vii. akidah islam

31
20 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Segala sesuatu yang Allah SWT ciptakan bukan tanpa sebuah tujuan. Allah SWT menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan sebuah kehidupan di dalamnya, bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Sama halnya dengan Allah SWT menciptakan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak sia-sia, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi untuk mengatur atau mengelola apa yang ada di bumi beserta segala sumber daya yang ada. Di samping kita sebagai manusia harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang ada, sebagai seorang manusia juga tidak boleh lupa akan kodratnya yakni menyembah sang Pencipta, Allah SWT, oleh karena itu manusia harus mempunyai aqidah yang lurus agar tidak menyimpang dari apa yang diperintahkan Allah SWT. Penyempurna aqidah yang lurus kepada Allah SWT tidak luput dari aqidah yang benar kepada Malaiakat-Malaikat Allah, Kitab- kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul-aosul Allah untuk disampaikan kepada kita, para umat manusia. Sesungguhnya manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk bertauhid di dalam Aqidah Islamiyah karena kemampuan akal pikiran yang dimiliki itu mengarahkan pada sikap yang rasionalistik bahwa

Upload: adnan-muhammad

Post on 13-Jul-2016

272 views

Category:

Documents


3 download

DESCRIPTION

Akidah Islam

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangSegala sesuatu yang Allah SWT ciptakan bukan tanpa sebuah tujuan. Allah SWT menciptakan bumi beserta isinya, menciptakan sebuah kehidupan di dalamnya, bukanlah tanpa tujuan yang jelas. Sama halnya dengan Allah SWT menciptakan manusia. Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak sia-sia, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi untuk mengatur atau mengelola apa yang ada di bumi beserta segala sumber daya yang ada.Di samping kita sebagai manusia harus pandai-pandai mengelola sumber daya yang ada, sebagai seorang manusia juga tidak boleh lupa akan kodratnya yakni menyembah sang Pencipta, Allah SWT, oleh karena itu manusia harus mempunyai aqidah yang lurus agar tidak menyimpang dari apa yang diperintahkan Allah SWT.Penyempurna aqidah yang lurus kepada Allah SWT tidak luput dari aqidah yang benar kepada Malaiakat-Malaikat Allah, Kitab- kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para Rasul-aosul Allah untuk disampaikan kepada kita, para umat manusia.Sesungguhnya manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk bertauhid di dalam Aqidah Islamiyah karena kemampuan akal pikiran yang dimiliki itu mengarahkan pada sikap yang rasionalistik bahwa Tuhan yang pantas disembah dan ditakuti adalah Allah Yang Esa yang memiliki kekuasaan Absolut.Aqidah tersebut dalam tubuh manusia ibarat kepalanya. Maka apabila suatu umat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitasi adalah aqidahnya terlebih dahulu. Di sinilah pentingnya aqidah ini, apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akhirat.Aqidah merupakan kunci kita menuju surga.Aqidah juga menjadi dasar dari seluruh hukum-hukum agama yang berada di atasnya. Aqidah Islam adalah tauhid, yaitu mengesakan Tuhan yang diungkapkan dalam syahadat pertama. Sebagai dasar, tauhid memiliki implikasi terhadap seluruh aspek kehidupan keagamaan seorang Muslim, baik ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya.Aqidah sebagai dasar utama ajaran Islam bersumber pada Al Quran dan sunnah Rasul. Aqidah Islam mengikat seorang Muslim sehingga ia terikat dengan segala aturan hukum yang datang dari Islam. Oleh karena itu, menjadi seorang Muslim berarti meyakini dan melaksanakan segala sesuatu yang diatur dalam ajaran Islam, seluruh hidupnya didasarkan kepada ajaran Islam.

