sosiologi pendidikan - staimaarif-jambi.ac.id pendidikan 1. pemahaman sosiologi pendidikan...

of 126/126
1 SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Post on 07-Mar-2019

269 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

2

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

1. Pemahaman Sosiologi Pendidikan

Pendidikan adalah pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan

kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi

berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering

terjadi dibawah bimbingan orang lain tetapi juga memungkinkan secara

otodidak. Pendidikan berkenaan dengan perkembangan dan perubahan

kelakuan anak didik. Pendidikan bertalian dengan transmisi pengetahuan

sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada

generasi muda. Pendidikan adalah proses mengajar dan belajar pola-pola

kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Lingkungan social adalah tempat dimana masyarakat saling

berinteraksi dan melakukan sesuatu secara bersama-sama antar sesama

maupun lingkungannya. Antara pendidikan dan perkembang-an masyarakat

dapat di pisahkan satu dengan yang lain. Kemajuan masyarakat dan suatu

bangsa sangat di tentukan pembangunan sector pendidikan dalam penyiapan

sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi

warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Perilaku manusia pada hakekatnya hampir seluruhnya bersifat social,

yakni dipelajari dalam interaksi dengan manusia lainnya, hampir segala

sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain

dirumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan, dan sebagainya.2 Bahan

pelajaran atau isi pendidikan ditentukan oleh kelompok atau masyarakat

seseorang. Demikian pula kelompok atau masyarakat menjamin kelangsungan

hidupnya melalui pendidikan agar masyarakat itu dapat melanjutkan

1 Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rahagrasindo Perkasa, 2011), hlm.60

2 S.Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara:2010), hlm.10

3

eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai,

pengetahuan, keterampilan dan bentuk kelakuan lainnya yang diharapkan akan

memiliki setiap anggota.

Tiap masyarakat meneruskan kebudayaanya dengan beberapa

perubahan kepada generasi muda melalui pendidikan, melalui interaksi social

dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai sosialisasi. Dalam arti ini

pendidikan dapat di artikan dimulai dengan interaksi pertama individu itu

dengan anggota masyarakat lainnya, misalnya pada saat pertama kali bayi di

biasakan minum menurut waktu tertentu.

Dalam definisi ini tidak diadakan perbedaan antara orang tua dengan

anak, antara guru dengan murid. Yang diutamakan ialah adanya hubungan

yang erat antara individu dengan masyarakat. Belajar adalah sosialisasi yang

kontinyu artinya setiap individu dapat menjadi murid dan menjadi guru. Individu

belajar dari lingkungan sosialnya dan juga mengajar dan mempengaruhi orang

lain.

Dalam masyarakat primitive tidak ada pendidikan formal yang

tersendiri, setiap anak harus belajar dari lingkungan sosialnya dan harus

menguasai sejumlah kelakuan yang diharapkan daripadanya pada saatnya

tanpa adanya guru tertentu yang bertanggung jawab atas kelakuannya.

Kemudian dalam masyarakat yang maju kebanyakan kebiasaan dan pola

kelakuan yang pokok dalam kebudayaan dipelajari melalui proses pendidikan

atau sosialisasi informal.3

Bahasa, kebiasaan, makanan dan kepribadian fundamental sebagian

besar diperoleh melalui pendidikan Non formal. Orang yang berpendidikan

ialah orang yang telah bersekolah, melalui pendidikan terbentuklah kepribadian

seseorang boleh dikatakan seluruh kelakuan individu bertalian dengan atau

dipengaruhi orang lain. Maka karena itu kepribadian pada hakikatnya gejala

social. Aspek-aspek yang sama terdapat dalam kelakuan semua orang dalam

masyarakat dapat disebut kebudayaan masyarakat, kepribadian individu selalu

bertalian erat dengan kebudayaan lingkungan tempat iya tinggal.

3 Ibid, hlm.11

4

2. Faktor-Faktor Perkembangan Manusia Seorang etnometodologis mempelajari bagaimana warga masyarakat

membentuk kebiasaan atau menyimpang dari kebiasaan yang merupakan

suatu realitas dan tertib social tertentu tujuan utamanya adalah untuk

mnegungkapkan latar belakang dari perilaku yang dianggap biasa. Tokoh-tokoh

etnometodologi adalah Harold Garfinkel, Harvey Sacks, Aaron V. Cicourel,

David Sudnow, Hugh Mehan Serta Houston Wood.4

Perkembangan manusia dipengaruhi oleh berbagai-bagai factor yaitu:

a. Faktor Biologis Lingkungan Alamiah

Adalah seperti iklim dan faktor-faktor geografis lainnya memberikan

tempat dan bahan yang perlu bagi kehidupan seperti oksigen, bahan untuk

produksi bahan makan, hujan, matahari, dan sebagainya, demikian pula

adanya alat-alat, transportasi, perumahan, pakaian, dan sebagainya.

Lingkungan alam merangsang bentuk kelakuan tertentu, seperti laut untuk

menangkap ikan, berlayar, berdagang, padang rumput untuk beternak, dan

sebagainya. Walaupun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi orang dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan dekat.

b. Faktor Biologis lingkungan Sosial Budaya

Perkembangan manusia lingkungan social. Semua orang hidup dalam

kelompok dan saling berhubungan melalui lambang-lambang, khususnya

bahasa. Manusia mempelajari kelakuan dari orang lain dilingkungan

sosialnya. Hampir segala sesuatu yang dilakukannya, bahkan apa yang

dipikirkannya dan dirasakannya bertalian dengan orang lain.

Aqidah atau ideologi memiliki pengaruh yang sangat signifikan

terhadap hal-hal tersebut, karena manusia dikendalikan dan diarahkan

oleh ideologi mereka sendiri5. Anak yang dididik diluar masyarakat

manusia, seperti anak-anak yang dibesarkan ditengah-tengah serigala

4 Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi, (Jakarta timur : Yudistira, 1984), hlm.10

5 Syaikh Abdullah dan Syaikh Muhammad, Mukhtasar Aqidah Islam, (Surabaya : Pustaka Elba,

2016), hlm.295

5

dihutan tidak menunjukkan kelakuan manusia biasa bahkan tak dapat

berjalan atau makan seperti manusia.

Bahasa, kebiasaan, makan, pakaian, kepercayaan peranan dalam

kelompok, dan sebagainya. Dipelajari dari lingkungan social budaya,

karena lingkungan ini berbeda-beda, maka terdapat pula perbedaan dalam

pola kelakuan manusia. Selanjutnya lingkungan social budaya memberikan

model atau contoh bentuk kelakuan yang diterima dan diharapkan oleh

masyarakat. Anak-anak diharapkan berkelakuan sesuai dengan apa yang

dilakukan oleh anggota masyarakat lainnya. Seluruh pendidikan

berlangsung melalui interaksi social. Inilah hakikat pendidikan.

6

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

7

PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

1. Pendididkan

Setiap bangsa pada umumnya menginginkan pendidikan, dengan

pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan formal artinya makin

banyak dan makin tinggi pendidikan maka semakin baik pula individunya.

Fungsi sekolah ialah pendidikan intelektual yakni mengisi otak anak

dengan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Sekolah dalam kenyataanya masih mengutamakan latihan mental

formal, yaitu suatu tugas yang pada umumnya tidak dapat dipenuhi oleh

keluarga atau lembaga lainnya, oleh sebab itu memerlukan tenaga yang

khusus di persiapkan untuk itu yaitu seorang guru. Dalam pendidikan

formal yang biasanya memegang peran utama ialah guru dengan

mengontrol reaksi dan merespon murid.

Anak-anak biasanya belajar dibawah tekanan dan bila perlu paksaan

tertentu dan kelakuannya dikuasai diatur dengan berbagai aturan.

Kurikulum pada umumnya juga ditentukan oleh petugas pendidikan guru

atau orang dewasa lainnya akan tetapi oleh murid sendiri.

Adapun Fungsi Sekolah yaitu :

a. Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan;

b. Sekolah memberikan keterampilan dasar;

c. Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib;

d. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan;

e. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah social;

f. Sekolah mentransmisi kebudayaan;

g. Sekolah membentuk manusia yang social;

h. Sekolah merupakan alat mentrasnformasi kebudayaan.

Antara pendidikan sekolah, keluarga dan masyarakat terdapat saling

keterkaitan, karena pendidikan adalah bagian dari kehidupan yang dituntut

mampu mengikuti perkembangan di dalamnya, misi diemban pendidikan

tidak larut dalam penagruh lingkungan sekitarnya. Pendidikan dalam hal ini

tidak diharapkan hanya menjadi buih karena gelombang perkembangan

8

zaman berdasarakan nilai-nilai di idealkan, pendidikan akan selalu

berupaya menjalani kehidupan.

Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, bukanlah taken for

granted tetapi jauh sebelumnya telah mengalami suatu proses yang

panjang yakni belajar, pendidikan dan pengalaman tersendiri

berdasarkan zamannya. Mereka mungkin tidak sekolah secara formal di

sekolah, tetapi mereka belajar dari pengalaman. Proses belajar dan

pendidikan yang dialami mereka dalam zaman yang berbeda tersebut

telah menjadikan manusia mampu memenuhi kebutuhan, menjalani

kehidupan hingga memasuki zaman peradaban seperti sekarang ini.6

2. Kebudayaan

Kebudayaan yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk

mengolah dan mengubah alam. Dengan demikian dapat di simpulkan

bahwa kebudayaaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek

kehidupan manusia baik material maupun non-material. Sebagian besar

ahli yang mengartikan kebudayaan seperti ini kemungkinan besar sangat

di pengaruhi oleh pandangan evolusionisme, yaitu suatu teori yang

menyatakan bahwa kebudayaan itu akan berkembang dari tahapan yang

sederhana menuju tahapan yang lebih konpleks.

Kebudayaan yang diciptakan manusia dalam kelompok dan wilayah

yang berbeda-beda menghasilkan keragaman kebudayaan. Tiap

persekutuan hidup manusian (masyarakat, suku, atau bangsa) memiliki

kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan kelompok lain.

Kebudayaan yang dimiliki sekelompok manusia membentuk ciri dan

menjadi pembeda dengan kelompok lain. Dengan demikian, kebudayaan

merupakan identitas dari persekutuan hidup manusia.

Dalam rangka memenuhi hidupnya manusia akan berinteraksi dengan

manusia lain, masyarakat berhubungan dengan masyarakat lain, demikian

pula terjadi hubungan antar persekutuan hidup manusia dari waktu ke

waktu dan terus berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Kebudayaan

6 Abdullah, Op.Cit, hlm.59

9

yang ada ikut pula mengalami dinamika seiring dengan dinamika

pergaulan hidup manusia sebagai pemilik kebudayaan. Berkaitan dengan

hal tersebut kita mengenal adanya pewarisan kebudayaan, perubahan

kebudayaan, dan penyebaran kebudayaan.

