makalah pmr

Download Makalah PMR

Post on 14-Apr-2017

431 views

Category:

Education

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

D I

S

U

S

U

N

OLEH:

KELOMPOK IERMANSYAH(8146182009)

RIDHA HUTAMI(8146182035)

TRI ASTARI(8146182041)

VIVI UVAIRA HASIBUAN(8146182043)

KELAS: B 1 DIKDAS

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2015KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat kesehatan dan kesempatan, sehingga bisa menyusun atau menyelesaikan penyusunan makalah Konsep Dasar Matematika ini yang berjudul PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR).

Shalawat dan rangkaian salam kehadirat nabi Muhammad SAW yang kita dari alam kegelapan menuju terang benderang.

Pembuatan makalah ini bertujuan sebagai tugas kelompok Konsep Dasar Matematika dan sebagai bahan perkuliahan.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Prof. Dr. Sahat Saragih, M. Pd yang telah membimbing penulis dan pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini penulis yakini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya seperti pepatah yang mengatakan tak ada gading yang tak retak, baik isi maupun penyusunnya. Atas semua itu dengan rendah hati penulis harapkan kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Medan, Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISIii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar belakang 1

B. Identifikasi Masalah 2

C. Pembatasan Masalah 3

D. Rumusan Masalah 3

E. Tujuan Pembahasan 4

F. Manfaat Pembahasan 4

BAB II PEMBAHASAN 5

A. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) 5

1. Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) 7

2. Karakteristik Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) 10

3. Langkah-Langkah Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) 13

4. Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)16

5. Kaitan Antara Pembelajaran Matematik Realistik dengan Pengertian17

6. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) 18

B. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)21

C. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) 33

BAB III PENUTUP37

A. Kesimpulam37

B. Saran 37

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang semakin dirasakan interaksinya dengan bidang-bidang ilmu lainnya seperti ekonomi dan teknologi. Peran matematika dalam interaksi ini terletak pada struktur ilmu dan peralatan yang digunakan. Ilmu matematika sekarang ini masih banyak digunakan dalam berbagai bidang seperti bidang industri, asuransi, ekonomi, pertanian, perdagangan, dan di banyak bidang lain.

Bila dilihat dalam satu bidang seperti perdagangan jelas sangat berkaitan erat dengan matematika karena dalam perdagangan pasti akan ada perhitungan, di mana perhitungan tersebut bagian dari matematika. Secara tidak sadar ternyata semua orang menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari seperti jika ada orang yang sedang membangun rumah maka pasti orang tersebut akan mengukur dalam menyelesaikan pekerjaannya itu. Oleh karena itu matematika sangat bermanfaat sekali dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak ini dapat menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Dalam pembelajaran matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.

Menurut Jenning dan Dunne (1999) mengatakan bahwa, kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Hal ini yang menyebabkan sulitnya matematika bagi siswa adalah karena dalam pembelajaran matematika kurang bermakna, dan guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika. Mengaitkan pengalaman kehidupan nyata, anak dengan ide-ide matematika dalam pembelajaran di kelas sangat penting dilakukan agar pembelajaran matematika bermakna.

Biasanya ada sebagian siswa yang menganggap belajar matematika harus dengan berjuang mati-matian dengan kata lain harus belajar dengan ekstra keras. Hal ini menjadikan matematika seperti monster yang mesti ditakuti dan malas untuk mempelajari matematika. Apalagi dengan dijadikannya matematika sebagai salah satu diantara mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional yang merupakan syarat bagi kelulusan siswa-siswi SMP maupun SMA, ketakutan siswa pun makin bertambah. Akibat dari pemikiran negatif terhadap matematika, perlu kiranya seorang guru yang mengajar matematika melakukan upaya yang dapat membuat proses belajar mengajar bermakna dan menyenangkan. Ada beberapa pemikiran untuk mengurangi ketakutan siswa terhadap matematika.

