sejarah peradaban ekonomi pada masa 3 kerajaan besar

Click here to load reader

Post on 23-Jan-2016

35 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sejarah Peradaban Ekonomi Pada Masa 3 Kerajaan Besar

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGKejatuhan khilafah Abbasiyyah yang berpusat di Baghdad oleh serangan kerajaan Mongol pada 1258 M, bisa dikatakan merupakan awal dari kemunduran peradaban Islam. Sebelum itu terjadi, Baghdad adalah pusat peradaban dunia dan pusat ilmu pengetahuan. Akibat yang ditimbulkan dari kehancuran Abbasiyyah kaum muslim terpecah ke dalam negeri-negeri kecil. Dimana satu negeri dengan negeri yang lain saling beperang. Awal pada ke 13 M, barulah keadaan peta politik dunia Islam relatif mengalami kemajuan kembali setelah berbagai chaos di negeri-negeri kaum muslim dengan munculnya tiga kekuatan besar, yaitu Utsmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Mongol. Kekhilafahan Utsmani merupakan imperium terbesar diantara tiga kerajaan lain. Menariknya, walaupun pada masa yang sama, ketiganya berada kondisi sosio-ekonomi yang berbeda, pengaruh warisan pengembangan intelektual yang berbeda bagi dunia Islam kini. Dalam makalah ini, kita akan mencoba menganalisa bagaimana peradaban dan perekonomian duniaIslam pada masa tiga kerajaan besar ini.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Kekhilafahan Utsmaniyah2.1.1. Sejarah Kekhilafahan Utsmaniyah (1299-1924)Para ahli sejarah menduga, bahwa bangsa Hittiti-lah yang pertama menempati wilayah utsmani atau Turki sekarang. Pada awal tahun Masehi, ia dinamakan Bizantium di bawah kekuasaan Romawi yang berkuasa di kawasan Ini selama lebih dari empat abad. Dari tangan Romawi kemudian orang Barbar merebutnya dan memindahkan ibukota kerajaan dari Roma ke Konstantinopel (ibu kota Turki sekarang). Pada abad ke-12 M umat Islam di bawah bimbingan dinasti Abbasiyah dengan dibawah komando Ertugral dan anaknya yang bernama Otsman, akhirnya merebut wilayah ini sekaligus dinasti Abbasiyah memercayakan dan menghadiahkan pemerintahannya kepada mereka. Pada abad ke-13 M berdirilah kekhilafahan Utsmaniyah. Dulu wilayah kekuasaan Utsmani paling luas di antara tiga kerajaan besar (Safawi, Mughal, dan Utsmaniyah saat itu), meliputi tiga benua yakni jazirah Arabia, Balkan, Hungaria hingga kawasan Afrika Utara[footnoteRef:2]. [2: Thohir, Ajid (2009). Studi Kawasan Dunia Islam. Jakarta:Rajawali Press.]

Setelah Otsman meninggal, kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah kemudian merambah sampai ke bagian Timur Mediterania dan Balkan. Setelah kekalahan di Pertempuran Plocnik, kemenangan kesultanan Utsmaniyah di Pertempuran Kosovo secara efektif mengakhiri kekuasaan Kerajaan Serbia di wilayah tersebut dan memberikan jalan bagi Kesultanan Utsmaniyah menyebarkan kekuasaannya ke Eropa. Kesultanan ini kemudian mengontrol hampir seluruh wilayah kekuasaan Bizantium terdahulu. Wilayah Kekaisaran Bizantium di Yunani luput dari kekuasaan kesultanan berkat serangan Tamerlane ke Anatolia tahun 1402, menjadikan Sultan Bayezid I sebagai tahanan. Sepeninggal Tamerlane, Mehmed II melakukan perombakan struktur kesultanan dan militer, dan menunjukkan keberhasilannya dengan menaklukkan Kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 pada usia 21 tahun. Kota tersebut menjadi ibukota baru Kesultanan Utsmaniyah. Sebelum Mehmed II terbunuh, pasukan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Korsika, Sardinia, dan Sisilia. Namun sepeninggalnya, rencana untuk menaklukkan Italia dibatalkan.[footnoteRef:3] [3: Wikipedia. Kesulthanan Utsmaniyah . [Online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Utsmaniyah [03 Oktober 2013]]