Bahwa dalam rangka pemenuhan hidupnya manusia akan berinteraksi

dengan sesama, masyarakat dengan masyarakat lain yang terjadi

antar persekutuan hidup manusia sepanjang hidup manusia. Berkaitan

dengan hal tersebut kita mengenal adanya tentang kebudayaan yaitu :

a. Pewaris kebudayaan yaitu proses pemindahan, penerusan,

pemilikan dan pemakaian dari generasi ke generasi;

b. Perubahan kebudayaan yaitu perubahan yang terjadi karena

ketidaksesuaian diantara unsur-unsur budaya;

c. Penyebaran kebudayaan atau difusi adalah proses menyebarnya

unsur-unsur kebudayaa dari suatu kelompok ke kelompok yang

lain atau dari masyarakat ke masyarakat yang lain.

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari unsur-unsur

besar maupun kecil yang merupakan bagiann dari suatu kebulatan yang

bersifat sebagai kesatuan, misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat

dijumpai unsure besar seperti umpamanya majelis permusyawaratan

rakyat, disamping adanya unsur-unsur kecil seperti sisir, kancing, baju,

peniti, baju, dan lain-lainnya yang dijual pinggir jalan.

Menurut Melville J, Herskovits mengajukan empat unsur pokok

kebudayaan yaitu :

a. Alat-alat teknologi,

b. Sistem ekonomi,

c. Keluarga, dan

d. Kekuasaan politik.7

Keaneka ragaman masyarakat yang ada dan perubahan perubahan

kebudayaan menimbulkan fenomena baru didalam masyarakat. Keaneka

ragaman merupakan suatu keadaan yang dapat mendatangkan fenomena

7 Soejarno Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Kharisma

Putra Utama, 2012), hlm.153

10

baru baik itu fenomena positif maupun fenomena negatif. Namun jika

kedua-duanya kita telusuri dan kita kaji lebih jauh, maka hal tersebut

merupakan suatu gejala-gejala wajar yang terjadi dimasyrakat. Keaneka

ragaman dan perubahan kebudayaan dapat mendorong terjadinya konflik,

inergasi, disinteragasi dan reintentegrasi.8

3. Pendidikan Sebagai Pengubah

Pendidikan berfungsi untuk menyampaikan, meneruskan mentransmisi

kebudayaan, diantara nilai-nilai nenek moyang kepada generasi muda. Dalam

fungsi ini sekolah itu Konservatif dan berusaha mempertahankan status quo

demi kestabilan politik, kesatuan dan persatuan bangsa. Disamping itu sekolah

juga turut mendidik generasi muda agar hidup dan menyesuaikan diri dengan

perubahan-perubahan yang cepat akibat perkembangan ilmu pengentahuan

dan teknologi.

Dalam hal ini sekolah mempunyai fungusi agent of change lembaga

pengubah. Sekolah mempunyai fungsi transformative artinya sekolah harus

dapat mengikuti perkembangan agar bangsa jangan ketinggalan dalam

kemampuan dan pengetahuan di banding dengan bangsa-bangsa lain. Untuk

itulah kurikulum harus senantiasa mengalami perubahan atau pembaharuan.

Dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sekolah memegang peranan

penting sebagai agent of change untuk membawa perubahan-perubahan

social.9

Akan tetapi masih dalam norma-norma social seperti struktur keluarga,

agama, filsafat bangsa. Sekolah cenderung untuk mempertahankan sistem

lama dan dengan demikian mencegah terjadinya perubahan yang dapat

mengancam keutuhan bangsa. Perubahan social adalah proses diamana

terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu sistem social. Setiap masyarakat

senantiasa berada dalam proses social.

Dengan perubahan social juga merupakan gejala yang melekat pada

masyarakat yang dapat diketahui dengan membandingkan keadaan

8 Binti Maunah, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta : Kalimedia, 2016), hlm.112

9 S.Nasution, Op.Cit, hlm.22

11

masyarakat pada waktu dengan keadaan masyarakat pada masa lampau. Laju

kecepatan perubahan social tidak selalu sama antara satu masyarakat dengan

masyarakat lainnya. Misalnya antara masyarakat desa dengan masyarakat

kota. Demikian juga antara masyarakat yang terisolasi dengan masyarakat

terbuka mempunyai hubungan social dengan masyarakat lain.

Masyarakakt terisolasi mempunyai laju perubahan yang sangat lambat,

sehingga sering disebut masyarakat statis. Disebut masyarakat statis tentu saja

bukan berarti tidak mengalami perubahan sama sekali, tetapi perubahan yang

terjadi berlangsung dengan lambatnya sehingga hamper tidak menunjukkan

gejala perubahan. Sedangkan masyarakat yang terbuka hubungannya dengan

masyarakat luas mengalami perubahan yang berlangsung cepat, sering kali

disebut masyarakat dinamis, perubahan social yang terjadi dalam masyarakat

menimbulkan ketidak sesuaian anatara unsure social yang ada dalam

masyarakat.10

Dengan kata lain perubsahan social mengubah struktur dan fungsi dari

unsur-unsur social dalam masyarakat. Dengan demikian perubahan social

dalam masyarakat mengandung pengertian ketidak sesuain diaatara unsure-

unsur social yang saling berbeda dalam masyarakat sehingga menghasilkan

suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang

bersangkutan.

Struktur social merupakan bentuk jalinan diantara unsur-unsur social yang

pokok dalam masyarakat yang menunjukan pada bentuk seluruh jaringan

hubungan antar individu dalam masyarakat diamana terjalin interaksi dan

komunikasi social. Seddangkan sistim social menunjukan pada bagaimana

hubungan antara unsur-unsur social dalam masyarakat sehingga membentuk

suatu kebulatan yang berfungsi.

Perubahan social dapat dikatan bahwa perubahan pada segi structural

masyarakat seperti pola-pola perilaku dan pola interaksi antar anggota

masyarakat, perubahan pada segi cultural masyarakat seperti nilai-nilai, sikap-

sikap, serta norma-norma social masyarakat, perubahan di berbagai tingkat

10

Abdullah, Op.Cit. hlm.208

12

masyarakat dunia perubahan yang dapat menimbulkan ketidak seimbangan

dalam suatu sistim masyarakat11.

Dilihat dari bentuknya perubahan social dapat dibedakan ke dalam

beberapa bentuk, baik perubahan lambat dan perubahan cepat.

a. Perubahan memerlukan waktu yang lama dan rentetan perubahan kecil

yang saling mengikuti dengan lambat yang dianamakan evolusi. Pada

evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak

tertentu. Perubahan tersebut terjadi karena usaha masyarakat untuk

menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan dan kondisi baru yang

timbul sejalan dengan pertumbuhann masyarakat. Rentetan berbagai

perubahan tersebut tidak perlu sejalan dengan rentetan kejadian didalam

sejarah masyarakat yang bersangkutan.

b. Perubahan kecil dan perubahan besar. Sedikit sulit untuk merumuskan

masing-masing. Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada

unsure-unsur struktur social yang tidak membawa pengaruh langsung atau

berarti bagi masyarakat. Perubahan metode pakaian. Misalnya tak akan

pengaruhh apa-apa bagi masyarakat dalam keseluruhannya.

c. Perubahan yang dikehendak atau perubahan yang direncanakan dan

perubahan yang tidak dkehendaki. Perubahan yang dikehendaki

merupakan perubahan yang diperkirakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak

yang menghendaki perubahan yang dianamakan agent of change yaitu

seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan

masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga masyarakat.

Kemudian perubahan yang tidak direncanakan merupakan perubahan

yang terjadi tanpa dikehendaki berlangsung dliuar jangkaun pengawasan

masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat social yang

tidak diharapkan masyarakat.12

11

Ibid, hlm.209 12

Ibid, hlm.210

13

4. Pendidikan dan Pembaharuan Masyarakat

Para pendidik yang menaruh kepercayaan yang besar sekali akan

kekuasaan pendidikan dalam membentuk masyarakat baru. Karena itu setiap

anak diharapkan memasuki sekolah dan dapat diberikan ide-ide baru tentang

masyarakat yang lebih indah daripada yang sudah-sudah. Sekolah dapat

merekonstruksi atau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru.

Pihak yang berkuasa disuatu Negara pada umumnya menggunakan

sekolah untuk mempertahankan dasar-dasar masyarakat yang ada, perubahan

yang asasi tak akan terjadi tanpa persetujuan pihak yang berkuasa dan

masyarakat. Tak dapat diharapkan bahwa guru-guru lah yang akan mengambil

inisiatif untuk mengadakan reformasi, oleh sebab guru sendiri diangkat oleh

pihak yang berkuasa dan telah menerima norma-norma yang di persyaratkan

oleh atasannya.

Perubahan yang dapat diadakan hanya kecil-kecilan saja dibawah

pimpinan yang berwenang. Sekolah tak dapat melepaskan diri dari masyarakat

tempat ia berada dan dari control pihak berkuasa. Sekolah hanya dapat

mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat dan tak mungkin

memelopori atau mendahuluinya. Jadi tidak ada harapan sekolah dapat

membangun masyarakat baru lepas dari proses perubahan social yang

berlangsung dalam masyarakat tersebut.

Dalam dunia yang dinamis ini tak dapat setiap masyarakat akan

mengalami perubahan. Tidak turut berubah dan mengikuti pertukaran zaman

akan membahayakan eksistensi masyarakat itu. Tiap pemerintahan akan

mengadakan perubahan yang diinginkan demi kesejahteraan rakyatnya dan

keselamatan bangsa dan negaranya. Dalam pada itu diusahakan adanya

keseimbangan anatara dinamika dengan stabilitas. Perubahan-perubahan itu

antara lain tercermin dalam perubahan dan pembaruan kurikulum dan system

pendidikan. Peralihan dari zaman colonial ke zaman kemerdekaan memerlukan

berbagai perubahan kurikulum sampai sesuai dengan filsafat bangsa.

14

5. Pengertian Pendidikan dan Stratifikasi Sosial

a. Pengertian pendidikan

Menurut Langeveld pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh,

perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada

pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap

melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Sedangkan menurut UU No.

2 Tahun 1989, pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan

peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan

bagi peranannya dimasa yang akan datang. Dari pengertian tersebut dapat

disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif untuk mengembangkan potensi dirinya agar memiliki

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya dan masyarakat.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan pula bahwa

pendidikan mempunyai fungsi atau kegunaan. Menurut Horton dan Hunt

pendidikan mempunyai dua fungsi yakni fungsi manifest dan fungsi laten.

