makalah dbd

Click here to load reader

Post on 26-Jul-2015

209 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

DEMAM BERDARAH DENGUE KELOMPOK SATUDEWI ARIMBI IRAWAN RACHMALIA FITRI ROSA ADIF KURNIAWAN ALBERT SUDHARSONO ANGGIA PRATHAMA AYU WULANDARI DEASYKA YASTANI DIAN PUTERI P. ENDRICO XAVIEREES TUNGKA FITRI AULIA GUNAWAN ARI WIBOWO IIS AFRIANTI JOANE NATASHA LIE VISIN EZAFADDILA BT BAHRUDIN MOHD.AZHAN BIN MOHD AZMAN MOHD ZAIRI BIN ZABRI 030.05.066 030.05.177 030.06.005 030.06.017 030.06.028 030.06.040 030.06.057 030.06.068 030.06.080 030.06.095 030.06.107 030.06.118 030.06.131 030.06.144 030.06.300 030.06.310 030.06.320

FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI JAKARTA

1

BAB I PENDAHULUANDemam dengue dan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi dengan angka insiden yang tinggi di Indonesia. Jumlah penderita demam berdarah dengue di Indonesia, akhir-akhir ini semakin meningkat beberapa kali lipat di sebagian besar propinsi di Indonesia, dan tercatat sebagai kejadian yang dikenal dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue. Dalam lima tahun terakhir serangannya cenderung meningkat pada golongan dewasa dan wabah tersebut terus menyebar luas, sehingga samapi tahun 1996 kasus infeksi dengue ini dilaporkan berjangkit di 227 Dati II dari seluruh propinsi di tanah air. Berdasarkan pemantauan dan catatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, di setiap propinsi sejak Januari 1998 sampai dengan November 1998 terjadi 66.268 kasus dengan 1.279 diantaranya meninggal. Penyebab demam dengue dan demam berdarah dengue adalah virus dengue dengan manifestasi klinis demam bifasik, nyeri otot dan / atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan hemoragik. Variasi manifestasi klinis demam berdarah dengue dan pesatnya informasi mengenai perkembangan pengetahuan tata laksana penyakit infeksi dengue, menyebabkan keragaman dalam penatalaksanaan di lapangan. Virus dengue terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN 1, DEN 2, DEN- 3, dan DEN 4. Berdasarkan serotipe virus dengue yang menginfeksi manusia maka infeksi virus dengue dapat dibagi menjadi 2, yaitu infeksi dengue primer dan infeksi dengue sekunder. Dalam makalah ini akan diuraikan mengenai kedua teori tersebut, yaitu infeksi dengue primer dan infeksi dengue sekunder. Makalah ini di susun atas dasar betapa pentingnya pengetahuan tentang Demam berdarah dengue di Indonesia. Jumlah kasus yang banyak, angka kematian yang tinggi, variasi manifestasi klinis, adanya berbagai teori tentang Demam berdarah dengue menyebabkan topik Demam Berdarah Dengue sangat menarik untuk diuraikan. Penyusun Kelompok Satu

2

BAB II PEMBAHASANDEFINISI Demam dengue dan demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan hemoragik. Pada Demam berdarah dengue terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Sindrom renjatan dengue/ dengue shock syndrome adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok. EPIDEMIOLOGI Penyebaran umum demam dengue/ demam berdarah dengue. Demam berdarah dengue pertama kali ditemukan oleh David Bylon, pada abad 19 dan pertengahan abad 20 terjadi endemik di seluruh daerah tropis dan sub tropis, khususnya dunia bagian selatan dan Asia Tenggara. Antara 1953 dan 194, DBD dilaporkan terdapat di India, Malaysia, Filipina, Singapore, Thailand dan Vietnam. Tahun 1956 flavivirus dengue 2,3,4 dapat diisolasi di Filipina dan tipe 1 di Thailand. Selama periode 1956-1992 terdapat 1.335.049 kasus DBD (13.732 meninggal) di Vietnam 934.666 kasus DBD (9551 meninggal) di Thailand, di Indonesia 255.980 kasus (9980 meninggal) dan China 249. 117 kasus (1029 meninggal). Case Fatality rate keseluruhan adalah 0, 14%. ETIOLOGI Demam dengue disebabkan oleh virus dengue, virus ini termasuk dalam golongan virus RNA famili flaviridae dengan genus flavivirus. Virus dengue berdiameter 50 mm dan mempunyai envelop. Terdiri dari 4 serotipe virus dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4) dengan daya infeksi tinggi manusia. Virus dengue masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albicans, dalam tubuh berkembang biak di dalam sel retikuloendotelial. Keempat serotipe sel adalah serupa, tetapi mempunyai sifat antigen berbeda sehingga apabila terinfeksi salah satu serotipe hanya akan memberikan kekebalan terhadap serotipe tersebut, tetai tidak memberikan kekebalan silang untuk serotipe lainya. 3

PATOGENESIS

Virus Dengue (Den-1, Den2, Den-3, Den-4) Kerusakan sel pejamu

Terbentuk kompleks imun Aktivasi sistem komplemen Peningkatan permeabilitas Perembesan plasma dari intra ke ekstravaskuler Agregasi trombosit Jumlah fungsi trombosit menurun Kerusakan sel Endotel Pembuluh darah Merangsang/ mengaktivasi factor pembekuan