1.2. Tujuan

Tujuan yang ingin disampaikan dalam makalah ini adalah:a. Pengertian aqidah, tauhid, dan imanb. Klasifikasi tauhidc. Faedah mempelajari aqidahd. Ruang lingkup aqidah Islame. Faktorf. Hubungan aqidah dengan akhlak

BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Pengertian aqidah, tauhid, dan iman serta dalil dalilnya

2.1.1. Pengertian AqidahSesungguhnya aqidah merupakan masalah yang paling pokok dan paling mendasar bagi setiap mukmin. Aqidah menjadi pintu awal masuknya seseorang ke dalam Islam dan aqidah pula yang harus dia pertahankan hingga akhir hidupnya. Seorang mukmin dituntut untuk membawa serta kalimah tauhid, kalimat ikhlas laa ilaaha illallah hingga menghembuskan napas yang terakhir agar dia dikategorikan ke dalam hamba-hamba Allah yang husnul khatimah. Semua mukmin meyakini bahwa barang siapa yang demikian adanya pasti meraih ridha Allah SWT, rahmat-Nya dan surga-Nya. Oleh karena itu bahasan tentang aqidah menjadi masalah paling urgen dan krusial bagi setiap mukmin.Aqidah () dari segi bahasa (etimologis) berasal dari Bahasa Arab () yang bermakna 'ikatan' atau 'sangkutan' atau menyimpulkan sesuatu. Aqidah juga di artikan al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan) dan al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan).Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama sendiri adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah, baik itu benar ataupun salah.Secara terminologis terdapat beberapa definisi aqidah yang dikemukakan oleh para ulama Islam, antara lain: Menurut Hasan Al-Banna Aqaid (bentuk jamak dari aqidah) adalah beberapa perkara yang wajib di yakini kebenaranya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikit pun dengan keragu-raguan. Menurut Abu bakar Jabir al-Jazairy .Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah.Kebenaran itu dipatrikan di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaanya secara pasti dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.Dari dua definisi di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka mendapatkan suatu pemahaman mengenai aqidah yang lebih proporsional, yaitu:a. Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran, indra untuk mencari kebenaran dan wahyu untuk menjadi pedoman dalam menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam beraqidah hendaknya manusia menempatkan fungsi masing-masing instrumen tersebut pada posisi sebenarnya.b. Keyakinan yang kokoh itu terbebas dari segala pencampur adukan dengan keragu-raguan walaupun sedikit. Keyakinan hendaknya bulat dan penuh, tiada bercampur dengan syak dan kesamaran. Oleh karena itu untuk sampai kepada keyakinan itu manusia harus memiliki ilmu, yakni sikap menerima suatu kebenaran dengan sepenuh hati setelah meyakini dalil-dalil kebenaran.c. Aqidah tidak harus mampu mendatangkan ketentraman jiwa kepada orang yang meyakininya. Dengan demikian, hal ini mensyaratkan adanya keselarasan dan kesejahteraan antara keyakinan yang bersifat lahiriyah dan keyakinan yang bersifat batiniyah. Sehingga tidak didapatkan padanya suatu pertentangan antara sikap lahiriyah dan batiniah.d. Apabila seseorang telah meyakini suatu kebenaran, konsekuensinya ia harus sanggup membuang jauh-jauh segala hal yang bertentangan dengan kebenaran yang diyakininya itu.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa aqidah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dalil tentang dasar Aqidah IslamManusia yang mengikuti petunjuk Al-Quran berarti telah memiliki aqidah yang benar. Sebaliknya, manusia yang tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Quran tidak memiliki aqidah yang benar. Sebagaimana firman Allah SWT, berikut:

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengansesuatupun.(Q.S.An-Nisa:36)

Allah memberi petunjuk kepada manusia untuk mengikuti kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, sebagaiman firman Allah SWT, berikut. Artinya:Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr : 7)

Dalil tentang Aqidah IslamTujuan mempelajari akidah Islam dapat diuraikan dengan dalilnya, berikut:a. Menghindarkan diri dari pengaruh kehidupan yang sesatArtinya:Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. Ali-Imran : 31)

b. Mengetahui petunjuk yang benar sebagai pedoman agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang burukArtinya: Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (Q.S. Al-Baqarah : 185)

2.1.2. Pengertian TauhidTauhid menurut bahasa adalah meng-Esakan.Sedangkan menurut syariat adalah meyakini keesaan Allah.Adapun yang disebut ilmu tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang aqidah atau kepercayaan kepada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar.Tidak ada yang menyamainya dan tak ada padanan bagi-Nya. Mustahil ada yang mampu menyamai-Nya.Sedangkan secara istilah syari tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Yaitu menjadikan ibadah seluruhnya hanya untuk Allah Azza wa Jalla.Dan supaya agama itu semata mata untuk Allah. (Qs Al-Anfaal : 39)Dalilnya dari firman-firman AllahDan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Qs Adz-Dzariyat : 56)Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (Qs An Nisa : 36)Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai. (Qs Ghafir : 14)Dia adalah Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(Qs Ash-Shuraa :11)Seluruh alam semesta ini diciptakan oleh Allah, dan tidak ada pelaku yang bertindak sendiri dan merdeka sepenuhnya selain Allah.2.1.3. Pengertian Iman

