referat gizi penyakit jantung koroner

Download Referat Gizi Penyakit Jantung Koroner

Post on 14-Aug-2015

106 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Penyakit Jantung Koroner dipandang dari sudut ilmu gizi

TRANSCRIPT

Bab I PendahuluanEpidemiologiSejak tahun 1900, penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian utama di Amerika setiap tahunnya, kecuali tahun 1918. Sekitar 53% disebabkan oleh penyakit jantung koroner dan 17% disebabkan oleh stroke. Angka morbiditas dan mortalitas pada penyakit kardiovaskuler menyebabkan penyakit ini menjadi masalah utama kesehatan masyarakat, yang menghabiskan biaya sekitar $ 403 milyar pada tahun 2006.1 Walaupun kematian terbesar pada penyakit kardiovaskuler muncul pada usia di atas 65 tahun, tetapi 1 dari 3 kematian terjadi pada usia lebih muda. Studi epidemiologi (cohort dan cross-sectional) serta studi penelitian (klinis dan komunitas) menggambarkan adanya hubungan faktor resiko dengan peningkatan penyakit kardiovaskuler.1 Lebih dari 71 juta masyarakat amerika mempunyai paling sedikit 1 bentuk penyakit kardiovaskular (misalnya : hipertensi, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit jantung rematik, dan gagal jantung). Penyakit jantung koroner disebabkan adanya iskemia dan aliran darah yang terganggu. Penyebaran penyakit kardiovaskuler bervariasi pada berbagai ras dan etnis. Prevalensi penyakit kardiovaskuler yaitu tertinggi pada non-Hispanic yang berkulit hitam (41% laki-laki dan 45% perempuan), non-Hispanic yang berkulit putih (34% laki-laki dan 32% perempuan), keturunan Amerika-Meksiko (29% laki-laki dan 29% perempuan).1 Penduduk asli Hawai, Alaska, keturunan Amerika-India, Pasific memiliki prevalensi lebih tinggi dibandingkan yang lain. Sedangkan Hispanic, Latin, dan Asia memiliki prevalensi paling rendah. Prevalensi penyakit kardiovaskuler meningkat dua kali lipat pada usia pertengahan (3544 tahun) dan usia lanjut (65-74 tahun). Insidens penyakit jantung koroner tinggi. Kurang lebih 700.000 penduduk amerika terkena serangan jantung untuk yang pertama kalinya dan 500.000 penduduk amerika mengalami serangan yang berulang. Insiden pada laki-laki lebih besar dibandingkan perempuan.1

Penyakit jantung dan stroke menyebabkan kematian yang terbesar. Kematian pada penyakit jantung koroner disebabkan oleh infark miokard atauiskemik pada arteri koronaria yang menyebabkan nekrosis dan kerusakan jaringan pada jantung. Kematian pada penyakit jantung meningkat berdasarkan usia. Sampai usia 65 tahun, laki-laki berkulit hitam menduduki peringkat tertinggi.1

Bab II Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner

ATHEROSCLEROSIS Aterosklerosis merupakan penyebab utama PJK (Penyakit Jantung Koroner) atau CHD (Coronary Heart Disease). Proses yang terjadi pada aterosklerosis adalah akumulasi plak (kolesterol LDL, kalsium, dan fibrin) pada arteri besar dan sedang. Plak ini dapat bertambah besar dan menyebabkan iskhemi baik karena kurangnya aliran darah akibat tingginya kebutuhan oksigen maupun iskemi akibat rupture, membentuk trombus, dan menutupi lumen sehingga lumen menjadi sempit. Karakteristik plak yang mudah membentuk trombus adalah lesi dengan jaringan fibrosa tipis, sedikit sel otot polos, banyak makrofag (sel inflamasi), dan inti lemak yang besar.1

