pengaruh struktur geologi terhadap munculnya pengaruh struktur geologi terhad · pdf...

Click here to load reader

Post on 25-Aug-2019

236 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage

    15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

    562

    PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP MUNCULNYA REMBESAN

    MINYAK DAN GAS DI DAERAH BOTO, KECAMATAN BANCAK, KABUPATEN

    SEMARANG, PROVINSI JAWA TENGAH

    P.A. Pameco*, D.H. Amijaya Jurusan Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55283

    *corresponding author : [email protected]

    ABSTRAK Rembesan minyak dan gas diketahui muncul di Daerah Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten

    Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Pada daerah ini dijumpai tiga titik rembesan gas dan satu titik

    rembesan minyak bumi. Daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi Kerek dan Batuan Gunungapi

    Tak Terpisahkan. Daerah penelitian berada pada Zona Kendeng yaitu tinggian yang terbentuk oleh

    sabuk lipatan dan sesar anjak. Munculnya rembesan minyak dan gas memberikan tanda bahwa

    terdapat sistem petroleum yang aktif di daerah ini. Penelitian terhadap struktur geologi dilakukan

    guna mengetahui penyebab munculnya rembesan minyak dan gas serta kaitannya terhadap proses

    migrasi hidrokarbon.

    Berdasarkan pemetaan geologi permukaan, dijumpai beberapa struktur geologi. Struktur tersebut

    meliputi antiklin Bancak serta dua sesar yaitu sesar geser Galeh dan sesar geser Bantal. Antiklin

    Bancak terbagi menjadi beberapa blok-blok akibat sesar geser mengiri Galeh dan Bantal. Struktur

    tersebut dipengaruhi oleh gaya tektonik berarah utara-selatan yang diketahui dari hasil analisa kekar.

    Keempat titik rembesan minyak dan gas berada di sayap utara Antiklin Bancak. Kemunculan

    rembesan berupa gas di lokasi 1 (Dusun Gunung) dan di lokasi 2 dan 3 (Dusun Galeh) dipengaruhi

    oleh sesar geser mengiri Galeh. Kemunculan rembesan berupa minyak di lokasi 4 (Dusun Bantal)

    dipengaruhi oleh sesar geser mengiri Bantal. Struktur antiklin dengan litologi lempung menjadi

    jebakan bagi hidrokarbon, namun kehadiran sesar geser mengakibatkan hidrokarbon merembes ke

    permukaan. Struktur sesar geser yang memotong antiklin menjadi jalan bagi hidrokarbon untuk

    bermigrasi ke permukaan.

    I. PENDAHULUAN

    Rembesan minyak dan gas bumi banyak

    dijumpai di Pulau Jawa. Beberapa daerah yang

    diketahui terdapat rembesan minyak dan gas

    bumi yaitu Kedungjati (Hidayat dan Fatimah,

    2007), Daerah Serayu Utara (Karangkobar,

    Kaliwaru, sekitar G. Ungaran) dan, Daerah

    Serayu Selatan/Banyumas (Cipari, Majenang,

    dan Bumiayu) (Satyana, 2007). Rembesan

    minyak dan gas diketahui muncul di Daerah

    Boto, Kecamatan Bancak, Kabupaten

    Semarang, Provinsi Jawa Tengah (Amijaya dan

    Winardi, 2006). Lokasi tersebut menjadi lokasi

    penelitian yang dapat dilihat pada Gambar 1.

    Pada daerah ini dijumpai tiga titik rembesan

    gas dan satu titik rembesan minyak bumi.

    Daerah ini berada pada Zona Kendeng yaitu

    tinggian yang terbentuk oleh sabuk lipatan

    dan sesar anjak. Keterdapatan rembesan

    minyak dan gas memberikan indikasi terdapat

    sistem petroleum yang bekerja di daerah

    tersebut. Penelitian terhadap struktur geologi

    dilakukan guna mengetahui penyebab

    munculnya rembesan minyak dan gas serta

    kaitannya terhadap sistem petroleum.

    II. KONDISI GEOLOGI REGIONAL

    Berdasarkan perbedaan fisiografi Pulau Jawa,

    Daerah penelitian berada pada Zona Kendeng

    yaitu tinggian yang terbentuk oleh sabuk

    lipatan dan sesar anjak (Van Bemmelen, 1949).

    Tinggian Kendeng atau Antiklinorium Kendeng

    merupakan kemenerusan dari Zona Serayu

    Utara. Bagian timur daerah penelitian dibatasi

    oleh Zona Kendeng bagian tengah, bagian

    selatan dibatasi oleh dataran rendah Zona

    Solo dan bagian barat dibatasi oleh

    Pegunungan Serayu Utara.

    Pengangkat pertama dari antiklinorium

    Kendeng yang merupakan fase tektonik utama

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage

    15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

    563

    terjadi pada Pliosen Akhir. Gerakan epirogenik

    yang terbentuk oleh pengangkatan tersebut

    berlanjut hingga Kuarter. Sedangkan fase

    orogenesis dari Zona Kendeng sangat

    berhubungan dengan periode aktivitas

    vulkanik. Perlipatan dan patahan disebabkan

    oleh kompresi ke arah utara yang berasal dari

    pengangkatan punggung belakang Pulau Jawa

    yang berlangsung selama Plio-Pleistosen (De

    Genevraye dan Samuel, 1972).

    Daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi

    Kerek dan Batuan Gunungapi Tak Terpisahkan

    (Lihat Gambar 2). Formasi Kerek bagian bawah

    dicirikan sedimen bertipe flysch. Sedimen

    tersebut berlapis sangat baik yang terdiri dari

    perselingan batulanau, batulempung,

    batupasir gampingan dan batugamping

    pasiran. Pada batuan tersebut dijumpai

    kandungan bahan gunungapi. Pada bagian

    atas, Formasi Kerek terdiri dari napal sisipan

    batupasir tufan-gampingan, batulanau tufan

    dan batupasir kerikilan dan juga mengandung

    bahan gunungapi yang sangat banyak. Umur

    dari formasi ini diperkirakan Miosen Tengah.

    Endapan Gunungapi Tak Terpisahkan terdiri

    dari breksi gunungapi, lava, tuf dan breksi

    lahar yang merupakan produk dari tiga

    gunungapi yaitu G. Merbabu (Qvm), G.

    Ungaran (Qvu), G. Lawu (Qvl), dan tak

    terpisahkan antara satu dengan yang lain

    (undifferentiated volcanic rocks) (Sukardi dan

    Budhitrisna, 1992).

    III. METODE PENELITIAN

    Analisis struktur geologi pada daerah

    penelitian dilakukan melalui tiga tahap

    penelitian. Tahap pertama merupakan

    pendekatan tidak langsung, yaitu mengamati

    gejala struktur di daerah penelitian dengan

    menarik kelurusan pada peta topografi dan

    citra DEM. Tahap kedua merupakan

    pengamatan secara langsung di lapangan yaitu

    dengan melakukan pemetaan geologi yang

    meliputi pengambilan data struktur berupa

    lipatan, bidang sesar, kekar dan orientasi zona

    hancuran. Tahap yang ketiga adalah

    melakukan analisa lanjut terhadap data-data

    struktur, baik dari data kelurusan, data

    pengukuran langsung di lapangan, serta

    struktur-struktur regional di sekitar daerah

    penelitian. Lokasi rembesan gas dan minyak

    diplot guna mengetahui ada tidaknya kaitan

    antara struktur pada daerah penelitian

    terhadap munculnya rembesan minyak dan

    gas tersebut.

    IV. STRUKTUR GEOLOGI

    Pola Kelurusan Daerah Penelitian

    Dari penarikan kelurusan sungai dan lembah

    melalui citra DEM dan peta topografi daerah

    penelitian, maka didapatkan dua arah umum

    pola kelurusan yaitu (Lihat Gambar 3) :

    a. Arah timurlaut-baratdaya (NE-SW) yang

    diinterpretasikan sebagai arah umum dari

    sesar geser. Kelurusan ini searah dengan sesar

    geser mengiri regional yang terdapat pada

    utara daerah penelitian.

    b. Arah utara-selatan (N-S). Belum diketahui

    pasti tipe struktur pembentuk kelurusan ini.

    Diperkirakan kelurusan tersebut merupakan

    fracture sebagai respon terhadap sesar geser

    mingiri regional di utara daerah penelitian.

    Struktur Antiklin

    Struktur lipatan berupa antiklin dapat dijumpai

    pada daerah penelitian. Penamaan lipatan

    pada daerah penelitian didasarkan pada letak

    administratif dari sumbu lipatan tersebut.

    Antiklin Bancak

    Antiklin Bancak berada di bagian tengah

    daerah penelitian melipat batuan dari Satuan

    Batulempung Karbonatan Sisipan Batupasir

    Tufan (Lihat Gambar 4 dan Gambar 5). Satuan

    tersebut tampak mengalami dragging (Lihat

    Gambar 8.a) akibat terpotong oleh dua

    patahan yaitu Patahan Galeh di barat dan

    Patahan Bantal di timur daerah penelitian.

    Sumbu Antiklin Bancak memanjang berarah

    barat-timur sepanjang ± 5 km dengan puncak

    antiklin yang telah tererosi. Sayap-sayap

    antiklin memiliki kedudukan yang bervariasi

    dengan kemiringan antara 60o-85o (Lihat

  • PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8 Academia-Industry Linkage

    15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

    564

    Gambar 8.b). Dari pengolahan data kedudukan

    lapisan, didapatkan bidang sumbu dengan

    kedudukan N 90°E /80° dan sumbu lipatan 20°,

    N 95°E (Lihat Gambar 6.a). Berdasarkan

    klasifikasi Rickard (1971) dalam Sudarno dkk.

    (2008), lipatan ini dapat diklasifikasikan

    sebagai upright fold. Rembesan gas di Dusun

    Gunung (Lihat Gambar 8.c), Dusun Galeh dan

    rembesan minyak di Dusun Bantal berada

    pada sayap utara Antiklin Bancak ini.

    Struktur Patahan

    Struktur patahan di daerah penelitian dapat

    diketahui dari adanya sesar minor, kekar gerus

    (shear fracture), keberadaan zona hancuran

    dan kedudukan lapisan batuan yang tidak

    beraturan. Pada daerah penelitian dijumpai

    dua struktur patahan yang cukup besar.

    Struktur patahan berupa sesar geser memiliki

    pola arah timurlaut-baratdaya (NE-SW).

    a. Patahan Galeh

    Patahan Galeh merupakan patahan geser kiri

    (sinistral fault) yang berada di bagian barat

    daera