Dalam islam Iman adalah aqidah atau kepercayaan. Sumbernya yang asasi ialah Al-Quran.Iman secara bahasa berarti at-tashdiiq (pembenaran). Pengertian dasar dari istilah iman ialah memberi ketenangan hati atau pembenaran hati. Jadi makna iman secara umum mengandung pengertian pembenaran hati yang dapat menggerakkan anggota badan memenuhi segala konsekuensi dari apa yang dibenarkan oleh hati. Keimanan dipandang sempurna, apabila ada pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakin dan tidak bercampur keraguan, dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-hari.Iman sering juga dikenal dengan istilah aqidah, yang berarti ikatan, yaitu ikatan hati.Bahwa seseorang yang beriman mengikatkan hati dan perasaannya dengan sesuatu kepercayaan yang tidak lagi ditukarnya dengan kepercayaan lain. Aqidah tersebut akan menjadi pegangan dan pedoman hidup, mendarah daging dalam diri yang tidak dapat dipisahkan lagi dari diri seorang mukmin. Bahkan seorang mukmin sanggup berkorban segalanya, harta dan bahkan jiwa demi mempertahankan aqidahnya.

Ada beberapa definisi iman menurut para ahli, diantaranya : Al-Imam Ismail bin Muhammad At-Taimiy Iman dalam pengertian syariy adalah satu perkataan yang mencakup makna semua ketaatan lahir dan batin. Al-Imam An-Nawawiy Iman dalam istilah syariy adalah pembenaran dengan hati dan perbuatan dengan anggota tubuh. Al-Imaam Ibnul-Qayyim . : . : . .Hakikat iman terdiri dari perkataan dan perbuatan. Perkataan ada dua : perkataan hati, yaitu itiqaad; dan perkataan lisan, yaitu perkataan tentang kalimat Islam (mengikrarkan syahadat). Perbuatan juga ada dua : perbuatan hati, yaitu niat dan keikhlasannya; dan perbuatan anggota badan. Apabila hilang keempat hal tersebut, akan hilang iman dengan kesempurnaannya. Dan apabila hilang pembenaran (tashdiiq) dalam hati, tidak akan bermanfaat tiga hal yang lainnya.Rasulullah bersabda : : : .Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Ismail ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zurah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah r.a berkata: Pada suatu hari ketika Nabi saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, apakah iman itu?. Jawab Nabi SAW: iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur.

Berdasarkan kedua hadis tersebut selanjutnya oleh sebagian besar ulama dirumuskan bahwa pengertian iman secara keseluruhan meliputi: Keyakinan tentang adanya Allah SWT :1. Keyakinan terhadap malaikat-malaikat Allah SWT.2. Keyakinan tentang kebenaran kitab-kitab yang diturunkan-Nya.3. Keyakinan tentang kebenaran rasul-rasul utusan-Nya.4. Keyakinan tentang kebenaran adanya hari kebangkitan dari alam kubur.5. Keyakinan kepada qadha dan qadar Allah, yang baik maupun yang buruk.

