tinjauan teoritis asuhan keperawatan klien dengan penyakit jantung koroner

Click here to load reader

Post on 25-Jul-2015

1.447 views

Category:

Entertainment & Humor

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1. 10 BAB II TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER A. Konsep Dasar 1. Pengertian Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyakit kardiovaskular yang disebabkan oleh penyempitan dan penyumbatan pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung. Penyempitan arteri koroner dimulai dengan terjadinya atherosclerosis (kekakuan arteri) maupun yang sudah terjadi penimbunan lemak (plaque) pada dinding arteri koroner, baik dengan gejala klinis maupun tanpa gejala (Fitriani, 2011). Penyakit jantung koroner adalah penyakit pada arteri koroner dimana terjadi penyempitan atau sumbatan pada liang arteri koroner oleh karena proses atherosclerosis. Pada proses atherosclerosis terjadi perlemakan pada dinding arteri koroner yang sudah terjadi sejak usia muda sampai usia lanjut (Valentina, 2008). Penyakit Jantung Koroner adalah keadaaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan otot jantung atas oksigen dengan penyediaan yang di berikan oleh pembuluh darah coroner ( Huon, 2005). 2. 11 2. Anatomi Fisiologi Sistem Kardiovaskuler a. Anatomi Gambar 1. Struktur Anatomi Jantung (sumber: John, 2003 ) 1) Jantung Jantung adalah organ berongga dan memiliki empat ruang yang terletak antara kedua paru-paru di bagian tengah rongga thoraks. Dua pertiga jantung terletak di sebelah kiri garis midsternal.Jantung dilindungi mediastinum. Jantung berukuran kurang lebih sebesar kepalan tangan pemiliknya (250-300 gram). Bentuknya seperti kerucut tumpul. Basisnya berada diatas dan apexnya di bawah sebelah kiri dada ( John, 2003). a) Struktur jantung Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan : (1) Lapisan luar (epikardium) (2) Lapisan tengah (Miokardium) 3. 12 (3) Lapisan dalam (endokardium) b) Ruang jantung (1) Atrium kanan Atrium kanan terletak di bagian superior kanan jantung dan berfungsi sebagai penampung darah rendah oksigen dari seluruh tubuh.Tebalnya sekitar 2 mm dengan permukaan yang licin dan bersifat elastis. Terdapat sinoatrial node, atrioventrikular noda dan fossa ovalis. (2) Ventrikel kanan Ventrikel kananterletak di bagian inferior kanan pada apeks jantung.Tebalnya sekitar 4-5 mm dengan permukaan yang tidak rata dan bagian dalamnya mempunyai muskulus papilaris yang pada ujungnya terbentang tali-tali jaringan ikat menuju ke ujung-ujung katup agar tidak membalik bilamana tekanan ventrikel meningkat.Ventrikel kanan mempunyai bentuk pola sabit yang unik, yang mampu menghasilkan tekanan yang rendah yakni kontraksi yang cukup besar untuk menghasilkan darah ke dalam arteri pulmonalis. (3) Atrium kiri Tebal sekitar 3 mm, dengan permukaan yang licin dan bersifat elastis, terdapat septum interatrial.Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru 4. 13 melaluivena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri melalui katub dan selanjutnya ke seluruh tubuh melalui aorta. (4) Ventrikel kiri Tebalnya sekitar 8-15 mm, penuh dengan trabekula, terdapat muskularis papilaris, chordae tendinea dan septum interventrikularis.Ventrikel kiri berfungsi menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan keseluruh tubuh melalui aorta. c) Katup Katup Jantung (1) Katup atrioventrikuler Terletak antara atrium dan ventrikel. Katup yang terletak diantara atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai 3 buah daun katup (trikuspid). Sedangkan katup yang terletak diantara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua buah daun katup (Mitral). Memungkinkan darah mengalir dari atrium ke ventrikel pada fase diastole dan mencegah aliran balik pada fase sistolik. (2) Katup Semilunar (a) Katup Pulmonal terletak pada arteri pulmonalis dan memisahkan pembuluh ini dari ventrikel kanan. (b) Katup Aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta. Kedua katup ini mempunyai bentuk yang sama terdiri 5. 14 dari 3 buah daun katup yang simetris. Danya katup ini memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri selama sistole dan mencegah aliran balik pada waktu diastole. Pembukaan katup terjadi pada waktu masing-masing ventrikel berkontraksi, dimana tekanan ventrikel lebih tinggi dari tekanan didalam pembuluh darah arteri. d) Sistem Konduksi Jantung mempunyai system syaraf tersendiri yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot jantung yang disebut system konduksi jantung. Syaraf pusat melalui system syaraf autonom hanya mempengaruhi irama kontraksi jantung. Syaraf simpatis memacu terjadinya kontraksi sedangkan syaraf parasimpatis menghamabt kontraksi. System kontraksi jantung terdiri atas : 1) Nodus Sinoatrialkularis (NSA) terletak pada atrium kanan dan dikenal sebagai pacemaker karena impuls untuk kontraksi dihasilkan oleh nodus ini. 2) Nodus Atrioventrikularis (NAV) terletak antara atrium dan ventrikel kanan berperan sebagai gerbang impuls ke ventrikel. 3) Bundle His adalah serabut syaraf yang meninggalkan NAV. Serabut Bundle Kanan Dan Kiri adalah serabut syaraf yang 6. 15 menyebar ke ventrikel terdapat pada septum interventrikularis. 4) Serabut Purkinje adalah serabut syaraf yang terdapat pada otot jantung. 