tradisi kawin kontrak dalam prespektif sosiologi pendidikan

of 31 /31
BAB I PENDAHULUAN A. Kontek Kajian Di tengah retasnya moralitas pergaulan lelaki dan perempuan, mungkin tak ada salahnya kita menengok kembali sebuah pertemuan sacral yang disebut perkawinan atau pernikahan. Sebab Islam sendiri sangat menekankan akan pentingnya jalan pernikahan itu. Saking pentingnya, dalam kitab-kitab fiqih hampir sepertiganya khusus membahas soal-soal pernikahan. Rasulullah sendiri telah bersabda :’Nikah itu termasuk sunnahku, bagi siapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku”. Nikah adalah salah satu asas pokok kebutuhan hidup manusia terutama untuk menselaraskan pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat yang bermoral. Perkawinan juga salah satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan berumah tangga dan memperoleh keturunan serta sebagai salah satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu kaum dengan yang lain. Dengan adanya perkenalan tersebut akan terjalin persaudaraan yang akan menimbulkan saling tolong menolong antar sesame. Kalau kita perhatikan, masih banyak orang yang tidak berkeinginan untuk menjalankan pernikahan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Meskipun kesannya jauh dari aroma ii

Upload: m-alif-surya-maulana

Post on 29-Dec-2015

69 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kontek Kajian

Di tengah retasnya moralitas pergaulan lelaki dan perempuan,

mungkin tak ada salahnya kita menengok kembali sebuah pertemuan sacral

yang disebut perkawinan atau pernikahan. Sebab Islam sendiri sangat

menekankan akan pentingnya jalan pernikahan itu. Saking pentingnya, dalam

kitab-kitab fiqih hampir sepertiganya khusus membahas soal-soal pernikahan.

Rasulullah sendiri telah bersabda :’Nikah itu termasuk sunnahku, bagi siapa

yang tidak mengikuti sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku”.

Nikah adalah salah satu asas pokok kebutuhan hidup manusia

terutama untuk menselaraskan pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat

yang bermoral. Perkawinan juga salah satu jalan yang amat mulia untuk

mengatur kehidupan berumah tangga dan memperoleh keturunan serta

sebagai salah satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu kaum dengan

yang lain. Dengan adanya perkenalan tersebut akan terjalin persaudaraan

yang akan menimbulkan saling tolong menolong antar sesame. Kalau kita

perhatikan, masih banyak orang yang tidak berkeinginan untuk menjalankan

pernikahan dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Meskipun kesannya

jauh dari aroma dosa, namun Rasulullah tetap mencela pendirian seperti itu.

Sebagaimana kisah pertemuan beliau dengan sahabat Akkaf di bawah ini,

kiranya dapat menjadi bahan renungan bersama.

Rasulullah bertanya kepadanya : “Wahai Akkaf, adakah engkau

mempunyai seorang istri?”. Maka Akkaf pun menjawab : tidak ya Rasulullah.

“Dan apakah engkau tak memiliki seorang budak pun?”. Akkaf masih

menjawab tidak. Maka Rasul pun bertanya : “Bukankah engkau orang yang

sehat lagi kaya ?”. Jawab Akkaf : “Ya, wahai Rasul”. Lantas Rasulullah

bersabda : “Kalau memang demikian, maka engkau termasuk temannya

syetan. Jika kamu dari golongan pendeta Nasrani, maka itu lebih pantas.

Tetapi jika kamu mengaku bagian dari umatku, maka lakukanlah seperti yang

ii

Page 2: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

telah aku lakukan. Dan sesungguhnya nikah itu termasuk dari sunnahku.

Sejelek-jelek kalian adalah orang yang tidak mau menikah. Sungguh seburuk-

buruk orang yang mati di antara kalian, adalah orang yang mati tanpa istri.

Maka celakalah engkau Akkaf ! Segeralah menikah wahai Akkaf !.

Akkaf pun berkata :”Wahai Rasulullah, aku tidak akan menikah

sehingga Engkau menikahkan aku dengan siapapun wanita yang engkau

pilih”. Maka Rasulullah bersabda :”Jika demikian, maka kunikahkan engkau

atas asma Allah dan semoga diberkahi oleh-Nya, dengan Al-Karimah binti

Qulsum al-Himyari”.

