pembentukan tanah

Upload: nur-setiana-istiqomah

Post on 17-Oct-2015

119 views

Category:

Documents


1 download

DESCRIPTION

aaa

TRANSCRIPT

I. PENDAHULUANA. Latar BelakangTanah adalah benda alam yang tersusun dari padatan (mineral dan bahan organik), cairan dan gas yang menempati permukaan daratan dan ruang oleh adanya horizon atau lapisan yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sehingga tanah menyediakan unsur-unsur hara sebagai makanan tanaman untuk pertumbuhannya. Tanah yang terbentuk dari bahan-bahan berupa bahan mineral dan organik, air serta udara tersusun didalam ruangan yang membentuk tubuh tanah. Akibat berlangsungnya proses pembentukan tanah, maka jadilah perbedaan morfologi kimia, fisis dan biologi dari tanah yang berbeda-beda pula (Anonim, 2014).Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak (Anonim, 2014).Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut (Hardjowigeno, 2003).Perubahan batuan induk menjadi bahan induk yang kemudian membentuk tanah, teradi melalui proses pelapukan secara fisik, kimiawi dan biologi. Tanah disebut sebagai media yang dinamik disebabkan karena proses pelpukan fisik, kimiawi dan biologinya terus berlanjut tanpa pernah berhenti. Ketiga proses tersebut menjadi proses yang sangat penting dalam pembentukan tanah (Hardjowigeno, 2003).Cepat atau lambat ketiga proses tersebut bekerja membentuk sebuah solum tanah sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Proses dan faktor pembentukan tanah merupakan sebuah sistem yang terbuka, dimana dari sistem tersebut dapat terjadi pembentukan atau penambahan sebuah materi yang baru dan dapat juga menghilangkan sebuah materi. Oleh sebab itu dari sistem ini dihasilkan tanah dengan karakteristik yang berbeda-beda sesuai dengan tempat terbentuknya. Oleh karena mengingat pentingnya proses dan faktor tersebut, maka sangat penting untuk memahami lebih lanjut mekanisme proses dan faktor tersebut (Hardjowigeno, 2003).B. TujuanTujuan dari makalah ini antara lain:1. Mengetahui dan memahami proses-proses dalam pembentukan tanah.2. Mengetahui dan memahami dari Horisonisasi.3. Mengetahui dan memahami faktor-faktor pembentukan tanah.

II. PEMBAHASANA. Proses-Proses Pembentukan Tanah. Istilah proses pembentukan tanah adalah penjelasan tentang perubahan-perubahan biofisik dan kimia yang menjadikan pelapukan pada bagian litosfer yang tampak dipermukaan air. Secara nyata menunjukkan bahwa proses fisik secara alamiah dan langsung berpengaruh nyata terhadap pelapukan batuan melalui perubahan temperatur, peningkatan dan penurunan temperatur yang berpengaruh terhadap pemuaian dan penyusutan yang tidak seragam sehingga secara fisik terjadi retakan (Buckman, Harry and Nylecbrady, 1982).Hasil retakan tersebut memberikan ruang yang memungkinkan air masuk, hewan kecil masuk maka terjadilah proses kimia, seperti hidrolisa, terbetuknya garam serta matinya hewan-hewan kecil sebagai bahan organik. Proses-proses penyinaran, hujan, hidrolisis, kepunahan hewan berlangsung lamban tetapi pasti sehingga dalam periode tertentu tanah akan terbentuk (Buckman, Harry and Nylecbrady, 1982).Tanah yang terbentuk dari berbagai proses fisik, kimia dan biologi menghasilkan lapisan-lapisan yang berbeda dari suatu tempat ke tempat lainnya baik sifat fisik, kimia maupun sifat biologinya. Dalam istilah tanah, lapisan tersebut dikenal dengan nama horison. Penampakan vertikal dari tanah yang terdiri atas horison-horison disebut profil tanah. Adapun proses-proses tersebut antara lain (Buckman, Harry and Nylecbrady, 1982):

