yusdeka reformatted b - ok !

of 109 /109
Artikel Oleh Yusdeka B Dikompilasi oleh FIW

Upload: fitri-indra-wardhono

Post on 12-Jun-2015

466 views

Category:

Self Improvement


11 download

DESCRIPTION

Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis “Dzikrullah” (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog “Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat” (yusdeka.wordpress.com). Untuk keperluan pribadi, kami mengkompilasi tulisan-tulisan tersebut, baik berdasarkan abjad huruf pertama dari judul tulisan, maupun berdasarkan topik tertentu. Berikut ini adalah kumpulan tulisan dengan huruf pertama berhuruf “B”.

TRANSCRIPT

Page 1: Yusdeka   reformatted b - ok !

Artikel Oleh Yusdeka

BBBB

Dikompilasi oleh FIW

Page 2: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-2

Kata Pengantar

Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis

produktif dari milis “Dzikrullah” (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah)

dan blog “Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada

Dzat Yang Maha Dekat” (yusdeka.wordpress.com). Untuk keperluan pribadi,

kami mengkompilasi tulisan-tulisan tersebut, baik berdasarkan abjad huruf

pertama dari judul tulisan, maupun berdasarkan topik tertentu. Berikut ini

adalah kumpulan tulisan dengan huruf pertama berhuruf “B”.

Dalam pengkompilasian ini, kami berusaha untuk tidak menambah dengan

kata-kata kami sendiri. Yang kami lakukan adalah pengurangan dan

penyuntingan tampilan. Tujuan pengkompilasian ini tak lain adalah agar

memudahkan kami untuk membaca dan memahami tulisan-tulisan tersebut.

Hal ini disebabkan karena kebodohan kami untuk dapat memahami tulisan

yang Ustadz Yusdeka tulis. Untuk itu kami merasa perlu untuk menstrukturkan

dan mensistematisasikannya. Selain itu, kami menambahkan dengan uraian

kesimpulan atas apa yang menjadi materi pembahasan Ustadz Yusdeka.

Tulisan dari Ustadz Yusdeka demikian canggihnya, tidak heran jika disadari apa

yang Ustadz Yusdeka tulis pada hakekatnya adalah tulisan yang langsung

digerakkan oleh Allah SWT sendiri, sehingga kami terkadang menggap-

menggap dalam membaca. Bahkan setelah selesai membaca, kami terkadang

bertanya-tanya, apa yang telah kami baca tadi, mengingat kebodohan kami

dalam hal yang ditulis tersebut.

Setelah pengkompilasian ini tercapai kami berpendapat alangkah sayangnya

jika tulisan dari Ustadz Yusdeka yang sudah dikompilasi tersebut hanya untuk

kami konsumsi sendiri. Untuk itu, dalam format PDF, kami menaruhnya di

internet. Semoga dengan demikian semakin banyak pihak yang dapat turut

menikmati, dan harapan kami, dapat menemani Ustadz Yusdeka untuk

camping di pinggir surga.

(FIW)

Page 3: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-3

Daftar Isi

Artikel 1 : Bisakah Kita Berbicara dengan Allah ............................................... 1-4

A. Pembahasan ................................................................................ 1-4

B. Kesimpulan ................................................................................ 1-61

Artikel 2 : Bagi Orang Yang Sudah Selesai ...................................................... 2-65

A. Pembahasan .............................................................................. 2-65

B. Kesimpulan ................................................................................ 2-72

Artikel 3 : Bahasa Ruhani ............................................................................... 3-74

A. Pembahasan .............................................................................. 3-74

B. Kesimpulan ................................................................................ 3-77

Artikel 4 : Benang Kesambungan dengan Allah ............................................. 4-78

A. Pembahasan .............................................................................. 4-78

B. Kesimpulan ................................................................................ 4-79

Artikel 5 : Bersatu .......................................................................................... 5-80

A. Pembahasan .............................................................................. 5-80

B. Kesimpulan ................................................................................ 5-97

Artikel 6 : Bohong Berbuah Bohong .............................................................. 6-99

A. Pembahasan .............................................................................. 6-99

B. Kesimpulan .............................................................................. 6-108

Page 4: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-4

Artikel 1 :

Bisakah Kita Berbicara dengan Allah1

A. Pembahasan

1. Tanya

Saya bertemu dengan orang yang mengaku bisa bercakap-cakap dengan

Allah. Apakah ini mungkin dilakukan? Mohon penjelasannya disertai

dalil Al-Qur'an & Hadits.

2. Jawaban

Memang dunia spiritual ini kadang-kadang terlihat aneh. Di satu sisi dia

seperti dimusuhi atau paling tidak dianggap nyleneh, terutama oleh

orang-orang yang tidak atau belum mereguk kenikmatan dunia spiritual

tersebut. Sementara itu di sisi lainnya dia malah mau dieksplorasi habis-

habisan oleh orang-orang yang sepertinya tengah mabok berat oleh

dahsyatnya realitas suasana dan rasa yang didapat dalam dunia spiritual

itu. Padahal bagi dua-duanya, baik bagi yang memusuhi atau tidak

menyukainya maupun bagi yang menyukainya, landasan berpijaknya

sama juga, itu-itu juga, yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ALLAH, AL

QUR’AN, NABI MUHAMMAD SAW, dan AL HADIST.

Sebelum kita memulai membedah sedikit masalah kalimat berbicara

dengan Allah di atas, saya ingin sampaikan sebuah pokok pemikiran

tentang keterbatasan ukuran pikiran manusia.

Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia

Bahwa sudah menjadi sebuah kebiasaan umum bagi hampir seluruh

manusia saat dia berbicara tentang sesuatu, maka sesuatu itu selalu

dibandingkannya atau disandingkannya dengan sesuatu yang sesuai

dengan kadar pikiran atau persepesi si manusia itu sendiri.

1 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/1629

Page 5: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-5

Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia

Misalnya, saat kita ingin berbicara tentang sesuatu yang besar, maka

ukuran besar itu pertama kali kita bandingkan dengan ukuran besar

yang saat itu ada dikepala kita. Makanya besar menurut anak TK akan

sangat jauh berbeda dengan besar menurut seseorang yang bergelut

di dunia astronomi. Menurut anak TK, besar itu mungkin hanya seba-

tas besar dirinya sendiri. Yang lebih besar dari dirinya dia kategorikan

sebagai besar dan yang kecil dari tubuhnya disebutnya kecil. Sedang-

kan bagi seorang profesor anstronomi, ukurannya besarnya sudah

berubah menjadi besaran kosmos, besaran tahun cahaya. Dan dua-

duanya, baik anak TK itu maupun si astronomis, adalah benar. Tidak

ada yang salah.

Lalu diantara dua ekstrim tersebut, anak TK dan profesor astronomi

tersebut, ada diri kita sendiri. Di mana posisi kita ?

Tugas kita ini sebenarnya sederhana saja, yaitu untuk iqra, melihat,

membaca apakah ukuran-ukuran yang ada di dalam otak kita ini

berkembang atau tidak dari waktu ke waktu. Apakah ukuran besar

yang ada di dalam otak kita dari hanya sekedar ukuran besar menurut

anak TK telah berubah menjadi sebuah ukuran besar menurut anak

SD, atau SMP, atau SMA. Atau syukur-syukur ukuran besar kita itu

sudah bisa pula mendekati ukuran besar menurut seorang astrono-

mis. Amati sajalah pencapaian kita itu dan lalu sampaikanlah kepada

orang-orang tentang yang kita pahami. Tulislah, dan da’wahkanlah.

Tapi jangan paksa seorang anak TK untuk memahami apa-apa yang

kita capai itu. Begitu juga jangan paksakan pencapaian kita itu kepada

seorang profesor astronomi yang sudah kenyang makan asam garam

dunia dalam ukuran besaran makro kosmos. Karena kalau kita sudah

memaksa-maksa agar besar orang lain sama dengan besar menurut

kita, maka nanti kita sendiri juga yang akan sakit saat mana orang lain

itu tidak menerima apa-apa yang kita paksakan kepadanya.

Tentang masalah ukuran besar ini saja ternyata sudah sangat berbeda

Page 6: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-6

Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia

dari orang ke orang. Belum lagi kalau mau kita ukur bagaimana suasa-

na dan rasa dari besar tersebut. Akan lebih bervariasi lagi. Misalnya

saat seseorang terbiasa memiliki uang di dalam tabungan rata-rata

selama hidupnya tidak lebih dari Rp. 50 juta, tatkala dia tiba-tiba

mendapatkan uang tak terduga-duga dari seseorang sebesar Rp 50

Milyar, maka ada suasana dan rasa wah, huh, hih, aha, yang mengalir

di dalam dadanya. Suasana dan rasa itu sangat mempengaruhinya

sehingga dia tidak kuat untuk menikmatinya sendiri. Lalu dia akan

berteriak, dia akan histeris, dia akan tertawa, dia akan gemetar, dia

akan menangis tapi sekaligus juga gembira, bahkan dia bisa lari

kesana kemari mengabarkan sebuah suasana dan rasa dari Rp 50

milyar itu.

Sehingga seringkali orang yang mendapatkan sesuatu yang jauh lebih

besar dari apa-apa yang dia punya saat ditanya dengan pertanyaan

yang aneh: Bagaimana rasanya mendapatkan uang sebesar itu ? Dan

jawabannya tentu saja tak kalah anehnya pula. Misalnya: Saya sung-

guh senang, saya tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata rasa bahagia

saya yang muncul, dan sebagainya. Walaupun begitu, ungkapannya

itu tidak akan bisa dirasakan oleh si penanya saat itu, apalagi kalau si

penanya saat itu punya uang RP. 500 milyar di dalam tabungannya.

Dan yakinlah bahwa ungkapan rasa bahagianya tadi itu tidak akan

utuh diterima oleh si penanya itu tadi. Sebab sebuah rasa saat ditulis

dalam bentuk huruf, kata, dan kalimat-kalimat tidak akan pernah bisa

mewakili rasa itu sendiri. Rasa itu tidak bisa ditransfer kepada orang

lain hanya dengan kata-kata dan kalimat-kalimat saja (untuk

sementara terima sajalah dulu pernyataan ini).

Dari contoh di atas, kita dapat ambil kesimpulan sementara bahwa

saat orang bergerak dari sebuah ukuran besar ke ukuran besar yang

lebih besar lagi, maka di situ akan ada sebuah proses di dalam dada

kita yang ukurannya bukan lagi besaran besar tapi sudah beralih

besaran suasana dan rasa. Setiap besaran itu ternyata juga ada

Page 7: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-7

Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia

ukuran suasana dan rasanya.

Orang yang tadinya hanya terbiasa melihat besarnya Monas di Jakarta

dan rasanya pun sudah tidak ada lagi, saat dia dibawa menaiki mena-

ra Eifel di Paris, akan menerima pula besaran rasa menara Eifel buat

seketika yang melebihi besaran rasa Monas. Begitupun selanjutnya,

seseorang yang tadinya hanya melihat besarnya gunung Tangkuban

Perahu saat dibawa mendaki Pegunungan Everest, akan mendapat-

kan rasa yang lebih lagi dari saat dia mendaki gunung Tangkuban

Perahu tadi. Ya, ternyata ada pula rasa puncak Gunung Everest.

Sampai di sini sebuah pertanyaan sederhana, pertanyaan seorang

spiritualis, sudah boleh saya sampaikan kepada kita semua :

Saat kita mengucapkan “Allahu Akbar, Allah Maha Besar”,

lalu suasana dan rasa puncak seperti apa yang muncul

di dalam dada kita masing-masing ?

Sebab besar-Nya Allah adalah besar Yang Maha, maka suasana dan

rasanya juga haruslah suasana dan rasa yang ultimate. Cobalah bedakan

sejenak beda suasana dan rasanya tatkala kita menyebut : “Laut,

gunung, piring, gelas,” dengan menyebut nama, “Allah, Allah, Allah.”

Adakah bedanya ?

Kalau menyebut nama Allah

dengan menyebut nama benda-benda itu tadi tidak ada beda

suasana dan rasanya sedikit pun, barangkali saja memang kita

belum berhasil mendapatkan

suasana dan rasa berketuhanan yang kental

seperti yang dirasakan oleh Rasulullah SAW,

. . . atau paling tidak imbasan dari suasana dan rasa berketuhanan yang

Beliau alami dulu itu saja sebenarnya sudah cukuplah rasanya buat kita

yang bodoh ini. Ya, Rasulullah itu dulu, saat Beliau menyebut nama

Page 8: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-8

Allah, berhasil mendapatkan realitas suasana dan rasa dari segala apa

yang beliau baca (iqra).

Saat Beliau dituntun oleh Jibril untuk membaca (iqra), bahwa

segala sesuatu di dunia ini ternyata bersandar kepada Allah,

dan Beliau berhasil memahami itu

(atau tepatnya didudukkan oleh Allah sendiri

dalam pemahaman itu),

lalu :

Beliau menyebut nama Allah, ayat-ayat Allah,

tiba-tiba saja ada realitas suasana dan rasa berketuhanan yang amat

sangat kuat mengalir di dalam dada Beliau,

. . . sebab Beliau telah berhasil menjadi penyaksi, syahid, atas realitas

itu tadi. Suasana dan rasa yang muncul itu begitu kuatnya :

• Dada Beliau menggigil, tubuh Beliau gemetar,

• Air mata Beliau tumpah ruah tak terbendung.

Untuk membahasakan suasana dan rasa yang Beliau dapatkan itu,

Beliau lalu dituntun oleh Jibril, sehingga :

. . . bahasa yang lahir dari tuntunan Jibril itu disebut

bahasa Tuhan.

Sebuah bahasa yang hanya bisa ditangkap oleh jiwa murni seorang

manusia. Bahasa itu tidak dikotori sedikitpun oleh persepsi-persepsi

Beliau sebagai seorang manusia.

Hampir selama dua puluh tahunan Beliau memposisikan diri Beliau

sebagai seorang pengiqraa (seorang pembaca sejati dan paripurna).

Beliau selalu mendapatkan kepahaman, sekaligus suasana dan rasa dari

apa-apa yang Beliau Iqra itu.

Catatan: Janganlah kita kecilkan makna Iqraa Beliau itu hanya sebatas

membaca seperti kita membaca sebuah buku. Tidak, Beliau Iqra dengan

Page 9: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-9

seluruh instrumen yang ada pada diri Beliau. Utuh bacaan Beliau itu.

Kalau makna Iqraa ini kita bonsai hanya menjadi membaca seperti kita

membaca buku, maka buku macam apakah yang dibaca oleh Rasulullah

ketika beliau diperintahkan oleh Malaikat Jibril untuk membaca

pertama kalinya ? Wong belum ada kitabnya.

Yang Beliau baca adalah

segala yang terlihat melalui mata dan

yang terdengar melalui telinga,

Beliau membaca apa saja yang bisa ditangkap :

•••• oleh lidah,

•••• oleh hidung,

•••• oleh kulit,

•••• oleh perut,

•••• oleh kelamin, dan

•••• oleh DADA Beliau.

Lalu Beliau paham, lalu Beliau mendapatkan

suasana dan rasa dari segala sesuatu yang Beliau

baca itu pada saat yang sama.

Jadi ada apa-apa yang Beliau baca itu ada RUANGANNYA yang di dalam-

nya ada kenyataan atau realitasnya, ada suasananya, dan ada pula

rasanya.

Karena Beliau adalah seorang Rasul, maka :

. . . kepahaman, suasana, dan rasa yang Beliau alami

atas segala sesuatu itu

bukanlah hanya untuk Beliau nikmati sendiri.

Page 10: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-10

Beliau harus sampaikan semuanya itu kepada seluruh umat manusia.

Dan Beliau harus mengaktualisasikan semuanya itu dalam sebuah

kehidupan di dunia ini.

Untuk itu, semua kepahaman, suasana, dan rasa itu tadi haruslah

dituangkan, ditranslasikan ke dalam bentuk bahasa aksara dan suara,

bahasa manusia. Lalu, karena Beliau adalah seorang Arab, maka bahasa

yang paling pas untuk itu adalah aksara dan suara dalam bahasa Arab

pula. Bukan bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris, bukan bahasa

Persia ataupun Romawi. Semua itu gunanya adalah agar orang-orang

yang Beliau da’wahi itu bisa mengerti, paham, dan mendapatkan pula

suasana dan rasa yang telah Beliau dapatkan itu. Nanti kalau ada orang

yang mampu pula mendapatkan kepahaman, suasana dan rasa seperti

yang dialami oleh Rasulullah itu, walau satu ayat sekali pun, maka tiada

lain yang bisa dia katakan bahwa benar Muhammad ini adalah Rasulul-

lah. Ya, kita tinggal syahid, menyampaikan kesaksian kita atas kerasulan

Beliau, Muhammad SAW. Karena apa-apa yang Beliau sampaikan

ternyata semata-mata adalah sesuatu yang benar adanya. Benar ada

kepahaman, benar ada suasana dan rasa dari apa-apa yang Beliau

sampaikan itu.

Untuk proses translasi bahasa kepahaman, bahasa suasana dan rasa

(bahasa QALAM, bahasa KESADARAN) itu tadi menjadi bahasa Arab

tertulis, terjadi dengan dua cara, yaitu :

• Dengan bantuan murni Malaikat Jibril yang nantinya akan

menghasilkan kitab Al Qur’an, dan

• Dengan cara mentranslasikan bahasa itu melalui tindak-tanduk, kata-

kata ataupun ungkapan, akhlak dan perilaku Beliau sendiri yang

semuanya itu nantinya akan menjadi rangkaian Al Hadist.

Keduanya, Al Qur-an dan Al Hadist, inilah yang sampai kepada kita saat

ini sebagai sarana utama bagi kita untuk menilai diri kita sendiri, dan

syukur-syukur kita mau pula untuk menyampaikan seayat atau dua ayat

yang berhasil kita pahami dan kemudian kita dapatkan pula suasana

dan rasanya.

Page 11: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-11

Sebenarnya banyak orang yang tidak sadar bahwa :

. . . hakikinya Al Qur’an dan Al Hadist itu juga adalah GAMBARAN

atau PROFILE tentang diri kita sendiri. Gambaran tentang

kepahaman, tentang suasana dan rasa yang ada di diri kita sendiri

dalam setiap tahapan kehidupan kita.

Cobalah amati dada dan otak kita untuk sesaat, maka saat itu pastilah

sama dengan bagian-bagian tertentu dari Al Qur’an ataupun Al Hadist :

• Misalnya, tatkala kita shalat, kita berdiri malas-malasan, kita riya, kita

tidak ingat Allah kecuali sedikit sekali, maka suasana dan rasa shalat

seperti itu ternyata ada. Al Qur’an menyatakan bahwa itulah tanda-

tanda atau profile seorang munafik (lihat An Nisaa, 4: 1422). Tatkala

kita bingung tentang diri kita dan alam semesta ini, hati kita terkunci

untuk memahami dan sekaligus mendapatkan suasana dan realitas

tentang diri kita dan alam semesta ini, maka itulah tanda-tanda orang

yang tercover (kafir), orang yang hatinya keras membatu, orang yang

jahil. Untuk itu Al Qur’an menyebutkan contoh orang-orang tertentu

dengan berbagai variasi kesadaran tertentu pula.

• Misalnya, ada Fir’aun dengan profile sebagai penguasa yang sombong

dan bengis. Ada Abu Lahab, ada Iblis, ada Jin dan sebagainya yang

mewakili profile makhluk Allah yang dekat dengan Murka Allah. Ada

pula Nabi-nabi, Rasul-Rasul, orang-orang shaleh, ada Muhammad

SAW, ada Isa AS, ada Ibrahim AS, ada Adam, dan sebagainya untuk

mewakili profile orang-orang yang dituntun oleh Allah dengan

Rahmat-Nya.

Jadi Al Qur’an itu memuat berbagai informasi, pengetahuan, suasana

dan rasa dari segala kemungkinan yang ada. Ada informasi tentang :

• berbagai Profile Tuhan dan profile segala ciptaan-Nya;

• berbagai kemungkinan profile umat manusia;

• berbagai kepahaman, suasana dan rasa dada umat manusia;

2 Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila

mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan

manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Page 12: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-12

• berbagai pengetahuan dasar yang bisa dimiliki oleh umat manusia

untuk keperluan hidupnya;

• berbagai profile kehidupan dan peradaban sejak awal ketiadaan,

kemudian ada, dan kemudian kembali keketiadaan.

Ya, Rasulullah berhasil membaca itu semua, mendapatkan kepahaman-

nya, menerima suasana dan rasanya. Namun begitu :

. . . Beliau tidak larut, tidak terperangkap oleh ke semua rasa dan

suasana itu. Beliau berada DI ATAS semua yang Beliau baca itu.

Lalu Beliau diperintahkan Allah untuk menyampaikan semua itu kepada

seluruh umat manusia agar masing-masing manusia itu bisa memban-

dingkan dadanya, membandingkan otaknya sendiri dengan apa-apa

yang telah diperoleh oleh Rasulullah. Jadi tugas kita sebenarnya sudah

menjadi sangat sederhana sekali, yaitu untuk :

. . . membandingkan profile informasi tentang otak, tangan dan

lidah (peradaban), dan dada kita masing-masing dengan Al Qur’an

dan Al Hadist di setiap saat. Pada posisi profile makhluk yang

macam apa kita masing-masing berada pada suatu saat tertentu.

Apakah pada suatu saat kita berada :

a. Pada posisi profile pertama, yaitu profile :

1) orang yang bodoh, atau

2) orang yang buruk, atau

3) orang yang jahat, atau

4) orang yang durhaka, atau

5) orang yang munafik, atau

6) orang yang angkuh, atau

7) orang yang menjalankan maksiat, atau

8) orang lemah, atau

9) orang yang kafir, dan berbagai profile buruk lainnya,

yang kalau semuanya diringkas menjadi sebuah profile yang disebut

profile FUJUR.

Page 13: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-13

b. Atau apakah pada suatu saat kita berada pada posisi profile kedua,

yaitu profile :

1) orang yang cerdas (ulul albab),

2) orang yang baik,

3) orang santun,

4) orang yang patuh,

5) orang yang dipercaya,

6) orang yang rendah hati,

7) orang yang memelihara dirinya dari maksiat,

8) orang yang kuat dan gagah,

9) orang beriman,

10) dan berbagai profile baik lainnya,

yang kalau semuanya dirangkum menjadi sebuah profile yang

disebut profile TAQWA.

Kesalahan umum kita umat Islam ini adalah :

. . . saat kita membaca barang seayat dua ayat Al Qur'an, maka

selalu saja mengarahkan ayat tersebut kepada orang lain. Ayat itu

bukannya kita bandingkan dengan profil diri kita sendiri.

Ya, Al Qur'an itu tidak kita bandingkan dengan profil dan suasana :

• dada kita,

• dengan otak kita,

• dengan tangan kita,

• dengan perkataan dan perbuatan kita sendiri.

Kita hampir selalu saja beranggapan bahwa :

. . . ajakan Al Qur'an untuk berbuat baik maupun

meninggalkan keburukan

adalah untuk orang lain.

Sebab kita sendiri merasa sudah sangat baik, sudah sesuai dengan

ayat yang kita sampaikan itu. Sedangkan orang lain belum.

Page 14: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-14

Makanya orang lain yang kita tuju untuk kita ajak agar mereka mau

berbuat baik dan meninggalkan keburukan itu, bukannya diri kita

sendiri. Duh betapa sombongnya kita ini ya.

Padahal Allah sangat tidak suka, atau tepatnya sangat murka, dengan

kita yang berani-beraninya mengatakan kepada orang lain tentang

suatu kebaikan padahal kita sendiri belum berada dalam suasana dan

rasa ayat tentang ayat kebaikan itu.

Mari kita lanjut. Nah, profile Fujur ataupun Taqwa itu, di samping ada

bahasanya, ada pula suasana dan rasanya masing-masing. Dan pada

posisi profile yang manapun kita berada, maka saat itu pastilah kita

sama dengan Al Qur'an. Kita tengah menjalankan Al Qur'an juga

namanya. Tidak bisa tidak. Tapi pada FUJUR dan TAQWA itu berada

pada sisi yang saling bertolak belakang satu sama lainnya. Tegasnya,

orang kafir juga tengah sesuai atau menjalankan Al Qur'an sama baik

dan sempurnanya dengan orang yang beriman. Tapi dua-duanya sangat

berbeda dalam hal suasana dan rasanya. Sebab suasana dan rasa kafir

sangatlah berbeda dengan suasana dan rasa iman. Berbeda seperti

berbedanya siang dan malam, seperti berbedanya hidup dan mati,

seperti berbedanya air dan api, seperti berbedanya positif dan negatif.

Walaupun begitu, dua-duanya akan selalu ada sebagai pertanda bahwa

kita masih hidup di dunia ini. Dunia di mana segala sesuatunya berada

dalam suasana berpasang-pasangan. Terpolarisasi.

Cuma saja di tengah-tengah polaritas hidup yang aneh itu,

Muhammad SAW berhasil menemukan resep yang jitu agar

kita bisa ke luar saat mana kita di suatu saat terdorong

menuju polaritas FUJUR,

yang suasananya bisa dirasakan oleh dada kita berupa sempitnya

dada kita dan rasanya juga tidak enak. Beliau telah mewariskan

jalan ke luar itu bagi seluruh umat manusia. Jalan ke luar itu adalah

agar kita segera berlari ke sisi Allah,

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”.

Page 15: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-15

Namun, adakalanya pula makna Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun ini

tidak kurang-kurangnya pula di antara kita ini ada yang mencoba me-

mahaminya dengan cara yang sulit-sulit atau lebih tepatnya dipersulit-

sulit sendiri. Sehingga ada yang mempersepsikannya seperti :

• kita ke luar masuk tubuh,

• kita tamasya rohani ke sana ke mari,

• kita berusaha meraga sukma,

• dan sebagainya.

Rame sekali. Padahal sebenarnya cukup bersikap :

• Aku tak mau merampas kehidupan-Nya

• Biarlah aku berserah untuk tiada

• Berada dalam diam dalam tiada

• Diam, diam, diam.

Ya,

selalulah berserah untuk menjadi tiada.

Dan biarkanlah Dia Sendiri yang menyatakan keberadaan-Nya,

Kehidupan-Nya, Kesibukan-Nya, Karep-Nya.

Sehingga akhirnya kita didudukan-Nya di posisi :

Al Anfal (8 : 17)

…dan bukanlah engkau yang membunuh mereka, tetapi Allahlah yang

membunuh mereka. Dan tiadalah engkau yang melempar ketika engkau

melempar, melainkan Allah-lah yang melempar.

Untuk melatih suasana dalam ayat yang sangat sederhana tapi sangat

dalam ini tiada lain adalah :

Selalulah lari ke Allah, meringkuklah segera di sisi-Nya.

Karena memang rumah kita yang hakiki adalah di sisi

Allah. Sebab kita ini memang berasal dari-Nya, dan

kepadanya jugalah memang kita ini seharusnya

kembali. Tidak kepada yang lain.

Cara

Melatih

Page 16: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-16

Dan untuk mendapatkan suasana itupun sangat sederhana sekali, yaitu :

Shalatlah dengan khusyu !

Bahkan Nabi telah mengeluarkan pernyataan Beliau yang sangat

gamblang tentang shalat ini : “Ash shalatu mi’rajul mukminin”, Shalat

itu adalah mi’rajnya orang beriman.

