pendahulan hingga daftar pustaka

Download Pendahulan Hingga Daftar Pustaka

Post on 24-Nov-2015

23 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Malaria adalah penyakit parasit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Spesies penyebab parasit malaria antara lain P. falciparum, P. vivax, P. ovale, P. malariae1. Jenis plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum dan P. vivax2. Penyakit malaria ditandai dengan demam dan menggigil yang terjadi berulang yang timbul akibat lisis sel darah merah yang diserang parasit1.

Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil. Secara global, pada tahun 2011 diperkirakan 3,3 juta orang atau setengah dari populasi dunia, hidup di area berisiko terinfeksi malaria3. Daerah endemik malaria biasanya merupakan daerah tropis dan subtropis yang memiliki iklim hangat sehingga dapat mendukung kehidupan nyamuk Anopheles sp. Terdapat 106 negara yang merupakan endemik malaria salah satunya Indonesia3.

Di Indonesia malaria ditemukan tersebar luas pada semua pulau dengan derajat dan berat infeksi yang bervariasi. Angka kesakitan malaria di Indonesia masih cukup tinggi. Pada tahun 2009, angka kesakitan malaria adalah 1,85 per 1000 penduduk2. Berdasarkan Annual Parasite Incidence (API), wilayah Kalimantan termasuk dalam stratifikasi malaria sedang. Kementerian Kesehatan RI sendiri telah menetapkan Kalimantan Bebas Malaria tahun 20204.

Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Kalimantan Barat. Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar mencatat angka Annual Parasite Incidence (API) tahun 2011 masih menetapkan wilayah Kalimantan Barat sebagai daerah endemis sedang malaria walaupun telah terjadi penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. API Kalimantan Barat pada tahun 2011 mencapai 3,9 per 1000 penduduk5. Beberapa kabupaten dengan angka API yang tertinggi, antara lain Kabupaten Sintang (14,19) dan Kabupaten Sekadau (10,95)5.

Upaya pengendalian malaria Indonesia telah menjadi wewenang pemerintah daerah masing-masing. Meskipun panduan pelaksanaan disediakan oleh Kemenkes RI namun pelaksanaannya tergantung pada sumber daya dan kebijakan tiap daerah. Salah satu upaya pengendalian yang paling penting adalah kontrol vektor yang bertujuan untuk mengurangi penularan dan menurunkan kapasitas vektor dalam menyebarkan penyakit.

Upaya pengendalian vektor malaria di Kalimantan Barat masih terbatas pada pengendalian vektor nyamuk dewasa misalnya penyemprotan insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa. Usaha lainnya yang dilakukan adalah pembagian kelambu gratis kepada masyarakat. Sayangnya kedua usaha tersebut biasanya dilakukan pemerintah secara insidentil ketika suatu daerah mengalami peningkatan kasus malaria.

Usaha pengendalian vektor nyamuk dewasa juga tidak diikuti dengan usaha pengendalian larva nyamuk. Salah satu penyebab belum berjalannya pengendalian larva nyamuk adalah kurangnya pengetahuan dan studi mengenai daerah yang berpotensi menjadi habitat/tempat perkembangbiakan nyamuk (breeding places). Dengan luas daerah sekitar 146.807 km2 atau 7,53 persen luas Indonesia atau 1,13 kali pulau Jawa, eksplorasi untuk mencari dan mempelajari tempat perkembangbiakan larva nyamuk di Kalimantan Barat menjadi sulit, lama dan mahal untuk dilakukan. Kesulitan dalam melakukan pemetaan tempat perkembangbiakan nyamuk mengakibatkan kontrol larva misalnya larvasida dan pengelolaan lingkungan akan sulit diterapkan.

Sudah seharusnya pemerintah melakukan inovasi dalam mengendalikan vektor malaria untuk menggantikan metode konvensional yang cenderung tidak efektif dan efisien. Salah satu inovasi yang menjanjikan saat ini adalah pemanfaatan sistem informasi geografis khususnya penginderaan jauh yang telah berkembang pesat saat ini. Melalui sistem informasi geografis, kita dapat menggali informasi dari area yang luas dan sulit dijelajah dari gambaran ruang muka bumi yang didapatkan baik melalui foto udara ataupun satelit. Sistem informasi geografis dan teknologi penginderaan jauh memungkinkan pemerintah dalam mengidentifikasi dan memantau area yang berisiko menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Pada akhirnya, pemerintah akan mampu memetakan habitat nyamuk sehingga studi dan kontrol vektor nyamuk akan berkembang pesat. Pemerintah juga dapat menilai risiko dan menemukan akar penyebab penularan malaria di suatu tempat. 1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana usaha pemerintah Indonesia khususnya Kalimantan Barat dalam mengendalikan vektor malaria saat ini serta kendala dan kelemahan metode kontrol malaria yang telah dilakukan ?

2. Bagaimana perkembangan pemanfaatan sistem informasi geografis khususnya teknologi penginderaan jauh untuk mempelajari tempat perkembangbiakan nyamuk ?