Sebagai fungsi manifest, pendidikan dapat membantu seseorang untuk

dapat mencari nafkah. Melalui pendidikan seseorang akan mempunyai

keterampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dan dari keterampilan

itulah, ia akan mampu untuk mencari nafkah. Sebagai fungsi laten,

pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk memperpanjang masa ketidak

dewasaan, mengurangi pengendalian orangtua,dan sebagainya.

Pendidikan adalah suatu lembaga yang bertujuan untuk

mengembangkan potensi setiap peserta didiknya, sehingga bisa dikatakan

bahwa melalui pendidikan lah seseorang bisa memperlihatkan dan

mengembangkan kemampuannya yang kemudian akan diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari di masyarakat.13

13

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiati, Ilmu Pendidikan, (Jakrta : PT. Bhineka Cipta, 2007), hlm.68

http://id.wikipedia.org/wiki/Belajarhttp://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaranhttp://id.wikipedia.org/wiki/Peserta_didikhttp://id.wikipedia.org/wiki/Peserta_didikhttp://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat

15

b. Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial merupakan sebuah pengelompokan masyarakat

untuk membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang

lainnya. Didalam masyarakat dasar-dasar pembentukan stratifikasi sosial

dilihat dari empat hal.

1) Dilihat dari ukuran kekayaan. Kekayaan (materi atau kebendaan)

dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam

lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan

paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem

pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak mempunyai

kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan

tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-

benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun

kebiasaannya dalam berbelanja.

2) Dilihat dari ukuran kekuasaan dan wewenang. Dalam hal ini jika

seseorang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar maka,

ia akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial

dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak

lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam

masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak

kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat

mendatangkan kekayaan.

3) Dilihat dari ukuran kehormatan. Disini ukuran kehormatan dapat

terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang

yang disegani atau di hormati akan menempati lapisan atas dari

sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat

terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat

menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat,

para orang tua atau pun orang-orang yang berprilaku dan berbudi

luhur.

http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakathttp://id.wikipedia.org/wiki/Kayahttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Masyarakat_tradisional&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat

16

4) Dilihat dari ukuran ilmu pengetahuan.Ukuran ilmu pengetahuan sering

dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu

pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan

akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial

masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini

biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau

profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur,

doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun

sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang

disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya,

sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak

benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan

membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.14

c. Pengolongan Sosial

Dalam tiap masyarakat orang menggolongkan masing-masing dalam

berbagai kategori, dari lapisan yang paling atas sampai yang paling bawah.

Dengan demikian terjadilah stratifikasi sosial. Ada masyarakat yang

mempunyai stratifikasi sosialyang sangat ketat. Seorang lahir dalam

golngan tertentu dan ia tidak mungkin meningkatkan kegolongan yang

lebih tinggi. Keanggotaanya dalam suatu kategori merupakan faktor utama

yang menentukan tinggi pendidikan yang dapat ditempuhnya, jabatan yang

dapat didukinya, orang yang dapat dikawininya, dan sebagainya. Golongan

yang ketat serupa ini biasanya diebut kasta.

Biasanya pebggolongan sosial tidak seketat itu akan tetapi fleksibel

dengan batas-batas yang agak kabur dan senantiasa dapat mengalami

perubahan. Dalam masyarakat yang demikian anak seorang jenderal dapat

bekerja sebagai penyanyi di night club dan kawin dengan putri keturunan

bangsawan zaman dulu.15

14

Soerjono Soekanto dan Budi Sulistyowati, Sosiologi Suatu Pengatar, (Jakarta : Rajawali Pers,

2014), hlm.195 15

Ibid, hlm.197

17

d. Cara-cara Menentukan Golongan Sosial

Konsep tentang penggolongan sosial bergantung pada cara seorang

menentukan golongan sosial itu. Adanya golongan sosial timbul karena

adanya perbedaan status dikalangan anggota masyarakat. Untuk

menentukan stratifikasi sosial dapat diikuti tiga metode, yaitu :

1) Metode obyektif, yaitu stratifikasi yang ditentukan berdasarkan kriteria

obyektif antara lain : jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan,

jenis pekerjaan. Menurut suatu penelitian di Amerika Serikat pada

tahun 1954, bahwa dokter menempati kedudukan yang sangat tinggi

sama dengan gubernur Negara bagian. Juga professor tinggi

kedudukannya sama dengan ilmuwan, anggota kongres, Dewan

Perwakilan Rakyat. Guru sekolah menduduki tempat yang lebih

rendah dari kapten tentara, pemain orkes atau kontraktor, akan tetapi

lebih tinggi dari penyiar radio, masinis, polisi. Yang paling rendah

kedudukannya adalah tukang semir sepatu.

2) Metode Subyektif, yaitu dimana dengan menggunakan metode ini

kelompok/golongan social dirumuskan berdasarkan pandangan

menurut anggota masyarakat menilai dirinya dalam hierarki kedudukan

dalam masyarakat itu. Kepada mereka diajukan pertanyaan : menurut

pendapat saudara termasuk golongan manakah saudara dinegara ini,

golongan atas, golongan menengah, atau golongan rendah?.

3) Metode reputasi, metode ini dikembangkan oleh W. Lloyd Warner cs.

Dalam metode ini golongan social dirumuskan menurut bagaimana

anggota masyarakat menempatkan masing-masing stratifikasi

masyarakat itu. Kesulitan penggolongan objektif dan subyektif ialah

bahwa penggolongan itu sering tidak sesuai dengan tanggapan orang

dalam lingkungan sehari-hari yang nyata tentang golongan social

masing-masing. Oleh sebab itu W.L Warner mengikuti suatu cara yang

realistis yakni memberi kesempatan kepada orang dalam masyarakat

itu sendiri untuk menentukan golongan-golongan mana yang terdapat

18

pada masyarakat itu lalu mengidentifikasi anggota masing-masing

golongan itu.16

e. Jenis-Jenis Strattifikasi Sosial

Didalam bukunya, Saripudin menyebutkan bahwa macam-macam

stratifikasi sosial terdiri dari beberapa kelompok, antara lain:

1) Stratifikasi pada masyarakat pertanian, dalam masyarakat ini sistem

stratifikasi dilihat dari kepemilikan tanah.

2) Stratifikasi sosial pada masyarakat feodal, seperti yang kita ketahui

feodalisme merupakan sistem sosial politik yang memberikan

kekuasaan yang besar pada golongan bangsawan. Hampir sama

dengan stratifikasi pada masyarakat pertanian, pada masyarakat

feodal stratifikasi sosial dilihat dari kepemilikan tanah yang terdiri dari

dua kelas utama yakni para bangsawan (tuan tanah) dan buruh.

3) Stratifikasi sosial pada masyarakat industri, pada masyarakat ini

sistem pelapisan sosial lebih bersifat terbuka dimana seseorang

memiliki kesempatan untuk melakukan mobilitas.17

Selain itu, didalam bukunya Saripudin juga menjelaskan bahwa

stratifikasi sosial mempunyi beberapa tipe antara lain:

1) Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota

masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial

yang lebih tinggi atau lebih rendah. Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu

seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah

biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang

biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat/ bangsawan

darah biru.

16

S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Bandung ; 1983), hlm.26 17

Soerjono, Op.Cit, hlm.200

19

2) Stratifikasi Sosial Terbuka

Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap

anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata/tingkatan

yang satu ketingkatan yang lain. Misalnya seperti tingkat pendidikan,

kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Seseorang yang tadinya

miskin dan bodoh bisa merubah penampilan serta strata sosialnya menjadi

lebih tinggi karena berupaya sekuat tenaga untuk mengubah diri menjadi

lebih baik dengan sekolah, kuliah, kursus dan menguasai banyak

keterampilan.

3) Stratifikasi Sosial Campuran

Stratifikasi sosial campuran adalah gabungan dari stratifikasi sistem

terbuka dan stratifikasi sistem tertutup dimana masyarakat tersebut dapat

untuk pindah kelapisan lebih atas, namun di sisi lain dapat melakukan

mobilitas vertical dengan status sama. Contohnya dapat kita temukan pada

masyarakat Bali. Misalnya seseorang yang berkasta Brahmana

mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke

Jakarta menjadi buruh, maka ia akan memperoleh kedudukan rendah,

maka ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di

Jakarta.18

f. Penyebab Terjadinya Stratifikasi Sosial

Kehidupan manusia tidak lepas dari adanya lapisan dalam masyarakat

atau yang sering disebut dengan stratifikasi sosial. Keadaan masyarakat

yang majemuk memungkinkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam

masyarakat karena faktor-faktor tertentu. Sistem lapisan sosial dalam

masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya atau sengaja disusun untuk

mengejar tujuan bersama.

Menurut Soekanto alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang

terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian

keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta

18

Ibid, hlm.203

20

dalam batas-batas tertentu. Pelapisan sosial ini terjadi karena adanya

perkembangan dan perubahan dalam masyarakat tersebut. Hal ini dapat

dilihat pada masyarakat Batak dimana marga tanah, yaitu marga pertama-

tama membuka tanah dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi.

Demikian pula dengan golongan pembuka tanah kalangan orang Jawa di

Desa dianggap sebagai pembuka tanah dan pendiri desa yang

bersangkutan.19

Soekanto mengatakan untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan

masyarakat dapat berpedoman pada hal-hal berikut, yaitu:

1) Sistem lapisan mungkin berpokok pada sistem bertentangan dalam

masyarakat. Sistem demikian hanya mempunyai arti yang khusus bagi

masyarakat-masyarakat tertentu yang menjadi objek penelitian.

2) Sistem lapisan dapat dianalisis dalam ruang lingkup unsur-unsur

antara lain :

a) Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti penghasilan,

b) Kekayaan,

c) Keselamatan, dan

d) Wewenang;

Sistem pertentangan yang diciptakan para warga masyarakat; kriteria

sistem pertentangan, yaitu :

a) Apakah di dapat berdasarkan kualitas pribadi,

b) Keanggotaan kelompok kerabat tertentu,

c) Milik, wewenang atau kekuasaan;

d) Lambang-lambang kedudukan seperti tingkah laku hidup, cara

berpakaian, perumahan, dan keanggotaan pada suatu organisasi;

mudah atau sukar bertukar kedudukan; solidaritas diantara

individu-individu atau kelompok-kelompok yang menduduki

kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.

