makalah tetanus

Click here to load reader

Post on 10-Aug-2015

531 views

Category:

Documents

26 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tetanus

TRANSCRIPT

REVISI MAKALAH NEUROBEHAVIOR I TETANUS

Disusun oleh Denti Mardianti Muminah 220110100039

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanifestasi sebagai kejang otot paroksismal, diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu tampak pada otot masseter dan otot-otot rangka.

Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4-0,5 milimikron. Kuman ini berspora dan termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian yang berbentuk bulat yang letaknya di ujung, penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mulamula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu dikenal pula tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti dalam proses penyakit.

1.2 Tujuan Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan makalah ini adalah: 1. Mengetahui Pengertian dari Tetanus 2. Mengetahui Gambaran Umum yang Khas pada Tetanus 3. Mengetahui Patofisiologi dari Tetanus 4. Mengetahui Mengetahui Gambaran Umum yang Khas pada Tetanus 5. Mengetahui Pemeriksaan Diagnostik pada Tetanus 6. Mengetahui proses pada pasien dengan Tetanus

BAB 2 KONSEP PENYAKIT

2.1 Definisi Tetanus merupakan penyakit infeksi akut dan sering fatal yang disebabkan oleh basil Clostridium tetani yang menghasilkan tetanospasmin neurotoksin. Biasanya masuk ke dalam tubuh melalui luka tusuk yang terkontaminasi (seperti oleh jarum logam, splinter kayu, atau gigitan serangga) (Dorland, 2002). Tetanus adalah salah satu penyakit yang paling beresiko menyebabkan kematian bayi baru lahir. Infeksi tetanus disebabkan oleh sejenis bakteri yang menghasilkan toksin yang mematikan bakteri tersebut tumbuh dalam keadaan yang kotor. Kuman penyebab tetanus adalah Clostridium tetani (Depkes, 2003). Tetanus adalah gangguang neurologis yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme, yang disebabkan oleh tetanospasmin, suatu protein yang kuat yang dihasilkan oleh Clostridium tetani (Aru W, 2007). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan oleh toksin kuman Clostridium tetani yang menginfeksi atau mengkontaminasi pada luka tusuk/ traumatik yang ditandai dengan gejala kekauan dan kejang otot. Tetanus yang sering terjadi adalah tetanus neonatorum.

2.2 Etiologi Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif, Clostridium tetani. Bakteri ini berspora, dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa p a d a m a n u s i a d a n j u g a p a d a t a n a h ya n g t e r k o n t a m i n a s i d e n g a n t i n j a binatang tersebut. Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2 5 x 0,40,5 milimikron yang berspora termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Dalam kondisi anaerobik y a n g d i j u m p a i p a d a j a r i n g a n n e k r o t i k d a n t e r i n f e k s i , b a s i l t e t a n u s mensekresi dua macam toksin, yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanolisin

mampu secara lokal merusak jaringan yang masih hidup yang mengelilingi s u m b e r i n f e k s i d a n m e n g o p t i m a l k a n k o n d i s i y a n g m e m u n g k i n k a n multiplikasi bakteri. Tetanospasmin akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65C dan akan hancur dalam lima menit. (Ritarwan, 2004)

2.3 Klasifikasi 1. Tetanus Generalisata Tetanus generalisata merupakan bentuk paling umum dari tetanus y a n g d i t a n d a i d e n g a n k o n t r a k s i o t o t t e t a n i k d a n h i p e r r e f l e k s i , ya n g mengakibatkan trismus (rahang terkunci), spasme glotis, spasme otot umum, opistotonus, spasme respiratoris, serangan kejang dan paralisis. (Dorland, 2002). Tetanus generalisata merupakan bentuk yang paling sering terjadi (sekitar 80%). Penyakit ini biasanya muncul dalam bentuk descending. Gejala pertama yang muncul adalah trismus dan lockjaw, kemudian diikuti dengan kekakuan leher, kesulitan menelan, dan rigiditas abdomen. Gejala lain berupa Risus sardonicus (Sardonic grin), yakni spasme otot-otot muka, opistotonus (kekakuan otot punggung), kejang dinding punggung. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Gejala lainnya adalah suhu tubuh yang meningkat 2-4 C di atas suhu normal, berkeringat, peningkatan tekanan darah, dan denyut jantung yang cepat secara episodik. Spasme dapat terjadi secara berkala selama beberapa menit. Spasme dapat berkelanjutan selama 3-4 minggu. Penyembuhan secara komplit dapat memakan waktu selama beberapa bulan. 2. Tetanus Lokal Tetanus lokal termasuk jenis tetanus yang ringan dengan kedutan (twitching) otot lokal dan spasme kelompok otot didekat lokasi cidera, atau dapat memburuk menjadi bentuk umum (generalisata). (Dorland, 2002) 3. Tetanus Sefalik Tetanus sefalik merupakan bentuk yang jarang dari tetanus lokal, yang terjadi setelah trauma kepala atau infeksi telinga seperti otitis media, di mana C. tetani ditemukan sebagai flora pada telinga tengah. Masa inkubasinya 1 2 hari. Dijumpai trismus dan disfungsi satu atau lebih saraf kranial, yang tersering

adalah saraf VII (fasialis). Disfagia dan paralisis otot ekstraokular dapat terjadi. Mortalitasnya tinggi. (Aru W, 2004) 4. Tetanus Neonatorum Tetanus neonatorum adalah suatu bentuk tetanus infeksius yang berat dan terjadi selama beberapa hari pertama setelah lahir, disebabkan oleh faktor-faktor seperti tindakan perawatan sisa tali pusat yang tidak higienis atau pada sirkulasi bayi laki-laki dan kekurangan imunisasi maternal. (Dorland, 2002)