1. Proses fisik.Proses pelapukan fisik (disintegration) dikenal juga dengan nama proses mekanik, hal ini disebabkan oleh proses perubahannya meliputi perubahan wujud/fisik dari suatu materi atau benda. Faktor yang berpengaruh dalam proses ini adalah: naik turunnya suhu (temperatur), air dan aktivitas biota.a. Batuan merupakan benda padat yang tidak dapat menghantarkan panas, tetapi batuan yang mengalami pemanasan secara kontinu akan menyimpan panas dalam tubuhnya yang berakibat terjadinya reaksi pada mineral-mineral.Gambar 1. Kenampakan profil tanah dengan horison-horisonnya, setiap horison memiliki sifat fisik, kimia dan biologi yang berbeda. (bahan mineral dicirikan dengan warna yang terang dan bahan organik dengan warna yang gelap).

b. Penyusunnya. Mineral yang tersusun atas kristal-kristal akan merefleksikan panas yang diterima melalui bidang kristalnya sehingga kelebihan panas yang diterima dapat membuat mineral terbelah ataupun pecah baik melalui bidang belah ataupun tidak. Mineral-mineral yang terbelah ataupun pecah, memperlihatkan retakan pada tubuh batuan, yang sedikit-demi sedikit akan semakin besar sehingga batuan pecah menjadi ukuran yang lebih kecil. c. Perbedaan suhu yang ekstrim juga dapat menyebabkan pelapukan fisik pada batuan. Hal ini dapat terjadi pada daerah beriklim kering (Arid), dimana suhu pada siang hari sangat tinggi dan pada malam hari sangat rendah. Hal ini mengakibatkan batuan yang berwarna lebih gelap lebih cepat hancur dibanding batuan yang berwarna terang. Batuan yang berwarna gelap akan menyerap lebih banyak panas pada siang hari dan lambat mengeluarkannya pada malam hari sehingga reaksi pada kristal mineralnya akan lebih intens terjadi sehingga batuan lebih mudah hancur. d. Proses perubahan suhu udara dapat menimbulkan hujan. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi memiliki tenaga mekanik yang dapat mengikis permukaan batuan dan mempercepat pelapukan fisik.e. Proses pengisian celah retakan pada batuan oleh air dapat mempercepat penghancuran batuan. Terlebih pada daerah yang beriklim dingin, dimana air yang mengisi celah akan membeku yang mengakibatkan pertambahan volume, sehingga batuan menjadi mudah dihancurkan. f. Pengangkutan batuan dari suatu tempat ke tempat lain oleh air juga dapat menyebabkan pelapukan secara fisik.g. Akar-akar tanaman masuk ke dalam batuan melalui rekahan-rekahan yang kemudian berkembang mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk menghancurkan batuan tersebut.2. Proses kimiawi.a. Hidratasi; proses penambahan molekul air dalam struktur mineral, tetapi molekul air yang masuk ke dalam struktur mineral tidak terdisosiasi. Contoh :2Fe2O3 + 3H2O 2Fe2O3 . 3H2OHematite merah Hematit kuningCaSO4 + 2H2O CaSO4 . 2H2OAnhidrit Gipsumb. Oksidasi dan reduksi; proses penambahan dan pengurangan oksigen yang berakibat pada bertambah atau berkurangnya elektron (muatan negatif) dalam penguraian dan pembentukan mineral. Contoh:2FeS2 + 7H2O + 15O 2Fe(OH)3 + 4H2SO4Pirit Geotitc. Karbonatasi dan Asidifikasi adalah proses pelapukan kimia akibat reaksi mineral dengan Asam. Asam ini dihasilkan dari reaksi CO2 yang dihasilkan dari dekomposisi bahan organik dan air hujan dengan air tanah. Meskipun H2CO3 yang dihasilkan dari dari bahan organik merupakan asam lemah (mudah terurai menjadi gas CO2 dan H2O), tetapi sangat efektif meningkatkan kerapuhan