2) Vaskularisasi Jantung Pembuluh darah adalah prasarana jalan bagi aliran darah. Secara garis besar peredaran darah dibedakan menjadi dua, yaitu peredaran darah besar yaitu dari jantung ke seluruh tubuh, kembali ke jantung (surkulasi sistemik), dan peredaran darah kecil, yaitu dari jantung ke paru-paru, kembali ke jantung (sirkulasi pulmonal). a) Arteri Suplai darah ke miokardium berasal dari dua arteri koroner besar yang berasal dari aorta tepat di bawah katub aorta. Arteri koroner kiri memperdarahi sebagian besar ventrikel kiri, dan arteri koroner kanan memperdarahi sebagian besar ventrikel kanan (Marry, 2008). 1) Arteri Koroner Kanan Berjalan ke sisi kanan jantung, pada sulkus atrioventrikuler kanan. Pada dasarnya arteri koronarian kanan memberi makan pada atrium kanan, ventrikel kanan, dan dinding sebelah dalam dari ventrikel kiri. Bercabang menjadi Arteri Atrium Anterior Dextra 7. 16 (RAAB = Right Atrial Anterior Branch) dan Arteri Coronaria Descendens Posterior (PDCA = Posterior Descending Coronary Artery). RAAB memberikan aliran darah untuk Nodus Sino-Atrial. PDCA memberikan aliran darah untuk Nodus Atrio- Ventrikular (John, 2003). 2) Arteri Koroner Kiri Berjalan di belakang arteria pulmonalis sebagai arteri coronaria sinistra utama (LMCA = Left Main Coronary Artery) sepanjang 1-2 cm. Bercabang menjadi Arteri Circumflexa (LCx = Left Circumflex Artery) dan Arteri Descendens Anterior Sinistra (LAD = Left Anterior Descendens Artery). LCx berjalan pada Sulcus Atrio- Ventrcular mengelilingi permukaan posterior jantung. LAD berjalan pada Sulcus Interventricular sampai ke Apex. Kedua pembuluh darah ini bercabang-cabang dan memberikan lairan darah diantara kedua sulcus tersebut (John, 2003). b) Vena Distrubusi vena koroner sesungguhnya parallel dengan distribusi arteri koroner. Sistem vena jantung mempunyai tiga bagian, yaitu (John, 2003): 8. 17 1) Vena tabesian, merupakan sistem terkecil yang menyalurkan sebagian darah dari miokardium atrium kanan dan ventrikel kanan. 2) Vena kardiaka anterior, mempunyai fungsi yang cukup berarti, mengosongkan sebagian besar isi vena ventrikel langsung ke atrium kanan. 3) Sinus koronarius dan cabangnya, merupakan sistem vena yang paling besar dan paling penting, berfungsi menyalurkan pengembalian darah vena miokard ke dalam atrium kanan melalui ostinum sinus koronaruis yang bermuara di samping vena kava inferior. c) Darah Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Vikositas/ kekentalan darah lebih kental dari pada air yang mempunyai BJ 1,041-1,065, temperatur 380C, dan PH 7,37-7,45. Pada tubuh yang sehat atau orang dewasa terdapat darah sebanyak kira-kira 1/13 dari berat badan atau kira- 9. 18 kira 4-5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada tiap-tiap orang tidak sama, bergantung pada umur, pekerjaan, keadaan jantung, atau pembuluh darah. Komposisi darah terdiri dari: 1) Sel Darah merah Sel darah merah (eritrosit) bentuknya seperti cakram/ bikonkaf dan tidak mempunyai inti. Ukuran diameter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm), tidak dapat bergerak. Banyaknya kirakira 5 juta dalam 1 mm3 (41/2 juta). Warnanya kuning kemerahan, karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin, warna ini akan bertambah merah jika di dalamnya banyak mengandung oksigen. 2) Sel Darah Putih (leukosit) Bentuk dan sifat leukosit berlainan dengan sifat eritrosit apabila kita lihat di bawah mikroskop maka akan terlihat bentuknya yang dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu (pseudopodia), mempunyai bermacam- macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan menurut inti selnya, warnanya bening (tidak berwarna), banyaknya dalam 1 mm3 darah kira-kira 6000-9000. 10. 19 Macam- macam leukosit meliputi agranulosit (limfosit, monosit), granulosit ( neutrofil, eusinofil, basofil) 3) Sel pembeku (Trombosit) Trombosit merupakan benda-benda kecil yang mati yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat dan lonjong, warnanya putih, normal pada orang dewasa 200.000-300.000/mm3. 4) Plasma Darah Bagian cairan darah yang membentuk sekitar 5% dari berat badan, merupakan media sirkulasi elemen-elemen darah yang membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan sel pembeku darah juga sebagai media transportasi bahan organik dan anorganik dari suatu jaringan atau organ. b. Fisiologi 1) Siklus Jantung Setiap siklus jantung terdiri dari urutan peristiwa listrik dan mekanik yang saling terkait. Gelombang rangsang listrik tersebar dari nodus SA melalui sistem penghantar menuju miokardium untuk merangsang kontraksi otot. Rangsangan listrik ini kenal dengan sebutan depolarisasi, diikuti pemulihan listrik kembali yang di sebut repolarisasi. Aktifitas listrik jantung terjadi akibat ion (patikel bermuatan seperti kalium, natrium dan kalsium), 11. 20 bergerak menembus membran sel. Pada keadaan istirahat, otot jantung terdapat dalam keadaan terpolarisasi, artinya adanya perbedaan antara muatan listrik antara bagian membran yang bermuatan negatif dan bagian luar bermuatan positif. Sel otot jantung normalnya akan mengalami depolarisasi ketika sel-sel tetangganya mengalami depolarisasi (meskipun dapat juga terdepolarisasi akibat stimulasi listrik ekternal ). Prinsip penting yang menentukan aliran darah adalah aliran cairan dari daerah bertekanan tinggi ke daerah tekanan rendah, tekanan yang bertanggung jawab terhadap aliran darah dalam sirkulasi normal dibangkitkan oleh kontraksi otot ventrikel. Ketika otot berkontraksi, darah terdorong dari ventrikel ke aorta selama periode dimana tekanan ventrikel kiri melebihi tekanan aorta, akibatnya terjadi perbedaan tekanan yang mendorong darah secara progresif ke arteri, kapiler dan vena (Omar, 2004). 