tuli kongenital bari-1

Download Tuli Kongenital Bari-1

Post on 03-Apr-2018

223 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/28/2019 Tuli Kongenital Bari-1

    1/24

    1

    BAB1

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Gangguan pedengaran pada bayi/ anak adalah salah satu masalah pada anak-

    anak yang akan berdampak pada perkembangan bicara, sosial, kognitif dan akademik.

    Masalah akan makin bertambah apabila tidak dilakukan deteksi dan intervensi dini.

    Gangguan pedengaran pada bayi/anak adalah tuli yang terjadi pada seorang bayi yang

    disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan maupun pada saat lahir.

    Ketulian ini dapat berupa ketulian sebagian (hearing impaired) atau tuli total (deaf).1,2,4

    Gangguan pendengaran pada anak dibagi menjadi genetic herediter dan non

    genetic. Pada kelahiran terjadi ketulian pada anak karena kegagalan dari perkembangan

    sistem pendengaran akibat faktor genetik, kerusakan dari mekanisme pendengaran dari

    masa embrional, kehidupan janin di dalam kandungan atau selama proses kehamilan.

    Faktor-faktor diatas akan menyebabkan anak tuli sebelum lahir atau tuli pada saat lahir

    sehingga anak tersebut tidak akan pernah mendengar suara maka dia akan acuh tak acuh

    terhadap lingkungan sekitarnya. Anak yang lahir tuli meskipun tidak pernah mendengar

    tetapi dapat juga tersenyum bahkan berteriak-teriak hanya saja suara yang dihasilkan

    tidak berguna untuk komunikasi.1,4

    Gangguan pendengar pada bayi dan anak kadang-kadang disertai

    keterbelakangan mental, gangguan emosional maupun afasia perkembangan.Umumnya

    sebagian bayi atau anak yang mengalami gangguan pendengaran lebih dahulu diketahui

    keluarganya sebagai pasien yang terlambat bicara.Pada prinsipnya gangguan

    pendengaran pada bayi haras diketahui sedini mungkin. Walaupun derajat ketulian yang

    sedang dialami seorang bayi bersifat ringan namun dalam keadaan normal seorang bayimemiliki kesiapan berkomunikasi yang efektif pada usia 18 bulan dimana pada saat itu

    merupakan periode kritis untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran.1,2,4

  • 7/28/2019 Tuli Kongenital Bari-1

    2/24

    2

    BAB II

    PEMBAHASAN

    2.1Anatomi Telinga

    Sistem auditorius terdiri dari tiga komponen yaitu telinga luar, tengah dan

    dalam.Telinga luar terdiri dari daun telinga, liang telinga dan membran timpani. Daun

    telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit.Liang telinga berbentuk huruf S

    dengan rangka tulang rawan sepertiga luar sedangkan dua pertiga bagian dalamnya

    terdiri dari tulang. Panjang dari liang telinga ini berkisar 2,5-3 cm. Pada sepertiga

    bagian luar liang telinga banyak terdapat kelenjar serumen dan rambut kelenjar keringat

    terdapat pada seluruh liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam liang telinga sedikit

    dijumpai kelenjar serumen.2,3,4

    Telinga tengah berbentuk kubus yang dibatasi oleh bagian-bagian seperti

    berikut:

    1. Batas luar : membran timpani

    2. Batas depan : tuba eustachius

    3. Batas bawah : venajugularis (bulbus jugularis)

    4. Batas belakang : aditus adantrum, kanalis fasialis pars vertikalis

    5. Batas atas : tegmen timpani

    6. Batas dalam : berturut rurut dari atas kebawah kanalis

    semisirkularishorizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong,

    tingkap bundar dan promontorium.

    Membran timpani berbentuk bundar dan cekung apabila dilihat dari arah liang telinga

    dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida,

    sedangkan bagian bawah disebut pars tensa. Pars flaksida hanya berlapis dua yaitubagian luar yaitu lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam adalah epitel

    saluran nafas. Pars tensa memiliki satu lapisan lagi di tengah yaitu lapisan yang terdiri

    serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan sebagai radier dibagian luar dan

    sirkuler di bagian dalam.Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran

    timpani disebut sebagai umbo.Dari bagian umbo bermula suatu reflek cahaya yaitu pada

    pukul 7 pada telinga kiri dan pukul 5 pada telinga kanan. Membran timpani dibagi

    menjadi 4 kuadran dengan menarik garis tengah pada longus maleus dan garis tegak

  • 7/28/2019 Tuli Kongenital Bari-1

    3/24

    3

    lurus pada garis itu di umbo sehingga didapati bagian atas-depan, atas-belakang,

    bawah-depan dan bawah-belakang. Tulang pendengaran pada telinga tenga saling

    berhubungan.Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat

    pada inkus, dan inkus melekat pada stapes.Stapes berhubungan dengan tingkap lonjong