19

Ary H Gunawan, Sosiologi Pendidikan (Susatu Analisis Sosiologi Tentang Berbagai Problem Pendidikan), (Jakarta : Rineka Cipta, 2010), hlm.32

21

Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan

bagian sistem sosial setiap masyarakat. Walaupun secara teoritis seluruh

manusia dapat dianggap sederajat. Namun tidak demikian, sesuai dengan

kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial manusia dalam masyarakat

terbentuk lapisan-lapisan dengan manusia lainnya sebagai suatu makhluk

sosial.

Beberapa hal yang menyebabkan munculnya stratifikasi sosial menurut

Saripudin antara lain:

1) Munculnya lapisan sosial dalam masyarakat didasarkan pada adanya

pertentangan dan pembedaan.

2) Tidak adanya keseimbangan dalam pembagian atau distribusi hak dan

kewajiban, hak-hak istimewa (penghasilan, kekayaan, ilmu) dimiliki

oleh hanya segelintir orang atau kelompok tertentu.

3) Kelompok-kelompok yang memiliki hak-hak istimewa tersebut

biasanya menggunakan lambang-lambang yang menjadi symbol

kedudukan, lambang tersebut baik berupa pakaian, tingkah laku,

rumah, dan keanggotaan pada suatu organisasi.20

g. Pengaruh Stratifikasi Sosial

Dalam kehidupan bermasyarakat, stratifikasi sosial sangatlah

berpengaruh. Stratifikasi sosial (Pelapisan sosial) sudah mulai dikenal

sejak manusia menjalin kehidupan bersama. Terbentuknya pelapisan

sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan antara satu

dengan yang lain secara teratur dan tersusun, baik secara perorangan

maupun kelompok.

Pada masyarakat yang taraf kebudayaannya masih sederhana, maka

pelapisan yang terbentuk masih sedikit dan terbatas, sedangkan

masyarakat modern memiliki pelapisan sosial yang kompleks dan tajam

perbedaannya. Stratifikasi sosial akan selalu di temukan dalam masyarakat

selama di dalam masyarakat tersebut terdapat sesuatu yang dihargai.

Mungkin berupa uang atau benda-benda bernilai ekonomis, atau tanah,

20

Ibid, hal.33

22

kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan agama, atau keturunan keluarga

terhormat. Seseorang yang banyak memiliki sesuatu yang dihargai akan

dianggap sebagai orang yang menduduki pelapisan atas.

Sebaliknya mereka yang hanya sedikit memiliki atau bahkan sama

sekali tidak memiliki sesuatu yang dihargai tersebut, mereka akan

dianggap oleh masyarakat sebagai orang-orang yang menempati

pelapisan bawah atau berkedudukan rendah. Stratifikasi sosial akan

membedakan warga masyarakat menurut kekuasaan dan pemilikan materi.

Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan

kekayaan, atau kedua-duanya. Dengan begitu, pendapatan, kekayaan,

dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam beberapa

stratifikasi atau kelas ekonomi.21

Dalam stratifikasi sosial terdapat tiga kelas sosial, yaitu: Masyarakat

yang terdiri dari kelas atas (upper class), Masyarakat yang terdiri kelas

menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class). Orang-orang

yang berada pada kelas bawah (lower) biasanya lebih banyak dari pada di

kelas menengah apalagi pada kelas atas. Semakin keatas semakin sedikit

jumlah orang yang berada pada posisi kelas atas.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam kehidupan

masyarakat terdapat kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang

dalam pelapisan sosial dilihat dari ukuran kekayaan, kekuasaan,

kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan yang dimiliki.dilihat dari ukuran

itu, dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial dapat mempengaruhi

kehidupan masyarakat, seperti adanya perbedaan gaya hidup dan

perlakuan dari masyarakat terhadap orang-orang yang menduduki

pelapisan tertentu.

Stratifikasi sosial juga menyebabkan adanya perbedaan sikap dari

orang-orang yang berada dalam strata sosial tertentu berdasarkan

kekuasaan, privilese dan prestise. Dalam lingkungan masyarakat dapat

terlihat perbedaan antara individu, atau satu keluarga lain, yang

dapatdidasarkan pada ukuran kekayaan yang dimiliki. Yang kaya

21

Ibid, hlm.35

23

ditempatkan pada lapisan atas dan miskin pada lapisan bawah. Atau

mereka yang berpendidikan tinggi berada dilapisan atas sedangkan yang

tidak sekolah pada lapisan bawah. Dari perbedaan lapisan sosial ini terlihat

adanya kesenjangan sosial. Hal ini tentu merupakan masalah sosial dalam

masyarakat.22

h. Golongan Sosial Sebagai Lingkungan Sosial

Golongan sosial menentukan lingkungan seseorang. Pengetahuan,

kebutuhan dan tujuan, sikap, watak seseorang sangat dipengaruhi oleh

lingkungan sosialnya. Sistem golongan sosial menimbulkan batas-batas

dan rintangan ekonomi, kultural dan sosial yang mencegah pergaulan

dengan golongan-golongan lain. Golongan sosial membatasi dan

menentukan lingkungan belajar anak. Orang yang termasuk golongan

sosial yang sama cenderung bertempat tinggal di daerah tertentu. Misalkan

orang golongan atas akan tinggal di daerah elite karena anggota golongan

rendah tidak mampu tinggal di sana. Orang akan mencari pergaulan

dikalangan yang dianggap sama golongan sosialnya.Namun demikian ada

kemungkinan terjadi perpindahan sosial.23

i. Tingkat Pendidikan

Dalam berbagai studi, disebutkan tingkat pendidikan tertinggi yang

didapatkan seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya.

Menurut penelitian memang terdapat korelasi yang tinggi antara

kedudukan sosial yang seseorang dengan tingkat pendidikanyang telah

ditempuhnya,meski demikian pendidikan yang tinggi tidak dengan

sendirinya menjamin kedudukan sosial yang tinggi.

Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lainterjadi

karena anak dari golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan

pelajarannya sampai perguruan tinggi. Sementara orang yang termasuk

golongan atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan sampai

22

Ibid, hal.37 23

S.Nasution, Op.Cit, hlm.30

24

perguruan tinggi.Orang yang berkedudukan tinggi, bergelar akademis,

yang mempunyai penapatan besar tinggal dirumah elite dan merasa

termasuk golongan atas akan mengusahakan anknya masuk universitas

dan memperoleh gelar akademis. Sebaliknya anak yang orangtuanya buta

huruf mencari nafkahnya dengan mengumpulkan puntung rokok, tinggal

digubuk kecil, tak dapat diharapkan akan mengusahakan anaknya

menikmati perguruan tinggi. Ada 3 faktor yang mempengaruhi tingkat

pendidikan seorang anak, Yaitu: Pendapatan orangtua, Kurangnya

perhatian akan pendidikan dikalangan orangtua dan Kurangnya minat si

anak untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.24

24

Ibid, hlm.31

25

GOLONGAN SOSIAL DAN

JENIS PENDIDIKAN

26

GOLONGAN SOSIAL DAN JENIS PENDIDIKAN

1. Pemahaman Golongan Sosial

Golongan sosial tidak hanya berpengaruh terhadap tingginya jenjang

pendidikan anak tetapi juga berpengaruh terhadap jenis pendidikan yang

dipilih. Tidak semua orangtua mampu membiayai studi anaknya diperguruan

tinggi. Pada umumnya anak-anak yang orangtuanya mampu, akan memilih

sekolah menengah umum sebagai persiapan untuk belajar di perguruan

tinggi.Sementara orangtua yang mengetahui batas kemampuan keuangannya

akan cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya, dengan pertimbangan

setelah lulus dari kejuruan bisa langsung bekerja sesuai dengan keahliannya.

Dapat diduga sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai murid dari

glongan rendah daripada yang berasal dari golongan atas.

Karena itu sekolah menengah dipandang lebih tinggi statusnya daripada

sekolah kejuruan.Demikian pula dengan mata pelajaran atau bidang studi yang

berkaitan dengan perguruan tinggi dipandang mempunyai status yang lebih

tinggi , misal matematika, fisika dipandang lebih tinggi dari pada tata buku.

Sikap demikian bukan hanya terdapat dikalangan siswa tetapi juga dikalangan

orangtua dan guru yang dengan sengaja atau tidak sengaja menyampaikan

sikap itu kepada anak-anaknya.25

2. Bakat dan Golongan Sosial

Berdasarkan penelitian tentang angka-angka murid menunjukkan bahwa

angka-angka yang tinggi lebih banyak ditemukan pada murid dari golongan

sosial yang tinggi. Kegagalan dalam pelajaran lebih banyak terdapat

dikalangan murid dari golongan rendah. Walaupun dalam tes intelegensi

ternyata kelebihan IQ anak-anak golongan atas, namun tak semua kegagalan

dan angka - angka rendah yang kebanyakan dari anak golongan rendah dapat

dijelaskan dengan IQ. Ini menandakan bahwa Iq mengandung unsur pengaruh

lingkungan.Atas pengaruh lingkungan IQ dapat berubah. Lingkungan yang baik

dapat meningkatkan IQ.

25

Ibid, hlm.31

27

Pada umumnya ada perbedaan bakat atau pembawaan diantara ank-anak

dari berbagai golongan sosial. Disamping itu terdapat pula perbedaan pula

perbedaan minat mereka terhadap kurikulum yang berlaku dan motivasi untuk

mencapai angka yang tertinggi. Guru-guru dapat memperhatikan bahwa

banyak anak dari golongan rendah mempunyai perhatian yang kurang terhadap

pelajaran akademis meskipun mempunyai IQ yang tinggi.

Anak-anak dari golongan rendah biasanya turut mencari nafkah keluarga

sehingga mengurangi minat belajar. Selain itu ada kemungkinan perbedan

partisipasi anak-anak dari berbagai golongan sosial dalam berbagai kegiatan

ekstra kurikuler yang memerlukan waktu dan biaya, seperti kegiatan olahraga,

kemping, musik, seni lukis, kepramukaan dan sebagainya, kecuali bila

diharuskan bagi semua siswa.26

3. Sosiomentri

Dalam KBBI, Sosiometri adalah : teknik penelitian yang umumnya

bertujuan untuk meneliti hubungan sosial psikologis antara individu di dalam

suatu kelompok. Biasanya metode ini dilakukan sbb. Kepada anak-anak

diminta menulis nama satu orang dengan siapa dia duduk sebangku, dapat

juga kita minta nama dua orang menurut prioritas anak itu bahkan ditambah

dengan nama ank yang tidak disukai.

