yusdeka reformatted b - ok !

Download Yusdeka   reformatted b - ok !

Post on 12-Jun-2015

449 views

Category:

Self Improvement

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis “Dzikrullah” (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog “Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat” (yusdeka.wordpress.com). Untuk keperluan pribadi, kami mengkompilasi tulisan-tulisan tersebut, baik berdasarkan abjad huruf pertama dari judul tulisan, maupun berdasarkan topik tertentu. Berikut ini adalah kumpulan tulisan dengan huruf pertama berhuruf “B”.

TRANSCRIPT

  • 1. Artikel Oleh Yusdeka BBBB Dikompilasi oleh FIW

2. 1-2 Kata Pengantar Tulisan berikut ini merupakan buah karya dari Ustadz Yusdeka, penulis produktif dari milis Dzikrullah (https://groups.yahoo.com/group/dzikrullah) dan blog Sikap Murid Dalam Berketuhanan Sedang Belajar Mendekat Kepada Dzat Yang Maha Dekat (yusdeka.wordpress.com). Untuk keperluan pribadi, kami mengkompilasi tulisan-tulisan tersebut, baik berdasarkan abjad huruf pertama dari judul tulisan, maupun berdasarkan topik tertentu. Berikut ini adalah kumpulan tulisan dengan huruf pertama berhuruf B. Dalam pengkompilasian ini, kami berusaha untuk tidak menambah dengan kata-kata kami sendiri. Yang kami lakukan adalah pengurangan dan penyuntingan tampilan. Tujuan pengkompilasian ini tak lain adalah agar memudahkan kami untuk membaca dan memahami tulisan-tulisan tersebut. Hal ini disebabkan karena kebodohan kami untuk dapat memahami tulisan yang Ustadz Yusdeka tulis. Untuk itu kami merasa perlu untuk menstrukturkan dan mensistematisasikannya. Selain itu, kami menambahkan dengan uraian kesimpulan atas apa yang menjadi materi pembahasan Ustadz Yusdeka. Tulisan dari Ustadz Yusdeka demikian canggihnya, tidak heran jika disadari apa yang Ustadz Yusdeka tulis pada hakekatnya adalah tulisan yang langsung digerakkan oleh Allah SWT sendiri, sehingga kami terkadang menggap- menggap dalam membaca. Bahkan setelah selesai membaca, kami terkadang bertanya-tanya, apa yang telah kami baca tadi, mengingat kebodohan kami dalam hal yang ditulis tersebut. Setelah pengkompilasian ini tercapai kami berpendapat alangkah sayangnya jika tulisan dari Ustadz Yusdeka yang sudah dikompilasi tersebut hanya untuk kami konsumsi sendiri. Untuk itu, dalam format PDF, kami menaruhnya di internet. Semoga dengan demikian semakin banyak pihak yang dapat turut menikmati, dan harapan kami, dapat menemani Ustadz Yusdeka untuk camping di pinggir surga. (FIW) 3. 1-3 Daftar Isi Artikel 1 : Bisakah Kita Berbicara dengan Allah ...............................................1-4 A. Pembahasan................................................................................1-4 B. Kesimpulan................................................................................1-61 Artikel 2 : Bagi Orang Yang Sudah Selesai......................................................2-65 A. Pembahasan..............................................................................2-65 B. Kesimpulan................................................................................2-72 Artikel 3 : Bahasa Ruhani...............................................................................3-74 A. Pembahasan..............................................................................3-74 B. Kesimpulan................................................................................3-77 Artikel 4 : Benang Kesambungan dengan Allah .............................................4-78 A. Pembahasan..............................................................................4-78 B. Kesimpulan................................................................................4-79 Artikel 5 : Bersatu..........................................................................................5-80 A. Pembahasan..............................................................................5-80 B. Kesimpulan................................................................................5-97 Artikel 6 : Bohong Berbuah Bohong ..............................................................6-99 A. Pembahasan..............................................................................6-99 B. Kesimpulan..............................................................................6-108 4. 1-4 Artikel 1 : Bisakah Kita Berbicara dengan Allah1 A. Pembahasan 1. Tanya Saya bertemu dengan orang yang mengaku bisa bercakap-cakap dengan Allah. Apakah ini mungkin dilakukan? Mohon penjelasannya disertai dalil Al-Qur'an & Hadits. 2. Jawaban Memang dunia spiritual ini kadang-kadang terlihat aneh. Di satu sisi dia seperti dimusuhi atau paling tidak dianggap nyleneh, terutama oleh orang-orang yang tidak atau belum mereguk kenikmatan dunia spiritual tersebut. Sementara itu di sisi lainnya dia malah mau dieksplorasi habis- habisan oleh orang-orang yang sepertinya tengah mabok berat oleh dahsyatnya realitas suasana dan rasa yang didapat dalam dunia spiritual itu. Padahal bagi dua-duanya, baik bagi yang memusuhi atau tidak menyukainya maupun bagi yang menyukainya, landasan berpijaknya sama juga, itu-itu juga, yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ALLAH, AL QURAN, NABI MUHAMMAD SAW, dan AL HADIST. Sebelum kita memulai membedah sedikit masalah kalimat berbicara dengan Allah di atas, saya ingin sampaikan sebuah pokok pemikiran tentang keterbatasan ukuran pikiran manusia. Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia Bahwa sudah menjadi sebuah kebiasaan umum bagi hampir seluruh manusia saat dia berbicara tentang sesuatu, maka sesuatu itu selalu dibandingkannya atau disandingkannya dengan sesuatu yang sesuai dengan kadar pikiran atau persepesi si manusia itu sendiri. 1 http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/1629 5. 1-5 Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia Misalnya, saat kita ingin berbicara tentang sesuatu yang besar, maka ukuran besar itu pertama kali kita bandingkan dengan ukuran besar yang saat itu ada dikepala kita. Makanya besar menurut anak TK akan sangat jauh berbeda dengan besar menurut seseorang yang bergelut di dunia astronomi. Menurut anak TK, besar itu mungkin hanya seba- tas besar dirinya sendiri. Yang lebih besar dari dirinya dia kategorikan sebagai besar dan yang kecil dari tubuhnya disebutnya kecil. Sedang- kan bagi seorang profesor anstronomi, ukurannya besarnya sudah berubah menjadi besaran kosmos, besaran tahun cahaya. Dan dua- duanya, baik anak TK itu maupun si astronomis, adalah benar. Tidak ada yang salah. Lalu diantara dua ekstrim tersebut, anak TK dan profesor astronomi tersebut, ada diri kita sendiri. Di mana posisi kita ? Tugas kita ini sebenarnya sederhana saja, yaitu untuk iqra, melihat, membaca apakah ukuran-ukuran yang ada di dalam otak kita ini berkembang atau tidak dari waktu ke waktu. Apakah ukuran besar yang ada di dalam otak kita dari hanya sekedar ukuran besar menurut anak TK telah berubah menjadi sebuah ukuran besar menurut anak SD, atau SMP, atau SMA. Atau syukur-syukur ukuran besar kita itu sudah bisa pula mendekati ukuran besar menurut seorang astrono- mis. Amati sajalah pencapaian kita itu dan lalu sampaikanlah kepada orang-orang tentang yang kita pahami. Tulislah, dan dawahkanlah. Tapi jangan paksa seorang anak TK untuk memahami apa-apa yang kita capai itu. Begitu juga jangan paksakan pencapaian kita itu kepada seorang profesor astronomi yang sudah kenyang makan asam garam dunia dalam ukuran besaran makro kosmos. Karena kalau kita sudah memaksa-maksa agar besar orang lain sama dengan besar menurut kita, maka nanti kita sendiri juga yang akan sakit saat mana orang lain itu tidak menerima apa-apa yang kita paksakan kepadanya. Tentang masalah ukuran besar ini saja ternyata sudah sangat berbeda 6. 1-6 Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia dari orang ke orang. Belum lagi kalau mau kita ukur bagaimana suasa- na dan rasa dari besar tersebut. Akan lebih bervariasi lagi. Misalnya saat seseorang terbiasa memiliki uang di dalam tabungan rata-rata selama hidupnya tidak lebih dari Rp. 50 juta, tatkala dia tiba-tiba mendapatkan uang tak terduga-duga dari seseorang sebesar Rp 50 Milyar, maka ada suasana dan rasa wah, huh, hih, aha, yang mengalir di dalam dadanya. Suasana dan rasa itu sangat mempengaruhinya sehingga dia tidak kuat untuk menikmatinya sendiri. Lalu dia akan berteriak, dia akan histeris, dia akan tertawa, dia akan gemetar, dia akan menangis tapi sekaligus juga gembira, bahkan dia bisa lari kesana kemari mengabarkan sebuah suasana dan rasa dari Rp 50 milyar itu. Sehingga seringkali orang yang mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari apa-apa yang dia punya saat ditanya dengan pertanyaan yang aneh: Bagaimana rasanya mendapatkan uang sebesar itu ? Dan jawabannya tentu saja tak kalah anehnya pula. Misalnya: Saya sung- guh senang, saya tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata rasa bahagia saya yang muncul, dan sebagainya. Walaupun begitu, ungkapannya itu tidak akan bisa dirasakan oleh si penanya saat itu, apalagi kalau si penanya saat itu punya uang RP. 500 milyar di dalam tabungannya. Dan yakinlah bahwa ungkapan rasa bahagianya tadi itu tidak akan utuh diterima oleh si penanya itu tadi. Sebab sebuah rasa saat ditulis dalam bentuk huruf, kata, dan kalimat-kalimat tidak akan pernah bisa mewakili rasa itu sendiri. Rasa itu tidak bisa ditransfer kepada orang lain hanya dengan kata-kata dan kalimat-kalimat saja (untuk sementara terima sajalah dulu pernyataan ini). Dari contoh di atas, kita dapat ambil kesimpulan sementara bahwa saat orang bergerak dari sebuah ukuran besar ke ukuran besar yang lebih besar lagi, maka di situ akan ada sebuah proses di dalam dada kita yang ukurannya bukan lagi besaran besar tapi sudah beralih besaran suasana dan rasa. Setiap besaran itu ternyata juga ada 7. 1-7 Keterbatasan Ukuran Pikiran Manusia ukuran suasana dan rasanya. Orang yang tadinya hanya terbiasa melihat besarnya Monas di Jakarta dan rasanya pun sudah tidak ada lagi, saat dia dibawa menaiki mena- ra Eifel di Paris, akan menerima pula besaran rasa menara Eifel buat seketika yang melebihi besaran rasa Monas. Begitupun selanjutnya, seseorang yang tadinya hanya melihat besarnya gunung Tangkuban Perahu saat dibawa mendaki Pegunungan Everest, akan mendapat- kan rasa yang lebih lagi dari saat dia mendaki gunung Tangkuban Perahu tadi. Ya, ternyata ada pula rasa puncak Gunung Everest. Sampai di sini sebuah pertanyaan sederhana, pertanyaan seorang spiritualis, sudah boleh saya sampaikan kepada kita semua : Saat kita mengucapkan Allahu Akbar, Allah Maha Besar, lalu suasana dan rasa puncak seperti apa yang muncul di dalam dad