2.2. Klasifikasi TauhidPembagian yang masyhur di kalangan ulama adalah pembagian tauhid menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa shifat.A. Tauhid Rububiyah.Tauhid Rububiyah yaitu mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk-Nya.Dan alam semesta ini diatur oleh Mudabbir (Pengelola), Pengendali Tunggal, Tak disekutui oleh siapa dan apapun dalam pengelolaan-Nya. Allah menciptakan semua makhluk-Nya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musrik yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga mengakui keesaan rububiyah-Nya. Jadi jenis tauhid ini diakui semua orang. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lainnya. Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Firaun. Namun demikian di hatinya masih tetap meyakini-Nya.Alam semesta dan fitrahnya tunduk dan patuh kepada Allah. Sesungguhnya alam semesta ini (langit, bumi, planet, bintang, hewan, pepohonan, daratan, lautan, malaikat, serta manusia) seluruhnya tunduk dan patuh akan kekuasaan Allah. Tidak satupun makhluk yang mengingkari-Nya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-masing, serta berjalan menurut aturan yang sangat sempurna. Penciptanya sama sekali tidak mempunyai sifat kurang, lemah, dan cacat. Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir, dan qadha-Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan, dan dikendalikan-Nya.AllahTaalaberfirman :Segala puji bagi Allah,Rabb semesta alam (Q.S. Al-Fatihah : 1)Dan Nabisawbersabda,Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi (Mutafaqqun Alaih)Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah. Dan itulah yang disebut Tauhid Uluhiyah. Jadi tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan tauhid rububiyah. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.B. Tauhid Uluhiyah.Tauhid Uluhiyah yaitu ibadah. Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, raja (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), dan inabah (kembali atau taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul. Disebut demikian, karena tauhid uluhiyah adalah sifat Allah yang ditunjukkan oleh nama-Nya, Allah yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah), dan juga karena tauhid uluhiyah merupakan pondasi dan asas tempat dibangunnya seluruh amal. Juga disebut sebagai tauhid ibadah karena ubudiyah adalah sifat abd (makhluknya) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, karena ketergantungan mereka kepada-Nya.AllahTaalaberfirman:Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Baqarah : 163)Dan Nabisawbersabda,Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwatiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah (Mutafaqqun Alaih).Dalam riwayat Imam Bukhari,Sampai mereka mentauhidkan Allah.C. Tauhid Al-AsmaWa ShifatTauhid Al-Asma Wa Shifat yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al Quran dan Sunah Rasul-Nya.Maka barang siapa yang mengingkari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya atau menamai Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya atau menakwilkan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasulnya.AllahTaalaberfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (Q.S. Asy-Syuura : 11)Dan Nabi sawbersabda,Allah tabaraka wa taala turun ke langit dunia pada setiap malam (Mutafaqqun Alaih).Di siniturunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah.2.3. Faedah mempelajari aqidahKarena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi.Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mumin harus yakin kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akhirat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akhirat.Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah: a. Membebaskan diri dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.b. Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka.c. Merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepada Allah (outer focus of control).d. Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridha terhadap segala ketentuan Allah.e. Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya, antara pintar dan bodoh, antara pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT. f. Supaya terhindar daripada ajaran-ajaran sesat yang akan merasakan aqidah seseorang terhadap Allah swt.g. Meneguhkan keimanan dan keyakinan kepada sifat-sifat kesempurnaanNyah. Memantapkan aqidah seseorang supaya tidak terikut dan terpengaruh dengan amalan-amalan yang bisa merusak aqidah.i. Audit dan Timbangan Amalan. Antaranya perkara yang akan dialami oleh manusia di akhirat ialah hisab dan timbangan amalan.j. Balasan Surga dan Neraka. Berdasarkan nas-nas Al-Quran menunjukkan bahwa orang yang mempunyai amalan baiknya banyak sehingga memberatkan timbangan amalan baik ia akan dimasukan ke dalam surga, manakala mereka yang sebaliknya akan dimasukan ke dalam neraka.k. Menjaga iman supaya selamat di dunia dan akhirat.

2.4. Ruang lingkup pembahasan aqidah

Menurut Hasan Al-Banna ruang lingkup Aqidah Islam meliputi :1. Ilahiyat, yaitu pembahasan tentang segala susuatu yang berhubungan dengan Tuhan (Allah), seperti wujud Allah, sifat Allah dsb.2. Nubuwat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, mujizat Allah dsb.3. Ruhaniyat, yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik sepertijin, iblis, setan, roh dsb.4. Sam'iyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam'i, yakni dalil Naqli berupa Al-quran dan as-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat dan Azab Kubur, tanda-tanda kiamat, Surga-Neraka dsb.

Al-Quran telah menetapkan rukun-rukun aqidah ini.

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, (Q.S. Al-Baqarah : 285).Beberapa ulama juga menunjukkan lingkup pembahasan mengenai Aqidah Islamiyah dengan Arkanul Iman (rukun iman) yang meliputi :1. Iman kepada AllahBeriman kepada Allah adalah membenarkan dengan yakin akan eksistensi Allah dan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya, penciptaan alam seluruhnya maupun dalam penerimaan Ibadat segenap hamba-Nya, serta membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mempunyai sifat kesempurnaan dan terhindar dari sifat kekurangan.2. Iman kepada para malaikat-NyaBeriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk gaib bernama malaikat yang tidak pernah durhaka kepada-Nya, senantiasa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya.3. Iman kepada kitab-kitab suci-NyaIman kepada kitab-kitab suci-Nya adalah mempercayai bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Nabi dan Rasul.

