pendekar lelaki kembang merah muda

Download Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

Post on 07-Aug-2018

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/21/2019 Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

    1/362

    * PENDEKAR BUNGA MERAH *

    * AUTHOR: Asmaraman S. Kho Ping Hoo *

    Tembok Besar selaksa li itu bukan hanya sebutan kosong belaka. Tembok itu sudah dibangun sejak hampir dua ribu tahun yang lalu. Beberapa ratus tahun sebelum masehi, manusia telah mulai membangun Tembok Besar itu. Cin Sih Huang-ti (259-210 S.M.) Kaisar kerajaan Cin juga mempunyai jasa

    besar dalam membangun Tembok Besar itu.

    Akan tetapi, pembangunan besar-besaran, setelah di dalam jaman seribu

    tahun lebih itu para Kaisar terus menerus berusaha membangunnya, terjadi pada dinasti Beng. Ketika cerita ini terjadi (1449) pembangunan juga dilanjutkan oleh Kaisar Ying-chong atau juga dikenal dengan nama kecil Cu Shi Sen dan julukannya Ceng Tung yang masih muda juga melanjutkan pekerjaan besar yang sudah dilakukan oleh Kaisar-Kaisar terdahulu semenjak kerajaan Beng berdiri. Pembangunan yang luar biasa besarnya itu

    tentu saja mengorbankan banyak keringat dan tangis dan darah rakyat  jelata. Sistim kerja paksa ditrapkan, karena pemerintah tidak mungkin mengandalkan tenaga pasukan saja. Dan tidak ada orang yang mau bekerja membangun Tembok Besar secara suka rela. Untuk membayar dengan upah mahal, kerajaan juga tidak kuat, karena pembangunan itu melibatkan

    tenaga ratusan ribu orang.

    Apa lagi di waktu musim dingin, penderitaan para pekerja sungguh berat. Banyak yang mati kedinginan, membeku bersama tembok yang sedang digarapnya. Tembok yang sesungguhnya merupakan benteng penjagaan untuk menahan serbuan bangsa liar dari utara.

    Namun, hasilnya kerja-paksa ini, setelah pekerjaan itu makan waktu beratus bahkan seribu tahun lebih, memang menakjubkan sekali. Tembok benteng yang kokoh kuat, melintasi gunung, mendaki puncak menuruni

     jurang, dengan panjangnya yang tidak kurang dari selaksa li (6000 km lebih) membentang dari timur ke barat, melingkar-lingkar bagaikan seekor naga yang kepalanya menghadap ke timur.

  • 8/21/2019 Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

    2/362

     

    Pada suatu pagi, di luar kota Hui Lai, kurang lebih lima puluh li sebelah barat laut kota raja Peking, di atas Tembok Besar yang sunyi sepi karena di situ bukan merupakan pos penjagaan, seorang pria berusia

    sekitar tiga puluh lima tahun nampak duduk termenung seorang diri. Kabut pagi menyelimuti Tembok Besar, dan perlahan-lahan sinar matahari yang muncul di timur mulai mengusir kabut itu. Perlahan-lahan kabut itu bergerak, membubung ke atas dan menipis sehingga akhirnya mulailah nampak pemandangan indah dari atas tembok. Bukit-bukit dan

     jurang-jurang, dan tembok besar melingkar-lingkar di antara bukit-bukit. Indah sekali! Tembok Besar itu masih dilanjutkan pembangunannya, namun letaknya sudah jauh dari situ, tidak kurang dari ratusan li.

    Pria itu menghela napas panjang. Biarpun pembangunan itu dilaksanakan  jauh dari situ dan dia tidak dapat melihatnya, namun dia sudah banyak mendengar tentang kesengsaraan rakyat yang mengerjakannya. Dia tidak menyalahkan Kaisar. Kaisar Ceng Tung hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Kaisar-Kaisar yang mendahuluinya. Mula-mula Kaisar Thai Cu

    (Cu Goan Ciang) sebagai Kaisar pertama kerajaan Beng, dibantu oleh Jenderal Shu Ta, melanjutkan pembangunan Tembok Besar yang sudah dimulai sejak seribu tahun lebih yang lalu. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Kaisar-Kaisar berikutnya dan Kaisar Ceng Tung juga tidak mau ketinggalan. Tidak Kaisar tidak dapat dipersalahkan. Tembok Besar itu

    memang penting sekali untuk pertahanan, untuk membendung gelombangserangan bangsa liar dari utara. Lalu siapa yang harus dipersalahkan? Rakyat menderita, rakyat yang hidupnya sudah miskin itu, ditambah beban

    kerja paksa membangun tembok.

    Pria itu bertubuh sedang dan tegap. Usianya baru tiga puluh lima tahun, namun rambutnya di bagian atas dan depan telinga sudah mulai bercampur uban sehingga nampak kelabu. Wajahnya gagah, dengan tekukan-tekukan yang keras, matanya tajam seperti mata rajawali, dan sepasang kaki dan

    tangannya kekar. Bahkan di punggungnya tergantung buntalan pakaian dan pedang. Namun pakaiannya berbentuk pakaian pelajar yang longgar.

    Kabut sudah terbawa angin dan diusir oleh sinar matahari. Hawa udara tidak begitu dingin lagi, bahkan nyaman dengan hangatnya sinar matahari

  • 8/21/2019 Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

    3/362

    pagi.