2.1.4. Perkembangan Perekonomian UtsmaniSejarah perekonomian Utsmani dibagi ke dalam dua periode. Pertama, Periode klasik yang mana berbasis kepada pertanian, khilafah Utsmani memberikan keleluasaan kepada setiap wilayah untuk mengembangkan potensi pertaniannya. Kedua, era reformasi yaitu era perbaikan pengaturan sistem pemerintahan, terdiri atas perbaikan sistem administrasi publik dan perubahan sistem politik pada masa itu dari tangan militer kepada publik, tujuannya untuk memberikan fungsi layanan publik yang lebih baik.[footnoteRef:4] [4: Ibid.]

Pada periode reformasi birokrasi dan sistem administrasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat Utsmani kepada provinsi-provinsi, kita bisa melihat itu justru menjadi salah satu sebab kehancuran utsmani (the fall of the ottoman empire). Hal ini dipertegas dengan tulisan El-Ashker [footnoteRef:5], maladministration di wilayah Syiria dan Mesir menjadi contohnya. Hal ini terjadi terlalu seringnya terjadi pergantian pasha (raja muda) di kedua wilayah ini, rata-rata masa jabatannya hanya kurang dari dua tahun. Pada periode 1517-1697 ada 133 pasha yang bergiliran memimpin Damaskus. Begitpun yang terjadi di wilayah Mesir selama kurun waktu 280 tahun Utsmani memerintah di Mesir, ada hampir 100 pasha yang memimpin kantor pemerintahan. [5: El-Ashker, Ahmed & Rodney Wilson (2006). Islamic Economics a Short History. Brill:Leiden, Boston. Hal:298]

Sumber pendapatan Utsmani banyak diperoleh dari perluasan wilayah (ekspansi militer) serta dari sektor fiskal, yaitu pajak. Pendapatan negara juga banyak mengandalkan sektor pertanian.Khilafah Utsmani belum banyak mengandalkan pendapatan negara dari industri manufaktur serta perdagangan. Berbanding terbalik dengan bangsa Eropa yang sudah mengandalkan perdagangan dan Industri sebagai sumber utama pendapatan, kaum merkantilis Eropa semakin giat mengembangkan industri mereka dan perluasan wilayah untuk menunjang industri sedangkan Utsmani wilayah kekuasaanya semakin berkurang dan pengelolaan lahan pertaniannya masih dikelola dengan cara-cara yang konservatif.[footnoteRef:6] [6: Wikipedia. Economic History of The Ottoman Empire . [online].Tersedia: en.wikipedia.org/wiki/ottoman_empire. [03 Oktober 2013]]

2.1.3. Kekuatan Ekonomi Khilafah UtsmaniSebagai sebuah negara besar pada eranya, Khilafah Utsmani mempunyai banyak potensi-potensi yang menjadi penunjang pendapatan negara dan kekuatan militernya. Semua sumber daya ekonomi terdapat di wilayah Utsmani, berikut ini adalah berbagai kekuatan ekonomi di wilayah Turki:A. DaratanDi Anatolia, Khilafah Utsmani diwarisi sebuah jalur Caravanserai dari pendahulu mereka yaitu Seluk Turks. Jalur ini menjadi semacam keuntungan bagi Utsmani, karena akan menjamin keamanan pengantaran barang dan rombongan karapan dagang dengan di sediakannya penginapan bagi para pedagang serta hewan-hewan tunggangannya di wilayah Jalur Caravanserai. Jalur Caravanserai ini berada di sepanjang wilayah Balkan.[footnoteRef:7] [7: Wikipedia. Economic History of The Ottoman Empire . [online].Tersedia: en.wikipedia.org/wiki/ottoman_empire. [03 Oktober 2013]]

