madeena - islamic youth magazine 1st edition

Click here to load reader

Post on 25-Jul-2016

222 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Majalah Madeena Edisi pertama! Alhamdulillaah edisi pertama kami telah terbit. Isu yang kami angkat kali ini adalah isu tentang Paris Attack yang masih cukup segar dan hangat. Selamat membaca! Semoga bermanfaat...

TRANSCRIPT

  • Belum selesai rasa simpati dunia tercurahkan kepada masyarakat Paris yang telah diguncang teror bom dan penembakan, Anonymous dan beberapa pihak lain dengan tidak sensitifnya mulai mengungkit kembali kasus penembakan karikaturis Charlie Hebdo dan hubungannya terhadap betapa intolerannya kaum Muslim sebagai alarm untuk meningkatkan resistensi mereka terhadap Islam. Wajar jika dalam kondisi tidak stabil seperti ini, semua orang akan mencari pihak yang harus ditunjuk dengan segera. Dan dengan bukti berupa indestructible passport yang ditemukan di lokasi kejadian, lengkap sudah sepertinya umat muslim mendapat cap sebagai kaum dengan sumbu emosi paling pendek.

    Kasus Karikatur Nabi Muhammad, Dijelaskan dengan Bantuan KartunOleh: Dimas Dwi Adiguna (Founder Indonesian Creative Muslim Network)

    isu

    Ya, kita membela wajah damai Islam, tapi kita berdiri secara plin-plan pada sikap kita terhadap karikatur tersebut. Bagaimana pandangan saya pribadi tentang sikap yang tepat untuk kasus ini. Inilah catatan kecil saya mengenai kenapa seorang muslim perlu berdiri dengan kokoh di nilai yang tepat pada kasus Charlie Hebdo, dengan bantuan kartun.

    Freedom of speech ataupun freedom of expression menyatakan bahwa negara menjamin setiap orang berhak menyuarakan dan mengekspresikan pendapatnya, selama tidak menyinggung kebebasan orang lain. Hal ini akan menjamin setiap orang dapat menyampaikan kritik dan saran sehingga masyarakat dapat

    berkembang menjadi lebih baik tanpa pandang bulu.

    Untuk menjaga tulisan ini tetap ringan, kasus bau badan akan

    diambil sebagai isu yang diangkat.

    Ketika media dengan agresifnya mencoba mengangkat wajah bengis kaum muslim terkait penembakan karikaturis Nabi, sistem refleks pertahanan diri manusia akan langsung merespons :

    Nggak kok, kaum muslim mestinya gak perlu marah sama karikatur itu! Itu cuma oknum! Santai aja sih.

  • Mari kita mulai dengan situasi yang sederhana. Saya sering sekali melihat anak Sekolah Dasar yang saling mengejek mengenai berbagai macam hal (tentu, biasanya hal yang sederhana). Mengangkat kasus bau badan sebagai bahan ejekan bukanlah jalan yang terbaik untuk mengutarakan pendapat secara konstruktif, karena akan berujung pada konsekuensi yang sudah dapat ditebak

    Atau jikalau dalam hal ini sang guru lah yang menjadi objek kasus, mengutarakan pendapat dengan cara seperti ini juga tidak akan berujung pada efek yang konstruktif bagi kedua belah pihak

    Catatan Komikus: Dampingi anak Anda yang dibawah umur saat melihat kartun ini

    Nah, jika anak SD pun sudah mengerti konsekuensi dari mengutarakan pendapat melalui jalur yang tidak konstruktif, lalu mengapa kerangka pikir ini tidak dapat kita aplikasikan ke situasi lain. Misal, ketika mereka sudah dewasa dan bekerja di ranah publik.

    Tentu hal ini tidak bijak. Selain mencederai perasaan sang guru, juga akan mencederai nama baiknya. Terlebih lagi jika dimuat di muka majalah skala nasional

  • Situasi lain, misal ada seseorang yang sangat berjasa dalam hidupmu, padahal dia bukan dari keluargamu atau lingkungan terdekatmu. Anggap saja dialah yang berjasa menyelamatkan hidupmu dari kecelakaan. Betapa sangat tidak sensitifnya jika kita memberikan karikatur mengenai betapa baunya badan dia sebagai balas jasanya.

    Tentu, marah adalah ekspresi yang wajar dalam situasi ini. Marah tidak akan menjad-ikannya sebagai seorang bigot, ekstrimis, atau intoleran.

    Lalu kenapa kerangka ini juga tidak bisa kita aplikasikan ke kasus karikatur Nabi dengan pose yang tidak senonoh? Jikalau objek karikatur tersebut adalah bapak kita masing-masing, mungkin beda urusannya dan beda labelling-nya.

    Terjadi standar ganda dalam kasus ini. Ketika sesuatu terkait dengan agama, seakan-akan siapa pun tidak boleh marah atas nama agama, walaupun itu untuk membelanya.

    Ya wajar lah, kan agama milik bersama. Marahnya kamu bisa tidak mewakili marahnya kami, kan?

  • Marah, sebagai bentuk ekspresi hati (bukan dalam bentuk ekspresi fisik) adalah respon wajar yang muncul jika sesuatu yang dicintainya dihina. Tidak memandang apakah hinaannya muncul dalam bentuk candaan atau memang hal yang serius. Sepertinya tidak perlu konsep panjang lebar untuk menjelaskan hal ini, cobalah simulasikan ketika kekasih kita, keluarga kita, atau teman akrab kita yang menjadi korban.

