spi awal + perbaikan

Download SPI AWAL + PERBAIKAN

Post on 12-Feb-2016

222 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

yyiyiyi

TRANSCRIPT

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

TUGAS KELOMPOK

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) JURAI SIWO METRO

2010/2011ANGGOTA KELOMPOK 8 :

1. ANDI SEPTIAWAN

(1063055)

2. NIA MAULINA SARI(1063635)

3. SEPTIANI

(1063885)

4. SITI NURHALIMAH(1063915)

PRODI:PGMI

KELAS:M2 (B)

BAB I

PENDAHULUAN

Pada zaman colonial pemerintah Belanda menyediakan sekolah yang beranekaragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Cirri yang khas dari sekolah-sekolah ini ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah itu. Namun lambat laun, dalam berbagai macam sekolah yang terpisah-pisah itu terbentuklah hubungan-hubungan sehingga terdapat suatu system yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak-anak Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian berkembang secara vertical sehingga anak-anak Indonesia, melalui pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jaln yang sulit dan sempit.

Lahirnya suatu system pendidikan bukanlah hasil suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui percobaan dan didorong oleh kebutuhan praktis di bawah pengaruh kondisi social, ekonomi, dan politik di Nederland maupun di Hindia Belanda. Selain itu kejadian-kejadian di dunia luar, khususnya yang terjadi di Asia, mendorong dipercepatnya pengembangan system pendidikan yang lengkap yang akhirnya, setidaknya dalam teori, memberikan kesempatan kepada setiap anak desa yang terpencil untuk memasuki perguruan tinggi. Dalam kenyataan hanya anak-anak yang mendapat pelajaran di sekolah berorientasi Barat saja yang dapat melanjutkan pelajarannya, sekalipun hanya terbatas pada segelintir orang saja.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENDIDIKAN SELAMA PENJAJAHAN BELANDA

Pendidikan selama penjajahan Belanda dapat dipetakan kedalam 2(Dua) periode besar, yaitu pada masa VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie) dan masa pemerintah Hindia-Belanda (Nederland Indie). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi(perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial.

1. Zaman VOC(Kompeni)

Orang Belanda dating ke Indonesia bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motivasi oleh hasrat untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi laut yang berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil rempah-rempah dari Indonesia. Namun, pedagang itu merasa perlunya memiliki tempat yang permanen di daratan daripada berdagang dari kapal yang berlabuh di laut. Kantor dagang itu kemudian mereka perkuat dan persenjatai dan menjadi benteng yang akhirnya menjadi landasan untuk menguasai daerah di sekitarnya. Lambat laun kantor dagang itu beralih dari pusat komersial menjadi bais politik dan territorial. Setelah peperangan colonial yang banyak akhirnya Indonesia jatuh seluruhnya di bawah pemerintahan Belanda. Namun penguasaan daerah jajahan ini baru selesai pada permulaan abad ke-20.

Metode kolonialisasi Belanda sangat sederhana. Mereka mempertahankan raja-raja yang berkuasa dan menjalankan pemerintahan melalui raja-raja itu akan tetapi menuntut monopoli hak berdagang dan eksploitasi sumber-sumber alam. Adat istiadat dan kebudayaan asli dibiarkan tanpa perubahan aristokrasi tradisional digunakan oleh Belanda untuk memerintah negeri ini dengan cara efisien dan murah. Oleh sebab Belanda tidak mencampuri kehidupan orang Indonesia secara langsung, maka sangat sedikit yang mereka perbuat untuk pendidikan bangsa. Kecuali usaha meyebarkan agama mereka di beberapa pulau di bagian timur Indonesia. Kegiatan pendidikan pertama yang dilakukan VOC.

Pada permulaan abad ke-16 hampir seabad sebelum kedatangan Belanda, pedagang Portugis menetap di bagian timur Indonesia tempat rempah-rempah itu dihasilkan. Biasanya mereka didampingi oleh misionaris yang memasukkan penduduk kedalam agama katolik yang paling berhasil diantara mereka adalah Ordo Jesuit di bawah pimpinan Feranciscus Xaverius. Xaverius memandang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran agama.

2. Zaman Pemerintahan Belanda Setelah VOC

Setelah ambruknya VOC tahun 1916 pemerintah Belanda menggantikan kedudukan VOC. Statuta Hindia Belanda tahun 1801 dengan terang-terangan menyatakan bahwa tanah jajahan harus memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada perdagangan dan kepada kekayaan negeri Belanda. Pada tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar Gubernur Jenderal berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan bagi negerinya. Walaupun setiap Gubernur Jenderal pada penobatannya berjanji dengan hikmat bahwa ia akan memajukan kesejahteraan Hindia Belanda dengan segenap usaha prinsip masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa Hindia Belanda sebagainegeri yang direbut harus terus memberikan keuntungan kepada negeri Belanda sebagai tujuan pendidikan itu. Sekolah pertama bagi anak Belanda dibuka di Jakarta pada tahun 1817 yang segera diikuti oleh pembukaan sekolah dikota lain di Jawa. Prinsip yang dijadikan pegangan tercantum distatuta 1818 bahwa sekolah-sekolah harus dibuka ditiap tempat bila diperlukan oleh penduduk Belanda dan diizinkan oleh keadaan.