kristal mineral. Contoh:2KAlSi3O8 + 2H2CO3- H4Al2Si2O8 + K2CO3 + 4SiO2Orthoklas Asam karbonat Kaolin Kuarsad. Hidrolisis adalah proses pergantian kation dalam struktur kristal mineral oleh ion H+ dari molekul H2O. Contoh :KAlSi3O8 + H2O HAlSi3O8 + KOHOrthoklas Kaolin Kalium hidroksidae. Pelarutan adalah proses pelapukan kimia oleh media Air, terutama air yang mengandung ion-ion seperti: CO2, HCO3-, NO3- dan asam-asam lainnya. Air, selain menjadi media dalam meningkatkan pelarutan mineral juga sebagai media dalam melarutkan (leaching) hasil penguraian senyawa dari mineral dan bahan organik. Proses podsolisasi (horizon A yang berwarna pucat) dan desilikasi (pengurangan silika dari horison) terjadi akibat intensnya proses pencucian. Sedangkan akibat sebaliknya dari proses pencucian terjadi penumpukan hasil pencucian pada horison yang lebih dalam berupa proses salinisasi dan alkalinisasi (penumpukan garam-garaman) serta proses ferrolisis (penimbunan besi dan aluminium yang membentuk mineral sesquioksida).3. Proses Biologi.Faktor utama dalam proses biologi adalah aktivitas dekomposisi bahan organik oleh mikroba di dalam tanah yang mengubah N-organik menjadi N-anorganik sebagai bahan penyusun tubuh mikroba. Proses ini akan menghasilkan asam organik yang mempercepat proses pelapukan kimia mineral. Selain itu untuk melindungi akar tanaman dari bakteri yang merugikan maka akar tanaman juga menghasilkan asam-asam organik yang dapat mempercepat pelapukan kimia dan fisik pada batuan. B. Horisonisasi.Pembentukan horison tanah dihasilkan dari kehilangan, transformasi, dan translokasi sepanjang waktu tertentu pada bahan induk. Contoh sejumlah proses penting yang menghasilkan horison tanah antara lain (Van Breemen, Buurman and Brinkman, 1992):1. Penambahan bahan organik dari tanaman terutama pada topsoil.2. Transformasi yang diwakili oleh pelapukan batuan dan mineral dan dekomposisi bahan organik.3. Hilangnya/larutnya komponen dapat larut oleh pergerakan air melalui tanah yang membawa serta garam-garam dapat larut.4. Translokasi yang diwakili oleh pergerakan mineral dan bahan organik dari topsoil ke subsoil.Dalam pembentukan Horison A dan C, pengaruh dekomposisi bahan organik membentuk humus pada topsoil yang turut mempengaruhi warna dari topsoil yang lebih gelap dibanding lapisan dibawahnya. Topsoil ini kemudian dikenal dengan HORISON A. Terkadang horison A disebut Ap, huruf p menunjukkan pembajakan, atau penggunaan tanah untuk diolah, budidaya atau sebagai lahan pertanian.1. Horison yang tepat berada langsung diatas bagian bahan induk yang telah mengalami perubahan disebut sebagai HORISON C.2. Pembentukan horison E (Eluviasi) atau horison pencucian yang lebih banyak terjadi pada tanah-tanah hutan dibadingkan di daerah padang rumput. Warna horison E biasanya lebih terang (putih).3. Pembentukan HORISON O pada tanah-tanah organik yang pada umumnya terbentuk didaerah yang sering tergenang air seperti danau dengan air dangkal, rawa-rawa yang memungkinkan terakumulasinya gambut (bahan organik) akibat kurangnya oksigen yang membantu proses dekomposisi. Tanah yang terbentuk kemudian dikenal sebagai tanah organik yang mempunyai horison O.C. Faktor-Faktor Pembentukan Tanah.Syarat utama terbentuknya tanah ada dua yaitu tersedianya bahan asal atau batuan induk dan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi bahan. Bahan induk tanah berbeda dengan batuan induk. Bahan induk tanah merupakan bahan hasil pelapukan batuan induk. Bahan induk bersifat lepas-lepas (unconsolidated), sementara itu, batuan induk bersifat padu. Faktor-faktor lain yang bekerja kemudian setelah pelonggokan bahan induk tanah dapat dikelompokkan menjadi faktor aktif dan faktor pasif. Faktor aktif dalam pembentukan tanah adalah iklim dan organisme tanah. Faktor pembentuk tanah yang bersifat pasif adalah lokasi tempat terdapatnya bahan induk dan kurun waktu berlangsungnya pembentukan tanah (Foth, 1990).Jenny (1941) memformulasikan faktor pembentuk tanah ke dalam sebuah formula matematis sebagai berikut : S= f (C,O, P, R, T ...)S= Tanah (Soil).f= Fungsi (function).C= iklim (climate).O= Organisme (organism).P= Bahan Indk tanah (Soil Parents Materials).R= Bentuklahan (Relisf).T= Waktu (Time)....= faktor lokal yang tidak terdefinisikan secara spesifik.Penjelasan secara detail oleh Jenny dimulai dengan faktor bahan induk tanah sebagai bahan dasar terbentuknya tanah, dilanjtkan dengan iklim dan organisme sebagai faktor pembentuk tanah yang aktif darn relief serta waktu sebagai faktor pembentuk tanah yang pasif. Jenny (1941) juga mengindikasikan adanya faktor-faktor pembentuk tanah lokal yang tentunya tidak berlaku secara umum.Faktor lokal yang paling utama adalah pengaruh aktivitas manusia, bahkan manusia sebagai faktor pembentuk tanah yang keenam. Berbagai aktivitas manusia dapat menyebabkan perubahan-perubahan dalam arah perkembangan tanah sebagai akibat dari aktivitas manusia memanfaatkan lahan sangat bervariasi tergantung dari bentuk aktivitas dan intensitasnya. Aktivitas penambangan bijih mineral secara terbuka jelas-jelas menyingkirkan tanah penutup permukaan dan menguak batuan dasar sehingga pekembangan tanah mulai dari titik awal kembali. Pemberian air irigasi dapat diartikan sebagai proses intensifikasi pelindian basa-basa tanah di lapisan olah tanah. Banyak contoh lain dari aktivitas manusia memanfaatkan lahan yang mempengaruhi perkembangan tanah dan tidak dapat dideskripsikan satu persatu. Faktor pembentuk tanah yang bersifat lokal dan alami juga ada. Beberapa dapat dicontohkan adalah kontrol struktur batuan, fluktuai air tanah, kegempaan dan vulkanisme (Foth, 1990).Di antara kelima faktor pembentuk tanah, faktor iklim mempunyai pengaruh yang dominan. Atas dasar pemahaman bahwa iklim adalah faktor yang dominan dalam pembentukan tanah, maka sering diistilahkan tanah adalah hancuran iklim atau pelapukan (weathering). Tahap awal bekerjanya iklim adalah berupa pelapukan secara fisik atau mekanik yang menghasilkan batuan induk yang keras dan padu menjadi cerai berai dalam ukuran yang relatif halus. Proses berikutnya yang bekerja pada bahan induk tanah menjadi tanah tidak dapat lepas dari pengaruh iklim (Buckman, Harry and Nylecbrady, 1982).1. Iklim.Tanah bervariasi bergantung dari iklim. Suhu dan kelembaban menyebabkan perbedaan dalam pelapukan (weathering) dan pelindian (leaching). Sedangkan angin mendistribusikan pasir dan partikel lainnya terutama di daerah iklim arid. Jumlah, intensitas, waktu dan macam dari presipitasi mempengaruhi pembentukan tanah. Perubahan suhu musiman dan harian mempengaruhi kelembeban, aktifitas biologi, laju reaksi kimia dan tipe vegetasi. Dua komponen iklim yang sangat berpengaruh adalah curah hujan dan temperatur.