Jadi saat shalat itu sebenarnya kita tengah merasakan suasana kede-

katan dengan Allah, berada di hadapan Wajah Allah, berbicara dengan

Allah. Dan, dengan sangat mengherankan sekali, seketika itu pula kita

akan dituntun-Nya untuk ke luar dari suasana dan rasa polaritas FUJUR

yang garing dan tidak enak.

Nah, orang yang ke luar atau tepatnya dikeluarkan oleh Allah dari

suasana dan rasa polaritas FUJUR itu akibat dari larinya dia ke Allah saat

mendapatkan suasana dan rasa Fujur itu, maka dengan seketika itu pula

dia akan merasakan suasana dan rasa polaritas TAQWA. Tidak bisa

tidak. Karena memang dalam kehidupan kita ini hanya ada dua sisi

suasana yang akan kita dapatkan, yaitu :

• Suasana dan rasa Taqwa di satu sisi, atau

• Suasana dan rasa Fujur di sisi yang lainnya.

Dalam kesempatan lain nanti, kita akan bahas pula tentang apa yang

harus kita lakukan saat kita sudah mendapatkan realitas suasana dan

rasa pulang ke rumah kita yang hakiki, yaitu di sisi Tuhan. Insyaallah.

Nah sekarang mari kita masuk dulu ke bagian lain untuk menjawab

pertanyaan di atas, yang kelihatannya cukup sederhana, tapi ternyata

membutuhkan jawaban yang alangkah sulitnya untuk dituliskan, yaitu

tentang bisakah kita berbicara dengan Allah ?

Begitu kita membaca kata berbicara, maka hampir dengan seketika itu

pula asosiasi kita akan beralih kepada cara berbicara kita diantara

sesama manusia. Di mana kalau manusia saling berbicara, maka ada

mulut, ada lidah, ada gigi geligi, ada aliran udara. Semua alat itu tadi

kita saling gerakkan dengan cara–cara tertentu sehingga menghasilkan

Page 17: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-17

bunyi atau suara yang bisa kita tangkap dengan telinga kita. Setiap

suara atau bunyi akan bisa mewakili sebuah suasana atau rasa yang

sedang kita saling bicarakan dengan lawan berbicara kita.

Kalau berbicara seperti ini yang dimaksudkan dengan pertanyaan di

atas, maka saya berlindung kepada Allah dari pemahaman untuk

menyamakan cara berbicara Tuhan dengan cara berbicaranya manusia.

Saya dengan sangat rendah hati akan menyatakan bahwa :

Allah tidak mungkinlah berbicara dengan manusia

yang notabene adalah ciptaan-Nya

dengan memakai bahasa artikulasi manusia itu sendiri.

Sebab Dia adalah Sang Laisa kamistlihi syai’un. Dzat yang tidak akan

pernah sama dengan ciptaan-Nya tentang apapun juga.

Kalau rambu laisa kamistlihi syai’un ini tidak kita pakai, maka kita kem-

bali akan digiring kepada asosiasi tentang Tuhan yang sedang berbicara

kepada kita seperti yang sering kita lihat di film-film, terutama film

India, dan film-film Cina atau Indonesia yang berbicara tentang dewa-

dewi dari kahyangan. Misalnya, di saat kita butuh pertolongan, tiba-tiba

saja ada suara yang memberitahu kita jalan ke luar dari permasalahan

kita. Saat kita cari siapa yang berbicara itu, maka wujud yang berbicara

itu dibuat menjadi tidak ada. Lalu dikaranglah bahwa yang berbicara itu

tadi adalah Tuhan, atau Dewa-Dewi, atau Yesus, atau Budha, dan

sebagainya. Masak sih umat Islam akan memakai konsep seperti itu

pula ? Lalu bagaimana konsep Islam dalam memahami cara berbicara

Allah dengan manusia ? Dan bagaimana pula cara berbicara manusia

dengan Allah ?

Untuk itu kita ambil dulu beberapa ayat yang berbicara tentang itu.

Al ‘Alaq (96 : 4)

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan QALAM.”

Page 18: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-18

Al ‘Alaq (96 : 5)

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Asy Syuura (42 : 51)

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata

dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir

atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya

dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha

Tinggi lagi Maha Bijaksana.”

Al-Baqarah (2 : 253)

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang

lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata dan sebagiannya

Allah meninggikannya beberapa derajat.”

An-Nisa' (4 : 164)

“Dan rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka

kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang

mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan

langsung.”

Luqman (31 : 12)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu,

‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka

sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang

tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha

Terpuji.’”

Al Baqarah (2 : 186)

“Ujiibu da’watad da’I idza da’aani, Aku menjawab panggilan orang

yang memanggil apabila ia memanggil-manggil-Ku.”

Cukup sebegini dulu ayat-ayat yang akan menjadi landasan berfikir kita.

Saya akan mulai dengan sebuah pertanyaan sederhana : Saat kita dalam

Page 19: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-19

shalat mengucapkan kalimat do’a “Rabbighfirli, ya Allah ampuni saya",

kira-kira jawaban Allah seperti apa ya ? Masak sih Allah nggak men-

jawabnya. Kalau Allah tidak menjawabnya, tidak meresponnya, maka

ayat 186 surat Al Baqarah di atas boleh tidak untuk kita coret saja ?

Padahal kita menyampaikan do’a kita itu kepada Dzat Yang Hidup, Allah.

Bukan kebatu, bukan ke benda mati.

Kalau kita tidak berhasil membaca, IQRA, jawaban dari Allah tentang

apa-apa yang kita bicarakan dengan Allah, maka boleh jadi kita ini

memang tengah duduk terpuruk sebagai anggota dari golongan orang

yang buta, orang yang tuli. Maksud buta dan tuli di sini bukanlah buta

mata dan tuli telinga kita, tapi hati kitalah yang telah buta dan tuli.

Sehingga kita tidak bisa lagi melihat dan mendengarkan Tuhan berbi-

cara menyambut dan mengabulkan do’a kita tadi. Itu baru satu do’a.

Lalu bagaimana dengan do’a-do’a yang lainnya, seperti “warhamni,

wajburni, warfa’ni, warzukni, wahdini, wa’aafini, wa’fu’anni”, begitu

juga dengan do’a sapu jagad “Rabbana atina fiddunya hasanah wafil

akhirati hasanah”, kira-kira jawaban Allah bagaimana pula agaknya ?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini, marilah

kita bongkar dulu frame berfikir kita yang sudah karatan berada di

dalam otak kita.

Allah menyatakan bahwa Aku menurut persangkaan hamba-hamba-Ku,

ana ‘inda zhanni abdi. Oleh sebab itu, marilah kita sejenak membuat

persangkaan-persangkaan baru kepada Allah. Kita ubah persangkaan

kita kepada Allah yang selama ini sudah berkarat di otak kita. Misalnya :

a. Bahwa Allah tidak akan pernah lagi berbicara dengan kita umat

manusia biasa ini, bukan Rasul, bukan Nabi.

b. Bahwa Allah telah selesai bekerja. Setelah menciptakan blue print

kehidupan seluruh alam semesta ciptaan-Nya (sunatullah),

1) Dia sudah tinggal istirahat saja di ‘Arasy memperhatikan seluruh

ciptaan-Nya berjalan sesuai dengan sunatullah itu.

2) Dia kemudian tinggal duduk saja, bersemayam saja di ‘Arasy.

Page 20: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-20

Lalu persepsi kita melayang-layang liar untuk menyamakan duduk-Nya

Allah di ‘Arasy itu seperti duduknya raja diraja yang sangat berkuasa.

Apa-apa tinggal Dia perintahkan para Malaikat-Nya untuk mengerja-

kannya :

• Untuk menurunkan hujan tingggal Dia perintahkan malaikat.

• Untuk mencabut nyawa tinggal Dia perintahkan malaikat.

• Untuk mencatat perbuatan baik dan buruk kita tinggal dia

perintahkan malaikat, dan sebagainya.

Marilah kita berprasangka baru kepada Allah, atau syukur-syukur ini

bisa menjadi sebuah keyakinan (iman) kita yang baru kepada-Nya.

Dasar-dasarnya juga Al Qur'an kok. Yaitu, bahwa sebenarnya Allah

sangatlah SIBUK:

Ar Rahmaan (55 : 29)

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya.

Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

Al Baqarah (2 : 255)

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang

Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak

mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di

bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya.

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang

mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melain-

kan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi.

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha

Tinggi lagi Maha Besar.”

Untuk memahami kemahasibukan Allah ini, maka prasangka kita

terhadap Wujud Allah juga haruslah kita ubah. Allah yang tadinya kita

sangka duduk manis di ‘Arasy mari kita ubah sejenak menjadi sebuah

kesadaran baru bahwa:

Page 21: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-21

Al Fushilat (41 : 54), An Nissa’ (4 : 126)

“Dia Maha MELIPUTI segala sesuatu.”

Ya, Dia Maha Meliputi segala sesuatu, Dzat-Nya Maha Meliputi segala

sesuatu, Wujud-Nya Maha Meliputi segala sesuatu. Allah Maha Meliputi

segala sesuatu.

Ratusan tahun sejak wafatnya Rasulullah, ayat ini seperti terlupakan

oleh umat Islam. Setiap kita bertemu dengan ayat ini, maka :

. . . selalu saja pikiran kita dibawa kepada pemahaman bahwa

yang maha meliputi segala sesuatu itu :

• adalah sifat-Nya,

• adalah kekuasaan-Nya,

• adalah keperkasaan-Nya,

• adalah pengetahuan-Nya.

Selalu saja begitu !

Kita seperti orang yang mengalami trauma berat saat berhadapan

dengan ayat ini gara-gara ada sejarah tentang Al Halaj dan Syech Siti

Jenar. Akibatnya kita seperti umat yang jauh sekali dengan Tuhan, kita

seperti tidak punya tempat bergantung lagi sudah berbilang zaman. Kita

tidak punya alamat untuk berpegang teguh lagi di dalam keseharian

hidup kita. Kita seperti tidak punya tempat bersandar lagi dalam setiap

aktivitas kita. Padahal Allah menyatakan dengan tegas bahwa:

Al Hajj (22 : 78)

“Wa’tashimuu billah, berpegang teguhlah kepada Allah.”

Sehingga :

. . . kita sudah tidak bisa lagi memahami :

• bagaimana dekatnya Allah dengan kita,

• bagaimana Allah lebih dekat dari urat leher kita,

Page 22: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-22

• bagaimana memahami wajah Allah yang tidak di barat dan tidak

di timur, ke mana saja kita menghadap maka di sana ada Wajah

Allah.

Mengurai Belenggu Fikiran

Buat sejenak jangan buat dulu pembatasan pola berfikir kita bahwa

Bercakap-cakap dengan Allah SWT itu hanya dilakukan oleh para nabi,

itupun tidak semua nabi. Hanya nabi tertentu yang disebutkan berca-

kap-cakap dengan Allah. Pembatasan seperti ini buang dululah sejenak.

Dasar ayat untuk menafikan kalimat di atas adalah ayat-ayat yang saya

kutipkan di atas. Coretlah dulu kalimat itu dengan tinta merah, sebentar

saja. Dan kalau nanti mau dipakai kembali ya silahkan saja.

Cara untuk membuang kalimat itu dari ingatan kita juga sederhana

saja :

a. Lihat dan amatilah sebatang pohon. Artinya alihkanlah kesadaran

kita kepada sebatang pohon. Amatilah batangnya, rantingnya, daun-

nya, buahnya. Kesadaran kita seperti mengalir begitu saja melalui

bagian-bagian pohon tersebut. Lakukanlah pengamatan terhadap

pohon itu secara berulang-ulang agak beberapa lama. Dan dengan

sangat mengejutkan kita sudah tidak ingat lagi dengan kalimat pem-

batasan pola berfikir seperti di atas.

b. Tahap berikutnya cobalah tubuh kita ini dirilekskan saja. Otak kita

rilek, mata kita rileks, dada kita rileks. Artinya tidak ada ketegangan

otot di tubuh, di kepala, di dada, di mata, dan di kening diantara

kedua mata kita. Contoh keadaan rileks yang sempurna adalah se-

perti sikap yang dilakukan oleh anak kecil, terutama bagi anak-anak

yang berusia antara 0 sampai dengan 2 atau 3 tahun. Tirulah rileks

mereka itu. Rileks sekali.

Begitu kita bisa bersikap rileks ini, maka hampir secara otomatis kita

akan terbebas dari kungkungan persepsi ketubuhan kita. Kita seperti

bisa melampaui tubuh kita. Kita akan merasakan bahwa kita tidak

Page 23: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-23

lagi bentuk wujud yang hanya sekedar dibatasi oleh jaringan kulit

dan otot saja. Kita bisa begitu bebasnya bergerak seperti bebasnya

angin, Rih bergerak. Karena kita ini hakekatnya memang adalah Ar

Ruh, Sang Angin, Sang Sir. Saat kita mengamati dada dan otak kita,

maka keduanya akan terasa bergerak meluas tak terbatas. Lepas tak

terbatas menuju ruang tanpa batas. Seperti bergerak dan mengem-

bangnya alam semesta ini secara terus menerus dan tanpa henti.

Ya, kita akan mengamati sebatang pohon dan juga diri kita sendiri

dalam suasana hati dan pikiran yang rileks. Kita akan masuk ke suasana

ruangan otak dan dada kita yang besarannya menjadi begitu luas dan

tak terbatas.

Kemudian sadarilah, oo, ternyata aku ini adalah Sang Angin, Sang Sir.

Wujud yang sebenarnya tidak bisa dibatasi oleh apapun juga. Akulah

Sang Angin yang bebas bergerak. Sang Angin tidak terpengaruh

sedikitpun dengan apa-apa yang dia amati. Karena Sang angin selalu

bergerak bebas, maka apa-apa yang dia jumpai, apa-apa yang dia

lewati, sudah tidak jadi pusat perhatiannya lagi. Saat dia melihat benda

apapun juga, semua itu dia lewati saja sambil lalu.

Sang Angin seperti berkata pada dirinya sendiri:

• “Laa, Laa, Laa ilaha.

• Aku akan lewati semuanya,

• Aku menganggap tidak penting lagi semua yang ku lalui ini,

• Aku akan nafikan apa-apa yang datang dan pergi,

• Aku tegaskan bahwa semua warna dan rupa hakikinya adalah tiada,

• Aku sedang menuju Wujud Hakiki tempat ku bergantung dan ber-

sandar.”

Saat semua bentuk, rupa dan warna sudah tiada, Sang Angin pun

menemukan :

• Wujud Sang Ada,

• Wujud tanpa rupa, tanpa warna. Kosong !

• Wujud yang meliputi segala apapun juga,

• Wujud yang menyelimuti segala sesuatu.

Page 24: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-24

Sang Angin pun merunduk, bersimpuh, merendah di dalam liputan

kekosongan itu. Liputan Sang Ada …! Sang Muhith. Lalu Sang Angin

menegaskan pada Sang Ada, “Illallah, Illallah, Illallah, yang ada hanyalah

Engkau, Tuhanku, Allah, Allah, Allah. Laa ilaha illallah !”

Lalu Sang Anginpun tenteram duduk bersimpuh di rumahnya sendiri. Di

Rumah Angin, Sang Ada, Sang Muhith,

Sang Angin pun menyampaikan sembah kepada Sang Ada : “Laa ilaha

illallah…! Tidak ada apa-apa kecuali hanya Engkau Wahai Sang Muhith,

Wahai Sang Ada.”

Sang Angin kemudian mengerti bahwa Sang Muhith adalah Dzat :

• Sang Penghidupan.

• Sang Penggerak tumbuh hidup.

Lalu Sang Anginpun bersedia untuk tiada, bersedia untuk tiada dan

diam. Tiada, diam.

Berbicara Dengan Allah tentang Alam

Kalau kita sudah paham posisi duduk kita di hadapan Allah, dan paham

pula bahwa segala sesuatunya bersandar kepada Dzat Sang Penghi-

dupan, Sang Penggerak tumbuh hidup, Dzat Yang setiap waktu selalu

dalam kesibukan mengatur semua ciptaan-Nya, maka berbicara dengan

Allah adalah sebuah kegiatan yang niscaya saja sebenarnya.

Mari kita coba sejenak :

a. Pertama, kita ingin berbicara dengan Allah tentang apa yang terjadi

dengan 4 batang pohon tomat yang kita tanam dalam 4 pot yang

berbeda. Kalau bisa keempat batang pohon itu yang hampir sama

umur dan karakteristiknya. Taruhlah keempat pot pohon tomat itu

berdampingan di hadapan kita. Siapkan pula pupuk tanaman

secukupnya. Ambillah buku catatan, ballpoint, meteran, kalau perlu

kamera. Siap-siaplah, kita akan menjadi seorang penyaksi akan

kebenaran ayat berikut ini:

Page 25: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-25

Ali Imran (3 : 190-191)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih

bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul albab

(orang yang berakal), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah

sambil berdiri, atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring

dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi

(seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini

dengan sia-sia maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa

neraka."

b. Selanjutnya, pandanglah Sang Muhith. Kalau kita sampai tidak sadar

dan tidak mampu memadang Wujud Sang Muhith INI, maka kita

namanya adalah orang yang kafir, covered, orang tertutup akan

keberadaan Wujud-Nya, Yang Nyata, Yang Ada.

Saat kita memandang Sang Muhith, kapan perlu, dan (lets me tell

you) memang ini sangatlah perlu, pujilah Dia dengan sangat rendah

hati, “Subhanaka, Subhanaka, Subhanaka !” Tiga kali saja pujian

seperti ini kepada-Nya, akan sanggup merontokkan keangkuhan dan

kekerasan hati kita yang seberapapun kuatnya. Karena dengan

pujian itu berarti saat itu juga kita telah menyerah segala kesucian,

segala kehebatan, segala keangkuhan yang mungkin saja bersarang

di sudut-sudut dada kita kepada Sang Muhith, Sang Pemilik

kesucian, kengakuhan, kehebatan yang sebenarnya.

Karena kita memuji kepada Allah, Sang Maha Hidup, bukan kepada

batu atau benda mati, maka Jawaban Allah terhadap pujian kita ini

pastilah ada. Dia mendudukkan kita dalam posisi sikap pemujaan

kepada-Nya. Sikap pemujaan bukanlah dalam bentuk kata-kata

seperti puji-pujian, akan tetapi dalam bentuk laku dan karsa. Seperti

apa ? Ya, alami sajalah sendiri ! Derr.

c. Lalu pandanglah keempat pohon tomat di dalam pot yang ada di

depan kita. Ada tidak kesadaran kita muncul dengan pekat bahwa

ternyata pohon tomat itu hanya sekedar bersandar saja kepada

Page 26: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-26

liputan Sang Muhith tanpa daya tanpa upaya. Kesadaran itu bukan

hanya dalam bentuk keilmuan lagi, tapi lebih dalam bentuk suasana

dan rasa. Ada ruangannya untuk kesadaran itu. Amatilah sampai

ketemu posisi duduk kita yang tepat dalam memandang pohon

tomat itu yang diliputi Sang Muhith.

d. Kalau sudah ketemu duduknya, maka amatilah tangan kita agak

sejenak dua jenak. Sadari pulalah bahwa ternyata tangan kita, tubuh

kita, dan penglihatan kita juga ternyata berada dalam liputan Sang

Muhith. Sebab tidak ada suatu apapun yang bisa luput dari liputan

Sang Muhith. Derr !

Sekarang nyatakanlah bahwa saya akan menjadi wakil Tuhan untuk

memanfa’atkan tangan saya ini dalam aktivitas yang akan saya

lakukan ini. “Bismillah, atas nama Sang Muhith, saya melakukan

aktivitas ini.”

Lalu mulailah berbicara dengan Sang Muhith:

• “Ya Allah, apa yang terjadi ya Allah,

• Kalau tomat di pot yang bertama ini tidak saya apa-apakan,

• Sedangkan pot yang kedua saya kasih pupuk sebanyak 2 mg,

• Tomat di pot ketiga saya kasih pupuk satu sendok teh, dan

• Pot yang keempat saya kasih pupuk 10 sendok makan ?”

Ukurlah tinggi batang tomat itu masing-masing, begitu juga lingkaran

batangnya, besar daunnya. Catatlah apa-apa yang terlihat. Lalu dengar-

kanlah dan lihatlah bagaimana jawaban Allah atas pertanyaan kita tadi

itu. Jawaban Allah begitu pasti, tidak pernah keliru, tidak pernah

meleset, begitu jelas.

Hari pertama, catatlah semua yang terjadi. Hari kedua dan hari-hari

berikutnya juga begitu. Catatlah semua perubahan yang terjadi. Misal-

nya, ukuran dan tinggi batangnya menjadi seperti apa, daun dan buah

di masing-masing pot menjadi seperti apa. Sampai kita temukan jawab-

an yang sangat jelas atas pertanyaan kita di atas atas perbedaan

Page 27: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-27

perlakuan pemupukan kita terhadap ketiga batang tomat itu. Jawaban

Allah itu begitu jelas.

Nah,

. . . seperti itulah salah satu cara Tuhan berbicara dengan kita.

Bahasa Tuhan itu begitu jelas. Bahasa yang bisa dipahami oleh

seluruh umat manusia. Bahasa yang bukan berupa

rangkaian kata-kata, huruf-huruf, dan kalimat-kalimat.

Ya, bahasa yang bukan aksara dan bukan pula bunyi. Sekarang terserah

kita saja mau membahasakannya. Mau mau dibahasakan ke dalam

bahasa Indonesia hayo, ke dalam bahasa Arab juga boleh, terserah kita.

Karena di awal aktivitas kita sudah berada di dalam sebuah kesadaran

bahwa pohon tomat itu hanyalah bersandar kepada Sang Muhith, dan

setiap perubahan yang terjadi terhadap batang tomat itu juga adalah

karena adanya daya dan gerak hidup dari Sang Muhith, maka dengan

mudah sekali kita akan bisa mentranslasi (menerjermahkan) jawaban

Tuhan itu ke dalam segala bahasa. Misalnya translasi yang sangat

sederhana seperti berikut ini:

“Hai Deka, kau perhatikanlah batang yang di pot kedua itu.

Kualirkan daya hidup-Ku melalui batang itu. Lihatlah, Tinggi dan

lingkaran batangnya Kujadikan sekian centi meter, daunnya Ku-

hijaukan, buahnya Kulebihkan dari batang yang tidak diberi pupuk

di pot yang pertama. Lalu perhatikan pulalah apa yang Kulakukan

terhadap batang tomat yang ada di pot ketiga. Betapa batang daun

dan buahnya Ku buat lebih baik lagi dari batang yang ada pot yang

pertama dan pot yang kedua. Kau laihat pula itu, batang yang ada

di pot keempat, batang daun, dan buahnya tidak bisa tumbuh lagi

dengan baik, karena kau telah memberikan pupuk terlalu berlebihan

ke dalam pot yang keempat itu. Tidakkah Aku ini Maha Mengatur

semua ciptaan-Ku ? Bukankah Aku ini Maha Hebat ? Tidakkah

semua yang Kulakukan itu sangat bermanfaat bagimu, sehingga

Page 28: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-28

engkau bisa mendapatkan hasil yang optimum dari sebuah aktivitas

pertanian tomat ?”

Translasi-translasi seperti ini sangatlah pribadi sekali sifatnya. Dan

jawaban-jawaban Allah atas pertanyaan kita juga akan berkembang se-

demikian rupa di setiap saat. Hari ini kita mungkin kita baru bisa

mengerti jawaban Allah tentang batang, daun dan buah. Pada masa

mendatang, kalau kita tetap telaten bereksperiment, maka jawaban

Allah juga akan semakin detail. Sampai kita bisa mengerti tentang ilmu

genetika tomat, dan sebagainya.

Jawaban Allah pastilah selalu tersedia, dan baru pula. Karena

memang ilmu Allah tidak akan pernah habis-habisnya untuk

dicurahkan-Nya kepada kita semua, terutama untuk kita yang mau

dan bersedia membaca bahasa Tuhan di setiap sudut yang terlihat.

Sehingga tiada lain yang bisa kita ucapkan kepada Sang Muhith : “Tia-

dalah semua itu Engkau ciptakan dengan sia-sia, Maha Suci Engkau,

Peliharalah kami dari siksa dan nestapa apapun juga atas apa-apa yang

kami dapatkan hari ini !”

Jadi :

. . . bagi orang yang beriman,

setiap aktivitasnya akan disandarkannya

kepada Sang Muhith.

Ada aktivitas Allahnya di awal, di tengah, dan di akhir setiap proses

yang dilakukannya.

Sebab tiada suatu peristiwapun yang luput dari aktivitas Allah. Dengan

begini, maka ayat 190-191 surat Ali Imran itu sudah menjadi keseharian

kita saja. Kita tidak perlu lagi membuat ayat-ayat baru untuk menan-

dingi ayat ini. Karena ayat ini merupakan sebuah bahasa Tuhan yang

sangat esensial (mendasar) yang berhasil ditranslasikan menjadi bahasa

manusia (bahasa Arab) oleh manusia paripurna, Muhammad SAW.

Page 29: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-29

Kalau kita coba-coba untuk menyatakan bahwa Tuhan berkata kepada-

Ku : “Hai Deka", dan seterusnya, seperti di atas, menjadi sebuah ayat

baru. Khan ayatnya akan menjadi aneh bagi kebanyakan orang.

Cukuplah translasi bahasa Tuhan itu hanya buat kita sendiri saja. Itu

untuk menyadarkan kita bahwa ternyata kita memang punya Tuhan

yang sangat aktif mengajari kita

terhadap apa-apa yang belum kita ketahui.

Dan kita sangat bisa berbicara dengan Tuhan dengan cara seperti ini

untuk berbagai hal yang ada di sekeliling kita. Tanpa batas. Jawaban

Tuhanpun akan tanpa batas pula.

Jawaban Tuhan adalah segala ilmu yang telah berhasil, sedang, dan

yang akan dibaca oleh seluruh umat manusia di segala penjuru

dunia. Karena ilmu Tuhan memang tidak akan pernah obsolet. Ilmu

Allah akan selalu baru, up to date sepanjang masa.

Cuma saja, bagi bagi orang yang tercover, kafir, dia tidak mampu

menyandarkan segala aktivitasnya kepada kesibukan Sang Muhith. Ya,

dia tidak sadar sedikitpun realitas Sang Muhith, walau dia sendiri tahu

dan hafal bahwa ada Tuhan yang mengatur segala sesuatunya di dunia

ini. Dia hanya akan melihat batang-batang tomat itu tumbuh dan

bergerak dengan sendirinya. Dan setiap perbedaan pertumbuhan ba-

tang tomat itupun dia yakini hanyalah akibat dari pengaruh perbedaan

pemupukan semata-mata. Tidak lebih.

Berbicara dengan Allah tentang Diri Kita

Tentang diri kita sendiripun Allah ternyata punya bahasa yang sangat

jelas untuk bisa kita baca dan pahami. Sebelumnya, marilah kita lihat

dulu jargon-jargon umum yang sangat kental kita ucapkan dalam

kehidupan kita sehari-hari:

Page 30: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-30

• Saat kita berbicara tentang sesuatu, atau melakukan perbuatan

tertentu, kita sering mengatakan: Segala yang baik adalah dari Allah,

dan yang buruk adalah dari dari kebodohan kita sendiri ?