Gubernur Jenderal Van der Capellen (1819-1823) menganjurkan pendidikan rakyat dan pada tahun 1820 kembali regen-regen diinstruksikan untuk menyediakan sekolah bagi penduduk untuk mengajar anak-anak membaca dan menulis serta mengenal budi pekerti yang baik. Anjuran beliau tidak berhasil untuk mengembangkan pendidikan oleh regen(informasi kembali) yang aktif.

Tahun 1826 lapangan pendidikan dan pengajaran terganggu oleh adanya usaha-usaha penghematan. Sekolah-sekolah yang ada hanya bagi anak-anak Indonesia yang memeluk Nasrani. Alasannya karena adanya kesulitan financial yang berat yang dihadapi orang Belanda sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan menelan banyak korban serta peperangan antara Belanda dan Belgia(1830-1839).

Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja Belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang dianjurkan Van den Bosh. Ia membawa ide penggunaan kerja paksa (rodi) sebagai cara ampuh untuk memperoleh cara usaha maksimal, yang kemudian terkenal dengan cultuur stelsel atau tanam paksa yang memaksa penduduk untuk menghasilkan tanaman yang diperlukan dipasaran Eropa.

Van den Bosh mengerti, bahwa untuk memperbaiki stelsel pembangunan ekonomi bagi Belanda dibutuhkan tenaga-tenaga ahli yang banyak. Setelah tahun 1848 dikeluarkan peraturan-peraturan yang menunjukkan perintah lambat laun menerima tanggung jawab yang lebih besar atas pendidikan anak-anak Indonesia sebagai hasil perdebatan diparlemen Belanda dan mencerminkan sikap Liberal yang lebih menguntungkan terhadap rakyat Indonesia. Terbongkarnya penyalahgunaan system tanam paksa merupakan factor dalam perubahan pandangan. Peraturan pemerintah tahun 1854 mengintruksikan Gubernur Jenderal untuk mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi. Peraturan tahun 1863 mewajibkan Gubernur Jenderal untuk mengusahakan terciptanya situasi yang memungkinkan penduduk bumi putera pada umumnya menikmati pendidikan.

System tanam paksa dihapuskan tahun 1870 dan digantikan dengan UU Agraria 1870. Pada tahun ini di Indonesia timbul masa baru dengan adanya UU Agraria dari De Waal, yang memberi kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertanian partikuler. Usaha-usaha perekonomian makin maju, masyarakat lebih banyak lagi membutuhkan pegawai. Sekolah-sekolah yang dianggap belum cukup memenuhi kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai dipergiat lagi. Kini tugas departemen adalah memelihara sekolah-sekolah yang ada dengan lebih baik dan mempergiat usaha-usaha perluasaan sekolah-sekolah baru.

Pada tahun 1893 timbullah differensiasi pengajaran bumi putera. Hal ini disebabkan:

1. Hasil sekolah-sekolah bumi putera kurang memuaskan pemerintah colonial. Hal ini terutama sekali disebabkan karena isi rencana pelaksanaannya terlalu padat.

2. Dikalangan pemerintah mulai timbul perhatian pada rakyat jelata. Mereka insyaf karena yang harus mendapat pengajaran itu bukan hanya lapisan atas saja.

3. Adanya kenyataaan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai kedua kebutuhan dilapangan pendidikan yaitu lapisan atas dan lapisan bawah.

Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putera, keluarlah Indisch Staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi poetra menjadi 2 bagian:

a. Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak priyai dan kaum terkemuka.

b. Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.

Perbedaan sekolah kelas I dan kelas II antara lain:

Kelas I

Tujuan : memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan perusahaan

Lama bersekolah : 5 tahun

Mata pelajarannya: membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.

Guru-guru :keluaran Kweekschool

Bahasa pengantar : Bahasa Daerah/Melayu.

Kelas II

Tujuan : memenuhi kebutuhan pengajaran di kalangan rakyat umum.

Lama bersekolah : 3 tahun

Mata pelajaran : membaca, menulis dan berhitung.

Guru-guru :persyaratannya longgar

Bahasa pengantar: Bahasa Daerah / Melayu.

Pada tahun 1914 sekolah kelas I diubah menjadi HIS(Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah Vervolg( sekolah sambungan) dan merupakan sekolah lanjutan dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.

B. POLITIK ETIKA DAN PENGAJARAN

Pada tahun 1899 terbit sebuah artikel oleh Van Devender