4. Iman kepada Rasul-NyaIman kepada Rasul Allah adalah mempercayai bahwa Allah telah mengutus Rasul sebagai perantara untuk menyampaikan pesan kepada umat manusia yang berupa wahyu untuk dijadikan pedoman hidup agar selamat didunia dan akhirat.Rasul juga memberi contoh teladan yang sebaik-baiknya bagi umatnya.5. Iman kepada hari akhirIman kepada hari akhir adalah mempercayai adanya kehidupan yang kekal sesudah kehidupan didunia yang fana ini. Berakhir termasuk proses terjadinya yang terjadi pada hari akhir itu mulai dari hancurnya kehidupan alam semesta dan isinya (qiyamah) sampai kepada pembalasan dengan surga atau neraka (jaza)6. Iman kepada takdir AllahIman kepada takdir Allah adalah mempercayai bahwa Allah telah memberi kadar, memberi ukuran, memberi batas tertentu dalam diri, sifat ataupun kemampuan maksimal pada makhluknya.

2.5. Faktor yang menguatkan dan melemahkan aqidahAda beberapa faktor penyebab yang dapat menguatkan aqidah dan melemahkan aqidah seseorang.Berikut ini hal hal yang dapat menguatkan aqidah seseorang:a. Menuntut ilmu, yaitu ilmu yang menyebabkan bertambahnya pengetahuan dan keyakinan tentang iman (QS. Al-Fatir : 28)b. Menyimak atau mentadaburkan Al-Quran (QS. Al- Isra : 282)c. Dzikir dan FikirDzikir adalah mengingat Allah beserta sifat-sifatnya, hal-hal yang menyangkut keagungannya dan membaca kalam-Nya (QS. Al- Ahzab : 41)Fikir adalah aktivitas yang mengacu kepada renungan terhadap ciptaan Allah, ayat-ayat-Nya dan mukjizatnya (QS. Ali Imran : 190-191)d. Memperbanyak amal saleh yang harus diperhatikan yaitu : Sesegera mungkin melaksanakan amal-amal saleh (QS. Ali Imran : 33, QS. Al- Hadid : 21, QS. AL-Haj: 90) dan hadits : Pelan-pelan (berhati-hati) dalam segala sesuatu adalah baik kecuali didalam amal akhirat ( HR.Abu Daud) Melakukannya secara terus menerus Allah menyukai amalan yang walaupun sedikit tapi dikerjakan secara terus menerus (HR.Bukhari) Tidak merasa bosan. maksudnya kerjakanlah ibadah sesuai dengan kemampuan Sesungguhnya agama itu adalah mudah dan tidaklah agama itu dikeraskan oleh seseorang melainkan justru ia akan dikalahkan. Maka berbuatlah yang lurus dan sederhana. (HR Bukhari) Mengulang amalan yang tertinggal dan terlupakan. Barang siapa yang tertidur hingga ketinggalan bacaan wiridnya dari sebagian malam atau dari sebaian bacaan wirid, lalu di membacanya lagi antara shalat subuh dan shalat dzuhur maka ditetapkan baginya seakan-akan ia membacanya pada waktunya. (HR. An-Nasai)e. Berharap amalnya diterima Allah dan merasa cemas jika amalannya tidak diterima Allah Swtf. Lakukan berbagai macam ibadah. Barang siapa yang menafkahi dua istri dijalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, Wahai hamba Allah ini adalah baik lalu barangsiapa yang menjadi orang yang benyak mendirikan shalat maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa menjadi orang yang banyak melakukan shaum, maka ia dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Barang siapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan shodaqoh maka ia dipanggil dari pintu shadaqah. (HR. Bukhari). Berbakti kepada orang tua adalah pertengahan dari pintu surga.(HR Tirmidzi)g. Dzikrul maut.Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. (HR. Tirmidzi) Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah, sekarang ziarahilah kubur karena hal itu dapat melunakkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan hari akhirat dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor. (HR.Hakim)h. Mengingat akhirat, yaitu mengingat nikmatnya surga dan keras atau pedihnya neraka (QS.Al-Waqiah : 75, 78)i. Bernunajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya. Maksudnya : memohon kepada Allah dengan ketundukkan dan kepasrahan yang sedalam-dalamnya.j. Tidak berangan-angan secara muluk-muluk (QS.Ash-Shuara : 205-207, QS.Yunus : 45)k. Memikirkan kehinaan dunia(QS.Ali Imran : 185) Hadits : Dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa yang ada didalamnya, kecuali dzikrullah dan apa yang membantunya atau orang yang berilmu atau orang yang mencari ilmu. (HR. Ibnu Majah)l. Mengagungkan hal-halyang terhormat disisi Allah . (QS.Al-Haj : 30,32)m. Tawadu ( rendah hati ). Barang siapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal ia mampu mengenakannya maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga ia diberi kebebasan memilih diantara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya. (HR. Ath.Thirmidzi)n. Muhasabah diri ( QS.Al-Hashr : 18)o. Doa (QS.Al-Baqarah : 186)