• Saat kita ditimpa suatu musibah atau disinggahi hal-hal yang tidak

mengenakkan, kita sering berkata: Saya pasrah saja kepada Allah, ini

sudah merupakan kehendak Allah, kata kita mantap sekali (walau

sebenarnya kalimat itu lebih cocok untuk menghibur-hibur diri kita

sendiri karena saat itu kita merasa sudah tidak berdaya sama sekali).

Namun anehnya, begitu musibah itu sudah tidak kita rasakan lagi,

dan kita kemudian mendapatkan hal-hal yang mengembirakan, dapat

durian runtuh, maka kita biasanya lupa. Kita lebih banyak mengaku

bahwa: Semua itu adalah hasil usaha kita sendiri. Walaupun kita

sempat menyebutkan bahwa keberhasilan kita itu adalah atas

anugerah Tuhan juga, akan tetapi ungkapan kita itu lebih banyak

hanya karena basa-basi saja. Biar kita dianggap sebagai orang yang

beragama dan shaleh pula. Lebih mengarah ke jaim saja sebenarnya.

Dari dua hal ini sajalah dulu kita memahami tentang bagaimana cara

Allah berbicara dengan kita.

Untuk itu, marilah kita kembali menjadi Sang Angin, Sang Sir, Ar Ruh.

Dan marilah kita kembali menuju ke rumah kita, Rumah Angin, Sang

Muhith. Sebuah Ruangan yang di sana tidak boleh ada sesuatu wujud

dan rupa apapun juga selain Wujud dan Rupa Sang Muhith. Lalu

menghadaplah kepada Wujud Sang Muhith dan tegaskanlah:

• “Laa Ilaha illallah, tiada lagi wujud yang ada kecuali hanya Wujud

Engkau Wahai Allah, Sang Muhith.”

• “Laa Ilaha illallah”, dan diamlah sejenak di rumah kita yang hakiki ini.

Dari rumah kita ini, Rumah Angin, marilah kita kembali turun ke bumi.

Turun kembali ke tanah. Kita turun untuk mengamati bagaimana Sang

Muhith sangat sibuk mengatur saripati tanah yang sudah diemplek-

emplek-Nya menjadi sebuah bentuk yang sangat sempurna, diri

manusia :

Page 31: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-31

• Pertama, marilah kita lihat dua bulatan kecil yang di dalamnya ada

lensa dan retina. Ya, mata…!

• Pandanglah Sang Muhith. Lihatlah bagaimana Dia meliputi mata itu

dengan pasti. Lalu cobalah tanyakan kepada Sang Muhith: apa yang

bisa kulakukan dengan dua bulatan kecil itu wahai Tuhanku ?

• Untuk mendengar jawaban Sang Muhith atas pertanyaan kita itu.

Cobalah sejenak lewati kedua bulatan kecil itu dengan penglihatan

kita. Arahkanlah penglihatan kita melewati kedua lensa mata itu

menuju alam yang ada di sekitar kita.

• Dan ternyata jawaban Sang Muhith kepada kita begitu pasti dan jelas.

Tidak perlu kata-kata dan kalimat lagi untuk menjelaskannya. Dia

menjelaskan apa yang kita tanyakan itu melalui jawaban-Nya yang

pasti, yaitu Jawaban Penglihatan. Sebuah jawaban yang bisa

ditangkap oleh seluruh umat manusia

• Sekarang terserah kita saja untuk mentranslasikan bahasa pengli-

hatan itu menjadi bahasa manusia berupa Bahasa yang ada bentuk-

nya, ada rupanya, dan ada warnanya.

• Untuk selanjutnya Sang Angin pun tinggal ikut saja mengalir bersama

aliran rasa melihat itu menuju apa saja yang bisa terlihat dengan

lensa mata ataupun dengan lensa-lensa bantuan lainnya seperti

mikroskop dan teleskop. Dan di setiap aliran rasa melihat itu, Sang

Muhith selalu berbicara dengan Sang Angin melalui bahasa-Nya yang

sangat jelas sekali. BAHASA RASA MELIHAT, dan bahasa itupun hanya

bisa ditangkap Sang Angin melalui lensa mata, bukan dengan mulut,

bukan dengan telinga, dan bukan pula dengan lidah dan kulit.

• Dari satu rasa melihat Sang Anginpun bergerak dan berenang menuju

rasa melihat lainnya yang nyaris tanpa batas. Dan semuanya itu

terjadi tepat di dalam liputan Sang Muhith.

• Di sini pulalah tempat Tuhan berkata-kata dengan kita dalam bahasa

rasa melihat untuk mengajari kita tentang apa-apa yang belum kita

ketahui. Seperti juga yang telah dialami oleh Qabil ketika dia diajari

oleh Allah tentang bagaimana caranya menguburkan mayat

saudaranya Habil melalui seekor burung gagak:

Page 32: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-32

Yang Tercover dari Bahasa Tabir

Betapa kita ini sebenarnya hampir semuanya punya mata dan punya

telinga. Akan tetapi seringkali pula dengan mata dan telinga kita itu kita

tidak berhasil membaca bahasa Tuhan dengan telaten dan bersungguh-

sungguh. Sehingga apa-apa bahasa Tuhan yang mengaliri kedua mata

dan telinga kita itu tidak berhasil membuat kita tercerahkan. Tidak ada

ilmu yang kita dapatkan. Tidak ada kepahaman yang bisa kita ambil.

Misalnya, mata kita memang melihat, tapi melihat kita itu hanya saja

sama dengan melihatnya seekor sapi di tengah hamparan rumput. Kita

tidak sedikitpun tercerahkan. Sapi melihat rumput itu hanya sekedar

sebagai rumput untuk sekedar makanan pemenuhan kebutuhan

perutnya saja. Tidak lebih.

Padahal di sehelai rumput itu Tuhan sedang mengajarkan siapa saja

tentang berbagai jenis rumput dan penggunaannya,

• bagaimana agar rumput itu bisa tumbuh segar dan menghijau,

• bagaimana struktur genetikanya,

• bagaimana agar rumput itu memberikan hasil yang masksimum

terhadap pertumbuhan sapi dan susunya,

• bagaimana bio energi tersimpan di sana,

• dan, dan . . . !

Ah, itu baru satu tabir-Nya saja yang kita amati, di sehelai rumput.

Padahal tabir-Nya ada di setiap sudut yang terlihat dan nada yang

terdengar. Bagaimana kita juga sepertinya tercover dari perkataan

Tuhan yang dialirkan-Nya melalui tabir-Nya yang lain seperti

• di tabir seruling,

• di tabir gendang,

• di tabir piano,

• di tabir suara dan nada,

• di tabir bebunyian,

• di tabir tangis dan tawa manusia,

• di tabir lidah dan gendang suara orang-orang di sekitar kita,

Page 33: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-33

• di tabir,

• di tabir Alam Semesta.

Kita seringkali mendengarkan aliran nada, irama, dan suara tabir-tabir

itu seperti sikap seekor kucing yang tanpa ekspresi mendengarkan

nyanyian Bimbo, atau bisa pula hanya seperti seekor ular cobra yang

meliuk liar kian kemari mendengarkan alunan terompet India. Semua

itu kita lakukan seperti tanpa pencerahan dan tanpa pemahaman baru

pula.

Beethoeven dan Kitaro adalah sedikit dari manusia-manusia yang

mampu menangkap keindahan bahasa Tuhan itu di tabir suara dan nada

ini dengan sangat baiknya, dan beliaupun mampu pula menerjemah-

kannya menjadi susunan tangga irama dan nada musik yang bisa

dinikmati oleh siapa saja.

Upss, ada yang menyela nih: musik dan nyanyian itu kan haram kata

hadist Nabi ! Untuk menjawab selaan ini sebenarnya capek juga.

Soalnya biasanya kalau sudah untuk hal-hal seperti ini pola berfikir

setiap orang akan sangat bervariasi sekali. Namun secara singkat saja,

menurut kepahaman saya sendiri,

. . . musik dan nyanyian itu netral saja sifatnya. Manfaatnya

tergantung kita saja sebenarnya.

Mau kita bawa ke mana guna musik dan nyanyian itu bagi kita. Mau kita

bawa sebagai alat yang melalaikan kita kepada Tuhan atau mau kita

jadikan sebagai alat untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Mau

kita jadikan sebagai alat kita untuk mengafirmasi diri kita menuju

kebaikan, kebahagiaan, kegembiraan, ataupun sebaliknya untuk

mengafirmasi diri kita menuju kesedihan, kegalauan, kesengsaraan, dan

kejatuhan kita, ya terserah kita saja.

Nah, haramnya musik dan nyanyian itu hakekatnya adalah ketika musik

dan nyanyian itu menyeret-nyeret kita kepada suasana lalai kepada

Tuhan dan mengafirmasi diri kita pula untuk sengsara, sulit, dan

suasana tidak baik lainnya. Ndak setuju, ya ndak apa-apa.

Page 34: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-34

Yang pasti adalah bahwa Allah tanpa capek sedikitpun selalu berbicara

kepada seluruh umat manusia di setiap saat di setiap tabir yang bisa kita

lihat dan kita dengar. Mata dan telinga kitapun, sebagai alat untuk

membaca perkataan Tuhan di balik tabir, tidak pula buta dan tuli. Dan

apa yang dibicarakan Tuhan melalui tabir-Nya kepada kita dalam rangka

pengajaran-Nya kepada kita, kalau kita translasikan menjadi bahasa

manusia, juga hasilnya adalah sesuatu yang pasti-pasti saja, yaitu

penciptaan alat-alat dan benda-benda baru yang semuanya itu pasti

pula bermanfaat bagi kita sendiri. Hasil-hasil ini adalah sebagai salah

satu pertanda bahwa Dia memang adalah Al Khaalik, Sang Pencipta.

Misalnya, bahasa Allah di tabir angin, watashriifirriyaah (bahasa angin

yang dikisar-kisarkan Allah, lihat :

Al Baqarah (2 : 186)

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-

tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum

kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyim-

pannya.”,

Kalau kita mau mendengar dan membacanya (iqra) lalu mentransla-

sikannya ke dalam bahasa kita sendiri, akan membuahkan wujud balon

udara, pesawat terbang, helikopter, listrik tenaga angin. Sebuah pesa-

wat terbang bisa melayang diudara karena adanya perbedaan kisaran

angin yang dibelah oleh lembaran sayap pesawat terbang tersebut.

Di tabir angin, Allah juga tengah mengabarkan berita gembira kepada

kita tentang :

a. Bagaimana cara Dia mengalirkan rahmat-Nya bagi kehidupan kita

melalui hujan yang diturunkan-Nya - lihat :

Al A’raf (7 : 57)

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita

gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila

angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu

Page 35: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-35

daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka

Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-

buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang

telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”

b. Bagaimana cara-Nya dengan sangat mudah meluncurkan bahtera di

lautan :

Yunus (10 : 22)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,

maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan

permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku,

maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan

hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada

dalam kebenaran.”

c. Bagaimana cara-Nya mengawinkan tumbuh-tumbuhan :

Al Hijr (15 : 22) :

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-

tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri

minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang

menyimpannya.”

d. Dan sebagainya.

Dan melalui tabir angin ini pula Allah

Di tabir angin pula Allah tengah memperingati kita agar kita berhati-hati

dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya menghadapi cara-Nya

menghancurkan suatu negeri dengan mudahnya melalui kisaran angin

tornado, badai taufan, puting beliung, hurricane, dan sebagainya

Bahasa Allah di tabir petir, kalau kita translasikan dengan baik ternyata

telah melahirkan listrik dan berbagai cara untuk pembangkitan dan

penggunaannya. Dunia maya e-mail dan website adalah salah satu

manfaat yang bisa kita petik dari bahasa-Nya di tabir petir ini.

Page 36: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-36

Sungguh Allah tidak pernah berhenti sedetikpun berbicara dengan kita

melalui tabir-tabir-Nya yang tak terbatas. Dan sebenarnya semua pem-

bicaraan-Nya itu Dia tujukan untuk Sang Angin yang bersedia untuk

turun ke dunia untuk menjadi wakil Allah untuk membangun dunia.

Karena semua itu memang untuk Sang Angin : Li Ulil Albab, Lil Muttaqin,

Liqaumiy yattaqun, Liqaumuy yatafakkarun. Untuk Lil Mukminin ! Yaitu,

orang-orang yang mampu berdialog dengan Tuhan melalui mata dan

telingannya. Karena Allah sebenarnya tengah berbicara kepada kita,

yang kalau ditranslasikan menjadi sebuah bahasa yang sederhana bisa

saja berbunyi : “Kau sadarilah wahai hamba-Ku, Akulah yang mengalir-

kan penglihatan itu melalui kedua matamu dan melewatkan pendengar-

an itu melalui kedua telingamu, sehingga engkau bisa melihat dan men-

dengar apa-apa yang ada disekitarmu. Kau lihatlah keindahan tetum-

buhan dan bebungaan yang bermekaran disentuh lembut oleh rona

cahaya matahar yang Ku-alirkani melalui kedua lensa matamu itu. Kau

dengar pulalah suara lembut kicauan burung-burung yang ditingkahi

desahan lembut nyanyian dedaunan yang Ku-alirkan melalui kedua

lobang telingamu itu.”

Sesekali, Sang Mukminin, Sang Angin mengaturkan sembah dan puji

kepada Sang Muhith: “Subhanaka, Benarlah Engkau Maha Suci.”

Lalu Sang Anginpun memandang dengan penuh takjub bagaimana diri-

nya yang hanya berupa seonggok sari pati tanah disujudkan dan disung-

kurkan oleh Sang Muhith dalam sebuah sikap pemujaan kepada-Nya.

Begitu juga, Sang Anginpun dengan terheran-heran saja menyaksikan

betapa tetesan cairan bening mengalir deras dari sudut bola matanya.

Itu, itu, itu semuanya, adalah tanda-tanda-Ku yang perlu, kau amati, kau

baca, kau lihat, kau dengar dan kau catat (terjemahkan ke dalam

bahasamu sendiri), sehingga kau beserta keturunanmu kelak bisa pula

mendapatkan manfaat dari kesemuanya itu. Karena semuanya itu

memang Aku ciptakan hanyalah untuk kebaikanmu semata. Tidakkah

Aku ini sangat hebat menurut hematmu wahai hamba-Ku ? Kalau tidak,

Page 37: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-37

“Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukazzibaan”3, dengan cara yang bagai-

mana lagikah kiranya Aku ini harus membacakan bahasaKu untukmu

agar engkau tidak lagi mendustakan-Ku ?

Akan tetapi jawaban kita apa ? Duh Gusti,

. . . alih-alih kami ini mau mendengarkan bicara-Mu

di tabir-tabir-Mu itu,

kami malah sibuk sendiri-sendiri membela diri dan

kelompok kami masing-masing.

Sehingga mata dan telinga kita tidak dipakai lagi oleh Allah untuk

mengalirkan segenap ilmu dan pencerahan-Nya.

• Sunni dan berbagai turunannya hanya sibuk membela kesuniannya,

• Syi’ah dan berbagai sekte-sektenya hanya sibuk membela kesyi’ah-

annya,

• Salafi dengan pecah-pecahannya hanya sibuk membela kesalafi-

annya,

• Partai-partai hanya sibuk membela kepartaiannya,

• Hizb-hizb hanya sibuk membela kehizbannya,

• Tariqah-tariqah hanya sibuk membela ketariqahannya.

Sibuk, sibuk, sibuk ¡ Semua saling sibuk untuk membela baju dan jaket-

nya masing-masing. Malah untuk mendukung kesibukan-kesibukan kita

itu, kita pakai pula ayat-ayat al Qur’an dan al hadist dengan semangat

empat puluh lima. Maju tak gentar, membela . . . baju kita masing-

masing tentunya.

Oleh sebab itu :

. . . jangan salahkan siapa-siapa, tatkala ada orang lain yang mau

dan bersedia membaca perkataan Allah di tabir-Nya dan

memperoleh hasil yang sangat mampu pula membuat umat

manusia merasakan syurga di dunia ini.

3 Ar Rahmaan, sebanyak 31 kali !

Page 38: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-38

Padahal umat islam selalu berdo’a “Rabbana aatina fiddunya hasanah”,

ya Allah berikanlah kami kebahagiaan, kemudahan (syurga) di dunia ini.

Akan tetapi begitu Allah berkata : Tuh, kemudahanmu, kebahagiaanmu

ada di tabir angin, di tabir listrik. Bacalah ! Eh malah kita asik dengan diri

kita sendiri.

Walaupun begitu, karena kasih dan sayang Allah saja, do’a kita untuk

mendapatkan kebahagiaan, kemudahan di dunia ini, ternyata masih

tetap dikabulkan-Nya. Kita masih diberi nikmat oleh Allah untuk bisa

menikmati kemudahan-kemudahan yang membahagiakan dalam hal

aktivitas keseharian kita seperti kegiatan transportasi, komunikasi,

pengobatan, dan sebagainya. Namun sayangnya,

. . . hampir kesemuanya itu kita dapatkan melalui tangan orang-

orang yang bukan muslim. Kita hanya menjadi pengekor saja.

Lalu, selain tidak dipakainya mata dan telinga kita oleh Allah untuk

berbicara, sehingga mata kita ini seakan-akan buta, apa lagi kekeliruan

kita ini sebenarnya ? Sampai-sampai kita umat islam ini dicap sebagai :

• umat yang berilmu pengetahuan rendahan, dan

• wajah yang bengis menakutkan pula ?

Padahal dulunya tidak begitu. Apa kita lagi yang buta sebenarnya ?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semua manusia ini, mari kita

lihat dulu sebuah ayat yang menyatakan tentang profil seorang manusia

yang dianggap sempurna:

As Sajdah (32 : 7-9)

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan

yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia men-

jadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian

Dia menyempurnakan dan meniupkan kepadanya Ruh-Nya dan Dia

menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi)

kamu sedikit sekali bersyukur.”

Page 39: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-39

Oopppss, sebagai alat kesempurnaan seorang manusia, di samping ada :

• dua bola mata tempat di mana Allah mengalirkan rasa melihat dari-

Nya, dan

• dua lobang telinga tempat di mana Allah mengalirkan rasa

mendengar dari-Nya, ternyata

• ada pula HATI (AF IDAH, FUAD), yang bisa dilewati oleh Sang Angin

(Ar Ruh).

Hati…! Di manakah letaknya, wujud macam apakah dia, dan bagaimana

pula sifatnya? Bahasa, perkataan, dan manfaat macam apakah

gerangan yang dialirkan Allah melaluinya? Dan seberapa pentingkah dia

bagi seorang manusia?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, banyak sekali buku yang

telah diterbitkan orang. Dan malah sudah sedemikian dalam dan

njlimetnya tentang hati ini dibahas, sehingga kadang-kadang itu bisa

membuat kita bingung. Namun sebagai tanda sumbangsih saya untuk

teman-teman di milis Dzikrulah ini, saya akan coba pula mengupasnya

sekalimat dua kalimat.

Membaca Hati

Saat yang paling mudah untuk menjawab pertanyaan tentang :

• di mana letak hati ini, dan

• bagaimana pula wujud, serta

• sifatnya,

adalah saat kita berada di tengah keramaian manusia.

Tempat di mana kita saling berinteraksi dengan berbagai macam karak-

ter dan profil manusia lainnya, serta masing-masingnya dengan berba-

gai kepentingan yang berbeda pula. Misalnya di jalan raya yang padat

dengan kendaraan, di tempat bekerja, di tempat ibadah, atau bahkan

saat kita hanya berduaan saja dengan pasangan kita (suami/istri).

Di tengah-tengah keramaian manusia itu, amatilah DADA kita dengan

seksama. Ya, amatilah dada kita sendiri. Karena di dada (sudur) inilah

Page 40: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-40

hati ini berada. Kita tidak perlu mengurai lagi dada bagian yang mana,

hati yang mana, atau bagi yang sudah advance, pojok (lathaif, cakra)

bagian mana dari dada kita itu, atau apakah hati dalam pengertian

daging dan darah atau apa…! Tidak usahlah untuk sementara waktu kita

terlalu sibuk bertanya-tanya tentang dada kita ini. Pokoknya amati

sajalah dada kita.

Sambil mengamati dada kita itu, mulailah kita bergerak di tengah-

tengah keramaian manusia itu. Misalnya, bagi yang memiliki kendaraan,

mobil atau motor, bergeraklah di jalan raya agak ke tengah dengan

kecepatan sekitar 30-40 km/jam. Berkendaralah dengan tenang. Tidak

sampai dalam hitungan dua menitan, tiba-tiba akan terdengar klakson

kendaraan lain menyalak: “Diin-diinn.” Buat sejenak biarkan saja suara

klakson itu berlalu. Amati sajalah dada kita dengan seksama. Ada ilham

apa yang muncul di dalam dada kita itu. Dalam hitungan beberapa detik

kemudian klakson kendaraan dibelakang kita akan menyalak lebih

garang lagi: ”Diiiiinnnn, Diiiiinnnn”. Apa yang terjadi di dalam dada kita

??? Apa lagi kalau kemudian mobil yang di belakang kita itu menyalib

dari arah kiri sambil pengemudinya melotot dan membunyikan klakson-

nya lebih garang lagi, dan buntut mobilnya pun digoyangkannya hampir

menyentuh kendaraan kita. Apalagi kalau keadaan seperti di atas terjadi

berulang-ulang dengan kendaraan dan orang yang berbeda. Teruslah

amati dada kita dengan sangat seksama. Apa gerangan suasana dan

rasa yang muncul di dalamnya … ?

Mari kita berjalan mengamati dada kita itu. Suasana dan rasa yang

mulai mengalir di dalam dada kita itu hanya dua saja kemungkinannya.

a. Kemungkinan pertama, suasana ruang dada kita itu mulai terasa

sesak dan sempit. Suasana kesempitan dada itu kemudian diterus-

kan ke dalam otak kita untuk kemudian otak kita itu mengeluarkan

hormon dan enzim-enzim yang memacu nafas kita bergerak lebih

cepat dari biasanya, bahkan bisa pula tersengal-sengal seperti kita

sedang mendaki gunung yang tinggi. Darah kita mengalir dengan

Page 41: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-41

tekanan yang lebih besar. Jantung kita berdegup dengan kebih ce-

pat. Muka kita mulai memerah, otot-otot kita juga mulai menegang.

Seiring dengan itu mulai pula mengalir rasa marah ke dalam dada

kita. Setiap orang akan mengerti apa itu marah. Rasa marah ter-

sebut tidak perlu didefinisikan lagi. Rasa marah itu begitu pas meng-

alir di dalam dada kita. Rasa marah itu kemudian membuat ruang

dada kita menjadi lebih sempit lagi. Kesempitan ruangan dada kita

itu diteruskan kembali ke otak untuk kemudian otak lebih mening-

katkan lagi sekresi hormon dan enzim yang mempengaruhi gerakan

nafas dan tekanan darah kita. Lalu semua itu lebih mempengaruhi

lagi gerak jantung, rona muka, dan otot-otot kita terutama otot

tangan, otot kaki, dan mulut beserta isinya. Hal tersebut akan meng-

alirkan rasa marah yang lebih besar lagi masuk ke dalam dada kita.

Kombinasi dan resonansi saling memperkuat antara suasana kesem-

pitan ruangan dada dengan rasa marah yang terus meningkat ini

dengan mudah akan menimbulkan tindakan-tindakan yang dikate-

gorikan sebagai tindakan yang buruk. Misalnya, apa saja yang ver-

ada di samping kita, bisa menerima muntahan rasa marah itu. Sum-

pah serapah dengan sangat mudahnya mengalir dari bibir dan lidah

kita. Seluruh isi kebun binatang bisa kita absen satu persatu dengan

semangat empat lima. Seorang ibu dengan anaknya yang ingin

menyeberang jalan bisa pula jadi alamat kita untuk menumpahkan

rasa marah itu, dengan kita membunyikan klakson mobil kita de-

ngan keras, sehingga sang ibu dan anaknya sampai meloncat kaget

tidak jadi menyeberang dengan jantung serasa hampir copot. Otot-

otot tangan dan kaki kita dengan mudahnya akan berkontraksi de-

ngan cepat sehingga gas kita tekan dengan lebih dalam dan stir kita

putar-putar dengan gagah berani menyalib kiri dan kanan untuk

mengejar pengendara mobil yang telah berani-beraninya menyalaki

kita tadi.

Dan kalau dua orang dengan suasana ruang dada yang sempit dan

sedang dialiri pula oleh rasa marah-marah, maka kejadian yang

Page 42: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-42

muncul bisa lebih sadis dan lebih ganas dari pada bertemunya dua

ekor gorila jantan yang sedang memperebutkan seekor gorila

betina. Tangan dan kaki kedua orang itu bisa saling memukul dan

saling menendang dengan ganas, apa saja bisa menjadi senjata,

teriakan-teriakan keraspun saling membahana, mata saling melotot

tajam.

Dan anehnya, semua kejadian di atas seperti mengalir begitu saja

tanpa bisa kita cegah dan tahan sedikitpun. Kita seperti berada

disebuah perahu yang sedang di seret oleh arus yang sangat kuat.

Kita kehilangan kayuh. Kita kehilangan kemudi. Kita tidak bisa apa-

apa untuk ke luar dari seretan kuat arus rasa marah itu. Ada orang

lain yang coba-coba menasehati kitapun akan kecipratan rasa marah

kita pula. Kita seperti tidak mempan untuk ditolong oleh orang lain,

walau oleh oran yang paling dekat dengan kita selama ini. Mengaji

kita, shalat kita, puasa kita yang kita lakukan selama inipun seperti

tidak bisa membantu kita sedikitpun.

Duar, darah pun bisa tumpah ke jalanan, bahkan tidak jarang pula

bisa menimbulkan kematian. Lalu saat itulah baru muncul aliran

rasa menyesal masuk ke dalam dada kita. Begitu menyesal, maka

rasa marah di dalam dada kitapun hilang seketika. Digantikan oleh

rasa menyesal yang dalam.

Kita mulai sedikit sadar bahwa sebenarnya kita tidak ingin membu-

nuh orang tersebut, tapi semuanya tidak bisa kita tahan. Kita me-

ngatakan bahwa rasa marah kita sudah sampai kepuncaknya se-

hingga terjadilah pembunuhan itu. Tiba-tiba dada kita dialiri pula

oleh rasa takut, takut ditangkap, takut dipenjara, takut. Begitu rasa

takut itu mengalir ke dalam dada kita, maka rasa menyesal pun akan

lenyap pula dengan seketika.

Rasa takut itu mengalir ke dalam otak kita dan dari sana keluarlah

berbagai rencana untuk menutupi pembunuhan kita itu tadi. Kita

mulai beralibi, kita mulai berbohong, kita mulai merancang berbagai

rencana bohong. Kita bergerak dari satu kebohongan ke kebo-

Page 43: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-43

hongan lainnya, dari satu alibi ke alibi lainnya. Semua kebohongan

itupun seperti mengalir begitu saja dengan lancar. Walaupun kita

tahu bahwa semua yang kita ucapkan itu adalah bohong, akan

tetapi kita juga seperti tidak bisa ke luar dari kebohongan itu. Kita

seperti ikut mengalir saja di atas arus kebohongan itu.