Itulah gambaran betapa pentingnya suatu perkawinan atau

pernikahan, karena di samping menjalankan sunnah Rasul, pernikahan

bertujuan untuk menghindari diri dari perzinahan. Bahkan dalam suatu

hadits, Rasulullah menghimbau para pemuda untuk menyegerahkan menikah

kalau sudah merasa mampu baik lahir maupun batin.

للفرج واحصن للبصر اغض فانه فليتزوج الباء منكم استطاع من معشرالشباب يا

وجاء له فانه باالصوم فعليه يستطع لم ومن

Artinya : “Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu

serta berkeinginan hendak kawin, hendaklah dia kawin. Karena

sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadap orang

yang tidak halal dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat.

Dan barang siapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena

dengan puasa hawa napsunya terhadap perempuan akan berkurang”.

Riwayat Jama’ah Ahli Hadiuts.

Kaitannya dengan adanya tradisi kawin kontrak yang ada di salah satu

kecamatan di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Kecamatan Rembang yang

wilayahnya sangat strategis untuk para laki-laki berpoligami. Kenapa penulis

katakana demikian ?, karena sejak dulu, entah mulai kapan, daerah tersebut

sudah terkenal dengan adanya perkawinan kontrak yang orang sana ada yang

menyebutnya nikah siri atau nikah di bawah tangan.

ii

Page 3: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

Dalam hal ini, penulis ingin mengintip lebih jauh bagaimana

sebenarnya yang terjadi di sana dan bagaimana sebenarnya kawin kontrak

yang dimaksud. Apakah dalam perkawinan itu ada norma-norma yang harus

diluruskan atau ada norma-norma agama yang menyimpang dan mengapa

tradisi itu sulit untuk dihilangkan. Peran tokoh agama yang harus bisa

meluruskan, walau nantinya akan menemui rintangan yang sangat terjal.

Mengapa harus ada kawin kontrak di daerah itu?. Kemungkinan-

kemungkinan yang harus dipertimbangkan antara lain karena minimnya

ekonomi, minimnya pendidikan, kurangnya perhatian pemerintah dan

masyarakat, kehidupan masyarakat yang individual, tradisi yang sudah

mengakar, dan mungkin dalam tradisi kawin kontrak tersebut ada

penyimpangan moral maupun norma agama yang mesti diluruskan.

Kesulitan ekonomi orang tua bisa mengenyampingkan akal sehat

untuk berpikir panjang, barangkali dengan menikahkan anaknya sedini

mungkin tanggung jawab mereka sebagai orang tua akan lepas. Kurangnya

pendidikan pun menjadi tonggak sempitnya wawasan tentang bab

pernikahan. Sosialisasi tentang masalah pernikahan juga harus dikedepankan

baik oleh pemerintah maupun masyarakat setempat. Apalagi kalau terjadi

penyelewengan-penyelewengan dalam proses pernikahan yang akan menjadi

tanggung jawab kita bersama untuk segera meluruskannya.

Merubah suatu tradisi yang sudah melekat di masyarakat kita itu

sangat sulit, apalagi kalau sudah dihubung-hubungkan dengan tradisi nenek

moyang mereka. Oleh karena itu kita sebagai pendidik, sekaligus sebagai

tokoh masyarakat yang memiliki sedikit kelebihan tentang masalah agama,

kita harus memberikan sumbangsih pemikiran bagaimana strategi untuk

merubah sedikit demi sedikit tradisi yang sekiranya kurang diterima oleh akal

sehat maupun oleh norma-norma agama.

Perubahan social dan perubahan budaya masyarakat itu

membutuhkan proses yang sangat panjang, tidak bisa grusah-grusuh.

Perubahan social budaya masyarakat dapat dibedakan menjadi tiga, pertama

perubahan yang cepat (revolusi) dan perubahan yang lambat (evolusi).