Syok hipovolemik Perdarahan Asidosis Kematian

IMUNOPATOGENESIS

4

Patogenesis infeksi virus yang dikenal luas saat ini adalah teori enchancing body ( Halstead dan Rosen). Virus terutama menyerang makrofag , termasuk sel Kuppfer hati dan monosit. Secara in vitro dijumpai cross reaction antibody non neutralization membentuk kompleks dengan virus dengue yang heterologous. Kelomok virus-antibodi tersebut akan memfasilitasi viral uptake ke dalam monosit melalui reseptor Fc proses ini dikenal sebagai antibody dependent enchament (ADE) Aedes agypti pertama mengigit manusia, mengeluarkan virus dengue yang melekat pada monosit melalui reseptor Fc dan masuk ke dalam monosit, kemudian virus menyebar ke hati, limpa usus, sumsum tulang dan terjadilah viremia (mekanisme aferen). Monosit yang telah terinfeksi akan berinteraksi dengan berbagai sistem humoral, seperti sistem komplemen mengeluarkan substansi inflamasi, sitokin, dan tromboplastin yang akan mempengaruhi permeabilitas kapiler dan mengaktivasi faktor koagulasi. Antibodi IgG yang terbentuk terdiri dari antibodi netralisasi yang menghambat replikasi virus dan antibodi non netralisasi yang memacu replikasi virus. Antibodi netralisasi seara langsung mengikat determinan netralisasi pada envelope virus dengue dan antibodi. Antibodi non-sterilisasi yang dibentuk pada infeksi sekunder menyebabkan kompleks imun pada infeksi sekunder dapat menghambat replikasi virus. Teori ini pula yang mendasari infeksi virus dengue secara berlainan akan menyebabkan manifestasi berat. Data epidemiologi dan hasil laboratorium (uji HI) membuktikan bahwa anak yang berumur > 1 tahun, berlaku teori secondary heterologous infection pada anak yang mendapat infeksi ke dua dari serotipe yang berlainan mempunyai resiko menderita DBD berat. Sedangkan infeksi DBD berat yang terjadi pada anak di bawah 1 tahun pada pemeriksaan uji HI memperlihatkan infeksi primer, ini disebabkan adannya antibodi Ig G anti dengue ibu. Sel T memori diduga memegang peran pada patogenesis DBD. Serotipe den 2 lebih banyak menyebabkan syok daripada serotipe den-3. Serotipe den-3 berhubungan dengan kasus DBD berat dan fatal. Respon imun yang diakibatkan oleh virus dengue akan menyebabkan pembentukan kompleks imun, aktivasi limfosit T, aktivasi sistem komplemen, dan produksi sitokin. Imunitas protektif pejamu terhadap infeksi virus melalui dua fase yaitu fase awal sebelum virus masuk ke dalam sel target pejamu dan fase setelah sel masuk ke dalam sel target pejamu, dalam proses ini tubuh mengadakan respon imun secara non spesifik dan spesifik. 5

Respon imun non spesifik adalah pembentukan IFN tipe I oleh monosit yang terinfeksi berfungsi menghambat replikasi virus, NK sel secara luas menyebabkan lisis sel yang terinfeksi. Monosit yang belum terinfeksi merangsang limfosit auotologous memproduksi IFN- untuk melindungi sel yang belum terinfeksi. NK sel merupakan mekanisme awal untuk melawan infeksi virus sebelum respon imun spesifik terbentuk. Selanjutnya respon imun spesifik (humoral dan selular). Antibodi merupakan komponen penting terhadap infeksi virus, namun antibodi saja tidak cukup. Harus berikatan dengan CTLs (Cytolitic T Lymphocytes) yang dikenali adalah CD8 dengan menghambat menempelnya virus ke dalam sel dan CTLs melisis sel yang terinfeksi dan mencegah replikasi virus selanjutnya. RESPON ANTIBODI INFEKSI VIRUS DENGUE Antibodi terhadap virus dengue memfasilitasi keempat fungsi biologik secara in vitro yaitu neutralisasi virus, comlement mediated cytolisis, antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC), dan antibody dependent enchacement (ADE).Antibodi yang mempunyai aktivitas mengenali protein E dan epitop yang dikenal melalui antibodi neutralisasi ini bersifat serotipe spesifik, dengue serotipe cross reactive/ flavivirus cross reactive. Dari beberapa penelitian disimpulkan bahwa antibodi terhadap virus dengue ini dapat mencegah infeksi atau menjadi perantara untuk penyembuhan infeksi dengan cara neutralisasi virus dengue atau melalui lisis sel yang terinfeksi virus melalui aktivasi komplemen atau ADCC. PEMBENTUKAN KOMPLEKS VIRUS DENGUE DAN ANTIBODI Sebagian besar virus yang berada dalam sirkulasi berikatan dengan antibodi spesifik IgG yang membentuk kompleks imun.Beberapa peneliti telah menemukan kompleks imun pada 48-72% pasien DBD. Kompleks imun ini teradapat pada permukaan trombosit, limfosit B, dinding kapiler dan glomeruli ginjal. Kompleks imun yang melekat pada permukaan trombosit akan mempermudah penghancuran trombosit oleh sel retikulo endotelial hati dan limpa sehingga terjadi trombositopenia. Pemeriksaan agregasi trombosit yang diprovokasi oleh adenosin difosfat (ADP) membuktikan adanya gangguan trombosit. Aktivasi endotel oleh kompleks imun mengakibatkan aktivasi koagulasi sehingga terjadi defek koagulasi bersama trombositopenia.

6

RESPON LIMFOSIT T Infeksi primer pada DBD mengaktifkan limfosit T CD4 dan T CD8, hasil penelitian mendapatkan bahwa aktivasi sel T memacu infeksi virus dengue melalui produksi limfokin. Kadar limfokin dan soluble cell surface protein yang tinggi menggambarkan r