refrat fix silikosis

Download REFRAT Fix Silikosis

Post on 09-May-2017

246 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI1

KATA PENGANTAR2

Bab I Pendahuluan3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA4A. Definisi 4B. Etiologi5C. Epidemiologi5D. Faktor resiko 6E. Tanda dan Gejala6F. Penegakan diagnosis7G. Patogenesis8H. Patofisiologis9I. Gambaran Histopatologi10J. Tata Laksana12K. Komplikasi12L. Prognosis13BAB III KESIMPULAN 14DAFTAR PUSTAKA 15KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas Kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Grave Disease. Referat ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas praktikum patologi anatomi blok respirasi pada Jurusan Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Dengan keterbatasan waktu yang tersedia, penulis sadar masih banyak kekurangan baik dari segi isi, susunan bahasa maupun sistematika penulisannya. Untuk itu kritik dan saran pembaca sangat membantu penulis untuk lebih baik kedepannya. Akhir kata penulis berharap referat tugas ini dapat menjadi informasi yang berguna dan bisa menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi tenaga medis dan profesi lain yang terkait dengan masalah kesehatan, dan khususnya tentang penyakit silikosis.BAB IPENDAHULUAN

Silikosis adalah suatu penyakit saluran nafas yang terjadi akibat menghirup debu silika, sehingga terjadi peradangan dan pembentukan jaringan parut didalam paru-paru. Silikon dioksida (silika, SiO2) merupakan senyawa yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri elektronik.

Banyak kematian yang disebabkan karena silikosis China melapor lebih dari 24.000 kematian/tahun akibat silikosis. Sedangkan di Amerika sekitar 1 juta-2 juta pekerjanya perpajan debu silika kristal. Beberapa bulan lalu Gunung Merapi di Yogyakarta memuntahkan abu vulkanik. Semburan tersebut mengandung senyawa kimia yang mengancam kesehatan manusia seperti Silika dioksida (SiO2) 54,56%, aluminium oksida (Al2O3) 18,37%, ferri oksida (Fe2O3) 18,59%, dan kalsium oksida (CaO) 8,33% (Namery, 2009).

Silikosis menimbulkan jaringan parut yang terbentuk pada paru akibat dari inhalasi debu silika yang akan membuat penderita kesulitan bernafas, dan berpotensi menimbulkan kanker, bahkan berujung kematian. Silikosis merupakan salah satu faktor resiko TB paru,serta dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang menimbulkan gangguan jaringan ikat yang sangat berbahaya seperti rhematoid arthritis, scleroderma, systemic lupus erythematosus.

Debu silika umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari sebagai bahan baku industri elektronik. Orang yang beresiko terpajan oleh debu silika adalah penambang, tukang keramik, penuangan logam dan pekerjaan yang berhubungan dengan debu silika. Karena banyak orang yang terpajan terhadap debu silika ini, yang meningkatkan resiko terjadi nya silikosis maka penting bagi kita untuk mempelajari penyakit silikosis ini.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Silikosis adalah suatu penyakit saluran nafas yang terjadi akibat menghirup debu silika, sehingga terjadi peradangan dan pembentukan jaringan parut didalam paru-paru. Silikon dioksida (silika, SiO2) merupakan senyawa yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri elektronik. Silikon dioksida kristalin dapat ditemukan dalam berbagai bentuk yaitu sebagai quarsa, kristobalit dan tridimit. Pasir di pantai juga banyak mengandung silika. Silikon dioksida terbentuk melalui ikatan kovalen yang kuat, serta memiliki struktur lokal yang jelas: empat atom oksigen terikat pada posisi sudut tetrahedral di sekitar atom pusat yaitu atom silikon. Terdapat 3 jenis silikosis (Susanto, 2009):

1. Silikosis kronis simplek, terjadi akibat pemaparan sejumlah kecil debu silika dalam jangka panjang (lebih dari 20 tahun). Nodul-nodul peradangan kronis dan jaringan parut akibat silika terbentuk di paru-paru dan kelenjar getah bening dada.

2. Silikosis akselerata, terjadi setelah terpapar oleh sejumlah silika yang lebih banyak selama waktu yang lebih pendek (4-8 tahun). Peradangan, pembentukan jaringan parut dan gejala-gejalanya terjadi lebih cepat.

3. Silikosis akut, terjadi akibat pemaparan silikosis dalam jumlah yang sangat besar, dalam waktu yang lebih pendek. Paru-paru sangat meradang dan terisi oleh cairan, sehingga timbul sesak nafas yang hebat dan kadar oksigen darah yang rendah.

Pada silikosis simplek dan akselerata bisa terjadi fibrosif masif progresif. Fibrosis ini terjadi akibat pembentukan jaringan parut dan menyebabkan kerusakan pada struktur paru yang normal (Susanto, 2009).

2. Etiologi

Debu silika yang bisa terhirup udara nafas mempunyai ukuran partikel debu 0,5-5 m dan biasanya terbentuk seperti (Sudoyo dkk, 2006):

1. Quartz (Silika bebas), yang paling banyak di alam.

2. Crystalline (crystobalite dan tridymite), sangat jarang di alam, tetapi sering terbentuk karena pekerjaan pabrik.

3. Epidemiologi

Silikosis paru adalah penyakit yang umum terjadi di seluruh dunia, dapat terjadi dimana-mana, namun umumnya di negara berkembang. Pada tahun 1991-1995, China melapor lebih dari 24.000 kematian/tahun akibat silikosis. Sedangkan di Amerika sekitar 1 juta-2 juta pekerjanya perpajan debu silika kristal. Beberapa bulan lalu Gunung Merapi di Yogyakarta memuntahkan abu vulkanik. Semburan tersebut mengandung senyawa kimia yang mengancam kesehatan manusia seperti Silika dioksida (SiO2) 54,56%, aluminium oksida (Al2O3) 18,37%, ferri oksida (Fe2O3) 18,59%, dan kalsium oksida (CaO) 8,33% (Namery, 2009).