Revolusi merupakan wujud perubahan yang paling spektakuler; sebagai

ii

Page 4: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

tanda perpecahan mendasar dalam proses historis; dan pembentukan ulang

masyarakat dari dalam. Menurut Sztomka (1994), revolusi mempunyai

perbedaan dengan bentuk perubahan social yang lain. Revolusi menimbulkan

perubahan dalam cakupan terluas; menyentuh semua tingkat dan dimensi

masyarakat: ekonomi, politik, budaya organisasi social, kehidupan sehari-

hari, dan kepribadian manusia. Kedua, perubahan yang kecil dan perubahan

yang besar. Perubahan yang kecil pada dasarnya merupakan perubahan yang

terjadi pada unsur-unsur structural social yang tidak membawa dampak

langsung bagi masyarakat. Sebaliknya, perubahan yang besar merupakan

perubahan yang membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat.

Ketiga, perubahan yang dikehendaki (direncanakan) dan perubahan yang

tidak dikehendaki (tidak direncanakan). Perubahan yang direncanakan selalu

berada di bawah kendali agent of change (orang yang dipercaya). Perubahan

yang tidak direncanakan berlangsung di luar jangkauan atau pengawasan

masyarakat serta dapat menimbulkan akibat-akibat social yang tidak

dikehendaki.

Setiap upaya penciptaan perubahan sosial, memerlukan suatu strategi

tertentu. Ada beberapa strategi perubahan social yang dapat diterapkan,

yaitu strategi fasilitatif, strategi reedukatif, strategi persuasive, strategi

kekuasaan, serta strategi kekerasan versus non kekerasan (Lauer, 1982;

Harper, 1989).

1. Strategi Fasilitatif

Agen perubahan social dalam strategi ini bertindak sebagai fasilitator

yang menyediakan berbagai sumber daya, informasi dan berbagai sarana

konsultasi.

2. Strategi Reedukatif

Strategi ini digunakan apabila diketahui ada hambatan-hambatan social

budaya dalam upaya penerimaan suatu inovasi, terutama berkaitan

dengan kelemahan pengetahuan atau pendidikan dan keterampilan

dalam memanfaatkan suatu inovasi (program terstruktur melalui

pelatihan kelompok).

ii

Page 5: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

3. Strategi Persuasif

Strategi ini merupakan upaya melakukan perubahan masyarakat dengan

cara membujuk masyarakat tersebut untuk melakukan perubahan.

4. Strategi Kekuasaan

Strategi ini merupakan strategi yang digunakan untuk melakukan

perubahan dengan cara paksaan, kekerasan atau ancaman. Strategi ini

dipandang negative oleh sebagian kalangan masyarakat karena caranya

kurang etis.

5. Strategi Kekerasan versus Nonkekerasan

Adakalanya suatu konflik lebih tepat diselesaikan dengan sedikit

kekerasan yang sifatnya revolutif, adakalanya tidak demikian. Karena itu

dalam menyelesaikan suatu perubahan social masyarakat harus melihat

situasi dan kondisi yang ada.

Barangkali strategi-strategi tersebut dapat kita laksanakan sedikit

demi sedikit untuk merubah tradisi masyarakat yang sudah terlanjur terkenal

dengan tradisi kawin kontraknya yang sudah barang tentu harus dipilih dan

disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat di sana.

B. Fokus Kajian

Berdasarkan uraian kontek kajian di atas, dapat dirumuskan focus

kajiannya sebagai berikut :

1. Membahas tuntas tentang adanya tradisi kawin kontrak di Kecamatan

Rembang Kabupaten Pasuruan dan kaitannya dengan nikah siri atau nikah

di bawah tangan.

2. Peran keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, dan pemerintah untuk

menghapus rumor yang beredar tentang adanya tradisi kawin kontrak

yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan.

3. Munculnya berbagai kendala yang harus dihadapi untuk merubah tradisi

kawin kontrak yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan.

4. Memunculkan potensi-potensi yang bisa dikembangkan dengan merubah

tradisi kawin kontrak yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten

Pasuruan.

ii

Page 6: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

C. Tujuan Kajian

Berdasarkan rumusan focus kajian di atas, tujuan yang ingin dicapai

dalam kajian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana maksud dari tradisi kawin kontrak yang ada

di Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan.

2. Untuk mengetahui bagaimana peran orang tua, tokoh-tokoh masyarakat,

dan pemerintah untuk menghapus rumor tentang adanya tradisi kawin

kontrak yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan.