    yang berhubungan dengan koklea.Hubungan antar tulang pendengaran ini adalah

    persendian. Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat

    anditus ad antrum yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum

    mastoid.Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan

    nasofaring dan telingatengah1,6,7

    Telinga dalam terdiri dari koklea yang berupa dua setengah lingkaran dan

    vestibuler fang terdiri 3 buah kanalis semisirkularis ujung atau puncak dari koklea

    disebut helikotrema yang menghubungkan perilimfa skala timfani dengan skala

    vestibuli.Kanalis semisirkularis berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk

    lingkaran yang tidak lengkap.Pada irisan melintang koklea, pada sebelah atas terlihat

    skala vestibuli, bawah tampak skala timpani dan dukrus koklearis pada skala media atau

    diantaranya.Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli sedangkan dasar

    skala media disebut membran basalis.Pada membran ini terletak organ corti.Pada skala

    media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria dan pada

    membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam dan luar dan

    kanalis corti yang membentuk organ korti.1,4,8

  • 7/28/2019 Tuli Kongenital Bari-1

    4/24

    4

    2.2 Fisiologi Pendengaran

    Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya gelombang bunyi dari daun

    telinga yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut

    memggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang

    pendengaran yang akan mengamflikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran

    dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong.1,4,6

    Energi energi getar yang telah diamfilikasi ini akan diteruskan ke tulang stapes

    yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak.

    Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfa sehingga

    akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses

    ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan defleksi stereosillia sel-sel rambut

    sehingga kanal ion terbukadan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik ke badan sel.

    Keadaan ini menyebabkan depolarisasi sel rambur sehingga menyebabkan pelepasan

    neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf

    auditorius lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran di

    lobus temporalis.2,4,5

    Persarafan pada pendengaran dan keseimbangan berasal dari Nervus Akustikus

    dan Nervus Fasialis yang masuk ke porus dari meatus acusticus internus dan bercabang

    dua membentuk Nervus vestibularis dan Nervus Koklearis. Sedangkan perdarahan dari

    telinga diperdarahi oleh Arteri Labirinti yang berasal dari Arteri Serebelli inferior dan

    langsung dari Arteri Basilaris dan masuk ke meatus internus yang kemudian bercabang

    menjadi:

    1. Ramus Vestibularis :"bagian atas vestibulum kanalis semisirkularis

    dan koklea bagian basal.

    2. Ramus Vestibulocochlearis :bawah vestibulum, kanalis semisirkularis dankoklea bagian basal.

    3. Ramus Koklearis :bagian koklea lainnya

  • 7/28/2019 Tuli Kongenital Bari-1

    5/24

    5

    2.3 Perkembangan Auditorik2,4,6

    Perkembangan auditorik pada manusia sangat erat hubungannya dengan

    perkembangan otak. Neuron di bagian korteks mengalami proses pematangan dalam

    waktu 3 tahun pertama kehidupan, dan 12 bulan pertama kehidupan terjadi

    perkembangan otak yang sangat cepat.

    Berdasarkan penelitian bahwa koklea mencapai fungsi normal seperti orang

    dewasa pada usia gestasi 20 minggu. Pada masa tersebut janin dalam kandungan sudah

    dapat memberikan respon pada suara yang ada disekitarnya namun reaksi janin masih

    reaksi seperti refleks moro, terhentinya aktivitas, dan refleks auropalpebral.

    Membuktikan respon terhadap suara berupa refleks auropalpebral yang konsisten pada

    janin usia 24-25 minggu.

    2.4 Definisi1,4,6

    Ganguan pendengaran pada bayi/ anak ialah berupa ketulian yang terjadi pada

    seorang bayi yang disebabkan faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan maupun

    pada saat lahir.

    2.5 Insidensi1,4,6

    Di negara maju angka kejadian gangguan pendengaran pada bayi berkisar antara

    0,1-0,3% kelahiran hidup, sedangkan di Indonesia berdasarkan survey yang dilakukan

    Depkes di 7 propinsi pada tahun 1994-1996 yaitu sebesar 0,1%. di Indonesia

    diperkirakan 214.000 orang bila jumlah penduduk sebesar 214.100.000 juta.

    Jumlah ini akan bertambah setiap tahunnya seiring dengan pertambahan jumlah

    penduduk akibat tingginya angka kelahiran sebesar 0,22%. Hal ini akan berdampak

    pada penyediaan sarana pendidikan dan lapangan pekerjaan di masa mendatang.Pertemuan WHO di Colombo pada tahun 2000 memutuskan bahwa tuli kogenital

    sebagai salah satu penyebab ketulian yang angka prevalensinya harus diturunkan. Ini

    tentu saja memerlukan kerja sama dengan bidang lainnya dan masyarakat selain tenaga

    kesehatan.

  • 7/