tiga fakta dasar eksistensi - i. ketidakkekalan (anicca) - kumpulan... · tiga fakta dasar dari...

Download Tiga Fakta Dasar Eksistensi - I. Ketidakkekalan (Anicca) - Kumpulan... · Tiga fakta dasar dari semua

Post on 02-Mar-2019

214 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Tiga Fakta Dasar Eksistensi - I. Ketidakkekalan (Anicca)Judul Asli: The Three Basic Facts of Existence - I. Impermanence (Anicca)Penulis: Nyanaponika Thera, Piyadassi Thera, Bhikkhu anajivako, Phra Khantipalo, Y.

Karunadasa, Bhikkhu anamoliPenerjemah: Artafanti, Feny Anamayani, Laura Perdana, Laurensius Widyanto, Hansen

Wijaya, Leonard Halim, Yohanes SismargaEditor: Anne Martani, Sidharta SuryamettaProofreader: Andrea Kurniawan

Sampul & Tata Letak: Jimmy Halim, Leonard Halim

Tim Dana: Artafanti, Laura Perdana

Diterbitkan Oleh:

vijjakumara@gmail.com

The Three Basic Facts of Existence: I. Impermanence (Anicca), with a preface by Nyanaponika Thera. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/various/wheel186.html .

Hak Cipta Terjemahan dalam bahasa Indonesia 2015 VijjakumaraCetakan pertama Nov 2015

iv

Daftar Isi

v

Daftar Isi

Daftar Isi ........................................................................................... vKata Pengantar .................................................................................. 7Moto ................................................................................................11Sabda-Sabda Buddha ..................................................................... 12Fakta tentang Ketidakkekalan ........................................................ 15Aniccam: Teori Buddhis tentang Ketidakkekalan .......................... 33Sebuah Perjalanan di Tengah Hutan ............................................... 71Doktrin Buddhis tentang Anicca .................................................... 81Anicca (Ketidakkekalan) Menurut Theravada .............................. 101Berbahagia & Berbagi Jasa Kebajikan ......................................... 130

Daftar Isi

vi

Kata Pengantar

7

Kata Pengantar

Apabila kita merenungkan rentang hidup yang amat luas ini meski sekelumit bagiannya saja, kita dihadapkan dengan perwujudan-perwujudan kehidupan yang begitu banyak ragam jenisnya sampai hampir tidak mungkin untuk mendeskripsikannya. Namun demikian, dapat dibuat tiga pernyataan dasar yang valid untuk segala eksistensi yang bernyawa, dari mikroba hingga pikiran kreatif seorang manusia jenius. Corak-corak yang lazim dijumpai di semua kehidupan ini pertama kali ditemukan dan dirumuskan lebih dari 2500 tahun yang lalu oleh Buddha, yang secara pantas disebut sebagai Pengetahu Dunia-Dunia (loka-vidu). Tiga corak ini adalah Tiga Ciri (ti-lakkhaa) dari semua yang berkondisi, yaitu, yang muncul secara dependen. Dalam terjemahan Inggris, Tiga Ciri tersebut terkadang juga disebut Signs, Signata, atau Marks.

Tiga fakta dasar dari semua eksistensi adalah:

1. Ketidakkekalan atau Perubahan (anicca)

2. Penderitaan atau Ketidakpuasan (dukkha)

3. Bukan-diri atau Ketanpaintian (anatt).

Yang pertama dan ketiga berlaku untuk eksistensi yang tidak bernyawa juga, sedangkan fakta dasar yang kedua (penderitaan),

Kata Pengantar

8

tentu saja, hanya dialami oleh eksistensi yang bernyawa. Akan tetapi, eksistensi yang tidak bernyawa, bisa jadi, dan sering kali merupakan, suatu sebab penderitaan bagi makhluk hidup: misalnya, batu yang jatuh dapat menyebabkan cedera atau hilangnya harta benda dapat menyebabkan rasa sakit secara mental. Dalam konteks tersebut, ketiga fakta dasar ini adalah lazim untuk semua yang berkondisi, bahkan untuk yang berada di bawah maupun di atas rentang normal pencerapan manusia.

Eksistensi dapat dimengerti hanya jika ketiga fakta dasar ini dipahami, tidak hanya secara logis, melainkan lewat konfrontasi dengan pengalaman orang itu sendiri. Pandangan Terang-Kebijaksanaan (vipassan-pa) yang merupakan faktor membebaskan yang tertinggi di dalam Buddhisme, terdiri hanya dari pengalaman tiga ciri ini yang diterapkan pada proses-proses fisik maupun mental orang itu sendiri, dan Pandangan Terang-Kebijaksanaan tersebut diperdalam dan dimatangkan dalam meditasi.

Untuk melihat hal-hal sebagaimana adanya berarti melihat hal-hal tersebut secara konsisten dalam hubungannya dengan tiga ciri. Ketidaktahuan akan tiga ciri ini, atau sikap menyangkal-sendiri terkait tiga ciri ini, dengan sendirinya merupakan suatu sebab kuat untuk penderitaan dengan merajut, jala harapan-harapan palsu, dari keinginan-keinginan yang tidak realistis dan membahayakan, dari ideologi-ideologi keliru, nilai-nilai dan tujuan hidup yang keliru, dimana seseorang terperangkap. Mengabaikan atau memutarbalikkan

Kata Pengantar

9

tiga fakta dasar ini hanya akan menuntun pada rasa frustasi, kekecewaan, dan keputusasaan.

Oleh karena itu, dari sudut positif dan juga negatif, ajaran mengenai Tiga Fakta Dasar Eksistensi ini adalah demikian penting sehingga dianggap perlu untuk di sini menambahkan lebih banyak bahan pada uraian-uraian singkat yang telah muncul dalam seri ini.