3. Untuk mengetahui apa kendala yang bakal dihadapi dalam merubah

tradisi kawin kontrak yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten

Pasuruan.

4. Untuk mengetahui potensi-potensi yang dapat dikembangkan dengan

merubah tradisi kawin kontrak yang ada di Kecamatan Rembang

Kabupaten Pasuruan.

D. Manfaat Kajian

Agar dalam penulisan ini terdapat nilai lebih (high value) dalam bidang

pendidikan khususnya dan menambah khasanah keilmuan secara global pada

umumnya, maka hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang

berarti kepada :

1. Para pendidik, agar dapat menerapkan kemampuannya untuk

memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang kesakralan pernikahan

dalam kontek kehidupan bermasyarakat.

2. Tokoh-tokoh masyarakat secara umum, agar dapat memberikan

sumbangsih pengetahuan tentang pentingnya pernikahan yang

dilangsungkan sesuai dengan undang-undang perkawinan di Indonesia.

3. Pemerintah, dalam hal ini departemen atau kementerian yang

bertanggung jawab untuk mensosialisasikan tentang peraturan-peraturan

undang-undang perkawinan yang berlaku.

ii

Page 7: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Nikah (Perkawinan)

Perkawinan adalah aqad yang menghalalkan pergaulan, membatasi

hak dan kewajiban, serta bertolong menolong antara seorang laki-laki dan

perempuan yang antara keduanya bukan muhrim.

Allah s.w.t, berfirman :

االتعدلوافواحدة خفتم فان وربع وثلث مثنى النساء من لكم فانكحواماطاب

النساء

Artinya : “Maka bolehlah kamu menikahi perempuan yang kamu pandang

baik untuk kamu, duaatau tiga atau empat, jika kiranya kamu takut tidak

dapat berlaku adil di antara mereka itu, hendaklah kamu kawin seorang saja”.

(An-Nisa, :3).

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang erat dalam hidup

dan kehidupan manusia, bukan hanya antara suami isteri dan keturunannya

saja, bahkan antara keluarga kedua belah pihak agar saling kasih mengasihi

dan saling sayang menyayangi. Betapa tidak ?, dalam Al-Qur’an dijelaskan

tentang bagaimana penciptaan Nabi Adam dan Siti Hawa agar bisa

berkembang biak dan bisa saling tolong menolong di antara sesama.

B. Hikmah Perkawinan

Sedangkan hikmah perkawinan yang sesungguhnya sudah tertera

dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 31 :

ورحمة مودة بينكم وجعل ازواجالتسكنوااليها انفسكم من لكم خلق ان اياته ومن

يتفكرون لقوم اليات ذالك في ان

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan

untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan

merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih

ii

Page 8: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-

tanda bagi kaum yang berpikir”.

Jelaslah bahwa hikmah perkawinan itu antara lain adalah agar kita ada

perasaan suka , perasaan sayang, dan merasa tenteram dengan lain jenis

yang nantinya akan tercipta rasa kasih sayang dalam kehidupan berumah

tangga dan selanjutnya akan terbangun saling tolong menolong antar

keluarga.

C. Hukum Nikah/Perkawinan

Hukum nikah dapat dibedakan menjadi lima, yaitu :

1. Jaiz (diperbolehkan), asal hukum perkawinan

2. Sunnah, bagi orang yang berkehendak serta cukup untuk menafkahi lahir

dan batin.

3. Wajib, bagi orang yang sudah cukup memiliki harta dan dia takut akan

godaan syetan.

4. Makruh, bagi orang yang tidak mampu memberikan nafkah tetapi

memaksakan kehendak.

5. Haram, bagi orang yang berniat menyakiti atau balas dendam terhadap

perempuan yang akan dinikahinya.

Dalam pernikahan itu harus memenuhi rukun dan syarat pernikahan

yang sudah ditentukan, agar pernikahan tersebut dapat diakui di mata

hokum dan masyarakat.

D. Perintah/Anjuran Menikah

Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan, bahwa perintah menikah sudah

ada sejak diciptakan-Nya manusia pertama, yakni Nabi Adam dengan Siti

Hawa. Karena ketika Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke dunia, Allah

sudah merencanakan agar mereka menjadi manusia pertama di bumi dan

dapat memimpin manusia-manusia dari keturunan mereka sendiri.