3. Bagaimana cara pemanfaatan teknologi sistem informasi geografis untuk mengidentifikasi tempat potensial tempat perkembangbiakan nyamuk di Kalimantan Barat sebagai usaha awal dalam pengendalian larva nyamuk yang efektif dan efisien ?1.3. Tujuan

1. Mengetahui pelaksanaan dan tingkat keberhasilan kontrol vektor malaria yang telah dilakukan sebagai usaha dalam mengurangi angka terinfeksi parasit malaria di Kalimantan Barat2. Mengetahui kendala yang dihadapi pemerintah dalam melaksanakan kontrol vektor malaria khususnya mengendalikan tempat perkembiangbiakan nyamuk.3. Mengetahui perkembangan penggunaan teknologi sistem informasi geografis dalam mengidentifikasi, mengenali, memetakan, memantau dan mengendalikan tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles sp.4. Memperkenalkan dan merumuskan pemanfaatan teknologi sistem informasi geografis dalam mengidentifikasi tempat yang berpotensi sebagai habitat nyamuk sebagai awal pengendalian vektor nyamuk secara komprehensif.1.3. Manfaat Penulisan1. Bagi Penulis :Sebagai sarana dan bahan pembelajaran bagi penulis untuk mengetahui pemanfaatan sistem informasi geografis sebagai upaya pengendalian vektor malaria.2. Bagi Pihak Pemerintah

Sebagai salah satu bahan pertimbangan dan solusi pemerintah khususnya dinas kesehatan untuk mengendalikan vektor malaria secara efektif sebagai upaya mencapai target bebas malaria tahun 2020.3. Bagi Peneliti dan AkademisiSistem informasi geografi dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk mengembangkan studi bionomik dan entomologis nyamuk Anopheles sp. yang ada di Kalimantan Barat.BAB II

TELAAH PUSTAKA2.1. Sistem Informasi Geografis

2.1.1. Konsep Dasar Dan Pengertian SIG

Sistem Informasi Geografis pada hakekatnya merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memndapatkan gambaran situasi muka bumi atau informasi tentang ruang muka bumi yang diperlukan untuk dapat menjawab atau menyelesaikan masalah yang terdapat dalam ruang muka bumi yang bersangkutan. SIG mampu mengintegrasikan deskripsi lokasi dengan karateristik fenomena yang ditemukan pada suatu lokasi sehingga dapat mendukung dalam pengambilan keputusan spasial. Kegiatan tersebut meliputi pengumpulan, penataan, pengolahan, penganalisaan, dan penyajian data/fakta spasial yang ada atau terdapat dalam ruang muka bumi tertentu6.

SIG merupakan kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras computer, perangkat lunak, data biografi, dan data personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, meng-update, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi6.2.1.2. Subsistem SIG

Subsistem-subsistem yang terdapat dalam SIG adalah : Data Input; data input merupakan subsistem yang bertugas untuk mengumpulkan dan mempersiapkan data spasial dan data atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentranformasikan format data asli menjadi format yang digunakan dalam SIG.

Data Output; data output merupakan subsistem yang berfungsi untuk menampilkan atau mengeluarkan keluaran seluruh atau sebagian basisdata, baik yang berbentuk softcopy maupun hardcopy seperti table, grafik dan peta. Data Management; data management berfungsi dalam mengorganisasikan data spasial dan data atribut ke dalam sebuah basisdata, sehingga mudah untuk dipanggil, di-update maupun di-edit. Data Manipulation dan Analysis; subsistem ini berfungsi untuk menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Subsistem ini juga dapat melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diinginkan. Uraian jenis masukan, proses, dan jenis keluar dari keempat subsistem tersebut dapat ditunjukkan seperti gambar berikut.

DATA INPUT

DATA MANAGEMENT DAN OUTPUT

MANIPULATION

Data SIG

Gambar 2.1 Uraian subsistem-subsistem SIG2.1.3. Data SIG

Data basis data SIG disusun dalam bentuk layer/theme. Satu layer dapat memuat informasi tertentu, seperti : pengguna lahan (LandUsed), jaringan jalan, sungai, batas administrasi, lokasi stasiun kilmatologi. Presentasi masing-masing layer tersebut dilakukan dengan manipulasi obyek dasar atau entity spasial yang memiliki atribut geometri. Bentuk representasi entity spasial tersebut berupa konsep data vektor dan konsep data raster yang disajikan dengan menggunakan model data raster atau model data vektor6.2.1.3.1. Model Raster

Model data raster menampilkan, menempatkan, dan menyimpan data spasial dengan menggunakan struktur matriks atau piksel-piksel yang membentuk grid. Setiap piksel memiliki atribut tersendiri, termasuk koordinatnya yang unik (di sudut grid (pojok), di pusat grid, atau di tempat lainnya). Akurasi model data raster tergantung pada resolusi atau ukuran pikselnya (sel grid) di permukaan bumi. Entity spasial raster disimpan di dalam layers yang secara fungsionalitas direalisasikan dengan unsure-unsur petanya. Contoh sumber-sumber entity spasial raster adalah c