    Tiba-tiba terdengar orang bernyanyi, atau lebih mirip dengan orang

    membaca sajak. Pria itu mendengarkan dan segera memperhatikan dengan muka mengandung keheranan karena dia mengenal sajak itu. Satu di antara sajak-sajak terkenal dari penyair Pai Chu Yi (772-848) di jaman dinasti Tang. Dia mendengarkan dengan kagum:

    / Dalam bulan kedua belas tahun ke delapan /

    / Salju turun tebal terus menerus selama lima hari /

    / Semua bambu dan pohon binasa dalam dingin /

    / Lalu apa yang terjadi dengan para petani setengah telanjang? /

    / /

    / Ketika aku melihat keluarga-keluarga dusun itu dari sepuluh, sembilan atau delapan amatlah miskin /

    / Angin utara menghujam seperti pedang /

    / Namun mereka tidak berpakaian cukup untuk lindungi tubuh /

    / Mereka hanya dapat menyalakan api dengan daun dan ranting /

    / Duduk sedih di malam hari menanti datangnya fajar /

    / /

    / Aku melihat selama musim dingin yang kejam /

    / Petani-petani menderita amat sengsara /

    / Pada waktu itu aku mempunyai gubuk dengan pintu tertutup /

    / Memakai baju bulu dan selimut dari sutera kasar /

    / Aku mendapatkan kehangatan waktu duduk ataupun tidur /

  • 8/21/2019 Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

    4/362

      / /

    / Sungguh beruntung terbebas dari lapar dan dingin /

    / Juga aku tidak perlu membanting tulang di ladang /

    / Memperhatikan ini semua aku merasa sungguh malu /

    / Dan katanya diri sendiri, orang macam apakah aku ini? /

    Pria itu hafal akan sajak ini yang menggambarkan kemiskinan dan kesengsaraan petani di musim dingin. Sebagai bekas penasihat di istana,

    dia adalah seorang patriot yang banyak menulis tentang rakyat, bahkan pernah dia memprotes kerja paksa dan protes ini membuat dia kehilangan kedudukannya. Akan tetapi, siapakah yang menyanyikan sajak itu di tempat sesunyi ini?

    Pria itu bangkit berdiri dan menjenguk keluar tembok. Seorang laki-laki bongkok menuntun onta! Dialah yang bernyanyi tadi. Siapa lagi? Di situ tidak ada orang lain.

    Pria itu tertarik sekali. Seorang penuntun onta berusia kurang lebih

    lima puluh tahun dan pakaiannya compang camping! Membaca sajak tulisan Pai Chu Yi! Bukan main!

    Selagi dia hendak memanggil, tiba-tiba dia melihat debu mengepul di depan, di luar Tembok Besar dan nampaklah belasan orang penunggang kuda. Orang-orang Mongol, siapa lagi. Yang menarik perhatian pria itu, orang

    terdepan di rombongan itu adalah seorang gadis cantik berpakaian puteri Mongol yang nampak gagah. Cara ia duduk di atas kudanya membuktikan bahwa ia mahir sekali menunggang kuda, dan busur serta anak panah di punggungnya, pedang bengkok di pinggangnya, juga menunjukkan bahwa gadis cantik itu bukanlah seorang wanita lemah. Dua belas orang pria yang mengawalnya juga kelihatan kekar dan gagah perkasa. Tentu orang penting, pikir pria di atas Tembok Besar. Mungkin puteri seorang kepala suku.

  • 8/21/2019 Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

    5/362

    Akan tetapi mau apa ia di sini?

    Mendadak terjadi hal yang tak diduganya sama sekali. Penuntun onta itu

    tiba-tiba meloncat ke atas punggung ontanya dan melarikan ontanya menghampiri rombongan itu. Setelah berhadapan, si bongkok itu memaki, ìAnjing-anjing Mongol, sekali ini kalian bertemu aku, jangan harap dapat pergi hidup-hidup!î

    Mendengar ancaman itu, tentu saja rombongan orang Mongol menjadi marah. Puteri itu membalikkan kudanya dan membiarkan dua belas orang pengawalnya menghadapi si bongkok yang sombong itu. Agaknya para

    pengaawal Mongol itupun malu untuk mengeroyok seorang tua bongkok yang berpakaian seperti orang jembel. Mereka adalah perajurit-perajurit dari suku mereka, yaitu suku bangsa Oirat yang gagah perkasa. Setelah bangsa Mongol yang tadinya menguasai Tiongkok sebagai dinasti Goan dapat diusir sampai keluar Tembok Besar, bangsa itu terpecah-belah dan dikenal sebagai bangsa Tar-tar yang mempunyai banyak suku bangsa. Satu di antara

    suku bangsa Tar-tar itu adalah golongan Oirat yang gagah perkasa.

    Karena itu, dua belas orang perajurit yang mengawal gadis cantik itu

    tentu saja merasa malu untuk mengeroyok seorang tua bongkok. Seorang diantara mereka, yang tinggi besar bermuka kuning, membentak, ìOrang tua bongkok, apakah engkau sudah gila? Hayo cepat kau pergi dari sini atau

    aku akan memukul remuk kepalamu!î

    ìHa-ha-ha, anjing Mongol yang sudah kalah masih berani berlagak galak. Ingin kulihat bagaimana engkau memukul kepalaku.î Si bongkok itu meloncat turun dari atas ontanya dan pria di atas Tembok Besar itu melihat betapa gerakannya ketika meloncat turun itu tangkas sekali.

    Karena itu dia tidak merasa khawatir, maklum bahwa si bongkok itu mampu menjaga diri. Dia hanya meloncat keluar dari tembok dan diam-diam dia mendekat untuk menonton dan untuk diam-diam menjaga kalau-kalau si bongkok terancam bahaya. Bagaimanapun, dia tidak akan membiarkan saja sekelompok orang Mongol membunuh si bongkok yang pandai membaca sajak Pai Chu Yi itu.

  • 8/21/2019 Pendekar Lelaki Kembang Merah Muda

    6/362

     

    Si muka kuning menjadi marah mendengar ejekan itu. Diapun meloncat turun dari kudanya dengan lagak mengancam menghampir