Lokasi pembentukan plaque atau aterogenesis adalah endotel dari dinding pembuluh darah. Normalnya, endotel menyebabkan dilatasi dari pembuluh darah dan mencegah respon antiinflamasi. Pada aterosklerosis, terjadi disfungsi endotel sebelum terbentuknya ateroma atau plak. Disfungsi endotel ini berakibat pada kurangnya produksi nitrit oksida, yang merupakan vasodilator, dan pembuluh darah menjadi lebih kecil. Hal ini juga membuat pembuluh darah lebih permiabel dan membuat kolesterol LDL ditangkap oleh makrofag, yang akan berakumulasi dan membentuk sel busa (foam cell formation) dan formasi fatty streak.1 Disfungsi endotel mengawali aterosklerosis, namun disfungsi ini masih bersifat reversibel. Beberapa faktor yang menyebabkan disfungsi endotel adalah dislipidemia (abnormalitas dari fraksi lipoprotein), terutama peningkatan LDL dan penurunan HDL, hipertensi, merokok, obesitas, hiperkromosisteinemia, dan diet tinggi lemak yang tersaturasi dan kolesterol. Disfungsi endotel ini merupakan titik yang akan dimodifikasi melalui diet dan perubahan pola hidup. Tujuan akhirnya adalah untuk menurunkan inflamasi, disfungsi endotel, trombosis, dan pembentukan plak.1 Perubahan pada arteri yang terjadi ketika bayi dan remaja secara asimtomatis, jika orang tersebut memiliki faktor risiko, dapat mengakibatkan thrombosis arteri, atau yang memiliki faktor genetik untuk terjadinya aterosklerosis. Oleh karena itu, aterosklerosis disebut silent disease karena banyak individu yang asimptomatik sampai mereka mengalami gejala infark miokard pertama, yang biasanya fatal. 1 Gejala klinis dari gangguan fungsi arteri muncul dari aterosklerosis yang tergantung dari lokasinya. Aterosklerosis yang terdapat di arteri koronaria menyebabkan angina, infark miokard, dan sudden death; pada arteri serebral menyebabkan stroke dan transient ischemic attacks; dan pada sirkulasi perifer dapat menyebabkan intermittent claudication, iskemi pada ekstremitas, dan gangren. 1 Banyak teori telah dicoba untuk menjelaskan bagaimana aterosklerosis dapat berkembang. Diketahui bahwa aterogenesis dan proses terbentuknya aterosklerosis, memiliki perjalanan penyakit yang kronik, local, dan merupakan respon inflamasi dari banyak faktor

risiko, seperti tingginya kolesterol LDL, yang merusak dinding arteri. Pembentukan lesi dan rupturnya plak terjadi akibat adanya protein inflamasi (sitokin) yang dilepaskan. 1 Evaluasi Klinis Pemeriksaan non invasive seperti elektrokardiogram, treadmill stress tests, thallium scan, dan ekokardiografi digunakan untuk sebagai pemeriksaan awal untuk mendiagnosis PJK. Salah satu emeriksaan invasif adalah angiografi (kateterisasi jantung), dimana zat kontras disuntikan kedalam arteri dan pencitraan radiografi jantung diperoleh. Pada kebanyakan kasus, penyempitan dan penyumbatan akibat aterosklerosis akan nampak pada angiogram; tetapi kerusakan kecil seringnya tidak terlihat, dan juga lesi yang sedang mengalami remodeling, proses pembesaran pembuluh darah untuk mengimbangi lumen yang menyempit. 1 Penggunaan MRI dapat menunjukkan lesi yang lebih kecil dan dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan aterosklerosis atau regresi akibat pengobatan. Ultrasound merupakan metode non invasif yang lebih disukai untuk mengukur ketebalan intima pada arteri carotis. Pengukuran ketebalan intima dari arteri carotis digunakan untuk memprediksi terjadinya infark miocard dan stroke. Saat ini tidak ada metode untuk mendeteksi adanya plak yang beresiko tinggi, akan tetapi teknik baru seperti termografi intrakoroner mungkin dapat digunakan untuk mendeteksi plak yang memiliki resiko tinggi. Ukuran lumen diukur dengan flow-mediated dilation, dapat digunakan untuk memperkirakan adanya disfungsi endotel.1 Kurang lebih dua per tiga kasus dari sindrom koroner akut (unstable angina dan infark miokard akut) terjadi pada arteri yang mengalami sumbatan ringan atau terdapat sedikit sumbatan. Hal ini menggambarkan pentingnya penemuan trombosis dalam temuan klinik. Pada infark akibat iskemi, miokardium kekurangan oksigen dan nutrisi. Mengenai fungsi jantung yang dapat terus berdenyut atau tidak bergantung pada berapa banyak kerusakan otot jantung yang terlibat, adanya sirkulasi kolateral, dan kebutuhan oksigen.1 Gejala dari penyakit jantung koroner meliputi chest pain (nyeri dada), nyeri yang dapat menjalar, nausea, vomitus, dyspneu, dan bahkan sudden death. Pada beberapa pasien dapat tidak ditemukan adanya chest pain (nyeri dada), dan dyspneu merupakan satu-satunya gejala

