukkan air dengan memasukkannya ke bagian gaster lain, bila ada gelembung udara keluar berarti ada udara dalam gaster ------ BLT (+).Arti BLT (+) bila suspek bayi sudah bernapas atau terjadi pembusukan. Membedakannya dari susunan gasnya, dimana pada bayi yang sudah bernapas banyak mengandung O2, N2, dan sedikit CO2. Sedangkan pada pembusukan banyak mengandung ammonia, PO4, cyanida, methane dan H2S.Prinsip : Bayi bernapas dan tenggelam ➙ gaster berisi gas.

3. Pemeriksaan Meconium Diperiksa ada atau tidaknya meconium.

1

Printed by Cahyo Wisnugroho

Page 2: Infantiside

Bahan UAS Forensik – dr Pardjaman, Sp.F. Juni 2011

Ditentukan letak meconium, bila ditemukan di rectum bagian distal dapat diperkirakan bayi lahir hidup oleh karena meconium dapat bergerak ke distal oleh adanya peristaltik usus. Meconium yang positif tidak memastikan bayi sudah bernapas, sebab bisa juga hal itu terjadi pada bayi yang mati karena asphyxia.

4. Luka MemarPada bayi yang lahir hidup akan didapat luka memar sebagai hasil persalinannya, dimana bekas luka memar akan tampak bila ketika lahir bayi hidup.

5. Warna BayiBayi yang berwarna kekuningan dipastikan lahir hidup sampai bayi berumur 1-3 hari. Untuk pemantauan lebih lanjut harus diperhatikan bentuk dan warna faeces bayi : Bayi dengan faeces kuning menyatakan bayi sudah bernapas oleh karena warna kuning tersebut disebabkan oleh karena adanya metabolisme (ikterus fisiologis) ---- bedakan dengan faeces ibu dari pemeriksaan mikroskopis :Pada faeces ibu didapatkan serat-serat sisa makanan seperti daging, sayuran, dll.

Tidak semua pemeriksaan tersebut dilakukan bila : Dari salah satu pemeriksaan saja sudah memastikan bahwa bayi lahir hidup. Yakin bayi lahir mati karena kelainan kongenital berat, seperti anencephali. Bayi lahir immatur (<100 hari intrauterine).

Pada bayi lahir hidup dapat ditemukan :

Luka-luka memar Tali pusat sudah mengalami sikatriks setelah 1 minggu. Gaster berisi susu ---- susu yang ada di diagnosa banding apakah merupakan kolostrum atau

merupakan susu buatan. Bila kolostrum berarti bayi hidup karena dapat menghisap.

Untuk menentukan berapa lama bayi lahir hidup :

Perhatikan warna kulit bayi.o Bayi baru lahir kulitnya berwarna kemerah-merahan.o Bayi berusia 2-4 hari pada kulitnya ditemukan tanda-tanda deskuamasi disertai ikterus

fisiologis. Perubahan pada tali pusat

o Bayi berumur 12-24 jam sudah terlihat tanda-tanda pengerutan tali pusat.o Bayi berumur 3-5 hari mulai tampak tali pusat mengering bahkan sudah terjadi sikatriks.o Bayi berumur 7 hari tali pusatnya sudah lepas, dan bila ketika lahir dengan caput

succedaneum maka lepasnya tali pusat bersamaan dengan hilangnya caput tersebut.

Harus bisa membedakan bayi cukup bulan atau tidak :

o Berat badan lahir ± 3 kg, dengan panjang badan ± 50 cm.o Konsistensi tangan dan kaki lebih berisi.o Lanugo sudah mulai hilang.o Muka bayi dalam keadaan tegang, tidak keriput, kulit tertutup vernix caseosa.o Rambut kepala berukuran ± 2cm.o Kuku sudah melewati ujung jari.o Pertumbuhan genital sudah sempurna, termasuk labium majus dan minus pada wanita.o Pusat-pusat osifikasi telah terbentuk di proximal tibia dan distal femur.

Beberapa kemungkinan penyebab bayi lahir mati (still birth) :

o Kelainan kongenital berat.o Ibu menderita penyakit berat, seperti toksemia gravidarum, penyakit ginjal, penyakit jantung.o Kelainan rahim seperti : lues placenta, solutio placenta, placenta previa, lilitan tali pusat.o Accident, seperti ibu jatuh, persalinan lama karena panggul sempit, perdarahan hebat,

prolapsus umbilikus, ibu pecandu alkohol berat.o Kelainan kongenital pada A.V umbilikalis.

Cara-cara melakukan infantisid digolongkan atas :

1. Infantisid Pasifo Jarang dilakukan sebab resiko bayi menangis.o Caranya yaitu :

Tidak mengikat tali pusat, sehingga bayi akan mati karena perdarahan hebat. Membiarkan bayi tanpa perawatan setelah dilahirkan. Membiarkan bayi tidak diberikan makanan (tidak diteteki), sehingga bayi akan mati

karena kelaparan akibat gaster kosong padahal paru-paru sudah bernapas.

2

Printed by Cahyo Wisnugroho

Page 3: Infantiside

Bahan UAS Forensik – dr Pardjaman, Sp.F. Juni 2011

Tidak membersihkan lendir dari rongga mulut dan hidung bayi, sehingga bayi mati karena asphyxia.