2.4 Stadium Tetanus Berdasarkan Tingkat Keparahannya (Ablett) 1. Derajat I (ringan) Trismus ringan sampai sedang, spastisitas generalisata, tanpa gangguan pernafasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa disfagia. 2. Derajat II (Sedang) Trismus sedang, rigiditas yang nampak jelas, spasme singkat ringan sampai sedang, gangguan pernafasan sedang dengan frekuensi pernafasan lebih dari 30 - 35 kali/ menit, disfagia ringan. 3. Derajat IIIa (Berat) Trismus berat, spastisitas generalisata, spasme refleks berkepanjangan, frekuensi pernapasan lebih dari 40 kali/ menit, serangan apnea, disfagia berat dan takikardia lebih dari 120 kali/ menit. Terdapat peningkatan aktivitas saraf otonom yang moderat dan menetap. 4. Derajat IV (Sangat Berat) Derajat IV merupakan derajat IIIb dengan gangguan otonomik berat melibatkan sistem kardiovaskular. Hipertensi berat takikardia terjadi berselingan dengan hipotensi dan bradikardia, atau hipertensi diastolik yang berat dan menetap (tekanan diastolik > 110 mmHg) atau hipotensi sistolik yang menetap (tekanan sistolik < 90 mmHg) Dikenal juga dengan autonomic storm. ( A r u W , 2007)

2.5 Manifestasi Klinis Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3atau beberapa minggu ).Karakteristik tetanus :

1.

Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5-7 hari. Setelah 10 hari frekuensi kejang akan mulai berkurang dan menghilang setelah 2 minggu.

2.

Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher. Kemudian, timbul kesukaran membuka mulut (trismus, lockjaw) karena spasme otot masetter.

3.

Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk (opistotonus (badan melengkung ke depan), nuchal rigidity). Kejang ini dicirikan dengan kejang tiba-tiba, tangan mengepal, fleksi dan adduksi lengan, serta hiperekstensi tungkai.

4.

R i s u s s a r d o n i c u s k a r e n a s p a s m e o t o t w a j a h d e n ga n g a m b a r a n a l i s tertarik ke atas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .

5.

Spasme otot laringeal dan otot respirasi dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas dan asfiksia.

6.

Karena toksin tetanus tidak mempengaruhi saraf sensoris atau fungsi kortikal, pasien pada umumnya berada pada compos mentis, dan pada keadaan lanjut, klien akan mengalami penurunan kesadaran pada tingkat letargi, stupor, dan semikomatosa. Dan bila sudah tahap koma, maka penilaian GCS penting untuk dilakukan. (Arif Muttaqin)

2.6 Komplikasi Tetanus 1. Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air didalam rongga mulut dan keadaan ini memungkinkan terjadinya aspirasi serta dapat menyebabkan pneumonia aspirasi. 2. 3. 4. Asfiksia Atelektasis karena obstruksi secret. Fraktur Kompresi

2.7 Penatalaksanaan 1. Nonfarmakologi

Penderita tetanus harus segera dirujuk ke rumah sakit karena ia harus selalu dalam pengawasan dan perawatan. Sebelum dirujuk lakukanlah hal-hal tersebut di bawah ini. Selanjutnya bila anak yang menderita tetanus selesai dirawat, berikan tetanus toksoid 3 kali dengan jarak waktu 1 bulan.

Pertahankan jalan napas dan jaga keseimbangan cairan.

Segera berikan human tetanus immunoglobulin 5000 IU i.m untuk menawarkan racun yang belum bersenyawa dengan otot. Bila yang ada hanya ATS suntikkan i.m atau i.v 20.000 40.000 IU/hari selama 3 hari atau 20.000 IU/ hari untuk anak-anak selama 2 hari.

Berikan penisilin prokain 2 juta IU i.m pada orang dewasa atau 50.000 IU/ kgBB/ hari selama 10 hari pada anak untuk eradikasi kuman. Berikan diazepam untuk mengendalikan kejang dengan titrasi dosis : 5 10 mg i.v. untuk anak dan 40 120 mg/ hari untuk dewasa.

Cegah penyebaran racun lebih lanjut dengan eksplorasi luka dan membersihkannya dengan H202 3%. Port d'entre lain seperti OMSK atau gangren gigi juga harus dibersihkan dahulu.

Untuk menetralisir racun, diberikan immunoglobulin tetanus. Antibiotik tetrasiklin dan penisilin diberikan untuk mencegah pembentukan