percobaan iii antioksdan-kel 1

Click here to load reader

Post on 27-Nov-2015

76 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PERCOBAAN IIIAKTIVITAS ANTIOKSIDAN TERHADAP DPPH

A. Tujuan1. Untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak daun tapak dara (Catharanthus roseus) terhadap radikal bebas DPPH.2. Untuk menghitung IC50 aktivitas antioksidan ekstrak daun tapak dara (Catharanthus roseus).

B. Dasar Teori1. AntioksidanDalam pengertian kimia, senyawa antioksidan adalah senyawa pemberi elektron (electron donors), secara bologis, pengertian antioksidan adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh. Antioksidan bekerja dengan cara mendorong satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidasi tersebut bisa dihambat.Keseimbangan oksidan dan antioksidan sangat penting karena berikatan dengan fungsinya sistem imunitas tubuh. Kondisi seperti ini terutama untuk menjaga integritas dan fungsinya membran lipid, protein sel dan asam nukleat serta mengontrol transduksi signal dan ekspresi gen dalam imun sel.Berdasarkan mekanisme kerjanya antioksidan digolongkan menjadi 3 kelompok yaitu antioksidan primer, sekunder, dan tersier.a. Antioksidan primer (antioksidan endogenus)Antioksidan primer disebut juga antioksidan enzimatis. Suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan primer, apabila dapat memberikan atom hidrogen secara cepat kepada senyawa radikal, kemudian radikal antioksidan yang terbentuk segera berubah menjadi senyawa yang lebih stabil. Antioksidan primer bekerja dengan cara mencegah pembentukan senyawa radikal bebas baru atau mengubah radikal bebas yang telah terbentuk menjadi molekul yang kurang reaktif.Antioksidan primer meliputi enzim superoksida dimutase (SOD), katalase, glution peroksida (GSH-Px). Sebagai antioksidan enzim-enzim tersebut menghambat pembentukkan radikal bebas dengan cara memutus reaksi berantai (polimerisasi) kemudian mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil.b. Antioksidan sekuder (antioksidan eksogenus)Antioksidan sekunder disebut juga antioksidan eksogenus atau non-enzimatis. Antioksidan dalam kelompok ini juga disebut pertahanan preventif. Antioksidan non-enzimatis dapat berupa komponen non-nutrisi dan komponen nutrisi dari sayuran dan buah-buahan. Kerja sistem antioksidan non-enzimatik yaitu dengan cara memotong reaksi okidasi berantai dari radikal bebas atau dengan cara menangkapnya. Akibatnya, radikal bebas tidak akan berekasi dengan komponen selular.Antioksidan dan sekunder meliputi vitamin E, vitamin C, karoten, flavanoid, asam urat, bilirubin, dan albumin. Senyawa antioksidan dan non-enzimatis bekerja dengan cara menangkap radikal bebas (free radical scavenger), kemudian mencegah reaktivitas amplifikasinya. Ketika jumlah radikal bebas berlebihan, kadar antioksidan non-enzimatik yang dapat diamati dalam cairan biologis menurun.c. Antioksidan tersierKelompok antioksidan tersier meliputi sistem enzim DNA-repair dan mentionin sulfoksida reduktase. Enzim-enzim ini berfungsi dalam perbaikan biomolekular yang rusak. Akibat reaktivitas radikal bebas kerusakan DNA yang terinduksi senyawa radikal bebas didirikan oleh rusaknya single dan double strand, baik gugus non-basa maupun basa.(Winarsi, 2007)2. DPPHDPPH (1,1-dipheni-2-P-pikrihidrazil) merupakan senyawa radikal bebas yang paling stabil dibandingkan dengan contoh-contoh radikal bebas yang lainnya, sehingga apabila digunakan sebagai pereaksi cukup dilarutkan dan tidak perlu dibuat recenter paratus dengan cara mereaksikan perekasi-pereaksi sebagaimana yang dilakukan pada radikal bebas nitrit oksida. Senyawa ini jika disimpan dalam keadaan kering dan kondisi penyimpanan yang baik akan tetap stabil selama bertahun-tahun.(Haryono, 2007)Senyawa radikal DPPH biasanya digunakan sebagai substrat untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan. Radikal DPPH adalah radikal bebas stabil dan menerima satu elektron atau hidrogen menjadi molekul yang tetap. Pengujian aktivitas penangkap radikal bebas DPPH secara spektrofotometer dilakukan dengan mereaksikan ekstrak dengan larutan DPPH.Efek penangkapan radikal bebas DPPH meningkat dengan peningkatan jumlah ekstrak. Aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH umumnya naik dengan penambahan ekstrak sampai dengan kondisi tertentu, kemudian aktivitas akan turun dengan penambahan konsentrasi yang lebih besar lagi.(Suryanto, 2009)Potensi antioksidan penangkapan radikal ditentukan dengan menggunakan DPPH, suatu radikal sintetik yang stabil dalam larutan air atau metanol dan mampu menerima sebuah elektron atau radikal hidrogen untuk menjadi molekul diamagnetik yang stabil. DPPH pada uji ini ditangkap oleh antioksidan yang melepaskan hidrogen, sehingga membentuk DPPH tereduksi (Dp-Hidrazin). Perubahan warna violet DPPH menjadi kuning diikuti penurunan serapan pada panjang gelombang maksimum (517 nm) ini menunjukkan adanya aktivitas antioksidan yang dapat dilihat dari 1% rendaman (Prastiwi, 2010).

