skenario e blok 19 l5 fix

Download Skenario E Blok 19 L5 Fix

Post on 27-Oct-2015

244 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

fix

TRANSCRIPT

LAPORAN TUTORIAL E

BLOK 19

disusun oleh:

Kelompok V

Anggota:

Retno Anjar Sari

04111001144

Ganda Putra

04111001131

M. Tafdhil T.

04111001102

Moza Guyanto

04111001112

Johannes Lie

04111001038

Vhandy Ramadhan04111001070

Terry Mukminah Sari04111001124

Ayu Risky Fitriawan04111001018

Meylinda

04111001028

Risha Meilinda M.04111001069

Fitri Heriyati Pratiwi04111001003

Khumaisiyah

04111001094

Muhammad Syahid04111001107

Tutor: dr. Ani, Sp. M

PENDIDIKAN DOKTER UMUM

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2011KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya laporan Tutorial ini dapat terselesaikan dengan baik.

Adapun laporan ini bertujuan untuk memenuhi rasa ingin tahu akan penyelesaian dari skenario yang diberikan, sekaligus sebagai tugas tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

Tim Penyusun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan ini.

Tak ada gading yang tak retak. Tim Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik pembaca akan sangat bermanfaat bagi revisi yang senantiasa akan penyusun lakukan.

Tim Penyusun

DAFTAR ISIHALAMAN JUDULKATA PENGANTAR1DAFTAR ISI2PEMBAHASAN SKENARIO :I.SKENARIO2II.KLARIFIKASI ISTILAH2III.IDENTIFIKASI MASALAH2IV.ANALISIS MASALAH2V.HIPOTESIS2VI.LEARNING ISSUES2VII.SINTESIS2VIII.KERANGKA KONSEP2

IX.KESIMPULAN2

DAFTAR PUSTAKA1

Skenario E Blok 19 Tahun 2013Seorang anak laki-laki, usia 3 tahun, berat badan 13 kg, dibawa ke RS dengan keluhan kejang. Dari catatan dari rekam medis didapatkan penderita masih sering mengalami serangan kejang saat datang ke RS. Setelah diberikan diazepam per rektal dua kali dan intravena satu kali, kejang belum teratasi. Kejang berhenti setelah diberikan drip fenitoin. Kejang tidak didahului atau disertai demam. Pascakejang penderita masih tidak sadar.

Setelah delapan jam perawatan di rumah sakit, kesadaran penderita mulai membaik, namun masih malas bicara serta tatapan seringkali kosong.

Dari anamnesis dengan ibu penderita, sekitar dua puluh menit sebelum masuk RS penderita mengalami bangkitan di mana seluruh tubuh penderita tegang mata mendelik ke atas, kemudian dilanjutkan kelojotan seluruh tubuh. Bangkitan ini berlangsung kurang lebih lima menit. Pascakejang penderita tidak sadar. Penderita kemudian dibawa ke RS. Sekitar 10 menit setelah bangkitan pertama saat masih dalam perjalanan ke RS, bangkitan serupa berulang sampai penderita tiba di rumah sakit. Jarak antara rumah dengan RS lebih kurang 10 kilometer. Setelah mendapat obat kejang seperti yang sudah disebutkan di aras, kejang berhenti. Pascakejang penderita masih tidak sadar. Sekitar tiga jam di RS, penderita mulai sadar. Orang tua memperhatikan lengan dan tungkai sebelah kanan nampak lemah dan penderita sering tersedak.Riwayat Penyakit Sebelumnya:

Saat berusia sembilan bulan, penderita mengalami kejang dengan demam tinggi. Dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal dan penderita didiagnosis meningitis. Penderita dirawat di RS selama 15 hari.Pada usia 1 tahun penderita mengalami kejang yang tidak disertai demam sebanyak dua kali. Pada usia 18 bulan, penderita kembali mengalami kejang yang disertai demam tidak tinggi. Penderita berobat ke dokter dan diberi obat asam valproat. Setelah enam bulan berobat, orang tua menghentikan pengobatan karena penderita tidak pernah kejang. Penderita sudah bisa bicara lancar, sudah bisa memakai baju sendiri dan mengendarai sepeda roda tiga.Pemeriksaan Fisik:

Anak nampak sadar, suhu 37oC, TD: 90/45 mmHg (normal untuk usia), nbadi 100x/menit, laju nafas 30x/menit.Pemeriksaan neurologis:

Mulut penderita mengot ke sebelah kiri. Lipatan dahi masih nampak dan kedua kelopak mata dapat menutup penuh saat dipejamkan. Saat penderita diminta mengeluarkan lidah terjadi deviasi ke kanan dan disertai tremor lidah. Pergerakan lengan dan tungkai kanan Nampak terbatas dan kekuatannya lebih lemah disbanding sebelah kiri. Lengan dan tungkai kanan dapat sedikit diangkat, namun sama sekali tidak dapat melawan tahanan dari pemeriksa. Lengan dan tungkai kiri dapat melawan tahanan kuat sewajar usianya. Tonus otot dan refleks fisiologis lengan dan tungkai kanan meningkat, serta ditemukan refleks Babinski di kaki sebelah kanan.II. KLARIFIKASI MASALAH1. Kejang

: Serangan mendadak atau gangguan penyakit2. Bangkitan berulang:

3. Unconciousness

: Tidak mampu memberi espons terhadap rangsangan sensoris dan tidak dapat menikmati pengalaman subjektif

4. Meningitis

: Radang pada selaput otak atau meningen5. Diazepam

: Benzodizepin yang digunakan sebagai agen antianxietas, sedatif, agen antipanik, agen antitremor, relaksan otot rangka, antikonvulsan, dan dalam penatalaksanaan gejala akibat penghentian pemakaian alkohol.6. Kelojotan (Tonus klonus): Rangkaian kntraksi dan relaksasi otot involunter serta bergantian secara cepat.