B. LautDibawah Sultan Bayazid II, Utsmani mempunyai kekuatan angkatan laut yang kuat. Angkatan laut ditugaskan untuk memberangus para perompak dan melindungi kapal dagang. Secara diplomatik, dengan kekuatan angkatan militer yang kuat lebih lanjut akan menguntungkan, membuat rasa aman masyarakat di wilayah pesisir Utsmani serta kekuatan untuk terus melakukan ekspansi wilayah. Untuk mempertahankan hagemoni Utsmani di laut timur Mediterania, pengembangan akademi angkatan laut terus digalakan. Tujuannya untuk membantu dan mengawasi hubungan dagang antara khilafah Utsmani dengan Venice.Jalur perdagangan yang ada di bawah komando Utsmani ada beberapa wilayah, yaitu Aegean dan Laut Timur Mediterania (komoditas perdagangan di wilayah ini yaitu gandum), kemudian antara Laut Merah dengan Teluk Persia (komoditas perdagangan utamanya yaitu rempah-rempah), Laut Hitam dan Laut Barat Mediterania (komoditasnya yaitu gandum dan kayu).

C. PertanianKhilfah Utsmani adalah negara pertanian (agrikultur) karena mempunyai lahan yang subur. Rata-rata sumber penghasilan warganya berasal dari usaha keluarga berskala kecil di bidang pertanian dan pajak sektor pertanian ini berkontribusi 40% bagi sumber pendapatan pajak negara.Ada beberapa faktor peningkatan produktivitas sektor pertanian Utsmani, seperti perbaikan irigasi, pemberian subsidi, serta peningkatan peralatan pertanian yang modern yang dilakukan pada abad 19 M. Daerah-daerah yang menjadi sumber pertanian Utsmani yaitu daerah-daerah pegunungan, seperti di Anatolia, salah satu wilayah di provinsi Syiria.Kebijakan politik pemerintah pusat Utsmani, sekali lagi menjadi kemunduran pertanian Utsmani. Wewenang pejabat-pejabat di daerah terlalu besar, akibatnya untuk menekan pajak yang besar banyak para petani memberikan suap kepada para pejabat untuk mengatur pajak mereka.

2.1.4. Intelektual dan Ekonom Muslim Pada Periode Khilafah UtsmaniDibandingkan pranata dari berbagai aspek lain, seperti arsitektur, karya seni, dan organisasi militer, perhatian terhadap pranata ekonomi Ottoman amatlah kurang. Sehingga sulit ditemukan pemikir-pemikir besar seperti Ibnu Khaldun (1332-1404), kemudian setelahnya Al-Maqrizi (1364-1441).[footnoteRef:8] Berikut ini ada beberapa pemikir dalam masa Utsmani dengan pemikirannya memiliki pemikiran ekonomi: [8: El-Ashker, Ahmed & Rodney Wilson (2006). Islamic Economics a Short History. Brill:Leiden, Boston. Hal:288]

Hajji KhalifahBangsa Turki mengenalnya dengan Katib Chelebi. Pada tahun 1630 M, bersama Kocu Bey sekitar tahun 1653 M, menulis tentang fenomena ekonomi Utsmani dalam perdagangan internasional serta ekonomi domestik. Ahli sejarah pada masa ini lebih cenderung menghindari pembahasan tentang ekonomi. Cemal KafadarSalah seorang pemikir Utsmani yang cenderung pada pemikiran ekonomi ialah Cemal Kafadar,walaupun Kafadar tidak sehebat Ibnu Khaldun ataupun al-Marqiz yang hidup pada penghujung abad ke-16. Kafadar mengkritik kebijakan menurunkan nilai (debasement) terhadap mata uang logam yang diterapkan oleh pemerintah pusat Utsmani untuk mengatasi inflasi. Mustafa AliNama lain yang juga cukup berpengaruh dalam bidang ekonomi Utsmaniyah ialah Mustafa Ali (1541-1600 M). Ali juga mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan pusat Utsmani yang terlalu bergantung pada jumlah perputaran uang beredar dalam mengendalikan inflasi, melalui pemikiran politik, sosial dan analisis sejarah.Sedikitnya pemikir-pemikir besar pada masa U