Begitu orang percaya dengan kebohongan kita, maka ada segurat

rasa senang muncul di dalam dada kita, sehingga rasa takut kita pun

hilang agak sesaat. Ini yang disebut dengan rasa senang berbohong.

Kalau sudah begini, maka kebohongan berikutnya akan muncul

dengan lebih meyakinkan dan lebih canggih lagi. Lalu hidup kita

akan bergerak dengan penuh kebohongan. Dan ternyata kebohong-

an itu pada akhirnya akan menuai rasa tersiksa pula, siksa akibat

berbohong.

Akan tetapi tatkala pembunuhan yang kita lakukan diketahui oleh

pihak yang berwajib, dan singkat kata kita divonis dengan hukuman

penjara (seumur hidup pula), maka hari-hari berikutnya dada kita

akan dialiri oleh rasa tersiksa, tersiksa, terus tersiksa. Dan tersiksa

inilah salah makna dari istilah NERAKA.

Jadi suasana ruang dada yang sempit

akan sangat mudah dialiri oleh rasa marah, rasa iri, rasa benci,

rasa takut, rasa menyesal, rasa senang dan bahagia yang semu

dan dangkal

(hanya guratan kecil saja).

Keadaan kita secara ketubuhan pun akan kelihatan dengan nyata.

Wajah kita tegang dan kaku, kening kita berkerut marut, mata kita

tidak ramah, kita mudah sekali melayangkan tangan memukul dan

menyiksa orang, tindakan kita tergesa-gesa, kita mudah berbohong.

Kebaikan kita pun lebih banyak dibuat-dibuat, JAIM.

b. Kemungkinan kedua, suasana ruang dada kita itu TETAP terasa

lapang. Suasana dada yang lapang itu akan mengalirkan impuls

listrik ke otak, sehingga otak mengeluarkan hormon dan enzim yang

Page 44: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-44

sifatnya menimbulkan gelombang yang tenang di otak kita. Otak kita

menjadi rileks, yang menyebabkan nafas kita tetap mengalir dengan

tenang dan ringan, darah kita mengalir dengan tekanan yang

normal. Ruang dada yang luas, otak yang rileks, nafas yang ringan,

darah yang mengalir lancar dan tekanan yang normal, akan

menimbulkan rasa senang dan bahagia di dalam dada kita. Rasa

senang akan tambah memperluas suasana ruangan dada kita. Dan

dada yang bertambah luas akan tambah memperileks gelombang

otak kita, memperhalus gerakan nafas kita, dan membuat aliran

darah kita begitu sempurna.

Kalau sudah begini, maka saat kita disakiti, dijahili, dikerjain orang,

atau dijahati orang, kita hanya merasa terheran-heran saja. Lho, kok

tidak ada rasa marah yang masuk mengalir di dalam ada kita. Rasa

marah akibat dijahati orang lain itu sedemikian kecilnya tenggelam

di tengah-tengah keluasan ruangan dada kita.

Kita dengan mudah minggir ke tepi saat ada orang yang ingin duluan

dari kita saat kita berkendaraan. Kita dengan mudah akan berhenti

dan mempersilahkan seorang ibu dengan anaknya menyeberang

jalan dengan aman. Kita akan dengan mudah untuk tidak meng-

ganggu dan menyakiti orang lain. Kita juga akan patuh terhadap

aturan yang pada intinya adalah untuk membahagiakan kita dan

orang lain. Ya, yang ada adalah rasa kasih, sayang, dan bahagia yang

mengalir penuh di dalam dada kita. Syurga.

Dan anehnya, setiap rasa kasih dan sayang yang muncul di dalam

dada kita, akan lebih memperluas pula dada kita, akan menambah

pula rasa bahagia kita. Tidak hanya itu, setiap penglihatan dan

pendengaran kita akan dialiri pula oleh pencerahan-pencerahan

baru. Apapun yang kita lihat dengan mata dan yang kita dengar

dengan telinga akan menjadi bahan pelajaran yang sangat berharga

bagi kita, baik untuk kepentingan kita maupun untuk orang banyak.

Setiap patah kata yang ke luar dari mulut kita akan mencerahkan

orang lain, dan setiap karya yang lahir dari tangan kita akan ver-

Page 45: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-45

manfaat pula bagi orang lain. Kita pun akan mudah pula memahami

bahwa setiap orang yang kita temukan di dalam perjalanan hidup

kita sebenarnya adalah utusan Tuhan untuk kita. Misalnya saat kita

sedang berjalan disebuah jalan yang belum pernah kita lewati, tiba-

tiba ada anak kecil yang berkata kepada kita: “Pak, jangan lewat ke

sana, sebab di sana ular kobra yang besar, atau ada anjing galak.

Bukankah pada hakekatnya sang anak sedang diutus oleh Tuhan

untuk kita agar kita terhindar dari bahaya ?”

Kalau sudah begini, kita akan mampu melihat bahwa sebenarnya

setiap orang di dunia ini adalah laksana titik-titik kecil berbeda yang

saling dihubungkan oleh garis-garis kehidupan. Masing-masing titik

akan bermanfaat bagi titik-titik yang lainnya dalam membentuk

harmoni kehidupan. Seperti juga matahari, bulan, dan bintang-bintang

saling dihubungkan oleh garis kehidupannya pula.

Lalu dalam setiap jalan yang kita lalui di dalam kehidupan ini, kita

ditaruh oleh Allah dikemungkinan yang mana. Sebab Allah menga-

takan bahwa:

Al An’aam (6 : 125)

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya

petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan

barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah men-

jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke

langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang

tidak beriman.”

Dengan tegas di ayat ini, Allah mengatakan bahwa :

• Saat dada kita dialiri oleh suasana sempit dan sesak, maka saat itu

sebenarnya Allah sedang menghendaki kesesatan buat kita. Tegasnya,

kita sedang disesatkan Allah. Dan itu adalah penderitaan.

• Sebaliknya, saat dada kita dialiri oleh rasa lapang, maka saat itu

sebenarnya Allah sedang menghendaki kebaikan untuk kita. Kita

Page 46: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-46

tengah ditunjuki oleh Allah untuk menjadi baik. Dan itu adalah kese-

nangan dan kebahagiaan.

Mengalirnya rasa sempit dan sesak didada kita itu diistilahkan oleh Al

Qur’an dengan sebutan: faal amaha fujuraha, diilhamkan dengan

kefujuran. Dan dialirinya dada kita dengan suasana kelapangan, disebut

Al Qur’an dengan faal amaha tawqaha, diilhamkan ketaqwaan.

Begitulah cara lain Allah berkata-kata dengan kita, yaitu melalui ilham,

melalui wahyu:

Asy Syuura (42 : 51)

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata

dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir

atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya

dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha

Tinggi lagi Maha Bijaksana.”

Seperti juga Allah berkata-kata dengan lebah melalui wahyu:

An Nahal (16 : 68)

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "’Buatlah sarang-sarang di

bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin

manusia’".

Oleh sebab itu,

. . . selalulah kita rajin-rajin mengamati dada kita

apakah dada kita ini sempit dan sesak atau lapang.

Sebab saat dada kita sempit, sebenarnya Allah tengah berkata kepada

kita yang kalau dibahasakan bisa seperti berikut ini :

“Wahai Deka, kau lihatlah dadamu, Iqra, bacalah bahasa-Ku di

dadamu. Saat dadamu itu sempit dan sesak, kamu hati-hatilah. Ka-

rena saat itu sebenarnya Aku tengah menyesatkanmu. Aku tengah

tidak suka kepadamu. Ku-ilhamkan kefujuran kepadamu. Dengan

Page 47: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-47

dadamu sempit itu, kau akan kudorong untuk bergerak dari satu

keburukan ke keburukan yang lainnya tanpa kau sanggup meno-

laknya. Kau akan menjadi alat-Ku untuk merusak di permukaan

bumi ini. Kau tidak akan kuasa menolaknya. Karena Akulah yang

memiliki segala daya dan kehebatan.

Sebaliknya, saat dadamu Ku aliri dengan suasana LUAS dan LAPANG,

bersyukurlah. Karena saat itu sebenarnya Aku tengah menunjukimu.

Aku tengah sayang dan senang kepadamu. Makanya Ku-ilhamkan

kepadamu tentang ketaqwaan, keluasan dada. Sehingga engkau

akan terhedan-heran saja saat kau Ku-dorong bergerak dari sebuah

kebaikan ke kebaikan yang lainnya. Semua itu kau lalui tanpa bisa

kau tolak. Kau akan menjadi alat-Ku untuk membangun dan ver-

kreasi di permukaan bumi ini. Kau tidak akan susah untuk itu.

Karena semua daya untuk kebaikan itu Ku-berikan penuh buatmu.

Bukankah Aku ini Maha Hebat.”

Begitulah cara Allah berkata-kata dengan kita saat Dia menjawab do’a-

do’a kita. Langsung melalui Ilham. Misalnya saat kita berdoa di dalam

shalat: Rabbigfirlii, ya Allah ampunilah saya, maka dengan seketika itu

pula dada kita dilapangkan, dada kita didinginkan oleh Allah, sehingga

rasa bersalah kita hilang lenyap seketika dari dalam dada kita… Kalau

belum juga lapang, maka kita berdo’a lagi sampai dada kita itu

dilapangkan oleh Allah.

Selanjutnya kenapa Allah tidak suka kepada kita, kenapa kita disesatkan

oleh Allah ?

Dan apa pula makna dari :

Asy Syuura (42 : 51)

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata

dengan dia kecuali dengan,, mengutus seorang utusan lalu diwahyukan

kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”

Page 48: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-48

Disesatkan atau Dibaikkan Allah

Kalau kita hanya sepintas lalu saja :

. . . membaca ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa :

•••• Allah-lah yang menyesatkan kita dengan menyempitkan dada

kita, dan

•••• Allah pula yang menunjuki kita kepada kebaikan dengan cara

melapangkan dada kita,

kelihatannya kita akan dibawa kepada kedudukan pemikiran yang

FATALIS.

Padahal di ayat lain Allah juga memfasilitasi kita untuk bisa mengatur

diri kita sendiri. Seakan-akan Allah berlepas tangan dari apa-apa yang

kita lakukan.

Kita sendirilah yang akan menentukan apa-apa yang akan kita

lakukan, nanti Allah akan memenuhi tugas-Nya untuk memenuhi

apa-apa yang telah kita tetapkan itu.

Sebuah logika berfikir yang bercorak RASIONALIS yang kelihatannya

sangat bertolak belakang dengan logika berfikir FATALIS.

Bagaimana ini ? Ya tidak bagaimana-bagaimana ! Begitulah Allah. Dia

berkehendak semau-Nya saja. Karena memang Dia adalah AL JABBAR,

Sang Maha Berkehendak. Bahkan Dia juga menyatakan bahwa walau-

pun sesuatu sudah sangat baik menurut logika berfikir kita, akan tetapi

Allah menyatakan bahwa itu belum tentu baik menurut logika berfikir

Allah. Karena Allah memang punya logika berfikir sendiri. Dan logika

berfikir Allah itulah tetap yang terbaik dan yang akan terlaksana.

Untuk menjawab ini, marilah kita sejenak menengok apa yang disebut

dengan TAQDIR, yaitu berupa ketetapan yang sudah ditentukan oleh

Allah terhadap sesuatu. Taqdir ini tidak bisa dirobah oleh siapapun

kecuali dengan melalui taqdir lain pula. Jadi taqdir hanya bisa diubah

Page 49: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-49

oleh taqdir pula. Artinya Allah sendirilah yang merubah-ubah taqdir-Nya

sendiri.

Misalnya taqdir api adalah panas membakar. Dan taqdir api ini hanya

bisa diubah ketika dia bertemu dengan taqdir Allah yang lainnya yaitu

air, sehingga panasnya api akan hilang ketika taqdir api bertemu dengan

taqdir air dengan QADAR (takaran) yang tepat. Atau bisa pula taqdir api

yang bisa membakar kulit manusia akan berubah tatkala taqdir api

tersebuat bertemu dengan dengan taqdir lainnya sehingga orang bisa

berjalan di atas bara api (fire walker).

Ketika kita berhadapan dengan taqdir ini, kita hanya bisa menerimanya

saja dengan sikap seorang FATALIS. Kita tidak bisa apa-apa ketika ver-

hadapan dengan sebuah taqdir, karena memang kekuatan, jangkauan,

dan dampaknya telah ditetapkan oleh Allah. Dan ketetapan Allah adalah

yang terbaik. Walaupun begitu, ternyata Allah juga memberikan fasilitas

yang luar bisa bagi kita agar kita bisa bergerak dari sebuah taqdir Allah

ke taqdir-Nya yang lainnya.

Di sinilah sangat luar biasa-Nya Allah. Kita nyaris saja diberikan-Nya

kesempatan yang tidak terbatas untuk memasuki wilayah taqdir-taqdir-

Nya yang memang tak terbatas pula.

Untuk bergerak dari satu taqdir ke taqdir yang lainnya itulah kita

diberikan-Nya sebuah kebebasan yang sangat besar. Kita bebas

memilih taqdir kita sesuai dengan logika-logika berfikir

(RASIONALITAS) yang kita miliki.

Logika berfikir yang bagaimanapun yang kita ambil, akan selalu mene-

mukan muaranya di sebuah taqdir yang tertentu pula. Artinya sebuah

logika berfikir yang kita lakukan atau RASIONALITAS, muaranya adalah

sebuah taqdir yang tidak bisa kita ubah atau FATALITAS. RASIONALITAS

berbuah FATALITAS. Begitu pula, FATALITAS membentuk RASIONA-

LITAS. Dua-duanya adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan

sedikit pun. Kalau kita hanya memakai satu sisinya saja, RASIONALITAS

Page 50: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-50

saja atau FATALITAS saja, maka kehidupan tidak akan berjalan, roda

peradaban akan berhenti berputar.

KUN, Allah telah meletakkan Sabda-Nya tentang tata cara-Nya sendiri

dalam memberikan petunjuk kepada setiap manusia tentang kebaikan

maupun tentang keburukan, faal amaha fujuraha wa taqwaha. Lalu

FAYAKUN, sebuah proses ajar mengajar Tuhan terhadap hamba-Nya

pun mengalir memenuhi cakrawala kehidupan manusia. Begitulah pro-

ses dari dulu sampai sekarang dan masa yang akan datang.

Derr, proses ajar mengajar inilah nantinya yang akan membentuk jalur

taqdir kehidupan manusia tentang perilaku ketaqwaannya (kebaikan)

dan perilaku kefujurannya (keburukan) sendiri. Semua itu mau tidak

mau harus kita terima secara fatalistik. Lalu kita sendirilah yang seha-

rusnya bersikap secara rasionalistis terhadap jalur taqdir kebaikan atau

keburukan itu. Misalnya, saat kita ditaruh oleh Allah di jalur takdir

keburukan, kita bebas saja untuk bersikap apakah kita mau tetap dijalur

taqdir keburukan yang tengah mengaliri kita itu, atau kita mau berganti

jalur menuju taqdir kebaikan.

Misalnya, suatu saat dada kita terasa dialiri oleh rasa sempit, dada kita

sesak. Saat menghadapi sebuah kejadian atau masalah, dada kita sesak,

nafas kita tersengal-sengal seperti kita tengah mendaki gunung yang

tinggi, padahal saat itu kita tidak melakukan aktivitas fisik mendaki

gunung. Sedikit pemicu saja, bisa membuat kita marah yang tidak

terperikan. Raut wajah kita berubah menakutkan, sorot mata kita

begitu memancarkan rona kebengisan. Kalau sudah begitu, tidak ada

yang bisa membantu kita untuk merubahnya atau memperbaikinya.

Karena kita saat itu tengah masuk ke dalam taqdir Tuhan bahwa saat itu

Tuhan memang tengah menyesatkan kita.

Al Qur’an menyatakan:

Az Zukhruf (43 : 36)

"Barang siapa yg berpaling dari ingat dan sadar penuh kepada Yang

Maha Rahman (Allah), maka Kami adakan baginya syaitan (yang

Page 51: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-51

menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman akrab (qarin)

yang selalu menyertainya.”

Ayat ini menjelaskan bahwa :

. . . tatkala kita berpaling (ya’syuu)

dari ingat dan sadar penuh kepada Allah

(yang kemudian, entah kenapa, bagi sebagian besar tafsir atau

terjemahan kalimat ‘andzikrir Rahman ini diartikan sebagai: dari

pengajaran Tuhan Yang Maha Rahman atau Al Qur’an),

maka seketika itu juga Allah akan

menaruh syetan ke dalam dada kita.

Syetan itulah yang akan menjadi teman akrab kita. Syetan itulah yang

akan menghimpit dada kita, yang akan membuat kita was-was, yang

membawa kita ke suasana ragu-ragu, yang akan menghalangi kita untuk

berbuat baik, yang akan menghasut-hasut kita agar berbuat FUJUR,

yang menutup (mengcover) kita dari perbuatan TAQWA.

Kalau sudah begitu, syetan akan selalu berkata : “Hayo… Deka, hayo…

Deka, hayo Deka, FUJUR-lah, tidak baiklah, marahlah, tidak khusyu’lah,

bencilah, irilah, berantemlah. Hayo Deka, janganlah TAQWA, janganlah

shalat dengan khusyu’, janganlah sabar, janganlah zakat, janganlah baik,

dan sebagainya.”

Dan luar biasanya, hasutan-hasutan syetan tersebut seperti mempunyai

daya hipnotis bagi kita, sehingga kita seperti tidak kuasa untuk meno-

laknya. Karena memang syetan atau iblis tersebut sudah mendapatkan

mandatnya dari Allah untuk menggoda manusia. Iblis mendapatkan

daya dan kekuatan dari Tuhan untuk menggoda manusia. Karena

setelah iblis tersebut disesatkan pula oleh Allah karena sesombong-

annya, setelah dia berkata ana khairuminhu terhadap Adam, dia pernah

berdo’a kepada Tuhan :

• (Ya rabbi…), fabi’idzdzatika laugwiyannhum ajma’in, wahai Tuhan

demi kekuasaan Engkau, beri saya daya untuk bisa menyesatkan

manusia semuanya.

Page 52: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-52

• Illa ‘ibadaka minhumul mukhlashin, kecuali hamba-hamba-Mu yang

Engkau jadikan ikhlash.

Dari penafsiran singkat ayat-ayat Al Qur’an yang sangat mendasar ini,

sebenarnya sudah menjadi jelas bagi kita bahwa Fujur dan Taqwa

adalah dua taqdir Allah yang sudah ada dan mengalir sejak permulaaan

penciptaan. Fujur dan Taqwa itu akan bisa mengalir dan menyinggahi

siapapun juga, dan keduanya mempunyai ciri-ciri dan prosesnya

masing-masing pula.

• Saat kita dialiri oleh rasa Fujur, maka dada kita dibuat oleh Allah

menjadi sesak lagi sempit, seolah-olah kita sedang mendaki ke langit.

Itulah sebagai tanda-tanda bahwa kita saat itu sedang disesatkan

oleh Allah, kita sedang tidak disukai oleh Allah, kita sedang ditendang

oleh Allah. Kalau sudah begini, maka apa saja akan menjadi masalah

bagi kita. Kebaikan orang lain sekalipun bisa menjadi masalah besar

bagi kita. Jadilah kita bergerak dari sebuah masalah ke masalah yang

lainnya. Masalah berbuah masalah…

• Sebaliknya saat kita dialiri oleh rasa Taqwa, maka dada kita akan

dibuat lapang oleh Allah. Dada kita itu akan diluaskan, dilembutkan,

dicairkan, didinginkan oleh Allah. Karena memang dada kita itu

sedang dicahayai oleh Allah. Itulah tanda-tanda bahwa kita saat itu

sedang dituntun oleh Allah, kita tengah diberi petunjuk oleh Allah,

kita lagi disayang oleh Allah. Dan sebagai hasilnya, kita akan mampu

melihat hubungan yang utuh dari setiap titik masalah yang kita

hadapi menjadi sebuah harmoni kehidupan yang sangat mence-

ngangkan dan mengagumkan. Kita akan bergerak dari sebuah masa-

lah, lalu melihat solusinya, dan kemudian kita seperti dibukakan

begitu saja tentang berbagai titik solusi atau jalan ke luar yang

sebelumnya tidak terpikirkan oleh kita.

Nah, dialirinya dada kita oleh rasa fujur itu, penyebab utamanya

adalah :

• ketidaksadaran kita kepada Allah,

• ketercoveran kita dari Allah, Sang Muhith, Sang Maha Meliputi segala

apapun juga.

Page 53: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-53

Begitu kita memandang segala sesuatu, dan saat itu kita tidak mampu

menyadari ADA Dzat Yang Meliputi segala sesuatu itu, maka seketika itu

juga kita sebenarnya tengah berteman dengan iblis. Karena iblis juga

tidak pernah mampu menyadari keberadaan Wujud Dzat Yang Maha

Meliputi segala sesuatu, termasuk meliputi wujud Nabi Adam. Sehingga

iblis lalu menyombongkan diri kepada wujud Nabi Adam. Walaupun iblis

sempat pula berkata, “Ya Rabbi, wahai Tuhan”, tapi arah kesadarannya

sebenarnya saat itu tidak tepat kepada Wajah Tuhan, wajhiya.

Jadi tanda utama bahwa kita tengah disesatkan oleh Allah,

bahwa kita sedang dialiri oleh Allah dengan rasa fujur,

adalah kita dialiri oleh rasa sombong terhadap sesama manusia,

bahkan juga terhadap alam semesta.

Persis seperti iblis terhadap Adam. Kesombongan itu pastilah membawa

kita kepada pembelaan atas :

• diri kita sendiri,

• atribut kita,

• baju kita,

• golongan kita,

• ilmu pengetahuan kita, atau bahkan

hanya sekedar persepsi kita sendiri.

Kita besarkan diri kita, kita mengaku diri kita sendiri lebih dari orang

lain. Sungguh, nikmat pengakuan ini sangatlah memabokkan. Kalau

dada kita sudah disempitkan Allah, rasa sombong juga sudah mengalir

di dalamnya, maka rasa-rasa negatif lainnya akan mengalir dengan mu-

dah seperti rasa marah. Ya, marah karena ada orang yang menggoyang

rasa kesombongan kita.

Untuk ke luar dari jeratan taqdir rasa Fujur ini bagaimana ??? Banyak

teori yang sudah beredar di mayarakat. Ada yang menyebut-nya :

• dengan cara meditasi,

• ada juga yang menyarankan agar kita melakukan berbagai aktifitas

fisik,

Page 54: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-54

• dan sebagainya.

Banyak sekali memang teori yang sudah dikembangkan orang untuk kita

bisa ke luar dari berbagai rasa fujur. Dan semuanya itu ada manfaatnya,

paling tidak.

Untuk ke luar dari rasa marah saja, misalnya, milis kita ini sudah

kebanjiran berbagai masukan yang sangat bisa membantu kita. Kalau

diperhatikan dengan seksama, ada sebuah benang merah yang bisa kita

tarik dari sekian banyak masukan itu, bahwa saat dada kita dialiri Allah

dengan rasa marah, maka tugas kita sebenarnya hanyalah sederhana

saja, yaitu agar kita mau mengalihkan objek fikir atau objek kesadaran

kita dari wilayah rasa marah itu (dada dan objek kemarahan) menuju

kepada suatu objek fikir lain yang kita senangi atau wilayah kesadaran

kita yang bukan dada (sudur, qalbu).

Saat kita dialiri oleh rasa marah, alihkan saja kesadaran kita ke objek

fikir lain. Kita marah karena si A, lalu alihkanlah kesadaran kita kepada si

B yang kita senangi, maka marah kita akan perlahan menghilang dari

dada kita. Bisa juga kita melakukan aktivitas lain seperti mandi,

berwudhu, shalat, atau hanya sekedar pergi ke tempat yang luas. Tepi

pantai atau naik ke area pegunungan merupakan dua tempat yang

sangat favorit bagi setiap umat manusia untuk sekedar melapangkan

dada dan fikirannya.

Untuk hal mengalihkan kesadaran kita dari rasa marah ini akan kita

bahas di lain kesempatan dengan lebih praktis. Sebab menurut penga-

laman saya, apapun metodanya, kalau kita tidak mengikutsertakan

peran Allah dalam kesadaran kita, maka semuanya itu masih meru-

pakan cara-cara yang artificial. Sebab cara menyesaikan masalah kema-

rahan yang paling puncak (ultimate solution), ternyata hanya bisa

dengan bersandar kepada peran serta Tuhan dalam mengambil aliran

marah itu dari dalam dada kita.

Page 55: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-55

Jadi berubahnya suasana dada kita dari sempit dan sesak menjadi

lapang dan nyaman bisa kita dapatkan hanya dan hanya jika kita

mau menyadari adanya peran serta Tuhan untuk itu.

Saat dada kita sempit, maka kita pandang Wujud Tuhan dengan tepat

(tidak musyrik, tidak terhalang oleh wujud lain apapun juga, dan tidak

ya’syu [berpaling] dari Wajah Allah sedikitpun), lalu saat itulah kita

segera berbicara dengan-Nya merendah-rendah:

• Ya Allah, dada saya kok sempit, sesak, nggak enak ya Allah ? .

• Ya Allah mohon Engkau ambil kesempitan dan rasa sesak di dada

saya ini. Sebab saya nggak kuat untuk berada dalam kesesakan dan

kesempitan dada ini ya Allah…

• Ya Allah mohon Engkau ganti suasana sempit dan sesak itu segera

menjadi suasana yang lapang, lega dan bahagia ya Allah.

Itulah kira-kira bahasa kita dengan Allah. Lalu kita tinggal menerima saja

dan membaca bahasa Allah tentang bagaimana cara Allah merespon

dan menjawab permohonan kita itu. Bacalah bahasa Allah di dalam

dada kita seperti yang telah kita uraikan sebelumnya.

Begitu sederhananya sebenarnya. Cuma saja, karena kita ini sudah

sangat terbiasa dengan kerumitan, kita kadangkala tidak mudah per-

caya begitu saja. Sebab kita :

. . . umat Islam ini tampaknya memang sudah mengeksploitasi

ajaran agama Islam ini sedemikian dalamnya, sedemikian detailnya,

malah sudah terlalu dalam dan detail (over exploited), sehingga kita

nyaris saja kehilangan esensi kesederhananaan dari ajaran Islam itu

sendiri yang telah diajarkan oleh Rasulullah.

Kita bukannya mencoba untuk memperluas ajaran Islam itu sendiri.

Misalnya dengan memperluas wawasan kita tentang Islam, atau me-

ningkatkan kualitas beragama kita sendiri walau hanya untuk beberapa

hal saja, misalnya dalam hal shalat dan zakat kita. Atau kalau mau lebih,

kita bisa pula berperan untuk hal-hal yang lebih universal lagi,

misalnya :

Page 56: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-56

• Kita bersedia untuk menerima tugas sebagai alat Allah dalam

mengalirkan kasih dan sayang-Nya kepada seluruh umat manusia;

• Kita besedia untuk menjadi alat Allah dalam mengalirkan segenap

ilmu pengetahuan-Nya dan peran-Nya untuk membangun peradaban

umat manusia.