Selain teman sebangku, juga bisa diganti dengan teman menonton,

teman belajar, teman bermain dll. Dari nama-nama yang ditulis dapat diolah

menjadi sosiogram yang menunjukkan gambar diagram hubungan sosial dalam

kelas. Anak yang paling dipilih diberi julukan "bintang", anak yang tidak dipilih

oleh siapa pun disebut "isolate". Selain itu bakal muncul dua orang yang saling

memilih disebut "pair/pasangan",kemudian tiga orang yang saling memilih

disebut "triangle/segitiga" dan di temukan juga satu kelompok yang erat

hubungan anggotanya disebut " klik/ clique ".27

26

Veithzal Rivai dan Sylvyana Murni, Education Management (Analisis Teori dan Praktik),

(Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hlm.168 27

S.Nasution, Op.Cit, hlm.34

28

4. Mobilitas Sosial

Dalam tiap masyarakat modern terdapat mobilitas sosial atau

perpindahan golongan yang cukup banyak. Perpindahan orang dari

golongan sosial yang lain, yang lebih tinggi atau lebih rendah disebut

mobilitas sosial vertical. Mobilitas sosial ini berarti bahwa individu itu

memasuki lingkungan sosial yang berbeda dengan sebelumnya.

Ada faktor penghambat mobilitas seperti agama,kesukuan, jenis

kelamin dan sebagainya. Kenaikan golongan sosial dapat diselidiki

dengan: Meneliti riwayat pekerjaan seseorang dan Membandingkan

kedudukan sosial indifidu dengan kedudukan orang tuanya, jadi tidak ada

negara yang sepenuhnya terbuka atau tertutup bagi mobilitas sosial,

kerena dalam masyarakat terbuka orang lebih mudah naik kegolongan

sosial yang lebih tinggi. boleh dikatakan bahwa, status sosial seseorang

bergantung pada usaha dan kemauannya untuk meningkatkan golongan

sosialnya.

Sedangkan dalam masyarakat tertutup kenaikan sosial mengalami

banyak kesulitan, diantaranya ada yang tidak dapat diatasi oleh individu

itu sendiri, karena ditentukan oleh keturunan. Walaupun dalam

masyarakat terbuka setiap orang mencapai tingkat sosial yang paling

tinggi yaitu, terdapat banyak mobilitas, yang naik lebih banyak dari pada

yang turun, namun kenaikan itu terbatas dinegara maju. Faktor lain yang

memperluas.

Pada umumnya kenaikan status sosial dianggap bai, karena

membuktikan keberhasilan usaha seseorang. Namun, ada mensyinyalir

aspek negatif, yakni bagi individu timbulnya rasa ketegangan,

keangkuhan dengan memamerkan kekayaan, keguncangan kehidupan,

keluarga dengan bertambahnya perceraian atau eretakan keluarga.

selain itu, moblitas sosial dapat memeperlemah solidaritas kelompok

karena, mereka yang beralih golongan sosial akan menerima norma-

norma baru dari golongan yang dimasukinya dengan meninggalkan

norma-norma golongan sosial semula.28

28

Ibid, hlm.35

29

5. Jenis-Jenis Mobilitas Sosial

a. Mobilitas Sosial Horizontal.

Diartikan sebagai suatu peralihan status sosial seseorang atau

sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama. Dengan kata lain

mobilitas horisontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek

sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya

yang sederajat. Contoh: Pak Jarwo seorang warga negara Amerika

Serikat, mengganti kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan

Indonesia, dalam hal ini mobilitas sosial Pak Amir disebut dengan

Mobilitas sosial horizontal karena gerak sosial yang dilakukan Pak Amir

tidak merubah status sosialnya.

b. Mobilitas Sosial Vertikal.

Diartikan sebagai suatu peralihan status sosial yang dialami seseorang

atau sekelompok orang pada lapisan sosial yang berbeda. Terbagi

menjadi dua yaitu mobilitas vertical ke atas (Sosial Climbing) dan

mobilitas vertikal ke bawah (Social sinking).

c. Saluran Mobilitas Sosial Vertikal

Menurut Pitirim A. Sorokin, mobilitas sosial vertikal memiliki saluran-

saluran dalam masyarakat. Proses mobilitas sosial vertikal ini

disebut social circulation.

Berikut ini saluran-saluran terpenting dari mobilitas sosial.

1) Angkatan Bersenjata

2) Lembaga-Lembaga Keagamaan,

3) Lembaga-Lembaga Pendidikan,

4) Organisasi Politik,

5) Organisasi Ekonomi,

6) Organisasi Keahlian

30

d. Mobilitas Sosial Antargenerasi

Mobilitas sosial antargenerasi ditandai oleh perkembangan atau

peningkatan taraf hidup dalam suatu garis keturunan. Mobilitas seperti

ini bukan menunjuk pada perkembangan keturunan itu sendiri,

melainkan kenaikan kedudukan (status sosial) dari satu generasi ke

generasi berikutnya. Dengan kata lain, mobilitas sosial antargenerasi

yaitu perpindahan kedudukan seseorang/anggota masyarakat yang

terjadi antara dua generasi atau lebih. Contoh: generasi orang tua (ayah

ibu) dengan generasi anak.29

29

Ibid, hlm.36

31

PENDIDIKAN DAN MOBILITAS SOSIAL

32

Pendidikan dan Mobilitas Sosial

1. Pengertian Mobilitas Sosial

Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk lebih baik

didalam masyarakat. Makin tinggi pendidikan diperoleh, makin

besar untuk mencapai tujuan itu. dengan demkian, terbuka kesempatan

untuk meningkat kegolongan sosial yang lebih tinggi. oleh

karena itu dikatakan bahwa pendidikan merupakan jalan bagi

mobilitas sosial. dengan memperluas dan merata pendidikan, diharapkan

dicairkannya batas-batas golongan-golongan sosial. dengan

demikian, perbedaan golongan sosial akan di kurangi jika tidak dapt

dihapus seluruhnya. Mengenai mobilitas sosial terdapat dua pengertian :

a. Suatu sektor dalam masyarakat secara keseluruhan berubah

kedudukannya terhadap sektor lain. Misalnya buruh industri

yang dahulu mempunyai kedudukan yang rendah mendapat

posisi yang baik setelah mendapat gaji yang lebih tinggi,

kekuasaan politik yang lebih besar dan sebagainya.

b. Tentang mobilitas sosial ialah kemungkinan bagi individu untuk

pindah dari lapisan satu untuk pindah kelapisan yang satu lagi.

Pendidikan membuka kemungkinan adanya mobilitas sosial.

Pendidikan secara merata memberikan persamaan dasar

pendidikan dan mengurangi perbedaan antara golongan tinggi

dan rendah. walaupun terdapat mobilitas sosial secara sektoral,

banyak pula golongan randah yang tetap dianggap rendah.

Namun, kedudukan golongan rendah tidak statis, akan tetapi

dapat terus bergerak maju bila diberi pendidikan yang lebih

banyak.30

2. Mobilitas sosial melalui pendidikan

Banyak contoh-contoh yang dapat kita liat disekitar kita, tentang

orang yang meningkat dalam status sosialnya berkat pendidikan yang

diperolehnya. salah satu contohnya yaitu pada jaman dahulu orang yang

30

Ibid, hlm.38

33

menyelesaikan pelajarannya pada HIS yaitu SD pada jaman belanda,

mempunyai harapan menjadi pegawai dan mendapatkan kedudukan

sosial yang terhormat. Apa lagi kalau ia lulus MULO, AMS, atau

Perguruan tinggi, maka makin besarlah kesempatannya untuk

mendapatkan kedudukan yang baik. dengan demikian, masuk golongan

sosial menengah atas. kini pendidikan SD bahkan SMA hampir tidak ada

pengaruhnya dalam mobilitas sosial.

Karena, kini pendidikan tinggi dianggap suatu syarat bagi mobilitas

sosal.di samping ijazah perguruan tinggi, ada lagi faktor-faktor lain

membawa seseorang kepada kedudukan tinggi dalam pemerintahan

atau dunia usaha. Dapat kita pahami bahwa, anak-anak golongan rendah

lebih suka mendapat kedudukan sebagai pimpinan perusahaan dibanding

anak pemimpin perusahaan itu sendiri. hubungan pribadi, rekomendasi

dari orang yang berkuasa disamping ijazah dan prestasi turut berperan,

untuk mendapatkan posisi yang tinggi. Mobilitas sosial bagi individu agak

kompleks karena adanya macam-macam faktor yang membantu

sesorang meningkat dalam jenjang sosial. Misalnya, sekolah sebagai

jalan bagi mobilitas sosial.31

3. Tingkat sekolah dan mobilitas sosial

Diduga bahwa bertambah tingginya taraf pendidikan. Makin besarnya

kemungkinan mobilitas bagi anak-anak golongan rendah dan menengah.

ternyata ini tidak selalu benar, bila pendidikan itu hanya terbatas pada

pendidikan tingkat menengah. jadi, walaupun kewajiban belajar

ditingkatkan sampai SMA , masih menjadi pertanyaan, apakah mobilitas

sosial akan meningkat. Mungkin sekali tidak akan terjadi perluasan

mobilitas sosial. Akan tetapi, pendidikan tinggi masih dapat mamberikan

mobilitas itu. walaupun dengan bertambahnya lulusan perguruan tinggi,

makin berkurang ijazah untuk meningkat dalam status sosial.32

31

Ibid, hlm.39 32

Ibid, hlm.40

34

PENDIDIKAN MENURUT PERBEDAAN SOSIAL

35

Pendidikan menurut perbedaan sosial

1. Pendidikan menurut perbedaan sosial

Pada umumnya dinegara demokrasi, orang sukar menerima, adanya

golongan-golongan sosial dalam masyarakat. Menurut Undang-Undang semua

warga negara sama, dalam kenyataannya tak dapat disangkal adanya

perbedaan sosial itu, yang tampak dari sikap rakyat biasa terhadap pembesar,

orang miskin terhadap orang kaya, pembantu terhadap majikan, dan lain-lain.

Perbedaan itu nyata dalam symbol-simbol status seperti mobil mewah, rumah

mentereng, perabot luks, dll. suka atau tidak suka perbedaan sosial terdapat

disepanjang masa, walaupun sering perbedaan tidak selalu

mencolok.Pendidikan bertujuan untuk membekali setiap anak agar masing-

masing dapat maju dalam hidupnya mencapai tingkat setinggi-tingginya. Akan

tetapi sekolah sendiri tidak mampu meniadakan, batas-batas tingkat sosial itu.

Pendidikan selalu merupakan bagian dari sistem sosial. namun, segera timbul

keberatan terhadap pendirian yang demikian. karena dianggap bertentangan

dengan prinsip demokrasi dengan mengadakan driskriminasi dalam

pendidikan. Cara demikian akan memperkuat penggolongn sosial dan

menghambat mobilitas sosial yang diharapkan dari pendidikan. Darapan ini

tidak mudah diwujudkan karena banyak daya-daya lain diluar sekolah yang

menibulkan, stratifikasi sosial yang jauh lebih kuat daripada pendidikan formal.