Berikut ini hal hal yang dapat melemahkan iman:a. Jauh dari suasana atau lingkungan iman dalam waktu yang lama (QS.Al-Hadid :16)b. Jauh dari pelajaran dan teladan yang baikc. Jauh dari menuntut ilmu syariat yang dapat membangkitkan iman didalam hati penuntutnya Ilmu itu adalah yang menghidupkan (Ruh) Islam dan tiangnya iman. (HR. Abu Daud)d. Berada ditengah lingkungan yang penuh kemaksiatan.Rasulullah Saw bersabda : Sesungguhnya jika seseorang mukmin berbuat dosa maka terjadilah di hatinya sebuah titik hitam, jika ia beristighfar, maka bersihlah kembali hatinya. Jika tidak bertaubat dan bertambah terus amal jahatnya maka bertambah banyaklah titik hitam tadi sehingga tertutup hatinya. e. Tenggelam dalam kesibukkan dunia.Cukuplah bagi salah seorang diantara kamu selagi ia di dunia hanya seperti bekal orang yang mengadakan perjalanan. (HR.Thabrani)f. Sibuk mengurusi harta benda, istri dan anak-anak (QS. Al-Anfal :28, QS.Ali Imran:14)g. Panjang angan-angan (Berangan yang muluk-muluk) (QS.Al-Hijr :3)Ali ra pernah berkata : Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan atas diri kalian ialah mengikuti hawa nafsu dan angan-angan yang muluk. Mengikuti hawa nafsu akan menghalangi dari kebenaran, sedangkan angan-angan yang muluk akan melupakan akhirat.h. Berlebih-lebihan dalam masalah makan, tidur, berjaga di waktu malam, berbicara, bergaul, dan juga tertawa.i. Tidak tekun dan bermalas-malasan dalam beribadahSalah satu ketidaktekunan dalam beribadahialah tidak khusu (konsentrasi) dalam mengerjakannya.Contoh : tidak khusu dalam shalat, membaca Al-Quran, berdoa dan lain-lain. Sehingga ibadah tersebut dilakukan dengan jiwa yang kosong tanpa Ruh (QS.An-Nisa :142). Padahal dalam sebuah hadits dikatakan : Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main (HR. Tirmidzi)j. Terputusnya tali persaudaraan di antara dua orang yang semula bersaudara.Tidak selayaknya dua orang yang saling mengasihi karena Allah Azza Wa Jalla, atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang antara keduanya (HR. Bukhari)k. Mengeluh dan takut akan musibah (QS. Al-Maarij :19-21) Janganlah kamu sekali-kali mencela yang maruf sedikitpun, meski engkau hanya menuangkan air ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air.Atau meski engkau hanya berbicara dengan saudaramu sedang wajahmu tampak berseri kepadanya. (HR. Ahmad).

2.6. Hubungan aqidah dengan akhlakDengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar, dengan itu ia akan mampu mengimplementasikan tauhid ke dalam akhlak yang mulia (Akhlakul Karimah). Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkanNya.