a. Pengaruh hujan.Air penting untuk pelapukan mineral dan pertumbuhan tanaman. Air yang melebihi kapasitas lapang akan berperan dalam membawa/translokasi partikel koloid dan garam-garam terlarut. Suplai air yang terbatas pada daerah gurun akan membentuk tanah alkalin, relatif sulit terlapuk, mempunyai kandungan liat, bahan organik dan KTK yang rendah. Secara umum tanah-tanah di daerah arid dan subhumid cenderung lebih subur kecuali jika terbatas mikroba untuk mineralisasi bahan organik dan untuk mensuplai N tersedia. Jika air tersedia hanya cukup untuk pencucian yang terbatas, maka CaCO3 terbawa sampai pada jarak yang pendek saja sehingga terbentuk zone akumulasi CaCO3. Peningkatan curah hujan berkorelasi positif dengan lebih besarnya/tingginya antara lain:1) Pencucian kapur dan kedalaman lapisan k (akumulasi kapur) makin meningkat.2) Perkembangan/meningkatnya kemasaman tanah.3) Pencucian dan kandungan liat.4) Pertumbuhan tanaman dan bahan organik.b. Pengaruh Temperatur.Setiap kenaikan temperatur 10o C akan mengakibatkan meningkatnya laju reaksi kimiawi menjadi 2X lipat. Meningkatnya pelapukan dan pembentukan liat terjadi seiring dengan meningkatnya temperatur. Hubungan antara rata-rata temperatur dan pertumbuhan tanaman serta akumulasi bahan organik cukup kompleks. Kandungan bahan organik tanah adalah jumlah antara hasil penambahan bahan organik + laju mineralisasi bahan organik+kapasitas tanah melindungi bahan organik dari mineralisasi (liat amorf) Iklim berpengaruh langsung terhadap pembentukan tanah melalui suhu dan curah hujan, dan secara tidak langsung melalui pengaruhnya atas vegetasi (organisme) dan berinteraksi dengan bentuk lahan (relief) dalam mempengaruhi hubungan air dan tanah.a. Pengaruh langsung suhu dan curah hujan.Air merupakan komponen yang sangat penting dalam semua proses pelapukan kimia dan fisika. Input curah hujan ke dalam tanah mempunyai pengaruh yang besar atas perkembangan tanah melalui pelapukan dan pelindian dari produk pelapukan. Laju pelapukan juga secara kuat bergantung kepada suhu. Setiap kenaikan 10oC, laju reaksi kimia dalam pelapukan akan meningkat 2 atau 3 kali.b. Pengaruh tidak langsung.Biasanya dijumpai hubungan yang kuat antara iklim dan kandungan humus tanah, oleh karena pengaruh dari iklim atas produksi biomas dan laju dekomposisi seresah tanaman dan bahan organik tanah lainnya. Curah hujan akan mempengaruhi produktifitas vegetasi. Suhu berpengaruh atas laju dekomposisi bahan organik, sehingga sehingga kandungan humus yang tinggi biasanya ditemukan pada daerah iklim lembab dan sejuk. Iklim panas, baik kering maupun lembab cenderung menyebabkan kandungan humus yang rendah.2. Organisme.Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal (Jenny, 1941):a. Membantu proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur yang larut oleh air.b. Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme yang ada di dalam tanah.c. Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.d. Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis tanaman cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara, derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