Paling tidak, peran sebagai alat Allah itu bisa kita lakukan untuk ling-

kungan di sekitar kita saja, sebenarnya sudah sangat lebih dari cukup.

Peran sebagai alat Allah dalam mengalirkan kasih sayang kepada sesa-

ma, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan membangun peradaban

manusia inilah sebenarnya tugas hakiki dari setiap kita. Tugas-tugas

seperti inilah yang menjadikan sebab diutusnya kita di permukaan bumi

ini.

Jadi, pada hakekatnya :

. . . setiap kita ini adalah UTUSAN TUHAN untuk sesama kita.

Utusan Tuhan untuk menjalankan peran tertentu yang unik dan khas.

Cuma saja, saat kita berbicara tentang istilah Utusan Tuhan ini, maka

angan-angan atau persepsi kita selalu saja melambung tinggi, bahwa

yang bisa menjadi Utusan Tuhan itu hanyalah seorang NABI atau RASUL

Allah, tidak bisa tidak. Selalu saja kita batasi seperti itu, sehingga kita

seakan-akan membebankan tugas untuk menyampaikan ilham, wahyu,

pencerahan, yang selalu dialirkan Allah tiada henti di setiap saat itu

hanyalah kepada Rasul-Rasul Allah.

Seakan-akan kita ini tidak akan pernah lagi dialiri oleh ilham, wahyu,

pencerahan dari Allah. Kita persepsikan bahwa Allah telah berhenti

menurunkan ilham-Nya kepada umat manusia sesuai dengan

zamannya.

Maka akibatnya, akan ringan saja sikap kita saat kita tidak memberikan

manfaat sedikit pun bagi orang lain, bahkan juga bagi diri kita sendiri.

Padahal kalau kita mau mundur agak setarik dua tarikan nafas, kita akan

bisa menyadari bahwa :

Page 57: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-57

. . . saat kita tidak bermanfaat lagi bagi orang lain ataupun diri kita

sendiri, maka sebenarnya saat itu

Allah sudah tidak sudi lagi memakai kita sebagai Alat-Nya untuk

mengalirkan Ar Rahman dan Ar Rahim-Nya, menebarkan segenap

Ilmu dan Peran-Nya yang positif dan membangun

kepada orang lain dan lingkungan di sekitar kita.

Sebaliknya,

. . . ketika kita tidak dipakai oleh Allah untuk mengalirkan

segenap kebaikan dan peran positif-Nya,

sebenarnya saat itu pula tengah dipakai oleh Allah

sebagai alat-Nya untuk Menyempitkan (Qaabidh),

Menghinakan (Mudzill), Merendahkan (Khaafidh),

Mematikan (Mumiitu), Memusnahkan (Mu’akhkhir),

Memberi derita (Dhaarr), dan berbagai aliran

penghancuran (negatif) lainnya

bagi orang lain di sekitar kita.

Apa saja peran yang kita lakukan, tiba-tiba saja akan menyakitkan orang

lain, atau mematikan orang lain, atau malah bisa pula melenyapkan

peradaban sebuah bangsa seperti yang telah dan sedang dilakukan oleh

tuan Bush, tuan Blair serta konco-konconya di Afganistan dan Irak.

Ya, tuan G.W Bush, Tony Blair beserta konco-konconya boleh jadi saat

ini mereka tengah menjalankan fungsinya sebagai utusan Allah untuk

menghancurkan sebuah bangsa, karena Allah mau mengganti bangsa

atau umat itu dengan umat atau bangsa lain yang lebih baik. Seperti

juga peran-peran yang dulu pernah dijalankan mulai dari zaman Jengis

Khan sampai dengan zaman orang-orang seperti Hitler, Hirohito, Muso-

lini, Churchill, Rosevelt, Stalin. Di mana di zaman mereka-mereka itulah

telah menyebabkan puluhan juta orang meregang nyawa, yang kemu-

Page 58: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-58

dian ternyata diganti oleh Allah dengan umat sesudahnya yang lebih

baik lagi.

An Nisaa’ (4 : 133).

“Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia,

dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah

Allah Maha Kuasa berbuat demikian.”

Dengan alternatif pemahaman seperti ini, maka kita akan mudah saja

memahami ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa Allah berkata-kata

dengan seorang manusia dengan cara mengutus seorang utusan-Nya.

Kepada sang utusan-Nya itu dialirkannya ilham, wahyu, pencerahan

sehingga sang utusan-Nya itu menjadi bahasa Allah untuk suatu kea-

daan atau masalah tertentu bagi kita.

Dan apa pula makna dari :

Asy Syuura (42:51)

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata

dengan dia kecuali dengan,, mengutus seorang utusan lalu diwahyukan

kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”

Tugas kita sebenarnya sudah menjadi sangat sederhana sekali, yaitu

bagaimana caranya agar kita bisa memahami kata-kata Allah tersebut

agar kita bisa mendapatkan pelajaran dari itu. Sehingga akhirnya kita

hanyalah menjadi seorang penyaksi saja atas kesibukan Allah dalam

mengatur semua ciptaan-Nya.

Kita tinggal bersaksi (syahid) saja:

• Ooo, ada ya orang yang dialiri oleh Allah dengan kualitas kebaikan

yang sangat sempurna seperti Rasulullah dalam membangun per-

adaban umat manusia…

• Ooo, ada ya orang yang dialiri oleh Allah dengan daya penghancuran

umat manusia yang memiriskan hati seperti Hitler, GW Bush, dan

sebagainya…

Page 59: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-59

• Ooo, ada ya si A yang begini,si B yang begitu, si C yang dipakai Allah

sebagai alatnya untuk ini, si D untuk itu…

Dan di kekinian milis Dzikrullah ini pun kita hanya tinggal bersaksi saja :

• Aha, ada ya Pak Haji Slamet Utomo yang dialiri oleh Allah kepahaman

tentang makna sebenarnya dari ayat Sesungguh Dia (ALLAH) Maha

Meliputi segala sesuatu, yang sudah sekian abad tidak lagi bisa

dipahami oleh umat Islam.

• Aha, ada ya Abu Sangkan yang dibuat Allah sibuk menyampaikan

kesaksian Beliau tentang Dzikirullah dan Shalat Khusyu,

• Aha, ada ya si Deka yang begitu sibuk pula oleh Allah untuk

menyampaikan sekalimat dua kalimat hasil pelajarannya bersama Pak

Haji Slamet Utomo dan Pak Abu Sangkan.

• Aha..., ada ya Dodi Ide yang tengah dialiri oleh berbagai ide yang

mungkin bagi orang lain terpikirkan pun tidak.

• Aha, ada ya abang John Bandempo yang dialiri oleh Allah dengan

pemahaman tentang ayat-ayat Al Qur’an seperti itu, yang cukup

inspiring buat saya.

• Aha, ada ya bang Mardibros yang dialiri oleh Allah dengan kesibukan

memoderatori milis ini.

Dan akhirnya semua ooo, ooo, dan aha, aha tadi itu akan membentuk

logika berfikir kita sendiri, rasionalitas kita. Dan kita bebas saja bergerak

dari satu logika ke logika lainnya. Dan, setiap logika atau rasionalitas

yang kita pakai itu, didepan kita sudah ada pula taqdir yang menunggu

kita dengan pasti. Tinggal kita mau memilih logika berfikir yang

bagaimana untuk mendapatkan taqdir kita sendiri, untuk mendapatkan

peran atau destiny kita sendiri diantara sekian banyak peran yang

disediakan Allah buat kita.

Tegasnya kita :

. . . mau dan bersedia untuk menjadi alat Allah, utusan Allah untuk

peran yang mana dan yang bagaimana ?

Semua tergantung kepada kita saja.

Page 60: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-60

Untuk itu, maka pintar-pintarlah kita membaca (iqraa) setiap perkataan

Allah yang disampaikan-Nya kepada kita. Karena pada hakekatnya Allah

sangat sibuk berkata-kata dengan kita setiap saat. Dia berkata dan

mengajari kita dengan alat-Nya berkata-kata, yaitu melalui :

a. Ilham, Wahyu, Pencerahan (Aha, Ooo, Yes) Yang Dialirkannya

Melalui Dada Kita

Sering-seringlah lihat dada kita untuk memahami apakah kita se-

dang disesatkan atau ditunjuki oleh Allah kearah kebaikan. Lihatlah

dada kita :

1) Saat dada kita sempit dan terasa sesak, maka saat itu sebe-

narnya Allah sedang menyesatkan kita, maka buru-burulah lari

ke Allah (innalillahi wainna ilaihi raji’un) untuk minta pertolong-

annya agar kesempitan dan kesesakan dada kita itu diangkat

oleh Allah dan diganti-Nya dengan meluaskan dan melapangkan

dada kita.

2) Saat dada kita dialiri oleh Allah dengan kelapangan, keluasan,

kedamaian, maka lari pulalah ke Allah untuk menyampaikan rasa

syukur kita, agar Allah kemudian menambah dan menambah

kelapangan dada dan kebahagiaan kita itu.

b. Tabir-tabir-Nya yang Sungguh Tak Terbatas di Alam Semesta ini

dan Juga di Dalam Diri Kita

Kuaklah tabir-tabir-Nya yang ada di depan kita, maka kita akan

menemukan bahwa tabir-tabirnya itu tidak ada satupun yang sia-sia.

Semua pastilah bermanfaat bagi kita. Sehingga begitu tabir-Nya

terkuak, maka dengan seketika itu pula akan melihat Wajah-Nya,

dan tidak ada kata lain lagi yang bisa kita ucapkan kecuali: SubhnaKA

faqina ‘adzaban naar, Sungguh Maha Suci Engkau ya Allah, dan

janganlah Engkau aliri saya dengan siksaan di dunia dan diakhirat.

c. Utusan-Utusan-Nya yang Dikirim-Nya Kepada Kita

Karena pada hakekatnya setiap orang yang ada di sekitar kita,

semua perkataannya, sikapnya, perilakunya, tatapan matanya sebe-

Page 61: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-61

narnya adalah ayat-ayat Allah buat kita. Allah sedang mengajari kita

melalui utusan-utusan-Nya itu. Walau seorang anak kecil sekali pun,

hakekatnya adalah utusan Allah juga buat kita.

Dan utusan Allah yang paling puncak adalah Muhammad Rasululah

SAW. Beliau adalah masternya Utusan Allah, pamuncak Utusan

Allah, karena beliau memang adalah RASULULLAH. Utusan Allah

untuk semua manusia.

Sungguh, Allah adalah Sang Maha Sibuk mengajari kita setiap saat.

Al ‘Alaq (96 : 4)

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan QALAM.”

Al ‘Alaq (96 : 5)

“Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Asy Syuura (42 : 51)

“Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata

dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir

atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya

dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha

Tinggi lagi Maha Bijaksana.”

Selamat membaca setiap bahasa Allah dan mendengarkan pula setiap

perkataan-Nya, yang dengan itulah kita semua kemudian bisa bebas

memilih peran kita masing-masing untuk mendapatkan destiny (taqdir)

kita.

B. Kesimpulan

1. Bercakap-cakap dengan Allah SWT itu hanya dilakukan oleh para nabi,

itupun tidak semua nabi. Hanya nabi tertentu yang disebutkan berca-

kap-cakap dengan Allah.

Page 62: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-62

2. Selain para nabi dan rasul, ada juga sebagian orang yang diberikan

ilham oleh Allah SWT, sehingga seolah dia bercakap-cakap dengan Allah

SWT.

3. Orang biasa tidak mungkin bercakap-cakap dengan Allah SWT, terutama

di zaman setelah turunnya nabi terakhir, Muhammad SAW.

4. Bahasa Tuhan dalah sebuah bahasa yang hanya bisa ditangkap oleh jiwa

murni seorang manusia. Bahasa itu tidak dikotori sedikitpun oleh

persepsi-persepsi seorang manusia. Bahasa inilah yang dituntunkan

Jibril kepada Nabi SAW di Gua Hiro.

5. Yang Beliau baca adalah segala yang terlihat melalui mata dan yang

terdengar melalui telinga. Beliau membaca apa saja yang bisa

ditangkap :

• oleh lidah,

• oleh hidung,

• oleh kulit,

• oleh perut,

• oleh kelamin, dan

• oleh DADA Beliau.

Lalu Beliau paham, lalu Beliau mendapatkan suasana dan rasa dari

segala sesuatu yang Beliau baca itu pada saat yang sama.

6. Kepahaman, suasana, dan rasa yang Beliau alami atas segala sesuatu itu

bukanlah hanya untuk Beliau nikmati sendiri. Beliau harus sampaikan

semuanya itu kepada seluruh umat manusia. Dan Beliau harus

mengaktualisasikan semuanya itu dalam sebuah kehidupan di dunia ini.

7. Setelah berhasil membaca itu semua, mendapatkan kepahaman-nya,

menerima suasana dan rasanya, Beliau tidak larut, tidak terperangkap

oleh ke semua rasa dan suasana itu. Beliau berada DI ATAS semua yang

Beliau baca itu. Lalu Beliau diperintahkan Allah untuk menyampaikan

semua itu kepada seluruh umat manusia.

8. Profile Fujur ataupun Taqwa itu, di samping ada bahasanya, ada pula

suasana dan rasanya masing-masing.

Page 63: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-63

9. Muhammad SAW berhasil menemukan resep yang jitu agar kita bisa ke

luar saat mana kita di suatu saat terdorong menuju polaritas FUJUR

yang suasananya bisa dirasakan oleh dada kita berupa sempitnya dada

kita dan rasanya juga tidak enak. Beliau telah mewariskan jalan ke luar

itu bagi seluruh umat manusia. Jalan ke luar itu adalah agar kita segera

berlari ke sisi Allah, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”.

10. Untuk melatih suasana berserah untuk menjadi tiada dan membiar-

kanlah Dia Sendiri yang ‘bertindak’, maka selalulah lari ke Allah, mering-

kuklah segera di sisi-Nya. Karena memang rumah kita yang hakiki adalah

di sisi Allah. Sebab kita ini memang berasal dari-Nya, dan kepadanya

jugalah memang kita ini seharusnya kembali. Tidak kepada yang lain.

Dan untuk mendapatkan suasana itupun sangat sederhana sekali, yaitu

shalatlah dengan khusyu !

11. Jawaban Allah pastilah selalu tersedia, dan baru pula. Karena memang

ilmu Allah tidak akan pernah habis-habisnya untuk dicurahkan-Nya ke-

pada kita semua, terutama untuk kita yang mau dan bersedia membaca

bahasa Tuhan di setiap sudut yang terlihat. Jawaban Tuhan adalah

segala ilmu yang telah berhasil, sedang, dan yang akan dibaca oleh

seluruh umat manusia di segala penjuru dunia.

12. Bagi orang yang beriman, setiap aktivitasnya akan disandarkannya

kepada Sang Muhith. Ada aktivitas Allahnya di awal, di tengah, dan di

akhir setiap proses yang dilakukannya.

13. Kita ini bukannya mau mendengarkan bicara-Nya Allah di tabir-tabir-

Nya, tetapi kita malah sibuk sendiri-sendiri membela diri dan kelompok

masing-masing. Mata dan telinga kita tidak dipakai lagi oleh Allah untuk

mengalirkan segenap ilmu dan pencerahan-Nya.

14. Suasana ruang dada yang sempit akan sangat mudah dialiri oleh rasa

marah, rasa iri, rasa benci, rasa takut, rasa menyesal, rasa senang dan

bahagia yang semu dan dangkal (hanya guratan kecil saja).

15. Selalulah kita rajin-rajin mengamati dada kita apakah dada kita ini

sempit dan sesak atau lapang.

Page 64: Yusdeka   reformatted b - ok !

1-64

16. Untuk bergerak dari satu taqdir ke taqdir yang lainnya itulah kita

diberikan-Nya sebuah kebebasan yang sangat besar. Kita bebas memilih

taqdir kita sesuai dengan logika-logika berfikir (RASIONALITAS) yang kita

miliki.

17. Tatkala kita berpaling (ya’syuu) dari ingat dan sadar penuh kepada Allah

(yang kemudian, entah kenapa, bagi sebagian besar tafsir atau

terjemahan kalimat ‘andzikrir Rahman ini diartikan sebagai: dari

pengajaran Tuhan Yang Maha Rahman atau Al Qur’an), maka seketika

itu juga Allah akan menaruh syetan ke dalam dada kita.

18. Tanda utama bahwa kita tengah disesatkan oleh Allah, bahwa kita

sedang dialiri oleh Allah dengan rasa fujur, adalah kita dialiri oleh rasa

sombong terhadap sesama manusia, bahkan juga terhadap alam

semesta.

19. Jadi berubahnya suasana dada kita dari sempit dan sesak menjadi

lapang dan nyaman bisa kita dapatkan hanya dan hanya jika kita mau

menyadari adanya peran serta Tuhan untuk itu.

20. Ketika kita tidak dipakai oleh Allah untuk mengalirkan segenap kebaikan

dan peran positif-Nya, sebenarnya saat itu pula tengah dipakai oleh

Allah sebagai alat-Nya untuk Menyempitkan (Qaabidh), Menghinakan

(Mudzill), Merendahkan (Khaafidh), Mematikan (Mumiitu), Memusnah-

kan (Mu’akhkhir), Memberi derita (Dhaarr), dan berbagai aliran

penghancuran (negatif) lainnya bagi orang lain di sekitar kita.

21. Dia berkata dan mengajari kita dengan alat-Nya berkata-kata, yaitu

melalui :

a. Ilham, wahyu, pencerahan (aha, ooo, yes) yang dialirkannya melalui

dada kita.

b. Tabir-tabir-Nya yang sungguh tak terbatas di alam semesta ini dan

juga di dalam diri kita.

c. Utusan-utusan-Nya yang dikirim-Nya kepada kita.

Page 65: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-65

Artikel 2 :

Bagi Orang Yang Sudah Selesai4

A. Pembahasan

Barang siapa yang ingin melakukan AMAL SHALEH, maka syarat WAJIBNYA

adalah . . .

Dia Sudah Tidak Lagi :

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang siapa dirinya.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang dari mana

asalnya.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang buat apa dia

ada.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang apa tugas-

nya.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang ke mana dia

akan kembali.

Dengan begitu, namanya :

. . . dia sudah SELESAI dengan dirinya sendiri.

Kalau dia belum SELESAI dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa dia SELESAI

dengan YANG LAIN ? Dan bagaimana bisa pula dia melakukan AMAL

SHALEH ? IMPOSSIBLE ! Karena dia akan MENJADI sibuk dengan dirinya

sendiri untuk selamanya. Kalau dia sudah SELESAI dengan dirinya,

Lalu Dia Sudah Tidak Lagi:

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang siapa ALLAH.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang di mana

ALLAH.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Zat ALLAH.

4 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/3042

Page 66: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-66

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Wujud

ALLAH.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Sifat ALLAH.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang nama-nama

ALLAH.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Laa Ilaha

Illallah.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan Allah.

Kalau dia belum SELESAI dengan ALLAH, bagaimana bisa dia SELESAI dengan

Tuhan-Tuhan YANG LAIN Selain ALLAH ? Dan bagaimana bisa pula dia

melakukan AMAL SHALEH ? IMPOSSIBLE ! Karena dia akan MENJADI sibuk

dengan Tuhan-Tuhan YANG LAIN Selain ALLAH itu untuk selamanya.

Kalau dia sudah SELESAI dengan ALLAH,

Lalu Dia Sudah Tidak Lagi:

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Muhammad

Rasulullah.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang tugas Beliau.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang akhlak

Beliau.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang syariat

Beliau.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan Rasulullah.

Kalau dia belum SELESAI dengan Rasulullah, bagaimana bisa dia SELESAI

dengan orang-orang YANG LAIN Selain Rasulullah ? Dan bagaimana bisa

pula dia melakukan AMAL SHALEH ? IMPOSSIBLE ! Karena dia akan MEN-

JADI sibuk dengan orang-orang YANG LAIN Selain Rasulullah selamanya.

Page 67: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-67

Agar

BISA SELESAI dengan diri sendiri,

dan

BISA pula SELESAI dengan Allah dan Rasulullah,

maka lakukanlah ibadah-ibadah:

Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji (bagi yang mampu).

Karena semua ibadah itu tadi merupakan

fasilitas dan pintu pembuka agar seseorang bisa selalu INGAT

(DZIKIR) dan bisa pula berhadapan-hadapan dengan ALLAH.

Karena Rasulullah pun melakukan hal yang sama untuk membetulkan

positioning Beliau di hadapan Allah. Kalau sudah SELESAI dengan Allah dan

Rasulullah, maka namanya dia SUDAH BERSYAHADAT kepada Allah dan

Rasulullah. Artinya dia saat ini juga SUDAH BERSAKSI; Sudah Melihat; Sudah

Beriman; Sudah Yakin kepada Allah dan Rasulullah.

Lalu Dia Sudah Tidak Lagi:

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Al Qur'an.

• Bertanya, berbicara, berdiskusi, apalagi bertengkar tentang Al Hadits.

Dengan begitu, namanya dia sudah SELESAI dengan Al Qur'an dan Al

Hadits.

Dia tinggal hanya :

. . . membacanya berulangkali untuk mengkalibrasi apa-apa yang telah

dan yang akan dia lakukan di dalam hidupnya.

Karena Al Qur'an hanyalah kitab di mana Allah bercerita tentang Allah

SENDIRI dan segala Kemahahebatan-Nya terhadap semua ciptaan-Nya

(termasuk terhadap Malaikat dan Iblis). Sementara Al Hadits adalah kitab

yang berisikan "sebagian" Akhlak Rasulullah di tengah-tengah para Sahabat

Beliau dalam mencontohkan posisi Beliau sebagai seorang Hamba Allah.

NAMUN, barang siapapun yang sudah SELESAI dengan semua itu di atas,

dan dia juga sudah melakukan semua ibadah-ibadah itu dengan benar

Page 68: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-68

sesuai yang dicontohkan Rasulullah, maka sebenarnya saat itu dia masih

BELUM ada apa-apanya.

Dia masih BELUM dianggap apa-apa oleh Allah. Saat itu seseorang itu baru

berada pada posisi segerombolan orang di garis START. Posisi orang yang

siap untuk berlari dan saling mendahului untuk berlomba-lomba melakukan

AMAL SHALEH. Posisi orang-orang yang belum berhak mereguk perjumpaan

dengan Allah. Lho..., kok begitu ?

Ya..., karena :

. . . orang yang berhak dan bisa

BERJUMPA dan MENJUMPAI Allah

hanya dan hanya

orang yang membawa AMAL SHALEHnya ke hadapan Allah.

Al Kahfi (18 : 110)

"Barangsiapa mengharap PERJUMPAAN dengan Tuhannya maka hendaklah

ia mengerjakan AMAL YANG SALEH."

Saat seseorang ingin menjumpai Allah, maka Allah akan bertanya: "Kau

membawa amal shaleh apa untuk datang kepada-Ku kali ini wahai hamba-

Ku?".

Saat seseorang tidak bisa menunjukkan Amal Shalehnya

ketika dia menghadap Allah, maka Allah akan berpaling:

"Menjauhlah kau dari-Ku, karena kau bukanlah Hamba-Ku".

Kalau sudah begini sungguh sangat memiriskan sekali akibatnya. Astagh-

firullah.

Akan tetapi :

1. Ketika seseorang datang merendah-rendah kepada Allah sambil ber-

kata, "Ya Allah, hari ini hamba menghadap Paduka hanya dengan

membawa amal shaleh yang sangat kecil dan remeh, yaitu hamba tadi

Page 69: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-69

telah menyingkirkan sepotong DURI dari jalanan yang sering dilalui

orang."

Dengan lembut, Allahpun berkata kepada para malaikat dan kepada

para iblis: "Lihatlah wahai malaikat dan iblis. Dialah hamba-Ku, dialah

hamba-Ku yang memelihara orang lain agar tidak celaka, dialah Abdul

Muhaimin (hamba-Ku yang Memelihara). Itulah Amal Shaleh yang tidak

bisa kalian lakukan. Dan itu pulalah yang menyebabkan Aku meme-

rintahkan kalian untuk sujud menghormatinya. Karena dia adalah Abdul

Muhaimin, Ruh-Ku".

2. Adakalanya seseorang datang sambil merintih : "Ya Allah, sebelum

datang menghadap, tadi hamba membacakan Al Fatihah dan berharap

agar Paduka berkenan menyampaikannya kepada Ibunda hamba, dan

sudilah Paduka memberkati, merahmati, mengampuni Beliau, hanya

do'a kecil itu yang hamba bawa ketika hamba ingin berjumpa dengan

Paduka". Atau yang lebih dahsyat adalah, kalau dia langsung duduk

menyungkur di hadapan ibunya untuk minta maaf dan ridho ibunya, lalu

dia laporkan itu kepada Allah: "Ya Allah hamba datang menghadap

Paduka setelah tadi hamba minta maaf dan ridho dari ibunda hamba.

Karena maaf dan ridho Paduka kepada hamba adalah hanya dengan

sebab adanya maaf dan ridho ibu hamba kepada hamba, Ridha Allah fii

ridha walidayn. Sungguh syurga Paduka untuk hamba ada di telapak

kaki ibu hamba".

Dengan lembut, Allah berkata kepada malaikat dan iblis: "Lihatlah oleh

kalian. Dialah hamba-Ku, dialah Abdul Rahim (hamba-Ku yang berke-

limpahan dengan Kasih dan Sayang-Ku), karena, dengan maaf dan ridha

dari ibunya itu, Aku telah masukkan dia kembali ke dalam suasana

Rahim ibunya. Akulah yang menciptakan dia di dalam rahim ibunya.

Rhido-Ku dan ridho ibunyalah yang menyebabkan dia bisa lahir kebumi

ini. Kalau saja ibunya tidak ridho dulu, maka Aku juga tidak bisa berbuat

apa-apa. Mungkin dia tidak akan lahir kedunia ini". Dan sekarang

sujudlah kalian kepadanya untuk menghormat. Karena dia adalah Abdul

Rahim, Ruh-Ku".