اكرمكم ان لتعارفوا شعوباوقبائل وجعلناكم ذكروانثى من اناخلقناكم ياايهاالناس

خبير عليم انالله اتقاكم عندالله

ii

Page 9: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari

seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menciptakan kamu berbangsa-

bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya

orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling

bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha

Mengenal”.(Al-Hujurat : 13).

ورحمة مودة بينكم وجعل ازواجالتسكنوااليها انفشكم من لكم خلق ان اياته من

يتفكرون لقوم اليات ذالك في ان

Artinya : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia

menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu

cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu

rasa kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar

terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Ar-Rum : 31).

Di samping ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak mengungkap tentang bab

pernikahan, Haditspun tidak sedikit yang menjelaskan tentang perintah

menikah atau kawin, antara lain :

منى فليس سنتى عن رغب فمن سنتى النكاح

Sabda Rasulullah :”Nikah itu sunnahku, maka barangsiapa yang tak mengikuti

sunnahku, maka dia bukanlah dari golonganku. (Al-Hadits).

داود ابو رواه منا فليس العيلة مخافة التزوج ترك من

“Bagi siapa yang menjauhi pernikahan hanya gara-gara takut miskin, maka

dia bukanlah termasuk dari umatku. (H.R. Abu Daud).

Demikianlah sebagian dari dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang

dapat kita jadikan pegangan untuk menjaga kesakralan pernikahan dan

sedeikit demi sedikit dapat mengikis praktek pernikahan yang keluar dari

koridor hukum yang berlaku.

ii

Page 10: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

BAB III

PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN HASIL KAJIAN

A. Penyajian Data dan Temuan Hasil Kajian

1. Letak Geografis Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan

Secara geografis, Kecamatan Rembang terletak di sebelah barat

selatan kota Pasuruan. Daerah tersebut berjarak sekitar 15 km arah barat

Alun-alun Kota Pasuruan. Kalau diperhatikan letaknya sangat strategis bagi

kaum laki-laki hidung belang yang pikirannya tidak puas dengan satu isteri

saja, karena daerah tersebut jauh dari jalan raya dan terpencil.

Kecamatan Rembang telah tercatat penduduknya berjumlah 56.006

jiwa, 26.642 pria dan 29.382 wanita. Banyaknya wanita melabihi jumlah kaum

pria dan keadaan ekonomi yang kurang menunjang yang membuat praktek-

praktek perkawinan di bawah tangan marak terjadi di daerah tersebut,

sampai-sampai hal ini mencuat di seluruh JawaTimur, bahkan sudah

menyebar ke seantero negeri, yang terkena dengan sebutan “Kawin

Kontrak”.

2. Keadaan Masyarakat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan

Masyarakat Rembang sebenarnya masyarakat yang agamis, saking

agamisnya sampai-sampai tidak mementingkan pendidikan umum, mereka

hanya mengutamakan pendidikan agama anak-anaknya.

Bagi perempuan-perempuan yang sudah mengenyam pendidikan

agama lewat madrasah atau ngaji, maka sudah layak untuk dinikahkan walau

dengan suami orang sekalipun, yang penting mereka bisa menafkahi anak

perempuan mereka. Di samping factor pendidikan yang minim, ekonomi yang

pas-pasan, juga factor social budaya yang membuat mereka rela melepaskan

anak-anak mereka agar tidak menanggung malu jika dikatakan sebagai

“Perawan Tua”.

ii

Page 11: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

Di samping itu para perempuan yang ada di Kecamatan Rembang

memang tidak terlalu neko-neko (macam-macam) dalam menuntut segala

kebutuhan sehari-hari. Mereka hidup seadanya, tidak seperti anak kota yang

keinginannya muluk-muluk, mungkin karena jauh dari pergaulan yang

membisingkan itu. Tetapi memang itulah keadaan orang-orang di sana, di

samping pekerjaan sehari-hari sebagai petani (yang terkenal sebagai petani

bunga penganten), ada juga usaha konfeksi, pengelola wartel, warung, dan

lain-lain.