3. Tapak Dara (Catharanthus roseus)a. KlasifikasiKingdom: PlantaeDivisi: SpermatophytaKelas: MagnoliopsidaOrdo: GentianalesFamili: ApocynaceaeGenus: CatharanthusSpesies: Catharanthus roseusb. MorfologiTanaman tapak dara merupakan semak yang tidak terlalu besar. Tanaman yang berasal dari Amerika Tengah ini menyebar di dataran rendah sampai ketinggian 800 m di atas permukaan laut. Tapak dara dapat tumbuh di tempat yang agak terlindung maupun terbuka.(Muhlisah, 2007)Tapak dara memiliki nama daerah ratul-ratul, usia, cakar ayam, kembang serdadu, dan kembang sari cina. Tapak dara termasuk tanaman semak atau terna tahunan yang tingginya bisa mencapai 200 cm. Batangnya berbentuk bulat tidak berkayu. Daunnya merupakan daun tunggal berantai pendek. Helai daun berbentuk elips dengan ujung runcing dan tepi rata (Dewani, 2008).c. Kandungan kimiaAda 70 macam alkaloid ditemukan di akar, batang, daun dan biji tapak dara, termasuk 28 bi-indole alkaloid. Selain itu, tapak dara mengandung alkaloid antikanker yaitu vinblistin (VLB), vincristine (VCR), leurosine (VLR), vicadioline, leurosidine, dan catharantine.(Muhlisah, 2007)4. Spektrofotometer UV-VisSpektrofotometer UV-Vis adalah alat yang umumnya digunakan untuk analisa kimia kuantitatif, namun juga dapat digunakan untuk analisa kimia semi kuantitatif. Prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis didasarkan pada fenomena penyerapan sinar oleh spesi kimia tertentu di daerah ultra lembayung (ultraviolet) dan sinar tampak (visible).Meskipun tidak sepeka analisa dengan teknologi nuklir, analisa dengan spektrofotometri sinar tampak (colourimetry) memiliki kepekaan yang cukup tinggi dan mudah dilakukan.Interaksi radiasi dengan suatu spesi dapat berupa penyerapan (absorbansi), pemendaran (luminesensi), pancaran (emisi), dan penghamburan (scattering), tergantung pada sifat materi.(Huda, 2001)Jika suatu molekul sederhana dikenakan suatu radiasi elektromagnetik maka molekul tersebut akan menyerap radiasi elektromagnetik yang energinya sesuai. Interaksi antar molekul dan radiasi akan meningkatkan energi potensial elektron pada tingkat keadaan tereksitasi (Gandjar, 2011).