7. Drip Fenitoin

: Antikonvulsan dan depresan jantung yang digunakan pada pengobatan semua bentuk epilepsi kecuali jenis petitmal dan sebagai anti-aritmia melalui intravena. 8. Asam Valproat

: Antikonvulsan, asam 2-propilpentanoat digunakan untuk mengontrol kejang yang tidak terlihat9. Deviasi

: Seseorang dengan sifat yang berbeda dari apa yang dianggap normal atau standar.10. Refleks Babinsky

: Dorsofleksi ibu jari kaki pada perangsangan telapak kaki yang menunjukkan terjadinya lesi yang mengenai traktus piramidalis waaupun refleks normal pada bayi.11. Tremor

: Getaran atau gigilan yang involunter12. Tonus otot

: Kontraksi otot yang ringan dan terus menerus yang pada otot rangka membantu dalam mempertahankan postur dan pengmbalian darah jantung.13. Refleks fisiologis

: Refleks yang terdapat atau muncul pada orang normal.14. Cairan serebrospinal: Cairan sejernih kristal yang menyerupai plasma darah dalam komposisi, tetapi dengan kandungan protein yang jauh lebih rendah

III. IDENTIFIKASI MASALAH1. Seorang anak laki-laki, usia 3 tahun, berat badan 13 kg, dibawa ke RS dengan keluhan kejang. Kejang tidak didahului atau disertai demam. Dari anamnesis dengan ibu penderita, sekitar dua puluh menit sebelum masuk RS penderita mengalami bangkitan di mana seluruh tubuh penderita tegang mata mendelik ke atas, kemudian dilanjutkan kelojotan seluruh tubuh. Bangkitan ini berlangsung kurang lebih lima menit. Pascakejang penderita tidak sadar. Penderita kemudian dibawa ke RS. Setelah 10 menit setelah bangkitan pertama saat masih dalam perjalanan ke RS, bangkitan serupa berulang sampai penderita tiba di rumah sakit. Jarak antara rumah dengan RS lebih kurang 10 kilometer.

2. Setelah diberikan diazepam per rektal dua kali dan intravena satu kali, kejang belum teratasi. Kejang berhenti setelah diberikan drip fenitoin. Pascakejang penderita masih tidak sadar.

3. Sekitar 3 jam di RS, penderita mulai sadar. Orang tua memperhatikan lengan dan tungkai sebelah kanan nampak lemah dan penderita sering tersedak. Setelah delapan jam perawatan di RS, kesadaran penderita mulai membaik, namun masih malas bicara serta tatapan seringkali kosong.

4. Riwayat Penyakit Sebelumnya:9 bulan : kejang demam tinggi, didiagnosis meningitis (Pemeriksaan CSP), dirawat di RS selama 15 hari

12 bulan : Kejang tidak disertai demam sebanyak 2x.

18 bulan : Kejang disertai demam tidak tinggi, diberi obat asam valproat, respons (+) -> kejang (-), setelah 6 bulan, orang tua menghentikan pengobatan karena tidak kejang lagi. Penderita bisa bicara lancar, bisa memakai baju sendiri dan mengendarai sepeda roda tiga.5. Pemeriksaan neurologis:

Mulut penderita mengot ke sebelah kiri. Lipatan dahi masih nampak dan kedua kelopak mata dapat menutup penuh saat dipejamkan. Saat penderita diminta mengeluarkan lidah terjadi deviasi ke kanan dan disertai tremor lidah. Pergerakan lengan dan tungkai kanan Nampak terbatas dan kekuatannya lebih lemah disbanding sebelah kiri. Lengan dan tungkai kanan dapat sedikit diangkat, namun sama sekali tidak dapat melawan tahanan dari pemeriksa. Lengan dan tungkai kiri dapat melawan tahanan kuat sewajar usianya. Tonus otot dan refleks fisiologis lengan dan tungkai kanan meningkat, serta ditemukan refleks Babinski di kaki sebelah kanan.

IV. ANALISIS MASALAH1. Seorang anak laki-laki, usia 3 tahun, berat badan 13 kg, dibawa ke RS dengan keluhan kejang. Kejang tidak didahului atau disertai demam. Dari anamnesis dengan ibu penderita, sekitar dua puluh menit sebelum masuk RS penderita mengalami bangkitan di mana seluruh tubuh penderita tegang mata mendelik ke atas, kemudian dilanjutkan kelojotan seluruh tubuh. Bangkitan ini berlangsung kurang lebih lima menit. Pascakejang penderita tidak sadar. Penderita kemudian dibawa ke RS. Setelah 10 menit setelah bangkitan pertama saat masih dalam perjalanan ke RS, bangkitan serupa berulang sampai penderita tiba di rumah sakit. Jarak antara rumah dengan RS lebih kurang 10 kilometer.a. Apa hubungan usia, jenis kelamin, berat badan dengan keluhan? Jawab :

Rasio jenis kelamin anak epilepsi, lelaki sedikit lebih banyak dibanding anak perempuan yaitu hal ini sesuai dengan penelitian Shorvon dkk,yang mendapatkan rasio 1,1 dan Cowan dkk.1,5 .Sebaran usia kasus yang diteliti sesuai dengan insidens epilepsi yang berubah-ubah menurut usia, yaitu insidens tertinggi pada usia anak dini, mencapai nadirnya pada usia dewasa dini, dan naik kembali pada usia tua. Bangkitan epilepsi jarang dijumpai pada usia bulan-bulan pertama, dan lebih sering antara usia