yang tampak pada 4-14% pasien. Nyeri yang dirasakan menjalar dapat menjalar ke lengan, rahang bawah, leher, punggung atau mungkin juga ke perut.2

FAKTOR RISIKO TERJADINYA PJKBeberapa hal yang meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner adalah usia, jenis kelamin laki-laki yang lebih banyak menderita PJK, adanya riwayat keluarga yang menderita PJK, kebiasaan merokok, hipertensi, diabetes, obesitas, kadar kolesterol yang tinggi, kurangnya aktivitas fisik, dan akumulasi lemak pada abdomen (apple body shape).3

1. Usia Usia adalah faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi pada PJK. Dengan meningkatnya usia, makin tinggi tingkat mortalitas dari PJK, hal ini terlihat kedua jenis kelamin. Namun, jenis kelamin adalah sebuah faktor untuk penilaian resiko. Kejadian penyakit dini pada pria usia 35 hingga 44 tahun adalah tiga kali sama tinggi pada wanita pada usia yang sama. Oleh karena itu lebih dari 45 tahun adalah dianggap sebuah faktor risiko untuk pria (NCEP, 2002). Peningkatan risiko pada wanita setelah usia 55 tahun, yaitu terutama wanita setelah menopause. Secara keseluruhan peningkatan risiko untuk PJK meningkat sesuai usia.1 2. Status menopause Penelitian selama satu dekade telah memperlihatkan resiko terjadinya penyakit jantung koroner pada laki-laki dibandingkan dengan wanita yang mengalami masa pre-menopause. Seetelah mengalami masa menopause, resiko untuk terkena PJK meningkat pada wanita. Setelah menopause kadar HDL sangat menurun yang artinya juga meningkatkan faktor resiko terkenanya PJK.4 Estrogen memberikan perlindungan terhadap CVD pada wanita premenopause, mungkin dengan mencegah kerusakan vaskular. Hilangnya estrogen secara menopouse alami atau bedah terkait dengan meningkatkannya resiko CVD. Jumlah PJK di wanita premenopause rendah kecuali di wanita dengan banyak faktor risiko. Selama periode menopause kolesterol total, kolesterol LDL, dan trigliserida meningkat; dan kolesterol HDL menurun, terutama di wanita yang berat badan berlebih.1

3. Merokok Peningkatan CVD dan stroke pada perokok sudah diketahui lebih dari 40 tahun yang lalu. Rokok adalah penyebab utama kematian di Amerika, 3, 5% kematian dari perokok disebabkan oleh PJK.1 4. Riwayat Keluarga Sebuah penyakit sebelumnya pada riwayat keluarga adalah faktor risiko yang kuat, bahkan ketika faktor risiko lain juga ada. Sebuah riwayat keluarga adalah dianggap positif ketika MI atau kematian mendadak terjadi seb