2) Fase-fase siklus jantung Peristiwa-peristiwa mekanik dari siklus jantung, sistol atau kontraksi ventrikel dan diastol atau relaksasi ventrikel terdiri dari lima fase. Konsepsualis dari fase-fase siklus jantung ini paling mudah dilakukan dengan urutan sebagi berikut: a) Mid-diostol. Fase pengisian lambat ventrikel atau diastatis. b) Diastole lanjut. Gelombang depolarisasi menyebar melalui atrium dan berhenti sementara pada nodus AV. Otot atrium 12. 21 berkontraksi memberikan tambahan 20% - 30% pada isi ventrikel. c) Sistole awal. Depolarisasi menyebar dari nodus AV melalui cabang berkas menuju miocardium ventrikel. Ketika ventrikel mulai berkontraksi, tekanan dalam ventrikel meningkat melebihi tekanan atrium, akibatnya katup AV menutup dan penutupan inilah yang menimbulkan jantung pertama. d) Sistole lanjut. Segera setelah tekanan ventrikel melebihi tekanan di dalam pembuluh darah, maka katup semilinalisakan membuka dan terjadilah ejeksi ventrikular ke dalam sirkulasi pulmonal dan sistemik. e) Dioastole awal. Gelombang repolarisasi menyebar melalui miocardium ventrikel, dan ventrikel dalam keadaan istirahat. Ketika otot-ototnya relaksasi maka tekanan ventrikel turun sampai lebih rendah dari tekanan atrium akibatnya katup semilunaris tertutup dan terdengarlah bunyi jantung kedua (Omar, 2004). 3) Curah Jantung Curah jantung adalah jumlah darah yang di pompa oleh ventrikel selama satu satuan waktu. Curah jantung pada orang dewasa normal sekitar 5 L/menit namun sangat bervariasi, tergantung kebutuhan metabolisme tubuh. 13. 22 Curah jantung ( CO ) sebanding dengan volume sekuncup (SV) kali prekwensi jantung (HR) CO = SV x HR. Curah sekuncup adalah volume darah yang dikeluarkan oleh ventrikel perdetik. Sekitar dua pertiga dari volume darah dalam ventrikel pada akhir diastolik (volume akhir diastolik) dikeluarkan selama sistolik. Jumlah darah yang dikeluarkan tersebut di kenal dengan sebutan fraksi ejeksi, sedangkan volume darah yang tersisa dalam ventrikel pada akhir sistolik di sebut volume akhir sistolik (John, 2003). 4) Aliran Darah ke Perifer Aliran darah ke perifer mungkin merupakan unsur fisiologi sirkulasi yang paling kritis karena dua alasan. Pertama distribusi dari curah jantung di perifer tergantung dari sifat jaringan vaskuler, kedua curah jantung tergantung dari jumlah darah yang kembali menuju jantung. Prinsip-prinsip aliran darah tergantung dari dua variabel yang saling berlawanan: (1) tekanan pendorong darah, (2) resistensi terhadap aliran. Aliran darah akan terdorong bila besar tekanan pendorong darah juga meningkat, sebaliknya tekanan akan berkurang jika resistensi meningkat (John, 2003). 5) Cadangan Jantung Dalam keadaan normal jantung mampu meningkatkan kapasitas pompanya di dalam daya pompa dalam kaeadaan 14. 23 istirahat. Cadangn jantung ini memungkinkan jantung normal meningkatkan curahnya hingga lima kali lebih banyak. Peningkatan curah jantung dapat terjadi dengan peningkatan curah sekuncup (curah jantung = frekwensi x curah sekuncup). Frekwensi biasanya dapat di tingkatkan dari 60 hingga 100 denyut permenit (dpm) pada keadaan istirahat hingga mencapai 180 (dpm), terutama melalui perangsangan simpatis. 3. Etiologi Secara spesifik, faktor- faktor yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner menurut Suharjo (2008) adalah: a. Berusia lebih dari 45 tahun (bagi pria). Sangat penting bagi kaum pria mengetahui usia rentan terkena penyakit jantung koroner. b. Berusia lebih dari dari 55 tahun atau mengalami menopause dini sebagai akibat operasi (bagi wanita). Wanita yang telah mengalami menopause secara fisiologis ataupun secara dini (pascaoperasi) lebih kerap terkena penyakit jantung koroner apalagi ketika usia wanita itu telah menginjak usia lanjut. c. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga sering merupakan akibat dari profil kolesterol yang tidak normal, dalam artian terdapat kebiasaan yang buruk dalam segi diet keluarga. 15. 24 d. Diabetes. Kebanyakan penderita diabetes meninggal bukanlah karena meningkatnya level gula darah, namun karena kondisi komplikasi ke jantung mereka. e. Merokok. Merokok telah disebut-sebut sebagai salah satu faktor resiko utama penyakit jantung koroner.Kandungan nikotin di dalam rokok dapat merusak endotel pembuluh darah sehingga mendukung terbentuknya timbunan lemak yang akhirnya terjadi sumbatan pembuluh darah. f. Tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya atherosclerosis coroner yang merupakan penyebab penyakit jantung coroner. g. Kegemukan (obesitas). Obesitas bias merupakan manifestasi dari banyaknya lemak yang terkandung di dalam tubuh. Seseorang yang obesitas lebih menyimpan kecenderungan terbentuknya plak yang merupakan cikal bakal terjadinya penyakit jantung koroner. h. Gaya hidup buruk. Gaya hidup yang buruk terutama dalam hal jarangnya olahraga ringan yang rutin serta pola makan yang tidak dijaga akan mempercepat seseorang terkena penyakit jantung kororner. 16. 25 i. Stress. Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa bila menghadapi situasi yang tegang, dapat terjadi aritmia jantung yang membahayakan jiwa. 4. Patofisiologi Penyakit jantung koroner merupakan respons iskemik dari miokardium yang di sebabkan oleh penyempitan arteri koronaria secara permanen atau tidak permanen.Oksigen di perlukan oleh sel-sel miokardial, untuk metabolisme aerob di mana Adenosine Triphospate di bebaskan untuk energi jantung pada saat istirahat membutuhakn 70 % oksigen.Banyaknya oksigen yang di perlukan untuk kerja jantung di sebut sebagai Myocardial Oxygen Cunsumption (MVO2), yang dinyatakan oleh percepatan jantung, kontraksi miocardial dan tekanan pada dinding jantung. Jantung yang normal dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap peningkatan tuntutan tekanan oksigen dangan menambah percepatan dan kontraksi untuk menekan volume darah ke sekat-sekat jantung.Pada jantung yang mengalami obstruksi aliran darah miocardial, suplai darah tidak dapat mencukupi terhadap tuntutan yang terjadi.Keadaan adanya obstruksi letal maupun sebagian dapat menyebabkan anoksia dan suatu kondisi menyerupai glikolisis aerobic berupaya memenuhi kebutuhan oksigen. 17. 26 Penimbunan asam laktat merupakan akibat dari glikolisis aerobik yang dapat sebagai predisposisi terjadinya disritmia dan kegagalan jantung.Hipokromia dan asidosis laktat mengganggu fungsi ventrikel.Kekuatan kontraksi menurun, gerakan dinding segmen iskemik menjadi hipokinetik. Kegagalan ventrikel kiri menyebabkan penurunan stroke volume, pengurangan cardiac out put, peningkatan ventrikel kiri pada saat tekanan akhir diastole dan tekanan desakan pada arteri pulmonalis serta tanda- tanda kegagalan jantung. Kelanjutan dan iskemia tergantung pada obstruksi pada arteri koronaria (permanen atau semntara), lokasi serta ukurannya.Tiga menifestasi dari iskemi miocardial adalah angina pectoris, penyempitan arteri koronarius sementara, preinfarksi angina, dan miocardial infark atau obstruksi permanen pada arteri koronari (Jan, 2005). 5. Tanda dan Gejala Menurut Suharjo (2008), tanda dan gejala dari penyakit jantung koroner yaitu: a. Nyeri dada b. Sesak napas c. Kelelahan atau kepenatan d. Palpitasi e. Pusing dan pingsan 18. 27 6. Pemeriksaan Penunjang Menurut Marry (2008), pemeriksaan penunjang pada penyakit jantung koroner adalah : a. ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dri iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis. b. Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6- 12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam. c. Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia. d. Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan. e. Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis ata akut. f. Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis. g. Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikiler. h. Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung. 19. 28 i. Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas. 7. Penatalaksanaan Medis Menurut Lilik (2009), penatalaksanaan pada pasien penyakit jantung koroner yaitu: a. Umum 1) Penjelasan mengenai penyakitnya; pasien biasanya tertekan, khawatir terutama untuk melakukan aktivitas. 2) Pasien harus menyesuaikan aktivitas fisik dan psikis dengan keadaan sekarang 3) Pengendalian faktor risiko 4) Pencegahan sekunder. Karena umumnya sudah terjadi arteriosklerosis di pem-buluh darah lain, yang akan berlangsung terus, obat pencegahan diberikan untuk menghambat proses yang ada. Yang sering dipakai adalah aspirin dengan dosis 375 mg,160 mg,80mg. 5) Penunjang yang dimaksud adalah untuk mengatasi iskemia akut, agar tak terjadi iskemia yang lebih berat sampai infark miokardium.Misalnya diberi O2. b. Mengatasi penyakit jantung koroner 1) Medikamentosa a) Nitrat (N),yang dapat di berikan parenteral, sublingual, buccal, oral, trans dermal dan ada yang dibuat lepas lambat.Yang 20. 29 terdiri dari Gliseral Trinitrat(GTN) dan Isosorbid 5 Mononitrat (ISMN). b) Berbagai jenis penyekat beta untuk mengurangi kebutuhan oksigen. Ada yang bekerja cepat seperti pindolol dan pro- panolol.Ada yang bekerja lambat seperti sotalol dan nadolol. Ada beta 1 selektif seperti asebutolol, metoprolol dan atenolol. c) Antagonis Calsium (Ca A),juga terdiri dari beberapa jenis baik dgunakan secara oral maupun parenteral.Umumnya obat- obatan ini mengurangi kebutuhan O2 dan menambah masuk (dilatasi koroner),ada yang menurunkan HR seperti Verapamil dan diltiazem.Efek samping Utamanya seperti sakit kepala,edema kaki,bradikardia sampai blokade jantung dan lain-lain.Obat-obat tersebut dapat diberikan sendiri-sendiri atau kombinasi (2 atau 3 macam) bila diperlukan. 2) Revaskularisasi a) Pemakaian trombolitik,biasanya pada PJK akut seperti IJA.Rekanalisasi dengan tromobolitik paling sering dilakukan pada PJK aktif terutama IMA. b) Prosedur invasif non operatif, yaitu melebarkan arteria coronaria dengan balon. c) Oprasi (Coronary Artery Surgery CAS). Beberapa macam Oprasi adalah sebagai berikut. (1) Operasi Pintas Koroner (CABG) (2) Vena Saphena (Saphenous Vein) 21. 