Page 70: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-70

3. Di lain kesempatan seseorang datang untuk berjumpa dengan Allah

dengan merayu-rayu: "Ya Allah, kali ini hamba datang menghadap

setelah tadi terlebih dahulu hamba menunaikan perintah Paduka untuk

memberikan 10.000 rupiah kepada seorang bapak tua yang sedang

bersandar di sebuah pohon. Orang tua itu kelihatan letih. Mungkin dia

telah berjalan sekian lama membawa seperangkat peralatan "sol sepa-

tunya" mencari-cari kalau-kalau ada seseorang yang ingin memperbaiki

sepatunya yang robek. Saat hamba melihatnya, hamba lihat dada

hamba Paduka aliri dengan sebuah kehendak dan sekaligus daya untuk

menyampaikan sedikit rezki kepadanya. Dengan tersenyum dan meng-

ucapkan salam, lalu hamba tunaikan perintah paduka itu, walau hanya

10.000 rupiah saja". Dengan tegas lalu Allah kembali berkata kepada

malaikat dan iblis: "Lihatlah oleh kalian. Dialah hamba-Ku. Dialah Abdul

Razak, hamba-Ku yang bersedia menolong-Ku memberikan rezki kepada

si Fulan. Nanti si Fulan itu, ketika dia makan siang di sebuah warung nasi

seharga 5000 rupiah sepiring, dia akan memberikan tambahan 2.000

rupiah sebagai hadiah kepada si ibu tua penjaga warung nasi itu. Sebab

tadi pagi cucu si nenek tua itu, yang masih duduk di bangku taman

kanak-kanak, merengek-rengek kepada neneknya minta dibelikan dua

potong roti. Karena dia ingin memberikan roti yang sepotong lagi

kepada seorang temannya yang tidak pernah membawa bekal roti ke

sekolah. Karena temannya itu memang anak dari seorang bapak yang

kurang mampu. Kemaren anak itu, ketika melihat cucu si nenek makan

sepotong roti, dia ingin pula mencicipi sepotong roti seperti itu. Aku

tahu itu, sehingga Aku alirkan kehendak itu ke dalam dada hamba-Ku si

Abdul Razak itu. Dan dia memenuhi perintah-Ku itu. Lihatlah begitulah

cara-Ku memberi rezki dan sekaligus kebahagian kepada seorang anak

kecil yang memimpikan bisa makan sepotong roti besok pagi. Itulah

yang kalian tidak bisa lakukan, sehingga aku memerintahkan kalian

untuk segera sujud menghormat kepada hambaku itu. Karena dia

adalah Abdul Razak, Ruh-Ku".

Page 71: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-71

Dengan bekal amal-amal shaleh kecil seperti itu,

• Allahpun berkenan menyambut kedatangan seseorang hamba-Nya

itu di hadapan-Nya.

• Allahpun berkenan menaikkan derajat hambanya itu ke tingkat yang

lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Proses perpindahan derajat itu akan sangat terasa sekali. Ada sebuah

tarikan halus, sangat halus sekali malah, yang membawa ruhani si hamba

naik membubung tinggi menuju ASSSIRR UL ASRARR. Rahasia di atas

Rahasia yang hanya Allah dan hambanya itu saja yang mengetahuinya.

Wilayah yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain. Wilayah sangat rahasia.

Dan setiap orang ternyata punya wilayah Rahasia di atas Rahasia itu, yang

untuk memasukinya sungguh tergantung dari AMAL SHALEH apa yang dia

bawa saat dia datang menghadap Allah untuk berjumpa dengan-Nya.

Kalau sudah begini, maka :

. . . kualitas suasana dan keadaan SHALAT si hamba itu

akan berlipat ganda dari kualitas yang sebelumnya.

• Shalat yang betul-betul ada rasa menghadap dan

komunikatifnya.

• Shalat yang dialogis antara Allah dengan hamba-Nya.

Kesukacitaan si hamba juga seketika akan meningkat ke level yang belum

pernah dia alami sebelumnya. Dan itulah yang menyebabkan IMAN si

hamba kepada Allah akan meningkat pula dengan sangat drastis. Itu pulalah

yang menyebabkan malaikat mau tidak mau kembali tersungkur bersujud

dan menghormat kepada si hamba Allah, Abdullah. Dan iblispun kembali

pula bersaksi atas ayat Allah bahwa dia tidak bisa berkutik apa-apa saat

berhadapan dengan hamba Allah yang Mukhlasin.

Sesaat sebelum Lebaran kemaren, sebelum aku datang menghadap Allah,

dengan terlebih dahulu bershalawat kepada Rasulullah dan keluarga Beliau,

kusampaikan sebaik kalimat pendek kepada Ustadz Abu Sangkan: "Pak

Abu..., saya mohon maaf dan ridhonya. Wassalam Yusdeka, Pupun & Ima".

Page 72: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-72

Dan Beliau juga menjawabnya dengan sangat singkat: "Insyaa Allah sama-

sama. Semoga rahasia sirr menjadi pembuka kita dalam rahasia Allah". Aku

sampaikan hal yang sama kepada Bapak Haji Slamet Utomo, kepada Ibuku

H. Arni Burhan, kepada Bapakku H. Bustami Thaib, kepada ibu mertuaku H.

Suwarsih, dan tak lupa sebait do'a pendek kepada almarhum Ayahku Ali

Syarkawi, almarhum Bapak mertuaku H. Eman Sulaeman, almarhum Kakek-

ku H. Burhan St. Bandaro Putiah, dan almarhumah Nenekku H. Dayana

(yang sangat menyayangiku sampai Beliau meninggal tahun 2002 dalam

umur lebih dari 80 tahun). Kemudian kupeluk istriku Pupun Agusrini dan

anakku Karima sambil berbisik: "Maafkan dan ridhoi papa ya, Papa sudah

memaafkan dan meridhoi kalian terlebih dahulu."

Labbaik Allahumma labbaik, Ya Allah, hamba datang dengan bekal ucapan

maaf dan permintaan ridho dari orang-orang yang sangat hamba hormati

dan cintai.

Dan akhirnya akupun meninggalkan Ramadhan tahun ini dengan sebungkah

Rahasia di atas Rahasia, Assirr ul Asrarr, antara aku dan Allahku ketingkat

yang belum pernah kualami sebelumnya.

B. Kesimpulan

1. Agar BISA SELESAI dengan diri sendiri, dan BISA pula SELESAI dengan

Allah dan Rasulullah, maka lakukanlah ibadah-ibadah:

a. Shalat,

b. Zakat,

c. Puasa, dan

d. Haji (bagi yang mampu).

e. Karena semua ibadah itu tadi merupakan fasilitas dan pintu

pembuka agar seseorang bisa selalu INGAT (DZIKIR) dan bisa pula

berhadapan-hadapan dengan ALLAH.

2. Kalau sudah SELESAI dengan Al Qur'an dan Al Hadits, maka lakukan

kalibrasi apa-apa yang telah dan yang akan dilakukan di dalam hidup.

3. Barang siapapun yang sudah SELESAI dengan semua itu di atas, dan dia

juga sudah melakukan semua ibadah-ibadah itu dengan benar sesuai

Page 73: Yusdeka   reformatted b - ok !

2-73

yang dicontohkan Rasulullah, maka sebenarnya saat itu dia masih

BELUM ada apa-apanya. Dia masih BELUM dianggap apa-apa oleh Allah.

Saat itu seseorang itu baru berada pada posisi segerombolan orang di

garis START. Orang yang berhak dan bisa BERJUMPA dan MENJUMPAI

Allah hanya dan hanya orang yang membawa AMAL SHALEHnya ke

hadapan Allah.

4. Dengan bekal amal-amal shaleh yang sekalipun kecil, Allahpun berke-

nan menyambut kedatangan seseorang hamba-Nya itu di hadapan-Nya.

Allahpun berkenan menaikkan derajat hambanya itu ke tingkat yang

lebih tinggi dari yang sebelumnya.

Page 74: Yusdeka   reformatted b - ok !

3-74

Artikel 3 :

Bahasa Ruhani5

A. Pembahasan

Mungkin tidak banyak kita yang tahu bahwa Allah punya cara sendiri yang

sangat dahsyat untuk merestorasi kesadaran ruhani seseorang ataupun

suatu kaum ketika seseorang atau kaum itu telah lupa dengan keseja-

tiannya dan mereka juga telah lupa pula atau sudah tidak lagi menjalankan

tugas-tugas mereka, seperti yang seharusnya, sebagai seorang manusia

atau sekelompok umat yang berguna untuk hidup di muka bumi ini.

Sebab setiap orang diturunkan Allah ke muka bumi ini :

• bisa menggunakan seluruh jasmani dan ruhaninya untuk menjadi

berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri,

• tetapi juga bagi orang lain dan alam sekitar di mana dia berada.

Dan di dalam menjalankan tugas kebergunaannya itu,

. . . seseorang hanya diminta oleh Allah untuk menyadari bahwa

statusnya tetap hanyalah sebagai seorang hamba Allah yang sedang

memikul amanah Allah,

sedang menjalankan tugas-tugas dari Allah.

Tidak lebih . ., sehingga sampai kapanpun, dia :

. . . akan punya rasa sungkan yang amat sangat untuk menyatakan

pengakuannya : ”Ini aku lho, ini hebatku lho, ini kekuatanku lho,

ana khairun minhu (aku lebih baik dari dia lho), aku . . . !

1. Bagaimana dia akan bisa mengaku, ketika dia mau mengaku atas

kekuatan dan kehebatan yang dia punyai, dia segera menyadari bahwa

dia sedang berhadapan dengan Sang Maha Meliputi yang sedang

mengalirinya dengan daya yang membuat dia bisa kuat dan hebat,

sehingga dengan sangat malu diapun segera mengaku takluk kepada

Sanga Maha Meliputi : ”Laa haula wala quwwata illa billah, sungguh,

5 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/3393

Page 75: Yusdeka   reformatted b - ok !

3-75

tiada daya dan kekuatan yang hamba miliki kecuali sekedar yang

paduka turunkan kepada hamba...!".

2. Begitulah seterusnya. Ucapan-ucapan pengakuannya terhadap segala

peran Allah, Sang Maha Meliputi, mengalir dari bibirnya dengan santun.

Kadangkala ada sejumput pekat suasana takjub yang melanda batinnya,

sehingga diapun berkata dengan santun kepada Sang Maha Meli-

puti : ”Subhanallah, Subhanaka, subharabbial a'laa, subhanrabbial

adhiem, subhanakallahuma wabihamdika.” Derr.

3. Adakalanya ada suasana sukacita yang kental menyusup ke dalam

batinnya, sehingga diapun lalu bergegas mengucapkan : ”Alhamdulillah,

alhamdulillahirabbil `alamin . . .” tepat kepada Wajah Sang Maha Meli-

puti. Derr.

4. Ketika suasana kesendirian, yang tiada siapa-siapa dan tiada apa-apa,

menyinggahi batinnya, sehingga dia langsung berhadapan dengan

Wujud Yang Maha Meliputi segala sesuatu, maka saat itu dia diapun

terpekik histeris kepada Sang Maha Meliputi : ”Laa ilaha Illa Allah, Laa

ilaha Illa Allah, Laa ilaha Illa Allah, Laa ilaha illa anta, Laa ilaha illa anta

inni kuntu minazzalimin." Derr.

5. Begitu juga ketika batinnya terangkat dan melayang menuju ruang

kosong, tanpa batas dan tak bertepi, diapun berkata dengan dada yang

bergemuruh dan kulit yang bergetar, ”Allahu Akbar, Allahu Akbar,

Allahu Akbar" kepada Sang Maha Meliputi Yang Memiliki Segala Keting-

gian dan Kebesaran. Derr.

6. Sebaliknya, ketika ada sebentuk keadaan dan suasana kering, gersang,

dan garing melanda batinnya, sebagai pertanda bahwa saat itu Sang

Maha Meliputi sedang tidak berkenan kepadanya, diapun duduk

bersimpuh bahkan sampai tersujud sambil berucap lirih kepada Sang

Maha Meliputi Yang Maha Dekat : "Astagfirullah, astagfirullah,

rabbigfirli, rabbigfirli." Derr.

7. Saat dia merasakan batinnya sedang menjerit minta tolong atas sesuatu

beban yang tidak bisa dia pikul sendirian, maka diapun bersegera ber-

pegangan teguh kepada Sang Maha Meliputi seraya ber-

doa : "Warhamni, wajburni, warfa'ni, wardzuqni, wahdini, wa'aa fini,

wa'fuanni." Dan berbagai do'a lainnyapun begitu santun ke luar dari

Page 76: Yusdeka   reformatted b - ok !

3-76

bibirnya, yang menandakan bahwa saat itu dia benar-benar telah

kehilangan tempat bergantung kepada apapun dan siapapun juga selain

daripada Allah, Sang Maha Meliputi. Derr, Derr, Derr.

Saat itu benar-benar terjadi :

. . . sebuah komunikasi timbal balik antara dia dengan Allahnya, ada

think-thank, ada proses ajar mengajar, ada informasi yang mengalir

antara yang membuka batin dengan yang dibuka batinnya,

sehingga :

. . . tidak ada lagi apa-apa dan siapa-siapa

yang membuatnya takut dan khawatir.

Laa khaufun `alaihim walaa hum yahzanun.

Ada proses bela membela antara Allah dengan dia. Ya, ada pembelaan yang

terus menerus dari Dzat Yang Maha meliputi terhadap diri dia yang diliputi,

karena dia telah bersedia menyerahkan dan meluruhkan keakuannya

kepada Dzat Yang Maha Meliputi.

Karena ada tempat bergantungnya ke Allah itu, dia seperti (seakan-akan)

jadi orang yang angkuh dan tak kenal takut. Misalnya saja Nabi Muham-

mad. Saat Beliau mau dibunuh oleh Tsalabah dengan sebuah pedang yang

sudah terhunus di leher Beliau, dan Tsalabah bertanya : "Siapa yang yang

akan membelamu dari tebasan pedang ini ya Muhammad ?". Dengan santai

dan rileks saja Nabi menjawab : "Allah !". Karena memang Nabi dibela oleh

Allah, maka seketika itu juga sebuah daya iman yang membuat lunglai

menyapa tubuh Tsalabah. Kalau dalam bahasa populernya sekarang,

barangkali jawaban Beliau itu sesederhana ini : "Allahku, INI lho", kata

Beliau dengan santai. Beliau hanya menunjukkan keberadaan Allah yang

Maha Meliputi segala sesuatu kepada Tsalabah. INI ! Seketika itu juga

Ruhani Tsalabah seperti ditarik menuju Sang Maha Meliputi. Batinnya

gemetar, tubuhnya gemetar, tangannya gemetar, sehingga pedangnyapun

jatuh ke tanah. Tsalabahpun kemudian menyatakan kesaksiannya terhadap

keberadaan Allah dan terhadap kerasulan Muhammad Saw.

Page 77: Yusdeka   reformatted b - ok !

3-77

Andaikan kita yang menghadapi hal seperti di atas, barangkali yang kita

lakukan adalah sebagai berikut :

1. Kalau kita merasa punya ilmu kebal, maka seketika itu juga kita akan

ingat ilmu kebal kita. Kita akan melakukan persiapan kilat agar ilmu

kebal kita itu muncul. Lalu kita akan menantang Tsalabah dengan

jumawa : "Hayooo, tebas, saya punya ilmu kebal kok".

2. Kalau kita merasa punya ilmu beladiri, maka kitapun akan mencari

kesempatan untuk melepaskan diri dari todongan pedang Tsalabah itu,

sambil mencari kesempatan untuk melumpuhkan dan mengalahkannya.

Ini mirip sekali dengan yang dilakukan Steven Siegel, atau James Bond,

dalam filem-filemnya.

3. Tapi kalau kita merasa tidak punya ilmu apa-apa, dan tidak punya siapa-

siapa pula untuk tempat bergantung dan berlindung, maka kita akan

menggigil ketakutan, kita akan terkencing-kencing dan gacar (mencret)

menahan rasa takut, kita akan memelas untuk minta diampuni oleh

Tsalabah. Beda sekali dengan yang dilakukan oleh Rasulullah ketika itu.

Beda sekali.

B. Kesimpulan

1. Dalam menjalankan tugasnya di muka bumi, seseorang hanya diminta

oleh Allah untuk menyadari bahwa statusnya tetap hanyalah sebagai

seorang hamba Allah yang sedang memikul amanah Allah, sedang

menjalankan tugas-tugas dari Allah.

2. Sampai kapanpun, diaakan punya rasa sungkan yang amat sangat untuk

menyatakan pengakuannya : ”Ini aku lho, ini hebatku lho, ini kekuatan-

ku lho.”

3. Dalam pelaksanaan tugas tersebut, karena memiliki tempat bergantung,

yaitu Allah, tidak ada lagi apa-apa dan siapa-siapa yang membuatnya

takut dan khawatir.

Page 78: Yusdeka   reformatted b - ok !

4-78

Artikel 4 :

Benang Kesambungan dengan Allah6

A. Pembahasan

Dalam perjalanan seorang penempuh jalan menuju Allah, bisa akan

menemui suatu kondisi di mana dia merasakan adanya suatu energi dari

hati yang membumbung naik ke atas, menyambung dengan Allah. Dirasa-

kan sebagai semacam benang/tali yang menghubung langsung kepada

Allah.

1. Benang Spiritual

Apa sebenarnya fenomena ini ? Bagi seorang yang memahami berbagai

jenis aura yang meliputi tubuh manusia, maka fenomena ini bukanlah

hal yang aneh. Ini hanyalah wujud nyata dari terbukanya cakra spi-

ritual/kebijaksanaan/hikmah/enlightenment. Yang tentu saja ini bukan

hanya bagus. Tapi bagus sekali. Dengan tersingkapnya tutup/hijab yang

menutupi cakra yang berada di atas kepala ini, maka akan banyak sekali

kekayaan-kekekayaan rohani yang dicurahkan dari alam tingkat ting-

gi/alam ketuhanan. Berbagai pengetahuan dan pemahaman-pemaham-

an baru akan mengalir dengan sangat lancar dan melimpah-ruah.

2. Tadhorru'/Tawadhu'

Bagi yang ingin merasakan dan mengalami sendiri fenomena ini,

barangkali bisa mempraktekkan tips sederhana berikut. Kita praktekkan

saja dzikir yang diajarkan oleh alquran.

Allah mengatakan :

Al A'raf (7 : 205)

"Ingatlah Tuhanmu di dalam hatimu dengan tadhorru' lagi sembunyi-

sembunyi."

6 http://munggahterus.blogspot.com/2010/02/benang-kesambungan-dengan-allah.html

Page 79: Yusdeka   reformatted b - ok !

4-79

Kita diperintahkan dalam ayat ini untuk mengingat Allah di dalam hati

dengan tadhorru'/ merendahkan diri.

Nabi mengatakan : "Tidak ada seorang pun yang tawadhu'

kepada Allah kecuali dia diangkat oleh Allah." Jadi biasakan

saja sikap tawadhu'/tadhorru' ini.

Shalatlah dengan tawadhu'/tadhorru'. Rendahkan diri, tundukkan

kepala di hadapan Allah. Di luar shalat, bawa sikap ini ke mana saja.

Berjalan ke pasar/kantor/tempat kerja sambil kepala yang menunduk

langsung di hadapan Allah. Rasakan sepenuh jiwa dan raga akan

kehinaan diri ini di hadapan Beliau. Jiwai betul bahwa kita ini sangat

kecil dan remeh bahkan hingga tingkat merasa nol, kosong, tidak ada,

hilang musnah di hadapan Allah.

Asalkan dengan benar dan istiqomah kita melakukan tips ini. Pada

akhirnya, pada waktunya yang pas, dengan karunia dan kemurahan

Allah, tersingkaplah tabir/hijab yang menutupi cakra spiritual kita.

Benang kesambungan dengan Allah muncul dengan sangat terasa. Jalur

komunikasi antara hamba dengan Tuhannya terbuka dengan sangat

lebar. Kekayaan-kekayaan spiritual, ilham-ilham ilahi, mengucur dengan

lancar. Penerangan ketuhanan menyala di atas kepala dengan terang-

benderang, mencahayai hari-hari kita. Alhamdulillah.

B. Kesimpulan

1. Untuk dapat merasakan dan mengalami fenomena adanya benang

spiritual, yakni adanya Benang Kesambungan dengan Allah, maka ingat-

lah Tuhanmu di dalam hatimu dengan tawadhu'/tadhorru' (rendahkan

diri, tundukkan kepala di hadapan Allah) di mana saja.

2. Dengan munculnya benang kesambungan dengan Allah, maka keka-

yaan-kekayaan spiritual, ilham-ilham ilahi, mengucur dengan lancar.

Page 80: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-80

Artikel 5 :

Bersatu7

A. Pembahasan

Kita mungkin pernah mendengar atau membaca ayat berikut ini:

As Shaaf (61 : 2-3)

"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang

tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu

mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan."

Namun tidak sedikit di antara kita yang bisa paham apa maksud dan tujuan

sebenarnya dari ayat tersebut diturunkan oleh Allah. Sekilas terlihat

muatan ayat ini hanya biasa-biasa saja. Orang beriman, saat dia ingin

berkata-kata, maka dia diminta oleh Allah untuk mengatakan sesuatu yang

pernah dia kerjakan dan perbuat. Wajar sekali ayatnya. Namun, kenapa

kebencian dan ketidaksukaan Allah sangat besar kalau kita mengatakan,

terutama kepada orang lain, sesuatu yang tidak pernah kita kerjakan dan

lakukan ? Mengerjakan atau melakukan macam apa yang diminta oleh Allah

kalau kita ingin berkata-kata dengan orang lain ?

• Saat kita ingin berkata-kata tentang shalat, zakat, puasa, misalnya, kita

sering membatin, ”Masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah

melakukannya ? ”

• Saat kita ingin berkata-kata tentang iman, ihsan, taqwa, kita pikir,

”Masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah jadi orang yang

beriman atau percaya ? ”

• Saat kita ingin berkata-kata tentang kasih sayang kepada keluarga, orang

tua, istri, anak, dan saudara-saudara, tetangga, anak yatim, fakir miskin,

”Masak sih kita sebagai orang beriman belum pernah menyayangi

mereka ?”

7 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2621 ? var=1&l=1

Page 81: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-81

Kita juga sering merasa bahwa :

Kita telah melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah dan Nabi, serta

meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah dan Nabi.

Dan itupun ditambah pula dengan banyaknya hafalan kita yang berasal

dari berbagai buku dan literatur

yang pernah kita baca tentang semua hal di atas.

Oleh sebab itu, dengan gagah berani kitapun mencoba berkata-kata kepada

khalayak umum bahwa shalat itu begini dan begitu, zakat ini begini dan

begitu, puasa ini adalah untuk meningkatkan ketaqwaan. Kemudian kita

banyak pula yang membahas baik secara lisan maupun tertulis tentang

serba-serbi taqwa, iman, ihsan, silaturrahim, ukhuwah, dan sebagainya.

Ramai sekali. Dunia perda'ian, dunia perustadzan, dunia perkiyaian, dan tak

terkecuali dunia perspiritualan, kemudian tumbuh marak sekali di tengah-

tengah masyarakat kita.

Namun yang menggelitik adalah, dengan semaraknya pengajian seperti itu,

kok :

. . . kelihatannya

kualitas hidup, kesukacitaan, dan kesabaran kita umat Islam ini

dalam menjalankan agama dan hidup bermasyarakat

bukannya bertambah baik, malah sebaliknya

ada kecenderungan menurun terus kualitasnya dari waktu ke waktu.

Ada apa ini gerangan ??

• Kemudian saya coba amati keadaan yang terjadi di beberapa tempat saat

khotbah Jum'at disampaikan. Hampir 90% jemaah berada dalam posisi

tidur sambil duduk. Sebagian lagi melamun entah ke mana. Sebagian lagi

gelisah menunggu khotbah selesai. Kata-kata khatib seperti tidak punya

daya apa-apa untuk menggugah kesadaran jama'ahnya. Kenapa ini

gerangan terjadi ?

• Di acara-acara pengajianpun, apa-apa yang telah disampaikan bertahun-

tahun oleh ustadz kita, kiyai kita, atau murobbi kita, seperti lewat begitu

Page 82: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-82

saja dari telinga kanan untuk kemudian ke luar lagi dari telinga kiri kita,

sehingga hasil mengaji kita selama belasan bahkan puluhan tahun itupun

seperti tidak mampu memberikan kita hasil yang memadai kalau tidak

mau dikatakan hanya sekedar pas-pasan.

Beruntunglah suatu saat, setelah diajarkan oleh sahabat dan guru saya

Ustadz Abu Sangkan dan dipermatang oleh orang tua dan guru saya Pak

Haji Slamet Utomo, tentang cara membaca (iqraa), maka sedikit demi

sedikit saya mulai dipahamkan Allah tentang makna Iqraa seperti yang

diperintahkan oleh JIBRIL dulu kepada Nabi Muhammad SAW saat

menerima wahyu pertama di GUA HIRA.

Saat Nabi dipaksa oleh Jibril "Iqraa ya Muhammad..., baca ya Muhammad",

Nabi menjawab : "Ma ana bi qari, aku nggak bisa baca". Namun Jibril tetap

memaksa Beliau. Sampai-sampai Jibril dan Rasulullah seperti sedang ber-

bantah-bantahan tentang perintah membaca itu sampai tiga kali. Jibril me-

merintahkan ”Baca..!” namun Nabi menolaknya dengan mempertanyakan

apa yang harus Beliau baca. Wong saat itu nggak ada buku, nggak ada

huruf, nggak ada warna, nggak ada suara. Apalagi Beliau memang seorang

Ummi, seorang yang tidak bisa baca tulis huruf-huruf.

Jibril lalu memerintahkan Nabi membaca dengan nama Tuhan, "Iqraa bis

mirabbik, bacalah dengan nama Tuhanmu...". Akhirnya, karena Beliau

memang tahu bahwa nama Tuhan adalah Allah, maka Beliaupun membaca

"sesuatu" sambil menyebut nama Allah; Beliau mengamati "sesuatu" sambil

membaca nama Allah. "Allah...", dan Beliau bersikap waspada. "Allah..., dan

Beliau menunggu dengan sikap siap menerima "sesuatu" itu. Dan dengan

seketika itu pula sebuah prosespun terjadi di dalam diri Beliau seperti yang

diterangkan Allah dengan simple di dalam al Qur'an surat Az Zumar ayat 22-

23. Beliau lalu diajari Allah apa-apa yang sebelumnya tidak Beliau ketahui

tentang Islam.

Az Zumar (39 : 22-23).

"Maka apakah orang yang telah Allah lapangkan dada/hatinya untuk Islam

lalu dia (hidup) di atas cahaya dari Tuhan-nya, maka celakalah bagi yang

Page 83: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-83

telah membatu hatinya dari mengingat Allah, mereka itu berada dalam

kesesatan yang nyata”.

Allah, Dia telah menurunkan sebaik-baik perkataan kitab yang serupa,

sebagian ayatnya berulang-ulang, menjadi merinding karenanya kulit-kulit

orang-orang yang mereka takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi

lembut dan condong kulit-kulit mereka dan hati mereka kepada mengingat

Allah. Demikian itu adalah petunjuk Allah. Dia memberi petunjuk dengan itu

kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan adapun siapa yang Allah sesatkan

dia maka tidak ada baginya dari pemberi petunjuk".

Mari kita runut . . .

. . . proses pengajaran Allah kepada Rasulullah tentang Islam . . .

. . . yang kemudian Beliau sampaikan kepada sahabat-sahabat Beliau saat

itu. Karena proses itu sama dan persis akan terjadi pula kepada orang-orang

beriman sebelum maupun sesudah generasi Beliau, sampai ke generasi kita

sekarang dan generasi yang akan datang.

1. Allah melapangkan, meluaskan, atau membuka dada Rasulullah.

2. Dada Beliau yang sudah lapang itu ditaruh oleh Allah di atas cahaya

Allah.

Dua langkah pertama ini tidak akan pernah terjadi (kecuali jika Allah

menghendakimya) bagi orang-orang yang tidak bersedia, tidak bersikap,

dan tidak ingin untuk memahami Islam. Dada orang yang seperti ini

suasana di dalamnya adalah gelap, keras, dan membatu, sehingga dada

tersebut tidak sedikitpun sadar dan ingat kepada Allah. Kalau sudah

membatu seperti ini, Allah menamakan dada tersebut dengan istilah

dada yang dimiliki oleh orang yang sesatnya sebenar-benarnya sesat.