Aqidah adalah gudang akhlak yang kokoh.Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi manusia untuk berpegang teguh kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Keberadaan akhlak memiliki peranan yang istimewa dalam akidah Islam. Akidah tanpa akhlak, seumpama sebatang pohon yang tidak dapat dijadikan tempat berlindung di saat kepanasan, dan tidak pula ada buahnya yang dapat dipetik. Sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya merupakan layang-layang bagi benda yang tidak tetap, dan selalu bergerak. Islam menganjurkan setiap individu untuk berakhlak mulia, dan menjadikannya sebagai kewajiban di atas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya.Atas dasar ini, agama tidak memberikan wejangan akhlak semata, tanpa didasari rasa tanggung jawab.Bahkan keberadaan akhlak, dianggap sebagai penyempurna ajaran-ajarannya.Karena agama itu, tersusun dari akidah dan perilaku. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut: dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: Orang Mukmin yang sempurna imannya adalah yang terbaik budi pekertinya, (HR. Tirmidzi). Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak itu harus berpijak pada keimanan.Iman tidak cukup disimpan dalam hati, namun harus dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk akhlak yang baik.Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik, pertanda ia mempunyai iman yang kuat dan jika perbuatan buruk, maka dapat dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah.Dengan demikian, jelaslah bahwa akhlak yang baik, merupakan mata rantai dari keimanan seseorang.Sebaliknya, akhlak yang dipandang buruk, adalah perilaku-perilaku yang menyalahi prinsip-prinsip keimanan.Walaupun, secara kasat mata perilaku itu kelihatannya baik.Namun, jika titik tolaknya bukan karena iman, hal tersebut tidak mendapatkan penilaian di sisi Allah.Perbuatan itu, diibaratkan seperti fatamorgana di gurun pasir.Dari uraian diatas dapat disimpilkan bahwa hubungan Aqidah Islam dan Akhlak ialah sama-sama mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan antara lain :a. Memelihara kemuliaan insan serta keluhurannya.b. Memancarkan nila-nilai yang murni dalam jiwa orang-orang yang beriman dan nilai-nilai ikhlas untuk Allah.c. Membentuk diri menjadi hamba Allah yang bersyukur dalam usaha pembentukan insan yang mulia yang diridhoi Allah.d. Menjamin jalinan hubungan yang berasaskan akhlak yang dapat membebaskan manusia dari kehinaan dan dapat meningkatkan martabat menuju kemuliaan dan kehormatan.e. Membina dan membentuk akhlak murni dikalangan orang-orang beriman dalam pergaulan antar sesama mereka.f. Memupuk perasaan kasih sayang serta mengkukuhkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.

BAB IIIPENUTUP

3.1. KesimpulanDari penjelasan diatas penyusun dapat simpulkan sebagai berikut : Aqidah adalah perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Aqidah mempunyai beberapa tingkatan, yaitu ; taklid, ilmu yakin, ainul yakin, dan haqqul yakin. Pengertian dasar dari istilah iman ialah memberi ketenangan hati atau pembenaran hati. Keimanan dipandang sempurna, apabila ada pengakuan dengan lidah, pembenaran dengan hati secara yakin dan tidak bercampur keraguan, dan dilaksanakan dalam perbuatan sehari-hari. Keimanan terbagi menjadi enam (6), yaitu; iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, Rasul-rasul, hari Qiyamat, dan Qadha dan Qadar.

3.2 Kritik & SaranKeimanan seseorang akan berpengaruh terhadap perilakunya sehari-hari, oleh karena itu penulis menyarankan agar kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT agar hidup kita senantiasa berhasil menurut pandangan Allah SWT. Juga keyakinan kita terhadap malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan takdir senantiasa harus ditingkatan demi meningkatkan amal ibadah kita.Dari makalah kami yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya kami pribadi. Yang baik datangnya dari Allah, dan yang buruk datangnya dari kami. Dan kami sadar bahwa makalah kami ini jauh dari kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi kami harapkan saran dan kritik nya yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah-makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://new-article-artikel.blogspot.co.id/2011/12/makalah-tentang-aqidah_9079.htmlhttps://ayundi1456.wordpress.com/2013/01/02/pengertian-dan-macam-macam-tauhid/https://asysyifausakti.wordpress.com/2009/05/04/faedah-mempelajari-aqidah-islamiyah/http://akidahmuslim.blogspot.co.id/2008/11/antara-tujuan-mempelajari-ilmu-akidah.htmlhttps://mentoringsma11jogja.wordpress.com/2010/10/28/hal-hal-yang-melemahkan-dan-menguatkan-iman/Rosihan Anwar, (2008), Akidah Akhlak, Bandung : Pustaka Setia, hlm. 201-202Asmaran As, (2002), Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm.110.

20