refarat elisa & dian

Download Refarat Elisa & Dian

Post on 07-Jan-2016

227 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

xzxxzx

TRANSCRIPT

A. DEFINISIPsoriasis ialah penyakit yang penyebabnya auotimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner(1). Penyakit ini umumnya mengenai daerah ekstensor ekstremitas terutama siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral, bokong dan genitalia

B. SINONIM Psoriasis juga disebut psoriasis vulgaris berarti psoriasis yang biasa, karena ada psoriasis lain, misalnya psoriasis pustulosa(1).

C. EPIDEMIOLOGIKasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengingat bahwa perjalanannya menahun dan residif.Walaupun psoriasis terjadi secara universal, namun prevalensinya pada tiap populasi bervariasi di berbagai belahan dunia. Studi epidemiologi dari seluruh dunia memperkirakan prevalensi psoriasis berkisar antara 0,6 sampai 4,8%.(1,2) Prevalensi psoriasis bervariasi berdasarkan wilayah geografis serta etnis. Di Amerika Serikat, psoriasis terjadi pada kurang lebih 2% populasi dengan ditemukannya jumlah kasus baru sekitar 150,000 per tahun. Pada sebuah studi, insidensi tertinggi ditemukan di pulau Faeroe yaitu sebesar 2,8%. Insidensi yang rendah ditemukan di Asia (0,4%) misalnya Jepang dan pada ras Amerika-Afrika (1,3%). Sementara itu psoriasis tidak ditemukan pada suku Aborigin Australia dan Indian yang berasal dari Amerika Selatan. Data dari beberapa rumah sakit di Indonesia tahun 2003-2006 terdapat 96 (0,4%) kasus baru psoriasis dari 22.070 kunjungan baru golongan usian yang sama. Melaporkan di RSUP Dr. Kariadi terdapat 198 kasusn(0,97%) psoriasis selama rentang waktu 5 tahun (2003-2007).Sedangkan pada tahun 2007-2011 dilaporkan oleh Indranila dkk terdapat 210 kasus psoriasis (1.4%) dari 14.618 penderita di tempat yang sama dengan jenis psoriasis vulgaris yang paling dominan

Pria dan wanita memiliki kemungkinan terkena yang sama besar. Beberapa pengamatan terakhir menunjukkan bahwa psoriasis sedikit lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita. Sementara pada sebuah studi yang meneliti pengaruh jenis kelamin dan usia pada prevalensi psoriasis, ditemukan bahwa pada pasien yang berusia lebih muda (30% luas permukaan tubuh), terapi terutama menggunakan obat-obat sistemik(2,5).

Pengobatan sistemik Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis, pada kortikosteroid ada yang kerja singkat, sedang dan kerja lama. Pada psorisis bisa diberikan prednison dengan dosis ekuivalen 30 mg per hari, setelah membaik dosis diturunkan perlahan lahan, kemudian bisa diberikan dosis pemeliharan, bisa juga diberikan metilprednisolon dengan dosis mulai dari 4 mg 48 mg perhari, dosis tunggal/ terbagi. Obat sitostatik Obat yang digunakan adalah metotreksat, mekanisme kerja obat ini yang spesifik dalam menghambat terjadi inflamasi dan tidak menimbulkan efek samping seperti obat-obat golongna NSAID. Dosis mulai dari 3 x 2,5mg dengan interval 12 jam dalam seminggi dengan dosis total 7,5 mg, jika tidak tampak perbaikan dosis dinaikkan 2,5 mg5 mg per minggu. Levodopa Obat ini di pakai untuk parkinson , diantara nya penderita parkinson sekaligus psoriasis, dengan dosis 2 x 250 mg 3 x 500 mg, efek samping nya berupa mual, muntah, anoreksia, hipotensi dan gangguan psikis. DDS (Diaminodifenilsulfon) Dipakai untuk pengobatan psoriasis pustulosa tipe barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek samping nya anemia hemolitik, methemoglobinemia dan agranulositosis. Siklosporin Efeknya ialah imunosupresif, dosis nya 6 mg/kgbb sehari, bersifat nefrototoksik dan hepatotoksik, hasil pengobtan untuk psoriasis baik, hanya setelah obat dihentikan dapat terjadi ke kambuhan(1).