3. Dada Rasulullah yang sudah super lapang dan sedang ditaruh Allah pula

di atas cahaya-Nya kemudian DIISI, DIOSMOSIS, DIALIRI, DISIBGAH oleh

Allah dengan perkataan-perkataan yang utuh tentang Islam. Utuh

seperti dalam sebuah kitab yang lengkap dan detail, yang ditaruh Allah

ke dalam dada Beliau. Kitab itu sama dari masa ke masa. Sama dari

Page 84: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-84

masa lalu, sampai sekarang, maupun untuk masa yang akan datang.

Ha Mim..., `Ain Sin Qaf... (Asy Syura 1-2)8 DERR...,

. . . ada daya pengajaran

yang sangat hebat dan utuh seperti kitab

diturunkan (anzal) oleh Allah, dialirkan Allah,

diosmosiskan Allah sendiri ke dalam setiap

sel kulit, sisi-sisi tubuh, dan seluruh DNA Beliau.

Daya yang turun itulah kemudian mampu dibaca Beliau melalui dada Beliau

yang saat itu memang sedang luas tak berhingga dan sedang bergelimang

pula dengan cahaya Allah.

Oooo..., ternyata Daya Pengajaran seperti inilah yang diperintahkan oleh

Jibril untuk dibaca oleh Beliau. "Iqraa..., bacalah daya pengajaran dari

Allah", kata Jibril. Bukan kitab, bukan buku, bukan catatan, bukan huruf-

huruf, tetapi Daya Pengajaran. Daya pengajaran itu membawa dan memuat

pengertian yang utuh tentang Islam.

Daya Pengajaran dari Allah itulah yang disebut Allah

sebagai sebaik-baiknya perkataan-Nya.

Utuh kitab tentang Islam yang beliau terima. Dan secara berulang-ulang

pula Allah memberikan DERR..., DERR..., DERR..., itu selama masa kenabian

Beliau, sehingga tidak ada satu butir perkatan Beliaupun tentang Islam yang

tidak diawali dengan DERR itu.

1. Reaksi pertama saat Allah berkenan mengaliri Dada Beliau dengan Daya

Pengajaran itu adalah :

Kulit Beliau merinding, tubuh Beliau menggigil hebat seperti orang

kedinginan, sehingga menurut sejarah Beliau minta

diselimuti oleh Khadijah, istri Beliau.

8 Haa Miim. 'Ain Siin Qaaf.

Page 85: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-85

Karena saat itu memang sedang ada Daya Pengajaran yang sangat

hebat yang langsung diturunkan oleh Allah kepada Beliau. Menggigilnya

kulit Beliau itu adalah karena saat itu Beliau menjadi begitu takluk, tidak

berkutik, dan tercekam hebat dengan Allah. Iman Beliau kepada Allah

pun menghujam dalam ke dalam dada Beliau. Sel-sel tubuh Beliau, DNA

Beliau, dan otak Beliaupun sedang dibasuh, dicelup, dimetamorfosis

oleh Allah agar paham secara utuh tentang Islam. Tidak ada bagian

tubuh dan jiwa Beliau yang tidak beriman kepada Allah.

2. Setelah Daya Pengajaran itu selesai ditaruh Allah ke dalam dada Beliau,

kemudian kulit dan dada Beliau yang tadinya merinding, bergetar, dan

bereaksi hebat, lalu . . . berubah menjadi TALINU..., tenang, lembut,

lunak, dan damai. Bukan hanya itu,

. . . kulit dan hati Beliau itu juga menjadi

condong kepada mengingat Allah, selalu ingin ke Allah,

selalu ingin mengajak ke Allah . . .

sehingga dalam keadaan apapun juga, baik saat berdiri, duduk, ataupun

tidur, saat bekerja, saat berkarya, saat menyabda, kulit dan hati Beliau

selalu condong kepada mengingat Allah, sehingga yang Beliau bicarakan

selalu tentang Allah.

Asy Syura (42 : 3)

”Kadzaa lika yuuhii ilaika wa ilalladzi na min qablika Allahul `aziizul

hakiim, demikianlah Dia mewahyukan kepadamu dan kepada orang-

orang yang dari sebelum kamu. Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana.”

3. Dzalika ! Proses seperti di atas kemudian ditegaskan kembali oleh Allah:

"Demikian itu adalah petunjuk Allah". Begitulah cara Allah menunjuki

orang-orang, siapapun, yang dikehendaki-Nya sepanjang masa, dari

zaman ke zaman.

4. Sedangkan bagi siapa-siapa yang Allah sesatkan dia, maka tidak ada

sesuatupun baginya dari sang pemberi petunjuk". Karena yang bisa

memberi petunjuk itu hanyalah Allah sendiri dengan proses seperti di

Page 86: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-86

atas, sedangkan Allah tidak akan pernah berkenan memberi petunjuk

kepada mereka karena hati mereka keras membatu dari mengingat

Allah. Hatinya pun tidak akan pernah condong kepada Allah. Dia akan

sibuk dengan segala sesuatu yang akan menjauhkannya dari Allah.

Dari proses yang diterangkan Allah dalam ayat 22-23 surat Az Zumar di atas

menjadi jelaslah bahwa :

. . . untuk bisanya kita menerima Islam itu dengan SUKACITA dan UTUH

(KAFAH), haruslah terlebih dahulu ada

Daya Pengajaran Allah yang diturunkan Allah

langsung ke dalam dada kita.

Merinding jadinya kulit kita, bergetar dada kita akibat turunnya Daya

Pengajaran Allah itu. Lalu setelah itu muncul suasana tenang dan damai

yang menyelimuti dada kita.

Jadi..., bukan cukup hanya sekedar kita membaca dan

menghafal definisi-definisi dari kitab al Qur'an dan Al Hadits

yang tertulis dalam bahasa Arab, atau tafsir dan uraian dari

ulama-ulama penerus Rasulullah. Bukan.

Sebab setiap KATA di dalam Al Qur'an dan Al Hadits itu sekaligus BERSATU

dengan SUASANA dan KEADAANNYA. Suasana ini akan disimpan di dalam

otak kita untuk nanti direcall (dipanggil ulang) pada saat kita

membutuhkannya. Bahkan kadangkala pada saat-saat tertentu, suasana

yang sudah ada di dalam dada kita itu akan diperkuat Allah dengan daya

pengajaran yang sama tapi dengan kualitas dan intensitas yang lebih tinggi,

agar kita semakin paham dan mengerti tentang suasana yang telah kita

dapatkan sebelumnya. Penguatan itu bisa berulang-ulang seperti yang

dijelaskan oleh ayat di atas. DERR..., DERR..., DERR.......

Selanjutnya tinggal terserah kita.

1. Misalnya, saat kita ingin berkata-kata, berbicara, menulis, ceramah,

ataupun berkhotbah tentang sesuatu topik,

Page 87: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-87

. . . kita tinggal merecall suasananya,

lalu dada kita dialiri lagi dengan suasananya,

kemudian kita menerjemahkan suasana dada kita itu

dengan kata-kata kita sendiri,

. . . atau bisa pula kita cari padanan kalimat-kalimatnya di dalam Al

Qur'an dan Al Hadits. Dan secara mencengangkan pastilah intisari dari

kata-kata yang kita pilih dalam bahasa kita itu akan sama dengan

muatan salah satu atau beberapa ayat Al Qur'an dan Al Hadits. Dan

kemudian, walaupun kita baru mendapatkan satu atau dua Daya

Pengajaran dari Allah tentang Islam, maka sampaikanlah satu atau dua

ayat itu. Insyaallah itu akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang

menerimanya.

2. Misalnya, pada suatu saat dada kita pernah dialiri oleh Allah dengan . . .

. . . suasana percaya yang sangat pekat kepada-Nya. Percaya kita itu

FULL..., PENUH..., UTUH ! Rasa percaya itu sampai mempengaruhi

kulit, seluruh tubuh, dan DNA kita. Rasa percaya kita itu tidak

hilang-hilang, tidak copot-copot. Rasanya seperti orang yang sedang

kasmaran. Kita benar-benar tidak berkutik, takluk, dan habis dari

segala pengakuan di hadapan Allah.

Bahkan :

a. Saat kita lagi capek, ngadunya ke Allah: "Ya Allah saya capek...".

b. Saat kita ngantuk dan ingin tidur, sambil merebahkan diri, kita

maunya ngomong ke Allah: "Ya Allah tubuh saya ingin tidur ya Allah,

saya siap kembali kepada-Mu", Lalu kita siapkan ruh kita untuk

kembali ke Allah: "Saya siap ya Allah. Allah...". Lalu kita lenyap

kembali ke Allah.

Begitu bangun tidur, bawaannya kita juga tetap saja condong ingin ke

Allah, sehingga kitapun inginnya berucap: "Makasih ya Allah, Engkau

telah hidupkan saya kembali setelah tadi mati beberapa saat". Untuk

hal tersulitpun, tatkala kita mendapatkan sebuah peristiwa yang tidak

Page 88: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-88

sama dengan apa yang kita harapkan, kita dengan sangat lapang

berkata: "Ya Allah saya siap menerimanya ya Allah".

3. Bahkan saat Allah mengetok bumi dengan gempa bumi atau gunung

meletus yang meluluh lantakkan rumah, sawah, ladang, dan bahkan

memakan korban jiwa, kita masih bisa berkata tanpa rasa panik dan

takut: "Allah ya...". Lalu kitapun segera berdiri tegak: "Siap ya Allah...".

Dan dengan tergopoh-gopoh kita segera mengalirkan sebagian rezki kita

dan mengulurkan bantuan tenaga kita, tentu saja sesuai dengan

kemampuan kita, untuk membatu korban bencana yang membu-

tuhkannya. Kita segera beranjak melaksanakan tugas kepetugasan kita

di hadapan Allah. Bukan hanya sibuk membahasnya dengan mulut

berbusa-busa. Karena memang di setiap bencana yang datang menya-

pa, sebenarnya saat itulah orang beriman sedang MELIHAT ALLAH.

Sungguh..., setiap Allah MENYATA ke alam benda, maka benda-benda

akan hancur, gunung-gunung akan luluh lantak, bumi akan bergoncang,

manusia akan tiada, pingsan..., mati ! Sebab saat itu sebenarnya Allah

sedang menyata, sedang menyabda, sedang mengaku, sedang berkata

kepada kita semua : "Ini Aku..., Allah..., wahai semua ciptaan-Ku, kalian

sebenarnya tiada, semua FANA, kecuali hanya Aku yang KEKAL. Akulah

Allah, tiada Tuhan selain Aku, sembahlah Aku, mengabdilah kepada-Ku,

dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku".

Kalaulah kita masih saja tidak tercerahkan, tidak tersadarkan, dengan

peringatan seperti itu, maka Allah kembali bersabda dengan lembut:

"Fabiayyi alaa irabbikuma tukadzdzibaan”, maka yang manakah karunia

Tuhan kalian yang kalian dustakan ?" "Dengan cara apalagi Aku harus

menyadarkan kalian tentang Aku kalau tidak dengan shalat ??"

Akhirnya bagi orang yang beriman :

. . . apa-apa Allah, sedikit-sedikit Allah,

persis seperti orang kasmaran kepada kekasihnya.

Page 89: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-89

Dan pastilah kemudian dia akan menjalankan Shalat dengan bersemangat.

Karena saat shalatlah orang beriman MELIHAT ALLAH. Karena saat shalat itu

Ruhani orang beriman melesat terbang kembali ke sisi Allah.

Suasana percaya penuh dan utuh kepada Allah seperti ini disebut juga

dalam bahasa arabnya dengan istilah IMAN kepada Allah. Rasa Iman kepada

Allah. Suasana RASA IMAN ini bisa kita recall kembali. Atau bisa pula pada

saat-saat tertentu Allah menurunkan kembali daya pengajaran-Nya ke

dalam dada kita tentang RASA IMAN itu untuk lebih memantapkan iman

kita kepada-Nya. DERR.

Maka setelah itu :

1. Saat kita berkata kepada orang-orang di sekitar kita: "Marilah kita

beriman kepada Allah...", kata-kata kita tentang :

IMAN itu telah BERSATU dengan SUASANA RASA IMAN

yang ada di dalam dada kita.

Sungguh..., sebuah KATA yang telah BERSATU dengan SUASANA atau

KEADAAN dari KATA itu, akan mempunyai daya yang sangat besar bagi

orang-orang yang kita tuju dengan kata itu. Terutama saat kita

berhadapan dengan orang-orang yang mau, ingin, dan bersedia

membuka dadanya untuk menerima pengajaran dari Allah sesuai

dengan proses di atas.

2. Sebaliknya, bagi orang-orang yang telah membatu hatinya dari meng-

ingat Allah, proses mengalirnya Daya Pengajaran dari Allah nan super

lembut tersebut di atas TETAP tidak akan pernah tertangkap sedikitpun

oleh dadanya. Dadanya tetap mati. Bahkan Allah tetap tidak berkenan

mengalirkan daya itu sedikitpun ke dalam dadanya, sehingga saat dia

mencoba untuk berkata tentang IMAN, maka rasa atau suasana IMAN

itu TIDAK ADA sedikitpun berada di dalam dadanya.

Malah sebaliknya, saat dia berkata: "Saya TIDAK PERCAYA...", maka

ucapan TIDAK PERCAYANYA itu UTUH dan BULAT. Karena ucapan tidak

percayanya itu persis sama dengan suasana tidak percaya yang ada di

Page 90: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-90

dalam dadanya. Dan itu pasti sama pula dengan salah satu atau

beberapa ayat Al Qur'an dan Al Hadits.

Makanya ada ayat-ayat yang berkenaan dengan orang-orang yang tidak

beriman kepada Allah. Misalnya ketika Al Qur'an bercerita tentang

ketidakpercayaan Fir'aun, Namrud, dan beberapa nama lainnya kepada

Allah. Kalau orang sudah begini, tidak ada yang bisa memberi petunjuk

baginya kecuali Allah sendiri. Tentu saja dengan cara Allah yang ekstrim

pula. Fir'aun baru bisa percaya kepada Allah pada detik-detik terakhir

hidupnya, saat dia mengalami siksaan ketika ditelan oleh lautan.

Keadaannya akan berbeda kalau kita berbicara tentang rasa MARAH

atau BENCI kita kepada seseorang yang pernah menyakiti dan

mengecewakan kita. Begitu kita berbicara : "Saya benar-benar

MARAaaHHH... kepada si A, Saya BENCI sekali kepadanya...". Dada kita

terisi penuh dan utuh dengan suasana rasa MARAH dan BENCI itu,

wajah kita menegang dan memerah, seluruh tubuh kita mengejang siap

untuk memuntahkan energi marah yang tercipta di setiap sel tubuh kita

kepada orang yang kita marahi dan benci itu. Andaikan orang yang kita

benci itu ada di depan kita saat itu, alangkah berbahayanya

keadaannya.

Sekarang menjadi jelaslah maksud surat As Shaaf 2-39 di atas,

. . . kalau kita ingin berbicara tentang sesuatu yang berkenaan dengan

Islam, maka seyogyanyalah, wajiblah kita sudah melakukannya terlebih

dahulu dengan utuh dan bulat. Artinya

saat kita melakukan aktifitas tersebut

bersamaan dengan itu

ada pula suasananya,

sehingga kata-kata yang akan kita ucapkan atau tuliskan setelah itu

adalah suasana jiwa kita sendiri yang telah bersatu dengan

kata-kata yang kita ucapkan atau tuliskan itu.

9 Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? Amat

besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Page 91: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-91

Dan itu pasti akan mempengaruhi orang yang mendengarkannya atau yang

membaca kata-kata kita itu. Artinya omongan kita bisa nyambung.

Inspiring... Namun, tetap tidak akan begitu berpengaruh banyak terhadap

orang yang memang tidak bersedia membuka hatinya untuk menerima

Islam.

1. Ini bisa dimisalkan dengan penggunaan sebuah kata seperti GOLF. Bagi

seorang pegolf, saat dia berbicara tentang GOLF, maka suasana nikmat-

nya bermain golf bersatu dengan kata-kata yang ke luar dari mulutnya.

Dia bisa bercerita bagaimana mereka bisa kuat berjalan berkilo-kilo

selama berjam-jam, berpanas-berhujan, memukul, dan memasukkan

bola ke hole tanpa capek sedikitpun. Ceritanya bisa detail dan runut

sekali sampai ke hal terkecil sekalipun. Bagaimana rasanya saat bola

berhenti tipis di pinggir lobang, sehingga kalau ditiup sedikit saja bola

itu akan masuk. Tapi bola itu tidak boleh ditiup. Seperti yang pernah

diperlihatkan dalam sebuah iklan minuman beberapa waktu yang lalu.

Duh rasanya penasaran banget.

Kalau cerita tentang golf ini disampaikan kepada sesama pegolf, maka

ngomongnya seperti ada tali yang menyambungkan keduanya, sehingga

mereka bisa berbicara dan tertawa bersama-sama. Bahkan saat salah

seorang dikoreksi atau disalahkan oleh temannya dia bisa menerima

dengan tanpa ngedumel sedikitpun. Dan dia malah balik berkata:

"Besok saya akan lebih baik dari sekarang, awas kamu ya...", ucapnya

sambil tertawa. Suasananya begitu cair dan renyah sekali. Karena me-

reka berbicara golf sekaligus dengan merecall dan menikmati kembali

suasana rasa bermain golf itu di dadanya, sehingga yang muncul adalah

ukhuwah pegolf, atau suasana pertemanan ala komunitas pegolf. Sua-

sana yang tidak akan pernah bisa muncul ketika seorang pemain tenis

meja bercerita kepada pemain golf, tapi si petenis meja belum pernah

main golf apalagi menikmatinya, walau dia sering membaca buku golf,

sehingga pastilah omongan mereka nggak akan nyambung.

2. Contoh yang sama bisa kita amati pada suasana pertemanan ala para

pemancing. Suasananya cair, renyah. Peristiwa saling salah menyalah-

Page 92: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-92

kan di antara merekapun bisa berjalan dengan aman-aman saja. Tidak

ada di antara mereka yang rebutan ikan. Tidak yang berantam gara-gara

senggolan pancing. Saat pancing mereka saling tersangkut, mereka

malah bisa saling tertawa lepas. Di antara mereka belum ada terdengar

yang saling berbunuh-bunuhan, kecuali membunuh ikan. Asyik sekali

mereka dalam memancing itu. Kalaulah ada yang melarang mereka

untuk pergi memancing, barulah mereka marah habis-habisan.

Begitu jugalah seharusnya yang terjadi di antara sesama umat Islam dalam

mewujudkan ukhuwah islamiyah, suasana pertemanan ala sesama umat

Islam. Namun sayangnya, saat kita berbicara tentang Islam, walau di antara

sesama umat Islam sekalipun, suasana renyah dan cair itu sudah jarang

sekali terjadi kalau tidak mau dikatakan tidak pernah lagi tercipta.

Ukhuwah Islamiyah yang sering didengung-dengungkan orang itu

sekarang sudah barang langka dan sangat sulit diwujudkan.

Karena dalam bergaul di antara sesama muslim, kita sudah begitu terbiasa

saling berbicara tentang sesuatu yang tidak atau belum pernah kita lakukan

dengan UTUH. Kita dengan sangat bersemangat bisa bercerita tentang

IMAN (percaya), misalnya, tapi sayangnya kita berbicara dengan tidah utuh.

Saat kita bercerita IMAN itu, tidak ada sedikitpun SUASANA IMAN yang

utuh terbentuk di dalam dada kita. Dada kita hambar saja. Dada kita datar-

datar saja. Bahkan ada sebentuk suara lirih yang sedang berkata di dalam

dada kita yang menolak apa-apa yang tengah kita katakan itu. "Aaaa...

kamu bohong ya..., kamu sendiri ragu ya...", kata suara lirih itu. Dan

biasanya kita tidak mempedulikan suara lirih itu dan tetap meneruskan

perkataan bohong kita itu.

Kalau di antara sesama umat Islam sendiri sudah saling berbicara secara

tidak utuh begini, maka itu alamat akan sangat membosankan sekali. Rasa

kantuk cepat sekali menyerang. Tidak ada rasa sambung, atau tali rahim

yang menghubungkan di antara sipembicara dan yang mendengarkannya.

Otak kita saling tolak menolak. Saat kita diberitahu oleh si penceramah

bahwa saat itu kita sedang tidak baik, tidak khusyuk, tidak bahagia, lalu

sipenceramah mengajak kita untuk bertaqwa, untuk khusyu sekarang juga.

Page 93: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-93

Maka dada kita langsung berontak menolaknya. Kita ngedumel: "Wah si

penceramah ini asal bicara saja". Dada kita langsung tidak nyaman. Rasa

tidak nyaman itu utuh dan bulat menyelimuti tubuh dan dada kita, sehingga

akhirnya pada ceramah-ceramah yang akan datang dia tidak akan datang

kalau si penceramahnya adalah orang dulu yang pernah menasehatinya.

Yang muncul kemudian adalah rasa permusuhan, rasa bergolong-golongan

di antara sesama muslim.

Pantas saja Allah begitu benci kalau kita begitu. Karena ternyata saat kita

berbicara kepada orang lain tentang iman, sementara suasana rasa iman itu

tidak ada sama sekali, atau paling tidak belum utuh dan bulat tertanam di

dalam dada kita, maka sebenarnya saat itu kita tengah berbicara bohong.

Seperti yang pernah dilakukan oleh seoran badwi di hadapan Rasulullah :

Al Hujuurat (49 : 14)

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah

(kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah

tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”.

Orang Arab Badwi itu belum berada pada posisi orang yang bersedia untuk

diberi DERR oleh Allah.

Lalu,

• Mana bisa orang yang dadanya sedang gelisah bercerita tentang suasana

tenang.

• Mana bisa orang yang dadanya sedang dipenuhi rasa benci bercerita

tentang suasana kasih sayang.

• Mana bisa orang yang dadanya sedang kebingungan bercerita tentang

kepahaman.

• Mana bisa orang yang dadanya penuh dengan rasa dendam akan

bercerita tentang suasana saling memaafkan.

• Mana bisa orang yang dadanya penuh dengan rasa ingin merusak

berbicara tentang rahmat bagi semesta alam.

Page 94: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-94

• Mana bisa orang yang suasana dadanya sedang penuh dengan rasa

keangkuhan: "Ana khairu minhu, aku lebih baik dari dia", akan berbicara

tentang persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah).

• Mana bisa orang yang suasana dadanya masih kotor dan mati, mau

bercerita tentang kemahasucian dan kemahalembutan Allah.

• Mana bisa orang akan bercerita tentang suasana syurgawi, sedang saat

itu dadanya sedang dipenuhi oleh suasana neraka.

• Mana bisa Dan DAYA yang dipancarkannya pun sungguh tidak enak dan

tidak nyaman.

Kalau kita masih saja begitu, kita berkata-kata tentang sesuatu tentang

kebaikan Islam yang belum kita lakukan secara utuh, itu malah bisa mene-

barkan benih-benih perpecahan dan rasa permusuhan di tengah-tengah

umat. Kita akan menyebarkan DAYA NEGATIF yang kalau diterima oleh

orang yang dadanya TIDAK LOS dan TIDAK KOSONG akan mempenga-

ruhinya untuk melakukan hal-hal yang negatif pula. Makanya, sebagai

akibatnya :

• Seringkali kita lihat orang yang lidahnya sedang menyebut ALLAHU

AKBAR, tapi matanya melotot menyeramkan, dia merusak lingkungan,

dia menyakiti bahkan sampai membunuh orang lain yang tak berdosa,

sehingga alih-alih dia mengharumkan nama Islam, dia malah membuat

citra Islam jatuh terpuruk sampai berada dititik nadir. Ini seperti susu

sebelanga dirusakkan oleh nila setitik. Duh, kasihan sekali Rasulullah yang

telah bersimbah keringat bercampur darah untuk mengharumkan Islam,

tapi umat Beliau sendiri malah melepehkannya. Rasulullah mengibarat-

kan ini seperti seekor babi melepehkan butir-butir mutiara dari mulut-

nya.

• Atau akibat lain yang paling ringan adalah apa-apa yang kita sampaikan

itu hanya akan jadi sampah pemikiran saja di dalam otak orang lain, yang

akan membuat ruwet pola pemikiran mereka. Keruwetan seperti itu

pulalah yang akan ditularkannya kepada orang lain. Ruwet berbuah

ruwet.

Page 95: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-95

Sungguh dahsyat memang muatan ayat (As Shaaf 2-3)10

, ini yang memang

ditujukan Allah sebagai peringatan bagi orang BERIMAN untuk berkata-

kata. Kalau bagi orang yang tidak beriman, mau bicara apa saja sih ya

silahkan saja.

Namun ayat-ayat yang tegas tersebut janganlah jadi tembok penghalang

pula bagi kita untuk berkata-kata tentang Islam kepada sesama. Tidak

begitu. Itu namanya kita sedang ngambek atau "pundung" seperti anak

kecil. Ayat-ayat itu malah seharusnya tambah membuat kita bersemangat

untuk :

. . . minta dituntun oleh Allah, minta diajari oleh Allah, mohon

dimengertikan oleh Allah tentang Islam, minta didudukkan oleh Allah

di dalam kursi Islam yang utuh.

Karena memang yang tahu persis tentang Islam adalah Allah dan Rasulnya

saja. Ayat As Shaaf 2-3 itu seharusnya akan lebih menggugah kita untuk

tetap duduk kokoh menghadap kepada Allah untuk minta diajari-Nya, dan

dengan sabar kita akan menunggu DERR demi DERR dari-Nya. Sungguh,

Allah bersama orang yang SABAR.

Begitu juga, ayat-ayat ini janganlah dengan serta merta membuat kita

menjadi begitu bersemangat untuk "menilai" orang lain tatkala kita tidak

mampu menangkap makna-makna dari apa-apa yang dia ucapkan kepada

kita. Boleh jadi saat itu kitanya yang tengah lalai. Saat itu kita tengah tidak

berada pada posisi siap untuk menerima pengajaran yang pada hakekatnya

saat itu Allah lah yang sedang mengajari kita lewat lidah orang itu. Kita

tidak membuka otak kita, kita tidak mengosongkan cangkir kita, kita tidak

melepas keangkuhan kita, kita tidak membuka dada kita saat itu, sehingga

kitapun tidak dapat memetik manfaat dari apa-apa yang tengah diajarkan

oleh Allah kepada kita melalui lidah orang lain.

Jadi ayat-ayat ini :

• Bukan untuk menilai orang lain,

10 Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ? Amat

besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Page 96: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-96

• Bukan juga bukan sebagai dasar pema'afan buat diri kita saat kita tidak

mampu menangkap makna-makna dari ucapan orang lain kepada kita.

Tapi ayat ini lebih untuk menjadi peringatan kepada kita sendiri, agar :

. . . sebelum kita berkata-kata kepada orang lain tentang Islam,

sekali lagi tentang Islam, haruslah kita telah melakukan apa-apa yang

kita katakan itu secara utuh terlebih dahulu.

Karena untuk menerima Islam itu prosesnya ada tersendiri. Prosesnya unik,

yang bukan dari proses berfikir. Tapi dengan cara DERR.