Pada saat ini sekolah-sekolah meneruskan cita-cita untuk menebarluaskan

ideal dan norma-norma kesamaan dan mobilitas secara verbal. Disamping

adanya daya-daya stratifikasi yang berlangsung terus dalam masyarakat. ini

berarti bahwa usaha untuk mengajarkan kesamaan dan mobilitas akan

menghadapi kesulitan dalam dunia nyata. mobilitas sosial adalah perluasan

dan peningkatan pendidikan untuk memenuhi tenaga kerja bagi pembangunan

yang kian meningkat, khususnya pendidikan tinggi.33

33

Ibid, hlm.41

36

2. Pendidikan dan Hubungan Antar Kelompok

a. Prasangka dalam Hubungan Antar Kelompok

Bermacam-macam teori yang telah dikemukakan bahwa prasangka

adalah sebagai sesuatu yang wajar yang sendirinya timbul bila terjadi

hubungan antara dua kelompok yang berlainan. Sikap bermusuhan yang

ditujukan terhadap suatu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa

kelompol tersebut mempunyai ciri yang tidak menyenangkan . sikap ini

dinamakan prasangka, sebab dugaan yang dianut orang yang tidak

didasarkan pada pengetahuan, pengalaman ataupun bukti yang cukup

memadai. Manusia sadar akan kesamaan dalam kalangannya sendiri dan

merasa solider dengan kelompok itu.34

1) Prasangka sebagai sesuatu yang dipelajari.

Teori ini memandang prasangka sebagai hasil proses belajar

seperti halnya dengan sikap-sikap lain yang terdapat pada

manusia. Sikap senang atau tidak senang terhadap golongan lain

adalah hasil pengalaman pribadi yang berlangsung lama atau

berdasarkan pengalaman yang traumatis.35

2) Prasangka sebagai alat mencapai tujuan praktis.

3) Golongan yang dominan ingin menyingkirkan golongan minoritas

dari dunia persaingan. Sikap itu terdapat dikalangan penjajah

terhadap bangsa yang dijajah agar dapat dieksploitasinya. Untuk

membenarkan diri mereka mencari alasan penindasan itu dengan

jalan rasionalisasi.

4) Prasangka sebagai aspek pribadi.

Menurut penelitian Murphy dan Likert ada dua orang yang

mempunyai pribadi yang berprasangka. Orang yang pribadinya

berprasangka menaruh prasangka terhadap berbagai hal. Maka

kepribadian merupakan suatu faktor penting bila kita ingin

memahami hakikat dan perkembangan prasangka.36

34

S. Nasution, SosiologiPendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hlm.47 35

Ibid, hlm.49 36

Ibid, hlm.142

37

Dalam berbagai faktor yang dapat menimbulkan prasangka dapat

diambil kesimpulan bahwa untuk memahami prasangka harus kita gunakan

pendekatan yang multi dimensional. Prasangka dalam hubungan antar-

kelompok perlu kita ketahui bahwa prasangka bukanlah suatu instink yang

dibawa lahir, melainkan sesuatu yang dipelajari. Karena prasangka itu

dipelajari, maka prasangka itu dapat diubah atau dikurangi bahkan dapat

dicegah timbulnya.37

Melalui dimensi sikap kita dapat mengamati sikap suatu kelompok

terhadap anggota lain,dan sebaliknya.

b. Dimensi Hubungan Antar Kelompok

Hubungan antar kelompok mempunyai berbagai dimensi. Dimensi yang

dijabarkan adalah dimensi sejarah, dimensi sikap, dimensi institusi, dimensi

gerakan sosial,dan dimensi tipe utama hubungan antar kelompok.penjabaran

tentang dimensi diatas sebagai berikut:

1) Dimensi Sejarah Dimensi ini mengarahkan kajian kepada masalah tumbuh dan

berkembangnya hubungan antarkelompok. Kapan dan bagaimana

terjadinya kontak pertama antara kelompok satu dengan kelompok yang

lain yang kemudian berkembang menjadi hubungan dominasi kelompok

terseut terhadap kelompok lainnya. Menurut Noel (1968), stratifikasi etnik

dapat terjadi dengan tiga prasyarat: etnosentrisme, persaingan, dan

perbedaan kekuasaan.

Tiga prasyarat ini tidak bisa dipisahkan karena apabila satu prasyarat

saja tidak terpenuhi, stratifikasi tidak akan terjadi. Kemudian stratifikasi

jenis kelamin juga memilik sejarahnya. Stratifikasi ini pada awalnya terjadi

karena perbedaan kekuatan fisik yang akhirnya memunculkan dominasi

dan eksploitasi kau laki-laki terhadap perempuan. (Kamanto Sunarto,

2004: 147-148).

37

Ibid, hlm.148

38

2) Dimensi institusi Institusi berfungsi sebagai pengendalian sosial, sikap dan hubungan

antarkelompok. Namun begitu, institusi juga bisa menghilangkan pola

hubungan tersebut. Contohnya adalah kebijakan apartheid yang

dicanangkan di Afrika Selatan pada masa lampau, merupakan kebijakan

yang ditegakkan oleh institusi politik dan ekonomi.

3) Dimensi gerakan sosial Kajian dalam sudut pandang ini memperhatikan berbagai gerakan

sosial yang sering terjadi karena dilakukan oleh suatu kelompok tertentu

karena pengaruh dominasi dan kekuasaan. Kelompok-kelompok tertentu

yang di dominasi oleh kelompok lain akan berusaha melakukan gerakan

pembebasan. Sebagai contoh adalah gerakan Black Panthers di Amerika

Serikat dan gerakan pembebasan perempuan (Womans Liberation

Movement).

4) Dimensi sikap Hubungan antarkelompok akan menimbulkan perwujudan sikap

berupa prasangka (prejudice). Sikap ini merupakan istilah yang mengacu

kepada sikap bermusuhan karena kelompok lain memiliki suatu ciri yang

tidak menyenangkan, namun dugaan ini tidak di dasarkan pada

pengetahuan, pengalaman, atau bukti yang cukup konkret.

c. Konsep Pembagian Kelompok

Setiap kelompok dapat dibagi-bagi berdasarkan perbedaan dan

persamaan ciri. Dalam membagi kelompok-kelompok tersebut, terdapat

beberapa konsep mengenai kelompok-kelompok yang mempunyai definisi

berbeda.

39

1. Konsep yang pertama adalah konsep ras. Konsep ras diartikan

sebagai suatu tanda peran (role sign) yang di dasarkan pada ciri

fisik.38

2. Konsep yang kedua adalah konsep yang didasari oleh persamaan

kebudayaan, yaitu kelompok etnik. Dalam konsep ini, kelompok etnik

merupakan suatu bentuk Gemeinschaft dengan persamaan warisan

kebudayaan dan ikatan batin di antara anggotanya.

3. Konsep ketiga adalah rasisme, yaitu suatu ideologi yang didasarkan

kepada keyakinan bahwa ciri tertentu yang dibawa sejak lahir

menandakan bahwa pemilik ciri tersebut lebih rendah sehingga

didiskriminasi.

4. Konsep keempat yang juga merupakan ideologi adalah seksisme.

Dalam seksisme, hal yang menjadi dasar klasifikasi adalah

kecerdasan dan kekuatan fisik. Contohnya laki-laki dianggap lebih

tinggi daripada perempuan karena fisiknya kuat.

5. Konsep berikutnya adalah ageisme, yang menjadikan faktor usia

sebagai dasar klasifikasi.

6. Konsep yang terakhir adalah rasialisme. Rasialisme merupakan

bentuk praktik disktriminasi terhadap kelompok lain, seperti tidak

menjual atau menyewakan rumah kepada ras atau etnik tertentu.

d. Pendidikan Umum dan Hubungan Antar Kelompok

Menurut penelitian, makin tinggi pendidikan seseorang makin kurang

prasangkanya terhadap golongan lain, makin toleran sikapnya terhadap

golongan minoritas. Mereka yang berpendidikan universitas ternyata

menunjukkan sikap yang paling toleran. Namun ada tidaknya prasangka tidak

semata-mata ditentukan oleh pendidikan saja. Pendidikan dapat merupakan

faktor yang menentukan kedudukan, rasa harga diri dan rasa ketentraman

hidup.

38

Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004), hlm.50

40

STRUKTUR HUBUNGAN ANTAR

KELOMPOK DI SEKOLAH

41

Struktur Hubungan Antar Kelompok di Sekolah

1. Struktur Hubungan Antar Kelompok di Sekolah

Salah satu aspek yang biasa terlupakan oleh sekolah adalah memupuk

hubungan sosial di kalangan murid-murid. Biasanya sekolah terlalu fokus pada

peningkatan kualitas akademik saja. Program pendidkan antar murid, antar

golongan ini bergantung pada sruktur sosial murid-murid. Ada tidaknya

golongan minoritas di kalangan mereka mempengaruhi hubungan kelompok-

kelompok itu. Kebanyakan negara mempunyai penduduk yang multi rasial,

menganut agama yang berbedabeda, dan mengikuti adat kebiasaan yang

berlainan. Perbedaan golongan dapat juga disebabkan oleh perbedaan

kedudukan sosial dan ekonomi.

Murid-murid di sekolah sering menunjukkan perbedaan asal kesukuan,

agama, adat istiadat, dan kedudukan sosial. Berdasarkan perbedaan-

perbedaan itu mungkin timbul golongan minoritas di kalangan murid-murid,

yang tersembunyi ataupun yang nyata-nyata.

Menurut penulis, kelompok dalam sekolah dapat dikategorikan

berdasarkan.

1) Status sosial orang tua murid

Status sosial orang tua sangat mempengaruhi pergaulan siswa

tersebut. Tidak dapat dipungkiri, seorang siswa yang merupakan anak

pejabat akan cenderung bergaul dengan teman yang se-level. Hal ini dapat

terjadi di dalam maupun di hingga pergaulan di luar sekolah. Anak pejabat

enggan bergaul dengan anak buruh. Jikalau ada jumahnyapun sangat

sedikit.39 Kesamaan hobi mendorong timbulnya rasa kebersamaan

diantara mereka. Anakanak yang suka olahraga sepak bola cenderung

intensif bergaul dengan teman se klub mereka. Biasanya di sekolah

terdapat beberapa jenis kegiatan ekstra kurikuler seperti KIR (Kelompok

Ilmiah Remaja), Rohis, kelompok seni, pramuka, PMR, dan keolahragaan.

Masing-masing membentuk ikatan emosianal diantara anggotanya.