30 8. Komplikasi Komplikasi penyakit jantung coroner yang dapat terjadi antara lain: a. Serangan jantung mendadak b. Gagal jantung c. Angina tidak stabil d. Kematian mendadak (Arif, 2009). B. Tinjaun Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan Pada asuhan keperawatan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan secara umum. Proses keperawatan diartikan sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah dan sistematis untuk memberikan ashan keperawatan terhadap semua orang. Proses keperawatan adalah suatu pendekatanuntuk pemecahan masalah yang memungkinkan perawat untuk mengatur dan memberikan asuhan keperawatan. Tujuan proses keperawatan adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan perawatan kesehatan klien, menentukan prioritas, menetapkan tujuan dan hasil asuhan yang diperkirakan, menetapkan dan mengkomunikasikan rencana asuhan yang berpusat pada klien, memberikan intervensi keperawatan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan klien, dan mengevaluasi keefektifan asuhan keperawatan dalam mencapai hasil dan tujuan klien yang diharapkan (Asmadi, 2008). 22. 31 Langkah-langkah proses keperawatan dibagi 5 tahap yaitu: 1. Pengkajian Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada (Asmadi, 2008). Pengkajian dapat dilakukan persistem tubuh dengan menggunakan 4 metode yaitu : inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Dalam pengkajian yang dilakukan dalam tahapanya meliputi: a. Pengumpulan Data Data yang dikaji adalah sebagai berikut : 1) Biodata a) Identitas klien: nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan terakhir, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, nomor rekam medik, diagnose medis, pekerjaan dan alamat. b) Identitas penamggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat serta hubungan dengan klien. 2) Riwayat Kesehatan a) Riwayat Kesehatan Sekarang (1) Keluhan utama Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan klien sehingga mendorong pasien untuk mencari pertolongan medis.Keluhan utama dikumpulkan untuk menetapkan prioritas intervensi keperawatan dan untuk 23. 32 mengkaji tingkat pemahaman klien tentang kondisi kesehatannya saat ini. Keluhan utama yang sering muncul pada pasien penyakit jantung koroner adalah nyeri dada, sesak napas, pusing, kelelahan atau mudah cak dan jantung berdebar-debar (Paula, 2009). (2) Riwayat keluhan utama Menggambarkan keluhan saat dilakukan pengkajian serta menggambarkan kejadian sampai terjadi penyakit saat ini, dengan menggunakan konsep PQRST. P : (Paliatif/provokatif), Apakah yang meyebabkan keluhan dan memperingan serta memberatkan keluhan. Pada penderita penyakit jantung koroner biasanya disebabkan oleh kelebihan beraktifitas. Q : (Quality/Kwantity), Seberapa berat keluhan dan bagaimana rasanya serta berapa sering keluhan itu muncul. Pada penderita penyakit jantung koroner keluhan yang dirasakan nyeri terus menerus. R : (Region/Radiation), Lokasi keluhan dirasakan dan juga arah penyebaran keluhan sejauh mana.Pada penderita penyakit jantung koroner nyeri biasanya dirasakan pada daerah dada. S : (Scale/Severity), Intensitas keluhan yang dirasakan, 24. 33 apakah sampai mengganggu atau tidak. Pada penderita penyakit jantung koroner skala nyeri dirasakan T : (Timing), Kapan keluhan dirasakan, seberapa sering, apakah berulang-ulang, dimana hal ini menentukan waktu dan durasi. Pada penderita penyakit jantung koroner, keluhan dirasakan saat melakukan aktivitas (Arif, 2008). b) Riwayat kesehatan dahulu Pada riwayat kesehatan dahulu, apakah klien pernah menderita penyakit yang sama atau perlu dikaji apakah klien pernah mengalami penyakit yang berat atau suatu penyakit tertentu yang memungkinkan akan berpengaruh pada kesehatan sekarang, misalnya hipertensi. c) Riwayat kesehatan keluarga Kaji dengan menggunakan genogram, adakah anggota keluarga yang mempunyai penyakit serupa dengan klien atau penyakit keturunan seperti hipertensi, DM. 25. 34 3) Pemeriksaan Fisik Menurut Nursalam (2008), pemeriksaan fisik dilakukan secara head to toe dan didokumentasikan secara persistem yang meliputi: a) Keadaan Umum Biasanya Klien dengan penyakit jantung koroner akan datang dengan adanya keluhan sesak nafas berat, dengan keadaan umum yang buruk misalnya dengan tampak sakit berat. b) Kesadaran Pada umumnya tingkatan kesadaran terdiri dari enam tingkatan yaitu : (1) Kompos mentis: sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya (GCS 15-14) (2) Apatis: keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan kehidupan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh (GCS 13-12). (3) Somnolen: keadaan kesadaran yang mau tidur saja dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri akan tetapi jatuh tidur lagi (GCS 11-10). (4) Delirium: keadaan kacau motorik seperti memberontak dan tidak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu (GCS 9- 7). (5) Sopor: keadaan kesadaran yang menyerupai koma, reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan rangsang nyeri (GCS 9-7). 26. 35 (6) Koma: keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak dapat dibangunkan dengan rangsang apapun (GCS < 7) . c) Tanda-tanda Vital Sebelum melakukan tindakan lain, yang perlu diperhatikan adalah tanda-tanda vital, karena sangat berhubungan dengan fungsi kehidupan dan tanda-tanda lain yang berkaitan dengan masalah yang terjadi. Tanda-tanda vital terdiri atas empat pemeriksaan, yaitu: (1) Tekanan darah (2) Pemeriksaan denyut nadi (3) Pemeriksaan suhu (4) Pemeriksaan respirasi d) Pemeriksaan Persistem (1) Sistem pernapasan Perlu dikaji mulai dari bentuk hidung, ada tidaknya secret pada lubang hidung, pergerakan cuping hidung waktu bernapas, kesimetrisan gerakan dada saat bernapas, auskultasi bunyi napas apakah bersih atau ronchi, serta frekuensi napas. Biasanya pada klien dengan penyakit jantung koroner didapatkan pernapasan tidak teratur, pernapasan sulit, frekuensi napas meningkat serta pada saat auskultasi didapatkan suara paru ronchi atau wheezing. 