Diawali dengan jilid ini mengenai Ketidakkekalan, masing-masing dari Tiga Ciri akan mendapatkan pembahasan terpisah oleh penulis yang berbeda dan dari sudut yang berbeda, dengan pendekatan yang amat beragam.

Masing-masing dari ketiga publikasi ini akan disimpulkan dengan sebuah esai dari mendiang Yang Mulia anamoli Thera, yang mana semua sumber bahan Tipitaka penting untuk masing-masing Ciri tersebut dikumpulkan, ditata, dan dibahas. Artikel-artikel yang ditulis dengan ringkas ini layak dipelajari dengan saksama dan akan dirasakan sangat membantu dalam pendekatan analisis maupun meditatif terhadap tema bahasan. Sayangnya, kematian dini dari penulis yang mulia menghalanginya untuk menulis artikel keempat yang sudah direncanakannya. Artikel keempat itu direncanakan akan membahas hubungan keterkaitan antara Tiga Ciri.

Ketiga artikel Yang Mulia anamoli ini awalnya ditulis untuk Encyclopaedia of Buddhism, dan yang pertama, mengenai Anicca, untuk muncul di Jilid I, hal. 657ff., dari karya tersebut. Untuk izin

Kata Pengantar

10

mencetak ulang artikel ini, Buddhist Publication Society sangat berterima kasih kepada Pimpinan Redaksi dari Encyclopaedia, Dr. G. P. Malalasekera, dan kepada para penerbit, Departemen Urusan Kebudayaan, Kolombo.

Nyanaponika.

Moto

11

Moto

Apapun yang SEKARANG akan menjadi yang LALU.

Bhikkhu anamoli

Ciri yang amat jelas tentang dunia ini adalah kefanaannya. Dalam konteks ini, sekian abad tidak memiliki keunggulan dibandingkan momen saat ini. Dengan demikian kontinuitas dari kefanaan tidak dapat memberikan penghiburan apapun; fakta bahwa kehidupan tumbuh berkembang di tengah kehancuran membuktikan bahwa kegigihan dari kehidupan tidak sekuat kegigihan dari kematian.

Franz Kafka

Sabda-Sabda Buddha

12

Sabda-Sabda Buddha

Para bhikkhu, pencerapan atas ketidakkekalan, dikembangkan dan sering dipraktikkan, menghilangkan semua nafsu indriawi, menghilangkan semua nafsu untuk eksistensi materiil, menghilangkan semua nafsu untuk menjadi, menghilangkan semua ketidaktahuan, menghilangkan dan menghapuskan semua kesombongan Aku adalah.

Sama seperti di musim gugur, seorang petani membajak dengan bajak yang besar, seiring membajak, dia memotong semua akar kecil yang menutupi; dengan cara yang sama, para bhikkhu, pencerapan atas ketidakkekalan, dikembangkan dan sering dipraktikkan, menghilangkan semua nafsu indriawi... menghilangkan dan menghapuskan semua kesombongan Aku adalah.

SN 22.102

Akanlah lebih baik, para bhikkhu, jika seorang biasa yang tidak terdidik menganggap tubuh ini yang terbuat dari empat elemen besar, sebagai dirinya sendiri daripada menganggap pikiran sebagai diri. Karena alasan apa? Tubuh ini terlihat terus berlanjut selama setahun, selama dua tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, lima puluh tahun, seratus tahun, dan bahkan lebih. Namun apa yang disebut pikiran, yang disebut pemikiran, yang disebut kesadaran,

Sabda-Sabda Buddha

13

pada satu momen muncul dan berhenti sebagai suatu yang lain secara terus menerus sepanjang siang dan malam.

SN 12.61

Sabda-Sabda Buddha

14

Fakta tentang Ketidakkekalan

oleh Piyadassi Thera

Fakta tentang Ketidakkekalan

16

Tidak kekal, tunduk pada perubahan, adalah hal-hal berkomponen. Berjuanglah dengan sungguh-sungguh! Ini adalah nasihat terakhir dari Buddha Gotama kepada murid-muridnya.

Dan ketika Buddha telah meninggal, Sakka, kepala para dewa, memanjatkan syair:

Tidak kekal adalah segala hal yang berkomponen,

Muncul dan berhenti, itulah sifat dasar mereka:

Hal-hal yang berkomponen datang menjadi ada dan berlalu,

Terbebas darinya adalah kebahagiaan tertinggi.

Anicc vata sakhr uppda vaya dhammino

Uppajjitv nirujjhanti tesa vpasamo sukho.

Mah-Parinibbna Sutta (DN 16)[1]

Bahkan hingga masa kini, di setiap upacara kematian Buddhis di negara-negara Theravada, syair Pali inilah yang dibacakan oleh bhikkhu-bhikkhu Buddhis yang melaksanakan upacara kematian, sehingga mengingatkan para umat yang hadir mengenai sifat cepat berlalunya kehidupan.

Melihat para umat mempersembahkan bunga dan lampu minyak

Fakta tentang Ketidakkekalanoleh Piyadassi Thera

Fakta tentang Ketidakkekalan

17

kecil di hadapan rupa Buddha merupakan suatu pemandangan yang umum di negara-negara Buddhis. Mereka tidak berdoa kepada Buddha atau makhluk supernatural apapun. Bunga-bunga yang layu dan api yang padam memberitahu mereka tentang ketidakkekalan dari segala hal yang berkondisi.

Ketidakkekalan (anicca), kata tunggal dan sederhana inilah yang merupakan inti dari ajaran Buddha, yang juga menjadi dasar untuk dua ciri lainnya dari