3. Bahan Induk.Tanah-tanah yang terbentuk berdasarkan proses pelapukan batuan dikenal sebagai tanah mineral yaitu tanah-tanah yang mengandung unsur-unsur hara yang berkaitan dengan sifat-sifat tanah dilihat dari berbagai faktor. Bahan induk mempunyai pengaruh besar terhadap kesuburan dan kandungan mineral tanah. Tingkat kekerasan bahan induk dapat dijadikan prediksi dalam menilai laju pembentukan tanah (Hardjowigeno, 2003).Laju pembentukan tanah dari bahan induk yang berasal dari batuan metamorf berjalan sangat lambat. Hal ini disebabkan batuan metamorf memiliki tekstur dan struktur batuan yang sangat kompak (masif) serta mineral yang sangat resisten. Batuan metamorf terbentuk dari hasil rekrsitalisasi ulang dari mineral yang terdapat dalam batuan beku dan sedimen, sehingga menghasilkan mineral yang memiliki kristal yang kompak karena terbentuk dari temperatur dan tekanan yang tinggi (Hardjowigeno, 2003).Laju pembentukan tanah dari bahan induk yang berasal dari batuan beku bervariasi kecepatannya. Hal ini diepngaruhi oleh jenis magma asal pembentukan, ukuran kristal mineral dan kandungan mineral. Jenis magma asal akan memberikan perbedaan, yaitu kandungan kadar silika, kandungan mineral, warna batuan dan sifat batuan. Ukuran kristal akan memberikan perbedaan temperatur pembentukan dan perbedaan tekstur batuan. kandungan mineral dipengaruhi oleh temperatur pendinginan magma dan kandungan silika magma (Hardjowigeno, 2003).Laju pembentukan tanah dari pelapukan langsung bedrock cukup bervariasi. Batupasir (sandstone) yang sementasinya lemah, pada lingkungan humid (basah) dapat membentuk rata-rata 1 cm tanah per 10 tahun. Batuan kapur yang mudah larut meninggalkan residu berupa bahan yang sulit larut yang diperkirakan mencapai 100,000 tahun untuk membentuk lapisan tanah pada daerah dengan batuan induk kapur di daerah humid (Hardjowigeno, 2003).Bahan induk yang diturunkan dari sedimen dibawa oleh air, angin, atau gravitasi. Sedimen koluvial terjadi pada lereng terjal dimana gravitasi adalah kekuatan utama yang menyebabkan pergerakan dan sedimentasi. Sedimen alluvial umumnya ditemui pada daerah yang lebih landai, oleh karena penyebarannya oleh banjir dan aliran sungai. Contoh: kebanyakan tanah-tanah pertanian di California terbentuk di lembah dimana alluvial adalah bahan induk yang dominan (Hardjowigeno, 2003).Sedimen abu volkan sebagai bahan induk juga dapat ditemui. Bahan induk ini bersifat amorf mengandung alofan, oksida besi dan Aluminium. Alofan mempunyai pH tinggi (Hardjowigeno, 2003).Disamping batuan induk sebagai bahan induk pembentukan tanah, dikenal juga adanya bahan induk organik, yaitu bahan induk yang terdiri dari pelapukan sisa tanaman, hewan dan sisa lainnya yang melapuk pada kondisi anaerob karena kondisi geomorfologi yang terbentuk secara alamiah. Terdapat perbedaan nyata dari profil tanah-tanah mineral dan tanah organik. Pada tanah mineral terdapat perbedaan perbedaan batas horizon nyata sebagai hasil pelapukan, serta proses pelapukan dan pencucian. Pada profil tanah organik, perbedaan horizon ditampakkan oleh tingkat pelapukan bahan organik yang belum melapuk, sedang melapuk atau sudah melapuk, tidak jelas hubungan antar horizon dalam suatu profil pada tanah-tanah organik, karena proses pelapukan tidak berada pada perbedaan lingkungan yang nyata. Misalnya kondisi jenuh/ lembab yang terjadi pada lapisan bawah, juga dapat terjadi pada lapisan permukaan. Berdasarkan kondisi geomorfologi yang terbentuk secara alamiah menunjukkan bahan penyebaran tanah-tanah organik di Indonesia cukup luas meliputi Sumatera, Kalimantan, Papua dan sebagian kecil di Sulawesi bagian tengah (Hardjowigeno, 2003).4. Topografi / Relief.Topografi alam dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah datar kecepatan pengaliran air lebih kecil daripada tanah yang berombak. Topografi miring mepergiat berbagai proses erosi air, sehingga membatasi kedalaman solum tanah. Sebaliknya genangan air didataran, dalam waktu lama atau sepanjang tahun, pengaruh iklim nibsi tidak begitu nampak dalam perkembangan tanah (Henry, 1995).Didaerah beriklim humid tropika dengan bahan induk tuff vulkanik, pada tanah yang datar membentuk tanah jenis latosol berwarna coklat, sedangkan di lereng pegunungan akan terbentuk latosol merah. Didaerah semi arid (agak kering) dengan bahan induk naval pada topografi datar akan membentuk tanah jenis grumosol, kelabu, sedangkan dilereng pegunungan terbentuk tanah jenis grumosol berwarna kuning coklat. Di lereng pegunungan yang curam akan terbentuk tanah dangkal. Adanya pengaliran air menyebabkan tertimbunnya garam-garam di kaki lereng, sehingga di kaki gunung berapi di daerah sub humid terbentuk tanah berwarna kecoklat-coklatan yang bersifat seperti grumosol, baik secara fisik maupun kimianya. Di lereng cekung seringkali bergabung membentuk cekungan pengendapan yang mampu menampung air dan bahan-bahan tertentu sehingga terbentuk tanah rawang atau merawang. Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi (Henry, 1995).:a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah.Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.b. Sistem drainase/pengaliran.Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.5. Waktu.Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukandan pencucian yang terus menerus. Oleh karena itu tanah akan menjadisemakin tua dan kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telahhabis mengalami pelapukan sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk sepertikuarsa.Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka induk tanahberubah berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua (Singer and Munns, 1991).