27. 36 (2) Sistem kardiovaskuler Mulai dikaji dari warna konjungtiva, warna bibir, ada tidaknya peninggian vena jugularis, auskultasi bunyi jantung pada daerah dada dan pengukuran tekanan darah, dengan palpasi dapat dihitung peningkatan frekuensi nadi, adanya hipotensi orthostatik, ada tidaknya oedema, warna pucat dan sianosis. Pada klien dengan penyakit jantung koroner dalam pemeriksaan didapatkan bunyi jantung yang bisa normal, S3/S4/murmur, pulsasi arteri, sianosis perifer dan palpitasi. (3) Sistem pencernaan Kaji keadaan mulut, gigi, bibir, palpasi abdomen untuk mengetahui peristaltik usus, adanya massa atau nyeri tekan. Pada klien dengan penyakit jantung coroner biasanya didapatkan bising usus yang normal. (4) Sistem muskuloskeletal Kaji derajat Range Of Montion dari pergerakan sendi mulai dari kepala sampai anggota gerak bawah, ketidaknyamanan atau nyeri yang dilaporkan klien waktu bergerak, toleransi klien waktu bergerak dan observasi adanya luka pada otot akibat peradangan, kaji adanya deformitas dan atrofi otot. Selain ROM, tonus dan kekuatan tonus harus dikaji. Pada penderita penyakit jantung koroner akan ditemukan 28. 37 kelemahan umum dan penurunan toleransi terhadap aktifitas. (5) Sistem Integumen Kaji keadaan kulit, rambut dan kuku. Pemerikasaan kulit meliputi tekstur, kelembaban, turgor, warna dan fungsi perabaan. (6) Sistem indera (a) Mata : Di kaji mulai dari adanya nyeri tekan atau tidak, adanya konjungtiva anemis atau tidak, sclera ikterus atau tidak, kelopak mata cekung atau tidak. Pada klien yang mengalami sesak berat biasanya dijumpai anemis pada konjungtiva, ketajaman penglihatan berkurang dan penurunan lapang pandang. (b) Telinga Dikaji mulai dari kebersihan telinga, simetris atau tidak, adanya nyeri tekan atau tidak, dilakukan tes pendengaran. (c) Hidung Kaji apakah ada pernafasan cuping hidung, defiasi septum, kepatenan hidung (jika nares posterior mem- besar menunjukan adanya distress pernafasan). 29. 38 (d) Mulut Di kaji mulai dari kebersihan mulut, sianosis atau tidak, bibir pecah pecah atau tidak.. (7) Sistem saraf Sistem neurosensori yang dikaji adalah fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi sensori, serta fungsi reflex. Pada klien dengan penyakit jantung koroner mengalami pusing dan kadang mengalami syncope. (8) Sistem perkemihan Kaji ada tidaknya pembengkakan dan nyeri pada daerah pinggang, observasi dan palpasi pada daerah abdomen bawah untuk mengetahui adanya retensi urine dan kaji tentang keadaan alat-alat genitourinari bagian luar mengenai bentuknya, ada tidaknya nyeri tekan dan benjolan serta bagaimana pengeluaran urinnya, lancar atau ada nyeri sewaktu miksi, serta bagaimana warna urinnya. (9) Sistem imun Dikaji adanya nyeri tekan atau tidak, adanya oedema atau tidak pada kelenjar getah bening, ada riwayat alergi atau tidak. 30. 39 (10)Sistem reproduksi Kaji bagaimana system reproduksi klien mengenai kebersihan vulva dan perineum, Pada klien dengan penyakit jantung koroner cenderung ditemukan adanya penurunan libido akibat intoleransi terhadap aktivitas. 4) Pola Aktivitas Sehari Hari a) Nutrisi Pada penderita penyakit jantung koroner mengalami masalah dalam memenuhi kebutuhan nutrisi karena kurangnya nafsu makan dan kehilangan sensasi kecap. b) Eliminasi (BAB dan BAK) Pada klien dengan penyakit jantung koroner akan terjadi penurunan eliminasi BAK dan BAB akibat dari menurunya intake nutrisi. c) Istrahat dan Tidur Istrahat tidur terganggu akibat adanya nyeri. d) Personal Hygiene Biasanya mengalami gangguan pemenuhan ADL akibat adanya nyeri dada. 31. 40 5) Data Psikologis Menurut Nursalam (2008), data psikologis mencakup : a) Status emosi Klien menjadi iritable atau emosi yang labil terjadi secara tiba- tiba klien menjadi mudah tersinggung. b) Konsep Diri (1) Body image: mengkaji pandangan klien terhadap keadaan fisiknya saat ini, apakah klien merasa terganggu dengan keadaannya saat ini? (2) Ideal: kaji keadaan yang diinginkan klien dan sesuatu yang menjadi harapan dari cita-citanya? (3) Harga diri: kaji apakah klien pada saat ini merasa malu atau bagaimana penilaian pribadi klien tentang hasil yang dicapai dan seberapa jauh perilaku klien dalam memenuhi ideal dirinya?. (4) Peran: kaji bagaimana pola perilaku, sikap, nilai, dan aspirasi yang diharapkan individu berdasarkan posisinya di masyarakat? 6) Data Sosial Perlu dikaji tentang tidak tanggapnya aktifitas disekitarnya baik ketika di rumah atau di rumah sakit. Klien biasanya menjadi tidak peduli dan lebih banyak diam akan lingkungan sekitarnya. 32. 41 7) Data Spritual Hal-hal yang perlu dikaji yaitu bagaimana pelaksanaan ibadah selama sakit.Perlu pula dikaji keyakinan klien tentang keembuhannya dihubungkan dengan agama yang dianut klien dan bagaimana persepsi klien tentang penyakitnya serta siapa yang menjadi pendorong dan memotivasi bagi kesembuhan klien. 8) Data Penunjang (a) ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dri iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis. (b) Enzym dan isoenzym pada jantung: CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam. (c) Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia. (d) Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan. (e) Analisa gas darah: Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis ata akut. 33. 