ringkasan sirah nabawiyah

Click here to load reader

Post on 17-Jan-2017

406 views

Category:

Spiritual

19 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • RINGKASAN SIRAH NABAWIYAH

    P E N D A H U L U A N (Sirah Nabawiyah)

    Mempelajari Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab sucinya saja yaitu Al-Quranul

    Karim. Mengapa demikian? Ada beberapa penyebab mengapa untuk mengenal ajaran Islam

    tidak cukup hanya dengan membaca kitab suci agama tersebut.

    Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui

    perantaraan malaikat Jibril as. Sebelum kitab ini Allah swt pernah menurunkan beberapa

    kitab kepada para rasul, diantaranya kitab Zabur kepada nabi Daud as, kitab Taurat kepada

    nabi Musa as dan kitab Injil kepada nabi Isa as Kitab-kita tersebut diturunkan melalui

    malaikat yang sama, yaitu Jibril as.

    Diantara kitab-kitab tersebut terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan. Persamaan

    yang mendasar adalah perintah untuk menyembah hanya kepada Allah swt. Sedangkan

    perbedaan mencolok terletak dari cara turunnya. Al-Quran turun secara berangsur-angsur,

    yaitu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Ayat ayat tersebut turun tidak dengan urutan

    seperti yang kita lihat saat ini. Malaikat Jibrillah yang memberitahukan langsung kepada

    Rasulullah bagaimana letak dan susunan ayat dalam surat harus diletakkan.

    Perumpamaannya adalah seperti rak lemari kosong yang telah diberi sekat, no dan tanda.

    Kemudian Rasulullah tinggal memasukkan dan menyelipkannya sesuai no dan tanda yang

    tertera. Susunan Al-Quran yang seperti ini sesuai dengan kitab yang ada disisi-Nya dan

    dijaga ketat oleh para malaikat, yaitu yang ada di Lauh-Mahfuz.

    Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah

    itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Quran ini

    adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),

    tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan

    semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Quran ini?

    (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

    Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:Al-Quran

    diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh Mahfuz, melalui duta-duta

    malaikat penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya

    kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula

  • oleh Jibril as kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur selama 23 tahun. (22

    tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

    Ayat-ayat turun begitu saja tanpa penyebab tetapi tidak jarang pula diturunkan sebagai

    jawaban suatu permasalahan atau keadaan tertentu dan bahkan ada yang turun atas

    pertanyaan pribadi. Ini yang menjadi penyebab utama mengapa kitab suci ini tidak dapat

    dibaca layaknya kitab-kitab lain, yaitu dibaca berurut dari depan ke belakang lalu

    memahaminya secara tekstual.

    Untuk dapat memahami dengan baik apa yang dimaksud ayat-ayat Al-Quran diperlukan

    pemahaman latar belakang, keadaan dan suasana ketika ayat turun disamping memahami

    bahasa Arab, arti secara bahasa maupun secara istilah, khususnya yang berlaku umum

    pada masa itu. Itulah urgensi mengenal, mengetahui dan memahami sejarah

    kehidupan Muhammad SAW, nabi yang mendapat kehormatan untuk menerima kitab suci

    ini. Itulah yang disebut Sirah Nabawiyah.

    Muhammad SAW adalah seorang hamba Allah yang sejak kecil bahkan calon ayah

    ibunyapun telah dipersiapkan secara matang oleh Sang Khalik. Beliau adalah seorang

    hamba pilihan yang telah ditunjuk secara terhornat untuk mengemban tugas maha berat,

    yaitu menerima wahyu Allah dan kemudian menyampaikannya kepada umat manusia. Yang

    tak lama setelah menunaikan misi suci tersebut dengan sangat memuaskan maka Allahpun

    memanggilnya. Subhanallah

    Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah inilah kita dapat mengetahui makna sebenarnya

    perintah dan maksud ayat-ayat suci al-Quran. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah kita

    dapat mengetahui bagaimana Rasulullah memahami dan merespons perintah-perintah

    Tuhannya. Uniknya, kadang perintah tersebut direspons Rasulullah tidak secara

    kontekstual. Contohnya adalah cara berwudhu.

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka

    basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan

    (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,. (QS Al-Maidah (5): 6).

    Dalam prakteknya Rasulullah menyempurnakan wudhu dengan membasuh tapak tangan,

    berkumur, memasukkan dan megeluarkan air dari hidung serta membasuk kedua telinga.

    Dan Allah SWT tidak melarang hal tersebut. Artinya Sang Khalik meridhoi apa yang

  • dilakukan nabi. Jadi selama Allah swt mendiamkan dan tidak menegur apa yang dilakukan

    Rasulullah, wajib kita mencontohnya.

    Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.Dan

    barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk

    menjadi pemelihara bagi mereka. (QS.An-Nisa(4):80).

    Dari sini tampak jelas bahwa untuk memahami Al-Quran tidak cukup hanya dengan

    sekedar membacanya kemudian mengartikan dan menafsirkannya sesuai pengetahuan dan

    pengertian akal kita.

    Para sahabat yang ketika itu sedang berada di sisi Rasulullah adalah saksi turunnya ayat-

    ayat. Mereka tahu persis bunyi ayat yang turun karena Rasulullah memang selalu langsung

    menyampaikan apa yang diterimanya itu. Beliau bahkan memerintahkan mereka untuk

    segera menghafalnya. Meski demikian dalam penerapannya mereka tetap mengerjakan

    apa yang dicontohkan junjungan mereka itu.

    Sebaliknya, bila dalam perjalanannya ternyata ada sejumlah perbedaan penafsiran, ini

    harus dimaklumi. Karena Rasulullah pada awalnya memang melarang menuliskan apa

    yang dikatakan, dikerjakan dan diamnya Rasulullah karena khawatir bercampur dengan

    ayat-ayat Al-Quran itu sendiri. Namun Rasulullah tetap memerintahkan para sahabat agar

    mengingat, mencatat dalam hati dan kemudian meneruskan serta menyampaikannya

    kepada yang lain. Yang juga harus diingat, ada saat-saat dalam keadaan dan situasi

    tertentu dimana Rasulullah menyikapinya dengan sikap dan cara berbeda.

    Ini yang menjadi penyebab menambahnya perbedaan hadits. Beruntung beberapa tahun

    setelah wafatnya Rasulullah, sejumlah sahabat dan para tabiin segera memutuskan untuk

    menuliskannya. Ini dilakukan demi menjaga agar hadist tetap terjaga (dengan bermacam

    perbedaannya) dan tidak makin sering dipalsukan baik sengaja maupun tidak.

    Tampaknya ini sudah menjadi sunatullah. Perbedaan selama bukan mengenai hal-hal yang

    pokok dan masih mengikuti apa yang pernah dicontohkan Rasulullah tetap dibenarkan. Kita

    tidak boleh saling merasa bahwa kitalah yang benar dan pihak lain salah.

    Perbedaan pendapat (di kalangan) umatku adalah rahmat. (HR. Al-Baihaqi).

    Sebaliknya orang yang suka mencari-cari perbedaan secara sengaja, diantaranya dengan

    mentakwilkan ayat-ayat Mutasyabihat, Allah melaknatmya. Tempat mereka adalah neraka

  • jahanam. (Ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang samar, yang seringkali membutuhkan

    pemikiran yang bahkan seringkali memang tidak dapat ditakwilkan. Contohnya

    adalahMim,Nuun,Alif Laam Miim) dan yang semacamnya.

    Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-

    ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain (ayat-ayat)

    mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada

    kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk

    menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang

    mengetahui takwilnya melainkan Allah.(QS.AliImran(3):7).

    Rasulullah SAW telah lama meninggalkan kita. Demikian pula para sahabat dan para tabiin

    beserta generasinya. Allah SWT memerintahkan umat Islam tidak hanya mematuhi Allah

    dan rasul-Nya namun juga para ulil amri atau pemimpin yang menjunjung tinggi ayat-ayat-

    Nya. Demi mencegah perpecahan dan memberi manfaat yang banyak bagi umat, mereka

    diberi keleluasaan memaknai ayat-ayat suci Al-Quran dan hadits. Inilah ijma dan istihad

    yang bisa menjadi rujukan umat.

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil

    amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka

    kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar

    beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih

    baik akibatnya.(QS.An-Nisa(4)59).

    Adalah tugas kita, umat Islam, saat ini, untuk menjaga kesucian dan keutuhan Al-Quran,

    isi dan maknanya. Para hafidz adalah garda terdepannya. Sementara kaum Muslimin dan

    Muslimat, secara keseluruhan, wajib menjaganya minimal dengan mengetahui bagaimana

    Rasulullah menyikapi dan memaknai isi Al-Quran tersebut. Inilah urgensi mengenal Sirah

    Nabawiyah.

    I. Asal muasal Tahun Gajah.

    Adalah Abrahah, yang hidup jauh sebelum Islam lahir. Ia adalah seorang penguasa

    Habasyah (Ethiopia) yang berhasil menguasai Yaman, sebuah negeri yang sekarang

    ini berada di semenanjung selatan Arabia. Di negeri jajahan barunya ini ia membangun

    sebuah gereja besar yang dinamainya Qullais. Abrahah membangun gereja tersebut bukan

    semata-mata sebagai tempat ibadah umat Nasrani. Ia mempunyai maksud lain. Hal ini

  • terlihat jelas dalam surat