3. Tradisi Kawin Kontrak yang berkembang di Kecamatan Rembang

Kabupaten Pasuruan

Peristiwa nikah di bawah tangan di Kabupaten Pasuruan memang

masih cukup besar dan membudaya. Telah terdata pada tahun 2008

mencapai angka 2.244.

Dari 24 Kecamatan di Pasuruan, Rembang menduduki peringkat

pertama dengan jumlah 530 kasus. Disusul Kecamatan Puspo, Pasrepan,

Lumbang, Keraton, Gondangwetan, dan Nguling. Selain itu sedikit sekali

memiliki catatan tentang pernikahan siri atau di bawah tangan.

Kecamatan Rembang terbagi menjadi 17 desa. Yang banyak dijadikan

praktek kawin kontrak terbanyak adalah di desa Kalisat. Di desa ini,

perkawinan yang demikian itu dianggap wajar oleh warganya, karena

menurut mereka dari pada “ kumpul kebo”. Sebenarnya system kawin

kontrak di sana sama dengan nikah siri/nikah di bawah tangan, hanya saja

kebanyakan mereka terpaksa mau menikah karena dengan alas an ingin

mengurangi beban orang tua, lebih parahnya mereka belum baligh sudah

dijajakan ke pria-pria lajang maupun duda. Apakah itu bukan merupakan

perampasan kemerdekaan seorang wanita ?.

Tradisi perkawinan tersebut nantinya juga akan menimbulkan

masalah baru yang berkepanjangan, karena perkawinan tersebut tidak

memiliki kekuatan hokum dan dianggap tidak sah di mata hokum. Secara

hokum social, perkawinan model ini juga sangat merugikan perempuan,

karena tidak dianggap sebagai isteri sah, bahkan akan menebar gossip tak

ii

Page 12: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

sedap, yaitu sebagai “perebut suami orang”. Apakah tidak menimbulkan dosa

terhadap mereka?. Apalagi kalau mereka menghasilkan keturunan,

bagaimana status anak tersebut. Padahal dalam pasal 42 dan 43 UU

Perkawinan telah dijelaskan, bahwa si anak tidak mempunyai hubungan

hokum, terhadap ayahnya.

Sayangnya tradisi semacam ini sulit sekali untuk dimusnahkan, karena

menyangkut dua kepentingan yang sulit diterima oleh akal sehat. Yang

pertama, masyarakat di sana sangat bangga kalau anaknya cepet laku walau

kadang belum lulus sekolah dasar, karena untuk meringankan beban

ekonomi. Yang kedua, kesempatan bagi laki-laki yang doyan kawin, kadang

hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya, yang penting telah memenuhi

kebutuhannya terus ditinggal untuk mencari yang baru. Dipandang dari yang

demikian itu, betapa murahnya harga perempuan di mata laki-laki.

Alhamdulillah, tahun demi tahun tradisi kawin kontrak tersebut terus

menerus diluruskan oleh tokoh-tokoh masyarakat yang sudah berpendidikan

tinggi, terutama langsung ditangani oleh Kepala KUA yang datang silih

berganti dan berusaha menyodorkan perubahan kea rah yang lebih baik dan

bermoral sesuai dengan kaidah-kaidah Islamiyah.

Dari penyajian data di atas, dapat ditemukan hasil kajian makalah ini

sebagai berikut :

Fokus Kajian Temuan Hasil Kajian

1. Membahas tuntas tentang adanya

tradisi kawin kontrak di Kecamatan

Rembang Kabupaten Pasuruan dan

kaitannya dengan nikah siri atau

nikah di bawah tangan.

2. Peran keluarga, tokoh-tokoh

masyarakat, dan pemerintah untuk

menghapus rumor yang beredar

tentang adanya tradisi kawin

kontrak yang ada di Kecamatan

1. Kawin kontrak yang selama ini

berkembang di Kecamatan

Rembang Kabupaten Pasuruan

sebenarnya hampir sama

dengan perkawinan siri atau

nikah di bawah tangan. Kalau

nikah siri atau nikah di bawah

tangan adalah nikah yang

diwakilkan kepada wali hakim

atau modin yang ada di daerah

ii

Page 13: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

Rembang Kabupaten Pasuruan.