    Sehingga, label yang diberikan terhadap orang-orang yang mencoba membela kecintaannya terhadap agamanya justru menjadi hal yang menyedihkan.

    Dan labelling negatif ini yang akan menjadikan orang semakin takut untuk mempelajari dengan kepala dingin mengenai fondasi pembelaan kaum yang mendapat label ini. Mereka hanyalah sekumpulan orang temperamen dan poof ! hilang sudah simpatinya.

    Tapi tentu, saya pun tidak menganjurkan ekspresi kemarahan dan pembelaan kita diluapkan dengan jalan instan dengan penembakan (itupun jikalau yang menembak dalam kasus tersebut memang seorang muslim, yang mana sangat saya sangsikan kebenarannya). Toh, berkaca pada perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sebagai Sunnah hidup kita, rasanya fase edukasi kepada masyarakat Mekah yang menghina Rasulullah dilakukan secara intensif sebelum ada aksi pembelaan tegas bagi penghina agama yang dicintainya.

    Konklusi

    Konklusi dari tulisan ini cukup sederhana sebenarnya :

    1. Pembelaan akan muncul jika hal yang sangat kita cintai dihina oleh pihak lain, terlepas dari apakah itu bentuk kebebasan berekspresi atau sekedar candaan tak bertanggung jawab.

    2. Marah adalah ekspresi wajar, justru kalau tidak muncul rasa pembelaan dalam diri kita, maka kita harus mendiagnosis kecintaan kita kepadanya.

    3. Labelling negatif terhadap orang yang membelanya malah akan kontraproduktif terhadap upaya edukasinya.

    4. Jalan pembelaan terhadap hal yang dicintai (dalam hal ini adalah Rasulullah SAW) tentu harus ditempatkan sesuai dengan kondisi zaman yang analog dalam perjalanan hidup beliau di masa lampau, dan kita dapat menganalisis bagaimana reaksi beliau pada titik kondisi tersebut. Apakah penembakan ketika masyarakat belum mengenal Islam secara utuh adalah jalan yang bijak? Atau malah meningkatkan resistensi masyarakat menerima cahaya Islam?

  • Akhir kata, bersuaralah! Mari tunjukkan bahwa isu bau badan bapak kita, guru kita, dan orang yang berjasa di

    hidup kita hanyalah sekedar isu yang tidak berdasar dengan menebarkan betapa harum tubuh mereka ke seantero bumi.

    Dalam kata lain, itulah yang disebut dakwah, iya kan?

  • Prinsip toleransi dalam IslamSebelum keranah yang akan dibahas, sesungguhnya Allah menyuruh umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada pemeluk non-Islam.

    Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Q.S. Al-Mumtahanah (60), ayat 8.

    Nyatanya ketika masa Khulafaur Rasyidin, tidak semua penduduk yang tinggal dibawah naungan Islam itu beragama Islam tetapi mereka mendapat perlakuan yang sangat adil dalam menjalankan agamanya. Bahkan Umar ra. pernah sangat marah ketika ada salah satu gurbernurnya yang mempersulit pembangunan tempat ibadah kaum Yahudi. Pun saat Kekhilafahan Ummayah di Yerusalem ada salah satu masjid yg dipakai bersama dengan kaum nasrani, ketika hari Jumat dilakukan shalat Jumat dan ketika hari Minggu di lakukan ibadah Minggu selayaknya gereja.

    Jadi di dalam masyarakat Islam, bagi pemeluk non-Islam bisa menjalankan ibadahnya dengan rasa aman dan tanpa gangguan merupakan hal yang penting. Di ayat lain, bahkan Allah dengan jelas melarang umat Islam menghina Tuhan agama lain.

    Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. Q.S. Al-Anaam (6), ayat 108.

  • Sesungguhnya kebenaran telah jelas Allah sampaikan melalui Al-Quran agar kita bisa menilai mana yang salah dan benar. Sehingga bagi Allah terhadap non-Islam pun tidak ada paksaan bagi mereka untuk memeluk Islam.

    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Q.S. Al-Baqarah (2) : 256.

    Begitulah prinsip Islam dalam bertoleransi agama.

    Namun suatu saat pernah ditawarkan suatu prinsip toleransi oleh kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW, ketika Al Walid bin Mughirah, Al Ash bin Wail, Al Aswad Ibnul Muthollib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Rasulullah SAW.

    Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepa-da Tuhan kami. Kita bertoleransi da-

    lam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran

    agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami,

    kami akan amalkan hal itu. Sebalikn-ya, apabila ada dari ajaran kami yang

    lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkann-

    ya. (Tafsir Al Qurthubi, 14: 425)

    Ketika prinsip toleransi ini ditawarkan oleh kafir Quraisy kepada Rasulullah SAW, Allah pun menurunkan ayat,

    kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.Q.S. An-Nisa (4): 115.

    Lalu di ayat lain Allah menjelaskan bagi kaum muslim apabila ditemukan suatu kegiatan yang tidak ada faedah baginya janganlah ikut serta dalam kegiatan tersebut,

    Dan oran