Siswa lebih baik mempelajari sedikit materi sampai siswa memahami, mengerti materi tersebut dari pada banyak materi tetapi siswa tidak mengerti tersebut. Meski banyak tuntutan pencapaian terhadap kurikulum sampai daya serap namun dengan alokasi yang terbatas. Jadi guru harus memberanikan diri menuntaskan siswa dalam belajar sebelum ke materi selanjutnya karena hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman siswa dalam belajar matematika.Kebanyakan siswa, belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan, jadinya siswa kurang termotivasi, cepat bosan dan lelah. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal di atas dengan melakukan inovasi pembelajaran melalui PMR yang akan dibahas selanjutnya dalam makalah ini.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas penulis melalukan pengidentifikasian masalah sebagai berikut:

1. Dalam pembelajaran matematika siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah.

2. Salah satu karakteristik matematika adalah mempunyai objek yang bersifat abstrak ini dapat menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika.

3. Guru dalam pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide-ide matematika.

4. Biasanya ada sebagian siswa yang memiliki pemikiran negatif terhadap matematika menganggap belajar matematika harus dengan berjuang mati-matian dan monster yang mesti ditakuti dan malas untuk mempelajari matematika.

5. Kebanyakan siswa, belajar matematika merupakan beban berat dan membosankan, jadinya siswa kurang termotivasi, cepat bosan dan lelah.

C. Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah arah pembahasan masalah ini penulis membuat batasan masalah sebagai berikut:

1. Pengertian dari Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

2. RPP yang sesuai dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

3. Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang sesuai dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

D. Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan identifikasi masalah yang ada maka rumusan maslah yang dugunakan adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)?2. Bagaimana RPP yang sesuai dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)?

3. Bagaimana Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang sesuai dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)?

E. Tujuan Pembahasan

Tujuan dari makalah ini, antara lain:

1. Memahami konsep Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

2. Mengetahui bentuk RPP yang sesuai dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

3. Mengetahui Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang sesuai dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

F. Manfaat Pembahasan

Penulis berharap makalah ini memiliki manfaat bagi kita semua. Dimana dengan adanya makalah ini dapat membantu semua kalangan baik itu mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum dalam mendalami Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) dengan prinsip, karakteristik, dan langkah-langkah pembelajarannya. Selain itu dapat menambah wawasan mengenai penerapannya dalam RPP dan LAS pembelajaran matematika.BAB II

PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR)Kata realistik merujuk pada pendekatan pembelajaran dalam pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda selama kurang lebih 33 tahun (dimulai tahun 1971). Kata tersebutdiambil dari klasifikasi yang dikemukakan Teffers (Streefland, 1991: 32) yang membedakan pendekatan pembelajaran dalam pendidikan matematika yaitumechanistic, empiristic, strukturalistik, danrealistik. Pendekatan Matematika Realistik mengacu pada pendapat Freudenthal (Gravenmeijer, 1994) yang mengatakan bahwa matematika merupakan suatu bentuk aktivitas manusia. Menurut Freudenthal matematika sebaiknya tidak diberikan kepada siswa sebagai suatu produk jadi yang siap pakai, melainkan sebagai suatu bentuk kegiatan dalam mengkonstruksi konsep matematika. Freudenthal mengenalkan istilah guided reinvention sebagai proses yang dilakukan siswa secara aktif untuk menemukan kembali suatu konsep matematika dengan bimbingan guru. Selain itu, (Freudenthal, 1991) tidak menempatkan matematika sekolah sebagai suatu sistem tertutup (closed system) melainkan sebagai suatu aktivitas yang disebut matematisasi.

Menurut pendekatan ini, kelas matematika bukan tempat memindahkan matematika dari guru kepada siswa, melainkan tempat siswa menemukan kembali ide dan konsep matematika melalui eksplorasi masalah-masalah nyata.Karena itu, siswa tidak dipandang sebagai penerima pasif, tetapi harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika di bawah bimbingan guru. Proses penemuan kembali ini dikembangkan melalui penjelajahan berbagai persoa