42 (f) Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis. (g) Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikiler. (h) Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung. (i) Exercise stress test: Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas. b. Pengelompokan Data Pengelompokkan data adalah mengelompokkan data-data klien atau keadaan tertentu dimana klien mengalami permasalahan kesehatan atau keperawatan berdasarkan kriteria permasalahannya.Setelah dapat dikelompokkan, maka perawat dapat mengidentifikasi masalah keperawatan klien dengan merumuskannya.Adapun data-data yang muncul diklasifikasikan dalam data subyektif dan obyektif (Marelli, 2008). c. Analisa Data Analisa data merupakan proses berfikir secara ilmiah berdasarkan teori-teori yang dihubungkan dengan data-data yang ditemukan saat pengkajian. Menginterprestasikan data atau membandingkan dengan standar fisiologis setelah dianalisa, maka akan didapat penyebab terjadinya masalah pada klien (Nursalam, 2008). 34. 43 Analisa data terdiri dari : 1) Problem yaitu suatu masalah yang muncul dalam keperawatan 2) Etiologi yaitu penyebab dari timbulnya suatu masalah keperawatan 3) Symptom yaitu gejala yang menyebabkan timbulnya suatu masalah. d. Prioritas masalah Prioritas masalah dituliskan dalam urutan tertentu untuk memudahkan pengurutan diagnosa keperawatan berkaitan yang dipilih, yang tersaji dalam pedoman perawatan. Setelah masalah dianalisa diprioritaskan sesuai dengan kriteria prioritas masalah untuk menentukan masalah yang harus segera diatasi yaitu: 1) Masalah yang dapat mengancam jiwa klien 2) Masalah aktual 3) Masalah potensial atau resiko tinggi. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yaitu pernyataan yang menguraikan respon insani (status kesehatan atau perubahan pola interaksi aktual potensial) individu atau kelompok yang perawat dapat membuat intervensi yang pasti demi kelestarian status kesehatan atau mengurangi, menghilangkan atau mencegah perubahan-perubahan (Carpenito, 2009). 35. 44 Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan penyakit jantung koroner menurut Doengoes (2005) adalah: a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria. b. Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard. c. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan. d. Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark. e. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia. f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang implikasi penyakit jantung dan status kesehatan yang akan datang. 3. Perencanaan Perencanaan adalah acuan tertulis sebagai intervensi keperawatan yang direncanakan agar dapat mengatasi diagnosa keperawatan sehingga pasien dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (Doengoes, 2005). a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria. 36. 45 Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 3 x 24 jam klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penurunan tekanan dan cara berelaksasi Kriteria hasil : Nyeri dada hilang Intervensi : 1) Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri. Rasional : Variasi penampilan dan perilaku pasien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian. 2) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran). Rasional : Mengetahui respon klien terhadap nyeri yang dirasakan klien. 3) Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada. Rasional : Membantu mengatasi nyeri semaksimal mungkin. 4) Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen dan obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesik). Rasional : Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk pemakaian miokardia dan mengurangi ketidaknyamanan sehubungan dengan iskemia jaringan. 5) Berikan obat sesuai indikasi (antiangina) Rasional : Obat antiangina untuk kontrol nyeri dengan efek vasodilatasi koroner, yang meningkatkan aliran darah koroner dan perfusi miokardia. 37. 46 b. Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemiapada miokard. Tujuan : Setelah di lakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, klien menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal), tidak adanya angina Kriteria hasil : Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas yang bisa diukur. . Intervensi : 1) Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas. Rasional : kecenderungan menentukan respon pasien terhadap aktifitas dan dapat dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardia yang memerlukan penurunan tingkat aktifitas. 2) Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu. Rasional : Menurunkan kerja miokardia untuk konsumsi oksigen, menurunkan resiko komplikasi. 3) Anjurkan pada pasien agar tidak mengedan pada saat buang air besar (BAB). Rasional : Aktifitas yang memerlukan menahan napas dan menunduk dapat mengakibatkan bradikardi, menurunkan curah jantung dan takikardi dengan peningkatan tekanan darah. 38. 47 4) Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien. Rasional : Aktifitas yang tinggi memberikan kontrol jantung, meningkatkan regangan dan bmencegah aktifitas berlebihan. 5) Ansietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan. Tujuan : Setelah di lakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam, ansietas dapat teratasi. Kriteria hasil : - Menyatakan penurunan ansietas - Mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalah positif. - Mengidentifikasi sumber secara cepat. Intervensi : 1) Identifikasi dan ketahui persepsi pasien terhadap ancaman Rasional : Koping terhadap nyeri dan trauma emosi. 