39

S.Nasution, Op.Cit, hlm.146

42

2) Intelektualitas

Ada juga peluang terjadi kelompok-kelompok berdasarkan tingkatan

intelektualitas mereka, meskipun in tidak dominan. Orang pintar karena

biasanya suka membaca lebih sering berada di pepustakaan daripada di

kantin. Kehidupan mereka di sekolah benar-benar padat dengan kegiatan

akademis.

3) Jenjang kelas

Perbedaan jenjang kelas ini merupakan faktor dominan yang sering

terjadi di sekolah. Biasanya anak kelas tiga yang merasa lebih tua sering

berbuat sesuka hati kepada adik kelasnya. Anak-anak kelas satu karena

takut dengan seniornya lebih nyaman bergaul dengan teman-teman satu

tingkatnya. Hal ini menyebabkan pergaulan mereka menjadi terkotak-kotak

dan kurang harmonis.

4) Agama

Ada peluang terbentuknya kelompok karena persamaan agama.

Kegiatan perayaan dan peribadatan agama yang mereka anut sering

mempertemukan mereka dalam kebersamaan dan kepemilikan. Namun

demikian ini bukanlah faktor dominan di kalangan anak sekolahan.40

Kesamaan asal daerah juga memberikan peluang bagi terbentuknya

kelompok di sekolah, namun bukan juga merupakan faktor dominan. Hal ini

disebabkan karena sebagian besar siswa di skolah tersebut berasal dari

daerah yang sama. Berbeda dengan kehidupan kampus yang nuansa

kedaerahannya sangat kental, di sekolah biasanya murid cenderung lebih

menaruh minat pada mood dan hobi ketimbang regionalitas.

2. Pendidikan dalam Mengatasi Masalah

Dalam sebuah sekolah, tentunya sering atau pernah terjadi

kesalahpahaman antara orang-orang di dalamnya. Hal itu bisa saja terjadi

antara murid kelas yang satu dengan kelas yang lainnya. Siswa dari daerah

40

Ibid, hlm.149

43

yang satu dengan yang lainnya, banyak motif yang dapat memicu hal ini,

terlebih lagi jika ada golongan minoritas. Ada beberapa upaya yang dapat

dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatasi masalah yang muncul dalam

hubungan antar kelompok. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Pemberian informasi, diskusi kelompok, hubungan pribadi, dan

sebagainya. Guru dapat memberikan informasi tentang hakikat dan

perbedaan rasial dan kultural dengan menekankan bahwa perbedaan-

perbedaan di kalangan manusia bukanlah disebabkan oelh

pembawaan biologis, melainkan karena dipelajari dari lingkungan

kebudayaan masing-masing. Informasi semacam ini juga dapat

diperoleh dalam pelajaran biologi dan ilmu-ilmu sosial.

2) Memberikan informasi tentang sumbangan minoritas kepada

kelompok. Guru dapat menceritakan bagaimana setiap kelompok itu

sangat berpengaruh terhadap kelompok lainnya. Orang arab, yahudi,

dan india meberikan sumbangan yang berarti bagi seuruh masyarakat

dunia. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil

yang berusaha meraih kemerdekaan di tanah air ini, sumbangan

mereka merupakan salah satu sebab merdekanya Indonesia.

3) Menanamkan nilai-nilai toleransi antar siswa. Nilai toleransi ini sangat

penting. Jika mereka mempunyai sikap toleran maka mereka dapat

mempengaruhi sikap murid-murid lain ke arah toleransi yang lebih

besar. Guru dapat memobilisasi tenaga-tenaga ini untuk memupuk

sikap yang sehat dikalangan murid-murid.

4) Membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan hubungan

atau pergaulan antara murid-murid dari berbagai golongan.Jika

mereka dapat saling berkunjung dan menghadiri kegiatan atau

upacara dalam keluarga masing-masing, maka diharapkan lahirnya

saling pengertian yang lebih mendalam dan toleransi yang lebih besar.

44

5) Menggunakan teknik bermain peranan atau sosiodrama.

Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dapat dimainkan dalam kelas

dalam bentuk sosiodrama dengan menyuruh golongan mayoritas

memainkan peranan golongan minoritas. Tujuannya adalah agar lebih

memahami perasaan golongan minoritaa dan dapat mengidentifikasi

diri dengan keadaan mereka.

6) Menggalakkan kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler bisa melibatkan banyak orang dengan

berbagai latar belakang murid yang berbeda. Keseringan komunikasi

dan kerjasama diantara mereka menumbuhkan kebersamaan yang

mendalam. Hal ini dapat menceah sekaligus meredam masalah-

masalah seputar gap antara kelompok sosial.

45

EFEKTIFITAS PENDIDIKAN

46

Efektifitas Pendidikan

1. Efektifitas Pendidikan

Usaha-usaha perbaikan hubungan antar keolmpok didasarkan atas

anggapan atauasumsitertentu;

a. Prasangka disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.

b. Pengalaman di sekolah dapat mengubah kelakuannya di luar sekolah

dan situasi-situasi lain.

c. Hubungan pribadi dengan anggota kelompok lain akan mengurangi

prasangka.

Sekolah merupakan lembaga yang efektif untuk mengurangi prasangka

tidak dapat didukung dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Efektifitas program

khusus tentang hubungan antar kelompok tidak mudah di nilai. Kebanyakan

program itu corak pemberian informasi yang kemudian diuji dengan tes tertulis.

Perlu kita sadari bahwa sekolah hanya salah satu dari sejumlah daya-daya

sosial yang mempengaruhi hubungan antar-golongan. Sekolah tak mampu

mengubah masyarakat. Untuk menghilangkan prasangka terhadap golongan

lain, seluruh masyarakat harus turut serta termasuk pemerintah dan guru-guru

harus menjadi model pribadi yang toleran dalam ucapan maupun

perbuatannya.9

2. Dasar-dasar bagi Pendidikan Antar Golongan

Program-program tentang hubungan antar-golongan dapat dilakukan

menurut pola pelajaran yakni dengan menyampaikan informasi seperti

pelajaran sejarah, geografi, dan lain lain. Prasangka dapat pula menjadi aspek

kebudayaan yang diperoleh melalui proses sosialisasi, melalui situasi yang

dihadapi anak dalam hidupnya. Sekolah dapat memberikan pelajaran agar

anak tidak berprasangka, namun apakah akan terjadi transfer ke dalam situasi-

situasi lain di luar sekolah menjadi pertanyaan, karena kelakuannya akan

bertentangan dengan yang lazim dilihatnya dalam masyarakat.

47

3. Masyarakat dan Kebudayaan Sekolah

Masyarakat adalah makhluk sosial. Ia hidup dalam hubungannya dengan

orang lain dan hidupnya bergantung kepada orang lain. Karena itu masyarakat

tak mungkin hidup layak diluar masyarakat.41 Masyarakat terdiri dari

sekelompok manusia yang menempati daerah tertentu, menunjukkkan integrasi

berdasarkan pengalaman bersama berupa kebudayaan,memiliki sejumlah

lembaga yang melayani kepentingan bersama,mempunyai kesadaran akan

kesatuan tempat tinggal dan dapat bertindak bersama.

Tiap masyarakat mempunyai sesuatu yang khas, yang memberi suatu

kekhasan dalam masyarakat adalah hubungan sosialnya. Hubungan sosial ini

anatara lain dipengaruhi oleh besarnya masarakat itu. Dimasyarakat kecil

orang saling berkenalan seperti dalam suatu keluarga hubungan sosial bersifat

primer. Dalam masyarakat yang luas seperti dikota terdapat kebanyakan

hubungan sekunder. Norma-norma sosial dalam kedua macam masyarakat itu

berbeda.

Disamping itu masyarakat mempunyai perbedaan lain seperti kota industri

berbeda dengan daerah perkampungan nelayan, daerah pertambangan

berbeda dengan kampung pertanian, daerah pemukiman berbeda dengan kota

universitas dan sebagainya. Fungsi kota atau masyarakat turut menentukan

sistem sosialnya. Untuk memahami suatu masyarakat hal-hal yang perlu

diselidiki ialah sistem nilai dan struktur kekuasaan.42

Menurut Mac Iver dan Jp.Gillin terbentuknya masyarakat karena individu-

individu selalu bergaul dan berinteraksi mempunyai nilai dan norma yang

merupakan kebutuhan hidup bersama sehingga individu tersebut membentuk

kesatuan sosial yang disebut masyarakat. Sedangkan menurut John Locke

masyarakat terbentuk karena pada dasarnya manusia mengadakan interaksi

antara satu dan lainnya, sehingga terbentuk solidaritas dan kesamaan

pandangan seperti latar belakang sejarah,kebudayaan,norma dan adat istiadat.

41

S.Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 2010), hlm.150 42

Ibid, hlm.151

48

Dari uraian diatas dapat disimpulkan ciri-ciri masyarakat sebagai berikut :

1) Merupakan sekelompok orang yang menempati suatu wilayah tertentu.

2) Berinteraksi secara terus-menerus baik langsung maupun tidak

langsung.

3) Saling berhubungan dalam usaha-usaha pemenuhan kebutuhan.

4) Terikat dalam satu-satuan sosial yang mempunyai latar belakang

perasaan sosial,kebudayaan dan politik. 43

43

Sugiharyanto, Geografi dan Sosiologi, (Bogor : Quadra, 2007), hlm.135

49

KEBUDAYAAN SEKOLAH

50

Kebudayaan Sekolah

1. Kebudayaan Sekolah

Kebudayaan (culture) adalah produk dari seluruh rangkaian proses sosial

yang dijalankan oleh manusia dalam masyarakat dengan segala aktifitasnya.

Dengan demikian, maka kebudayaan adalah hasil nyata dari sebuah proses

sosial yang dijalankan oleh manusia bersama masyarakatnya. Dalam kamus

lengkap bahasa Indonesia,kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan

akal budi manusia.

Kebudayaan (cultuur dalam bahasa Belanda), (culture dalam bahasa

Inggris), berasal dari bahasa latin colere yang berarti mengolah, mengerjakan,

menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani.

Dari segi arti ini maka berkembanglah arti culture yang berarti segala daya

dan aktivitas manusia untuk mengubah alam Sedangkan dari sudut bahasa

Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta buddhayah, yaitu

bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal karena itu dibedakan

antara pengertian budaya dengan kebudayaan. Budaya adalah aspek lahiriah

manusia dari berupa cipta, rasa dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah

hasil dari cipta rasa dan karsa manusia.44

Unsur-unsur kebudayaan dibagi menjadi sebagai berikut:

a. Ide, gagasan manusia yang dilontarkan menjadi manusia sebagai olah

fikirnya.

b. Aktifitas, segala kegiatan yang dihasilkan manusia dalam

bermasyarakat.

c. Artefak, sebagai barang-barang hasil budi daya manusia seperti,

perkakas,senjata dan lain sebagainya.