Gambar 2. Periode pembentukan batuan dan tanah.Tanah Muda ditandai oleh proses pembentukan tanah yang masih tampakpencampuran antara bahan organik dan bahan mineral atau masih tampakstruktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah aluvial, regosoldan litosol (Anonim, 2014).Tanah Dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah mudadapat berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukanhorison B. Contoh tanah dewasa adalah andosol, latosol, grumosol (Henry, 1995).Tanah Tua proses pembentukan tanah berlangsung lebih lanjut sehinggaterjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada horizon-horoson Adan B. Akibatnya terbentuk horizon A1, A2, A3, B1, B2, B3. Contoh tanah padatingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit) (Henry, 1995).Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbeda-beda.Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memerlukanwaktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda, dan 1000 10.000 tahununtuk membentuk tanah dewasa (Henry, 1995).6. Manusia.Manusia berperan dalam pembentukan tanah melalui aktivitasnya seperti pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian yang membajak, membalikkan tanah, pemupukan, menyumbang bahan organik dan aktivitas pertanian lainnya yang mempengaruhi terbentuknya tanah. Hal ini ditunjukkan dengan terdapatnya lapisan permukaan yang terbentuk akibat aktivitas manusia yang dikenal sebagai epipedon antropik dan plaggen (Yulipriyanto, 2010).Bentuk-bentuk pemanfaatan sumber daya tanah oleh manusia yang mempengaruhi proses pembentukan dan perkembangan tanah dapat dikelompokkan sebagai berikut (Jenny, 1941):a. Manipulasi faktor pembentuk aktif.1) Pengaturan lengas tanah.Dilakukan manusia dalam rangka penyediaan air bagi tanaman, berupa pemberian irigasi khususnya pada musim kemarau. Manipulasi kelengasan tanah menyebabkan proses pelindian unsur-unsur basa dapat larut pada lapisan tanah atas ke lapisan tanah bawah berlangsung lebih intensif dibanding pada kondisi alami. Pada kondisi alami, pelindian hanya terjadi pada musim penghujan saja, sementara pada musim kemarau terjadi pengurangan lengas melalui dua cara, perkolasi ke arah bawah dan kapilerisasi ke arah atas. Kapilerisasi merupakan pengembalian sebagian unsur-unsur basa yang pada saat musim penghujan terlindi ke bawah. Pemberian air irigasi sepanjang tahun dimungkinkan dapat menghilangkan atau menekan sampai batas minimum proses kapilerisasi.Penanman jenis tanaman yang bukan spesies asli lokasi keterdapatan suatu satuan tanah jelas mengubah berbagai kondisi faktor pembentukan dan perkembangan tanah. Spesies vegetasi yang berbeda tidak hanya berarti perbedaan fisiologi tanaman saja namun juga mikrobia yang bersimbiosis dengannya berbeda. Penanaman spesies tanaman yang bukan merupakan vegetasi asli biasanya bersifat monokultural.b. Manipulasi fakor pembentuk pasif.1) Perubahan relief.Pembuatan teras untuk mendapatkan bidang olah yang relatif datar merupakan hal yang lazim dilakuakn di daerah yang bersudut lereng tinggi. Maksud dan tujuan pembuatan teras adalah untuk mengendalikan erosi melalui dua cara, yaitu pengurangan jumlah limpasan dan pengurangan laju aliran. Kedua, tujuan pembuatan teras untuk pengendalian erosi bermakna pengingkatan laju dan jumlah air infiltrasi ke dalam tanah. Manipulasi relief di daerah yang relatif datar berupa pembuatan guludan/pematang juga mempunyai dampak yang sama dengan pembuatan teras, dipandang dari kacamata pembentukan dan perkembangan tanah.