2) Catat adanya kegelisahan, menolak dan menyangkal. Rasional : Penelitian menunjukkan beberapa hubungan antara derajat ansietas dengan ekspresi marah atau gelisah. 3) Kaji tanda verbal dan non verbal. Rasional : Intervensi dapat membantu pasien meningkatkan kontrol terhadap perilakunya sendiri. 4) Dorong pasien atau orang terdekat untuk mengkomunikasikan berbagai pertanyaan dan masalah. 39. 48 Rasional : Berbagai informasi membentuk dukungan dan dapat menghilangkan tegangan terhadap kekhawatiran yang tidak diekspresikan. 5) Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat. Rasional : Memungkinkan waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan cemas dan perilaku adaptasi. c. Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark. Tujuan : Tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan. Kriteria hasil : Nyeri dada hilang Intervensi : 1) Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan). Rasional : Hipotensi terjadi sehubungan disfungsi ventrikel, hipoperfusi miokardia dan rangsangan vagal. 2) Kaji kualitas nadi. Rasional : Penurunan curah jantung mengakibatkan menurunnya kekuatan nadi.. 3) Auskultasi suara nafas. Rasional : Krekels menunjukkan adanya kongesti paru yang mungkin terjadi akibat adanya penurunan fungsi miokardium. 40. 49 4) Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine. Rasional : Kafein adalah perangsang langsung pada jantung yang dapat meningkatkan kontraksi jantung. 5) Kolaborasi dalam : pemeriksaan serial EKG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia. Rasional : Antisipasi terhadap ancaman disritmia yang sering mengancam secara profilaksis. d. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia. Tujuan : Selama dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, tidak terjadi penurunan perfusi jaringan Kriteria hasil : - Perfusi jaringan menjadi adekuat - Kulit hangat dan kering - Nadi perifer teraba - Tanda-tanda vital dalambatas normal - Tidak ada nyeri Intervensi : 1) Pantau adanya pucat,sianosis,kulit dingin/lembab,catat kekuatan nadi perifer. Rasional : Vasokonstriksi sistemik di akibatkan oleh penurunan curah jantung 41. 50 2) Kaji tanda hormon (nyeripada betis dengan posisi dorsolfleksi),eritema,edema. Rasional : Indikator trombosis vena dalam. 3) Pantau pernapasan,catat kerja pernapasan Rasional : Pompa jantung gagal dapat mencetuskan distres pernapasan 4) Catat pemasukan dan catat perubahan haluan urine. Rasional : Penurunan pernapasan dapat mengakibatkan penurunan volume sirkulasi,yang berdampak negatif pada poerfusi dan fungsi organ. 5) Berikan obat sesuai indikasi,misalnya heparin,natrium wafarin, Rasional : Untuk menurunkan resiko tromboflebitis atau pembentukan trombus mural. e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang fungsi jantung/implikasi penyakit jantung dan status kesehatan yang akan datang. Tujuan : Selama dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam beberapa hari kurang pengetahuan teratasi. Kriteria hasil : Menyatakan peahaman tentang penyakit jantung. Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan pasien Rasional : Perlu untuk pembuatan rencana intruksi individu 42. 51 2) Berikan informasi dalam bentuk yang bervariasi Rasional : Penggunaan metode belajar yang bermacam-macam meningkatkan penyerapan materi. 3) Beri penguatan penjelasan faktor resiko. Rasional : Memberikan kesempatan pada pasien untuk mencakup informasi dalam program rehabilitasi. 4) Beri tekanan pentingnya menghubungi dokter bila nyeri dada Rasional : Evaluasi berkala/intervensi dapat mencegah komplikasi. 4. Implementasi Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan meliputi tindakan-tindakan yang telah direncanakan, melaksanakan anjurananjuran dokter dan menjalankan ketentuan rumah sakit. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai rencana yang telah ditetapkan dengan harapan mengatasi masalah yang dihadapi klien. Catatan yang dibuat dalam implementasi merupakan sumber yang ditujukan untuk evaluasi keberhasilan tindakan perawatan yang telah direncanakan sebelumnya (Hidayat, 2009). 5. Evaluasi Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan 43. 52 kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi terdiri dari dua komponen yaitu data yang tercatat yang menyatakan status kesehatan sekarang dan pernyataan konklusi yang menyatakan efek dari tindakan yang diberikan pada klien (Hidayat, 2009). Dalam evaluasi, proses perkembangan klien dinilai selama 24 jam terus menerus yang ditulis dalam bentuk catatan atau laporan keperawatan yang ditulis oleh perawat jaga sebelum mengakhiri jam dinasnya (Hidayat, 2009). Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP sebagai pola pikir yaitu sebagai berikut : S : Respon subyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan. O : Respon obyektif klien terhadap intervensi yang dilaksanakan. A : Analisa ulang atas data subyektif dan data obyektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau ada masalah baru. P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon Adapun yang dievaluasi adalah sebagai berikut: a. Apakah nyeri teratasi ? b. Apakah intoleransi aktivitas teratasi ? c. Apakah ansietas teratasi? d. Apakah perubahan curah jantung teratasi? e. Apakah perubahan perfusi jaringan teratasi? f. Apakah kurang pengetahuan teratasi?