2. Infantisid Aktifo Sering dilakukan oleh ibu sendiri atau dengan bantuan orang lain.

o Caranya yaitu : Menggunakan benda tajam (misalnya pisau) untuk menggorok leher bayi, sehingga pada

pemeriksaan harus dilihat ada tidaknya jejas di leher. Suffocation, yaitu membekap/menutup mulut bayi dengan kain sehingga bayi sulit

bernapas dan mati akibat asphyxia. Strangulasi, yaitu penjeratan baik yang direncanakan dengan tali yang dipersiapkan,

tidak direncanakan menggunakan tali pusat, atau manual strangulation (dicekik). Drowning, ditenggelamkan yaitu baik yang direncanakan dalam baskom berisi air atau

tidak direncanakan partus di pinggir kali ---Perlu pemeriksaan Diatomae Test dan pemeriksaan paru-paru.

Diracun dengan brandy/yodium --- Perlu pemeriksaan toksikologi. Burning

Pada pemeriksaan post mortal harus diperhatikan :

o Ada tidaknya tanda-tanda kekerasan ➙ perlu pemeriksaan tulang tengkorak (ada hematom atau tidak), fraktur tulang abdomen, costa, dan ruptura viscera abdomen akibat diinjak.

o Ada tidaknya jejas luka di leher.o Pemeriksaan luka memar di sekitar hidung, bibir atas dan

bawah serta mukosa buccal ➙ untuk identifikasi smothering/suffocation/pembekapan.

o Pada pembekapan bagian depan muka bayi tampak pucat karena dengan dibekap terjadi fraktura septum nasi ➙ asphyxia (juga dapat dilihat ada bintik kemerahan pada kelopak mata dan bola mata).

o Pemeriksaan paru-paru dan traktus respiratorius bagian atas untuk memastikan sebab kematian oleh drowning atau asphyxia.

Sebelum ibu bayi yang bersangkutan disidangkan, perlu dikumpulkan bukti-bukti sebagai berikut :

Ibu yang bersangkutan hamil ➙ lihat perkembangan mammae. Ibu yang telah melahirkan ➙ lakukan pemeriksaan-pemeriksaan sebagai berikut:

o Pemeriksaan histopatologi jaringan intrauterine untuk melihat villi chorealis dan decidua.o PP-test (Partus Precipitatus)o Terdapat robekan pada genitalia akibat melahirkan.

Menentukan telah berapa lama ibu melahirkan :o Fundus uteri setinggi pusat berarti ibu baru melahirkan.o Bila uterus sudah berada di pelvis berarti ibu telah melahirkan 6-7 hari yang lalu.o Sekret dari genital telah berwarna putih (lochia alba) berarti ibu telah melahirkan 4-9 hari

yang lalu.o Robekan genitalia sudah menyembuh berarti ibu sudah melahirkan 10-14 hari yang lalu.

Menentukan partus normal atau precipitatus dilihat dari :o Robekan tali pusat.o Pada partus precipitatus ➙ biasanya ibu multipara, bila tinggi badan ibu tinggi akan terjadi

kelainan puncak kepala bayi.o (Biasanya di daerah) ➙ ibu hamil aterm ingin BAB sehingga ketika mengedan bayi ikut lahir di

jamban. Pemeriksaan golongan darah ibu, bayi dan suami/pacar ibu. Pemeriksaan HLA dan DNA bila diperlukan (karena biayanya mahal), misalnya kasus-kasus

perdata. Pemeriksaan rambut-rambut yang menempel pada tubuh bayi, serpihan kain/penutup pakaian bayi

untuk dibandingkan dengan kain pada ibu.

Pemeriksaan histopatologi :

Perlu untuk menentukan apakah infantisid dilakukan intravital atau post mortal. Paling sering dilakukan pemeriksaan PA pada umbilikus :

o Panjang umbilikus lebih panjang daripada normal (mungkin karena lilitan tali pusat).o Masih menempel pada placenta atau tidak ➙ bila sudah tidak menempel harus diperiksa

potongan umbillikusnya, karena dapat menyatakan beberapa hal : Bayi dirawat atau tidak setelah lahir (pada infantisid tidak dirawat). Alat untuk memotong memberikan jejas yang berbeda (pisau beda dengan gunting). Kelainan kongenital pada umbilikus, misalnya kista yang menekan A.V umbilikalis. Ada tidaknya bekuan darah (pada intravital terbentuk bekuan darah). Ada tidaknya pus (pada bayi lahir hidup ada pus karena gesekan pada ujung potongan tali

pusat).

3

Printed by Cahyo Wisnugroho

Page 4: Infantiside

Bahan UAS Forensik – dr Pardjaman, Sp.F. Juni 2011

o Pemeriksaan pada placenta meliputi : berat, ukuran, bentuk (komplit atau tidak), ada tidaknya solutio placentae (ada bekas bekuan darah yang banyak) dan tanda-tanda infeksi (misalnya : Lues).

Pada bayi yang mati intrauterine :

Kulit bayi berwarna kecoklat-coklatan. Kulit akan mengalami maserasi/blister/mengeras. Ekstremitas bayi mudah digerakkan. Otot dan kulit keriput. Tonus otot lemah atau negatif. Terjadi overlapping tulang-tulang tengkorak.

4

Printed by Cahyo Wisnugroho