3. Munculnya berbagai kendala yang

harus dihadapi untuk merubah

tradisi kawin kontrak yang ada di

Kecamatan Rembang Kabupaten

Pasuruan.

4. Memunculkan potensi-potensi yang

bisa dikembangkan dengan

merubah tradisi kawin kontrak yang

ada di Kecamatan Rembang

Kabupaten Pasuruan.

tersebut karena ada alasan-

alasan tertentu, sedang calon

mempelai kebanyakan sudah

saling mengenal atau saling

menyetujui. Sedang kawin

kontrak secara umum masih

urusan orang tua, mempelai

wanita setuju apa tidak urusan

belakangan, yang penting ada

persetujuan tentang

pemberian harta benda

terhadap pihak wanita.

2. Kesadaran keluarga sangat

penting, di samping pembinaan

dari tokoh-tokoh masyarakat

yang beragama dan

berpendidikan serta harus ada

campur tangan pemerintah

sebagai penanggung jawab

pendidikan masyarakat agar

tercipta masyarakat yang

beragama dan berpendidikan.

3. Merubah suatu tradisi tidak

semudah membalikkan telapak

tangan, karena itu dibutuhkan

ketelatenan, kesabaran, dan

keikhlasan agar segala

kesulitan akan segera teratasi

dan mudah-mudahan

mendapatkan solusi yang

sebaik-baiknya.

ii

Page 14: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

4. Banyak potensi yang dapat

dikembangkan di Kecamatan

Rembang Pasuruan tersebut,

seperti penanaman bunga

penganten (kembang sundel)

yang harus dilestarikan, karena

hasilnya sudah dikirim ke

mana-mana ke seluruh wilayah

Indonesia. Di bidang usaha,

pemuda pemudi di sana

banyak ke bidang konfeksi

seperti menjahit, bordil, sulam,

dan lain-lain.

B. Pembahasan Hasil Temuan

Setelah penulis menemukan hasil kajian dari pembahasan ini, kiranya

ada hal-hal yang mesti dipertimbangkan sebelum melangkah terlalu jauh ke

dalam persoalan yang ada di Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan, yaitu

tentang bagaimana strategi yang seharusnya di lakukan oleh semua pelaku

kepentingan untuk mengikis tradisi kawin kontrak yang sudah mendarah

daging di daerah tersebut.

1. Mengadakan pendekatan dengan tokoh masyarakat yang berpengaruh,

para pemuda di daerah tersebut dan mendiskusikan hal-hal yang terjadi

terutama tentang pernikahan.

2. Mengajak para orang tua untuk bergabung dengan memberikan wawasan

tentang bagaimana perkawinan yang benar-benar diakui oleh hukum dan

masyarakat, apa kerugian yang akan dialami pihak perempuan sebagai

korban kawin kontrak yang hanya untuk pelampiasan belaka. Pemerintah

harus terus menerus memberikan pelatihan, baik tentang agama, moral,

serta keterampilan agar masyarakat di sana semakin maju dan

berpendidikan.

ii

Page 15: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

3. Merubah tradisi itu tidak mudah, tetapi harus dilakukan secara kontiniu

dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, serta harus ditanamkan sebagai

kewajiban dan tanggung jawab kita umat Islam yang lebih memahami

akan dampaknya perkawinan kontrak di kehidupan social masyarakat.

4. Pemberian bantuan modal usaha sangat diharapkan di daerah tersebut

untuk mengembangkan baik di bidang pertanian maupun usaha-usaha

yang lain yang memiliki potensi dalam kemajuannya. Untuk itu,

pemerintah harus tanggap menyikapi hal tersebut.

ii

Page 16: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan hasil kajian di atas, penulis dapat memberikan

kesimpulan sebagai berikut :

1. Islam memperbolehkan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu wanita

dengan syarat bisa berlaku adil lahir dan batin.

2. Pernikahan memang sebaiknya disyiarkan (tidak sembunyi-sembunyi) ke

masyarakat setempat agar tidak terjadi salah faham atau prasangka yang

tidak baik.

3. Tradisi kawin kontrak harus segera diluruskan, karena pernikahan itu

memiliki tanggung jawab yang besar bagi orang tua dan mempelai baik di

dunia maupun di akhirat.

