shalat = ga shalat ?

Click here to load reader

Post on 27-May-2015

960 views

Category:

Spiritual

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Shalat bisa dianggap tidak shalat jika tidak dilakukan dengan benar. Maka Kondisi syarat dan ketentuan yang seperti apa yang berlaku?

TRANSCRIPT

  • 1. shalat = ga shalat ? doddy al jambary 0816 884 844 [email protected] www.cordova.co.id 2ABED4A6 www.slideshare.net/aljambary

2. Shalat On time QS 4:103 Sesungguhnya shalat suatu kewajiban yang telah ditetapkan waktunya bagi orang yang beriman 3. Shalat Jamaah, Sunnah/Wajib? Imam Ahmad rahimahullah dan lainnya, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah berpendapat hukum shalat berjamaah lima waktu di masjid adalah WAJIB bagi laki-laki yang mukallaf. Dalil mereka berdasarkan hadits-hadits yang ada. Imam Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafii Rahimahumullah berpendapat hukumnya SUNNAH muakkadah (sangat-sangat ditekankan), tidak wajib. 4. Mendengar Adzan? Barang siapa mendengar adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali karena udzur HR Ibnu Majah 793, Ad Daru Quthni 1/421, 422, Ibnu Hibban 2064, Al Hakim 1/246 5. Udzur Syari 1. Sakit Keras 2. Bersafar 3. Hujan Deras 4. Ngantuk / tertidur 5. Terhidang Makanan 6. Buang Hajat 7. *Taklim 8. Ada Tamu 9. Skala Prioritas 6. 1. Sakit Ibrahim An-Nakhaai berkata: Para ulama tidak memberi dispensasi untuk tidak menghadiri shalat jamaah kecuali orang yang khawatir terhadap kelemahan dirinya dan orang yang sakit. (Mushannaf - Abi Syaibah 1/351) Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa udzurnya? Beliau menjawab: Rasa takut (situasi tidak aman) dan sakit. (Sunanul Kubra - Imam Al Baihaqi 1/85) 7. 1. Sakit Keras Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam jatuh sakit beliau meninggalkan shalat jamaah selama beberapa hari dan memerintahkan Abu Bakar mengimami shalat jamaah. Shahih AI- Bukhari I/176 Bab 80 Kitabul Adzaan. 8. 2. Bersafar Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, Apabila dalam perjalanan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjama shalat Zhuhur dengan Asar serta Maghrib dengan Isya. (HR. Al Bukhari:1107 dan Muslim:704) 9. Jama Sholat Imam Asy Syafii rahimahullah berkata, Boleh menjama shalat Zhuhur dan Ashr di salah satu waktu keduanya sesuai kehendaknya. Demikian pula shalat Maghrib dan Isya, baik safarnya jauh atau dekat. (Syarh Shahih Muslim 6/331) Imam Ibnu Qudamah rahimahulah berkata, Boleh menjama antara Zhuhur dan Ashr serta Maghrib dan Isya pada salah satu waktu keduanya. (Al Mugni 5/84) 10. Taqdim / Takhir Dikedepankan/Diakhirkan. Shalat Zhuhur dan Asar dijama (digabung) dikerjakan pada waktu Zhuhur atau pada waktu Ashr, keduanya boleh. Hendaklah adzan untuk satu kali shalat dan iqomah pada setiap shalat. yaitu satu kali adzan cukup untuk Zhuhur dan Ashr dan iqomah untuk setiap shalat (HR. Al Bukhari: 629). 11. Jama (Suri) Anas radhiyallahu anhu berkata, . Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam apabila berangkat sebelum matahari tergelincir maka beliau mengakhirkan shalat Zhuhur hingga Ashr kemudian menjama keduanya. Apabila beliau berangkat setelah Zhuhur maka beliau shalat Zhuhur kemudian baru berangkat. (HR. Al Bukhari:1111 dan Muslim:704) 12. Jarak Qoshor Jika kalian mengadakan perjalanan di muka bumi maka tidak mengapa atas kalian untuk mengqashar shalat jika kalian khawatir orang-orang kafir akan membahayakan kalian. (QS. An-Nisa: 101) Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: - Aku shalat zuhur bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam di Madinah 4 rakaat dan shalat di Dzul Hulaifah 2 rakaat. (HR. Al-Bukhari no. 1089 dan Muslim no. 690) Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: - Saya bersahabat dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (sebegitu lama), akan tetapi dalam safar beliau tidak pernah shalat lebih dari 2 rakaat. Demikian pula 13. Lama Waktu Qoshor Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: - : : Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Madinah menuju Makkah, maka beliau shalat 2 rakaat 2 rakaat sampai beliau pulang ke Madinah. Saya (murid Anas) bertanya. Berapa lama beliau menetap di Makkah? dia menjawab, 10 hari. (HR. Al-Bukhari no. 1081 dan Muslim no. 693) Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: - Nabi shallallahu alaihi wasallam tinggal di tepat safarnya selama 19 hari sambil mengqashar shalat. Karenanya, jika kami safar selama 19 hari kami mengqashar dan jika lebih maka kami melakukan shalat itmam. (HR. Al-Bukhari no. 1080) 14. Waktu Qoshor Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata kepada Simak bin Salamah, Jika kami berdiam di sebuah negeri selama 5 bulan, maka qasharlah shalatmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2/341) dengan sanad yang shahih. Bahkan dalam pada tempat yang sama, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Abu Al-Minhal bertanya kepada Ibnu Abbas, Saya berdiam (sebagai musafir) di Madinah selama setahun dan tidak sedang melanjutkan perjalanan? maka Ibnu Abbas menjawab, Shalatlah kamu dua rakaat. Dan pada atsar setelahnya Ibnu Abbas berkata, Shalatlah dua rakaat walaupun engkau berdiam selama 10 tahun. Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu bahwa beliau berdiam di Naisabur (sebagai musafir) selama setahun atau dua tahun sambil mengqashar shalat. Dan dari sahabat Jabir bin Zaid bahwa beliau ditanya, Saya tinggal (sebagai musafir) di negeri Tastur selama setahun atau dua tahun, dan saya sudah mirip dengan penduduk asli di situ, maka Jabir menjawab, Shalatlah dua rakaat. Semua atsar sahabat ini disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dengan sanad yang shahih. 15. Shalat di Kendaraan Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma mengatakan, Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam shalat (sunnah) di atas kendaraannya ke arah timur. Apabila beliau hendak shalat wajib maka beliau turun dari kendaraan kemudian menghadap kiblat. (HR. Al Bukhari : 1099). 16. 3. Hujan Deras Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anh bahwa dia pernah berkata kepada muadzinnya ketika hujan turun: Apabila engkau telah melafadzkan: Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah maka jangan mengatakan: Hayya alash shalaah, akan tetapi katakan: Shalluu Fii Buyuutikum (Shalatlah di rumah kalian). Lalu manusia (mendengarkannya seolah-olah) mengingkari masalah tersebut. Ibnu Abbas lalu berkata: Hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam). Sesungguhnya shalat Jumat itu adalah kewajiban dan aku tidak ingin menyuruh kalian keluar (ke Masjid) lalu kalian berjalan di atas tanah yang becek dan licin. 17. 4. Ngantuk : "Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat hendaklah ia tidur hingga hilang kantuknya, karena bila shalat dalam keadaan mengantuk ia tidak menyadari, mungkin ia bermaksud beristighfar padahal bisa jadi ia mencaci dirinya." 18. Tertidur : : . Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila seseorang di antara kalian bangun di waktu malam, lalu ia mulai membaca Al-Quran secara tidak karuan, ia tidak tahu apa yang sedang dibacanya, maka hendaklah ia tidur. (HR Muslim) Hadis sahih, diriwayatkan oleh Muslim, hadis no. 1310; Abu Daud, hadis no. 1116; Ibn Majah, hadis no. 1362; Ahmad, hadis no. 7883. 19. 5. Terhidang Makanan Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian . (HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557) [Bukhari: 15-Kitab Al Jamaah wal Imamah, 14- Bab Apabila Makanan Telah Dihidangkan dan Shalat Hendak Ditegakkan. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 17-Bab Terlarangnya Mendahulukan Shalat Sedangkan Makan Malam Telah Tersaji dan Ingin Dimakan Pada Saat Itu Juga] 20. 6. Buang Hajat Janganlah melakukan shalat pada saat hidangan makanan sudah tersedia dan jangan pula memulai shalat dalam keadaan menahan kencing dan buang air (termasuk kentut) (HR Ibnu Hibban) Aisyah ia berkata:Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Tidak boleh mengerjakan shalat saat makanan telah dihidangkan dan tidak pula saat menahan al-akhbatsain*. (HR Muslim) (*Al-Akhbatsain adalah buang air kecil dan buang air besar. Sebab hal itu akan menghalangi seseorang shalat dengan khusyuk dan sempurna. 21. 7. *Taklim Beberapa syarat: Kajian Fardhu ain (Bukan kifayah) Tidak di masjid (Majelis/Rumah) 22. 8. Terima Tamu Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. (HR. Bukhari) 23. 9. Skala Prioritas Abu Darda Radhiyallahu Anhu berkata: Termasuk kedalaman fiqih seseorang adalah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu hingga ia dapat menger-jakan shalat dengan hati yang lapang.(Hasyiyatu Raudhil Murbi II/364 dan Raudhatut Thaalibin I/346) Orang yang sedang sibuk mencari barangnya yang hilang, orang yang sedang berusaha mengembalikan barangnya yang dirampas, kegemukan yang melebihi batas kewajaran, orang yang mendapat gangguan di tengah jalan atau di masjid, orang yang takut tertimpa fitnah atas dirinya atau dirinya dapat menimbulkan fitnah atas orang lain dan sebagainya. 24. Fiqh Waqi Satpam Jumatan Penjaga Pintu Kereta Api Bidan - Partus Spesialis Bedah - Surgery Conveyor belt - Shift Pengganti Printing Factory, etc 25. Khotimah Do your best, Be the best, Allah will take care of the rest Doddy Al Jambary 0816 884 844 2ABED4A6 [email protected] slideshare.net/Aljambary www.cordova.co.id