C. Alat dan Bahan1. Alata. Batang pengadukb. Cawan porselinc. Corong kacad. Gelas kimia 100 mLe. Kuvetf. Labu ukur 25 mLg. Labu ukur gelap 100 mLh. Pipet tetesi. Pipet volume 10 mLj. Propipetk. Rak tabungl. Spatelm. Spektrofotometri UV-Visn. Tabung reaksi bertutup2.Bahan a. Aluminium foilb. Ekstrak daun tapak darac. DPPH 40 ppmd. Metanole. UC 1000

D. Prosedur Kerja1. Pembuatan larutan DPPHa. Ditimbang 4 mg Kristal DPPHb. Dimasukkan ke dalam labu ukur gelap 100 mLc. Ditambahkan metanol hingga tanda batasd. Dihomogenkan dengan cara membolak-balikkan labu

2. Penentuan panjang gelombang maksimum DPPHa. Dimasukkan 2 mL larutan DPPH 40 ppm ke dalam tabung reaksi bertutupb. Ditambahkan 2 mL metanol, dihomogenkan dan dibiarkan di tempat gelap selama 30 menit pada suhu kamarc. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang 510-520 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, ditentukan panjang gelombang maksimumnya3. Pembuatan larutan stok bahan ujia. Ditimbang ekstrak sebanyak 25 mg, digunakan metanol sebagai pelarutb. Dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL lalu ditambahkan metanol hingga tanda batasc. Dihomogenkan dengan membolak-balik labu ukur4. Pembuatan variasi konsentrasia. Dihitung volume larutan stok yang digunakan untuk membuat variasi konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm dalam 25 mLb. Dimasukkan ekstrak sesuai perhitungan ke dalm labu ukur 25 mLc. Dihitung volume pelarut yang ditambahkan pada masing-masing konsentrasid. Dihomogenkan antara pelarut dan ekstrak dengan cara membolak-balik labu5. Pembuatan control UC 1000 vitamin Ca. Dipipet 3,5 mL UC 1000 lalu ditambahkan metanol secukupnyab. Dimasukkan dalam labu ukur 25 mL lalu ditambahkan methanol sampai tanda batas6. Pembuatan variasi konsentrasi vitamin Ca. Dihitung volume larutan stok yang digunakan untuk membuat variasi konsentrasi 4 ppm, 5 ppm, 6 ppm, 7 ppm, dan 8 ppm dalam 25 mLb. Dimasukkan vitamin C sesuai perhitungan ke dalm labu ukur 25 mLc. Dihitung volume pelarut yang ditambahkan pada masing-masing konsentrasid. Dihomogenkan antara pelarut dan vitamin C dengan cara membolak-balik labu7. Pengujian aktivitas antioksidana. Dimasukkan 2 mL larutan ekstrak bahan uji dengan variasi konsentrasi pada masing-masing tabung reaksi bertutupb. Ditambahkan 2 mL larutan DPPH 40 ppmc. Dihomogenkan dan dibiarkan ditempat gelap selama 30 menit pada suhu kamard. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum 515 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan blanko yang terdiri dari 2 mL larutan DPPH dan 2 mL metanol e. Dihitung persen aktivitas antioksidan IC50 pada ekstrak bahan uji 8. Pengujian antioksidan untuk vitamin Ca. Dimasukkan 2 mL larutan vitamin C dengan variasi konsentrasi pada masing-masing tabung reaksi bertutupb. Ditambahkan 2 mL larutan DPPH 40 ppmc. Dihomogenkan dan dibiarkan ditempat gelap selama 30 menit pada suhu kamard. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum 515 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan blanko yang terdiri dari 2 mL larutan DP