Silika adalah yang paling dominan dan paling berbahaya. Silika memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang bagi kesehatan manusia. Efek jangka pendek mulai dari iritasi kulit, iritasi mata hingga sesak napas. Silika memiliki struktur kristal yang secara mikroskopis terlihat tajam-tajam. Salah satu penyakit yang ditimbulkan adalah yang dikenal sebagai silikosis. Silikosis dapat terjadi karena paparan kristal atau silikat bebas yang terhirup melalui pernapasan. Secara klasik, penyakit ini baru bisa manifestasi setelah 10-20 tahun setelah paparan yang terus-menerus. Namun, waktu tersebut dapat menjadi singkat, 5-10 tahun atau bahkan dalam satu tahun jika berhubungan dengan paparan abu yang mengandung kristal maupun silikat bebas dalam jumlah yang sangat banyak (Namery, 2009).

Terdapat laporan penelitian yang menyatakan bahwa kejadian infeksi TBC meningkat pada penderita silikosis. Selain gejala di atas, akibat penumpukan silikat dalam tubuh ini dan berkaitan dengan sistem imun tubuh, akan muncul juga penyakit rematik (Rheumatoid arthritis). Gangguan ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Belum diketahui secara pasti mengapa jumlahnya lebih banyak pada laki-laki (Namery, 2009).

Penyakit silikosis ini tentunya lebih berbahaya pada bayi, balita, dan anak-anak. Salah satunya karena fungsi dan kerja organ-organ sistem pernapasan belum berkembang sempurna seperti orang dewasa. Sel-sel rambut dan rambut-rambut di dalam lubang hidung kita memainkan peranan sebagai pertahanan mekanik lini pertama terhadap partikel-partikel yang dihirup (Namery, 2009).

4. Faktor Resiko

Umumnya orang yang beresiko bersangkutan dengan pekerjaannya yang mengalami inhalasi debu silika (Susanto, 2009):

1. Pertambangan, pembuatan terowongan, penggalian dalam tanah, emas, tembaga, besi, timah, uranium, proyek bangunan

2. Penggalian granit, pasir, batu tulis

3. Tukang batu : pembuatan monumen/granit, potongan batu

4. Penuangan logam : logam besi, logam bukan besi

5. Penggosokan : tepung silika, logam, kertas ampelas, batu nisan

6. Keramik : pembuatan pot, cetakan oven, periuk/kuali

7. Lain-lain : pembuatan gelas, pembersihan ketel, pembuatan gigi

5. Tanda dan Gejala

Gangguan pada saluran pernafasan ditandai dengan gejala-gejala yaitu :

1. Gejala Lokal

a. Batuk

Batuk merupakan gejala yang paling umum akibat penyakit pernafasan. Batuk bisa bersifat kering atau basah tergantung dari pada produksi sekrit.

b. Sesak

Keadaan ini merupakan akibat kurang lancarnya pemasukan udara saat inspirasi ataupun pengeluaran udara saat ekspirasi, yang disebabkan oleh adanya penyempitan ataupun penyumbatan pada tingkat bronkeolus/bronkus/trakea/larings.

c. Pengeluaran Dahak

Dahak orang dewasa normal membentuk sputum sekitar 100 ml per hari dalam saluran nafas, sedangkan dalam keadaan gangguan pernafasan sputum dihasilkan melebihi 100 ml per hari.

d. Batuk Darah

Adanya lesi saluran pernafasan dari hidung paru yang juga mengenai pembuluh darah.

e. Nyeri Dada

Nyeri dada terjadi dari berbagai penyebab, tetapi yang paling khas dari penyakit paru-paru adalah akibat radang pleura.

2. Gejala Umum

Gejala-gejala yang disebut di atas bersifat setempat. Penyakit ini memberi juga gejala umum, seperti suhu badan meninggi, pusing dan mabuk kepala, tidak suka makan, rasa lesu/lemah, keringat dingin dan sebagainya. Masalah pernafasan pada pekerja di tempat pengolahan telah dikenal selama 2 dekade ini. Gejala-gejala dada akut seperti batuk, sesak, dada terasa berat dan iritasi saluran nafas atas muncul pada saat kerja biasa (Alsagaff, 2002).

6. Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan atas dasar (Sudoyo dkk, 2006) :

1. Adanya riwayat inhalasi debu silika

2. Adanya gambaran radiologis abnormal

3. Adanya kelainan faal paru obstruktif (restriktif, obstruktif atau campuran).

Problem diagnostik adalah bila timbul komplikasi (timbulnya infeksi pyogenik, jamur atau tuberkulosis) dan pada keadaan lanjut dapat timbul penyakit kolagen (skleroderma, rematoid artritis) (Sudoyo dkk, 2006).

Penegakan diagnosis berdasarkan klasifikasi (Susanto, 2009) :

1. Silikosis Kronik

S