Insyaallah, Shalat Center sedang membangun kembali rasa pertemanan ala

peshalat yang utuh itu. Yaitu, generasi peshalat yang cair dan renyah dalam

berislam, kemudian berhasil pula mengejawantahnya di tempat kerjanya,

berupa hasil fikir yang cemerlang, karya yang berbuah ranum, serta

manfaat berkah yang melimpah bagi sesama. Sebuah generasi yang mampu

hidup berkelimpahan karena mereka mampu untuk BERIMAN UTUH kepada

Allah, Dzat Yang Maha Berkelimpahan, sehingga akhirnya semua bisa ber-

saksi dengan utuh: "Asyhadu allailaha illallah, wa asyhadu anna muham-

madan rasulullah”.

Nah, nanti shalat yang seperti ini bisa dinamakan dengan nama apapun

juga, seperti :

. . . shalat yang dzauq, shalat holistik yang mengharmonisasikan kognisi,

afeksi, dan motorik.

Ah silahkan saja sebut dengan berbagai istilah itu. Saya jadi ingat istilah Pak

Haji Slamet Utomo untuk shalat seperti itu, yaitu :

. . . shalat yang dihayati.

Yang pasti 1.000 generasi pertama peshalat utuh itu telah diletupkan

dadanya oleh Allah, direstui oleh ustadz Abu Sangkan dan direstui pula

dengan do'a dari Pak Haji Slamet Utomo untuk bergerak ke pelosok-pelosok

Nusantara dan Dunia, untuk membumikan kembali SHALAT yang UTUH.

Sebuah mutiara yang nyaris tertutup oleh lumpur kegelapan hati kita.

Page 97: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-97

B. Kesimpulan

1. Pertanyaan yang menggelitik : dengan semaraknya pengajian, mengapa

kelihatannya kualitas hidup, kesukacitaan, dan kesabaran kita umat

Islam ini dalam menjalankan agama dan hidup bermasyarakat bukannya

bertambah baik, malah sebaliknya ada kecenderungan menurun terus

kualitasnya dari waktu ke waktu ?

2. Proses pengajaran Allah kepada Rasulullah tentang Islam :

a. Allah melapangkan, meluaskan, atau membuka dada Rasulullah.

b. Dada Beliau yang sudah lapang itu ditaruh oleh Allah di atas cahaya

Allah.

c. Dada Rasulullah yang sudah super lapang dan sedang ditaruh Allah

pula di atas cahaya-Nya kemudian DIISI, DIOSMOSIS, DIALIRI,

DISIBGAH oleh Allah dengan perkataan-perkataan yang utuh

tentang Islam.

3. Tahap selanjutnya setelah daya pengajaran turun :

a. Kulit Beliau merinding, tubuh Beliau menggigil hebat seperti orang

kedinginan.

b. Setelah Daya Pengajaran itu selesai ditaruh Allah ke dalam dada

Beliau, kulit dan dada Beliau berubah menjadi TALINU, tenang,

lembut, lunak, dan damai.

c. Kulit dan hati Beliau itu juga menjadi condong kepada mengingat

Allah, selalu ingin ke Allah, selalu ingin mengajak ke Allah.

4. Begitulah cara Allah menunjuki orang-orang, siapapun, yang

dikehendaki-Nya sepanjang masa, dari zaman ke zaman.

5. Untuk bisanya kita menerima Islam itu dengan SUKACITA dan UTUH

(KAFAH), haruslah terlebih dahulu ada Daya Pengajaran Allah yang

diturunkan Allah langsung ke dalam dada kita. Jadi..., bukan cukup

hanya sekedar kita membaca dan menghafal definisi-definisi dari kitab

Al Qur'an dan Al Hadits yang tertulis dalam bahasa Arab, atau tafsir dan

uraian dari ulama-ulama penerus Rasulullah. Bukan.

Page 98: Yusdeka   reformatted b - ok !

5-98

6. Pemanfaatan suasana turunnya daya pengajaran tersebut, misalnya

saat kita ingin berkata-kata, berbicara, menulis, ceramah, ataupun

berkhotbah tentang sesuatu topik, kita tinggal merecall suasananya,

lalu dada kita dialiri lagi dengan suasananya, kemudian kita mener-

jemahkan suasana dada kita itu dengan kata-kata kita sendiri.

7. Kalau kita ingin berbicara tentang sesuatu yang berkenaan dengan

Islam, maka seyogyanyalah, wajiblah kita sudah melakukannya terlebih

dahulu dengan utuh dan bulat. Artinya saat kita melakukan aktifitas

tersebut bersamaan dengan itu ada pula suasananya, sehingga kata-

kata yang akan kita ucapkan atau tuliskan setelah itu adalah suasana

jiwa kita sendiri yang telah bersatu dengan kata-kata yang kita ucapkan

atau tuliskan itu.

8. Hendaknya kita minta dituntun oleh Allah, minta diajari oleh Allah,

mohon dimengertikan oleh Allah tentang Islam, minta didudukkan oleh

Allah di dalam kursi Islam yang utuh.

Page 99: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-99

Artikel 6 :

Bohong Berbuah Bohong11

A. Pembahasan

1. Bohong

Sebenarnya, seringkali kita bingung sendiri bahwa kita ini kok sangat

mudah sekali berbohong dalam kehidupan kita. Akan tetapi sayangnya

kebingungan kita itu masih pada taraf pertanyaan bingung-bingungan

pula. Ya, bingung bohongan juga sebenarnya. Selama ini yang kita

namakan kebohongan itu masih terbatas hanya pada perbuatan dan

perkataan kita yang berhubungan dengan masalah-masalah muamalah

(hubungan kemanusiaan) sehari-hari saja. Misalnya, kita dengan sangat

mudah berbohong-bohongan dengan teman, dengan keluarga, dengan

istri / suami, dengan anak, dengan orang tua, dengan bawahan, dengan

atasan, dengan rakyat, dengan pemimpin, dan sebagainya. Bahkan kita

dengan sama mudahnya mampu pula untuk membohongi diri kita

sendiri, sehingga kadangkala kita bengong saja dibuatnya. “Kok bisa ya

tadi saya membohongi diri saya", gumam kita setengah nggak percaya.

Akan tetapi, kita sangat jarang sekali bisa menyadari bahwa :

. . . kita ini juga sebenarnya telah terlalu sering berbohong kepada

Allah saat kita melakukan ibadah atau sebuah syariat agama.

Tatkala kita tidak mampu menjadi saksi (syahid) dan sadar (dzikir) atas

ungkapan-ungkapan kita, atas gerakan-gerakan (penghormatan,

penyembahan, pemujaan) kita kepada Allah selama kita melakukan

ibadah tersebut, maka sebenarnya saat itu kita tengah berbohong.

Nggak bisa tidak. Bagaimana kita nggak berbohong namanya, misalnya

dalam shalat, coba.

Seyogyanya saat takbiratul ihram, sebelum membaca Allahu Akbar, kita

seharusnya terlebih dahulu benar-benar bersaksi dan sadar bahwa Allah

11 https://groups.yahoo.com/neo/groups/dzikrullah/conversations/messages/842

Page 100: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-100

ternyata memang Maha Besar. Makanya kita sampaikan kesaksian kita

itu dengan sadar kepada Allah : "Allahu Akbar, ooo yaa, ternyata

Engkau memang Maha Besar, Ya Allah". Khan begitu yang namanya kita

bersaksi itu ? Dan Allah pastilah membalas, merespon, dan menjawab

kesaksian kita saat itu juga. Karena Allah memang sudah menjaminnya :

Al Baqarah (2 : 186)

“Ujiibu da’watad daa’a idza da’aanii,” Aku akan menjawab, merespon,

panggilan-pangilan, ungkapan-ungkapan, do’a-doa hamba-Ku apabila

dia memanggil-manggil-Ku, memuja-muja-Ku, berdo’a kepada-Ku."

Akan tetapi,

. . . kalau kita nggak menyaksikan kebesaran Allah, padahal saat itu

kita tengah mengatakan Allahu Akbar, itu khan namanya kita saat

itu sedang NGELINDUR atau paling tidak tengah BERBOHONG ketika

membaca takbiratul ihram itu.

Dan, akibat dari tidak mampunya kita menyaksikan kebesaran Allah saat

itu, maka yang seketika itu juga kita akan menyaksikan yang selain

Wajah-Nya. Otomatis saja sebenarnya. Begitu selesai mengucapkan

Allahu Akbar, maka seketika itu juga BUBAR semuanya. Kita seperti

ditarik-tarik dan didorong-dorong ke sana kemari oleh berbagai file

fikiran yang ada di dalam memori otak kita.

Makanya kita cenderung untuk ingin buru-buru untuk

menyelesaikan shalat kita.

Capek mengembara ke sana kemari soalnya.

Untuk membuktikan bahwa apakah kita ini sedang ngelindur dan ber-

bohong atau tidak saat kita mengucapkan sesuatu pujaan penghormat-

an kepada Allah itu gampang saja sebenarnya. Mari kita bedah masalah

ini sedikit dengan mengambil analogi yang sangat dekat dengan

kehidupan kita sendiri, yaitu saat kita berbicara tentang cinta misalnya.

Page 101: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-101

Ketika kita mencintai seseorang, maka untuk mengungkapkan cinta kita

kepada orang yang kita cintai itu, apakah itu cukup kita lakukan dengan

cara mengucapkan kalimat “I Love You” saja, ataukah seharusnya kita

lakukan dengan cara memberikan cinta itu sendiri kepadanya dan lalu

ungkapan ”I Love You” itu kemudian mengalir ringan dari mulut kita ?

Bahkan tanpa ungkapan I Love You itu sendiripun, kita dan sang kekasih

yang kita cintai itupun dapat pula saling merasakan bahwa SIKAP dan

KESADARAN kita memang bersesuaian dengan realitas cinta itu sendiri,

walau tanpa kata-kata. Dan yang terpenting sebenarnya adalah

bagaimana RESPON, JAWABAN, dari orang yang kita cintai itu atas

ungkapan dan pemberian rasa cinta kita kepadanya. Respon cinta pasti

pulalah cinta. Kalau ungkapan cinta kita itu tidak berbalas, atau malah

dibalas dengan benci, maka saat itu pula cinta kita disebut sebagai cinta

bertepuk sebelah tangan. Nggak enak !

Hal ini akan sangat berbeda ketika kita bertemu dengan seseorang atau

banyak orang dijalanan, lalu kita mengucapkan “I Love You, I Love You,

Saya cinta kamu. ” kepada mereka. Padahal saat itu rasa cinta kepada

orang tersebut tidak ada di dalam dada kita.

Maka suasananya persis sama dengan ungkapan seekor burung BEO

yang pintar berbicara.

Misalnya, “Selamat pagi bang, selamat pagi bang, selamat pagi bang.",

kata sang burung BEO nyerocos terus walau saat itu hari sedang tengah

hari bolong, bahkan pada tengah malam sekalipun. Begitu juga sapaan

dia dengan ucapan ‘bang” itu dia tujukan kepada siapapun juga, kepada

perempuan, anak-anak, kakek-kakek, nenek-nenek, bahkan binatang

sekalipun dia sapa dengan ungkapan “bang” itu.

Ya, si burung BEO mengucapkan selamat pagi kepada abangnya itu

tanpa dia berada dalam kesadaran dan kesaksian tentang suasana pagi

hari itu dan abangnya itu sendiri. Inikan ngelindur dan berbohong

namanya.

Page 102: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-102

Nah, saat mulai shalat ketika mengucapkan “Allahu Akbar” saja kita

sudah berbohong. Seperti burung BEO itulah. Belum lagi setelah itu.

Misalnya, saat saya baca "Inni wajjahtu wajhia, hanief.", kuhadapkan

"wajahku kepada Wajah Dia, lurus. dst", eee :

• kita malah menghadap ke sajadah,

• kita malah menghadap ke arti bacaan shalat, atau malah

• kita sedang menghadap ke masalah-masalah lain yang muncul silih

berganti di hadapan kita.

Lha, bohong dan ngelindur lagi kita kepada-Nya !

Belum lagi saat kita mengucapkan do’a: "iyyaKA. na' budu wa iyyaKA

nasta'in.”. Saat membacanya khan seharusnya kita langsung tunduk dan

tawadhu’ TEPAT ke Wajah-Nya. Bukan ke mana-mana lagi. Makanya

dalam kalimat itu ada KA, Engkau, Mu ! Ada “barangnya” gitu lho.

Artinya sebelum kita mengucapkan do’a itu sudah sepantasnya kita

bersaksi dan sadar dulu: “Ooo, ya, ke INI saya harus menyembah, dan

ke INI pula saya harus minta pertolongan”.

Lha, kalau tentang Allah sendiri kita belum tahu, maka saat kita

mengucapkan KA ini, kita harus mengarahkan kesadaran dan kesaksian

kita ke mana ? Makanya KA kita selama ini, saat kita menyembah dan

minta dituntun itu kadang-kadang adalah pekerjaan kita, adalah ma-

salah-masalah kita yang sedang in, adalah atribut-atribut kemanusian

lainnya, seperti patung, gambar, jabatan, harta benda, dan lain

sebagainya. Pikiran kita liar, lari ke mana-mana, selama shalat itu kita

lakukan. Maka jadilah kita ini bohong lagi kepada Allah !

Begitu juga, saat kita mengucapkan "subhanallah, subhanarabiyal a’la,

subhanarabbiyal adhim, dsb". Kita ini khan seharusnya benar-benar

telah dan sedang MENYAKSIKAN KEMAHASUCIAN ALLAH, KETINGGIAN

ALLAH dulu, lalu barulah setelah itu kita teguhkan kesaksian kita itu

dengan ungkapan tasbih di atas dan dengan sikap PENYEMBAHAN pula

(rukuk dan sujud). Lha wong kita saat itu belum menyaksikan kemaha-

sucian Allah dan ketinggian Allah, lalu tiba-tiba saja kita bertasbih ! Lalu

menyembah dan memuja siapa kita saat itu ? Lhaaaa, khan berbohong

Page 103: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-103

dan ngelindur seperti burung BEO lagi kita saat itu namanya. Ya nggak,

ya nggak ? Makanya Allah menegor perilaku kita itu dalam ayat berikut:

Al Baqarah (2 : 165)

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-

tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka

mencintai Allah.”

Selanjutnya, saat kita menghantarkan do’a: “Rabbana lakal hamdu,

Wahai Tuhanku, milik-MU mu segala pujaan ini.” Dan do’a-do’a: “Rab-

bigfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, wardzuqni, wahdini, wa’afini,

wa’fuanni, serta do’a-do’a yang lainnya, kita arahkan dan sampaikan ke

mana MUATAN do’a itu selama ini ? Kita sampaikan nggak do’a itu

kepada yang kita anggap MU itu. Dan MU itu memba-lasnya nggak

muatan do’a kita itu dengan muatan yang lebih dahsyat.

Misalnya, saat kita menyerahkan segala pujaan kepada “MU” itu, maka

setelah itu PLONG nggak dada kita ini dari rasa sesak akibat pengaruh

rasa sombong untuk ingin dipuja dan puji orang lain. Lalu adakah pula

muncul :

• rasa diampuni,

• rasa dikasihi,

• rasa ditutupi ke’aiban,

• rasa rasa diangkat kedudukan,

• rasa dilimpahi ide-ide untuk mengais rizki,

• rasa dilimpahi informasi atau pentunjuk,

• rasa disehatkan,

• rasa dimaafkan,

oleh Allah setelah kita mengaturkan do’a kepada “MU” itu ? Kalau

“MU” ini belum pas, maka muatan balasan dari “MU” itu juga nggak

akan ada. Kita bertepuk sebelah tangan lagi jadinya.

Yang paling dahsyat adalah saat kita harus mengungkapkan kesaksian

kita atas Allah dan Muhammad SAW. "Asyhadualla ilaha illa Allah, wa

asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Khan seharusnya kita benar-

Page 104: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-104

benar menyaksikan Allah dulu baru kita ungkapkan kesaksian kita itu.

Begitu juga saat kita harus bersaksi terhadap Rasulullah, bersaksi

macam apa yang harus kita lakukan ? Apakah kita harus membayangkan

wajah Rasulullah, penderitaan Rasulullah, atau bagaimana ? Salah-salah

kita bisa sama saja dengan orang yang memuja wajah “XYZ” dalam

beribadahnya.

Kalau di sebuah sidang pengadilan, yang namanya bersaksi itu, ya kita

haruslah mengetahui persis tentang apa-apa yang akan kita ungkapkan

dalam persaksian itu. Lha, dalam bersyahadah itu, yang seharusnya saat

kita bersyahadat itu kesadaran kita langsung tertuju kepada Allah: Ya

Allah benar ya Allah hanya Engkau alamat saya menyembah, dan benar

ya Allah. Muhammmad SAW adalah Rasulmu, karena apa-apa yang

Beliau sampaikan saya buktikan kebenarannya !, eeee, kesadaran kita

yang muncul saat kita bersyahadat itu malah pikiran liar ke sana kemari.

Bohong dan ngelindur lagi kita dalam bersyahadat itu !

Dalam mengucapkan salam pun begitu. "Assalamu alaikum, warah-

matullahi wabarakatuh !", itu artinya khan adalah bahwa saat salam itu

kita ungkapkan, seharusnya kita menebarkan kepada orang-orang di

sekeliling kita tentang keselamatan, rahmat dan barakah dari Allah yang

telah kita dapatkan saat kita shalat itu. Lha apanya yang akan ditebar-

kan wong salam kita itu kebanyakan juga KOSONG SAJA, nggak ada

MUATANNYA.

Khan salam itu seharusnya begini: "Nih pak, nih dik, nih nak, nih sahab-

atku ada keselamatan nih, ada rahmat nih, ada barakah nih dari Allah

buat mu ('alaikum, 'alaikum, alaikum, buat semua). Ada muatannya gitu

lho ! Kalau nggak ya kita berbohong dan ngelindur lagi itu namanya saat

kita mengucapkan salam itu.

Bayangkan, untuk sebuah perbuatan SHALAT yang kita lakukan dari hari

ke hari, waktu ke waktu, isinya nyaris bohong dan ngelindur melulu.

Dari sikap ke sikap, bacaan ke bacaan kita nggak ubahnya dengan

seekor burung BEO. Lha, bagaimana kita bisa menjadi baik saat kita

menjalani hidup ini ?

Page 105: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-105

Jangankan suasana yang susah dalam shalat seperti di atas, untuk hal

yang sederhana saja kita belum tentu lebih baik dari seekor burung

BEO. Untuk membuktikannya gampang saja kok. Cobalah bandingkan

bagaimana suasana yang melanda dada dan kulit kita saat kita

menyebut kata-kata berikut ini. Membacanya boleh saja di tempat yang

sepi dan sendirian, atau di manapun yang kita sukai : “Piring, gelas,

piring, gelas, sendok !” Kemudian sebut pulalah : “Allah, Allah, Allah !”

Kalau tidak ada bedanya sedikitpun suasana DADA dan KULIT kita saat

membaca kata-kata di atas, maka bolehlah kita mulai meratapi diri.

Karena boleh jadi saat kita membaca itu mungkin nggak ada bedanya

dengan membacanya seekor burung BEO.

Lalu kemudian sebut pulalah : “Jin, iblis, syetan, gendoruwo, roh

gentayangan.” Dan makhluk-makhluk sejenis lainnya. Kalau saat

menyebut nama-nama makhluk jin yang digambarkan (dipersepsikan)

orang dengan sangat menakutkan itu, dada kita lalu gemetar, kulit kita

lalu merinding, ada rasa takut yan menegakkan bulu roma kita, bahkan

ada pula yang sampai keter-keter dan meracau nggak beraturan (yang

katanya tengah kesurupan), dan lain-lain sebagainya, maka berarti saat

itu bolehlah kita meratapi diri pula. Karena berarti :

. . . nama jin, syetan dan sebagainya itu lebih menimbulkan kesan

mendalam di dada dan di kulit kita dari pada kita nama Allah !

Astagfirullah hal adhiem ! Pantas saja kita ini lebih cenderung untuk

berbuat berbohong dari pada berbuat jujur. Karena memang kita lebih

terkesan dan terpesona dengan jin, syetan dan iblis yang memang dari

sononya sukanya berbohong melulu. Akibatnya pada diri kita ? Sungguh

sangat menakjubkan ! BOHONG BERBUAH BOHONG.

2. Buah Itu

Begitu terbiasanya kita berbohong di hadapan Allah saat kita shalat,

maka kebiasaan itupun, tanpa kita sadari, lalu terbawa-bawa pula ke

dalam kehidupan sehari-hari kita. Cobalah kita amati diri kita dan

sekeliling kita agak selirik dua lirik. Nggak usah jauh-jauhlah, di tempat

Page 106: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-106

bekerja kita misalnya. Betapa sering dan bersemangatnya kita selama

ini membuat rencana-rencana yang konon kabarnya adalah untuk

kemajuan perusahaan tempat kita bekerja, dan tentu saja untuk

kemakmuran dan kesejahteraan bersama pula. Akan tetapi sayangnya

lebih banyak pula rencana-rencana itu adalah rencana bohong-

bohongan belaka.

Mari kita lihat bagaimana proses kita merencana itu selama ini melalui

rapat-rapat yang intensitasnya cukup tinggi:

a. Sebelum menghadiri rapat, kita sudah mulai memuat pulau-pulau

mulai dari yang kecil sampai ke yang besar ke dalam fikiran kita

masing-masing. “Itu khan kerjaan si anu. Itu khan bukan tanggung-

jawab saya. Yang ini barulah bagian saya. Orang lain nggak boleh

mengutak-utik bagian saya ini. Yang lain boleh jelek asal yang

bagian saya bisa baik.”

b. Giliran untuk melaksanakannya barulah kelihatan lagi ngelesnya:

“Kita terlebih dulu harus membuat detail rencana ini dengan sangat

terperinci dengan melibatkan berbagai pihak lain yang berkom-

peten, dan berbagai alasan lainnya.”

c. Akhirnya karena otak kita masing-masing masih berpulau-pulau

seperti di atas, ditambah lagi saking rinci dan hebatnya detail

rencana yang kita buat, malah jadinya rencana itu nggak bisa

dilaksanakan sama sekali. Para pimpinan, otaknya dibatasi oleh

pulau-pulau yang berada di otaknya masing-masing. Dikiranya kotak

atau posisinya sebagai pimpinan itu adalah miliknya sendiri. Begitu

pula para pasukan di bawah pun lebih banyak berada pada pulau-

pulau pikirannya sendiri dalam pekerjaannya sehari-hari. Padahal

Indonesia ini walau dikatakan sebagai sebuah negara dengan seribu

pulau, namun pulau-pulau itu tetap masih bisa di satukan dengan

sebuah nama, INDONESIA.

d. Padahal kalau kita berfikir secara sederhana, tidak ada yang tidak

bisa dilaksanakan. Karena masalah-masalah kita ini hanyalah

masalah yang berulang dari dulu-dulu walau dengan kualitas yang

berbeda. Syaratnya hanyalah satu, yaitu temukanlah “sesuatu” yang

Page 107: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-107

bisa menyatukan pulau-pulau yang ada di setiap fikiran kita. Dan

sesuatu itulah yang kita binding, kita anchoring, kita sandari saat

kita menjalankan fungsi kita masing-masing.

Begitu juga di tingkat kota, propinsi, dan bahkan negara, nyaris saja

rencana-rencana yang kita buat adalah rencana-rencanaan, rencana

bohongan, rapat bohongan, pemeriksaan bohongan, tindakan bohong-

an, pelaksanaan bohongan.

Subhanallah, ternyata bohongnya kita di hadapan Allah tadi, ee, ndak

tahunya Allah malah benar-benar balik mendorong kita untuk berbuat

bohong-bohong berikutnya. Ya seperti kita sekarang inilah. Bangsa kita

ini saat ini nampaknya memang tengah dilanda oleh gelombang

kebohongan massal.

3. Masih Ada Harapan !

Untuk ke luar dari lingkaran kebohongan demi kebohongan di atas,

masih adakah jalan yang terbentang di hadapan kita ? Jawabannya,

ADA ! Dan caranya itupun adalah dengan cara yang sangat sederhana,

yaitu jangan BOHONG di hadapan ALLAH. Artinya:

a. Janganlah mengaku bahwa Allah Maha Besar (Allahu Akbar), kalau

kita belum menyaksikan kemahabesaran Allah.

b. Janganlah menyatakan IyyaKA, kalau kita belum sadar penuh

kepada MU yang kita tuju.

c. Janganlah memuji bahwa Allah Maha Suci (subhanallah), kalau

belum menyaksikan kemahasucian Allah.

d. Janganlah kita bersyahadat akan Allah, kalau kita belum bersaksi

akan ketunggalan Allah, keesaan Allah, dan yang selain Allah adalah

fana, tiada. Dan janganlah kita bersyahadat akan kerasulan Muham-

mad, kalau kita belum menikmati kebenaran ajaran-ajaran Beliau.

e. Janganlah kita mengucapkan salam kepada orang lain, kalau muatan

salam, kebahagian, kesejahteraan itu belum ada pada diri kita.

Nah, harapan untuk menjadi TIDAK BOHONG lagi itu sangat terbuka

lebar ketika kita bisa menjadi PENYAKSI (SYAHID) akan :

Page 108: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-108

• kemahabesaran Allah,

• kemahasucian Allah,

• kemahaesaan Allah, dan

• kita menyaksikan pula respon Allah atas apa-apa yang kita keluhkan

kepada-Nya.

Inikan IHSAN saja sebenarnya. Karena nggak mungkinlah orang yang

IHSAN, yang menyaksikan dan yang sadar akan ALLAH mau untuk

berbohong, berbohong, dan berbohong lagi !

Nah, temukanlah posisi IHSAN tersebut !

B. Kesimpulan

1. Kita telah terlalu sering berbohong kepada Allah saat kita melakukan

ibadah atau sebuah syariat agama. Kalau kita nggak menyaksikan

kebesaran Allah, padahal saat itu kita tengah mengatakan Allahu Akbar,

itu khan namanya kita saat itu sedang NGELINDUR atau paling tidak

tengah BERBOHONG ketika membaca takbiratul ihram itu. Persis sama

dengan ungkapan seekor burung BEO yang pintar berbicara.

2. Nama jin, syetan dan sebagainya itu lebih menimbulkan kesan

mendalam di dada dan di kulit kita dari pada kita nama Allah ! Pantas

saja kita ini lebih cenderung untuk berbuat berbohong dari pada

berbuat jujur. Karena memang kita lebih terkesan dan terpesona

dengan jin, syetan dan iblis yang memang dari sononya sukanya

berbohong melulu.

3. Begitu terbiasanya kita berbohong di hadapan Allah saat kita shalat,

maka kebiasaan itupun, tanpa kita sadari, lalu terbawa-bawa pula ke

dalam kehidupan sehari-hari kita.

4. Harapan untuk menjadi TIDAK BOHONG lagi itu sangat terbuka lebar

ketika kita bisa menjadi PENYAKSI (SYAHID) akan :

a. kemahabesaran Allah,

b. kemahasucian Allah,

c. kemahaesaan Allah, dan

Page 109: Yusdeka   reformatted b - ok !

6-109

d. kita menyaksikan pula respon Allah atas apa-apa yang kita keluhkan

kepada-Nya.

5. Inikan IHSAN saja sebenarnya. Temukanlah posisi IHSAN tersebut !