Sedangkan unsur universal kebudayaan menurut C.Cluckhon ada tujuh,

dinamakan unsur universal karena selalu dapat dijumpai di setiap kebudayaan

yaitu :

a. Sistem pencaharian hidup

b. Sistem peralatan dan tekhnologi

44

Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, 1991, hal.58

51

c. Sistem organisasi kemasyarakatan

d. Sistem pengetahuan

e. Bahasa

f. Kesenian

g. Sistem religi dan upacara keagamaan 45

2. Kebudayaan Sekolah

Kebudayaan sekolah ialah hasil cipta karya yg dihasilkan oleh manusia

melaui proses belajar mengajar dalam pendidikan sekolah.Sekolah adalah

pusat pendidikan belajar mengajar, dikatakan termasuk dalam kriteria sekolah

harus memenuhi unsur, yaitu yg diajar disebut pelajar, yg mengajar disebut

pengajar atau guru dan sistem yg harus dilaksanakan dalam kegiatan sekolah

tersebut.

Sistem pendidikan mengembangkan pola kelakuan tertentu sesuai dengan

apa yang diharapkan oleh masyarakat dan murid-murid. Kehidupan disekolah

serta norma-norma yang berlaku disekolah disebut kebudayaan sekolah.

Timbulnya kebudayaan sekolah juga terjadi oleh sebab sebagian besar waktu

murid terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam situasi ini berkembang

pola kelakuan yang khas yang tampak dari pakaian, bahasa,k ebiasaan

kegiatan - kegiatan serta upacara - upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan

sekoalah ialah tugas sekolah yang khas yaitu mendidik anak dengan

menyampaikan sejumlah pengetahuan, sikap, keterampilan yang sesuai

dengan kurikulum, metode, tekhnik kontrol tertentu yang berlaku disekolah.

Berikut ini ciri-ciri yang khas dalam kebudayaan yang ada sekolah yaitu:

a. Kenaikan Kelas

Belajar dengan rajin agar naik kelas merupakan patokan yang

mempengaruhi kehidupan anak selama bersekolah. Untuk itu ia harus

menguasai bahan pelajaran yang ditentukan oleh kurikulum yang sering

di olah dalam bentuk buku pelajaran,diktat atau kitab catatan. Dengan

tes atau ulangan guru menilai kemampuan anak, angka dari guru

45

Burhan Bungin, Sosiologi komunikasi, (Jakarta : Kencana,2006), hlm.54

52

sangat penting bagi murid. Hak guru memberi angaka atau nilai

memberinya kekuasaan yang disegani oleh murid. Angka rapor menjadi

dasar bagi kenaikan kelas. Mereka yang naik kelas memasuki fase baru

,makin tinggi tingkat kelas makin banyak yang diharapkan misalnya

kelakuan yang lebih matang. Oleh sebab itu kenaikan kelas sangatlah

penting, maka murid-murid biasanya belajar untuk memperoleh angka

yang baik disamping pentingnya ilmu itu sendiri.46

b. Upacara-Upacara

Peristiwa yang biasanya dilakukan dengan upacara ialah

penerimaan murid baru. Misalnya suatu sekolah menerima siswa atau

mahasiswa baru dengan upacara perpeloncoan yang mengandung

unsur-unsur yang tidak bertanggung jawab bahkan cenderung sadisme.

Maka tak heran kegiatan ini sering dilarang karena pada masa

perkenalan ini sering banyak yang menyimpang dari tujuannya yakni

memperkenalkan sekUolah sebagai lembaga pendidikan kepada siswa-

siswa baru. Sedanngkan kegiatan atau upacara yang menggembirakan

ialah upacara wisudah melepaskan siswa hyang telah lulus, yang

kemudian akan melanjutkan pelajaran pada lembaga pendidikan yang

lebih tinggi atau mengadu nasibnya dalam dunia pekerjaan.

c. Upacara Bendera

Ada sekolah yang memulai sekolah dengan lebih dahulu

mengumpulkan murid untuk melakukan upacara tertentu dengan acara

yang berbeda-beda menurut sekolahnya. Sekolah swasta beragama

mungkin memulai sekolah dengan doa, pengumuman dari kepala

sekolah. Ada pula yang memulai dengan senam pagi atau dengan

kegiatan lainnya. Upacara ini mempunyai fungsi kontrol, juga

menanamkan rasa identifikasi anak dengan sekolahnya dan semangat

persatuan serta rasa turut betanggung jawab atas nama baik

sekolahnya. Upacara yang diwajibkan disetiap sekolah di negara kita

46

Ibid, hlm.65

53

ialah upacara bendera pada hari senin setiap minggu, setiap tanggal 17

agustus. Upacara ini bertujuan untuk menanamkan rasa kebangsaan.

Dalam menghimpun murid-murid untuk suatu upacara tiap sekolah

dapat mengembangkan cara-cara yang khas bagi sekolah itu yang pada

akhirnya dapat menjadi tradisi disekolah itu. Upacara-upacara lain yang

terdapat disekolah ialah pergantian pengurus OSIS, penyerahan tanda

penghargaan atas kemenangan dan perlombaan. Kemenangan ini

sangat meningkatkan rasa kebangsaan atas sekolah sendiri serta

identifikasi murid dengan sekolahnya.47

3. Norma-Norma Sosial Dalam Belajar

Kegiatan belajar yang berpusat dalam ruang kelas hanya dapat berjalan

lancar karena adanya pola-pola kebudayaan sekolah yang menentukan

kelakuan yang diharapkan dari murid-murid dalam proses belajar mengajar.

Interaksi yang terus menerus antara guru dengan murid mengharuskan

masing-masing memahami norma-norma kelakuan serta isyarat-isyarat yang

melambangkan norma-norma tertentu .Disekolah murid tidak diperbolehkan

bercakap-cakap, ribut maupun berjalan mondar-mandir karena mengganggu

jalannya proses pelajaran. Dengan isyarat-isyarat tertentu guru dapat menuntut

ketentraman kelas dan meminta perhatian penuh. Disekolah modern yang

menjalankan disiplin permissive dan memberkan lebih banyak kebebasan pun

terdapat norma-norma yang harus dipahami dan ditaati oleh semua. Tanpa

disiplin kegiatan tak dapat berjalan dengan baik . Pelanggaran akan terjadi bila

isyarat-isyarat itu tidak dipahami atau tidak diterima dengan baik.48

Norma~norma sosial dalam situasi belajar yaitu aturan dalam beretika

yang dilaksanakan seseorang yang sedang belajar pada saat proses belajar

mengajar. Seorang pelajar atau siswa wajib menjunjung tinggi etika kepada

guru atau pengajar, etika kepada tata tertib sekolah dan etika kepada sesama

pelajar atau murid dan juga diterapkan secara luas seorang murid harus

memiliki moral etika kepada keluarga, lingkungan dan masyarakat secara

sesuai dengan norma~norma yang berlaku.

47

Ibid, hlm.67 48

Ibid, hlm.69

54

Maka dari itu untuk menciptakan manusia yang bermoral etika dan

berakhlak mulia, dibutuhkan pendidikan dimulai dari orang tua dan seluruh

anggota keluarga didalam kehidupan keluarga, kemudian peranan pendidik

atau guru dan pihak sekolah dilingkungan sekolah dengan menciptakan

norma~norma sosial yang baik, nyaman dan berkualitas dalam suasana

belajar.

Disini dituntut seorang guru harus memiliki keimanan dan berakhlak mulia

serta berkompetensi sesuai bidang yang di ajarkannya, prilaku pendidik harus

punya rasa kasih sayang, tegas yang terkendali dan bermental baja.

Pengendalian sosial dalam belajar adalah menciptakan sosial suasana belajar

menjadi terkendali, sehingga proses belajar mengajar menjadi baik, asyik

danterkendali. Cara pengendalian sosial dalam suasana belajar dapat

dilakukan secara persuatif dan kurasif. Persuasif yaitu pengendalian sosial

belajar yang menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing

berupa anjuran. Sedangkan kurasif yaitu pengendalian sosial dengan tindakan

ancaman.Pengendalian sosial belajar dapat bersifat prefentif dan refresif.

Preventif dilakukan sebelum terjadi pelanggaran dengan tujuan untuk

mencegah terjadinya pelanggaran dalam proses belajar mengajar, misalnya

guru memberi strategi pembelajaran agar murid aktif belajar yang baik

sehingga tidak berpikir melakukan pelanggaran.

Sedangkan refresif dilakukan setelah terjadinya pelanggaran dan dicari

solusi untuk dilaksanakan agar tidak terjadi pelanggaran kembali dalam proses

belajar mengajar. Misalnya guru dapat memberikan sanksi yang mendidik dan

bermanfaat kepada murid yang melakukan pelanggaran, sehingga murid tidak

mengulangi lagi pelanggaran yang telah diperbuatnya. Inilah pentingnya

peranan semua pihak terkait untuk menciptakan norma~norma sosial dalam

proses belajar dengan suasana yang baik dan menyenangkan.

4. Latar Belakang Guru

Dalam kelas guru merupakan daya utama yang menentukan norma-norma

di dalam kelasnya dan otoritas guru sukar dibantah. Dialah menentukan apa

yang harus dilakukan muridnya agar ia belajar. Ia menuntut agar anak-anak

55

menghadiri setiap pelajaran,berlaku jujur dalam ulangan,datang pada waktunya

ke sekolah dan melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. 49 Guru

merupakan faktor utama dan berpengaruh dalam pandangan siswa,guru

memiliki otoritas dalam bidang akademis. Oleh karena itu pengaruh guru

terhadap siswanya sanagatlah besar.

Kepribadian guru mempunyai pengaruh langsung terhadap kebiasaan-

kebiasaan belajar siswa. Sejumlah percobaan dan hasil-hasil observasi

menguatkan kenyataan bahwa banyak sekali yang dipelajari siswa dari

gurunya. Siswa akan menyerap sikap-sikap,keyakina meniru tingkah

laku,prestasi dan hasrat belajar yang terus-menerus pada diri siswa yang

bersumber dari kepribadian guru.

Karena kepribadian guru sangat berpengaruh terhadapa siswa,maka guru

perlu memiliki cirisebagai orang yang berkepribadian matang dan sehat.

Menurut AllPort dalam bukunya mengemukakan bahwa ciri-ciri yang memiliki

kepribadian matang adalah:

a. Meningkatkan kesadaran diri dan melihat sisi lebih dan kurang diri

sendiri.

b. Mampu menjalin relasi hangat dengan orang lain.

c. Memiliki kemampuan untuk megontrol emosi dan mampu menjauhi

sikap berlebihan, biasanya guru yang memiliki ciri ini mempun