2) Penambahan atau pengurangan bahan induk tanah.Pemberian material dan pengurangan material baru di dalam tubuh tanah dapat berupa pemupukan dan penambangan.Pemupukan dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah dapat berupa penambahan bahan organik tanah dan dapat berupa penambahan senyawa kimia tertentu. Keduanya jelas mengubah kondisi linkungan tanah baik mikrobiologis, fisik, maupuan khemik.Penambangan berupa pengambilan material tanah untuk berbagai tujuan jelas merupakan faktor pengurangan/penghilangan material tanah sehingga lapisan tanah yang sudah berkembang berkurang jumlahnya. Tanah menjadi muda kembali dna mulai babak baru pembentukan tanah dan perkembangan tanah di bawah kondisi lingkungan yang telah berubah karena aktivitas manusia.

III. PENUTUPA. KesimpulanKesimpulan yang dapat diambil antara lain:1. Telah mampu mengetahui dan memahami proses-proses dalam pembentukan tanah, yaitu terdiri dari proses fisik, kimiawi dan biologi.2. Telah mengetahui dan memahami dari Horisonisasi, yaitu sebuah proses dari kehilangan, transformasi dan translokasi sepanjang waktu tertentu pada bahan induk3. Mengetahui dan memahami faktor-faktor pembentukan tanah, yaitu faktor iklim, organisme, bahan induk, topografi, waktu dan manusia.

DAFTAR PUSTAKAAnonim. 2014. http://www.benitohp.wordpress.com diakses pada tanggal 04 April 2014 pukul 02.04 WIB.Buckman, Harry and Nylecbrady. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan oleh Prof. Dr. Soegiman. Bharata Karya Aksara. Jakarta.Foth, H.D. 1990. Fundamentals of Soil Science. 8Ed. John Wiley & Sons. New York.Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.Henry Foth D. 1995. Dasar-dasar Ilmu Tanah.UGM Press. Yogyakarta.Jenny, H., 1941. Factor of Soil Formation. McGraw-Hill Book Company, Inc. New York And London.Singer, M.J. and D.N. Munns. 1991. Soils An Introduction. 2nd. Macmilan Publishing Company. New York.Van Breemen, P. Buurman, R. Brinkman. 1992. Processes in Soils. Text for Course J050-202, Dept. Soil Science and Geology, Agricultural University Wageningen.Yulipriyanto, H. 2010. Biologi Tanah dan Strategi Pengelolaannya. Graha Ilmu. Yogyakarta.

20