Pengobatan topikal Kortikosteroid Kortikosteroid Topikal, sampai saat ini masih merupakan pilihan pengobatan. Pemberiannya akan lebih efektif jika diaplikasikan kemudian dibalut dengan perban oklusif kering. Yang menjadi pilihan adalah kortikosteroid dengan potensi tinggi seperti Clobetassol Propionat, Diflorasone Diasetat, atau bethamethason dipropionat 0,05%, Fluocinolone 0.01% atau 0.025%, hidrokortison valerat 0,2%, triamcinolone, fluocionida. Clobetasol Topical steroid super poten kelas I, dengan menekan mitosis dan menambah sintesi protein yang mengurangi inflamasi dan menyebabkan vasokontriksi(1). Betametahasone dipropionate cream 0,05% Merupakan anti inflamasi kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi sel leukosit polimorfonuklear dan memperbaiki permeabilitas kapiler. Triamcinolone 0,025%, 0,1%, 0,5% atau ointment Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan memperbaiki permeabilitas kapiler. Pemberian kortikosteroid berupa Triamcinolone secara intralesi, biasanya sangat efektif (3mg/ml). Namun harus sangat diperhatikan karena pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan atropi. Fluocinolone 0.01% atau 0.025% Topical kosrtikosteroid potensi tinggi yang mengahmbat proliferasi sel . mempunyai sifat imunosupresif dan anti inflamasi. Preparat TerObat topikal yang biasa digunakan adalah preparat ter, yang efeknya adalah anti radang.Preparat ter berguna pada keadaan-keadaan: 1.Bila psoriasis telah resisten terhadap steroid topikal sejak awal atau takhifilaksis oleh karena pemakaian pada lesi luas. 2.Lesi yang melibatkan area yang luas sehingga pemakaian steroid topikal kurang bijaksana.Bila obat-obat oral merupakan kontra indikasi oleh karena terdapat penyakit sistemik. Ter dari kayu dan batubara yang efektif untuk psoriasis, dimana ter batubara lebih efektif dari pada ter kayu, sebaliknya kemungkinan memberikan iritasi juga jauh lebih besar. Pada psoriasis yang menahun lebih baik digunakan ter yang beasal dari batubara, sebaliknya psoriasis akut dipilih ter dari kayu. Preparat tar seperti liquorcarbonis detergent 2-5% dalam salep dipakai untuk pengobatan psoriasis yang kronis. Diduga mempunyai efek yang menghambat proliferasi keratinosit. Efeknya akan meningkat bila dikombinasi dengan asam salisilat 2-5%, akan efektif jika diaplikasikan pada daerah-daerah yang optimal misalnya lengan, dan kaki. Asam salisilat merupakan zat keratolitik yang tertua yang dikenal dalam pengobatan topikal, efeknya ialah mengurangi proliferasi epitel dan menormalisasi keratinisasi yang terganggu. Konsentrasi rendah (1-2%) mempunyai efek keratoplastik yaitu menunjang pembentukan keratin yang baru, konsentrasi tinggi 3 -20% bersifat keratolitik dan dipake untuk keadaan dermatosis yang hiperkeratotik. Pada kasus ini asam salisiat diberikan hanya 3%, efek desmolitik asam salisilat ini terbukti meningkatkan penetrasi kortikosteroid topikal. AntihistaminPemberian antihistamin oral secara luas digunakan untuk mengurangi keluhan pruritus dengan memblokir efek pelepasan anti histamine secara endogen.namun peran dan keuntungannya dalam mengatasi pruritus lokal sangat rendah. Beberapa obat antihistamin lainnya yaitu(6): dipenhidramin,untuk mengurangi gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan histamine Loratadine merupakan suatu antihistamin trisiklik yang bekerja cukup lama (Long acting), mempunyai selektivitas tinggi pada reseptor histamin - H1 perifer dan tidak menimbulkan efek sedasi atau antikolinergik. Klonazepam, untuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan reseptor-reseptor di SSP, termasuk system limbic dan pembentukan reticular. Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA. Cetirizin HCl adalah antihistamin antagonis H1 generasi kedua, terbukti lebih nyaman dan menguntungkan karena tidak menimbulkan efek mengantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas pasien. Pengobatan dengan sinar Sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis, sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik adalah dengan penyinaran secara alamiah, tetapi sayang tidak dapt diukur dan jika berlebihan maka akan memperparah psoriasis. Karena itu, digunakan sinar ulraviolet artifisial, diantaranya sinar A yang dikenal sebagai UVA(7).

-Fototerapi UVB pada psoriasis (8)Lampu UVB Narrowband dikembangkan oleh Philips Lighting khusus untuk mencocokkan spektrum aksi psoriasis, dengan puncak tajam pada 311nm emisi, mempunyai efektivitas meningkat dibandingkan dengan lampu broadband. Paparan UVB beberapa kali per minggu, selama beberapa minggu dapat membantu orang mencapai remisi dari psoriasis. Kadang-kadang diperlukan untuk melanjutkan perawatan sekali seminggu sebagai perawatan, atau penyakit kronis akan kembali. Di rumah sakit, pengobatan sinar ultraviolet sering dikombinasikan dengan topikal (tar batubara, kalsipotriol) atau pengobatan sistemik (Retinoid) karena ada sinergi dalam kombinasi mereka. Rezim Ingram melibatkan UVB dan aplikasi pasta anthralin. Rezim Goeckerman menggabungkan salep belangkin dengan UVB. Karena tar batubara termasuk bahan yang tidak diketahui yang dapat menyebabkan kanker, dan merupakan perawatan intensif waktu, menggunakan tar batubara telah jatuh dari nikmat.

I. PROGNOSISMeskipun psoriasis tidak menyebabkan kematian, tetapi bersifat kronis dan residif.

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. Dermatosis eritroskuamosa: Psoriasis, in: Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin, Ed 5. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. 2006. p. 189-95.2. Siregar RS. 1996. Atlas Berwarna: Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 3. Gudjonsson JE, Elder JT: Psoriasis, in: Katz GS, Paller BG, Wolff K. (eds), Fitzpatrick Dermatology in general Medicine, 7th ed. The McGraw Hill Companies. 2008. Chapter 18. p. 169-93. 4. Lui H. Plaque Psoriasis, Emedicine. Available at: http://www.emedicine.com/article/topic365.htm. September 30, 2011 .5. Griffiths CEM, Camp RDR, Barker JNWN. Psoriasis. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, eds. Rook's Textbook of the Dermatology. ed.8 UK: Blackwell Publishing Co, 2010: 35.135.506. La