4. Kewajiban kita bersama untuk membina dan mensosialisasikan tentang

mematuhi aturan hukum yang berlaku baik hokum Negara maupun

agama agar terbangun masyarakat modern yang patuh dan taat terhadap

aturan-aturan tersebut.

B. Saran-saran

Berdasarkan dari hasil kesimpulan di atas, penulis memberikan

sedikit saran kepada para orang tua khususnya dan seluruh masyarakat pada

umumnya, sebagai berikut :

1. Diharapkan bagi para orang tua untuk lebih memahami hak dan

kewajiban terhadap anaknya, jangan bersifat egois yang hanya

mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri tanpa memperdulikan

perasaan seorang anak. Bukankah tujuan perkawinan untuk memperoleh

kebahagiaan (sakinah mawaddah warahmah) dunia akhirat ?

2. Diharapkan bagi para tokoh masyarakat yang sudah mengerti tentang arti

dan hakikat pernikahan untuk terus menerus memberikan pengarahan

ii

Page 17: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

yang positif terhadap orang tua maupun para pemuda agar tidak terjebak

dengan tradisi kawin kontrak tersebut.

3. Dalam merubah suatu tradisi harus dilakukan secara halus dan perlahan-

lahan, tidak perlu grusah-grusuh karena yang kita hadapi adalah

masyarakat luas yang memiliki watak dan tabiat yang berbeda-beda.

ii

Page 18: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

DAFTAR RUJUKAN

Al-Qur’an terjemah.

Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Jawa Timur, 2009, Mimbar

Pembangunan Agama (edisi khusus), PT. Antar Surya Jaya, hal. 37-55.

Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial (Perspektif Klasik, Modern,

Posmodern, dan Poskolonial). Purwokerto. Rajawali Pers.

Rasjid, Sulaiman, Fiqh Islam (Bab Perkawinan), Jakarta, Attahiriyah.

AL-Khauly, Bahay, 1988. Islam dan Persoalan Wanita Modern, Solo, Ramadhani, hal.

35-36.

.

ii

Page 19: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-

Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Tradisi Kawin

Kontrak Dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan” dengan baik dan lancar serta selesai

tepat pada waktu yang ditetapkan.

Penulisan makalah ini dibuat untuk memenuhi tugasa mata kuliah Sosiologi

Pendidikan. Penulis menyadari kelancaran penyusunan makalah ini jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan

penghargaan yang sedalam-dalamnya serta ucapan terima kasih kepada :

1. Bapak H. DR. Maskuri Bakri, M.Si Selaku dosen mata kuliah Sosiologi

Pendidikan yang telah memberikan tugas dan pengarahan sehingga penulis

dapat menyelesaikan makalah ini

2. Keluarga khususnya suami dan anak-anakku yang telah memberikan

semangat dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga kebaikan mereka mendapat balasan dari Allah SWT sesuai dengan

amalnya. Akhirnya penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

bersifat konsumtif dari para pembaca demi perbaikan penulisan lebih lanjut

sehingga dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para

pembaca.

Pasuruan, 28 Juni 2013

Penulis

ii

Page 20: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

NUR SYAMSIAH

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR...................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Kontek Kajian........................................................................................1B. Fokus Kajian..........................................................................................5C. Tujuan Kajian........................................................................................6D. Manfaat Kajian......................................................................................6

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian Nikah (Perkawinan)..............................................................7B. Hikmah Perkawinan...............................................................................7C. Hukum Perkawinan...............................................................................8D. Perintah/Anjuran Perkawinan................................................................8

BAB III PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN HASIL KAJIAN

A. Penyajian Data dan Temuan hasil Kajian............................................... 10B. Pembahasan Hasil Temuan.................................................................. 14

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan......................................................................................... 16B. Saran-saran........................................................................................................ 16

DAFTAR RUJUKAN

ii

Page 21: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

TRADISI KAWIN KONTRAK DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan

OLEH:

NUR SYAMSIAH

NPM: 2111010154

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM MALANGPROGRAM STUDI

Magister Pendidikan Islam

2013

ii

Page 22: Tradisi Kawin Kontrak Dalam Prespektif Sosiologi Pendidikan

ii